Perbuatan Tuhan dan Kebebasan Manusia

Mukaddimah

kebebasan-manusia.jpgDalam pandangan para filosof dan teolog muslim, Tuhan, di samping mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, Dia juga merupakan sumber terjadinya seluruh perbuatan. Berangkat dari sini, penciptaan, pemberian rezki, pengaturan perkara-perkara makhluk, pengampunan dan sebagainya termasuk dalam kategori perbuatan-perbuatan Tuhan.[1] Dari sisi lain, alam eksistensi merupakan wadah terjadinya perbuatan-perbuatan dan manifestasi efek-efek yang sangat beraneka-macam yang sumbernya dalam tinjauan pertama, adalah makhluk-makhluk Tuhan. Dan hal ini dimulai dari shurah-shurah (forms) sederhana eksistensi, seperti materi-materi dan unsur-unsur pertama sampai shurah-shurah yang lebih rumit dari itu, seperti tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan dan manusia, yang masing-masing merupakan mabda dan sumber terealisasinya perbuatan-perbuatan dan manifestasi efek-efek khusus. Dengan demikian, eksistensi dalam tinjauan lahiriah dan pada tatara permukaan, merupakan ladang manifestasi efek-efek yang berbeda-beda dari sisi pelaku-pelaku yang bermacam-macam dan banyak.

Tetapi tinjauan ini tidak sinkron dengan pandangan tauhid Islam. Dalam pandangan tauhid Islam, hanya dzat suci Tuhan yang merupakan pengefek hakiki dan mandiri dalam alam serta selain Dia, tidak ada maujud lain selaku pelaku sempurna dan mandiri, dan ini adalah substansi tauhid perbuatan.

Dalam pandangan ini, tidak hanya Tuhan dalam melakukan perbuatan seperti penciptaan, pemberian rezki dan lain-lain adalah mandiri serta tidak butuh dari bantuan dan persekutuan yang lainnya, tetapi tidak ada satupun maujud selain dari Dia yang dalam perbuatan-perbuatannya adalah mandiri dan perbuatannya tidak menerima bentuk dari bayangan perbuatan Tuhan. Oleh sebab itu, tauhid perbuatan adalah keyakinan terhadap dua prinsip di bawah ini:

a.       Tuhan dalam merealisasikan perbuatan-Nya adalah sendiri dan tidak ada sama sekali bentuk persekutuan dan bantuan; bahkan secara asasi keberadaan sekutu bagi-Nya (dalam melakukan perbuatan) adalah mustahil;

b.       Tidak satupun maujud selain Tuhan, mandiri dalam perbuatannya dan tidak satupun perbuatan terjadi dalam alam kecuali dengan iradah dan kehendak-Nya.

Dengan demikian, konklusi makna tauhid perbuatan adalah bahwa setiap apa yang terjadi di alam semesta merupakan perbuatan Tuhan dan ini makna dari kalimat ma’ruf: ” Lâ haula walâ quwwata illâ billahi al-‘aliyyi al-‘azîm”  yang menegaskan hal tersebut.

Dampak Tauhid Perbuatan dalam Pandangan Dunia

Sebagaimana yang dapat disaksikan, keluasan tauhid perbuatan meliputi seluruh eksistensi dan memperlihatkan gambaran khusus hubungan Tuhan dengan alam; dari sisi ini maka keyakinan dan ketiadaan keyakinan terhadap prinsipilitas keyakinan ini, memberikan dampak yang dalam terhadap gambaran secara garis universal makrifat dunia dan pandangan dunia manusia.

Manusia yang meyakini tauhid perbuatan, memandang tangan Tuhan terbuka pada seluruh perkara-perkara dan dengan mata hati menyaksikan kekuasaan iradah dan kehendak Nya  dalam seluruh tempat dan ia tidak memandang sama sekali bahwa Tuhan terpisah dari suatu bagian dari bagian-bagian eksistensi. Dalam pandangan orang seperti ini, seluruh perubahan dan pergerakan eksistensi, dimulai dari pergerakan-pergerakan samawi galaksi-galaksi antariksa sampai perubahan dan gerak paling kecilnya “dzarrah” atomis, semuanya terjadi di bawah kekuasaan kehendak Tuhan dan dalam wilayah perbuatan-Nya.

