Fenomena Semesta [tidak] Azali dan Abadi

Lima kelompok penentang Islam datang ke Madinah untuk berjumpa dengan Nabi Saw. Lima kelompok itu terdiri dari lima orang dan keseluruhannya adalah 25 orang, sepakat dan seia-sekata menghadap Nabi Saw untuk berdiskusi dan berdialog. Kelima kelompok ini adalah: Yahudi, Kristen, Materialis, Manikaenism dan Penyembah berhala.

Mereka mengitari Nabi Saw dan Nabi dengan gembira menyambut kedatangan mereka. Nabi Saw mempersilahkan mereka memulai dialog tersebut.

Kelompok Materialis berkata: “Kami meyakini bahwa fenomena yang terjadi di alam semesta tidak memiliki permulan (azali) dan tidak akhir (abadi). Menurut kami, alam semesta ini senantiasa ada dan qadim (tidak huduts). Kami datang kemari untuk membahas persoalan ini, apabila Anda sepakat dengan kami maka jelas bahwa keyakinan kami yang unggul dan sekiranya tidak demikian, kami akan menentang keyakinan Anda.”

Nabi Saw menatap mereka dan berkata: “Apakah Anda meyakini bahwa fenemona semesta tidak berpermulaan dan abadi senantiasa ada?”

Kelompok Materialis berkata: “Iya beginlah keyakinan kami. Lantaran kami melihat tidak ada permulaan bagi alam semesta ini, dan demikian juga kami tidak melihat kefanaan dan akhir darinya. Kami menghukumi bahwa fenomena (segala kejadian) yang terjadi di alam semesta ini senantiasa ada dan demikian seterusnya.

Nabi Saw: “Saya ingin bertanya kepada Anda dari sudut pandang lain, apakah Anda pernah melihat keazalian dan keabadian setiap benda di alam semesta ini?” Apabila kalian berkata telah melihatnya, maka akal, pikiran dan energi badan yang kita miliki ini harus senantiasa azali dan abadi sehingga kalian dapat melihat keazalian dan keabadian seluruh maujud, dan klaim seperti ini bertolak belakang dengan kenyataan faktual dan seluruh orang-orang berakal akan mendustakan klaim kalian ini.”

Kelompok Materialis: “Kami tidak mengklaim demikian bahwa kami melihat keazalian dan keabadian seluruh maujud.”

Nabi Saw: “Kalau demikian adanya, Anda jangan menilai dari satu sisi saja, karena dengan pengakuan Anda sendiri, kalian tidak pernah melihat keazalian maujud juga tidak pernah melihat keabadiannya, lalu bagaimana kalian, dengan melihat satu sisi saja, membuat kesimpulan dan berkata karena kami tidak melihat keabadian dan keazalian maujud, maka seluruh maujud dan fenomena yang ada adalah azali dan abadi?

Kemudian Nabi Saw, sembari mencela keyakinan mereka, menetapkan bahwa seluruh fenomena adalah hadis (tercipta), bersabda: “Apakah kalian melihat siang dan malam yang senantiasa saling bergilir satu dengan yang lain?

Kelompok Materialis: “Iya.”

Nabi Saw: “Apakah kalian melihat siang dan malam sedemikian sehingga keduanya senantiasa ada semenjak dulu dan akan senantiasa ada?”

Kelompok Materialis: “Iya.”

Nabi Saw: “Menurut Anda apakah ada kemungkinan siang dan malam berkumpul pada satu tempat? Mekanisme perputarannya tidak berjalan sebagaiman mestinya?”

Kelompok Materialis: “Tidak.”

Nabi Saw: “Kalau demikian adanya keduanya terpisah satu dengan yang lain, ketika giliran salah satunya selesai, berpindah giliran kepada yang lain?”

Kelompok Materialis: “Iya demikianlah adanya.”

