Membincang Tauhid Praktis [1]

Membumikan Ketauhidan dalam Pemikiran dan Tindakan

practical-monotheism.jpgSalah satu prinsip yang mendasar dan diterima oleh semua orang serta dialami secara langsung oleh setiap orang adalah bahwa pemikiran dan keyakinan manusia berpengaruh langsung pada perbuatan dan tindakannya. Dalam kata lain, gagasan-gagasan yang dimiliki oleh manusia secara langsung berpengaruh pada kecendrungan-kecendrungan dan tindakan-tindakannya, bahkan memberikan bentuk dan warna khusus pada dirinya[1]. Masing-masing dari keyakinan-keyakinan kita -khususnya keyakinan yang telah berbentuk keimanan- menciptakan motivasi-motivasi dan kecendrungan-kecendrungan tertentu, dan hal-hal tersebut tentunya mempengaruhi bentuk perbuatan kita.

Dari sisi lain, tauhid teoritis adalah rangkaian sistem pemikiran tertentu mengenai Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam dan manusia. Manusia Ilahi -yang dididik dalam madrasah ketauhidan Islam- menganggap wujud dan zat Tuhan hanya satu, esa dan tunggal, dan menganggap Dia sebagai Pencipta segala sesuatu, Pemilik semua realitas, Yang Disembah oleh setiap makhluk dan hadir dalam seluruh eksisitensi. Sekarang dengan memperhatikan suatu prinsip tentang pengaruh pemikiran terhdap tindakan, tentunya keyakinan-keyakinan manusia terhadap konsep ketauhidan dan keesaan Tuhan juga berpengaruh dalam setiap niat, kecendrungan, motivasi dan tindakannya. Dalam artian lain, tauhid (pengesaan Tuhan) akan memberikan warna khusus dalam kehidupan manusia, inilah yang kami maksudkan dengan “Tauhid Praktis atau Tauhid Terapan”. Oleh karena itu, tauhid dalam aspek perbuatan adalah buah sempurna dari pemikiran-pemikiran dan keyakinan-keyakinan tauhid dalam perbuatan manusia.[2]

Manusia Ilahi adalah manusia yang menerima konsekuensi logis dari akidah-akidahnya tentang ketauhidan Tuhan. Hanya Tuhan yang dia sembah, hanya kepada-Nya lah dia memohon pertolongan, hanya pada-Nya lah dia bertawakkal, dia tidak taat pada siapapun kecuali pada-Nya dan setiap perbuatan yang dia lakukan hanya untuk mendapatkan keridhaan-Nya.

Syahid Muthahhari, seorang filosof Muslim Iran, memiliki penjelasan yang indah mengenai perbedaan antara tauhid teoritis dan tauhid praktis, serta hubungan keduanya. Setelah menjelaskan pembagian tauhid teoritis, Beliau berkata, “Ketiga derajat yang telah kami jelaskan diatas, tauhid teoritis dikategorikan sebagai sebuah pengetahuan. Adapun tauhid dalam ibadah dikategorikan sebagai sesuatu yang “menjadi” atau yang “mewujud”. Derajat tauhid tersebut adalah sebuah pemikiran dan keyakinan yang benar, dan tahapan tauhid ini juga adalah bersifat “menjadi” dan “mengeksistensi” secara benar. Tauhid teoritis adalah sebuah gagasan atau pandangan manusia tentang wujud dan sifat Yang Maha Sempurna (baca: Tuhan), dan tauhid praktis adalah sebuah gerakan atau tindakan praktis manusia untuk menyerap sifat-sifat kesempurnaan dari Yang Maha Sempurna. Tauhid teoritis untuk membuktikan dan menegaskan keesaan dan ketunggalan wujud Ilahi, sementara tauhid praktis adalah untuk berproses “menjadi” manusia sempurna berdasarkan tauhid teoritis tersebut. Tauhid teoritis adalah “memandang dan menggagas”, sedangkan tauhid praktis adalah “berjalan dan bersuluk”.[3]

Nilai Tauhid Teoritis

Dengan memperhatikan hubungan antara tauhid teoritis dan tauhid praktis, boleh jadi kita beranggapan bahwa nilai pemikiran-pemikiran tauhid praktis hanya pada sisi pengaruh langsungnya terhadap perbuatan manusia, dan tauhid teoritis itu sendiri tidak memiliki nilai substansial atau esensial terhadap bangunan tindakan manusia. Nah, apakah anggapan seperti ini benar?