Keimanan pada tauhid perbuatan, di samping berdampak atas pandangan dunia seseorang dan wilayah pemikirannya serta keyakinannya, juga memberikan pengaruh-pengaruh menakjubkan dalam wilayah amal dan perbuatan manusia dimana hal ini akan kita bahas nantinya dalam pembahasan tauhid amali (praktis). Manusia dari sudut pandang tauhid perbuatan adalah memperhatikan dirinya dan memperhatikan alam tentang dirinya,  senantiasa bertawakkal kepada Tuhan dan memohon pertolongan dari-Nya serta berpandangan bahwa tidak ada yang mustahil terjadi jika perkara itu berhubungan dengan kehendak-Nya. Ia senantiasa memohon kepada Tuhan dan ia hanya berharap kepada-Nya.

Aktivitas Kepenciptaan dalam Bayangan Aktivitas Pencipta

Tauhid perbuatan, dalam pengertiannya yang dalam, kembali kepada hakikat ini bahwa seluruh perbuatan, adalah perbuatan Tuhan dan seluruh efek, adalah efek dari dzat suci-Nya. Memikirkan makna ini, mungkin akan muncul pertanyaan-pertanyaan dalam benak; di antaranya adalah dengan penerimaan terhadap tauhid perbuatan, maka apa yang dapat diutarakan tentang aktivitas maujud-maujud lainnya? Setiap hari kita menyaksikan kenyataan ini, bahwa obyek-obyek yang berhubungan dengan kita menjadi sumber lahirnya aktivitas-aktivitas dan efek-efek khusus : api memproduksi panas dan magnet menarik lempengan besi ke arahnya; tumbuhan menghisap unsur-unsur dari tanah dan hewan bergerak dari arah sini ke arah sana dalam mencari makanan serta pada akhirnya manusia yang menjadi sumber lahirnya aktivitas yang sangat beragam dan bermacam-macam. Sekarang berasaskan pengertian tersebut apakah semua aktivitas-aktivitas dan efek-efek ini dapat dinisbahkan kepada Tuhan? Apakah harus pengaruh maujud-maujud ini dalam perbuatan-perbuatan dan efek-efek yang lahir dari mereka, semuanya diingkari begitu saja? Ataukah terdapat suatu jalan yang sesuai dengannya dapat memperlihatkan aktivitas-aktivitas pencipta (Tuhan) berada di samping aktivitas-aktivitas makhluk?

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini biasanya filosof dan teolog Islam menggunakan ungkapan tentang kepenciptaan dan kepelakuan secara vertikal. Penjelasan hal ini bahwa setiap kali dua atau beberapa obyek berpengaruh dalam terjadinya suatu perbuatan, maka hubungan di antara aktivitas mereka tidak keluar dari dua kondisi :

1.             Kepenciptaan horizontal: terkadang beberapa pelaku berserikat dalam suatu perbuatan, dalam bentuk hubungan mereka dengan perbuatan dan juga hubungan mereka satu sama lain adalah setingkat dan serupa. Sebagai contoh, terkadang beberapa orang dengan bantuan satu sama lain memindahkan benda berat dari suatu tempat ketempat lain. Dalam model ini,  kepenciptaan dari pelaku yang banyak ini, adalah kepenciptaan horizontal.

2.             Kepenciptaan vertikal: kepenciptaan ini terjadi bagi beberapa obyek yang dalam melakukan suatu pekerjaan  mempunyai  efek, tetapi efek sebagian dari mereka bergantung pada efek sebagian yang lain. Dalam hal ini pelaku langsung dapat dikatakan sebagai pelaku “bi at-tasbiib” (kepenyebaban): pelaku langsung, adalah secara langsung berpengaruh dalam perealisasian pekerjaan, tetapi kepenciptaannya dapat saja merupakan akibat dan disebabkan pelaku yang lain, karena itu disebut dengan pelaku bi at-tasbiib.

