Perjanjian Lama dalam Teraju Sains

biblensains.jpg

Hanya beberapa hal yang  termaktub dalam  Perjanjian Lama,  dan  demikian juga dalam Perjanjian Baru yang menimbulkan konfrontasi  dengan  pengetahuan  modern.  Tetapi  jika terdapat  hal-hal  yang  tidak sesuai antara teks Bibel dan Sains, maka persoalannya akan menjadi sangat penting.

Pada bab-bab  yang  terdahulu,  kita  telah  menemukan dalam Bibel kesalahan-kesalahan historis dan kita telah menyebutkan beberapa  masalah  yang  telah  dibicarakan oleh ahli tafsir Yahudi dan Kristen. Para penafsir Kristen condong   untuk   mengecilkan   persoalannya.   Mereka berpendapat  bahwa adalah wajar jika seorang pengarang buku agama menyajikan  fakta-fakta  sejarah  dengan menghubungkannya  dengan masalah teologi, menulis sejarah untuk keperluan agama. Kita akan melihat dalam Injil  Matius, sikap yang  bebas terhadap sesuatu kenyataan, dan kita dapatkan   tafsiran-tafsiran  yang  tujuannya  untuk menjadikan yang  keliru menjadi  benar;  pemikiran yang obyektif dan logis tidak akan merasa puas dengan cara yang demikian.

Dengan  memakai  logika, orang dapat menunjukkan banyak kontradiksi  dan   kekeliruan   dalam   Bibel.   Adanya sumber-sumber  yang  berlainan telah menyebabkan adanya versi yang berlainan mengenai sesuatu  hikayat.  Tetapi di  samping itu kita dapatkan bermacam-macam perubahan, bermacam-macam  tambahan.  Pada  mulanya  tambahan  itu sebagai  tafsiran,  tetapi  kemudian  naskah  asli  dan tafsiran disalin lagi dan semua isinya  dianggap  orisinil.

Semua  ini  sudah diketahui oleh para kritikus teks, dan mereka kemukakan secara jujur.  

Mengenai Taurat, Bapa de Vaux dalam bukunya:  Pengantar Umum   (Introduction  Generale)  yang  ditulis  sebelum menterjemahkan Taurat telah menunjukkan  bermacam-macam kepincangan  yang  tak  perlu  lagi saya ulangi di sini karena  banyak  lagi  yang  akan  saya  sebutkan  dalam penyelidikan  ini.  Kesimpulan  dari  semua  itu adalah bahwa kita tidak boleh memahami teks-teks Taurat secara harfiah.

Di bawah ini adalah suatu oontoh yang menarik:

Dalam  (Kitab  Kejadian [6], 3) Tuhan memutuskan, sebelum Banjir Nabi Nuh, untuk membatasi umur  manusia,  paling panjang  hanya  120  tahun.  “Hidupnya tidak akan lebih dari 120 tahun.” Tetapi kemudian, dalam (Kitab  Kejadian [2], 10-32) kita dapatkan bahwa sepuluh orang keturunan Nabi Nuh hidup berusia sampai antara  148  dan  600  tahun (lihatlah  tabel  mengenai anak turunan Nabi Nuh sampai Abraham).  Kontradiksi  antara dua kalimat tersebut adalah menyolok. Tetapi adalah mudah untuk menerangkan. Kalimat  pertama  (Kitab  Kejadian  6,3)  adalah   teks Yahwist,   yang  sebagai  kita  telah  membicarakannya, dibuat pada abad X S.M. Sedangkan kalimat kedua  (Kitab Kejadian  2,  10-32)  merupakan  teks  yang lebih muda (abad   VI   S.M.)   dari    tradisi    pendeta-pendeta (Sakerdotal)   yang   merupakan   dasar  dari  silsilah keturunan (genealogi)  yang  memberi  gambaran  tentang lamanya  hidup  seseorang  secara tepat tetapi ternyata tidak benar dalam keseluruhannya.

Kontradiksi dengan Sains modern  terdapat  dalam  Kitab Kejadian, yaitu mengenai tiga persoalan:  

1). Penciptaan alam dan tahap-tahapnya.

2). Masa penciptaan alam dan munculnya manusia di muka bumi.

3). Riwayat banjir Nuh.

Penciptaan Semesta

Sebagai yang telah dikatakan oleh Bapa de Vaux,  Kitab Kejadian bermula dengan dua riwayat mengenai penciptaan alam. Oleh karena  itu  kita perlu  menyelidiki  kedua riwayat    itu   secara   terpisah   untuk   mengetahui kesesuaiannya dengan penyeiidikan-penyelidikan ilmiah.