Apabila kita memperhatikan pandangan Islam terhadap kesempurnaan manusia, maka anggapan diatas tentunya keliru. Berdasarkan konsep Islam tentang manusia, manusia -baik dalam sisi pemikiran teroritis maupun dalam aspek tindakan praktis- mampu sampai pada kesempurnaan tertentu. Dan masing-masing dari kedua aspek manusia tersebut memiliki kesempurnaan dalam batasannya tersendiri. Sebagai contoh, jiwa manusia memiliki sebuah keyakinan yang benar dimana keyakinan tersebut sesuai dengan realitas objektifnya, dan hal ini bagi fakultas akal teoritis, terhitung sebagai sebuah kesempurnaan, khususnya ketika dia membandingkan dirinya ketika berada dalam kejahilan dan  kebodohan. Oleh karena itu, pengetahuan dan pemahaman kita terhadap ketinggian konsep Islam mengenai ketauhidan dan keesaan Tuhan –dengan tanpa memperhatikan nilai praktisnya– memiliki nilai yang sangat berharga dalam batasan teoritisnya tersendiri, dan sebagian dari aspek kesempurnaan pemikiran manusia menjadi terpenuhi.

Keluasan Tauhid Praktis

Setelah kita membahas mengenai makna dari tauhid praktis, termasuk memperhatikan keluasan dan keragamannya terhadap prilaku-prilaku internal dan eksternal manusia, dan akan terlihat dengan jelas bahwa tauhid praktis memiliki wilayah yang cukup luas. Walaupun demikian adanya, biasanya dalam pembahasan kalam dan teologi, hanya mencukupkan membahas hal-hal yang paling penting saja berkenaan dengan tauhid praktis. Dalam pembahasan selanjutnya, kami berusaha membahas bagian-bagian penting dari tauhid praktis.

Tauhid dalam Ibadah  

Yang paling penting dan fundamental dalam tauhid praktis adalah tauhid dalam ibadah.[4] Apabila bagian-bagian tauhid teoritis kita letakkan dalam wilayah monoteisme, maka tauhid ibadah adalah monoteisme itu sendiri. Menyembah sebuah eksistensi Yang Maha Esa dimana hanya Dia lah yang layak disembah. Adalah bukan sesuatu yang berlebihan jika kami katakan bahwa tujuan akhir para Nabi adalah tauhid dalam ibadah, monoteisme atau menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut.” (Qs. An-nahl: 36)

Dengan memperhatikan kecendrungan fitrah manusia untuk menyembah eksistensi yang lebih mulia dan sempurna, maka salah satu tujuan yang paling penting dan merupakan rencana agung agama Ilahi adalah menggiring manusia dalam mendapatkan tempat bergantung yang hakiki dan menemukan suatu eksistensi yang layak disembah, dan juga mencegah manusia pada sesuatu dapat menjauhkan dirinya dari suatu hakikat sejati atau yang dapat mengotori kecendrungan tauhid dari fitrah sucinya.

Apa Hakikat Ibadah?

Walaupun makna ibadah dan makna penyembahan sedikit banyaknya telah jelas bagi kita, namun dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan akan batasan tauhid dalam ibadah sepanjang sejarah, ada baiknya jika kita menganalisa makna “ibadah” sehingga kita bisa mendapatkan definisi yang lebih terperinci dari tauhid dalam ibadah itu sendiri.

