Urgensi Kehadiran Nabi dan Rasul

Persoalan yang paling mendasar sehubungan dengan masalah kenabian adalah apa tujuan Tuhan mengutus para nabi dan rasul kepada umat manusia di muka bumi ini?    Sebagai mukadimah perlu diketahui bahwa Tuhan mengutus dua bentuk rasul kepada umat manusia. Yang pertama adalah rasul yang bersifat lahiriyah, yaitu berupa para rasul dan para nabi yang diutus Tuhan untuk memberikan bimbingan langsung kepada seluruh umat manusia.

Rasul Tuhan yang kedua adalah rasul batin, yaitu akal pikiran. Karena tanpa akal, kita tidak akan bisa menerima ajaran, petunjuk, dan syariat yang bersumber dari para rasul lahiriah tersebut. Sebelum Tuhan menurunkan berbagai kewajiban dan amanah kepada segenap hamba-Nya, baik yang berupa perintah maupun larangan, terlebih dahulu Tuhan menurunkan hujjah-Nya kepada umat manusia, yaitu hujjah yang berupa akal pikiran.

Tujuan hakiki pemberian akal pikiran atau rasul batin kepada semua manusia ini adalah mereka dapat menerima kedatangan hujjah lahir yang berupa nabi dan rasul.

Sehubungan dengan masalah kenabian ini, barangkali kita bertanya, masih perlukah kita seorang rasul? Bukankah Tuhan telah memberikan kita akal pikiran sebagai rasul batin-Nya? Apakah akal pikiran kita tidak cukup untuk mencapai kesempurnaan insani, kebahagiaan di dunia, dan kebahagiaan hakiki di akhirat kelak? Apakah ilmu pengetahuan yang begitu maju dan modern tidak cukup menjamin manusia untuk meraih kebahagiaan lahir dan batin?

Untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin, di dunia dan di akhirat, tidak cukup hanya mengandalkan akal pikiran. Tanpa bimbingan dan petunjuk seorang rasul dan nabi umat manusia tak akan bisa mencapai kesempurnaan insani. Dengan kata lain, walaupun ilmu pengetahuan sudah begitu maju dan pesat, berbagai sarana dan peralatan telah dibuat dengan sangat canggih dan modern, akan tetapi umat manusia masih tetap memerlukan seorang nabi atau pelanjut risalahnya untuk membimbing dan menuntun mereka, untuk menjelaskan ajaran dan syariat yang bersumber dari Tuhan. Karena, akal manusia sangat terbatas jangkauannya untuk memahami ajaran Tuhan. Apabila kita perhatikan bahwa semakin maju ilmu dan pengetahun manusia, semakin canggih dan modern sarana yang mereka buat, justru kondisi mereka semakin tidak karuan, terjadi pertikaian sesama umat manusia, pembunuhan, pencurian, perampokan, dan peperangan yang terjadi di banyak tempat dan negara. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak cukup hanya dengan ilmu pengetahuannya dan berbagai sarana dan alat-alat yang canggih dan modern sekalipun.

Undang-undang apapun yang dibuat oleh manusia untuk mengatur perdamaian, ketentraman, dan hidup berdampingan dengan bahagia, tidak akan cukup kecuali diutus seorang rasul dan nabi dari sisi Tuhan.

Kalau boleh diumpamakan bahwa akal kita ini seperti lampu yang mempunyai kekuatan 5 watt. Lampu yang hanya memiliki kekuatan 5 watt itu paling-paling hanya bisa menerangi satu ruangan saja. Atau katakanlah, akal kita seperti lampu yang memiliki daya 50 watt atau 100 watt ataupun 1000 watt. Sebanyak dan setinggi daya sebuah lampu, tetap masih terbatas menerangi lingkungan dan ruangan yang sangat terbatas. Sebuah lampu, setinggi apapun dayanya, tidak akan mampu menerangi areal yang luasnya sekampung ini, apalagi sejagad raya ini. Ketika kita memerlukan penerangan yang lebih jauh dan luas, kita tidak mungkin menggunakan lampu yang dayanya hanya 50 watt. Untuk menerangi sebuah negara ini, atau beberapa negara, atau untuk menerangi muka bumi ini, kita memerlukan sinar matahari. Jadi bukan lagi lampu yang memili daya 1000 watt.

