Arti Kehidupan

meaning-of-life.jpgSalah satu masalah fundamental yang perlu dikaji dan dihayati dalam kehidupan ini adalah mencari arti dan tujuan dari hidup dan kehidupan. Manusia acapkali mengajukan pertanyaan untuk apa ia hidup dan apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup itu. Dari sudut pandang Islam, seseorang juga akan bertanya, di samping pertanyaan di atas, “Apa yang menjadi tujuan dan sasaran diutusnya para nabi?”

Namun, tujuan dan misi para nabi tentu saja tidak sama dengan tujuan setiap individu dalam masyarakat; karena, para nabi diutus untuk memandu dan membimbing manusia kepada beberapa tujuan yang sangat urgen dan mendasar. Selangkah lebih jauh, kita juga dapat menyodorkan pertanyaan: “Apa tujuan penciptaan manusia dan makhluk-makhluk lainnya?”

Masalah ini memerlukan sebuah analisa yang tepat dan akurat. Hal ini boleh jadi bertalian dengan “tujuan Sang Pencipta dalam penciptaan, manifestasi kehendak dan tujuan-Nya”.

Sementara itu kita tidak dapat beranggapan bahwa Tuhan memiliki tujuan, dan yakin bahwa Dia berhasrat untuk meraih dan mendapatkan sesuatu di balik perbuatan-Nya itu. Anggapan semacam ini bermakna adanya kekurangan dan cela pada pelaku dari sebuah perbuatan, yang hanya benar kalau dinisbahkan pada makhluk yang memiliki  potensi, tapi tidak bagi Sang Pencipta; lantaran hal itu akan bermakna bahwa Dia bermaksud bergerak menuju kesempurnaan dan mendapatkan sesuatu yang Dia tidak miliki.

Namun terkadang, tujuan penciptaan artinya tujuan dari perbuatan penciptaan, bukan Sang Pencipta. Hal ini berkaitan dengan gerakan yang dicipta menuju kesempurnaan, bukan kesempurnaan dari Sang Pencipta itu sendiri. Dalam artian ini, apabila kita berpikir tabiat penciptaan senantiasa bergerak ke arah kesempurnaan, maka terdapat sebuah motif dan tujuan dalam penciptaan.

Hal ini yang sebenarnya menjadi permasalahan, yaitu, setiap sesuatu yang diciptakan memiliki tingkatan kemandirian dalam mencapai kesempurnaan yang dituju; dan setiap kondisi terdapat tingkatan-tingkatan kecacatan atau kesempurnaan hingga batasan maksimum tercapai. Persoalan “motif dalam penciptaan manusia” adalah secara mendasar berkenaan dengan ‘tabiat manusia.” Hal ini berkaitan dengan bakat apa pun yang inheren dalam dirinya, dan kesempurnaan individual apa pun menjadi mungkin baginya. Sekali kesempurnaan dapat dicapai oleh seseorang, kita dapat berkata bahwa ia diciptakan untuk hal tersebut.

Nampaknya kita tidak perlu mengelaborasi tujuan dan motif penciptaan manusia dalam sebuah topik yang berbeda. Akan memadai bagi kita melihat jenis makhluk apakah manusia itu, dan kemampuan apa saja yang inheren dalam dirinya. Dengan kata lain, lantaran pembahasan kita berkaitan dengan perspektif Islam tentang tujuan penciptaan, bukan sesuatu yang bersifat filosofis, kita harus melihat bagaimana Islam memandang manusia dan kemampuan yang dimilikinya.

Secara natural, misi para nabi, juga diyakini secara aklamasi, untuk memfasilitasi kesempurnaan manusia dan membantunya untuk menghilangkan segala cela, aib dan cacat yang ada, secara individual dan sosial.  Hanya dengan bantuan wahyu yang dapat memajukannya dalam mencapai kesempurnaan.

Dengan demikian, setiap orang harus melihat apa yang dapat ia capai setelah mengidentifikasi potensi yang ia miliki, kemudian mengaktualkan potensi tersebut. Demikianlah tujuan hidup kita.

Sejauh ini, subyek permasalahan dikemas secara umum. Kini, kita harus membahasnya secara detail: Apakah al-Qur’an telah membahas tujuan manusia, dan apakah ia membeberkan alasan atas penciptaannya sekaligus misi diutusnya para nabi.

