Agama dan Dunia [1]

Sejarah kehidupan manusia mencatat bahwa agama senantiasa menunjukkan peran dan pengaruh mendasar dalam berbagai dimensi kehidupan. Ajakan ke arah tauhid dan anjuran meninggalkan segala bentuk perbudakan merupakan tujuan terpenting diutusnya para nabi. Agama tidak saja memberikan pengaruh positif dalam kebahagiaan hidup manusia di akhirat kelak, melainkan juga memberikan pengaruh yang fundamental dalam kehidupan duniawi. Pertanyaan seputar interaksi antara agama dan dunia, fungsi agama, peran sentral agama dalam berbagai aspek kehidupan duniawi, dan begitu pula faktor-faktor epistemologi, sosiologi, dan kebudayaan merupakan persoalan-persoalan utama yang menyebabkan lahirnya kebangkitan renaissance di dunia Barat dan gerakan pemisahan antara agama dan dunia.

Sebelum kita membahas dan mengkaji permasalahan di atas, terdapat beberapa kata kunci yang perlu dijelaskan terlebih dahulu, seperti pengertian agama, pengertian dunia, defenisi sekularisme, dan sekularisasi. Agama didefinisikan sebagai sebuah majemuk dari makrifat-makrifat ketuhanan, hukum-hukum, dan akhlak. Dalam satu ungkapan bisa dikatakan bahwa agama merupakan segala sesuatu yang diturunkan Tuhan kepada para Nabi dan Rasul-Nya dalam bentuk wahyu dan kitab-kitab suci dengan tujuan mengarahkan dan memberi petunjuk kepada manusia. Secara etimologis, dunia berasal dari akar kata dunuww yang berarti dekat, atau dari akar kata danâ yang bermakna tercela atau eksistensi yang paling rendah. 

Dalam istilah keilmuan Islam mempunyai tiga pengertian, pengertian pertama mencakup segala realitas eksistensi alam, seperti tanah, langit, manusia, binatang, batu, laut, daratan, gugusan bintang-bintang, dan lain sebagainya. Pengertian kedua adalah bergantung dan bersandar kepada selain Tuhan, lalai dalam berzikir kepada-Nya, terjebak dalam khayalan-khayalan non-aktual, dan melupakan hakikat Keberadaan Mutlak. Pengertian ini digunakan dalam ilmu tasawuf dan ilmu akhlak. Allamah Thaba-thabai dalam tafsir al-Mizân mengisyaratkan pada makna kedua, dan berkata: “Kehidupan dunia di samping bermakna sia-sia, juga sebagai sebuah permainan jika dilihat dari sisi aturan-aturan yang berlaku di dalamnya, karena dunia begitu cepat berlalu dan fana. Dunia ini ibarat sebuah permainan anak-anak yang dimulai dengan semangat menggelora akan tetapi dalam waktu singkat akan letih, selesai lalu berpisah satu sama lain. Dan sebagaimana dalam setiap permainan, anak-anak terkadang bertengkar, berkelahi, dan bahkan saling membunuh, sementara sumber pertengkaran mereka hanyalah sesuatu yang bersifat khayalan belaka. Masyarakat materialistik pun melakukan permusuhan dan peperangan satu sama lain dalam persoalan-persoalan duniawi. Dunia adalah sebuah panggung permainan dan sebuah komoditi yang dapat dinikmati.”

Oleh karena itu, dunia yang didefenisikan dalam makna pertama sebagai langit, bumi, sahara, samudra, dan lain-lain tidak sama dengan makna kedua dunia. Makna pertama dunia tersebut tidak lain merupakan tanda-tanda dan ayat-ayat Tuhan.

Makna ketiga dari dunia adalah hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan duniawi, makna ini yang menjadi pokok bahasan kita. Dengan demikian, pertanyaan utama berhubungan dengan pembahasan di sini adalah apakah agama hanya difokuskan pada kesejahteraan dan kebahagiaan akhirat saja ataukah agama juga mempunyai konsep-konsep tentang kesejahteraan duniawi? Apakah agama hanya memberikan solusi untuk kebutuhan perorangan saja ataukah ajaran agama juga menawarkan jalan penyelesaian atas berbagai permasalahan sosial, politik, budaya, dan masyarakat?

Sekularisasi diartikan sebagai globalisasi kecenderungan non-religius. Sekularisasi bertujuan untuk menjauhkan manusia dari segala bentuk hubungan dengan realitas alam non-materi dan nilai-nilai suci agama. Sekularisasi bermaksud mengarahkan segenap pemikiran manusia hanya untuk membangun kemegahan dan kesejahteraan kehidupan duniawi. Ungkapan sekularisasi untuk pertama kali digunakan di Eropa pada pertengahan tahun 1648 M yang maksudnya adalah perpindahan kekuasaan politik dari penguasa gereja ke penguasa non-ruhani. Pemisahan antara sacred (suci, kudus dan keagamaan) dan secular (hal-hal duniawi) pada hakikatnya bersumber dari pemisahan konsep metafisika ajaran Kristen dari segala sesuatu yang dipandang  sebagai “tidak suci”, “rendah”, dan “hina”. Gagasan ini berangsur-angsur dianut secara global oleh masyarakat. Para pendeta dan ruhani yang memisahkan secara ekstrim antara urusan akhirat dan dunia memandang sekularisasi itu merupakan suatu bentuk “pengunduran diri” kaum ruhani dari pentas dunia dan perwujudan janji dan cita-cita mereka.