Nah, akal pikiran kita seperti lampu yang paling tinggi memiliki daya dan kekuatan 1000 watt tersebut. Tetapi seorang rasul atau nabi yang mempunyai peran dan tugas sebagai pembimbing, sebagai penuntun umat manusia, dan penjelas syariat Islam serta undang-undang dan hukum-hukum yang datang dari Tuhan, bagaikan sinar matahari yang tidak seorang pun yang tidak membutuhkannya. Semua umat manusia, bahkan seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini, memerlukan sinar matahari. Tanpa kehadiran sinar matahari, kita tidak akan bisa bekerja, dan kita senantiasa berada dalam kegelapan.

Dengan demikian, seorang rasul atau nabi itu, bagaikan sinar matahari yang menerangi seluruh alam ini. Dan tanpa sinar matahari, kita berada dalam kegelapan dan kita tidak dapat menjalani aktivitas sehari-hari. Tanpa penerangan sinar matahari, kita akan tersesat dan terjerumus ke dalam lembah yang curam. Kita memerlukan adanya seorang nabi, rasul, dan para Imam sebagai penerusnya, dan adanya para ulama yang bertugas membimbing umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Karena, akal sangat terbatas dan ilmu sangat sedikit, maka kita memerlukan adanya keteladanan, suri teladan, dan contoh dari seorang rasul, nabi, dan imam yang akan mempraktikkan segala perbuatan baik di dunia ini secara terperinci.

Oleh karena itu, tujuan kehadiran seorang rasul, nabi, dan para Imam serta para ulama di tengah-tengah umat manusia adalah untuk memberikan contoh dan suri tauladan yang baik kepada umat manusia agar amal perbuatan mereka itu dapat ditiru. Gerak-gerik mereka, perbuatan, ucapan, dan seluruh kehidupan mereka merupakan contoh buat seluruh umat manusia.

Sejarah mencatat bahwa telah diutus seorang rasul atau nabi, misalnya Nabi Muhammad Saw yang diutus kepada umatnya, di samping sebagai penjelas dan penerang al-Quran dan syariat Tuhan, beliau juga memberikan contoh kepada seluruh umatnya. Tuhan berfirman di dalam kitab suci al-Quran surat al-Ahzab ayat 33, “Sesungguhnya kehadiran seorang rasul, seorang utusan Tuhan di tengah-tengah kalian, adalah sebagai suri tauladan dan contoh yang baik bagi orang-orang yang ingin berjumpa dengan Tuhan dan hari akhirat dan banyak mengingat Tuhan.”

Dari ayat al-Quran ini bisa dipahami bahwa orang-orang yang tak menginginkan keselamatan dan kebahagiaan, bahkan menginginkan kesengsaraan di dunia dan di akhirat, tentu mereka tidak akan mau mencontohi rasul, tidak akan mau meneladani para Imam, dan para ulama yang shaleh.

Dengan demikian, kesimpulan yang dapat kita ambil dari uraian di atas adalah bahwa kita tetap memerlukan adanya seorang nabi atau rasul. Karena akal pikiran kita sangat terbatas untuk bisa memahami segala hakikat secara mendetail.

Setelah dipahami dan diyakini perlunya utusan seorang nabi atau rasul sebagai pembimbing, kemudian bagaimana Tuhan memilih para nabi-Nya dan rasul-Nya?

