Apa Itu Agama? [1]

Definisi  Agama

Tujuan penyajian kajian ini ialah menjelaskan akidah Islam yang dikenal dengan istilah  ushuluddin (prinsip-prinsip agama). Untuk itu,  terlebih dahulu kami akan menjelaskan kata din  (agama) secara singkat dan kata-kata lain yang berhubungan dengannya. Hal itu –sebagaimana telah di-singgung dalam ilmu Mantiq– penting mengingat tahap pembahasan definisi (Mabadi Tashawwuriyyah) mengawali pembahasan masalah lainnya.

Secara leksikal, kata din berasal dari bahasa Arab yang berarti ketaatan dan balasan.  Sedangkan secara teknikal,  din berarti iman kepada pencipta manusia dan alam semesta, serta kepada hukum praktis yang sesuai dengan keimanan tersebut. Dari sinilah kata al-ladini (orang yang tak beragama) di-gunakan pada orang yang tidak percaya kepada wujud pencipta alam secara mutlak, walaupun ia meyakini shudfah (kejadian yang tak bersebab-akibat, big-bang theory) di alam ini, atau  meyakini bahwa terciptanya alam semesta ini akibat interaksi antar-materi semata. Adapun kata al-mutadayyin (orang yang beragama) secara umum digunakan pada orang yang percaya akan wujud pencipta alam semesta ini, walaupun keper-cayaan, perilaku dan ibadahnya bercampur dengan berbagai penyimpangan dan khurafat. Atas dasar inilah agama yang dianut oleh umat manusia terbagi menjadi dua; agama yang hak dan agama yang batil. Agama yang hak merupakan dasar yang meliputi keyakinan-keyakinan yang benar; yang sesuai dengan kenyataan, dan ajaran-ajaran serta hukum-hukumnya dibangun di atas pondasi yang kokoh dan dapat dibuktikan kesahihannya.

Usuluddin dan Cabang-cabangnya

Dari uraian singkat di atas tampak jelas bahwa istilah din atau agama terdiri dari dua unsur  pokok: pertama, akidah atau aqa’id (keyakinan-keyakinan) yang merupakan prinsip agama. Kedua, hukum-hukum praktis yang merupakan konsekuensi logis dari prinsip agama tersebut.

Oleh karena itu, tepat sekali apabila bagian akidah ini dinamakan sebagai ushul (prinsip)  agama, dan bagian ahkam (hukum-hukum) praktis dinamakan sebagai furu’  (cabang), sebagaimana para ulama Islam menggunakan dua istilah tersebut pada bidang akidah dan hukum-hukum Islam.

Pandangan Dunia  dan  Ideologi

Pandangan dunia (weltanschauung) dan ideologi adalah dua istilah yang berdekatan artinya. Salah satu arti pandangan dunia ialah seperangkat keyakinan mengenai penciptaan, alam semesta dan manusia, bahkan mengenai wujud secara mutlak. Sedangkan arti ideologi, salah satunya ialah seperangkat pandangan universal tentang sikap praktis manusia.  Berdasarkan dua arti ini, sistem akidah setiap agama dapat dianggap sebagai sebuah pandangan yang bersifat universal. Sedang sistem hukum praktis agama yang bersifat umum adalah  ideologinya. Maka itu, kedua istilah ini dapat diterapkan pada ushuluddin dan furu’uddin

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa istilah ideologi itu tidak meliputi hukum-hukum juz’i  (partikular), begitu pula istilah padangan dunia itu tidak meliputi keyakinan-keya-kinan yang juz’i. Hal lain yang juga perlu diperhatikan ialah bahwa istilah ideologi terkadang digunakan untuk pengertian yang bahkan mencakup  pandangan dunia itu sendiri.

Pandangan Dunia Ilahi dan  Materialisme

Pada umat manusia, terdapat berbagai pandangan dan keyakinan mengenai penciptaan alam semesta ini. Akan tetapi, semua itu –dari sisi keimanan atau pengingkaran terhadap alam metafisis– dapat  dibagi menjadi dua bagian utama; pan-dangan dunia Ilahi dan, pandangan dunia Materialisme. 

Dahulu, penganut pandangan dunia materialisme dikenal sebagai ath-thabi’i dan ad-dahri. Terkadang juga disebut sebagai zindik  dan mulhid  (ateis).  Sedangkan di zaman kita sekarang ini, mereka dikenal sebagai al-maddi (materialis).  Di dalam kaum materialis sendiri, terdapat aliran-aliran.  Yang paling menonjol pada masa kita sekarang ini adalah Materialisme Dialektika yang merupakan bagian Filsafat Marxisme.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa istilah pandangan dunia tidak terbatas hanya pada kepercayaan agama saja, namun  mempunyai pengertian yang lebih luas lagi, karena istilah itu juga digunakan pada pandangan ilhadiyyah (ateisme) dan madiyyah (materialisme), sebagaimana istilah ideologi itu tidak hanya digunakan untuk sistem hukum suatu agama.