Sekularisme secara leksikal bermakna suatu pandangan yang menganggap duniawi sebagai hal yang prinsipal, kecenderungan kepada non-agama, dan pemisahan agama dari dunia, politik, dan sosial. Sebagian menafsirkan sekularisme sebagai pengaturan persoalan-persoalan kehidupan dunia yang mencakup pengajaran, pendidikan, politik, akhlak, dan dimensi-dimensi lain dari kehidupan manusia tanpa menempatkan keberadaan Tuhan dan agama sebagai landasan operasionalnya. Sebagian menuliskan bahwa sekularisme mempunyai makna: bertentangan dengan syariat dan harapan-harapan agama, kecenderungan duniawi, dan mendukung program-program duniawi. Sementara sekularis bermakna seorang yang menentang penerapan ajaran agama dan mendukung pemberdayaan infra struktur duniawi.

Sekularisme jika dipandang dari dasar, tujuan, dan sisi-sisi yang berbeda memiliki makna luas yang terbentang dari ateisme hingga monoteisme. Sebagian orang memandang agama hanya pada dimensi hubungan ritual manusia dengan Tuhan dan tidak meluaskannya pada aspek-aspek sosial, politik, dan kebudayaan. Sementara kelompok lain menentang keras agama dan mengusulkan penghapusan ajaran agama serta meniadakan pengaruh-pengaruhnya dalam semua aspek kehidupan manusia.

Dengan demikian sekularisme menjadi terbagi dua, sekularisme moderat dan sekularisme ekstrim. Sekularisme moderat membatasi ruang lingkup agama hanya pada kebutuhan spiritual individu, sedangkan sekurarisme ekstrim secara mutlak menentang keberadaan agama dalam kehidupan manusia. Di bawah ini akan disebutkan enam istilah sekularisme:

 

1. Sekularisme berhubungan dengan penghapusan agama. Lembaga-lembaga propaganda, pengajaran, dan pendidikan agama dilemahkan sedemikian sehingga masyarakat semakin jauh dan bahkan membenci agama itu sendiri.

2. Sekularisme dipahami sebagai upaya menjalin keharmonisan dengan kehidupan dunia. Keterasingan manusia dari nilai-nilai spiritual menjadikan manusia berupaya menjalin kembali kehidupan duniawi dengan nilai-nilai spiritual agama.

3. Sekularisme dipandang sebagai usaha memisahkan agama dari kehidupan sosial. Marginalisasi peran dan fungsi agama hanya pada wilayah individual dan menjauhkannya dari sisi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

4. Sekularisme didefenisikan sebagai langkah-langkah praktis mengubah substansi ajaran agama. Ilmu, perbuatan, dan kodrat yang dulunya disandarkan kepada Tuhan sekarang ditafsirkan sebagai milik manusia dan di bawah kekuasaan manusia. Agama Tuhan berubah menjadi agama manusia, yakni manusialah yang membuat agama, bukan Tuhan.

5. Sekularisme diartikan sebagai upaya menghapus pengaruh faktor-faktor non-materi terhadap fenomena-fenomena alam materi. Semua kejadian yang berlaku di alam natural ini hanya dipandang dari aspek pengaruh material dan empiris.

6. Sekularisme diposisikan sebagai gerakan perubahan secara evolusional dari masyarakat religius ke arah masyarakat duniawi-materialistik. Pengaruh perubahan fundamental ini sebegitu efektif sehingga setiap individu yang mengambil langkah praktis meninggalkan ajaran agamanya dipandang sebagai suatu upaya yang sangat rasional dan pragmatis.

Faktor-Faktor Lahirnya Sekularisme

Sebelum kita mengutarakan beberapa pendapat dan dalil-dalil tentang sekularisme, pada kesempatan ini akan dikemukan faktor-faktor lahirnya sekularisme dan penyebab perkembangannya di Barat. Dapat dipastikan bahwa mustahil mengkaji akar sekularisme lewat pendekatan sejarah. Atas dasar ini, pertama-tama akan dikaji faktor-faktor pendukung munculnya renaissance dimana pencetus ide pemisahan agama dan dunia.

Analisa dan pembahasannya tentangnya akan memberikan kemampuan kepada para pembaca untuk menganalisa substansi, peran dan posisi agama Islam serta berkesimpulan bahwa apakah di masyarakat Timur terdapat kelayakan untuk tumbuh dan berkembangnya pemikiran sekularisme?

 

A. Saintisme (Scientism)

Perkembangan zaman renaissance begitu cepat dengan ilmu. Kemajuan ini awalnya dimotori – dimana kemunculannya pertama dalam bidang Matematika, Fisika, dan Astronomi – oleh ilmuwan, seperti Galileo dan Koopler, hadirnya banyak perubahan pada konsep dan pandangan pada zaman itu – seperti posisi dan keadaan matahari – dan lahirnya Isaac Newton (1642-1727) mengakibatkan perkembangan semakin mengerucut. Penemuan-penemuan unggul yang dicapai oleh Newton, seperti gravitasi bumi, matematika, teori cahaya, fisika, kimia, dan filsafat membuat banyak ilmuwan tertarik padanya.[1]

Pada awalnya, perkembangan ilmu yang begitu pesat tidak melahirkan gagasan tentang pertentangan ilmu dan agama, Newton sendiri yang mempunyai banyak andil dalam melahirkan penemuan baru dalam bidang keilmuan senantiasa menekankan aspek-aspek eksistensi alam non-materi dan nilai-nilai supranatural. Tetapi arah perubahan ke dimensi yang tidak diinginkan, mayoritas ilmuwan mendukung pemisahan ilmu dan agama serta menganggap bahwa nilai-nilai spiritual dan agama tidak utama dalam kehidupan dunia.[2]

Gagasan-gagasan Laplace yang berpijak pada teori Newton untuk perkembangan dan kemajuan ilmu disepakati oleh sebagian ilmuwan, ia juga beranggapan bahwa alam materi merupakan suatu sistem tan-jiwa dan tanpa tujuan. Menurutnya, apabila sebab-sebab materi memiliki pengaruh atas semua kejadian di alam natural ini, maka semestinya bisa dijelaskan lewat pendekatan ilmiah dan tidak lagi dihubungkan dengan pertolongan gaib, nilai-nilai spiritual, dan aspek-aspek supranatural. Dasar-dasar penelitian dan observasi ilmiah tidak lain adalah menggunakan metode empirikal.