Acapkali kita berkata bahwa manusia diciptakan untuk mencari kebahagiaan dan Tuhan tidak menghendaki, juga tidak meraih keuntungan dalam penciptaan manusia. Sejatinya, manusia ditakdirkan untuk memilih jalannya secara bebas, petunjuk yang Tuhan berikan merupakan masalah tugas dan keyakinan, bukan bersifat wajib dan instingtif.

Oleh karena itu, lantaran ia bebas, ia dapat memilih jalan yang benar. Senada dengan apa yang disinggung dalam al-Qur’an, “Kami telah menunjukkan jalan kepada manusia, ada yang syukur dan ada juga yang kufur.” (Qs. al-Insan [76]:3) Namun apakah kebahagiaan itu menurut al-Qur’an? Terkadang dikatakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan diutusnya para nabi adalah untuk membuat manusia kuat dalam ilmu dan resolusi, sehingga ia dapat belajar lagi dan lagi, dan memiliki kekuatan untuk melakukan apa yang ia senangi.

Lalu, tujuan penciptaan sebuah biji adalah untuk menyadari potensi  yang ia miliki untuk ia aktualkan menjadi sebuah pohon yang matang. Demikian juga, pertumbuhan tulang seekor  anak domba menjadi domba memanifestasikan sebuah tujuan penciptaan (berguna untuk manusia). Potensi yang terdapat pada manusia adalah lebih superior, ia dimaksudkan untuk menjadi makhluk yang berilmu dan berkemampuan.

Semakin ia tahu, semakin ia dapat menggunakan pengetahuannya dan semakin dekat ia kepada tujuan dan motif kemanusiaannya.

Terkadang dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan sepanjang hayatnya, ia harus hidup dengan senang dan bahagia menikmati anugerah penciptaan dan semesta. Tidak terlalu banyak memikul derita dan nestapa baik dari sebab-sebab alam maupun dari sebab-sebab sesama makhluk. Hal ini dipandang sebagai kebahagiaan. Artinya, mencapai kesenangan maksimal dan penderitaan minimal.

Juga dikatakan bahwa para nabi diutus untuk membuat hal tersebut menjadi mungkin bagi manusia untuk mengamankan kesenangan maksimal dan meminimalkan penderitaan. Jika para nabi telah memperkenalkan dunia selanjutnya pasca kehidupan dunia ini, hal itu dimaksudkan sebagai kelanjutan dari kehidupan dunia ini. Dengan kata lain, lantaran sebuah jalan telah ditunjukkan bagi kebahagiaan manusia maka bagi orang-orang yang mengikuti dan meniti jalan tersebut disediakan ganjaran pahala, dan bagi mereka yang menyimpang dan menentang disediakan hukuman yang setimpal.

Ganjaran dan hukuman ini dihadirkan di dunia ini, sehingga hukum yang terdapat di dunia ini tidak menjadi sia-sia dan tiada guna.

Terlebih, karena para nabi tidak berada pada posisi eksekutif di dunia ini yang dapat memberikan ganjaran atau menghajar dengan hukuman, dunia yang lain telah ditawarkan dimana pelaku kebaikan akan diganjari dan pelaku keburukan akan dihajar dan dihukum.

  Namun kita menjumpai satu statmen dalam al-Qur’an, dimana tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (Qs. adz-Dzariyat [51]:56) Hal ini tampaknya sukar untuk dimengerti. Lantas apa gunanya berbibadah kepada Tuhan? Hal itu tidak memberikan manfaat bagi-Nya? Apa gunanya bagi manusia? Namun perkara ini telah disebutkan secara eksplisit dalam al-Qur’an bahwa ibadah merupakan tujuan penciptaan.

Berseberangan dengan pandangan bahwa kehidupan selanjutnya merupakan cabang dari kehidupan dunia ini, al-Qur’an menegaskan: “Apabila tidak ada hari kebangkitan, penciptaan akan sia-sia.” Dan lagi disebutkan bahwa: “Apakah kalian mengira Kami telah menciptakanmu dalam keadaan sia-sia?” (Qs. al-Mu’minun [23]:115) Hal ini merupakan sugesti bagi sesuatu yang dikerjakan secara bijaksana.