Dalam beberapa kamus bahasa arab, ibadah bermakna “penyerahan diri” dan “pengungkapan kerendahan”.[5] Berdasarakan hal ini, bisa kita ambil kesimpulan bahwa ibadah adalah merendahkan diri, menyerahkan diri dan mengecilkan diri di hadapan suatu eksistensi Yang Maha Sempurna (sebagai Yang Disembah). Makna ini lebih universal dari makna ibadah itu sendiri (dalam istilah teologi dan agama), hal ini dikarenakan walaupun makna ibadah didalamnya tersimpan makna penyerahan diri dan perendahan diri, akan tetapi tidak semua penyerahan diri dan perendahan diri adalah ibadah.

Salah satu bukti dari ungkapan di atas, bahwa manusia senantiasa –dengan hukum akal praktis dan berdasarkan kemestian akhlak-akhlak universal– menjaga dirinya untuk tunduk dan menjaga etika terhadap orang yang memiliki hak padanya. Sebagai contoh, etika seorang murid ketika dia berhadapan dengan gurunya, ketundukan seorang anak ketika dia berhadapan dengan orang tuanya, contoh diatas pasti dibenarkan oleh setiap manusia yan berakal dan oleh siapa saja yang memiliki hati nurani yang bersih.

Al-Quran sendiri memerintahkan kita untuk senantiasa menghormati kedua orang tua kita,  Allah Swt berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhan-ku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku pada waktu kecil.” (Qs. Al-isra: 24 )

Oleh karena itu, jika sekedar ungkapan penyerahan diri dan perendahan diri adalah sebuah ibadah, maka akan berkonsekuensi pada; pertama, akal manusia mengarahkan kita untuk menyembah selain-Nya, kedua, al-Quran mengajak manusia untuk syirik dalam ibadah, atau dalam kata lain, dengan makna ibadah tersebut akan mengarahkan sebagian besar orang-orang yang bertauhid (muwahhid) keluar dari wilayah ketauhidan itu sendiri, atau siapa saja yang menghormati kedua orang tuanya maka mereka dikategorikan sebagai orang-orang yang musyrik (tak bertauhid). Padahal dalam al-Quran sendiri Allah Swt memerintahkan kepada seluruh malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam As, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam!” Maka bersujudlah mereka kecuali Iblis.” (Qs. Al-baqarah: 34).

Begitu juga dalam kisah Nabi Yusuf As, saudaranya dan bahkan Nabi Ya’kub As dan istirnya semuanya sujud kepada Nabi Yusuf As, “Dan ia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf.” (Qs. Yusuf: 100 ).

Oleh karena itu, jika setiap penyerahan diri adalah ibadah, maka akan mengharuskan bahwa al-Quran sendiri telah menyeru kepada malaikat untuk berbuat syirik dalam ibadahnya, dan juga menggolongkan keluarga Nabi Yusuf As bahkan ayahnya Nabi Ya’kub As sebagai orang–orang musyrik.

Dari pembahasan diatas, makna yang telah kami sebutkan diatas lebih luas dari makna hakiki ibadah itu sendiri. Oleh karena itu, kita harus mencari batasan dalam makna ibadah, sehingga kita mendapatkan makna ibadah yang lebih tepat.[6]

Dengan memperhatikan penggunaan kata ibadah, jelaslah bahwa ibadah adalah penyerahan, perendahan dan pengecilan diri yang didasari oleh sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan bahwa ketundukan dan penyerahan diri terhadap sebuah eksistensi tertentu (baca: Tuhan), dikarenakan bahwa keberadaan tertentu tersebut adalah layak untuk disembah. Karena Dia lah Pencipta keberadaan dan Pengatur seluruh keberadaan. Dia pula sumber kehidupan atau menghidupkan, mematikan, yang memberikan maghfirah (ampunan), pemberi rezki dan lain sebagainya. Dan segala hal diatas Dia lakukan tanpa memerlukan bantuan dari sesuatu apapun selain diri-Nya.