Realitas pemikiran di atas menunjukkan secara jelas adanya gagasan pemisahan agama dan dunia, hubungan pemisahannya dengan ilmu, dan daya tarik manusia terhadap perkembangan ilmu. Namun pesona manusia ini berefek pada menurunnya perhatian manusia pada nilai-nilai agama dan memuncak pada marginalisasi pemimpin-pemimpin agama dalam ruang lingkup sosial dan politik.

Konklusi dari esensi pemikiran itu adalah tidak memandang keberadaan Tuhan dan kehendak-Nya di alam natural, dan karena pengaruh kemajuan ilmu lahir begitu banyak gagasan dan konsep para ilmuwan yang berindikasi pada pemisahan agama dan dunia.[3]

Apakah kemajuan ilmu dan pengetahuan berakibat lahirnya pandangan mandiri[4] atas fenomena-fenomena alam natural? Teori tentang sumber agama banyak dilontarkan, mereka menyatakan bahwa manusia-manusia pada abad permulaan tidak mengenal ilmu dan sebab-sebab materi. Atas dasar ini, seluruh kejadian alam disandarkan pada sebab-sebab supranatural dan maujud-maujud yang lebih tinggi, misalnya mereka menyatakan bahwa Tuhan yang menyebabkan gerhana matahari dan bulan, menimbulkan penyakit, menurunkan hujan, banjir, gempa bumi, dan bencana lainnya.

Dengan hadirnya ilmu dan pengetahuan, segala sebab-sebab dan pengaruh-pengaruh materi atas kejadian-kejadian di alam ini berhasil diungkapkan, dengan demikian manusia memahami bahwa sebab-sebab peristiwa bukan berasal dari non-materi tetapi sebab itu semuanya bersumber dari materi, empiris, dan terindera. Oleh karena itu, muncul anggapan bahwa keyakinan terhadap kekuatan dan kodrat supranatural hanyalah hayalan belaka yang tidak lain berasal dari kebodohan manusia akan sebab-sebab materi. Jadi Tuhan dan agama serta nilai-nilai supranatural tidak memiliki realitas hakiki.

Di bawah ini kita akan menganalisa ketidakbenaran pemikiran di atas dengan juga berpijak pada kemajuan ilmu dan pengetahuan.

Kritikan atas Saintisme (Scientism)

Realitas-realitas yang diungkapkan itu tidak lebih dari sebuah teori kemungkinan dan prasangka sejarah. Maka dari itu, tidak akan dibahas dalam koridor pengkajian logikal. Namun di bawah ini akan diisyaratkan hal-hal yang mendasar berkaitan dengan realitas itu:

1. Peran dan kedudukan sebab-sebab materi

Tidak diragukan lagi bahwa sebab-sebab materi memiliki andil dalam perwujudan fenomena-fenomena natural dan tidak satupun dari tokoh-tokoh agama yang memungkiri kenyataan ini. Siapakah manusia yang menolak bahwa awan, angin, uap, air, dan faktor lain yang tidak berperan dalam menciptakan hujan atau siapakah yang mengingkari bahwa penyakit-penyakit disebabkan oleh serangan bakteri, mikroba, dan faktor lain atas badan manusia? Dalam kitab suci al-Quran dan hadis Nabi ditekankan pula tentang pengaruh faktor-faktor tersebut dalam perwujudan berbagai peristiwa alam[5] dan diisyaratkan bahwa Tuhan dalam menghadirkan kejadian alam niscaya melibatkan sebab-sebab materi.[6]

Oleh karena itu, kemajuan ilmu hadir untuk membongkar kepalsuan sebagian hayalan, pemikiran, dan khurafat; bukan untuk mengganti kedudukan nilai-nilai spiritual dan agama. Di sini harus dibedakan antara khurafat dan agama. Khurafat adalah satu bentuk kepercayaan yang tidak sesuai dengan realitas hakiki, sementara nila-nilai agama bersandar pada kenyataan hakiki. Walaupun tidak semua agama benar, tapi hal ini tidak berarti bahwa tak satupun agama yang benar. Agama yang benar niscaya sesuai dengan ilmu dan pengetahuan. Apabila manusia meyakini suatu bentuk khurafat bahwa kejadian-kejadian alam tidak berhubungan dengan sebab-sebab materi, tapi bersumber dari sebab-sebab non-materi, maka hal ini sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran-ajaran agama; karena hakikat agama Ilahi bukan hanya menerima sebab-sebab materi bahkan menekankan pengkajian atas pengaruh dan efeknya. Namun keberadaan sebab-sebab materi bukan berarti menafikan eksistensi sebab-sebab lain yang lebih tinggi dan sempurna.