Agama Samawi dan Dasar-dasarnya

Para ulama, ahli sejarah agama dan sosiologi berbeda pendapat mengenai kemunculan agama. Adapun sumber-sumber Islam menyatakan bahwa agama tauhid lahir seketika kelahiran manusia pertama. Manusia pertama yang lahir di muka bumi ini adalah nabi (Adam a.s.) dan penyeru ajaran tauhid (mengesakan Allah). Adapun  agama-agama musyrik  muncul lantaran penyimpangan, pemaksaan kehendak dan ambisi busuk, yang bersifat individu maupun kelompok.

Agama-agama tauhid adalah agama-agama samawi yang hakiki dengan tiga prinsip universal mereka, yaitu pertama: iman kepada Allah Yang Esa. Kedua, iman kepada kehidupan abadi setiap manusia di  akhirat kelak untuk menerima pembalasan amal yang pernah ia lakukan semasa hidupnya di dunia. Ketiga, iman kepada para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah untuk memberi hidayah dan bimbingan kepada seluruh umat manusia demi mencapai puncak kesempurnaan dan kebahagiaan dunia serta akhirat.

Pada dasarnya, tiga prinsip ini merupakan jawaban yang paling tegas atas persoalan-persoalan fundamental manusia yang berakal. Yaitu, siapakah pencipta alam semesta ini? Bagaimanakah akhir kehidupan ini? Dan apakah cara untuk mengetahui sistem kehidupan yang terbaik? Sistem kehidupan yang dibangun atas dasar wahyu pada hakikatnya adalah ideologi yang  bersumber dari pandangan dunia Ilahi.

Prinsip-prinsip akidah itu mempunyai berbagai konse-kuensi dan rincian yang semuanya membentuk sebuah sistem akidah agama. Adanya perbedaan di antara berbagai keya-kinan merupakan sebab munculnya berbagai agama dan madzhab.  Kita perhatikan bagaimana perbedaan tentang sta-tus kenabian sebagian nabi-nabi Ilahi dan tentang penentuan kitab yang orisinil dan utuh menjadi sebab utama perselisihan di antara agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Atau  perbedaan-perbedaan lainnya seputar masalah akidah dan ibadah, se-hingga sebagian dari agama itu sudah tidak sesuai lagi dengan ajarannya yang murni. Contohnya, keyakinan orang-orang Nasrani terhadap Trinitas yang jelas tidak sesuai dengan prin-sip Tauhid, walaupun mereka telah berusaha untuk menaf-sirkan dan menakwilnya sebegitu rupa agar dapat diterima.  Demikian pula perselisihan mengenai kepemimpinan dan pe-nentuan khalifah setelah wafatnya Rasul saw.; apakah pe-nentuan khalifah itu urusan Allah ataukah urusan manusia. Persoalan ini merupakan sebab utama terjadinya ikhtilaf an-tara mazhab Ahli Sunnah dan mazhab Syi’ah di dalam Islam.

Dengan demikian, Tauhid, Kenabian dan Ma’ad (Hari Kebangkitan) adalah  prinsip-prinsip akidah pada semua agama samawi.  Meski begitu, terdapat keyakinan-keyakinan yang merupakan turunan dari prinsip-prinsip tersebut. Misalnya, keyakinan terhadap keberadaan Allah adalah prinsip  pertama, keyakinan terhadap keesaan-Nya adalah prinsip kedua. Atau, keyakinan terhadap Kenabian meru-pakan sebuah prinsip semua agama samawi, sedangkan ke-yakinan terhadap kenabian Nabi Muhammad saw. adalah prinsip yang khas pada Islam. Sebagian ulama Syi’ah menjadikan Keadilan Tuhan –yang merupakan turunan dari prinsip Tauhid– sebagai prinsip akidah khas Syi’ah. Dan Imamah –sebagai perpanjangan dari Kenabian– adalah prinsip akidah khas Syi’ah lainnya. Sebenarnya, penggunaan kata prinsip (al-ashl) pada ajaran-ajaran akidah seperti ini me-ngikuti konvensi dan  tidak perlu lagi diperdebatkan.

Oleh karena itu,  kata ushuluddin  dapat digunakan dalam dua istilah; umum dan khusus.  Istilah umum ushuluddin mencakup akidah-akidah yang sahih; sebagai lawan dari  furu’uddin. Sedang istilah khusus ushuluddin berlaku hanya pada keyakinan-keyakinan yang paling  prinsipal. Istilah ushuluddin juga dapat digunakan secara mutlak (tidak hanya khusus bagi sebuah agama) pada sejumlah kesamaan prinsip akidah di antara agama-agama samawi seperti tiga prinsip di atas tadi, yaitu Tauhid, Kenabian dan Kebangkitan. Adapun jika ditambahkan prinsip-prinsip lainnya, istilah yang biasa digunakan adalah ushuluddin khusus. Demikian pula, jika ditambahkan akidah dan keyakinan yang khas pada mazhab tertentu, istilah yang digunakan adalah ushul madzhab.[www.wisdoms4all.com]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s