Agama dalam Pandangan Kaum Materialis

marx1.jpg   Kaum Materialis secara global berpendapat bahwa kecenderungan manusia terhadap agama dan Tuhan disebabkan oleh kondisi psikologis dan  sosiologis penganutnya. Akan tetapi hingga saat ini, belum ada kesepakatan di antara mereka mengenai faktor muncunya agama itu sendiri, masing-masing tokoh dan aliran kelompok ini memiliki pandangan yang berbeda. Untuk membuktikan kelemahan pandangan ini, kita akan mengkaji sebagian pandangan mereka mengenai faktor munculnya agama.

Pandangan Pertama

Kemunculan agama berakar pada rasa takut akan fenomena alam yang mengerikan. Seorang psikoanalis terkenal Freud menyakini bahwa faktor terbentuknya agama adalah didasari oleh rasa takut manusia terhadap fenomena alam yang mengerikan, ia berkata: Menurut keyakinan psikonalis keyakinan agama yang dimiliki manusia, berakar dari kondisi psikologis masa kecilnya, dimana seorang anak kecil selalu merasa ketakutan ketika berhadapan dengan fenomena alam yang mengerikan, disaat itu seorang ibulah yang menjaga dan melindunginya dari segala bahaya yang mengancamnya, dan dapat dikatakan bahwa sang ibulah yang menjadi pelindung pertama bagi anaknya. Tidak lama kemudian peranan ini pun diambil alih ayahnya yang akan terus menjaga sang anak hingga memasuki masa baligh.

 

freud.jpgSaat sang anak telah memasuki usia baligh ia mulai mengenal dan mampu mengidentifikasi segala bahaya yang dapat mengancamnya, namun ia masih seperti dulu, tetap merasa kecil dan lemah saat menghadapi fenomena alam yang mencekam. Oleh karenanya ia pun masih tetap membutuhkan seorang pelindung yang dapat menggantikan posisi ayahnya yang selalu berada di dekatnya saat ia mengalami ketakutan, ia pun mulai mencari pelindung pengganti ayahnya yang dulu dianggap memiliki kekuasaan yang tak terbatas, pada akhirnya ia menggambarkan sosok pelindung tersebut adalah Tuhan yang memiliki kekuatan di atas kemampuan manusia.

Singkatnya, menurut pandangan ini keyakinan akan keberadaan Tuhan muncul dikarenakan rasa takut dan lemahnya manusia di hadapan berbagai fenomena dan bencana alam yang terjadi di sekitarnya. Masyarakat primitif yang tidak memiliki perangkat dan sarana yang memadai untuk menghadapi barbagai penyakit mematikan dan ganasnya bencana alam, setiap harinya menyaksikan bahwa ada unsur-unsur tertentu yang kejam dan tidak bersahabat yang menggiring mereka satu demi satu kepada kematian. Di saat kecemasan ini mencekam seseorang, dengan terpaksa agar ia terhindar dari fenomena yang mengerikan ini, ia mulai mencari sosok yang misterius yang dianggap dapat menyelamatkannya dan menenangkan hatinya, untuk dijadikan sebagai tempat berlindung. Dari sinilah muncul dalam benak dan pikiran mereka apa yang mereka sebut dengan Tuhan, malaikat dan lainnya.

Selain itu kehidupan yang penuh ketergantungan yang dijalani manusia di masa kecilnya hingga usia baligh  -dimana saat itu ia selalu berada dalam perlindungan sosok yang dianggapnya sangat perkasa-, memiliki pengaruh pada kejiwaan seseorang yang akan  mendorongnya untuk berfikir guna mencari sosok pelindung yang dapat menjaganya dari fenomena alam yang kejam, dan dikarenakan ia telah menjadi seorang dewasa, maka ia akan menggambarkan sang pelindung sebagai sosok Tuhan dan sosok kekuatan yang berada di atas kemampuan manusia.