Tuhan memiilih pembimbing umat manusia dengan ilmu-Nya yang esensial. Mereka adalah orang-orang yang akan menepati janji dan mampu menjalani berbagai ujian Ilahi serta siap menyampaikan risalah Tuhan dengan jujur dan setulus hati. Jadi, sebelum mereka ditetapkan dan diangkat oleh Tuhan sebagai nabi atau sebagai rasul, Tuhan telah  mengetahui bahwa mereka akan menepati janji mereka, menjalankan semua perintah Tuhan, dan akan meninggalkan semua larangan-Nya. Jadi, melalui ujian-ujian itu dan dengan ikhtiar mereka, dengan kemauan, dan kesungguhan yang tinggi, mereka meraih kedudukan yang begitu mulia dan tinggi di sisi Tuhan.

Tuhan memilih para pelanjut risalah Nabi Muhammad Saw. ketika mereka menepati janji mereka dengan ikhtiar, dengan kehendak dan kemauan mereka, dan mereka dengan penuh kesabaran menerima dan menjalani  berbagai ujian dari Tuhan, maka ketika mereka lulus, mereka dipilih menjadi manusia yang sangat mulia dan utama di sisi Tuhan.

Tuhan memberikan syarat-syarat yang amat ketat kepada mereka, yaitu bersifat zuhud di dalam kehidupan dunia yang rendah ini dan di dalam semua kehidupan mereka, menjalankan semua perintah Tuhan, menjauhi semua larangan-Nya, meninggalkan yang mubah dan makruh.

Kesimpulannya adalah para nabi, rasul, dan para pelanjutnya, telah dipilih oleh Tuhan dengan seleksi yang ketat, dan Tuhan mengetahui siapa-siapa yang menaati dan memenuhi janji-Nya itu. Kebanyakan dari manusia tidak dipilih oleh Tuhan untuk mengemban tugas berat tersebut. Kita misalnya, tidak termasuk orang-orang pilihan yang sangat mulia itu. Kita tidak terpilih menjadi nabi, rasul, dan Imam karena Tuhan tahu bahwa kita tidak akan kuat menerima berbagai ujian berat dari-Nya. Kita tidak mampu menyampaikan risalah Tuhan kepada umat, karena itu kita tidak terpilih.

Perlu diketahui bahwa untuk mencapai derajat kenabian yang bersifat umum (an-nubûwwah al-‘âmmah), pintu dan kesempatan itu senantiasa terbuka bagi umat manusia tanpa terkecuali. Yang ditutup hanyalah an-nubûwwah at-tasyri’iyah, yakni kenabian yang bersifat utusan resmi Tuhan dalam menyampaikan agama dan syariat-Nya. Syariat dan agama resmi tidak dihadirkan lagi kepada siapa pun, karena telah ditutup oleh Tuhan dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw.

Jadi, an-nubûwwah al-‘âmmah ini tidak pernah tertutup hingga hari kiamat, ia terbuka untuk siapapun yang mempunyai kemauan tinggi dan potensi untuk mencapainya.

Dalam riwayat dijelaskan bahwa ujian yang paling berat adalah ujian para nabi dan rasul, kemudian ujian orang-orang setelahnya, sampai pada peringkat yang lebih rendah. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tinggi imannya, semakin banyak ibadahnya, dan lebih taat dan pasrah dalam menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya, maka semakin tinggi pula ujiannya. Karena dengan ujian-ujian itu, imannya akan meningkat, begitu pula kedekatan dan taqarrub-nya kepada Tuhan.

Para nabi dan rasul adalah utusan dan duta-duta Tuhan untuk membimbing umat manusia dan menyampaikan pesan-pesan dari Tuhan kepada mereka. Kalau boleh saya umpamakan bahwa para nabi dan rasul itu, sebagaimana para duta besar yang diutus oleh seorang Presiden ke berbagai negara yang diberi tugas menyampaikan pesan-pesannya dan membimbing masyarakat yang tinggal di negara yang bersangkutan. Seorang Presiden dalam memilih duta-dutanya sangat ketat. Ia memilih mereka dengan pengetahuan yang cermat. Dan mereka yang terpilih, tentunya orang-orang yang telah memenuhi beberapa persyaratan yang sangat ketat.  Demikian halnya dengan orang-orang yang dipilih oleh Tuhan sebagai nabi dan rasul-Nya. Jadi, sebagaimana tidak semua orang itu berhak menjadi nabi dan rasul, maka demikianlah, tidak semua orang berhak menjadi duta besar suatu Negara.