Dengan memperhatikan dua macam bentuk kepenciptaan tersebut, maka menjadi jelaslah bahwa kepenciptaan Tuhan dibandingkan dengan kepenciptaan makhluk-Nya, adalah suatu kepenciptaan vertikal. Sebagai contoh, ketika seseorang duduk atau berjalan, ia adalah pelaku langsung duduk atau berjalan; tetapi tidaklah demikian bahwa perbuatan ia secara totalitas keluar dari wilayah iradah Tuhan; akan tetapi iradah Tuhan  berhubungan terhadap ini bahwa perbuatan tersebut dari sisi orang itu menerima perealisasian; dalam bentuk bahwa jika tidak terdapat iradah Tuhan, maka  perbuatan tidak akan menerima bentuk.

Kendatipun dengan memperhatikan perbedaan kepenciptaan horizontal dan kepenciptaan vertikal sampai batas tertentu memudahkan pemahaman terhadap tauhid perbuatan, akan tetapi secara hakikat untuk mendapatkan pengetahuan yang dalam terhadap tauhid perbuatan tidaklah semudah itu. Di sini telah diusahakan dengan menyebutkan contoh dan misal dari kepenciptaan vertikal, sebagai wadah yang mempersiapkan untuk pemahaman lebih dalam terhadap prinsip keyakinan ini. Akan tetapi bahwa misal dan contoh ini berhubungan dengan alam-alam mumkin dan secara pemahaman yang  dalam tidak dapat diungkap hakikat kepenciptaan Tuhan dan pengaruh-Nya dalam alam eksistensi. Dengan kondisi ini, dengan memperhatikan misal dan contoh ini, jika disertai dengan perhatian terhadap perbedaan-perbedaan yang ada, maka dapat mendekatkan akal manusia kepada pemahaman terhadap hakikat  tersebut.

Salah satu dari contoh-contoh ini, adalah hubungan jiwa manusia dengan anggota-anggota badannya. Sebagai misal, jika  kita perhatikan pekerjaan “menulis”, pelaku langsungnya, adalah tangan kita. Tetapi adalah jelas bahwa tangan kita bukanlah pelaku yang mandiri, akan tetapi kepelakuannya bergantung kepada jiwa kita dan adalah dalam kevertikalan kepelakuan jiwa. Dengan demikian, dari satu sisi pekerjaan “menulis” dapat dinisbahkan kepada tangan sebagai pelaku langsung dan dari sisi lain dapat dipandang pekerjaan itu merupakan akibat jiwa manusia, yang kita sebut dengannya   “pekerjaan saya”; sebab ini adalah jiwa kita yang dengan keputusan dan kehendaknya menggerakkan tangan dan dengan perantaraannya alat tulis mengalirkan huruf-huruf pada lembaran-lembaran kertas.

Kepenciptaan Tuhan dan kepelakuan makhluk-makhluk, mempunyai hubungan yang serupa dengan hubungan jiwa terhadap fakultas-fakultas jiwa  dan anggota-anggota badan manusia. Suatu efek dan akibat muncul dari suatu makhluk dan dari sisi ini disandarkan kepadanya; tetapi penyandaran ini tidak mencegah bahwa dalam tataran lebih tinggi, efek tersebut disandarkan kepada Tuhan.[2]

Dari pembahasan yang telah lewat menjadi jelas bahwa pertama: antara pembatasan kepenciptaan mandiri pada Tuhan dan penyandaran sebagian perbuatan-perbuatan kepada pelaku selain Tuhan, adalah tidak bertentangan; kedua: tanpa terjadi kontradiksi, suatu pekerjaan dapat disandarkan juga kepada Tuhan dan juga kepada makhluk-makhluk-Nya. Berasaskan ini, dapat dipandang ayat-ayat dari al-Qur’an yang menisbahkan perbuatan khusus pada Tuhan dan ayat-ayat yang memperkenalkan maujud lain selain Tuhan sebagai pelaku perbuatan itu juga, adalah sesuai satu sama lain.