Riwayat Pertama ihwal Penciptaan Semesta

Riwayat pertama memenuhi pasal I dan ayat-ayat  pertama dari pasal II. Riwayat ini merupakan contoh yang sangat menonjol tentang kerancuan ilmiah.  Kita perlu melakukan  kritik  sebaris demi sebaris. Teks yang kita muat di sini adalah  teks  menurut  The Revised Standard Version of Bible.[1] Dalam bahasa Indonesia, diambil dari Al Kitab cetakan Lembaga Alkitab Indonesia tahun 2007.

“Bahwa pada mulanya  Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah di atas permukaan air.” (Kejadian [1]:1-2)

Kita  mungkin dapat  menerima  bahwa  sebelum penciptaan bumi,  apa  yang  kemudian kita ketahui sebagai alam sekarang masih ditutupi kegelapan,  akan tetapi  untuk menyebut adanya adanya  air pada periode tersebut hanya merupakan sebuah imaginasi. Kita akan melihat dalam bagian ketiga dari  buku  ini  bahwa  pada  tahap permulaan  dari  terciptanya  alam yang terdapat adalah gas.  Maka disebutkannya  air  di  situ  adalah  sebuah kekeliruan.

“Berfirmanlah Allah: Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Allah melihat terang itu baik, lalu dipisahkan-Nya-lah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilan pagi, itulah hari pertama.” (Kejadian [1]:3-5)

Cahaya yang menerangi alam adalah hasil daripada reaksi kompleks  yang  terjadi  pada  bintang-bintang. Hal ini akan kita bicarakan pada bagian  selanjutnya (ketiga  daripada  buku)

Pada  tahap  penciptaan  alam yang kita bicarakan sekarang,   menurut   Bibel,   bintang-bintang    belum diciptakan,  karena  sinar  di  langit  baru disebutkan dalam  ayat  14  dari  Kitab  Kejadian,  yaitu  sebagai ciptaan  pada  hari  keempat,  untuk  “memisahkan siang daripada malam,” “untuk menerangi bumi.” Dan ini  semua betul. Tetapi adalah tidak logis untuk menyebutkan efek (sinar)   pada   hari   pertama,   dengan   menempatkan penciptaan  benda yang menyebabkan sinar (bintang-bintang)  tiga  hari  sesudah  itu. Lagipula menempatkan  malam  dan  pagi  pada hari pertama adalah alegori (kiasan) semata-mata,  karena  malam  dan  pagi sebagai   unsur  hari  tak  dapat  digambarkan  kecuali sesudah terwujudnya bumi dan beredarnya di bawah  sinar planetnya yaitu matahari.

“Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.” Maka Allah menjadkan cakrawala dan Dia memisahkan yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.” (Kejadian 1:6-8)  

Mitos air berlanjut pada ayat-ayat tersebut dengan memisahkan air menjadi dua lapisan, di tengahnya adalah langit. Dalam riwayat bah Nabi Nuh,   langit membiarkan  air menanjak, dan air itu kemudian jatuh ke tanah. Gambaran bahwa air itu terbagi menjadi dua kelompok tak dapat diterima secara ilmiah.

“Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang ada di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat semuanya itu baik. Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat semuanya itu baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.” (Kitab Kejadian 1:9-13)

Fakta bahwa pada suatu periode dalam sejarah  bumi, ketika  bumi  ini  masih  tertutup  dengan air, bahwa daratan-daratan mulai muncul,  adalah  suatu  hal yang  dapat  diterima  secara ilmiah. Akan tetapi bahwa pohon yang  mengandung  biji-biji  bermunculan  sebelum terciptanya matahari (yang menurut Kitab Kejadian, baru tercipta pada hari keempat), dan juga bahwa  siang  dan malam  silih berganti sebelum terciptanya matahari, hal tersebut sama sekali tak dapat dipertahankan secara ilmiah.

“Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun. Dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi. Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.” (Kitab Kejadian [1]:14-19)

Di sini gambaran yang diberikan  oleh  pengarang Injil dapat  diterima.  Satu-satunya  kritik  yang dapat kita lemparkan terhadap ayat-ayat tersebut adalah tempat dan letaknya dalam hikayat penciptaan alam seluruhnya. Bumi dan bulan  telah  memisahkan  diri  daripada  matahari; menempatkan   penciptaan  matahari  dan  bulan  sesudah penciptaan bumi adalah bertentangan dengan hal-hal yang sudah  disetujui  secara  pasti  dalam ilmu pengetahuan mengenai tersusunnya alam bintang-bintang.

“Berfirmanlah Allah: “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala. Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembang-biaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.” (Kitab Kejadian [1]:20-23)

Ayat-ayat di atas ini mengandung hal-hal yang tidak dapat diterima secara ilmiah.

