Monotheisme dalam Islam

  

1. MUKADDIMAH

1. 1. Tinjauan Global

Islam adalah agama monoteis (tauhid) dan agama penyembahan kepada  Tuhan Yang Esa. Dan di antara ajaran-ajaran Islam, tauhid menempati kedudukan yang sangat tinggi. Al-Qur’an dalam rangka menyebarkan dan mengabadikan Islam, mengungkap  pembahasan  masalah tauhid beserta dimensi-dimensinya yang beragam dengan menyebutkan berbagai ayat-ayat yang berhubungan hal tersebut.

Mengenai sejauh mana urgensi dan pentingnya tauhid, cukup kita lihat dari segi keimanan padanya diletakkan berdampingan dengan pengakuan kenabian Rasulullah Muhammad Saw sebagai syarat pertama orang masuk pada agama  Islam dan masuk pada atmosfir kebahagiaan.

Mengesakan atau menauhidkan Tuhan dalam pengetahuan keimanan dan menauhidkan-Nya dalam penyembahan, tidak hanya dalam batasan akidah Islam, tapi  dalam wilayah-wilayah pengajaran Islam lainnya seperti; akhlak dan hukum syari’ah.

Dan Konstruksi sistem akhlak Islam kokoh berasaskan tauhid.[1] Serta sangat banyak dari hukum-hukum serta adab-adab agama mengambil sumber dari ruh tauhid Islam. Tauhid mengubah kehidupan manusia baik dalam dimensi pemikiran dan keyakinan maupun dalam dimensi prilaku dan perbuatan, serta memberikan warna dan bentuk khusus padanya. Perbedaan seorang muwahhid (orang yang mengesakan Tuhan) dan musyrik (orang yang menyekutukan Tuhan) sedemikian luas dan dalam, sehingga perbedaan tersebut sama sekali tidak boleh diabaikan.

Singkat kata tauhid merupakan akar dari pohon Islam dan pengajaran-pengajaran akidah lainnya serta akhlak dan amal, sebagai dahan, daun dan buahnya.

  

1. 2. Tauhid dalam Agama-agama Ilahi lainnya

Dengan berdasarkan kesaksian ayat-ayat al-Quran dan piagam-piagam sejarah, dakwah terhadap tauhid bukanlah tipologi agama Islam, tapi seluruh nabi-nabi Tuhan mengundang dan mengajak manusia pada pengesaan Tuhan dan tauhid. Seluruh agama-agama Ilahi dulunya merupakan agama tauhid. Al-Qur’an mengungkapkan secara jelas hakikat sejarah ini  dengan firman-Nya:

“Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul sebelum kamu kecuali Kami wahyukan kepadanya sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Aku, maka sembahlah Aku”. (Qs. al-Anbiyaa []: 25)

Pada dasarnya peperangan sejati  para nabi melawan penentang-penentangnya dipicu oleh masalah tauhid, dan dari sisi ini  bagian terpenting yang membentuk barisan penentang-penentang senantiasa dari kaum musyrik dan penyembah berhala. Sebagai contoh, sebab dasar permusuhan para Namrud dengan Nabi Ibrahim As adalah dakwahnya pada tauhid.[2]

1. 3. Jeluknya Pengajaran Tauhid dalam Islam            

Sebelumnya kami telah singgung bahwa asas tauhid dan penyembahan pada Tuhan Yang Esa bukan hanya tipologi dan kekhususan islam; tapi seluruh nabi-nabi Tuhan mengundang dan mengajak manusia pada tauhid. Meskipun demikian tidak boleh dikira bahwa Islam dalam mengungkapkan ajaran-ajaran tauhidnya hanya mengulang ajaran-ajaran tauhid nabi-nabi terdahulu As tanpa  perbedaan sama sekali.

Kendatipun Islam dalam prinsip dakwah pada tauhid dengan agama-agama samawi sebelumnya adalah seiring, pengajaran-pengajaran tauhid Islam yang dipaparkan dalam al-Quran dan riwayat-riwayat para Maksum As mempunyai kedalaman dan kekayaan  yang belum pernah ada sebelumnya.