Agama disamping menerima sebab-sebab natural juga menekankan eksistensi sebab-sebab perantara dan ketakmandirian sebab-sebab tersebut. Agama menyatakan bahwa apabila kalian melihat pengaruh ayah dan ibu dalam penciptaan manusia atau  kalian memahami peran petani dalam pertumbuhan tanaman, maka janganlah memandang bahwa mereka itu merupakan sebab-sebab akhir, tapi pahamilah bahwa kesemuanya itu hanyalah sebab-sebab perantara yang berujung pada sebab akhir dan hakiki (Tuhan). Pada ayat al-Quran Tuhan berfirman, “Kami telah menciptakan kamu, Maka mengapa kamu tidak membenarkan? Maka Terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau kamikah yang menciptakannya?[7] Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau kamikah yang menumbuhkannya? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan Dia hancur dan kering, Maka jadilah kamu heran dan tercengang.[8]

Dengan demikian, agama tidak menolak sebab-sebab materi bahkan menekankan keberadaan dan pengaruhnya. Disamping itu agama tidak membatasi sebab-sebab hanya pada materi saja tapi juga meluaskannya pada sebab-sebab non-materi dan hakiki.

2. Hakikat dan tujuan ilmu

Karena perkembangan dan kemajuan ilmu, sebagian manusia memandang salah seluruh ajaran agama. Namun pasca penemuan sebab-sebab materi, pengaruh agama tak hanya semakin melemah bahkan semakin memperkuat dasar-dasar pandangannya, karena dengan mengenal sebab-sebab materi kita memahami keberadaan hukum-hukum yang mengatur alam semesta ini. Adanya keyakinan akan hukum-hukum ini lebih lanjut akan menyingkap keberadaan hakikat-hakikat supranatural yang menyertainya.

Oleh karena itu, penciptaan tidak hanya terbatas pada alam materi ini. Dengan pandangan ini, eksistensi alam-alam penciptaan akan mengantarkan manusia pada Sang Pemberi Keberadaan. Dari satu sisi, apabila ilmu senantiasa berjalan untuk mengungkap fenomena-fenomena, maka niscaya berhubungan dengan substansi dan esensi sebab-sebab yang diungkapkannya. Ilmu akan sampai pada satu kesimpulan fundamental bahwa mata rantai sebab-sebab mustahil bersifat mandiri dan tidak bergantung pada suatu realitas yang hakiki dan mandiri secara esensial. Eksistensi hakiki itu mesti bukan maujud materi atau maujud-maujud non-materi yang juga terbatas. Newton menemukan kenyataan tersebut dibalik observasi-observasinya, berkata, “Gravitasi atau gaya tarik bumi bersandar pada satu kekuatan tertinggi bernama Tuhan, gravitasi ini tidak bisa menciptakan dan mengarahkan segala sistem tata surya.”[9]

Oleh karena itu, ilmu tak berimplikasi pada ketakbergantungan fenomena natural pada sebab akhir dan non-materi. Bahkan jika para ilmuwan memandang sistem alam ini dengan teliti dan jujur, maka niscaya mereka mendapatkan bahwa segala perkara di alam ini membutuhkan Pengatur yang mengarahkan pada suatu tujuan.

Al-Quran menekankan peran ilmu[10] dan memandang bahwa ilmu merupakan jembatan menuju makrifat Pencipta alam. Namun ketika ilmu manusia berkembang dan dengan perkembangan ilmu manusia memahami bahwa sistem alam beserta realitas yang ada di dalamnya memiliki keteraturan yang sempurna dan seimbang, hal ini semestinya mengantarkan manusia memakrifati Tuhan dan menyembah pada-Nya, tetapi yang terjadi malah sebaliknya yakni pengingkaran eksistensi dan nikmat-nikmat Tuhan.

Tuhan berfirman dalam al-Quran tentang orang berilmu yang angkuh, “Maka tatkala datang kepada mereka Rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.[11] Kesombongan manusia akan ilmunya tidak sepadan dengan hakikat dan tujuan ilmu, karena hakikat ilmu ialah cahaya yang dengannya manusia dapat melihat hakikat-hakikat eksistensi, bukan malah denganya manusia berlaku sombong dan angkuh dengan mengingkari hakikat keberadaan.

3. Keterbatasan ilmu manusia 

Para ilmuwan mengakui bahwa ilmu manusia dalam setiap disiplin dan cabang keilmuan hanya mampu mengungkap sebagian kecil dari hal-hal tidak diketahui, yang tidak diketahui masih jauh lebih banyak dari yang diketahui manusia. Di samping itu, sebagian yang diketahui juga masih berada dalam ketidakpastian ilmiah dan sebagian darinya hanya melampaui sedikit dari batasan asumsinya. Banyak penemuan-penemuan ilmiah yang diyakini kebenarannya oleh ilmuwan, namun setelah melampaui beberapa tahun lamanya penemuan tersebut dianggap tidak benar dan usang.

Perbedaan konsep di antara para ilmuwan menambah runyam persoalan sebelumnya, sedemikian sehingga dalam tataran ilmu-ilmu manusia, khususnya ilmu humaniora, tidak terdapat kesatuan teori dan pandangan. Perbedaan yang sedemikian tajam dan dalam ini akhirnya melahirkan dukungan yang berlebihan terhadap paham relatipisme di Barat. Dengan realitas seperti ini bagaimana manusia dapat bersandar dengan ilmu tersebut dalam melakukan penolakan dan pengingkaran ajaran-ajaran suci Ilahi? Bagaimana ia berjalan dengan ilmu yang tak pasti itu? Bagaimana ia dapat yakin dengan jalan-jalan yang tak pasti, tak tetap, dan senantiasa berubah yang berujung pada pengorbanan umur dan kehidupan manusia dimana ia merupakan harta paling berharga baginya? Apakah ajaran-ajaran suci Ilahi bukan merupakan jalan yang paling kokoh dan benar?

