Akal dan Agama

rr.jpgAkal dan agama -yang merupakan dua anugrah Tuhan yang di berikan kepada manusia- ibarat dua sayap yang dengannya manusia bisa naik ke derajat yang sangat tinggi. Keduanya saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan. Ketika manusia hanya berpegang kepada salah satunya dan menyepelekan yang lain, dia akan terjerumus kepada kehancuran yang sulit diobati. Orang yang hanya berpegang kepada akal dengan meninggalkan agama, ia akan kehilangan jati dirinya dan akan hidup dalam kekeringan jiwa. Selain itu, ia juga akan mengalami kegelisahan jiwa karena banyak hal yang selalu muncul dalam jiwanya tentang arti dari kehidupan dimana ia tidak menemukan jawabannya. Seperti yang dialami oleh kebanyakan orang di abad sekarang ini, sehingga sebagian ilmuan barat seperti Franklin L. Baumer menyebut abad ini sebagai abad kegelisahan (Age of Anxiety). Di sisi lain ketika seseorang hanya berpegang kepada agama tanpa menggunakan akalnya, ia akan terjerumus kepada jurang kejumudan, penyimpangan-penyimpangan dan fanatisme buta.  Oleh karena itu, keduanya harus dipadukan dengan menjadikan akal sebagai alat untuk memilih, mebuktikan dan membela agama.

Definisi Akal

Akal dalam bahasa diartikan; al-habsu (penahan), al-man’u (penghalang) atau al-imsak (pencegah).  Ketika di terapkan pada manusia, ia berarti pengontrol hawa nafsu. Orang yang menjaga lisannya di sebut  aqala  lisanahu. Akal juga terkadang diartikan at-tadabbur, husnul-fahmi, atau al-idrâk. Maka akal menurut bahasa adalah pengontrol hawa nafsu sehingga manusia  bisa membedakan yang hak dan yang batil dan bisa sampai kepada pemahaman yang benar

Akal dalam istilah Filsafat, memiliki dua sudut pandang, pertama dari sudut pandang ontologi, yaitu salah satu dari tingkatan wujud (alam uqul / aql jauhari), merupakan alam yang berada antara alam ilahi dengan alam mitsâli menutut pandangan isyrâqi (Iluminasionis) dan hikmah muta’aliyah (Theosopi Trasendental), atau alam yang berada di antara alam ilahi dengan alam materi menurut madzhab Peripatetik (Masysya’i ,karena mereka tidak meyakini keberadaan alam mitsâli).  Dan kedua dari sudut pandang Epistemologi, dibagi menjadi dua bagian :

Pertama : al-aql an-nadzari (akal teoritis) sebagai lawan dari al-aql al-‘amali, yaitu salah satu kekuatan yang ada dalam nafs. Yang memiliki kekuatan menalar wujud dan fenomena yang berhubungan dengan perbuatan manusia. Aql nadzari memiliki empat tingkatan : aql hayula (hyle), aql bil-malak, aql bil-fi’il dan aql al-mustafad. Aql nadzari memiliki kemampuan berargumentasi, beristinbath (inferensi), mendefinisan sesuatu serta mengindra hal-hal yang kulli (universal) baik berupa tashawwur (gambaran) ataupun tashdiq (penegasan). Selain itu juga ia berperan  mencocokkan konsep dengan mishdaq-nya, menerapkan mayor terhadap yang minor, membagi dan menganalisa.

Kedua : Al-aql Al-‘amali adalah kekuatan dalam nafs manusia yang berperan menalar hal-hal yang wajib dilakukan serta fenomena-fenomena yang bersangkutan dengan perbuatan manusia.

 Para teolog mendefinisikan akal sebagai masyhurât; proposisi yang diterima oleh semua atau kebanyakan manusia atau proposisi-proposisi yang lazim diterima. Terkadang yang dimaksud dengan akal adalah otak yang berfungsi mengatur anggota badan untuk sampai kepada satu tujuan.

Yang menjadi pembahasan dalam hubungan akal dan agama, adalah akal dalam pengertian sebuah kekuatan berargumentasi (aql nadzari/akal teoritis)

Definisi Agama

Telah banyak perdebatan mengenai definisi agama yang terjadi di kalangan ulama baik muslim atau non-muslim. Bahkan sebagian berpendapat, kita sulit mendapatkan definisi yang bersifat jami’ wa mani’. Akan tetapi kita bisa mengambil benang-merah dari beberapa definisi yang disampaikan oleh para ilmuan.