Dengan perkataan lain, ajaran islam dalam bidang tauhid memiliki bentuk dimana terbuka jalan untuk kebanyakan orang, sehingga mereka memperoleh ibrah (pelajaran) dan manfaat darinya serta juga memberi kepuasan penelitian akal para teolog, filosof dan juga hati serta jiwa para pejalan cinta dari kaum urafa.

Kedalaman ajaran ini sampai setelah melewati kurun dan abad, baru hanya sebagian dari makrifat-makrifat tauhid Islam yang dapat dijangkau oleh kita. Tetapi dari Islam tidak bisa dinantikan kecuali ini, sebab berasaskan prinsip “khatamiyyat” (akhir kenabian), agama ini senantiasa akan memberikan jawaban seluruh kebutuhan-kebutuhan mendasar manusia dalam bidang-bidang pemikiran dan amal perbuatan.

1. 4. Makna Leksikal Tauhid

Sebelum pembahasan dilanjutkan selayaknya diberikan penjelasan singkat tentang makna leksikal kata “tauhid”. Dalam bahasa Arab kata tauhid adalah masdar bab “taf’iil” dan dari akar kata “wahada”. Salah satu dari makna bab “taf’iil” adalah seseorang atau sesuatu mempunyai sifat “pengetahuan”. Contohnya kata “ta’dziim” bermakna mengagungkan (seseorang atau sesuatu), dan kata “takfir” bermakna mengkafirkan (seseorang). Berdasarkan ini kata “tauhid” digunakan dengan makna mentauhidkan (mengesakan).[3]

Mungkin patut disebutkan bahwa kendatipun al-Quran meliputi kandungan tauhid yang sangat banyak, akan tetapi masdar kata tauhid dan “musytaqaat”nya (derivasi-derivasinya) tidak digunakan dalam al-Quran, dan untuk menjelaskan prinsip tauhid digunakan redaksi-redaksi lain. Dalam masalah penukaran kata tauhid dan derivasi-derivasinya sangat banyak disebutkan dan digunakan  didalam riwayat-riwayat.[4]

1. 5. Tauhid Nazhari dan Tauhid Amali

Sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya, tauhid mempunyai penyebaran dan perluasan serta mendapat jalan dalam  wadah pemikiran dan amal. Berasaskan ini tauhid dalam pembagian awalnya dapat dibagi atas dua bagian umum;

1. Tauhid nazhari (teoritis)

 2. Tauhid ‘amali (praktis).

Maksud kita dari tauhid nazhari adalah tauhid dimana manusia dalam pemikirannya meyakini keesaan dan ketunggalan Tuhan. Dengan kata lain tauhid nazhari adalah keyakinan yang pasti tentang keesaan Tuhan dalam dzat, sifat dan “af’al” (jamak dari perbuatan).

Adalah badihi bahwa jika keyakinan ini mengakar kuat pada kedalaman hati seseorang, niscaya akan memberi warna khusus pada perilaku dan perbuatannya, sebagai gambaran yakni perbuatannya juga bernuansa tauhid atau manusia bertauhid. Pada tahap ini kita telah masuk pada segmen tauhid amali. Oleh sebab itu yang dimaksud tauhid amali adalah perbuatan  yang merupakan implikasi dari seorang  manusia bertauhid; yakni seseorang dalam berhadapan dengan Tuhan yang Mahatinggi, berbuat dalam bentuk apresiasi dari keniscayaan keyakinan dan pemikiran tauhidnya. Sebagai contoh tauhid dalam ibadah merupakan salah satu dari pembagian tauhid amali. Di sini bukan berarti terdapat pembicaraan tentang keyakinan khusus; tetapi yang dimaksud dari tauhid ibadah adalah bahwa manusia mengerjakan amal khusus seperti ibadah dan penyembahan, berasaskan keyakinan tauhidnya dan sinkron dengan keyakinan tersebut; yakni ia hanya menyembah Tuhan Yang Esa dan  berserah diri hanya pada-Nya, serta menjauhi penyembahan terhadap sesembahan-sesembahan lainnya.[5]