Dikatakan bahwa penciptaan adalah tak bermakna, dan manusia tidak akan kembali kepada Tuhan? Dalam ayat-ayat al-Qur’an pertanyaan ihwal Hari Kebangkitan diulang berapa kali, pada ayat yang berkaitan dengan kebenaran penciptaan. Penalarannya berdasarkan pada implikasi bahwa dunia ini memiliki Tuhan, dan Dia tidak melakukan sesuatu yang sia-sia, dan seluruhnya adalah benar dan tidak untuk bermain-main, dan seluruhnya akan kembali kepada-Nya.

Kita tidak pernah menjumpai gagasan ini dalam al-Qur’an bahwa manusia diciptakan untuk mengetahui lebih banyak dan berbuat lebih banyak untuk mencapai tujuannya. Ia diciptakan untuk beribadah, dan ibadah kepada Tuhan merupakan tujuan itu sendiri. Apabila tidak ada pertanyaan ihwal mengetahui (mengenal) Tuhan yang merupakan pendahuluan ibadah, maka manusia telah gagal dalam langkahnya menuju kepada tujuan penciptaan, dan dari sudut pandang al-Qur’an ia tidak mendapatkan kebahagiaan.

Para nabi, juga diutus untuk membimbingnya kepada kebahagiaan yaitu ibadah kepada Tuhan.

Lalu tujuan dan cita yang ditawarkan oleh Islam adalah Tuhan, dan segala sesuatu yang lain adalah persiapan bagi terwujudnya tujuan dan cita ini, persiapan tersebut bukan sesuatu yang mandiri dan sangat asasi. Dalam ayat-ayat dimana al-Qur’an menyebutkan insan kamil, atau bercerita tentang mereka, disebutkan bahwa insan kamil telah secara benar memahami tujuan penciptaan dan berupaya untuk mencapai tujuan ini. Disebutkan tentang Ibrahim,  “Aku telah baktikan ibadahku kepada-Nya Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan aku bukanlah orang yang menyekutukan Tuhan.” (Qs. al-An’am [6]:80) Dalam surah ini juga disebutkan: “Shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah semata untuk Tuhan, Tuhan sekalian alam.” (Qs. al-An’am [6]:163)

Monotheisme dan tauhid yang disebutkan al-Qur’an tidak hanya bersifat intelektual saja, memikirkan bahwa asal usul semesta adalah satu hal dan Penciptanya hal yang lain.

Monotheisme dan tauhid menyangkut iman dan keyakinan manusia bahwa hanya satu Pencipta, dan tujuannya, yang satu-satunya bernilai baginya adalah Dia sendiri. Seluruh tujuan lainnya merupakan hasil dari tujuan ini dan cabang darinya.

Dengan demikian, dalam Islam poros yang segala sesuatu berputar padanya adalah Tuhan termasuk tujuan diutusnya para nabi dan tujuan hidup masing-masing individu.

Kini mari kita kaji masalah ibadah. Dalam ayat kedua, ucapan Ibrahim menunjukkan bakti tulus dan ia tunjukkan dirinya secara totalitas sebagai hamba yang berbakti kepada Tuhan yang tidak diatur oleh pikiran apa pun selain Tuhan.

Berkenaan dengan alasan diutusnya para nabi, al-Qur’an menyuguhkan berberapa penjelasan. Dalam surah al-Ahzab, ayat 33, 45 dan 46 disebutkan, “Wahai Nabi, Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, mengajak kepada Tuhan ….” Dengan demikian seorang nabi merupakan seorang saksi atas perbuatan manusia; seorang pemberi berita gembira atas perbuatan baik yang dianjurkan oleh para nabi; seorang pemberi peringatan atas kejahatan dan kemungkaran yang dilakukan, serta seorang manusia yang mengajak umat manusia kepada Tuhan, yang merupakan tujuan utama.

Yang lain misi seorang nabi disebutkan sebagai sebuah tugas untuk membawa manusia dari kegelapan kepada cahaya. Jadi, adalah jelas bahwa orang-orang diseru untuk mengenal Tuhan. Para nabi merupakan penghubung antara makhluk dan Sang Khalik.

Dalam ayat yang lain disebutkan poin lain sebagai tujuan para nabi: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan..” (Qs. al-Hadid [57]:25) Dalam ayat ini, yang dimaksud dengan neraca barangkali adalah hukum, sehingga dengannya keadilan akan tersebar.