Dalam ibarah lain, hakikat ibadah adalah ketika kita berhadapan dengan sebuah keberadaan dan eksistensi yang memiliki karekteristik diatas, maka kita merasa bahwa diri kita adalah hamba dan tunduk serta berserah diri secara mutlak. Namun, jika ketundukan manusia diperhadapkan kepada sebuah keberadaan tertentu, akan tetapi tidak diiringi dengan sebuah keyakinan dan sikap perhormatan seperti diatas, maka kita tidak bisa mengatakan hal tersebut sebagai “ibadah” atau “menyembah”. Oleh karena itu, jelaslah apa sebenarnya yang dimaksud dengan ibadah, dan makna inilah yang dipilih oleh para pemikir Islam. Imam Khomeini ra juga memilih makna ibadah tersebut dalam kitabnya, Kasyful Asrar, “Ibadah dan penyembahan yang bermakna memuji atau mengagungkan sebuah keberadaan tertentu yang dia anggap sebagai Tuhan, apakah Dia sebagai Tuhan besar atau sebagai Tuhan kecil.”[7]

Tauhid Ibadah di kalangan Kaum Muslim

Tauhid dalam ibadah atau monoteisme adalah salah satu prinsip yang mendasar dalam Islam, dan al-Quran sendiri berkali-kali menegaskan hal tersebut. Oleh karena itu, tidak ada satupun mazhab yang menolak prinsip tersebut. Dalam kata lain, dalam pembahasan tauhid ibadah, kita tidak melihat sama sekali adanya perbedaan seperti yang terjadi dalam perbedaan pandangan mengenai tauhid sifat dan tauhid perbuatan yang terjadi di antara maktab Mu’tazilah dan Asy’ari.

Tapi dalam tauhid ibadah, perbedaan yang ada adalah perbedaan dalam menentukan kategori ibadah, dan tentunya akan berefek pada penentuan kategori tauhid dan syirik dalam ibadah. Perbedaan yang paling penting dalam hal ini adalah perbedaan antara pandangan aliran teologi Wahabi dengan kaum mayoritas muslim lainnya.[8] Aliran Wahabi –berdasarkan penafsiran mereka yang salah tentang hakikat ibadah– mendefinisikan makna ibadah begitu sangat luasnya, misalnya terdapat sebagian besar dari suatu perbuatan yang dalam pandangan kaum muslimin sebagai sebuah perbuatan yang terpuji bahkan mustahab (sunnah), namun dalam pandangan Wahabi perbuatan tersebut adalah haram bahkan menyebabkan syirik. Pandangan Wahabi mengenai tauhid, selain tidak sesuai dengan al-Quran dan prinsip yang sudah ada di awal sejarah Islam, juga menunjukkan wajah yang buruk dari hakikat Islam dan menunjukkan pemikiran jumud yang sama sekali tidak sesuai dengan pemikiran Islam yang suci.

Sebagai contoh, dalam pandangan Wahabi segala bentuk tawassul (meminta pertolongan dan memohon syafaat dari Rasulullah saw serta berdoa dengan perantaraan Rasulullah dan selainnya) dan segala bentuk pemuliaan dan penghormatan kuburan-kuburan para Nabi serta orang-orang sholeh adalah musyrik. Menurut mereka, setiap Muslim yang melakukan hal diatas adalah telah keluar dari Islam, oleh sebab itu harta dan darahnya dihalalkan dan dibolehkan bagi siapa saja yang menginginkannya.

Namun, dengan mencermati pandangan sebelumnya mengenai makna ibadah, maka kebatilan dan kekeliruan pandangan Wahabi akan jelas dengan sendirinya. Pada hakikatnya, perbuatan-perbuatan seperti bertawassul kepada para Nabi dan para Wali Tuhan adalah hal yang boleh dan tidak haram untuk dilakukan, namun hal ini sangat bergantung pada bentuk keyakinan terhadap bertawassul itu. Bentuk keyakinan tersebut sebagai berikut:

1.        Bentuk pertama adalah orang yang bertawassul tersebut berkeyakinan bahwa orang atau barang yang kita jadikan sebagai perantara atau tempat bertawassul atau tempat meminta pertolongan adalah secara langsung dan secara independen menjawab keinginan kita. Tentunya, bentuk tawassul semacam ini adalah sesuatu yang syirik, dikarenakan keyakinan seperti ini memposisikan orang tersebut setingkat dengan Rububiyah Ilahi, atau menyekutukan Tuhan. Dan perbuatan seperti ini adalah syirik dalam ibadah.