Wild Durant menukil ucapan Luckartios Filosof Roma: “Kita selalu dihantui rasa takut kepada Tuhan dan yang paling mencekam adalah rasa takut akan kematian. Masyarakat zaman terdahulu sangat jarang mengalami kematian secara alami yang biasa tiba saat seseorang telah mencapai usia tua, kebanyakan dari mereka mati lantaran serangan dan pembantaian yang dilakukan suku lain atau dikarenakan terserang penyakit mematikan. Maka dari itu, mereka tidak menyakini kalau kematian adalah sebuah kejadian dan perkara yang alami, akibatnya mereka menggambarkan faktor yang metafisik di balik kematian yang selalu merenggut nyawa mereka.

Rasa takut akan kematian, takjub akan fenomena alam yang terjadi secara alami, kebodohan manusia akan faktor segala kejadian yang menimpanya, mengharapkan pertolongan ghaib dan rasa bersyukur saat mengalami kebahagian, merupakan sejumlah faktor yang menyebabkan munculnya keyakinan beragama pada diri manusia. [26]

Analisa Pandangan di Atas

Dengan merujuk kepada pembahasan sebelumnya serta menelaah kembali sejarah perjalanan agama, akan tampak jelas di mata kita bahwa pandangan di atas tidak lebih hanya tuduhan yang sama sekali tidak ada faktanya. Meskipun para penggagas pandangan ini berusaha menampilkannya dengan kemasan ilmiah yang seakan-akan ia berasal dari hasil penelitian intensif atas psikologi manusia, namun sebenarnya mereka tidak memiliki satupun bukti yang akurat yang mendukung pandangan ini. Sungguh ini hanya merupakan tuduhan keji yang dilemparkan kepada para penganut agama Ilahi.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa batasan ilmu psikologi dan sosiologi hanya mencakup pemikiran dan keyakinan yang tidak berbasis pada akal, logika dan fitrah manusia. Dalam ruang-ruang inilah pakar-pakar bidang ilmu tersebut layak memaparkan pendapat dan pandangan mereka, mereka dapat menafsirkan bahwa keyakinan-keyakinan semacam itu ditimbulkan akibat kondisi psikologi seseorang, seperti rasa takut akan bencana alam atau sikap kebergantungan kepada orang tua. Namun berkaitan dengan keyakinan yang muncul dari fitrah dan batin manusia, maka tidak ada lagi tempat bagi para psikolog dan sosiolog untuk mengutarakan pandangannya, karena pendapat yang mereka utarakan akan menyimpang dari fakta yang sesungguhnya.

Freud dan para pengikutnya bukan hanya mengingkari akan kefitrahan keyakinan beragama dan upaya mencari Tuhan, bahkan mereka pun memungkiri argumen keberadan Tuhan yang berpijak pada kaidah sebab dan akibat (hukum kausalitas).

Kita katakan kepada mereka, seandainya mayoritas orang yang beriman adalah mereka yang terbelakang dan buta huruf, baru kami akan menerima bahwa agama yang mereka yakini muncul akibat rasa takut mereka akan fenomena alam yang mengerikan, namun kenyataannya tidak sedikit dari orang-orang beriman yang memiliki ilmu dan kecerdasan yang tinggi, dimana mereka tidak hanya mengenal dengan baik segala fenomena alam yang terjadi, bahkan mereka mampu menjinakan bencana alam dan dapat memanfaatkan energi alam dengan baik.

Apakah dapat kita akan mengatakan bahwa keimanan Socrates, Plato, Aristoteles, Farabi, Ibnu Sina, ar-Razi, Ibnu Haitsam, Khwajah, Galileo, Descartes, Newton, Einstein dan ribuan filosof dan ilmuan besar lainnya, adalah akibat dari rasa takut mereka akan bencana alam dan fenomena alam yang mengerikan? Padahal merekalah para pencetus dan penggagas berbagai bindang ilmu pengetahuan.

Sejarah epistemologi menyatakan bahwa orang-orang beriman selalu mengemukakan kenyakinan mereka dengan kaidah ilmiah yang paling benar dan akurat, mereka pun selalu menyertakan pandangan mereka dengan argumen dan dalil yang kokoh.

Saat Socrates berdialog dengan Arestodem seorang materealis saat itu, ia membuktikan keberadaan Tuhan dengan keserasian, keselarasan dan keteraturan yang memenuhi dunia ini (Burhan Nazhm), berikut ini adalah cuplikan dialog mereka:

Socrates: Apakah Anda pernah tertarik terhadap sebuah hasil karya ilmu atau seni kemudian anda pun memuji dan mengagungkan keahlian pembuatnya?