Dengan demikian, para nabi datang untuk menegakkan keadilan, dan hal ini merupakan aspek yang lain dari tujuan mereka.

Keadilan tidak dapat ditawarkan orang-orang seperti Ibnu Sina dan lainnya, yang benar-benar dapat ditegakkan di kalangan masyarakat tanpa adanya persamaan hukum, yang dengan dua alasan tidak dapat dipikirkan oleh manusia. Pertama, manusia tidak dapat membedakan kebenaran secara lengkap atau membebaskan dirinya dari bias-bias personal. Kedua, tidak ada jaminan pelaksanaannya, lantaran, tabiat manusia membuatnya lebih melakukan preferensi kepada dirinya atas orang lain. Oleh karena itu, ketika hukum menguntungkan dirinya, ia menerimanya dan ketika bertentangan dengan kepentingannya, ia menolaknya.

Hukum harus sebuah model yang membuat manusia tunduk di hadapannya, dan hukum semacam ini harus datang dari Tuhan untuk membujuk ketaatan manusia dalam kesadarannya yang dalam. Hukum adil ini berasal dari Tuhan, dan untuk memiliki jaminan atas pelaksanaannya, ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman harus dibuatkan, dan untuk membuat orang-orang memiliki iman atasnya, mereka harus mengetahui Tuhan itu sendiri. Dengan demkian, mengenal Tuhan adalah, untuk beberapa alasan, sebuah pra-syarat bagi terlaksananya keadilan.

Bahkan ibadah diadakan untuk mencegah manusia untuk tidak melupakan Sang Pembuat Hukum dan senantiasa mengingat-Nya  sebagai sosok Pengamat, dengan alasan ini, menyeru manusia kepada Tuhan merupakan tujuan lain, selain itu tidak akan ada motif untuk mengenal-Nya.

Dengan jalan ini, kita memiliki tiga jenis logika. Pertama, tujuan dan misi para nabi adalah menegakkan keadilan di kalangan manusia dan mengamankan bagi mereka sebuah kehidupan bahagia di dunia ini, dengan demikian, mengenal Tuhan dan beriman kepada-Nya dan Hari Kebangkitan merupakan pra-syarat atas hal tersebut. Logika kedua adalah kebalikannya, yaitu mengenal Tuhan, beribadah dan mendekat kepada-Nya merupakan tujuan utama dan keadilan merupakan spritualitas kedua manusia di dunia ini yang dipredikatkan pada kehidupan sosialnya, dan kehidupan sosial tanpa hukum dan keadilan adalah mustahil adanya. Jadi, hukum dan keadilan merupakan pra-syarat untuk beribadah kepada Tuhan. Dengan demikian, memperhatikan masalah-masalah sosial yang hari ini kita hadapi dalam hubungannya dengan keadilan merupakan tujuan para nabi, namun signifikansinya tetap berda pada urutan kedua.

Pandangan ketiga pertanyaan kemestian mempertimbangkan sebuah tujuan terpisah bagi misi para nabi dan yang lain untuk penciptaan dan kehidupan, dan seterusnya keperluan memikirkan salah seorang dari mereka sebagai tujuan utama dan yang lain sebagai cabang. Kita dapat berkatan para nabi memiliki dua tujuan yang mandiri, salah satunya sebagai penghubung antara manusia dan Tuhan untuk beribadah kepada-Nya, dan kedua untuk menegakkan keadilan di tengah umat manusia; sehingga kita dapat menyingkirkan gagasan bahwa salah satunya sebagai sebuah pra-syarat bagi yang lain.

Anda dapat menjumpai contoh-contoh ini dalam al-Qur’an, dimana masalah pensucian jiwa ditekankan, dan keselamatan disebutkan bergantung kepadanya. Apakah pensucian jiwa merupakan tujuan Islam? Apakah ia merupakan tujuan atau sebuah pra-syarat, pra-syarat untuk apa? Untuk mengenal Tuhan, dan berhubungan dengan-Nya dan beribadah kepada-Nya? Atau untuk menegakkan keadilan sosial? Menurut pandangan ini, karena misi para nabi adalah penegakan keadilan sosial, kejahatan sosial dan kebaikan dapat dibedakan. Mereka menganjurkan umat manusia untuk menghindari kejahatan seperti, hasud, angkuh, egois, sensualitas dan lain sebagainya dan menganjurkan keutamaan seperti kejujuran, integritas, kasih saying, kesederhanaan dan lain sebagainya. Atau haruskah diklaim bahwa pensucian jiwa sendiri merupakan sebuah tujuan yang mandiri?

