Pencipta Sang Pencipta?

Pertanyaan:

Salah satu dalil atau argumen yang digunakan untuk membuktian wujud Sang Pencipta adalah argumen keteraturan (argument from design atau burhân nazhm). Dan salah satu premis dari argumen tersebut adalah hukum kausalitas, hukum kesebaban dan keakibatan (‘illiyat dan ma’luliyat); artinya bahwa segala sesuatu yang wujud itu memiliki sebab. Oleh karena alam semesta ini maujud, maka ia harus memiliki sebab. Dan karena alam semesta ini memiliki sistem dan tatanan tipikal, maka yang menyebabkan keberadaannya dan penciptanya harus memiliki ilmu dan kekuasaan yang sangat tinggi. Konsekuensinya atau kesimpulannya adalah alam semesta ini memiliki pencipta yang berilmu dan memiliki kekuasaan yang dinamakan Allah.

Sehubungan dengan masalah ini terdapat sebuah pertanyaan yang menegaskan bahwa hukum kausalitas merupakan hukum yang bersifat universal dan mencakupi seluruh eksistensi. Jika demikian halnya -sesuai dengan hukum kausalitas tersebut- maka Tuhan semesta yang dinamakan “Allah” (Pencipta) itu juga harus memiliki sebab (pencipta) dan illat (creator). Sementara kita beranggapan bahwa Tuhan merupakan “illat al-‘ilal” (Sebab segala sebab) dan tidak ada yang menjadi sebab bagi keberadaan-Nya. Dalam keadaan ini, bagaimana kita dapat menjawab universalitas dan menjuntainya hukum kausalitas yang menyatakan bahwa segala sesuatu memiliki sebab?

Jawab:

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kami akan menyebutkan bahwa puak-puak Materialis dan Ilahi berada dalam satu barisan dalam menghadapi pertanyaan ini. Karena dalam pandangan orang-orang yang menyembah Tuhan, seluruh maujud (yang ada) semuanya kembali kepada Tuhan dan Dialah sebagai sumber keberadaan. Dan dalam persfektif puak-puak Materialis, seluruh bentuk keberadaan kembali kepada materi dan materilah yang menjadi sumber segala bentuk keberadaan.

Disebutkan bahwa apabila aturan ini sedemikian universal dan menjuntai, maka orang-orang yang menyembah Tuhan harus menentukan dan membuktikan pencipta Tuhan dan demikian juga kaum Materialis harus menentukan dan membuktikan pencipta materi.

Dan tidaklah fair apabila hanya orang-orang Ilahiyun (orang-orang yang menyembah Tuhan) yang harus membuktikan dan menentukan sumber keberadaan Tuhan. Orang-orang Materialis juga harus menentukan sumber keberadaan materi. Dan jawaban apa pun yang akan diberikan oleh puak-puak Materialis maka Ilahiyun juga akan memberikan jawaban yang sama.

Anehnya bagaimana soal common antara Materialis dan Ilahiyyun ini hanya ditujukan kepada orang-orang yang menyembah Tuhan saja dan orang-orang Materialis bebas dan lepas dari kewajiban untuk menjawab pertanyaan ini.

Matematikawan Inggris, Bertrand Russel, dimana politik yang mengantarkannya menjadi seorang filosof, dalam bukunya yang makruf, Mengapa Aku Bukan Seorang Kristian, disebutkan:

Aku beriman kepada Tuhan ketika aku berusia muda. Aku meyakininya melalui argumen kausalitas yang terbaik. Aku percaya bahwa seluruh eksistensi merupakan makhluk Tuhan, tetapi kemudian aku melihat apabila aku bertahan dengan keyakinan semacam ini, maka aku harus meninggalkan hukum kausalitas, karena sains berkata kepada kita bahwa “segala sesuatu memiliki sebab, lalu apabila aku beriman kepada Tuhan, aku harus mencari sebab dan illat untuknya, sementara Tuhan dalam kepercayaan ini merupakan maujud tanpa sebab. Maka untuk menjaga hukum kausalitas, aku cabut diri dari jajaran orang-orang yang menyembah Tuhan dan masuk dalam barisan Materialis.”

Menakjubkan! Bagaimana filosof ini lalai bahwa kekurangan hukum kausalitas ini (dengan asumsi benarnya) adalah common (sama) di antara kalangan Materialis dan Ilahi, karena sebagaimana “Tuhan” dalam maktab orang-orang yang menyembah Tuhan adalah maujud qadim dan tanpa sebab. Maka “materi” dalam maktab Materialis juga merupakan maujud qadim dan tanpa sebab. Kapan saja demi menjaga hukum kausalitas mencegah kita dari menyembah Tuhan, maka ia juga harus mencegah orang-orang Materialis dari menyembah materi dan bergabung dengan puak-puak Skeptis, bukannya dalam jejeran orang-orang Mulhid dan kaum yang mengingkari keberadaan Tuhan.

Bagaimana para filosof ini lalai dan alpa dari poin ini tidak jelas bagi kita. Kini kita alihkan untuk menjawab pertanyaan di atas.