Agama adalah serangkain aturan yang diturunkan oleh Tuhan lewat para nabi berupa wahyu yang bertujuan memberi hidayah kepada manusia. Kandungan agama ada yang bersifat ikhbâri (deskriptif) yaitu kabar tentang hakikat luar, ada atau tidak adanya, yang lain bersifat insyâ’i (imperatif) yaitu hakikat yang bersifat perintah atau larangan.

Sejarah Perjalanan Hubungan Akal dan Agama

A. Akal dan Agama di Dunia Barat

Di kalangan filosof barat terjadi pergolakan seru bersangkutan dengan hubungan antara akal dan agama. Kalangan filosof di abad pertengahan (medieval) berkeyakinan bahwa akal sebagai makhluk Tuhan selalu berjalan sejalan dengan agama. Tidak ada pertentangan antara akal dan agama.

Sebagian filosof masehi berkeyakinan bahwa wahyu ( agama ) telah memenuhi semua kebutuhan pengetahuan manusia, baik pengetahuan yang bersifat experimental, moral ataupun supra-natural. Berdasarkan pendapat ini akal dan filsafat sama sekali tidak memiliki tempat. Ketika Tuhan semuanya sudah memenuhi kebutuhan ini maka berfikir menjadi sesuatu yang sia-sia dan tidak berguna.

Kelompok lain yang disponsori oleh Agustine dan Anselm, berkeyakinan bahwa untuk sampai kepada hakikat, tidak dimulai dari keyakinan akal kemudian iman, akan tetapi sebaliknya; langkah pertama adalah iman, dari wahyu dulu kemudian ke akal.

Para ilmuan abad pertengahan dengan mengikuti pendapat Plato membagi akal menjadi dua; akal partikular atau akal eksak dan akal universal. Adapun akal eksak dan pandang dunia matematis yang kemudian menjadi  trend di kalangan para ilmuan abad selanjutnya seperti Galileo, Newton dan Descartes.

Menurut pendapat mereka, akal memiliki kekuasaan mutlak dan di luar dari batasan wahyu. Sehingga berakibat larinya mereka dari agama Ilahi menuju agama natural dan menganut aliran Deisme. Akan tetapi kita menyaksikan adanya perkembangan di kalangan ilmuan dan menjadi tiga kelompok; kelompok pertama menerima keduanya (agama Ilahi dan agama natural ) dan berkeyakinan bahwa lewat wahyu dan aturan alami bisa menyampaikan manusia kepada Tuhan. Kelompok kedua, para pengikut agama natural yang cenderung bersikap apresiatif terhadap agama. Kelompok terakhir, terdiri dari ilmuan yang bersikap apresiatif terhadap keduanya, dan hanya mengakui kemampuan akal dalam menyelesaikan masalah ilmu pengetahuan dan agama.

Terjadi perbedaan menonjol antara kalangan filosof Rasionalisme abad 16-17 dengan para filosof Rasionalism abad 18-19. Para filosof Rasionalism abad 16-17  sebagai lawan dari kaum Empiris, sangat membela ajaran-ajaran Kristen. Seperti Descartes yang berpendapat bahwa mafhum (konsep) Tuhan tergolong kepada mafâhim fitri, atau Leibniz dan Malberns yang membuktikan wujud Tuhan dengan argumentasi-argumentasi akal. Sementara para filosof Rasionalism abad 18-19 meyakini bahwa keimanan akan keberadaan Tuhan tidak bisa dibuktikan lewat argumentasi-argumnetasi akal, melainkan lewat seliannya seperti lewat Psikologi, Sosiologi, Fideisme, pengalaman keagamaan (religious experience) dll. Seperti David Hume – filosof Inggris abad 18- dengan menolak hukum kausalitas beranggapan bahhwa pembelaan terhadap Kristen tidak mungkin bisa lewat argumentasi akal. Atau Kant serta para filosof Jerman seperti Kierkegaard, Hegel dan Husserl sehingga muncul faham-faham seperti Phenomenologi, Eksistensialism, Positivism Logic serta Language Analitic.