Dampak Perantara dalam Terjadinya Perbuatan-perbuatan Tuhan

Pertanyaan lain yang terungkap dalam wilayah ini, adalah bahwa jika Tuhan, berasaskan doktrin tauhid perbuatan, dalam perbuatan-perbuatan-Nya adalah mandiri dan bebas dari segala bentuk bantuan dan campur tangan maujud-maujud lain, mengapa sebagian perbuatan-perbuatan-Nya dilakukan-Nya dengan perantara makhluk-makhluk-Nya? Sebagai contoh, penciptaan terhitung sebagai salah satu dari perbuatan-perbuatan Tuhan; tetapi untuk penciptaan satu pohon, campur tangan benda-benda yang bermacam-macam seperti cahaya matahari, tanah, air, udara dan sebagainya diperlukan, dimana jika semuanya itu tidak ada maka selamanya tidak akan pernah mewujud suatu pohon.

Dalam menjawab pertanyaan di atas perlu diketahui terlebih dahulu bahwa perbuatan Tuhan terjadi dalam dua wilayah, atau dengan kata lain dalam dua alam:

1.       Alam metafisika: dari sisi bahwa dalam wilayah ini tidak ada berita tentang materi dan aspek-aspek material, terjadinya perbuatan Tuhan tidak tergantung pada tersiapkannya syarat-syarat dan mukaddimah-mukaddimah khusus serta dengan hanya (murni) kehendak  Tuhan, maka terjadilah perbuatan-Nya (penciptaan-Nya). Berasaskan ini, penciptaan suatu maujud mujarrad (non-materi) sama sekali tidak bergantung terhadap campur tangan sesuatu yang lain. Terkadang wilayah ini ditafsirkan  dengan alam amr.

2.       Alam fisika: aktivitas alam fisika, yang terkadang disebut dengan alam khalq (berhadapan dengan alam amr), disebabkan kehadiran materi dan benda-benda materi di sini, maka secara keseluruhan berbeda dengan alam non-materi. Di antara perbedaan-perbedaan yang ada bahwa peristiwa (terjadinya) kehendak Tuhan dalam alam materi, biasanya mendapatkan bentuk berasaskan suatu sistem khusus yang berkuasa atas alam ini. Di antara kekhususan-kekhususan sistem ini adalah bahwa benda materi, tidak akan mewujud tanpa tersiapkannya mukaddimah-mukaddimah khusus. Akan tetapi poin ini jangan sampai luput dari perhatian bahwa mukaddimah-mukaddimah tersebut, pada dasarnya berpengaruh dalam mempersiapkan alam materi untuk menerima perbuatan Tuhan dan tidak punya pengaruh terhadap kepenciptaan Tuhan. Dengan penjelasan yang lebih ilmiah, persiapan mukaddimah-mukaddimah ini adalah niscaya dari sisi bahwa ia penyebab sempurna  “qaabiliyyat” (daya terima) benda materi dan tanpa mereka, sesuatu (benda materi), tidak akan mendapatkan daya terima dan kelayakan niscaya untuk memperoleh emanasi Tuhan.[3] Dalam contoh yang diutarakan dalam teks pertanyaan, benda-benda seperti air dan tanah dan sebagainya hanya berpengaruh pada daya terima biji untuk berubah pohon dan pengaruh ini, sebagaimana yang telah disinggung, adalah kekhususan-kekhususan alam materi. Akan tetapi dalam pandangan tauhid Islam, Tuhan berasaskan hikmah-Nya, menciptakan alam materi dengan kekhususan-kekhususan dan keterbatasan-keterbatasan khususnya dan sesuai sunah-sunah takwini-Nya, memberlakukan sistem khusus terhadapnya; tetapi berlakunya sunah-sunah ini sama sekali tidak bermakna bahwa Tuhan membatasi diri-Nya pada mereka; bahkan Ia adalah “qaadir” (kuasa) setiap kali Ia berkehendak memberi pengaruh terhadap alam di atas sistem-sistem dan sunah-sunah yang berlaku serta kehendak-Nya niscaya terjadi.[4]

Dari pembahasan yang lewat menjadi jelaslah bahwa Tuhan, berasaskan hikmah-Nya yang sempurna, menguasakan sistem-sistem dan sunah-sunah umum atas alam, dalam bentuk bahwa secara tinjauan, terjadinya perbuatan Tuhan dalam kerangka kejadian sunah-sunah ini, disebutkan dengan campur tangan perkara-perkara khusus; tetapi dengan memperhatikan bahwa posisi sunah-sunah ini berada secara vertikal di bawah kehendak Tuhan dan terikat serta terkalahkan dengan kekuasaan-Nya, maka tidaklah membatasi kepenciptaan Tuhan dan tidaklah menyalahi tauhid perbuatan.