  

1. 6. Makna Istilah Tauhid      

Sekarang tiba gilirannya kami  jelaskan makna istilah  tauhid dalam ilmu kalam. Tapi mengungkapkan definisi sempurna (menyeluruh) dari tauhid yang meliputi seluruh bagian-bagiannya merupakan sebuah pekerjaan rumit.. Sebagimana kita lihat pada dasarnya tauhid dapat dibagi dengan dua bagian global; tauhid nazhari dan tauhid amali. Dan nanti akan kita lihat  bahwa masing-masing dari dua bagian tersebut terbagi lagi dengan bermacam-macam cabang pembagian.

Oleh sebab itu maksimal yang dapat dilakukan pada tahap ini, mengungkapkan definisi  secara global. Dan untuk maksud ini dapat dikatakan : Tauhid adalah keyakinan yang pasti terhadap keesaan dan ketunggalan Tuhan dalam dzat, sipat, dan af’al-Nya, serta beramal berasaskan keyakinan ini.

Tetapi harus kita akui bahwa definisi ini hanya sampai batasan umum, dan untuk pengertiannya secara terperinci dan lebih jelas dari prinsip tauhid,  hanya dengan lewat penjelasan  bagian-bagian tauhid yang ada akan menjadi terang.

1. 7. Dua Pengertian Tentang Tauhid

Suatu keharusan memperhatikan poin ini, bahwa dalam pembahasan ‘itiqâdi (akidah dan keyakinan), kadang tauhid digunakan dalam makna yang lebih umum dari makna istilah yang kami sebutkan. Dalam makna umum ini meliputi semua pembahasan yang berhubungan dengan pengetahuan ke-Tuhanan, seperti dalil-dalil dan burhan-burhan dalam menetapkan Tuhan, serta pembahasan yang menyangkut dengan sifat-sifat Ilahi. Seorang teolog Muslim menjelaskan makna khusus dan umum dari tauhid seperti ini: “Ketahuilah bahwa hakikat tauhid adalah keyakinan mantap yang tetap sesuai dengan realitas pada ketiadaan sekutu wajib (Tuhan) dalam uluhiyyat dan kekhususannya dari “asmaa” dan sifat.

Dan adapun yang dimaksud tauhid dalam level ini adalah awal dari ushul yang lima yaitu adalah makrifat Allah pada dzat dan sifat. Dan penamaan ini makrifat dengan nama tauhid seperti penamaan “kull” (keseluruhan) dengan nama “juz” (sebagian), yang merupakan paling utama dari bagian-bagian.[6]

Sebagaimana yang  dilihat dalam ungkapan di atas dimulai dengan isyarah pada makna tauhid, dimana mempunyai hubungan dengan pengesaan Tuhan, dan menafikan sekutu bagi-Nya; kemudian dilanjutkan dengan ungkapan makna umum tauhid, yang mana dalam makna ini tauhid meliputi pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan pembuktian eksistensi Tuhan serta pembahasan tentang sifat-sifat Ilahi. Tambahan atas ini, terdapat dua poin yang telah disebutkan dapat digunakan:

a.                   Maksud dari tauhid, apa yang menjadi batasan salah satu dari lima ushul keyakinan (disamping nubuwwah [kenabian], ma’âd [hari kebangkitan], ‘adalah [keadilan] dan imâmah [kepemimpinan]), adalah makna umumnya (yakni makrifat Tuhan).

b.                  Penamaan makrifat Tuhan dengan tauhid adalah bentuk penamaan dari yang paling baik dan utama dari bagian sesuatu terhadap sesuatu itu. Dari dimensi bahwa tauhid bermakna pengesaan Tuhan, adalah paling asas dan paling tingginya makrifat Tuhan dalam Islam, nama ini dimutlakkan pada semua pembahasan yang berhubungan dengan pengetahuan pada Tuhan.

