Jibril hanya mendatangi dan mengunjungi Rasulullah tatkala ia turun menyampaikan wahyu; karena dalam banyak hal kita jumpai dalam riwayat misalnya Rasulullah Saw tengah sibuk melakukan sebuah pekerjaan kemudian Jibril turun mendatanginya. Hal ini dapat dijadikan sebagai dalil bahwa Jibril tidak senantiasa bersama Rasulullah Saw pada setiap keadaan, sekiranya Jibril senantiasa bersama Rasulullah Saw maka makna nuzûl (turun) tidak akan berguna; karena nuzûl (turun) bermakna turunnya seseorang dari tingkatan yang lebih tinggi ke tingkatan yang lebih rendah dan apabila Jibril senantiasa bersama Rasulullah Saw maka tentu saja nuzûl ini tidak akan memiliki makna. Jibril bersama atau tidak bersama Rasulullah Saw tidak berpengaruh pada unsur kemanusiaan Rasulullah Saw. Bukankah Jibril adalah pembawa wahyu bagi Rasulullah Saw? Lantas keniscayaan dan kemestian apa yang terdapat pada penyertaan Jibril dan (karena penyertaan Jibril maka) Rasulullah Saw dipandang sebagai malaikat? Lanjutkan membaca..