Timbulnya  binatang-binatang,  menurut  Kitab Kejadian, bermula dengan    binatang-binatang laut dan burung-burung. Menurut   Bibel, adalah   pada  hari keesokannya bahwa bumi  dihuni  oleh  binatang-binatang (kita akan melihatnya dalam ayat-ayat selanjutnya);  

Sudah  terang  bahwa asal kehidupan itu dari laut; kita akan  membicarakan  hal  tersebut  pada  bagian  ketiga daripada  buku  ini.  Setelah adanya kehidupan di laut, daratan  dihuni  oleh  binatang-binatang.   Di antara binatang-binatang  yang  hidup  diatas  bumi, ada suatu jenis reptil (binatang melata)  yang  dinamakan  pseudo suchiens   yang  hidup  pada  periode  kedua  dan  yang dikirakan   menjadi   asal   burung-burung. Beberapa sifat-sifat biologis yang bersamaan menguatkan sangkaan ini. Tetapi binatang-binatang  darat  tidak  disebutkan oleh Kitab Kejadian, kecuali pada hari ke enam, setelah munculnya burung-burung, oleh karena  itu  maka  urutan munculnya  binatang  darat  dan burung-burung tak dapat  diterima.

“Berfirmanlahlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian. Allah menjadikan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya it baik. Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar adan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”  Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya; menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilahbumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segal tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohon yang buahnya berbji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. (Kitab Kejadian 1:23-31)

Ini adalah gambaran selesainya penciptaan semesta.  Dalam gambaran  itu pengarang menyebutkan segala makhluk yang hidup yang tidak  disebutkan    sebelumnya, dan mengingatkan kepada bahan makanan yang bermacam-macam yang diperuntukkan bagi manusia dan binatang.

Kesalahannya, sebagai yang  telah  kita  lihat,  adalah dalam  menempatkan  munculnya binatang-binatang darat sesudah burung-burung. Tetapi munculnya manusia di atas bumi di tempatkan  secara  benar  sesudah  munculnya makhluk-makhluk hidup yang lain.

Riwayat  penciptaan  alam  selesai  dengan  tiga  ayat pertama dari pasal 2 Kitab Kejadian.

“Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-nya itu.” (Kitab Kejadian 2:1-3)

Ayat mengenai hari ketujuh ini perlu untuk dicermati:

Pertama mengenai arti redaksi-redaksi dari ayat di atas. Redaksi tersebut  adalah berasal dari  Revised Standard Version of the Bible sebagaimana yang disebutkan di atas. Ayat pertama berbunyi: “ Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya ” Redaksi “segala” di sini, dengan segala kemungkinan, menunjukkan banyaknya makhluk yang diciptakan.

Ayat kedua mengandung  redaksi,  berhentilah  ia  daripada pekerjaannya.  Yang dimaksudkan adalah beristirahatlah, sebagai terjemahan Ibrani “chabbat.”  Dan  hingga hari  ini,  hari  Sabtu  merupakan  hari istirahat bagi orang Yahudi.

Sudah terang bahwa  “istirahat”  yang  dilakukan  Tuhan setelah  bekerja  keras  selama  enam hari adalah suatu legenda, akan tetapi legenda itu memiliki tafsiran.  Kita harus  ingat  bahwa  riwayat penciptaan Tuhan yang kita bicarakan di sini berasal dari tradisi sakerdotal atau tradisi  pendeta-pendeta,  yakni  tradisi  yang ditulis oleh  para  pendeta  atau  juru  tulis  yang  merupakan pewaris spiritual dari Yehezkiel, Nabi Bani Israil pada waktu pengasingan di Babylon, pada  abad  VI  SM.  Kita mengetahui  bahwa  para  pendeta mengolah versi Yahwist dan  Elohist  daripada  Kitab   Kejadian,   menyusunnya menurut  selera  mereka,  dan  menurut  adat  kebiasaan mereka yang mementingkan segi hukum sebagai diterangkan oleh  R.P.  de  Vaux.  Kita telah membicarakan segi ini pada lain tempat.

Teks Yahwist tentang penciptaan alam adalah  lebih  tua beberapa  abad  daripada  teks  Sakerdotal,  dan  tidak menyebutkan bahwa Tuhan  beristirahat  setelah  bekerja keras  enam hari seperti yang disebut oleh penulis teks Sakerdotal.  Penulis  teks  Sakerdotal  membagi   waktu penciptaan  alam  dalam hari-hari yang disamakan dengan hari-hari  seminggu   yang   biasa   serta   menekankan istirahat   hari   Sabtu   yang   mereka   rasa   harus dipertahankan kepada  pengikut-pengikut  mereka  dengan mengatakan bahwa Tuhanlah yang pertama menghormati hari Sabtu itu. Dengan bertitik tolak dari segi praktis ini, maka  riwayat  penciptaan  alam disajikan dengan logika keagamaan  yang  semu,  yang  hasil-hasil  penyelidikan ilmiah membuktikannya sebagai khayalan belaka.