Arestodem: Ya pernah!

Socrates: Tolong anda sebutkan nama sebagian darinya!

Kemudian Arestodem pun menyebutkan nama sebagian pemahat dan pematung yang karya mereka membuatnya terkagum.

Socrates: Antara seorang pemahat yang membuat patung tanpa ruh dan Dzat yang menciptakan manusia dan alam yang serba hijau dan indah ini, manakah yang lebih layak dikagumi dan dipuji?

Arestodem: Jelas jawabannya adalah yang kedua dengan syarat alam semesta ini tidak muncul secara kebetulan.

Socrates: Setiap bagian dari organ tubuh manusia menandakan bahwa ia diciptakan dengan tujuan tertentu, tampak masing-masing darinya dapat berinteraksi dengan dunia luar. Sebagai contoh coba kita perhatikan mata kita dengan baik, bagaimana ia dilengkapi dengan kelopak mata yang dapat terbuka dan tertutup sesuai kehendak kita, di tepinya terdapat bulu mata yang tidak akan menghalangi penglihatan seseorang namun ia dapat menghalangi masuknya debu ke bola mata, kemudian di atasnya di lengkapi dengan alis yang dapat mencegah keringat untuk mengalir ke bola mata. Apakah anda dapat mengatakan bahwa fenomena yang sangat teratur dan selaras seperti ini dapat muncul secara kebetulan?

Setelah itu Socrates pun menyebutkan keteraturan dan keserasian yang ada pada telinga, gigi dan organ tubuh lainnya, dan menjelaskan satu-persatu tujuan dari penciptaannya. Akhirnya ia sampai pada kesimpulan, apakah segala sesuatu yang penuh dengan keberaturan, keselarasan serta banyak mengandung rahasia ini tidak menandakan akan adanya Sang pencipta dan Pengatur di balik keberadaan manusia dan alam semesta ini?

Ini adalah cuplikan dialog yang terjadi antara dua pembesar kelompok beragama dan kelompok Materialis dua puluh empat abad silam (400 th SM), [27] dimana dari awal hingga akhir dialog, keduanya sama sekali tidak menyinggung akan rasa takut terhadap fenomena alam, kebodohan manusia dan mencari pelindung, sebagai faktor munculnya keyakinan beragama.

Selain itu, telah tersebar ribuan buku yang ditulis oleh para ilmuan beragama dalam upaya membuktikan keberadaan sang pencipta. Buku-buku tersebut terlihat sangat metodologis dan argumentatif  dan di dalamnya sama sekali tidak membahas masalah rasa takut, misteri mencari pelindungan dan sebagainya. Setiap penulis memeliki metode dan argumen yang berbeda untuk mencapai titik kesimpulan.

Plato membuktikan akan keberadaan Sang Pencipta dengan keberadaan alam yang muncul dari ketiadaan (Burhan Huduts).

Aristoteles dari pergerakan alam dan seisinya, ia membuktikan akan adanya penggerak, ia berkata: Segala sesuatu yang bergerak butuh pada penggerak, oleh karenanya pergerakan general yang memenuhi alam materi, pasti memiliki penggerak yang bukan bagian darinya.[28]

Setelah revolusi sains (Renaisans) di Eropa, sekelompok penggagas ilmu Fisika membuktikan keberadaan Tuhan dengan argumentasi yang berbeda. Newton mengatakan: Sesuatu yang merupakan bagian dari alam materi ini tidak akan mampu mewujudkan keberagaman yang ada, keberagaman yang kita saksikan menunjukkan bahwa di balik alam materi ini ada satu kekuatan yang telah menjadikannya beragam.[29]

Setelah berhasil dalam uji cobanya, para perancang otak elektronik mengatakan: sebagaimana otak buatan tidak akan ada tanpa dirancang dan dibuat oleh seseorang, terlebih lagi dengan otak manusia yang memiliki berjuta kali keajaiban di atas otak buatan, sudah pasti keberadaanya memerlukan Pencipta.