Berdasarkan perspektif di atas, bisa disimpulkan bahwa ilmu-ilmu manusia sangatlah terbatas; ilmu manusia tidak dapat secara tepat membahas kondisi-kondisi dan perkara-perkara alam ini dan juga tidak mampu menjawab begitu banyak pertanyaan tentang fenomena-fenomena alam dan rahasia kehidupan manusia. Soal-soal itu misalnya apa yang bakal terjadi pasca kematian, kemana perginya jiwa setelah meninggalkan badan, apakah alam barzakh itu, hubungan jiwa dengan alam itu, apa hari kebangkitan, apa makna perjumpaan dengan Tuhan, apa surga dan neraka itu, dan sebagainya, hal ini oleh ilmu manusia merupakan masalah-masalah yang tidak dapat dipahami apalagi menawarkan bentuk-bentuk penyelesaiannya.

Apakah hakikat alam akhirat bisa dipisahkan langsung dengan alam dunia dan apakah hanya dengan bantuan ilmu manusia yang bersifat materi itu bisa mengarahkan kehidupan manusia? Dengan sedikit perhatian kita mampu memahami bahwa ilmu manusia yang tidak meliputi alam akhirat secara riil tidak dapat menghakimi dunia dan permasalahan-permasalahan yang terpaut dengannya. Dengan demikian dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain:

 1. Penemuan-penemuan yang dicapai dengan ilmu manusia masih sangat sedikit dibandingkan dengan realitas yang tidak diketahui.

2. Apa yang ditetapkan oleh ilmu manusia tak memiliki nilai pasti.

3. Ilmu manusia tidak bisa menentukan jalan dan konsep yang jelas dan pasti untuk mengantarkan manusia menggapai cita-citanya.

4. Hakikat alam akhirat tidak terjangkau oleh ilmu manusia.

Dengan ilmu manusia yang terbatas ini mustahil dapat menawarkan program-program yang jelas, bertahap dan membawa hasil bagi perjalanan kehidupan manusia di alam materi.

Adalah suatu kesalahan besar bila kita hanya membatasi ilmu hanya pada materi saja dan juga kita tidak memandang apa-apa yang dicapai oleh ilmu manusia. Ilmu manusia semakin bernilai bila diarahkan untuk berkhidmat pada agama. Ilmu dan akal mampu menawarkan metodologi efektif dan efisien dalam penerapan nilai-nilai agama dan membantu manusia mencapai kemajuan yang bisa mendukung terwujudnya tujuan hakiki kehidupan. Agama pun dapat merumuskan hukum-hukum fiqih yang justru memotivasi manusia untuk melakukan observasi keilmuan yang lebih mendalam.

Hubungan Ilmu Empiris dan Fiqih

Fiqih dan ilmu eksperimental merupakan dua cabang ilmu yang mesti dijelaskan bentuk hubungan keduanya. Sebagian menyatakan bahwa fiqih mengikuti ilmu empiris. Mereka berkata:  

1. Fiqih berhubungan langsung dengan hukum-hukum.

2. Subyek hukum ditentukan oleh ilmu-ilmu empiris.

3. Seluruh hukum pasti mengikuti subyek hukumnya, karena subyeklah yang mencipta hukum dan ketiadaan subyek membuat ketiadaan hukum. Oleh karena itu, subyek lebih dahulu dari hukum dan hukum muncul setelah subyek serta mengikuti subyek. Dengan demikian mereka menyimpulkan bahwa fiqih mengikuti ilmu-ilmu empiris dan moderen, dan fakih secara otomatik mengikuti ilmuwan dan hanya ilmuwan-ilmuwan empirislah yang dapat meletakkan dan menentukan pondasi dan ruang lingkup kehidupan manusia. Para fukaha harus taklid pada pandangan dan konsep mereka.

Tentang argumentasi di atas dikatakan bahwa pendahuluan pertama dan kedua adalah benar. Tetapi mukadimah ketiga dan aplikasinya merupakan hal yang masih perlu didiskusikan, karena kesebaban subyek terhadap hukum bukan berarti bahwa subyek itu merupakan sebab pencipta (‘illah fâ’il) hukum dan hukum sebagai akibat subyek, karena dengan keberadaan sebab dari subyek ini tak lagi memberikan tempat bagi keputusan Tuhan; seperti persoalan minuman keras dan faktor pengharamannya, di sini pengharaman minuman keras langsung bersumber dari Tuhan. Jadi yang dimaksud sebab di sini ialah sebab penerima (qâbil, recipient).

Begitu pula tentang hal-hal yang berhubungan dengan hukum adalah benar, bentuk sebab di sini juga sebab penerima. Penjelasan hal ini adalah apabila tidak terdapat minuman keras dan taklif  di alam ini, maka tidak lahir juga pengharaman atasnya. Persoalan ini mengungkapkan kepada kita bahwa terdapat suatu sebab untuk subyek dan hal-hal yang berkaitan dengan hukum. Subyek dan hal-hal yang terkait dengan hukum ini tidak satupun merupakan faktor yang pasti dalam mewujudkan hukum, keduanya hanya menerima hukum yang diwujudkan oleh Sang Pencipta Hukum.

Dengan ungkapan lain, hukum bukan akibat dari subyek, tapi akibat langsung dari kehendak dan iradah Tuhan. Subyek dalam hal ini hanya menyiapkan lahan bagi penciptaan hukum dari sisi Tuhan.

Apabila persoalan di atas kita jabarkan secara filosofis, maka subyek dan hal-hal yang terkait dengan hukum diposisikan sebagai materi (maddah) dan hukum itu sendiri ditempatkan sebagai forma (shurah). Jika materi tiada, maka mustahil Sang Pencipta memberi forma. Namun ini tak berarti bahwa materi sebagai sebab pencipta forma, materi hanyalah menerima dan “mengusulkan” forma yang layak baginya. Sebenarnya yang membentuk materi adalah forma.