2.        Bentuk kedua adalah orang yang bertawassul tersebut berkeyakinan bahwa orang yang kita jadikan sebagai tempat bertawassul atau tempat meminta pertolongan semata-mata hanya karena orang tersebut adalah hamba Tuhan, dalam artian bahwa segala kehidupannya hanya bersandar pada Allah Swt semata, dan oleh sebab inilah orang tersebut memiliki maqam kesempurnaan dan spiritual tertentu di sisi Ilahi, dan berkat izin Tuhan lah orang tersebut bisa memberikan syafaat kepada orang lain, atau dia mampu memenuhi sebagian hajat manusia. Dengan mencermati makna ibadah, jelaslah bahwa tawassul dalam makna kedua ini sama sekali tidak berarti sebagai sebuah bentuk penyembahan kepada selain Tuhan, bahkan dimaknai sebagai ibadah dan penghambaan itu sendiri (yakni bahwa Tuhan sendirilah yang membolehkan dan memerintahkan bertawassul kepada selain diri-Nya).

Oleh karena itu, sujudnya para malaikat dihadapan Nabi Adam As, sujudnya Nabi Ya’qub As kepada Nabi Yusuf As, atau tawassulnya kaum muslimin kepada Rasulullah saw, penghormatan kepada kuburan beliau dan menjadikan beliau sebagai tempat penerima syafaat adalah tidak dikategorikan sebagai perbuatan syirik, bahkan hal tersebut berada dalam koridor dan prinsip monoteisme Islam. Namun, penyembahan terhadap patung berhala, atau ajaran-ajaran politeisme –mulai dari yang menyembah langit, hewan-hewan serta tumbuhan– yang dikarenakan keyakinan mereka bahwa apa yang mereka sembah itu dipandang sebagai Tuhan atau berada pada tingkatan Ketuhanan (uluhiyyah), maka hal ini tidak sesuai dengan tauhid dalam ibadah, bahkan merupakan syirik itu sendiri.

Dari segala uraian di atas dan dengan menganalisa secara terperinci akan makna ibadah, maka jelaslah kesalahan, kekeliruan dan kebatilan pandangan aliran ekstrim Wahabi.

Hubungan Tauhid Uluhiyyah dengan Tauhid Ibadah

Jika kita mencermati secara sepintas -dikarenakan kedekatan konteks yang terkandung dalam kedua prinsip keyakinan di atas-  seolah-olah kedua hal di atas tidak memiliki perbedaan sama sekali. Namun kalau kita mencermati lebih jauh, perbedaan di antara kedua hal di atas akan lebih jelas. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tauhid dalam uluhiyyah merupakan bagian dari tauhid teoritis, di sisi lain tauhid dalam ibadah merupakan bagian dari tauhid praktis. Oleh karena itu, tauhid dalam uluhiyyah titik fokus pembahasannya pada akidah atau pemikiran manusia, namun tauhid dalam ibadah berhubungan dengan perbuatan dan tindakan manusia. Muatan inti dari tauhid uluhiyyah adalah dimana beranjak dari sisi pemikiran bahwa kita meyakini bahwa tidak ada satupun keberadaan yang layak disembah kecuali Allah Swt, hanya Dia lah yang disembah di alam ini. Adapun tauhid dalam ibadah adalah dimana berangkat dari sisi perbuatan kita bahwa hanya Dia lah yang kita sembah dan kita sama sekali tidak tunduk dan menjadi hamba pada siapapun secara praktis kecuali hanya pada-Nya.