Menyelipkan  hari  ke  tujuh  (daripada  hari-hari satu minggu) dalam tahap-tahap penciptaan alam dengan maksud agar para pengikut agama menghormati hari Sabtu seperti yang dilakukan oleh pengarang  sumber  Sakerdotal,  tak dapat dipertahankan secara ilmiah. Pada waktu sekarang, semua orang tahu bahwa terciptanya  alam,  termasuk  di dalamnya  bumi  tempat  hidup  kita telah terjadi dalam tahap waktu  yang  sangat  panjang,  yang  penyelidikan ilmiah  belum  dapat memastikan walaupun secara “kurang lebih.” Hal ini akan kita bicarakan dalam bagian ketiga daripada  buku  ini, yakni pada waktu kita membicarakan tentang penciptaan alam menurut Al Qur-an.

Seandainya riwayat penciptaan alam selesai  pada  malam hari  yang  ke  6,  dan tidak menyebutkan hari ke tujuh atau Sabat waktu Tuhan  beristirahat,  atau  seandainya kita tafsirkan enam hari di Perjanjian Lama itu sebagai enam periode seperti yang  tersebut  dalam  Al  Qur-an, riwayat  Sakerdotal  tetap  tak  dapat  diterima karena urutan  periode-periode  tersebut  sangat   kontradiksi dengan dasar-dasar ilmiah yang elementer.

Dengan   begitu   maka   riwayat  Sakerdotal  merupakan konstruksi imaginatif yang lihai yang  mempunyai  suatu tujuan, dan tujuan itu bukan untuk memberitahukan suatu kebenaran.

 

Riwayat Kedua ihwal Penciptaan Semesta

Riwayat kedua  tentang  penciptaan  semesta  yang  termuat dalam  Kitab  Kejadian  sesudah riwayat pertama, dengan tanpa peralihan (transisi) dan  tanpa  komentar,  tidak menjadi   sasaran   kritik  yang  dilancarkan  terhadap riwayat pertama.

Kita harus ingat bahwa riwayat ini berasal dari periode yang  jauh lebih kuno,  kira-kira 3 abad. Riwayat ini pendek sekali, akan tetapi membicarakan juga penciptaan manusia   dan   surga  dunia  di  samping  membicarakan penciptaan bumi dan langit secara sangat singkat.

“Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika Tuhan Allah menjadikan bumi dan langit, belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebab Tuhan Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu, ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk hidup. (Kejadian 2:4-7)

Demikianlah riwayat Yahwist yang terdapat dalam Bibel  yang kita miliki sekarang. Apakah riwayat ini yang kemudian ditambah dengan riwayat Sakerdotal,   memang   dari permulaan  adalah  sangat  singkat?  Tak ada orang yang dapat mengatakan bahwa teks Yahwist  pernah  dipotong, dan  tak  ada  pula  orang  yang dapat mengatakan bahwa beberapa baris yang kita miliki  itu  merupakan  segala sesuatu yang termuat dalam teks yang lebih kuno daripada Bibel mengenai penciptaan alam.

Sesungguhnya riwayat Yahwist tersebut tidak menyebutkan terbentuknya bumi dan langit. Riwayat tersebut hanya memberi  gambaran bahwa ketika Tuhan menciptakan manusia, tak terdapat pohon-pohonan di atas bumi (belum pernah ada hujan), meskipun air yang datang dari  dalam bumi  menutupi  dataran  bumi. Teks selanjutnya memberi konfirmasi karena ayat 8 Kitab Kejadian mengatakan:  “Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; di situlah ditempatkannya manusia yang dibentuk-Nya itu.” Dengan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa pohon-pohonan tumbuh bersamaan dengan  diciptakannya  manusia. Hal ini secara ilmiah tidak benar, manusia muncul di atas bumi lama  setelah tumbuh-tumbuhan ada, walaupun kita tidak tahu berapa juta tahun perbedaan antara dua kejadian itu.

Demikianlah satu-satunya  kritik  yang  dapat   dilontarkan kepada  teks  Yahwist.  Dengan  tidak  mengatakan bahwa manusia diciptakan Tuhan bersamaan dengan diciptakannya alam  dan  bumi,  dua  hal  yang  dikatakan  oleh  teks Sakerdotal sebagai dua  hal  yang  terjadi  dalam  satu minggu,  teks  Yahwist terhindar dari kritik berat yang dilontarkan orang terhadap teks Sakerdotal.