Telah jelaskan bahwa tugas dan kewajiban para nabi dan rasul adalah untuk membimbing umat manusia menuju jalan lurus dan  menghantarkan mereka kepada kebahagiaan yang kekal-abadi dan lahir-batin. Tugas dan tujuan lainnya adalah untuk mensucikan umat manusia dari akhlak yang buruk dan adat istiadat yang merusak. Tanpa adanya bimbingan dari para nabi, para rasul, dan para Imam, maka akhlak umat manusia seperti binatang dan adat istiadat mereka menjadi rusak.

Perlu diketahui bahwa kita sekarang ini sedang berjalan menuju kepada kesempurnaan insaniah. Dengan kata lain, kita sedang berusaha mencapai kebahagiaan akhirat yang abadi. Atau lebih tinggi lagi, kita tengah berusaha untuk mencapai taqarrub dan kedekatan kepada Tuhan dengan mencapai ridha-Nya. Hanya dengan bantuan Rasul, para Imam, dan para ulama kita bisa mencapai derajat yang tinggi di sisi Tuhan, di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Jadi, cara memperoleh kebahagiaan yang sejati dan abadi di dunia dan di akhirat, di samping dengan akal pikiran juga utusan rasul, nabi, Imam, dan ulama yang adil.

Sehubungan dengan masalah penentuan dan pemilihan seorang rasul atau nabi, dari  penjelasan di atas dapat dipahami bahwa  umat manusia itu tidak berhak sama sekali untuk memilih dan menentukan seorang nabi. Karena mereka tidak akan mampu. Dengan demikian, maka tidak seorang pun yang berhak menolak kehadiran seorang rasul atau nabi yang telah dipilih oleh Tuhan. Dan tidak seorang pun berhak untuk menolak segala syariat dan hukum-hukum yang dibawa oleh mereka itu. Karena kedatangan dan kehadiran mereka di tengah-tengah uamat manusia, demi kebaikan, kemaslahatan, dan kebahagiaan mereka sendiri. Oleh karena itu, mereka harus kita terima, mengikuti, dan mengamalkan ajarannya dengan bimbingan mereka. Apabila hal ini dikerjakan dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka pasti akan selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat kelak.

Perbedaan Nabi dan Rasul

Masalah lain yang perlu disinggung sehubungan dengan masalah kenabian ini adalah tentang perbedaan antara nabi dan rasul.

Ada beberapa pandangan mengenai perbedaan antara nabi dan rasul. Di antaranya dikatakan bahwa nabi itu lebih umum daripada rasul. Karena nabi itu tidak mempunyai kitab samawi tertentu, tetapi rasul itu mempunyai kitab tertentu, seperti al-Quran, Taurat, Zabur dan Injil. Dengan kata lain ada titik persamaan antara nabi dan rasul, yaitu sama-sama ditugaskan untuk menyampaikan hukum-hukum dan syariat Tuhan kepada umat manusia dan membimbing mereka kepada akhlak yang baik serta mengatur urusan mereka baik politik, ekonomi maupun sosial. Perbedaannya hanyalah bahwa nabi itu tidak memiliiki  kitab samawi tertentu, sementara rasul itu memiliki kitab samawai tertentu. 