Oleh sebab itu setelah menjadi jelas dua makna khusus dan umum tauhid, selayaknya kami beri penekanan pada poin ini bahwa dalam pembahasan yang akan datang, dimana saja kami utarakan  pembicaraan tentang tauhid, maka yang kami maksud adalah makna khususnya.

1. 8. Kedudukan Pembahasan Tauhid dalam Struktur Ilmu Kalam                  

Poin yang lain yang harus jelas sebelum masuk pada pembahasan tauhid, adalah  pembahasan ini menempati bagian yang mana dari pembahasan ilmu Kalam. Dengan meneliti isi dan kandungan pembahasan ini, menjadi jelas bahwa pembahasan tentang tauhid pada hakikatnya  pembahasan dari sebagian sifat-sifat Ilahi (Keesaan Tuhan)[7] dan dari sisi ini dapat dihitung sebagai bahagian yang berhubungan  dengan pembahasan sifat-sifat Ilahi.

Dalam hubungan ini, para ahli Kalam Islam dalam bentuk mengambil pembahasan ini didalam keseluruhan ilmu Kalam, menggunakan dua metode yang berbeda:

a.                   Segolongan dengan memperhatikan kandungan pembahasan tauhid, dimana merupakan suatu pembahasan tentang sifat-sifat Tuhan, maka pembahasan tauhid dibahas dibawah keseluruhan pembahasan sifat-sifat, dan diletakkan disamping pembahasan sifat-sifat lainnya seperti; ilmu, kudrat, hidup dan…[8]

b.                  Segolongan lagi dari para teolog, memperhatikan keutamaan dan keunggulan  dari pembahasan ini dibandingkan dengan sifat-sifat lainnya, dan dengan tinjauan urgensinya yang tak terukur, mereka mengutarakannya dalam bentuk yang terpisah.[9]

Adalah jelas masing-masing dari metode yang disebutkan, pada tataran proporsinya adalah benar dan dapat diikuti, tapi dalam tulisan ini (dengan mengikuti penulis kontemporer pada galibnya) memilih metode kedua dan mengutarakan pembahasan tauhid dalam bentuk yang terpisah.

1. 9 Tauhid dalam Al-Qur’an dan Sunnah

Dari pembahasan terdahulu menjadi jelslah bahwa tauhid merupakan pilar utama agama islam. Dan di samping dimensi  makrifat ketuhanan juga mempunyai pengaruh penting dalam akhlak dan syariat Islam. Oleh sebab itu adalah wajar jika al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw serta para pengganti beliau yang maksum, memberikan perhatian yang sangat banyak terhadap rukun yang asas ini sebagaimana ajaran-ajaran ketuhanan Islam lainnya.

Tetapi karena pembahasan tauhid al-Qur’an dan riwayat  betapa luas, sehingga meninjaunya secara singkat juga membutuhkan penguraian tulisan yang panjang; sebab itu dari sisi ini tidak ada jalan lain kecuali di sini kami mengisyaratkan hanya sebahagian dari ayat-ayat dan riwayat-riwayat tentang topik ini sebagaimana pembahasan-apambahasan al-Qur’an lainnya dalam kitab ini.

Dan apabila pembaca berkeinginan untuk menelaah lebih banyak tentangnya dapat merujuk pada kitab-kitab tafsir al-Qur’an dan sumber-sumber riwayat yang bermacam-macam.