Tahun Penciptaan Semesta Dan Tahun Munculnya Manusia Di Atas Bumi

Menurut  bahan-bahan  yang  terdapat  dalam  Perjanjian Lama,   kalender  Yahudi  menempatkan  tahun-tahun  itu secara pasti. Pertengahan kedua  tahun  1975, sama  dengan  permulaan  tahun  yang  ke  5736 penciptaan alam. Manusia yang diciptakan Tuhan beberapa hari  sesudah  terciptanya  alam,  mempunyai  usia yang sama, menurut kalender Yahudi.

Tentu saja tahun tersebut perlu dikoreksi, karena tahun Yahudi  dihitung menurut gerak bulan sedangkan kalender Barat  didasarkan  atas  tahun  matahari,  akan  tetapi koreksi  sebanyak  3 %  agar  menjadi  tepat,  tidak ada artinya. Untuk tidak meruwetkan perhitungan, lebih baik tidak  melakukan  koreksi  itu.  Yang  penting  di sini adalah soal kebenaran, maka  tidak  penting  jika  masa berjuta tahun itu berselisih 30 tahun untuk lebih dekat kepada kebenaran, marilah kita  katakan  bahwa  menurut perhitungan  Yahudi, terciptanya alam terjadi pada abad 37 SM.

Apakah yang diajukan kepada  kita  oleh  Sains  modern? Sukarlah   kiranya   untuk   menjawab  pertanyaan  yang mengenai terbentuknya alam;  yang  dapat  kita  katakan adalah  waktu  terbentuknya  sistem  matahari (solair). karena ini dapat kita  kira-kirakan  dengan  cara  yang memuaskan.   Orang  memperkirakan  bahwa  antara  waktu terciptanya  alam  dan  waktu  sekarang,  kirakira  4.5 milliar tahun. Dengan begitu dapat kita ukur perbedaan antara  kebenaran  yang  sudah  ditetapkan  oleh   ilmu pengetahuan   (dan  yang  akan  kita  bicarakan  secara panjang dalam bagian ketiga dari buku ini) dan hal-hal yang dibicarakan oleh Perjanjian Lama. Hal-hal terakhir ini adalah hasil dari penyelidikan yang teliti terhadap teks  Bibel.  Kitab  Kejadian  memberi  keterangan yang persis  mengenai  perbedaan  waktu  antara   Adam   dan Ibrahim.  Daftar tahun antara Nabi Ibrahim dan Nabi Isa tidak lengkap dan perlu dilengkapi dengan sumber-sumber lain.

Dari Adam sampai Ibrahim

Kitab Kejadian dalam pasal 4, 5, 11, 21, dan 25 memberi silsilah  nenek  moyang  Ibrahim sampai Nabi Adam dalam garis lurus, secara sangat teliti.  Dengan  menyebutkan umur  masing-masing,  umur  bapak ketika anaknya lahir, daftar  itu  memudahkan  kita  untuk  menemukan   tahun kelahiran  dan  kematian  tiap-tiap  orang  tua, sampai kepada Adam, seperti tertera dalam daftar di bawah ini.

Silsilah Nabi Adam

No

Nama

Tahun Kelahiran Pasca Penciptaan Adam

Masa Hidup

Tahun Kematian Pasca Penciptaan Adam

1

Adam                            

000

930

930

2

Seth

130

912

1042

3

Enosch

235

905

1140

4

Kenan

325

910

1235

5

Mahaleel

395

895

1290

6

Jered

460

962

1422

7

Henoe

622

365

987

8

Meluschelach

687

969

1656

9

Lemek

876

777

1653

10

Noch

1056

950

2006

11

Sem

1556

600

2156

12

Arpasehad

1658

438

2096

13

Sehelach

1693

433

2126

14

Hebeer

1723

464

2187

15

Peleg

1757

239

1996

16

Rehu

1787

239

2026

17

Serug

1819

230

2049

18

Nakhar

1849

148

1997

19

Terah

1878

205

2083

20

Ibrahim

1984

175

2123

Daftar ini disusun menurut keterangan yang berasal dari teks Sakerdotal dari Kitab Kejadian. Teks tersebut adalah satu-satunya teks yang memberi  kepastian.  Kita dapat  mengambil  kesimpulan  dari  teks tersebut bahwa Nabi Ibrahim, menurut Bibel, dilahirkan pada tahun 1948 sesudah Nabi Adam.