Tentunya dengan penjelasan yang telah kami berikan mengenai hubungan antara keyakinan dan perbuatan, substansi tauhid dalam perbuatan dan makna yang lebih terperinci dari ibadah, maka hubungan kedekatan kedua hal diatas akan lebih jelas, dikarenakan bahwa tauhid dalam uluhiyyah adalah unsur yang paling penting dalam sebuah keyakinan, yang dapat menciptakan ruh monoteisme, dan pada dasarnya selama keyakinan ini tidak diiringi dengan perbuatan manusia dalam bentuk riil ibadah, maka makna ibadah dan penyembahan belum menjelma secara sempurna dalam diri manusia. Dengan demikian, harus ada kesatuan antara keyakinan tauhid dan pengamalannya, atau kemanunggalan keyakinan dan perbuatan dalam tauhid.

Tauhid Praktis menurut Al-Quran

Al-Quran al-karim memberi penekanan pada tauhid teoritis dan tauhid praktis. Sebelumnya telah kami ungkapkan bahwa tauhid dalam perbuatan memiliki wilayah yang sangat luas. Dalam kesempatan kali ini, kami hanya membahas bagian-bagian yang penting saja dari tauhid dalam perbuatan itu. Salah satu bagian dari tauhid praktis adalah tauhid dalam ibadah. Tauhid dalam ibadah ini memiliki peran yang sangat penting karena apabila seseorang telah tercemari dengan syirik dalam perkara ibadah maka dia akan keluar dari wilayah suci Islam. Sekarang kita akan melihat bagaimana pandangan al-Quran mengenai tauhid dalam ibadah dan monoteisme.

Kami telah sebutkan sebelumnya bahwa sebagian ayat al-Quran mengajak manusia untuk menyembah Allah Swt sebagai Pencipta Yang Tunggal dan menjauhi segala bentuk penyembahan selain-Nya, dan hal ini tidak lain adalah substansi risalah agung para Nabi,

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut itu.” (Qs. An-nahl: 36)

Berdasarkan ayat ini, seluruh Nabi mengajak manusia untuk menyembah kepada Allah Swt dan menyeru kepada manusia untuk menjauhi segala bentuk taghut atau selain Tuhan.

Begitu juga, pada sebagian ayat al-Quran bisa diambil suatu kesimpulan bahwa hamba-Nya telah mengikat janji dengan Tuhan bahwa tidak akan menyembah sesuatu apapun selain-Nya, dan tidak akan menjadi hamba selain-Nya, dalam al-Quran difirmankan, “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyembah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu? Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (Qs. Yasin: 60-61)

Adapun pembahasan tentang dimanakah perjanjian ini terjadi, para penafsir memiliki pandangan yang beragam. Sebagian penafsir meyakini bahwa Tuhan mengikat perjanjian dengan seluruh hambanya pada hari “alastu” dan di alam malakuti (yakni di alam sebelum penciptaannya di alam materi), kemudian Allah Swt menginginkan kepada mereka untuk menyembah hanya kepada-Nya. Sebagian penafsir lain meyakini bahwa maksud dari perjanjian ini adalah seruan-seruan tauhid para Nabi kepada setiap kaumnya. Sebagian lainnya meyakini bahwa kata “janji” dalam ayat ini mengisyaratkan akan anjuran-anjuran dalam bentuk sebuah perjanjian yang Allah Swt berikan kepada anak-anak Adam As ketika Nabi Adam As turun ke bumi.[9]

Walhasil, berdasarkan ayat di atas Allah Swt telah mengambil janji monoteistik kepada hamba-hamba-Nya dan jalan hidayah yang benar (shirath al-mustaqim) yang tidak lain adalah penghambaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Adapun yang dimaksud dengan penyembahan setan dalam ayat itu, bukan berarti melakukan suatu ritual ibadah seperti ruku dan sujud dihadapannya, akan tetapi yang dimaksudkan adalah mengikuti dan menaati segala keinginan setan. Dalam pembahasan yang akan datang akan kami jelaskan bahwa dalam al-Quran dan hadis, ibadah itu terkadang dimaknai secara umum, dan berdasarkan pemaknaan ini, jika terdapat seseorang yang menaati anjuran yang mengajak kepada dosa, maksiat dan menentang Tuhan maka pada hakikatnya dia telah mempertuhankan setan itu atau menjadikan setan itu sebagai Tuhannya.