Dalam pertanyaan ini terdapat sebuah fuzzy logic (mughâlatha) dan hal itu adalah menempatkan maujud sebagai fenomena dan keduanya merupakan hal yang sama dan sinonim. Penjelasannya di sini, kita memiliki dua matlab di sini. Satunya benar dan yang satu lagi adalah salah:

1.    Setiap fenomena memiliki sebab

2.    Setiap maujud memiliki sebab

Apa yang dijelaskan oleh hukum kausalitas kepada kita adalah sesuai dengan poin pertama. Dan makna yang sebenarnya adalah segala sesuatu yang sebelumyna tiada dan kemudian ada. Seperti anak Anda yang sebelumnya tiada dan kemudian ada, tentu saja memiliki sebab dan hukum ini merupakan hukum akal bukan hukum empiris dan sekali-kali tidak ada pengecualian di dalamnya.

Argumen rasional kaidah ini, menelaah pahaman atau komprehensi “mumkin” (kontingen) dimana ada dan tiadanya adalah ekuivalen dan setara. Dengan kata lain, boleh jadi pada berada pada suatu lingkaran dan kemudian tertarik kepada salah satu dari dua sisi lingkaran (ada dan tiada) niscaya memerlukan dalil dan sebab.

Sesuatu yang ada, tiadanya sebab adalah tiadanya fenomena baginya sudah mencukupi. Sementara wujud fenomena memerlukan adanya sebab yang mewujudkannya. Dan tidak satu pun eksponen Ilahiyun yang menegasikan dan menafikan hukum ini. Dan secara asasi, hukum inilah yang menjadi landasan dan fondasi argumen-argumen dan burhan-burhan monoteisme (tauhid).

Sementara poin kedua, adalah batil. Karena maujud apabila ia memerlukan sebab, ia memerlukan bagian dari fenomena dan maujud yang sama sekali bukan fenomena dan tidak memiliki latar belakang ketiadaan dan wujud semenjak azal, wujud semacam ini karena tidak perlu kepada sebab, ia tidak memiliki sebab dan tidak dapat memliki sebab.

Tuhan yang diintrodusir oleh orang-orang Ilahiyun sebagai mabda dan sumber segala keberadaan, merupakan maujud yang azali dan abadi dan tidak sedetik pun kosong dan sepi dari wujud dan setelah itu kumpulan wujud yang menutupinya (mengadakannya).

Dalam keadaan seperti ini, mencari dan menelusuri sebab untuk maujud semacam ini adalah bersumber dari kelalaian dan kealpaan terhadap realitas dan hakikat wujud-Nya.

Adapun di antara seluruh maujud, harus terdapat maujud yang bernama “Tuhan” berhadapan dengan realitas ini; artinya ia merupakan maujud azali dan abadi, dalilnya adalah kemustahilan dan kebatilan tasalsul yang telah terbukti bagi kita dimana rangkaian dan silsilah wujud harus berujung pada satu titik, dimana di dalamnya yang ada hanyalah kesebaban dan bukan keakibatan, ia adalah pemberi wujud dan bukan penerima wujud, ia harus mufidh (yang memberikan emanasi) bukan mustafhid (yang diemanasi); selain dari-Nya tidak mungkin alam kontingen dapat terwujud.

Realitas dan hakikat ilmiah ini telah disampaikan dalam sebuah penjelasan yang telah dibahas dalam filsafat di bawah sebuah kaidah yang menyebutkan:

Kullu mâ bi al-aradh labudda an yantahi ila mâ bi adz-dzat

(Segala yang aksiden harus berakhir kepada sebuah esensi)

Pertanyaan yang mengemukakan bahwa siapa yang menciptakan Sang Pencipta dan siapa pencipta-Nya adalah termasuk pertanyaan yang mengandung kontradiksi. Lantaran maksud dari Tuhan adalah maujud azali dan abadi yang senantiasa eksis dan ada dan sekali-kali tidak pernah tiada.

Secara definitif asumsi tema ini bahwa ia kaya dari sebab dan penciptaan senantiasa bersama-Nya.

Mereka yang bertanya setelah adanya asumsi ini bahwa siapakah pencipta Tuhan?

Terkadang untuk memahamkan matlab kepada orang-orang yang tidak ahli dan ekspert, mereka mengambil permisalan dan berkata: “Kemanisan segala sesuatu adalah kepada gula dan kream gula, tetapi kemanisan keduanya adalah bersumber darinya. Kecemerlangan segala sesuatu adalah kepada cahaya, tetapi cahaya secara esensial adalah terang dan cemerlang. Tetapi permisalan ini adalah untuk mendekatkan kepada pemahaman, dan dari berbagai sisi tidak sesuai dengan pembahasan di atas. Namun lantaran berada pada arsy transformasi pemahaman, maka tidak ada alternatif lain kecuali mengambil bantuan dari misal-misal tersebut.

Dengan demikian, setelah mengemukakan contoh dan misal di atas dalam menjawab soal di atas bahwa seluruh maujud bersumber dari Tuhan, lalu keberadaan Tuhan darimana? Harus dikatakan: Keberadaan Tuhan adalah bersumber dari-Nya dan bersumber dari wujud-Nya sendiri.[http://www.wisdoms4all.com]

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s