Ibrahim sampai awal kemunculan ajaran Kristen

Untuk periode tersebut, Bibel tidak memberi  keterangan angka-angka   yang   dapat   menyampaikan  kita  kepada evaluasi tepat  sebagaimana  kita  mendapat  keterangan mengenai nenek moyang Nabi Ibrahim dari Kitab Kejadian. Untuk  mengukur  waktu  yang  memisahkan  antara   Nabi Ibrahim  dan  Nabi  Isa, kita harus mencari bantuan dan sumber lain.

Pada waktu ini orang menempatkan  Nabi  Ibrahim  kurang lebih  18  abad  S.M.  Hal  ini jika digabungkan dengan keterangan  Kitab  Kejadian  mengenai  perbedaan  waktu antara  Nabi  Ibrahim dan Nabi Adam, akan memberi hasil bahwa Adam hidup 38 abad sebelum Nabi Isa.  Perhitungan ini  sudah  terang  salah. Kesalahannya disebabkan oleh perhitungan  Bibel  mengenai  waktu  antara  Adam   dan Ibrahim,  yaitu  perhitungan yang dijadikan dasar untuk membikin kalender Yahudi. Pada  waktu  ini  kita  dapat membantah  mereka  yang  mempertahankan kebenaran Bibel dengan menunjukkan kepincangan antara ilmu  pengetahuan modern  dengan  perkiraan  khayalan yang dilakukan oleh pendeta-pendeta   Yahudi   abad   7    S.M.;    selama berabad-abad  perkiraan pendeta tersebut selalu menjadi dasar hubungan antara zaman sejarah  kuno dengan Nabi Isa.

Bibel  yang diterbitkan sebelum zaman modern menyajikan kronologi  kejadian-kejadian  yang   terjadi   semenjak penciptaan  alam  sampai  waktu Bibel tersebut dicetak.

Kronologi tersebut biasanya  dimuat  dalam  suatu  kata pengantar  yang  mengandung  angka-angka  yang  sedikit berlain-lainan menurut waktu pencetakan Bibel tersebut.

Sebagai    contoh,   Vulgate   Clement   (tahun   1621) menempatkan Ibrahim pada  waktu  yang  lebih  kuno  dan menempatkan  penciptaan  alam  pada  abad  40 SM. Bibel Walton yang dicetak pada abad  17 menyajikan  kepada pembacanya,  suatu  tabel yang mirip dengan tabel nenek moyang Nabi Ibrahim, sebagai tambahan kepada teks dalam beberapa   bahasa;  pada  umumnya  perkiraannya  sesuai dengan angka-angka yang tersebut dalam tabel yang  kita muat.

Pada    zaman    modern,   orang   tidak   lagi   dapat mempertahankan  kronologi  khayalan  yang  bertentangan dengan   ilmu   pengetahuan  modern  yang  telah  dapat membuktikan bahwa penciptaan alam  telah  terjadi  pada waktu  yang  sangat  jauh  lebih  dahulu.  Tetapi orang merasa puas hanya dengan menghilangkan  kata  pengantar dan  tabel,  dan  tidak  berani  mengatakan kepada para pembaca tentang kelemahan  teks  Bibel  yang  dijadikan dasar  untuk  membuat  tabel,  sehingga  teks Bibel tak dapat dianggap mengatakan kebenaran. Orang  lebih  suka memasang  tabir, dan mencari cara untuk berdebat secara halus agar teks Bibel  tersebut  dapat  diterima  tanpa dikurangi.

Karena  inilah maka silsilah keturunan (genealogi) teks Sakerdotal  sampai  sekarang  masih  dihormati   orang, meskipun orang pada abad 20 ini tak dapat lagi menerima dasar-dasar khayalan.  

Mengenai tahun munculnya manusia di  atas  bumi,  hasil pengetahuan modern baru dapat memberi penjelasan sampai batas tertentu. Kita dapat merasa yakin  bahwa  manusia telah ada di atas bumi ini, dengan kekuatan berfikirnya dan   kekuatan   bertindaknya,   dua   kekuatan    yang membedakannya daripada binatang-binatang yang bentuknya hampir serupa manusia, yaitu  dalam  waktu  yang  lebih mutakhir  pada  periode yang dapat diperkirakan, tetapi tidak dengan kepastian yang mutlak.

Orang sudah dapat mengatakan sekarang bahwa bekas-bekas manusia  yang  berfikir  dan bertindak telah ditemukan, dan umur bekas-bekas  itu  dapat  diukur  dengan  jarak puluhan ribu tahun.

Penetapan  perkiraan  waktu  ini ada hubungannya dengan type manusia prasejarah yang telah diungkapkan  sebagai yang   paling   baru,  seperti  manusia  neo-Anthropien (cromagnon).  Memang  ada  bekas-bekas   lain   tentang manusia  telah  diungkapkan  di  beberapa tempat, yaitu mengenai  manusia   yang   kurang   berevolusi   (paleo Anthropies)  yang  diperkirakan  umurnya  sudah ratusan ribu tahun. Tapi apakah mereka itu betul manusia?