B.   Akal dan Agama di Dunia Islam

Islam adalah agama yang sangat menganjurkan umatnya untuk selalu berfikir dan menggunakan akalnya. Akal -sebagai mahkluk yang paling dicintai Tuhan dan merupakan hujjah dan rasul batin manusia- memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam. Terdapat kelompok yang anti akal. Kelompok lainnya sangat memuja akal sehingga mereka lebih mengedepankan akal dari pada wahyu. Kelompok ketiga adalah kelompok tengah yang memadukan keduanya; baik di kalangan fuqaha, mutakallimin (teolog) ataupun kalangan filosof.

Kaum agamawan pada masa hidup nabi-nabi mereka -khususnya nabi Islam-tidak begitu banyak memperhatikan masalah akal, karena semua masalah keagamaan bisa langsung ditanyakan kepada para nabi. Berbeda halnya pada masa setelah wafat beliau.  Sebagian kaum agamawan ada juga yang menentang adanya campur tangan akal dan argumentasi akal dalam agama dan memperingatkan masyarakat agar tidak mempelajari Logika, Filsafat atau Ilmu Kalam. Ibnu Taimiyah menganggap bahwa dengan menghindar dari akal dan argumentasi akal, akan mendekatkan manusia kepada kebenaran.

Di kalangan teolog Islam pun mengalami perbedaan pendapat ketika berbicara masalah keadilan Tuhan, kebaikan dan keburukan aqli

Perbedaan ini pun kita bisa saksikan terjadi di kalangan filosof. Seperti Al-Kindi berkeyakinan, jika filsafat adalah ilmu tentang hakikat sesuatu, maka pengingkaran terhadap filsafat berarti pengingkaran terhadap kenyataan/hakikat yang pada akhirnya bisa terjerumus kepada kekufuran.  Ia beranggapan bahwa antara agama dan filsafat adalah satu, ketika terjadi ta’arudl (kontradiksi) antara Filsafat dengan teks-teks agama, maka jalan keluarnya adalah lewat takwil ayat. Pendapat ini pun di ikuti oleh para filosof selanjutnya seperti Al-Farabi. Kecendrungan filosofis pun terus berlanjut, sehingga Al-Ghazali pun merasa terusik dan terpanggil untuk menyusun buku “ Tahafut Al-falasifah “, akan tetapi mendapat perlawanan dari Ibnu Rusyd dengan menulis tandingannya “ Tahafut at-tahafut”  sebagai jawaban dari buku Ghazali.

Pada masa-masa selanjutnya kita bisa menyaksikan para filosof yang tercerahkan mereka berhasil   membela ajaran wahyu lewat  argumentasi-argumentasi filosofis. Berhasil menciptakan tatanan filsafat yang pondasinya bersumber dari teks-teks agama.

Beberapa Faham Tentang Hubungan Akal dan Agama

Ada empat kelompok dalam menyikapi hubungan antara akal dan agama ;

Pertama, kelompok  Radical Rationalism. Menurut faham ini, seluruh doktrin-doktrin agama tanpa terkecuali bisa dibuktikan oleh akal. Dan syarat dari keimanan adalah dengan pembuktian ini. Akan tetapi faham ini memiliki dua kelemahan; banyak dari manusia yang tidak memiliki kemampuan untuk membuktikan semua doktrin yang ada dalam agama, terus bagaimana nasib orang-orang seperti ini? Kelemahan lain dari faham ini, mereka lupa bahwa ada hal-hal dalam agama yang sama sekali akal tidak sampai kesana (bukan bertentangan dengan akal). Mungkin bebebapa hal dalam agama seperti pembuktian pokok-pokok dari agama (tauhid, ma’ad, kenabian, dll) akal bisa membuktikannya,  akan tetapi masalah-masalah partikular (juz’i) akal tidak sampai kepadanya.

Kedua,  kelompok Fideism. Faham ini meyakini bahwa semua doktrin agama tidak membutuhkan kepada pembuktian dan analisa akal, keimanan bisa muncul tanpa perlu argumentasi dan penelitian akal. Satu agama bisa diterima tidak perlu kepada standart apapun. pendapat ini tidak bisa diterima karena pada masalah pokok-pokok agama (ushuluddin) tidak mungkin bisa diyakini tanpa terlebih dahulu ada pembuktian akal.

Ketiga, kelompok Critical Rationalism.  Dengan tidak menerima dua kelompok di atas, faham ini selain meyakini bahwa kemungkinan melakukan kritik dan penelitian terhadap agama juga menganggap bahwa tidak satupun dari ajaran agama yang kebenarannya definitif (qath’i) dan mutlak. Faham ini jelas tidak bisa diterima, dengan alasan bahwa sebagian dari doktrin-doktrin agama sesuai dengan hukum pertama akal, dan sudah dibuktikan oleh akal.