Oleh karena itu, sebab hakiki dari hukum adalah kehendak dan iradah suci Ilahi dan fiqih sebagai penjabaran hukum mengikuti kehendak Tuhan, bukan mengikuti ilmu-ilmu empiris. Fungsi ilmu-ilmu empiris adalah mengkaji subyek-subyek dan ruang lingkupnya kemudian menawarkan pada fiqih dan faqih mengeluarkan hukum-hukum berdasarkan ruang lingkup subyek-subyek ilmu empiris.            

B. Rasionalisme

Pasca kemajuan dan perkembangan ilmu dan pengetahuan, muncul suatu penyikapan untuk memisahkan agama dari dunia dan bahkan secara ekstrim mengumumkan ketidakbutuhan manusia pada agama serta ajaran agama dipandang menghambat kemajuan manusia karena hanya mengandung nilai-nilai utopia dan khurafat.    Sebagian manusia yang menolak agama berpijak pada akal dan rasionalitas, akal diyakini sangat mampu menyelesaikan segala persoalan dan permasalahan manusia dan peran agama dalam hal ini diambil alih oleh akal. Mereka kemudian menamai abad delapan belas ini sebagai era kebangkitan rasionalisme.

Di awal era kebangkitan rasionalisme, mereka tidak langsung mempertentangkan antara nilai-nilai akal dan ajaran agama, dan bahkan tokoh rasionalisme seperti Thomas Pin masih mempercayai eksistensi Tuhan dan berprilaku sesuai dengan etika agama. Namun karena pertentangan yang semakin tajam antara agama bumi (yang tidak memiliki wahyu dan kitab suci) dan kecenderungan rasionalisme pada akhirnya melahirkan suatu keraguan yang pasti atas fungsi dan peran agama dalam kemajuan manusia.[12]

 Kritikan atas Rasionalisme

Para pengikut rasionalisme menempatkan akal berlawanan secara sine qua non dengan agama, maka dari itu dengan berpegang pada akal masyarakat manusia tidak lagi memerlukan agama dalam menapaki perjalanan hidup di dunia ini.

Mereka menolak agama dengan argumentasi bahwa ajaran agama dan wahyu suci apabila sesuai dengan akal, maka agama tidak lagi diperlukan, karena dengan melaksanakan kewajiban akal pada dasarnya masyarakat telah terbebas dari agama dan wahyu. Tapi apabila agama berlawanan dengan akal, maka agama yang tidak rasional niscaya akan tertolak. Dengan demikian, keberadaan akal menyebabkan masyarakat manusia tidak memerlukan agama.

Dengan menjelaskan hubungan akal dan wahyu akan nampak kelemahan dari argumentasi di atas. Justru dengan bersandar pada akal kita dapat menegaskan eksistensi Tuhan, kemestian wahyu dan kenabian, dan keniscayaan alam akhirat (hidup setelah mati). Juga dalam pancaran akal akan nyata bahwa manusia di dunia ini tidak memiliki kebebasan mutlak, tetapi ia memiliki kewajiban-kewajiban terhadap diri sendiri, makhluk lain, dan Tuhan. Dan bentuk pelaksanaan kewajiban-kewajiban ini mesti berdasarkan suatu sistem yang seimbang dan teratur. Apakah akal dalam hal ini bisa mengemban tugas untuk menjabarkan secara mendetail segala bentuk kewajiban utama manusia dengan penuh keseimbangan?

Akal mustahil melakukan hal-hal tersebut, karena indera dan pengetahuan akal atas kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan hanya bersifat universal dan tidak mencakup hal-hal yang partikular. Misalnya akal memahami adanya kewajiban manusia untuk bersyukur kepada Sang Pemberi Nikmat, namun akal tidak mengetahui bagaimana bentuk aktual prosesi rasa syukur itu. Dengan demikian, akal tidak dapat menolak hukum-hukum agama yang partikular, seperti shalat, puasa, haji, dan lain sebagainya.

Akal memahami secara universal bahwa kezaliman itu adalah buruk dan keadilan merupakan suatu kebaikan. Namun akal tidak dapat mengetahui mana di antara prilakunya yang bernuansa dan berujung pada keadilan dan kezaliman terhadap orang lain. Sebagai contoh akal tidak bisa menentukan bahwa riba dan berjudi adalah kezaliman, sebagaimana ia pun tidak dapat menegaskan tentang kebaikan pernikahan dan memilih pasangan yang layak baginya.

Oleh karena itu, akal mustahil bisa mengemban amanat untuk menentukan secara mendetail segala kewajiban manusia terhadap Tuhan, diri sendiri, makhluk lain, dan terhadap lingkungannya.