Tetapi pandangan yang tepat menurut Ali Ghulbayghani adalah bahwa sesuai dengan ayat-ayat al-Quran yang menggunakan kata nabi dan rasul, bahwa  nabi itu adalah utusan Tuhan yang berupa manusia, tetapi rasul itu adalah utusan Tuhan yang bisa jadi bukan berupa manusia saja, artinya bisa jadi berupa malaikat, angina, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, bahwa rasul itu lebih umum sifatnya dibandingkan dengan nabi. Misalnya dalam firman Tuhan surat Yunus ayat 21 terdapat kata “rusulunâ” yang diartikan sebagai “para malaikat”, bukan rasul dari jenis manusia. Dengan demikian ayat tersebut berarti, “Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami menuliskan tipu dayamu.”[1]

Urgensi Kehadiran Nabi dan Rasul

Di dalam kitab yang sama, Ali Ghulpayghani menjelasakan beberapa urgensi diutusnya para nabi dan rasul sebagai berikut: 

1.    Menjustisikasi ilmu dan pengetahuan yang dicapai oleh akal pikiran manusia. Misalnya, pengetahuan manusia tentang adanya Sang Pencipta alam semesta ini, tentang sifat-sifat-Nya yang baik dan suci dari segala kekurangan. Artinya manusia dengan akal pikirannya itu mampu memahami bahwa alam semesta ini memiliki pencipta yang memiliki sifat-sifat sempurna dan suci dari segala kekurangan. Diutusnya rasul atau nabi, hanyalah untuk mengokohkan pengetahuan mereka tersebut.

2.    Menyampaikan dan menjelaskan hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia. Misalnya, masalah alam kubur atau alam barzakh, tentang surga, neraka, situasi dan kondisi hari kiamat, dan lain sebagainya. Hal-hal ini tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran kita. Oleh karena itu, diutuslah rasul atau nabi untuk menjelaskan itu semua.

3.    Nabi atau rasul diutus untuk menghilangkan perasaan takut yang ada pada manusia. Yakni, ketika seseorang itu memahami bahwa dirinya dan semua urusannya itu milik Tuhan serta di bawah penguasaan-Nya, dan juga menyadari bahwa dirinya itu adalah hamba Tuhan, maka akalnya memahami bahwa ia tidak boleh berbuat sembarangan di dalam dunia ini kecuali dengan izin Tuhannya. Namun, ketika orang ini “merasa” bahwa sikap dan perbuatannya tidak diridhai oleh Tuhan, artinya ia merasa khawatir atas sikap dan perbuatannya tersebut. Kemudian Tuhan mengutus nabi atau rasul-Nya untuk menjelaskan mana perbuatan yang dilarang dan diridhai oleh Tuhan. Dengan adanya penjelasan nabi atau rasul itu, maka sirnalah rasa khawatirnya. Karena apa yang ia lakukan -misalnya-  sesuai dengan ketentuan-ketentuan Tuhan.

4.    Menjelaskan kepada umat manusia tentang perintah, larangan, manfaat, maslahat, dan mudharat suatu perbuatan, dimana akal manusia tidak dapat menjangkau hakikat perbuatan tersebut. Misalnya, berpuasa di bulan Ramadhan, perintah melaksanakan shalat lima kali dalam sehari, perintah melakukan haji bagi yang mampu, tentang larangan berbuat zina, mencuri, berdusta, dan lain sebagainya.

Sesungguhnya akal manusia, betapa pun maju dan tingginya, tidak akan mampu memahami rahasia di balik amal-amal ibadah dan berbagai larangan di dalam syariat tersebut.

Mengajarkan dan membimbing manusia mencapai akhlak dan budi pekerti yang mulia, masalah-masalah politik, mengelolah negara dan pemerintahan, bagaimana bermasyarakat, dan menjalin hubungan antara satu dengan yang lainnya. Tanpa bimbingan dan teladan mereka, umat manusia tetap berada dalam kegelapan dan kesesatan. Karenanya untuk mengatur kehidupan manusia dalam seluruh aspeknya diperlukan adanya seorang pembimbing  yaitu seorang rasul, nabi, dan ulama.    Manfaat dan maslahat diutusnya nabi dan rasul itu, tidak terbartas hanya pada zaman dan tempat tertentu, sebagaimana pula tidak terbatas hanya pada suatu kaum atau bangsa saja.