Keempat, kelompok Rasionalisme yang seimbang (Moderat Rationalism). Doktrin agama dibagi menjadi tiga kelompok; pertama ada yang sejalan dengan akal (dapat diterima oleh akal) seperti ushuluddin, konsep-konsep umum moral dan lain-lain. kedua ajaran agama yang di luar (bukan bertentangan ) dari jangkauan akal sepeti jumlah rakaat dalam shalat,  ketiga doktrin agama yang bertentangan dengan hukum akal seperti trinitas dalam Kristen, hal-hal ini tidak hanya bertentangan dengan akal bahkan dapat digugurkan oleh akal.

Sesuai dengan faham ini, sebagian dari pokok agama menjadi objek penelitian,  setelah memahami dengan betul, kita mencari premis-premis argument dengan bersandar kepada badihiyyât (hal-hal yang gamblang, aksioma) dalam rangka membuktikan masalah tersebut.

Setelah kita melihat kelemahan-kelemahan yang ada pada faham pertama, kedua dan ketiga, maka yang bisa kita terima adalah pendapat yang terakhir. [www.wisdoms4all.com]

About these ads

2 comments on “Akal dan Agama

  1. wedew…

    ternyata kaum muslim itu selalu membanggakan akal mereka yang masuk akal/logika seakan mengenal betul siapa Tuhan mereka 100%…

    lalu yang menjadi pertanyaan?
    dimanakah iman kalian ketika kalian menjunjung tinggi akal dan logika?

    dapatkah iman dan akal bersatu?tentu TIDAK!!!!

    oke, kalau bicara soal akal nya kaum muslim yang hebat itu…

    ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan :

    1.) Anda melihat nabi Anda menerima Al – Quran di Gua Hira? Anda di situ?di situ aja Anda tidak ada.
    kan bisa aja nabi Anda ngaku2 di datengi malaikat JIBRIL…
    JAWAB dgn akal Anda….!!!!!!
    saya tidak maw Anda menjawab “Saya Percaya MUHAMMAD MENERIMA AL-QURAN dari MALAIKAT JIBRIL KARENA ITU SUATU KEHARUSAN DALAM AGAMA SAYA UNTUK PERCAYA AKAN HAL ITU!!!”
    ckckcck kalau Anda jawab kyk gt bukan pake AKAL TAPI PAKE IMAN…!!!!

    2.) kaum MUSLIMIN YANG AKALNYA HEBAT dan bisa mempersatukan IMAN ANDA dgn LOGIKA, saya maw bertanya :

    a) Anda Percaya ALLAH SWT?
    b) Anda Percaya bahwa ALLAH SWT itu berfirman dan firman-Nya itu hidup, sebab percumalah bila firman-Nya mati? atau gampangnya PERCAYAKAH Anda kepada Firman ALLAH SWT?
    c) Anda Percaya bahwa ALLAH SWT itu sebagai zat yang MAHA KUDUS tiada duanya?