Hubungan Wahyu dan Akal

Wahyu mempunyai dua kewajiban mendasar terhadap akal, yakni mengesahkan akal dan menyempurnakannya. Di bawah ini akan kami akan jelaskan tentang dua kewajiban tersebut: 

1.     Wahyu melegitimasi fungsi akal. Legitimasi ini terjadi apabila akal dapat mengetahui keberadaan wahyu. Pada awalnya mungkin akan terkesan bahwa legitimasi akal oleh wahyu tidak bermanfaat dan apabila akal bisa mengetahui sesuatu, maka tidak memerlukan lagi legitimasi baru dari wahyu. Tapi perlu diketahui bahwa manusia dengan berbagai alasan sangat mungkin terjebak dalam kesalahan dan kekeliruan, disengaja atau tidak. Realitas ini merupakan hal yang tidak mungkin dapat dipungkiri oleh akal dan bahkan akal sendirilah yang mengesahkan kenyataan dan pengalaman ini. Namun pada kesempurnaan tertentu akal tidak mengalami suatu kesalahan dan kekeliruan, dan akal pada tingkatan ini tidaklah bertentangan dengan wahyu.[13] Tapi apakah seluruh manusia dapat mencapai tingkatan kesempurnaan itu dan senantiasa tetap pada derajat tersebut? Hadirnya berbagai keragaman pemikiran dan pandangan serta perbedaan konsep yang tajam dan bahkan saling bertolak belakang menandakan bahwa manusia secara mayoritas belum mencapai tingkatan kesempurnaan akal. Oleh karena itu, legitimasi dan pengesahan wahyu atas konsep dan pengetahuan yang dapat dicapai oleh akal menyebabkan terhindarnya manusia dari keraguan dan kebimbangan pemikiran serta membuat manusia menjadi yakin dan tentram atas apa yang telah dicapainya.

2.     Wahyu mengarahkan dan menyempurnakan akal. Penyempurnaan akal dalam ruang lingkup dimana akal tidak mampu memahami suatu realitas dan memberikan keputusan secara langsung. Wahyu memiliki kemampuan menjelaskan segala hal-hal yang partikular yang mana hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh akal. Sebagian dari perkara-perkara partikular seperti bentuk-bentuk hubungan manusia dengan Tuhan dan amal-amal ibadah khusus manusia kepada-Nya. Misalnya hukum-hukum shalat, puasa, haji, dan zakat. Sebagian lagi berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan segala makhluk. Misalnya adab-adab pergaulan, perdagangan, hukum denda, jihad, qishas, dan masalah sosial dan politik pemerintahan. Jadi ketidakmampuan akal di sini bukan berarti pertentangan akal dengan ajaran-ajaran agama, karena tidaklah bermakna apabila akal berlawanan dengan sesuatu yang ia tidak capai. Dikatakan akal bertolak belakang dengan agama dan wahyu kalau ia memahami sesuatu dan memutuskannya lantas apa yang diputuskannya ini bertentangan dengan ajaran-ajaran agama dan wahyu. Begitu pula ketidakmampuan akal dalam memahami hal-hal yang partikular berkaitan dengan hukum-hukum agama, namun setelah penyampaian wahyu ini akal bukan hanya tidak menetang bahkan menyetujuinya. Hal ini dikarenakan hukum-hukum partikular itu telah keluar dari wilayah jangkauan pengetahuan akal. Persetujuan akal atas ajaran-ajaran ini didasari oleh pengetahuan universal akal bahwa nilai-nilai suci itu bersumber dari Wujud Yang Maha Sempurna. Jadi pandangan keliru tentang pertentangan akal dengan wahyu bisa dikatakan bahwa pertentangan seperti ini hanyalah bersifat lahiriah yang terkait dengan keterbatasan akal dan dengan memperhatikan keterbatasan akal ini – yang diakui oleh akal-akal menolak ikut campur dalam menilai persoalan yang berada di luar jangkauannya sendiri.

Akal Melayani Kemanusian

Agama Islam menempatkan akal pada kedudukan yang sangat tinggi dan mulia sedemikian sehingga dipandang sebagai salah satu sumber hukum agama selain al-Quran dan sunnah Nabi.

Akal sendiri sepakat bahwa akal dan pemikiran manusia mesti digunakan untuk melayani manusia dalam mengantarkannya pada hakikat penciptaan dan kesempurnaan hakiki wujudnya. Dengan akal, Tuhan disembah dan meraih kesempurnaan Ilahi. [14]

Seseorang yang menjadikan akal sebagai pelayan atas keinginan alami dan kecenderungan hawa nafsu yang rendah mustahil menggapai suatu hakikat-hakikat tinggi dan suci dan ketika manusia telah dikuasai oleh kecenderungan rendah jasmaninya maka pada hakikatnya ia bukan lagi manusia karena sudah jauh terpisah dari nila-nilai suci kemanusiaan, walaupun ia secara lahiriah berbentuk manusia.

Al-Qur’an mensifatkan orang tersebut seperti binatang ternak dan bahkan lebih buruk dan rendah dari pada binatang, Tuhan berfirman, “Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.”[15] Ayat ini menjelaskan hakikat manusia yang telah diselimuti oleh hawa nafsu dan kecenderungan rendah jasmani. Jadi batin orang-orang yang sudah terwarnai dengan sifat-sifat rendah itu adalah binatang, walaupun secara lahiriah berbentuk manusia.

Nabi Muhammad saw dalam menjelaskan ayat yang berbunyi, “Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangsakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok,[16] bersabda, “Pada hari kiamat, sebagian orang akan datang dalam bentuk binatang yang berbeda, sebagian berbentuk semut, monyet, ular, dan kalajengking.[17] Orang ini berbuat tidak berdasarkan kemanusiannya dan pada akhirnya telah menjadi sifat yang tetap baginya, seperti mencegah hak-hak masyarakat, menzalimi manusia, marah tidak pada tempatnya, dan syahwat pada hal-hal yang diharamkan. Prilaku ini akan lahir dan nampak di hari kiamat berwujud binatang-binatang tertentu.