1. 10. Signifikansi Tauhid dalam Islam dan Agama-agama Samawi lainnya 

Sebagaimana telah diisyaratkan, ajaran tauhid tidak dikhususkan hanya pada Islam; tetapi para nabi Tuhan semuanya adalah penyeru tauhid:

“Dan tidaklah Kami mengutus  sebelum kamu dari seorang Rasul kecuali Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan kecuali Aku, maka sembahlah Aku”. (Qs. al-Anbiyaa [21]: 25)

Berasaskan ayat ini tauhid mernjadi dasar pengajaran ketuhanan dari para nabi. Demikian pula kita membaca dalam surah An-Nahl:

“Dan sungguh Kami telah utus pada setiap ummat bahwa sembahlah Allah dan jauhilah Thagut”. (Qs. an-Nahl [16]: 36)

Amirul mukminin Ali As juga dalam maqam menjelaskan falsafah diutusnya para nabi, berkata:

“Tatkala kebanyakan ciptaan (manusia) menganti perjanjian Allah dengan mereka, maka mereka melupakan hak-Nya, dan mereka mengambil sekutu-sekutu bersama-Nya. Allah mengutus (membangkitkan) di antara mereka utusan-utusan-Nya sehingga mereka meralisasikan hak perjanjian fitrah”.[10]   

Ungkapan Imam Ali As menggambarkan bahwa dalam periode-periode awal sejarah manusia, kebanyakan manusia merusak perjanjian yang Tuhan ikat dengan mereka, dan dengan tidak menghiraukan kedudukan Tuhan, mereka malah menjadi musyrik; sebab itu Tuhan mengutus para nabi-Nya supaya mereka mengingat janji fitrinya tentang tauhid, dan membebaskan mereka dari jerat syirik serta memberi petunjuk mereka pada keimanan tauhid.

Al-Qur’an juga sebagai paling akhir kitab suci yang diturunkan, sangat  menekankan tentang tauhid. Semboyan-semboyan tauhid dengan berbagai ungkapan seperti; “Tidak ada Tuhan kecuali Allah”[11],  “Tidak ada Tuhan kecuali Dia[12], “Tidak ada Tuhan kecuali Saya[13], “Tidak ada Tuhan kecuali Engkau[14], “Dan Tuhan kamu adalah Tuhan yang satu[15], “Tidak ada Tuhan kecuali Allah[16], “Tidak ada Tuhan kecuali Tuhan yang satu[17], “Tidak ada bagi kamu Tuhan kecuali Dia[18] dan seterusnya puluhan kali diulang-ulang dalam kitab Al-qur’an.

Nabi Muhammad Saw juga dengan perintah Tuhan mengumumkan bahwa dasar risalah beliau adalah mengundang manusia pada tauhid: “Katakanlah bahwa saya diperintahkan hendaklah saya menyembah pada Allah dan saya tidak menyekutukan-Nya. Saya mengajak kepada-Nya dan kepada-Nya tempat kembali”[19], “Katakanlah bahwasanya diwahyukan kepadaku sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang satu, maka apakah kamu taslim (pada hak)? (Qs. ar-Ra’d [13]: 36)

Para nabi terdahulu juga menanggung risalah seperti ini, sebagai contoh al-Qur’an memperkenalkan risalah Nabi Nuh As semacam ini:

“Sungguh Kami telah mengutus Nuh pada kaumnya, (Nuh berkata) sesungguhnya aku bagi kamu adalah pengingat yang nyata. Bahwasanya janganlah kamu menyembah kecuali Allah, sesungguhnya aku takut atas kamu azab pada hari pedih”.[20]

Di samping dari ini, al-Qur’an sangat banyak mengungkapkan ayat-ayat dalam menjelaskan tauhid dan cabang-cabangnya yang bermacam-macam, juga efek dari tauhid dan syirik, faktor-faktor kecenderungan manusia pada syirik dan akibatnya, dan sebagainya dimana pada pembahasan akan datang akan kami utarakan satu sudut dari masalah itu.            