Nabi Saw: “Kalian sesuai dengan pengakuan kalian sendiri, sampai pada kesimpulan tentang terciptanya pergiliran siang dan malam tanpa kalian melihatnya, oleh karena itu kalian jangan mengingkari kekuasaan Tuhan.”[1]

Kemudian Nabi Saw demikian melanjutkan: “Apakah sesuai dengan keyakinan Anda, siang dan malam tidak memiliki permulaaan (azali, qadim) atau memiliki permulaan (hadis)? Apabila kalian berkata memiliki permulaan maka hal itu merupakan bukti bagi kehudusan fenomena semesta. Dan apabila kalian berkata tidak memiliki permulaan maka perkataan ini meniscayakan sesuatu yang tidak memiliki akhir, tidak memiliki permulaan. Ketika siang dan malam dari sisi akhir terbatas, akal sehat berkata dari sisi akhir juga akan terbatas. Dalil keterbatasan akhir siang dan malam adalah keduanya terpisah (bergilir) satu dari yang lain.”

Lalu Nabi Saw kemudian bersabda lagi: “Kalian berkata, Alam semesta adalah qadim (azali), apakah kalian memahami keyakinan ini atau tidak?”

Mereka berkata: “Iya, kami memahami apa yang kami katakan.”

Nabi Saw: “Apakah Anda melihat bahwa seluruh maujud di alam semesta ini satu dengan yang lain saling bertautan dan dalam keberadaan mereka saling memerlukan, sebagaimana kita melihat pada satu bangunan, bagian-bagianya (batu, semen, cat, tanah) masing-masing saling bertaut dan untuk bertahan saling memerlukan satu dengan yang lain. Tatkala seluruh bagian alam semesta demikian adanya, bagaimana mungkin kita memandangnya sebagai sesuatu yang qadim dan tetap.[2] Apabila bagian-bagian ini, yang saling membutuhkan, qadim, bagaimana sekiranya ia hadis?”

Mendengar jawaban argumentatif dan logis ini, kelompok Materialis itu diam seribu bahasa. Dan mereka tidak mampu menjelaskan makna dan efek hadis (tercipta) itu, karena setiap saat mereka ingin memaknai huduts itu, mau tidak mau mereka mengaplikasikannya pada maujud yang menurut keyakinan mereka qadim. Dengan demikian argumen-argumen mereka gugur dan berkata: “Izinkan kami untuk meneliti dan memikirkan masalah ini lebih dalam.”[3]&[4]   

[ www.wisdoms4all.com/ind ]

 

 

 

 

 


 


[1] . Dengan ungkapan yang lebih jelas bahwa dengan memperhatikan terpisahnya siang dan malam, setelah masing-masing gilirannya telah usai, awal dan kemudian munculnya menandakan bahwa keduanya merupakan fenomena yang tercipta (tiada kemudian ada).

[2]. Saling membutuhkannya seluruh maujud di alam semesta ini menandakan bahwa ia hadis.

[3]. Dari ekspostulasi (ihtijaj) ini kita dapat mengambil beberapa keseimpulan. Pertama berdasarkan kaidah bahwa “‘Adam wijdan, laa yadullu ila ‘adamil wujud.” (Tidak dijumpainya sesuatu tidak menandakan bahwa ia tidak ada). Tidak disaksikannya hudutsnya (terciptanya) sebuah fenomena tidak menjadi dalil atas keazaliannya. Demikian juga tidak disaksikannya fananya (musnahnya) sesuatu tidak dapat menjadi dalil atas keabadiannya. Kedua, boleh jadi kita berargumentasi dari kehudusan actual (yang kini terjadi) kehudusan ghaib, seperti kehudusan aktual siang dan malam yang menceritakan kehudusan masa lalunya dan sekaligus masa datangnya. Keempat, hukum keterbatasan hudus. Keempat, kebutuhan seluruh maujud terhadap satu dengan yang lain menandakan kehudusannya. Lantaran mustahil sesuatu yang qadim memerlukan kepada yang lain.

[4] . Ihtijaj, Thabarsi, hal. 27, 34-38.

 

About these ads

One comment on “Fenomena Semesta [tidak] Azali dan Abadi

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s