Pandangan manakah dari beberapa pandangan di atas yang harus diterima? Menurut hemat kami al-Qur’an tidak pernah setuju dengan dualisme di atas apa pun maknanya. Al-Qur’an merupakan sebuah kitab monotheistic (tauhid) dalam seluruh maknanya. Disebutkan bahwa, ” Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya..” (Qs. asy-Syura [42]:11) Merepresentasikan seluruh sifat-sifat Tuhan secara sempurna. “Dia mempunyai al-Asmaaul Husna (nama-nama yang baik) (Qs. Thahaa [20]:8) “Seluruh nama-nama yang terbaik adalah milik-Nya,” .. dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Qs. an-Nahl [16]:60) Ia mengakui bahwa tiada sekutu bagi-Nya, dan tidak memiliki rival, dan mengatakan bahwa seluruh kekuasaan adalah milik-Nya dan bukan yang lain.  Adalah juga monoteistik tidak menyebutkan tujuan apapun sebagai tujuan asasi, mandiri dan puncak bagi semesta kecuali Tuhan. Lantaran manusia, juga dalam penciptaan, kewajiban dan perbuatannya, tiada tujuan yang dikenal selain tujuan kepada Tuhan.

Terdapat perbedaan antara seorang manusia yang menghendaki Islam, dan orang yang beriman kepada maktab keadilan filsafat. Banyak hal yang dikatakan Islam adalah sama bagi orang lain tapi tidak dalam perspektif yang sama. Islam memandang segala hal dalam sebuah perspektif monoteistik.

Dalam filsafat, sebagaimana disebutkan sebelumnya, manusia telah mencapai sebuah tingkatan dimana ia berkata bahwa dunia ini diatur oleh serangkaian hukum yang konstan dan tetap. Al-Qur’an berkata hal yang sama namun dalam konteks Ilahiah. (Qs. [35]:43) Al-Qur’an tidak hanya menerima prinsip keadilan sosial  namun memandang hal itu sebagai sesuatu yang paling signifikan, kendati bukan sebagai tujuan utama, juga bukan sebagai pra-syarat dari apa yang kita pahami tentang kebahagiaan duniawi.

Islam menerima kebahagiaan duniawi dalam praktik monotheisme, yaitu, secara totalitas dibaktikan kepada Tuhan.

Menurut al-Qur’an, manusia meraih kebahagiaanya hanya dari Tuhan, dan Dialah yang mengisi pelbagai kesenjangan dalam hidup manusia, dan memuaskan dirinya. Al-Qur’an berkata: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.“(Qs. [13]28) Hanya Tuhan yang memberikan ketenangan kepada hati yang gelisah dan resah dalam diri manusia. Hal yang lain merupakan tambahan dan hal-hal pendahuluaan, bukan tingkatan akhir. Hal yang sama disebutkan tentang ibadah, “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” (Qs. [20]:14)

Juga ayat berikut ini, disebutkan: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu al-kitab (al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. [29]45) Islam memandang manusia diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan, untuk mencari kedekatan kepadanya dan mengenal-Nya, yang memberikan segala kekuatan kepadanya. Namun pengetahuan dan kekuasaan bukan tujuan utama, juga bukan penyucian jiwa.[www.wisdoms4all.com]

 

About these ads

2 comments on “Arti Kehidupan

  1. “Shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah semata untuk Tuhan, Tuhan sekalian alam.” (Qs. al-An’am [6]:163)
    setujuuuu

  2. gambarannya sudah jelas bagi saya
    dan kenapa selama ini saya merasa bingung dan lelah mencari tujuan hidup saya dan merasa hati saya tidak tentram
    sekarang insyaallah saya akan mencoba berjalan lurus dijalan ALLAH SWT
    saya terlalu menyibukan diri terhadap kehidupan duniawi, tanpa mengingat siapa pencipta saya, saya amat berdosa
    tapi mulai saat ini saya akan merubah itu semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s