Muhammad sebagai Penutup Para Nabi

Pembahasan yang terakhir adalah masalah penutup kenabian. Apakah nabi dan rasul itu telah tertutup, ataukah masih ada kemungkinan Tuhan akan mengutus nabi atau rasul-Nya pada masa-masa yang akan datang?

Seluruh ulama Islam dan kaum muslimin sepakat bahwa kenabian dan kerasulan itu telah ditutup oleh Tuhan dengan diutusnya nabi terakhir, yaitu nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad adalah sebagai nabi terakhir, syariatnya adalah sebagai syariat yang terakhir dan kitabnya juga sebagai kitab samawi yang terakhir.

Dalil-dalil dan argumen-argumen mengenai ditutupnya kenabian dan kerasulan ini banyak sekali, baik dalil-dalil yang bersifat tekstual (naqli) yaitu ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis rasulullah Saw, maupun dalil-dalil yang bersifat  rasional (aqli).

Yang jelas, ditutupnya pintu kenabian itu berkonsekuensi pada berakhirnya risalah Tuhan. Artinya, ketika nabi itu sudah tidak diutus lagi, maka risalah dan wahyu pun tidak diturunkan lagi oleh Tuhan. Karena risalah dan wahyu yang berisi pengetahuan, pesan-pesan, perintah-perintah, dan larangan-larangan suci Ilahi yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Apabila wahyu Tuhan telah terputus, maka secara otomatik rasul pun tidak diutus. Artinya tidak ada lagi syariat dan ajaran yang baru yang perlu disampaikan dan dijelaskan kepada uamat manusia, karena risalah telah lengkap dan sempurna.

Ayat al-Quran yang sangat jelas untuk menunjukkan tertutupnya kenabian adalah firman Tuhan di dalam surat Al-Ahzab ayat 40.  Tuhan berfirman, “Ketahuilah bahwa Nabi Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian. Tetapi beliau adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan Tuhan Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ayat tersebut dengan tegas mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir dan pamungkas nabi-nabi sebelumnya.

Adapun di anatara hadis-hadis yang menunjukkan ditutupnya kenabian adalah hadis Manzilah. Hadis Manzilah ini telah disepakati keshahihannya oleh seluruh ulama Islam. Tak seorang ulama pun yang mengingkari hadis Manzilah ini. Hadis Manzilah ialah hadis yang diucapkan oleh Rasulullah Saw kepada Imam Ali as. Hadis itu berbunyi, “Wahai Ali, sesungguhnya kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Nabi Harun As di sisi Nabi Musa As. Hanya saja tidak ada lagi Nabi setelahku.

Hadis ini dengan jelas menunjukkan tertutupnya kenabian. Rasulullah Saw mengatakan, “Tidak ada lagi nabi setelahku.” Hadis Manzilah tersebut diriwayatkan oleh banyak perawi, baik dari Sunni maupun dari Syi’ah.

Hadis ini terdapat di berbagai kitab-kitab hadis Sunni maupun Syi’ah. Misalnya terdapat di dalam kitab Shahih al-Bukhari jilid 3, hal. 58. Shahih Muslim jilid 2, hal. 323. Sunan Ibnu Majah jilid 1, hal. 28.  Mustadrak al-Hakim jilid 3, hal.109 dan Musnad Ahmad bin Hanbal jilid, 1 hal. 331, jilid 2, hal. 369 dan 437. 

Adapun di dalam kitab-kitab hadis Syi’ah Imamiyah, hampir semua ulama mencatatnya.

Mengapa Kenabian ditutup oleh Muhammad?

Sehubungan dengan masalah tertutupnya pintu kenabian ini, terdapat sebuah pertanyaan: Mengapa kenabian itu ditutup oleh Nbi Muhammad Saw? Dengan ungkapan lain, memangnya ajaran Islam itu sudah sempurna dan lengkap untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat, sehingga risalah dan kenabian harus ditutup oleh kenabian Muhammad?