Bagaimanapun juga,  bukti-bukti  ilmiah  adalah  pasti, mengenai  neo-Anthropien,  mereka  adalah sebelum zaman manusia pertama yang dilukiskan  oleh  Kitab  Kejadian. Dengan   begitu   maka   terdapat  kerancuan  antara angka-angka yang tersebut dalam Kitab Kejadian mengenai munculnya  manusia  di  atas  bumi  dengan  pengetahuan ilmiah yang sudah pasti di waktu ini.

Banjir Nabi Nuh

Pasal 6, 7 dan 8 Kitab  Kejadian  mengulas riwayat  banjir.   Tepatnya,  saya katakan bahwa terdapat dua riwayat yang tidak ditulis satu di samping lainnya,  akan  tetapi  terpisah  dengan kalimat-kalimat  yang  memberi  kesan seperti adanya kesinambungan antara   berbagai-bagai  dongeng.  Akan tetapi sesungguhnya dalam tiga pasal tersebut  terdapat kontradiksi  yang  sangat mencolok. Kontradiksi tersebut dapat diterangkan dengan adanya dua sumber  yang  berlainan, yaitu sumber Yahwist dan sumber Sakerdotal.

Kita  telah  melihat  sebelum  ini  bahwa  dua  sumber tersebut membentuk suatu campuran  yang  pincang.  Tiap teks  asli  dipenggal dalam paragraf-paragraf dan kalimat-kalimat,  dengan  unsur  dari  satu  sumber berseling  dengan  unsur-unsur  dari  sumber yang lain, sehingga dalam teks Perancis, orang melompat dari  satu sumber  ke sumber yang lain tujuh belas kali, sepanjang hanya seratus baris.

Secara  keseluruhan, hikayat  banjir  adalah  sebagai berikut:

Karena   maksiat   manusia  sudah  sangat  umum,  Tuhan memutuskan    untuk     memusnahkan     manusia     dan makhluk-makhluk  hidup lainnya, Tuhan memberi tahu Nabi Nuh dan  memerintahnya  untuk  membikin  perahu,  serta membawa  muatan yang terdiri dari isterinya, tiga orang anaknya dengan  isteri-isteri  mereka,  serta  beberapa makhluk hidup lain. Mengenai makhluk-makhluk hidup ini, dua sumber berbeda.  Satu  riwayat  yang  berasal  dari sumber  Sakerdotal  mengatakan  Nuh membawa satu pasang dari tiap jenis. Kemudian  dalam  kata-kata  berikutnya (berasal  dan  sumber  Yahwist)  dikatakan  bahwa Tuhan memerintahkan mengambil 7 dari tiap-tiap  jenis  jantan dan  betina dari jenis yang suci, dan hanya satu pasang dari jenis yang tidak suci.

Akan tetapi lebih  lanjut  lagi,  dikatakan  bahwa  Nuh hanya  membawa  dalam  perahu  itu satu pasang dari setiap jenis. Ahli-ahli Perjanjian Lama seperti  R.P.  de Vaux  mengatakan  bahwa teks semacam itu merupakan teks Yahwist yang sudah dirubah.

Satu paragraf (dari sumber  Yahwist)  mengatakan  bahwa sebab  banjir  adalah  air  hujan, sedang paragraf lain (dari sumber Sakerdotal) mengatakan bahwa sebab  banjir adalah  dua  yaitu  air  hujan  dan  sumber-sumber dari tanah.

Seluruh  bumi  telah  tenggelam  sampai  diatas  puncak gunung.  Segala  kehidupan  musnah. Setelah satu tahun, Nabi Nuh keluar dari perahunya yang telah berada di atas puncak gunung Ararat setelah air bah menurun.

Di sini kita harus menambahkan bahwa lamanya banjir itu berbeda menurut sumbernya. Sumber Yahwist mengatakan 40 hari sedang sumber Sakerdotal mengatakan 50 hari.

Sumber Yahwist tidak memastikan Nabi Nuh berusia berapa ketika itu terjadi,  tetapi  sumber  Sakerdotal mengatakan  bahwa  banjir  itu  terjadi  waktu Nabi Nuh berumur 600 tahun.   