Apakah dengan setumpuk argumen dan bukti yang dibawakan oleh para pakar berbagai ilmu pengetahuan, kita akan tetap mengatakan bahwa agama dan keyakinan kepada Tuhan muncul diakibatkan oleh rasa takut manusia akan fenomena alam yang mengerikan.

Selain itu betapa banyak para ilmuan di seluruh penjuru dunia yang hatinya tercerahkan dengan keimanan kepada Tuhan, apakah kita akan mengatakan bahwa keimanan mereka juga didasari oleh rasa takut kepada fenomena alam dan bencana?

Al-Quran saat mengajak umat manusia untuk beriman kepada Tuhan, ia sesalu berpijak pada kaidah-kaidah rasional, dimana hal ini banyak memberikan pencerahan terhadap pemikiran para filosof yang hidup pada masa setelah turunnya al-Quran.

Untuk menyadarkan manusia akan keberadaan Sang Pencipta segala keberadaan, Allah Swt berfirman:

“Apakah mereka diciptakan tanpa penyebab atau merekalah yang menciptakan” [30]

Ayat ini mengutarakan dua kemungkinan yang mustahil terjadi, apakah keberadaan manusia muncul dengan sendirinya atau mereka sendiri yang menciptakan diri mereka? Oleh karena itu tidak ada pilihan lain kecuali dengan menyakini keberadaan satu Kekuatan yang telah menciptakan manusia.

Dalam ayat lain Allah SWT menjadikan keberadaan langit dan bumi sebagai bukti akan keberadaan-Nya, Dia berfirman:

“Adakah keraguan akan keberadaan Allah yang menciptakan langit dan bumi”[31]

Pada ayat lainnya, tumbuhnya bermacam pepohonan dan beragam buah-buahan dari satu unsur, tanah serta air yang sama, diangkat sebagai bukti akan keberadaan-Nya.

“Dan di Bumi terdapat daerah-daerah yang berdampingan, kebun anggur,  gandum  dan pohon korma yang tumbuh dari satu akar atau akar yang berbeda, semuanya disirami dengan air yang sama, dan sebagian buahnya kami buat nelebihi sebagian yang lain, sesungguhnya dalam ini merupakan  tanda dan bukt bagi kaum yang mengerti” [32]

Saat al-Quran dan kitab-kitab samawi lainnya membawakan arguman akan keberadaan Tuhan, sama sekali tidak pernah berpijak pada rasa takut manusia terhadap fenomena alam atau mencari perlindungan seperti yang dikatakan orang-orang Materialis. Walaupun mereka (Materialis) tidak mengakui bahwa al-Quran merupakan kitab Samawi, namun mereka mengakui bahwa al-Quran adalah kitab Tauhid yang terbesar bagi masyarakat agama, jika yang mereka katakan itu benar adanya, lantas mengapa di dalam kitab ini sama sekali tidak menyinggung segala takhayul yang mereka ucapkan itu.

Singkatnya selain fitrah dan hati nurani ada faktor lain yang telah mendorong manusia untuk menyakini keberadaan Tuhan, ia tidak lain adalah akal dan logika manusia itu sendiri. Melalui kaidah rasional sebab akibat yang sederhana, seseorang dapat meyimpulkan bahwa keberadaan alam beserta isinya ini butuh pada satu penyebab. Kaidah ini merupakan kaidah yang sangat sederhana yang dapat di tangkap oleh seluruh lapisan manyarakat di mana dan kapan pun mereka berada, masyarakat terdahulu tidaklah sedemikian bodoh sehingga tidak dapat menangkap dan memahami kaidah ini.

Seandainya ada sekelompok manusia yang hidup di surga yang di dalamnya telah tersedia segala apa yang diinginkan dan mereka pun terhindar dari segala bencana dan musibah, namun saat mereka menyaksikan keindahan dan keteraturan yang menghiasi surga tempat tinggal mereka, segera terlintas di pikiran mereka akan keagungan dan kebesaran Penciptanya, mereka akan bertanya-tanya; Siapakah yang telah menciptakan segala keindahan seperti ini? Selama mereka belum menemukan Pencipta yang sesungguhnya, mereka tidak akan merasa lega dan tenang.