Tauhid Perbuatan dan Ikhtiar Manusia

Satu lagi dari pertanyaan-pertanyaan sangat penting yang diuraikan dalam bab tauhid perbuatan, adalah hubungan asas ini dengan ikhtiyar manusia. Berasaskan tauhid perbuatan, setiap perbuatan yang mengambil bentuk dalam alam, disandarkan kepada Tuhan. Oleh karena itu, perbuatan-perbuatan “maujud bebas” seperti manusia juga harus disandarkan kepada Tuhan. Sekarang pertanyaan ini akan terlontarkan bahwa jika perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan, apakah masih tersisa lagi tempat bagi ikhtiar manusia?

Pertanyaan ini yang pada dasarnya kembali pada kejelasan hubungan tauhid perbuatan dengan kebebasan manusia, sudah diutarakan sejak dahulu. Ketiadaan taufik dalam memahami hubungan ini secara sahih, menjebak dua bentuk pemutusan pandangan yang tidak benar di antara teolog muslim: dari satu sisi, Asy’ariah memandang bahwa tauhid perbuatan dengan kebebasan manusia merupakan dua hal yang tidak sinkron, mereka berkeyakinan bahwa perbuatan-perbuatan manusia adalah makhluk-makhluk Tuhan dan dalam peristiwa kejadiannya, tidak ada peran serta iradah dan kebebasan (ikhtiar) manusia, dan dari sisi lain, Mu’tazilah tidak memandang bahwa tauhid perbuatan berlaku dalam wilayah perbuatan kebebasan manusia, dengan pandangan ini mereka berkeyakinan bahwa Tuhan menyerahkan sepenuhnya perbuatan tersebut kepada manusia dan tidak punya pengaruh dan campur tangan sama sekali di dalamnya.

Sebagaimana yang terlihat, pandangan kaum Asy’ari adalah suatu bentuk “jabr” (determinisme), dan pandangan kaum Mu’tazilah adalah suatu bentuk ungkapan “tafwiidh” (pendelegasian penuh), keduanya muncul dari pergeseran pemahaman terhadap hubungan kepenciptaan Tuhan dengan kepelakuan maujud-maujud “mukhtaar” (yang memiliki ikhtiar). Kami sedikit banyaknya telah membahas masalah ini dalam bentuk yang luas dalam bahasan “determinisme (jabr) dan freewill (ikhtiar)”. Disebutkan pada kesempatan tersebut bahwa para teolog Imamiyyah dengan naungan pengajaran-pengajaran yang tinggi dari Ahlulbait As, telah berhasil dengan jalan rasional, mendudukkan dua prinsip ini yakni tauhid perbuatan dan ikhtiar manusia secara berdampingan; dalam bentuk bahwa tidak membatasi  wilayah tauhid perbuatan  dan tidak juga berakhir pada penegasian ikhtiar manusia.

Dalil atas Tauhid Perbuatan

Sesudah makna tauhid perbuatan dijelaskan dan sebagian dari pertanyaan-pertanyaan seputar masalah ini  diuraikan, sekarang kita harus buktikan bagian dari tauhid teoritis ini. Menurut tinjauan bahwa dengan ketelitian yang seksama terhadap sifat-sifat kesempurnaan Tuhan dari satu sisi dan perenungan terhadap hubungan alam eksistensi dengan penciptanya dari sisi lain, dengan mudah tauhid perbuatan dapat dibuktikan. Tauhid dalam perbuatan, pada dasarnya dapat dikembalikan kepada dua klaim:

1.       Mustahil Tuhan dalam melakukan perbuatan-Nya mempunyai sekutu dan rekan.

2.       Tidak ada satupun dari maujud-maujud alam adalah pelaku mandiri; akan tetapi seluruh perbuatan dan karya mereka, pada tingkatan yang lebih atas, disandarkan kepada Tuhan.