Maka dari itu, selayaknya akal berkhidmat pada kemanusian dan membantu manusia menyelami hakikat-hakikat eksistensi dan hikmah-hikmah penciptaan. Jika tidak demikian, maka manusia hanya akan terjebak dalam kecenderungan kebinatangannya dan mengotori kemanusiaannya serta semakin jauh dari tujuan hidup dan hakikat penciptaannya. Dari sini, jelaslah bahwa orang-orang yang menempatkan agama itu sebagai perkara yang khurafat dan memposisikan akal sebagai lawan dari agama, sesungguhnya tidak mengetahui substansi akal, batasan, dan implikasinya. Agama Ilahi yang bertujuan untuk mengantarkan manusia kepada hakikat penciptaannya dan menyempurnakan kemanusiaannya sama sekali tidak mendukung pemisahan antara akal dan agama, dengan akal manusia dapat memahami dengan benar peran dan posisi agama dan agama dalam hal ini mensuplai informasi yang mustahil dicapai secara mandiri oleh akal itu sendiri.

C. Humanisme

Sebagian manusia sangat menekankan peran strategis dan sentral ilmu dan akal, kedua hal ini diposisikan sebagai pengganti wahyu dan agama, oleh karena itu mereka beranggapan bahwa untuk menggapai suatu peradaban yang moderen dan kebahagiaan manusia tidak lagi membutuhkan wahyu dan agama. Sebagian lagi memandang bahwa kebebasan manusia, pandangan dan pemikiran manusia, kepentingan ekonomi, dan kekuasaan merupakan nilai-nilai yang mutlak dan berada di atas segala-galanya, kesemuanya ini diletakkan menduduki peran dan fungsi agama dan wahyu ilahi.

Sesungguhnya masih banyak lagi nilai-nilai yang merupakan produk pemikiran manusia yang mereka tempatkan sebagai pengganti peran agama dan wahyu. Mungkin dapat dikatakan bahwa nilai-nilai pengganti ini dipandang memiliki kelayakan sedemikian sehingga manusia dapat merasakan ketidakbutuhan atas nilai-nilai suci Ilahi, tapi yang terjadi sebenarnya kebalikan dari hal ini, bahwa perasaan tak butuh dan puas yang terdapat pada diri manusialah yang pada akhirnya membuat ia mengedepankan nilai-nilai seperti ilmu, akal, pandangan masyarakat, kebebasan, kekuasaan, dan ekonomi atas nila-nilai suci agama dan wahyu. Pada dasarnya manusia tidak menginginkan ada penghalang bagi kebebasan dan perwujudan segala keinginan dan kecenderungan alaminya. Dan karena agama dipandang sebagai tembok penghambat atas implementasi cita-cita duniawinya, maka dengan segala cara dan upaya mencari alasan agar dapat terbebas dari cengkeraman nilai-nilai suci Ilahi.

Kecenderungan ekstrim dari rasionalisme, saintisme, dan sekurarisme menyebabkan semakin berkembangnya humanisme ini sedemikian sehingga menempatkan seluruh keinginan, kehendak, dan kemashlahatan manusia di atas segala-galanya. Humanisme pertama kali muncul pada akhir abad ke 13 M di selatan Italia. Paham ini pada awalnya merupakan gerakan budaya dan selang beberapa waktu muncul sebagai gerakan politik dan pemikiran. Dan akhirnya paham ini menyebar dan berpengaruh di negara-negara seperti Jerman, Prancis, Spanyol, dan Inggris.

Pada kesempatan ini kami tak mengkaji panjang lebar segala pandangan dan konsep humanisme, kami cukupkan mengutarakan defenisi umum tentangnya agar dapat dipahami. Humanisme bisa didefenisikan sebagai suatu filsafat yang menempatkan nilai dan kedudukan manusia sebagai tolok ukur mutlak atas segala sesuatu. Dengan ungkapan lain, segala kecenderungan, kemashlahatan, kehendak, dan keinginan manusia diletakkan sebagai subyek utama dalam mengkaji, menilai, dan memutuskan kebenaran sesuatu.[18]

Dengan berpijak pada defenisi humanisme di atas, di bawah ini kami akan membedah dan menganalisanya dari dua aspek, yaitu aspek yang dipandang sangat berlebih-lebihan bagi manusia dan aspek yang memiliki kadar-kurang untuk manusia.[www.wisdoms4all.com]

   

       

 


[1] . Târikh ‘Ilm, bab keempat.

[2] . ‘Ilm wa Din, hal. 71.

[3] . Târikh ‘Ilm, bab keempat dan ‘Ilm wa Din, hal. 70-79.

[4] . Yakni memisahkan pengaruh ketuhanan dan faktor-faktor supranatural.

[5] . Silahkan rujuk: Qs. al-Hijr: 22, Qs. Ibrahim:23, Qs. al-Fatir: 35

[6] . Ushul Kafi, jilid pertama, hal. 189.

[7] . Q.S. al-Waqi’ah: 57-59

[8] . Q.S. al-Waqi’ah: 63-65

[9] . Silahkan merujuk: Bar Ghuzide-ye Afkâr-e Rassel, hal 57.

[10] . Qs. al-Fathir: 28, al-Baqarah: 31-32, Isra': 39: al-Ankabut: 80, ar-Rum: 29, Yunus: 55, an-Nahl: 41.

[11] . Qs. al-Mu’min: 83

[12] . ‘Ilm wa Din, hal. 75-77.

[13] . Pembahasan mendetail silahkan rujuk: Wahy wa Rahbar, hal. 281.

[14] . Ushul Kafi, jilid pertama, hal. 11.

[15] . Qs. al-A’raf: 179

[16] . Qs. an-Naba': 18

[17] . Tafsir Majmâ’ al-Bayân, jilid kesembilan, hal. 642.

[18] . Paul Edward, Encyclopaedia of Philosophy, New York, Macmillian, 1976.

Back to Top

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s