Ahlul Kitab dan Monoteisme

Walaupun ayat yang telah kita bahas telah menjelaskan kepada kita bahwa monoteisme adalah perjanjian universal Tuhan dengan seluruh manusia, namun sebagian ayat al-Quran menjelaskan bahwa para Nabi Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) juga menyeru kepada ummatnya kepada ajaran monoteisme. Namun sebagian kelompok dari mereka telah melencengkan manusia dari jalan tauhid, dan bahkan mengajak untuk menyembah selain Tuhan. Sebagai contoh dalam ayat ini dijelaskan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Qs. Al-bayyinah: 5)

Dari ayat ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa rukun yang paling penting dalam seruan Ilahi untuk Ahlul Kitab adalah monoteisme, beribadah secara ikhlas kepada Allah Awt dan menghindari jalan-jalan yang dapat melencengkan kita dari jalan ini. Jika kita mencermati kalimat (Ïیä ÇáÞیãå) jelaslah bahwa akar dari segala ajaran agama adalah ikhlas dalam menghamba kepada Tuhan dan menjauhi segala bentuk syirik dalam ibadah.

Hubungan Tauhid Ibadah dengan Tauhid Rububiyah

Tidak kita ragukan bahwa wujud yang disembah oleh manusia haruslah memiliki kesempurnaan tertinggi. Mungkin salah satu ciri yang harus dimiliki adalah ke-rububiyahan-nya. Yaitu sebuah keberadaan yang memang layak untuk disembah, dimana segala kendali bagi urusan manusia berada dalam ikhtiar dan kehendaknya, dan kemudian dia mengaturnya sesuai dengan iradahnya. Oleh karena itu, salah satu prinsip dasar monoteisme adalah tauhid rububiyah, yang bermakna bahwa karena Allah Swt adalah satu-satunya Pemelihara dan Pengatur yang hakiki di alam ini, maka karena itu, hanya Dia lah yang patut dan layak disembah oleh segala makhluk, terkhusus manusia.

Al-Quran juga menegaskan hubungan di antara kedua tauhid itu. Sebagai contoh, al-Quran menukil perkataan Nabi Isa As yang mengajak umatnya kepada ajaran monoteisme, “Sesungguhnya Allah adalah Tuhan-ku dan Tuhan-mu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.” (Qs. Maryam: 36)

Sebagaimana yang anda saksikan bahwa ajakan Nabi Isa As dalam monoteisme terfokus pada masalah Rububiyah Ilahi, dan seolah-olah menegaskan suatu hal bahwa karena Rububiyah Ilahi bersifat universal dan meliputi segalanya, dimana tidak ada lagi Rab atau Tuhan Yang Maha Pengatur selain-Nya karena itu hanya Dia lah yang patut untuk disembah.

Syirik yang tersembunyi dalam Ibadah

Sebagaimana yang telah kami isyarahkan sebelumnya bahwa syirik dalam ibadah juga memiliki derajat-derajat hingga dalam bentuk yang tersembunyi (syirik khafi), dimana sebagian besar kaum muslim dicemari oleh bentuk syirik yang tersembunyi ini. Al-Quran sendiri juga menegaskan hal ini, “Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)”. (Qs. Yusuf: 106)

Maksud dari ayat ini adalah bahwa terdapat kebanyakan orang yang satu sisi memiliki keimanan namun dari sisi lain mereka itu digolongkan sebagai musyrik. Oleh karena itu, secara lahiriah yang dimaksud dengan syirik dalam ayat ini bukanlah syirik yang nampak sangat jelas atau besar, dikarenakan syirik seperti ini tidak akan pernah berkumpul dengan keimanan kepada Tuhan (yakni syirik ini berlawanan dengan tauhid itu sendiri). Oleh karena itu, sepertinya yang dimaksud dengan ayat ini adalah mengisyarahkan akan derajat kesyirikan itu sendiri, yakni suatu bentuk syirik yang tersembunyi dalam ibadah kepada Tuhan.[www.wisdoms4all.com]

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s