  2. Dua konsep rasionalisme yang berbeda

    Ilmu logika adalah ilmu untuk mencari bentuk kebenaran berdasar kepada tata cara berfikir sistematis-matematis yang murni yaitu tata cara berfikir yang tidak bergantung pada tangkapan langsung dunia panca indera.akal adalah alat berfikir sistematis – matematis yang dimiliki oleh manusia,sebab itu ada hubungan paralel antara akal dan ilmu logika artinya ilmu logika tidak akan pernah ada kalau manusia tidak memiliki akal.Tuhan menyuruh manusia menggunakan akal nya secara maksimal sehingga bila agama ditela’ah dengan logika murni maka kebenarannya akan terungkap secara konstruktif ( bisa di telusuri oleh cara berfikir yang tertata ).
    Tetapi dalam wacana filsafat – sains kini istilah ‘akal’,’logika’ dan ‘rasional’ selalu dikaitkan secara langsung dengan fakta – bukti empirik yang tertangkap mata sehingga yang ‘rasional’ makna pengertiannya bukan lagi tatacara berfikir yang murni sistematis tapi malah menjadi ‘yang mata telanjang bisa menangkapnya secara langsung’ (ini adalah penyelewengan terhadap konsep ilmu logika),sehingga yang tidak memiliki bukti empirik yang langsung tertangkap mata sering dikategorikan sebagai ‘irrasional’,sebagai contoh : konsep sorga dan neraka sering didefinisikan sebagai ‘irrasional’ hanya karena tidak bisa dibuktikan oleh bukti empirik yang tertangkap mata secara langsung.dan istilah ‘akal’ sering dipertentangkan dengan agama karena agama mendeskripsikan hal hal yang abstrak yang dianggap ‘tidak masuk akal’
    Dan ini (pandangan yang datang dari dunia filsafat-sains itu) adalah penyimpangan terhadap konsep ilmu logika,sebab konsep ilmu logika adalah tatacara berfikir sistematis yang murni tidak bergantung sepenuhnya pada tangkapan dunia indera secara langsung. sebagai contoh : konsep sorga dan neraka adalah konsep yang rasional sebab keduanya bisa dihubungkan secara sistematis – mekanistis dengan keberadaan adanya kebaikan dan kejahatan didunia.dan coba kita pakai perbandingan terbalik : bila sorga dan neraka itu tidak ada maka si baik dan si jahat hidupnya hanya akan berakhir dikuburan,dan bila demikian yang terjadi maka kehidupan akan menjadi GANJIL dalam arti tidak rasional atau tidak sistematis.contoh lain : atheis sering memproklamirkan ideologinya berdasar prinsip ‘rasional’,padahal bila kita analisis : berpandangan atheistik sama dengan beranggapan bahwa segala keteraturan itu berasal dari ‘kebetulan’ padahal menurut logika akal segala keberaturan yang tertata secara sistematis itu hanya bisa berasal dari desainer dan mustahil datang dari kebetulan.sebab kebetulan mustahil melahirkan keteraturan (coba saja seluruh saintis diseluruh dunia melakukan eksperimen : apakah dari kebetulan bisa melahirkan keteraturan (?).
    Agama berisi konsep rasional bila manusia tidak melekatkan olah fikir akalnya selalu secara langung dengan bukti dunia inderawi,atau tidak mengebiri akalnya dengan keterbatasan dunia indera nya.sebab indera adalah hamba atau pembantu akal dan bukan sebaliknya.tapi filosof – saintis atheistik materialistik menjadikan dunia indera dan ‘bukti empirik’ sebagai ‘raja’ dan ‘ukuran kebenaran’ sehingga yang tidak terbukti secara empirik sering ditolak sebagai kebenaran.
    Jadi ada dua versi konsep ‘rasional’ : versi Tuhan/agama yang mendefinisikan pengertian ‘rasional’ sebagai sesuatu yang bisa difahami oleh tatacara berfikir yang murni sistematis tanpa ketergantungan mutlak kepada tangkapan dunia indera secara langsung,dan kedua : versi filsafat materialistik (kacamata sudut pandang filsafat yang bersandar pada prinsip bahwa yang ‘ada’/realitas adalah segala suatu yang tertangkap mata) yang mendefinisikan istilah ‘rasional’ sebagai kebenaran versi akal yang selalu terikat secara mutlak pada bukti empirik-pada bukti yang tertangkap mata.sehingga cara berfikir filsafat materialistik sebenarnya tidak murni lagi sistematis tapi menghamba kepada dunia indera (akal diletakkan dibawah indera).tapi anehnya mereka suka menyebut diri sebagai ‘kaum rasionalist’ sedangkan para agamawan sering distigmakan sebagai kaum yang ‘irrasional’,padahal agama selalu menuntut cara berfikir logika murni yang tidak mutlak bergantung atau menghamba kepada tangkapan mata yang langsung sebab derajat akal lebih tinggi ketimbang dunia inderawi.
    Jadi agama di stigmakan sebagai ‘irrasional’ karena filosof-saintis materialistik melihat dan mengkajinya dengan menggunakan kacamata rasionalisme versi kaum materialist yaitu rasionalisme yang dibingkai oleh keharusan bukti yang tertangkap mata atau keharusan bukti empirik artinya bukan rasionalisme yang murni orientasi kepada tatacara berfikir sistematik sebagaimana yang dimaksud oleh kitab suci.
    Kesimpulannya : kita harus bisa membedakan secara signifikan definisi pengertian ‘rasional’ versi agama dengan ‘rasional’ versi sudut pandang materialist (yang lahir melalui wacana filsafat – sains) sebab itu adalah dua kubu pandangan yang amat jauh berbeda yang menghasilkan konsep kebenaran (rasional) yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s