Untuk membuktikan klaim pertama, adalah cukup dengan memperhatikan pada sifat-sifat kesempurnaan Tuhan. Dalam pembahasan sebelumnya telah jelas bahwa Tuhan, adalah wajibul wujud dan sempurna mutlak serta tidak ada jalan sama sekali bagi kekurangan dan keterbatasan dalam dzat-Nya. Dari sisi lain, adalah gamblang dan terang bahwa asumsi Tuhan butuh pada maujud lain (dalam melakukan pekerjaan-Nya), tidak sesuai dengan kesempurnaan mutlak-Nya; sebab akal menghukumi bahwa maujud yang dalam perbuatannya butuh kepada yang lain, dibandingkan terhadap maujud yang tidak butuh yang demikian ini, adalah cacat dan sarat dengan kekurangan. Oleh sebab itu, keniscayaan asumsi kemitraan maujud lain dalam terjadinya perbuatan Tuhan, meniscayakan kekurangan dan keterbatasan dzat Tuhan dan ini tidak sesuai dengan kesempurnaan mutlak Tuhan.

Untuk membuktikan klaim kedua juga dengan perantara hubungan wujud-wujud mumkin dengan dzat wajibul wujud, dapat diungkapkan:

a)            Sebagaimana sebelumnya sudah jelas bahwa Tuhan adalah penyebab seluruh sebab-sebab dan maujud-maujud lainnya, semuanya adalah akibat-Nya.

b)            Berasaskan makna yang dalam tentang sebab, apa yang bergantung terhadap sebab, adalah totalitas eksistensi akibat dan dengan ungkapan yang lebih akurat, akibat, adalah identik dengan kebergantungan kepada sebab.

c)             Perbuatan suatu wujud, pada dasarnya merupakan efek wujud tersebut dan merupakan hal-hal yang menyertainya dan bergantung padanya.

Dengan memperhatikan mukaddimah-mukaddimah tersebut di atas maka menjadi jelaslah bahwa maujud-maujud mumkin, sebagaimana secara kehakikian wujud (principality of existence) bergantung kepada Wajibul Wujud (causa prima), dalam perbuatan-perbuatan mereka juga tidak mempunyai kemandirian; sebab perbuatan-perbuatan mereka bukanlah sesuatu kecuali efek-efek dzat mereka. Kesimpulannya, sebagaimana maujud-maujud kontingen (mumkin) di dalam asas kehakikian wujud adalah tidak mandiri dari wajibul wujud, maka dalam perbuatan-perbuatan dan efek-efeknya juga adalah bergantung dan tidak mandiri.

Dengan demikian telah terbukti bahwa pertama: Tuhan dalam perbuatan-perbuatan-Nya adalah tidak butuh dari bantuan dan rekanan, dan kedua: tidak ada satupun  maujud selain Ia dalam merealisasikan pekerjaan dan menciptakan efek-efeknya adalah mandiri.[www.wisdoms4all.com]

  

 

[1] . Masalah tentang apa hakikat perbuatan Tuhan, adalah suatu bahasan yang sangat dalam dan rumit yang pengungkapannya keluar dari kerangka pembahasan kitab ini.

[2] . Tapi tidak boleh dilupakan perbedaan mendasar missal ini dengan bahasan kita. Dalam misal ini, tangan, anggota badan yang tidak mempunya kesadaran dan kehendak; padahal dalam bahasan kita, manusia (sebagai pelaku langsung) adalah maujud yang berkesadaran dan berkehendak.

[3] . Sebagai tafsiran dari para filosof, dalam masalah ini, kepelakuan pelaku adalah sempurna; tetapi daya terima penerima adalah bergantung atas terealisasinya syarat-syarat khusus.

[4] . Dalam pembahasan mukjizat (dalam jilid 2) kami akan teliti dan bahas masalah ini  secara detail

About these ads

One comment on “Perbuatan Tuhan dan Kebebasan Manusia

  1. saya merasa lebih mudah katika saya menemukan bahan-bahan ini untuk banyak mengetahui wawasan tentang agama, disitus ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s