Allamah Syaikh Muhammad Jawad Mughniyah mengatakan bahwa kamum muslimin telah sepakat bahwa tak seorang pun yang menerima wahyu setelah wafat Rsulullah Saw. Barang siapa yang mengingkari hal ini, maka ia bukan Muslim. Dan barang siapa yang mengaka sebagai nabi setelah wafat nabi Muhammad Saw, maka ia harus dibunuh, dan barang siapa yang bertanya mengenai dalil atas pengakuan orang itu dan memperkirakan kebenaran pengakuannya, maka orang ini digolongkan kafir. Di dalam kitab tafsir Ruhul Bayan dikatakan bahwa, “Jika seandainya muncul seorang nabi setelah wafat Rasulullah Saw, maka pasti hadir pula Ali bin Abi Thalib as. Karena kedudukan Ali di sisi Nabi Muhammad Saw sebagaimana kedudukan Nabi Harun di sisi NJabi Musa As.” [2]

Adapun mengapa kenabian itu tertutup dengan Nabi Muhammad Saw? Jawabannya adalah: Sesungguhnya tujuan utama dan akhir pengutusan Nabi Muhammad Saw adalah untuk menyampaikan firman-firman Tuhan kepada seluruh hamab-Nya. Dan semua yang diinginkan oleh Tuhan untuk disampaikan kepada seluruh hamba-Nya itu telah tercantum di dalam kitab suci al-Quran al-Karim. Tuhan berfirman di dalam surat an-Nahl ayat: 89, “Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu.

Di dalam surat lainnya, pada surat al-An’am ayat 38, Tuhan berfirman, “Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab yaitu al-Quran“. Maksud dari kata “asy-syay’i” dalam ayat ini adalah “segala sesuatu” yang berhubungan dengan tugas dan kewajiban para nabi, termasuk membimbing dan menuntun manusia kepada jalan-jalan yang lurus dan kebaikan yang dapat menjamin mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu, tak ada satu syariat dan ajaran pun yang diperlukan lagi oleh manusia di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Para ilmuwan, ulama, dan mujtahid dapat mengembangkan ilmu-ilmu mereka dari al-Quran al-Karim. Tuhan dan Rasul-Nya telah mengizinkan orang-orang yang mempunyai potensi dan kemampuan untuk menggali al-Qur’an dan mengeluarkan hukum-hukum darinya demi kemaslahatan dan kesejahteraan seluruh manusia. Hal ini berarti bahwa hukum yang dikeluarkan oleh seorang mujtahid yang adil adalah hukum al-Quran itu sendiri.

Penutup para nabi dan penghulu para rasul bersabda, “Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumku, seperti seseorang yang membuat suatu bangunan, orang itu membaguskan dan membuat indah bangunan tersebut, tetapi pada bangunan tersebut terdapat tempat kosong yang belum diletakkan batanya. Orang-orang memandang bangunan tersebut dan mereka mengaguminya, tetapi mereka berkata: “mengapa pada tempat ini tidak diletakkan bata?” Maka aku datang, dan aku itulah sebagai batanya, dan aku adalah penutup para nabi.”

Kesimpulannya, apabila ada yang bertanya mengapa Nabi Muhammad Saw itu sebagai pemungkas dan penutup para nabi?  Jawabnya adalah bahwa Nabi Muhammad Saw dan agama yang dibawanya telah memenuhi seluruh kesempurnaan, kelengkapank, dan segala keperluan manusia. Seperti matahari yang sinarnya memenuhi seluruh permukaan bumi sehingga tidak dibutuhkan lagi bintang-bintang atau lampu-lampu. Demikianlah, tidak ada seorang nabi pun yang datang setelah nabi Muhammad Saw.[www.wisdoms4all.com]


 


[1] . Idhahul Murad, Ustadz Ali Rabbani Ghulpayghani, hal. 340

[2] . At-Tafsirul al-Kasyif, jilid keenam, hal. 225.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s