Sumber Sakerdotal juga memberi penjelasan tentang tahun terjadinya  banjir yaitu dengan tabel silsilahnya, baik dari segi Nabi Adam maupun dari segi Nabi Ibrahim. Oleh karena  menurut  perhitungan  yang dilakukan atas dasar Kitab Kejadian, Nabi Nuh dilahirkan 1056 tahun  sesudah Nabi  Adam  (silahkan  lihat  tabel  nenek  moyang dari Ibrahim) maka banjir telah terjadi 1656  tahun  sesudah lahirnya  Nabi Adam. Akan tetapi dilihat dari segi Nabi Ibrahim, Kitab Kejadian menempatkan  terjadinya  banjir pada 292 tahun sebelum lahirnya Nabi Ibrahim tersebut.

Menurut  Kitab  Kejadian, banjir mengenai seluruh jenis manusia dengan seluruh makhluk  hidup  yang  diciptakan oleh  Tuhan  telah mati di atas bumi. Kemanusiaan telah dibangun kembali, dimulai dengan tiga orang  putra  Nuh dan  isteri-isteri  mereka,  sedemikian rupa bahwa tiga abad kemudian lahirlah Nabi Ibrahim, dan  Nabi  Ibrahim mendapatkan  jenis  manusia  sudah  pulih kembali dalam kelompok-kelompok bangsa. Bagaimana  dalam  waktu  yang singkat,  jenis  manusia  dapat pulih kembali? Soal ini telah menghilangkan kepercayaan kepada  riwayat  banjir tersebut.

Di   samping   itu,   bukti-bukti  sejarah  menunjukkan ketidakserasian   riwayat    tersebut    dengan    ilmu pengetahuan   modern.   Sekarang   ini   ahli   sejarah menempatkan Nabi Ibrahim pada tahun 1800-1850 SM.  Jika banjir  telah  terjadi  3  abad  sebelum  Nabi  Ibrahim seperti yang  diterangkan  oleh  Kitab  Kejadian  dalam silsilah  keturunan para Nabi, ini berarti bahwa banjir telah terjadi pada abad 21 atau 22  SM.  Pada  waktu itu, menurut ilmu sejarah modern, di beberapa tempat di dunia ini sudah bermunculan  bermacam-inacam  peradaban yang  bekas-bekasnya  telah  sampai  kepada kita. Waktu itu, bagi  Mesir  merupakan  periode  sebelum  Kerajaan Pertengahan  (tahun 2100 SM), kira-kira zaman peralihan pertama sebelum dinasti ke sebelas. Waktu  itu,  adalah periode  dinasti  ketiga  di kota Ur atau Babylon. Kita tahu dengan pasti  bahwa  tak  ada  keterputusan  dalam kebudayaan,  jadi  tak  ada  pemusnahan  jenis  manusia seperti dikehendaki oleh Bibel.

Oleh karena itu maka  kita  tak  dapat  memandang  tiga riwayat  Bibel  sebagai menggambarkan kejadian-kejadian yang sesuai dengan kebenaran. Jika kita ingin  bersikap obyektif  kita harus mengakui bahwa teks-teks yang kita hadapi tidak merupakan pernyataan kebenaran. Mungkinkah Tuhan  memberikan  sebagai  wahyu  kecuali hal-hal yang benar? Kita tak dapat menggambarkan Tuhan yang  memberi pelajaran  kepada manusia dengan perantaraan khayal dan khayal  yang  kontradiktif.  Dengan  begitu  maka   kita terpaksa  membentuk hipotesa bahwa Bibel adalah tradisi yang secara lisan diwariskan dari suatu generasi kepada generasi  yang  lain,  atau hipotesa bahwa Bibel adalah suatu teks dari tradisi-tradisi yang sudah tetap.  Jika seseorang  mengatakan  bahwa sebuah karya seperti Kitab Kejadian telah dirubah-rubah sedikitnya dua kali selama tiga   abad,   maka   tidak   mengherankan   jika  kita mendapatkan   di dalamnya   kekeliruan-kekeliruan   atau riwayat  yang  tidak  sesuai  dengan hal-hal yang telah diungkapkan oleh kemajuan  pengetahuan  manusia,  yaitu kemajuan  yang  jika  tidak memberi ilmu tentang segala sesuatu,   sedikitnya   kemajuan   yang    memungkinkan seseorang mendapat pengetahuan yang cukup untuk menilai keserasian dengan riwayat-riwayat kuno. Tidak ada  yang lebih  logis  daripada  berpegangan  bahwa interpretasi kesalahan teks-teks Bibel itu hanya bertalian dengan manusia.  

Sangat  disayangkan,  bahwa  kebanyakan pengulas Bibel, baik orang Yahudi  maupun  orang  Kristen, tidak menerima interpretasi semacam ini.  Tetapi  walaupun begitu argumentasi mereka tetap layak untuk diperhatikan.[www.wisdoms4all.com]

 

[1] . Penerbit, W. M. Collins & Sons for the British and Foreign Bible Society.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s