Di samping al-Qur’an, riwayat-riwayat para Imam Maksum As  sebagai salah satu dari dua “tsiql” (pusaka berharga) agama, juga mengungkapkan hakikat-hakikat  dalam tentang masalah tauhid. Sebagai contoh, dalam sebagian khutbah-khutbah Nahjul Balâgah, terdapat penjelasan-penjelasan tinggi dari Amirul Mukminin Ali As, yang manusia setelah lewat berabad-abad, pemahaman dan pengetahuan masih belum menemukan jalan kedalamannya.[www.wisdoms4all.comj]

                                     

 



[1] . Tafsir al-Mizan, jil.1, hal.358-360

[2] . Sebagai contoh merujuk pada Q.S : as-Syu’araa [ : 70-74. Hari ini para Yahudi memandang diri mereka   berada dalam barisan pengikut tauhid dan dalam "Perjanjian Lama" yang ada, terdapat berbagai penjelasan tentang ketunggalan Tuhan. Keyakinan terhadap trinitas (yang merupakan paling besarnya distorsi [tahrif] yang terjadi dalam agama Kristen) juga dari sudut pandang sebagian besar dari ulama Kristen tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dan oleh karena itu para penganut Kristen juga memandang diri mereka sebagai pengikut tauhid. 

[3] . Mesti disebutkan bahwa dalam sebagian tempat, tauhid digunakan dalam makna ketunggalan Tuhan bukan keyakinan terhadap ketunggalan Tuhan.

[4] . Didalam pembahasan Tauhid dalam al-Quran dan Sunnah, akan kita ketahui sebagian dari riwayat-riwayat ini.

[5] . Allamah Thaba-thabai dalam tafsir al-Mizan dalam menjelaskan tentang tauhid amali mempunyai ungkapan seperti ini: “Tauhid amali adalah bahwa amal-amal baik, seperti ihsaan, dilakukan untuk mendapatkan keridaan Tuhan dan pahala akhirat,  tidak dilakukan karena mengikuti hawa nafsu dan menyekutukan Tuhan. (al-Mizan jld.4, hal.353)

[6] . Khoojegii Syiroozy, Muhammad ibnu Ahmad, An-Nizhâamiyyah fii Madzhabil Imâmiyyah,hal.77.

[7] . Apa yang kami katakan tentang sebagian sifat-sifat Tuhan, mengisyaratkan pada topik ini bahwa dengan memperhatikan pembagian tauhid yang bermacam-macam (tauhid dzati, tauhid sifat, perbuatan dan…) prinsip tauhid pada dasarnya dapat dianalisa kepada beberapa sifat yang bermacam-macam, yang mana semuanya mempunyai hubungan dalam bentuk satu kesatuan. Poin ini dalam pembahasan selanjutnya akan menjadi lebih jelas.

[8] . Sebagai contoh, Khajah Nasiruddin Thusi dalam kitab Tajriidul I’tiqâd membawakan tauhid sebagai salah satu dari sifat-sifat Tuhan dan sesudah menyebutkan sifat-sifat seperti qudrah, ilmu, hidup dan…

[9] . Pada umumnya kitab-kitab Kalam yang ditulis dalam zaman kita, mengikuti metode ini.

[10] . Nahjul Balâghah, Khutbah pertama.

[11] . Qs. as-Shaffaat [37]: 37 dan Qs. Muhammad [47]: 47.

[12] . Qs. al-Baqarah [2]:163.

[13] . Qs. an-Nahl [16]: 2 dan Qs. al-Anbiyaa [21]: 25.

[14] . Qs. al-Anbiyaa [21]: 87.

[15] . Qs. al-Baqarah [2]: 163.

[16] . Qs. al-Imran [3]: 62 dan Qs. Shad :65.

[17] . Qs. al- Maidah [5]:73.

[18] . Qs. al-A’raf [7]: 59,65,73,85 dan Qs. al-Hud [11]: 50,61,84.

[20]. Qs. al-Huud [11]: 25 dan 26. Dan tentang dakwah tauhid para nabi lain. Rujuk pada Qs. al-A’raf [7]:59,65,73,85 dan Qs. al-Huud [11]:50,61,84 dan Qs. al-Mu’minun [23]: 23,32.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s