Dengaan segala penjelasan dan argumen di atas, sangat tidak beralasan jika kita tetap bersikeras mengatakan bahwa keyakinan beragama muncul dari rasa takut manusia akan fenomena alam atau akibat dari pengaruh kondisi psikologis seseorang yang di masa kecilnya selalu mencari perlindungan.

Pendapat Kedua

Kelompok Marxisme menyakini bahwa munculnya keyakinan kepada Tuhan, agama dan berbagai hal yang berkaitan dengan metafisik, diakibatkan kerisis ekonomi dan penindasan yang dialami manusia. Mereka meyakini bahwa masyarakat yang fakir dan tertindas akan terdorong untuk menghibur hati mereka dengan keyakinan kepada Tuhan, agama dan pahala yang akan diraih setelah kematian. Dengan cara ini, mereka berharap dapat menenagkan hati mereka dan mengurangai kepedihan yang mereka alami akibat dari ketertindasan dan kesulitan ekonomi. Para penjajah dan penguasa pun selalu memanfaatkan pemikiran dan keyakinan semacam ini dan mereka berusaha untuk menyebarkannya ke penjuru wilayah lainnya, dengan harapan keyakinan seperti ini dapat membungkam dan meredam segala reaksi dan perlawanan yang akan dilakukan kaum tertindas.

Berkaitan dengan ini Lenin mengatakan: Agama merupakan alat yang dirumuskan untuk menekan jiwa para kaum pekerja (buruh) agar mereka rela untuk selalu bekerja keras demi orang lain dan hidup dalam kesengsaraan.[33]

Karl Marx mengatakan: Seluruh agama dan segala pergerakannya merupakan hasil karya para Borjuis yang bertujuan untuk menundukkan dan mengkelabui kaum buruh.[34]

Tekanan yang dilakukan para tuan kepada budaknya serta penindasan yang dilakukan kaum Arestokrat terhadap kaum buruh, meskipun telah mengakibatkan perlawanan dan revolusi, namun bersamaan dengan munculnya revolusi ini, pemikiran-pemikiran yang semula di formulasikan untuk melumpuhkan dan menguasai kelompok tertidas akhirnya mulai tersebar luas diantara masyarakat sehingga muncullah agama yang dapat meracuni jiwa manusia.

Dikarenakan kefanatikan yang berlebihan, sebagian mereka ada yang mengatakan bahwa kesabaran -yang merupakan nilai akhlak yang paling mulia dan kunci dari segala kemenangan- juga dilahirkan dari pemikiran yang aneh ini, mereka mengatakan: Agama mengajarkan masyarakat untuk sabar dan tabah di bawah penindasan para penjajah, dengan menganggapnya (penindasan) sebagai takdir yang tidak dapat dihindari, agama selalu saja menguntungkan dan menjaga kepentingan para penjajah.

Dalam buku Sosialis dan Agama, Lenin mengatakan: Agama adalah candu bagi masyarakat. Doktor Arani dalam buletin Irfan Wa Usule Maadi, menuliskan: Dalam negara-negara yang maju bidang industru dan ekonominya dimana masyarakat lemahnya telah merasakan kejayaan, maka pola pemikiran mereka akan bercorak materialis, namun ketika terjadi dekadensi dan krisis ekonomi kembali agama dan filsafat metafisik yang menjadi idola mereka.

Dengan kata lain, teori dan pandangan yang menafsirkan faktor kemunculan agama, keyakinan akan Tuhan dan segala yang metafisik, surga dan neraka, tidak lain adalah teori dan pandangan yang diutarakan berkaitan dengan masalah sosial ekonomi.

Karl Marx dan Fredrik yang seideologi dengannya, ingin menafsirkan seluruh fenomena baik pemikiran, psikologi, maupun sosial dengan metode seperti ini.

Menurut pendapat Marxis masyarakat memiliki dua struktur, sruktur bagian dasar (infrastuktur) dan struktur bagian atas (suprastruktur). Infrastruktur masyarakat yang merupakan bagian inti mereka, ialah sejumlah perangkat penghasil ekonomi dan industri, dan segala fenomena keyakinan dan kejiwaan yang muncul di dalam tubuh masyarakat seperti kebudayaan, kesenian, norma dan agama, merupakan suprastruktur masyarakat yang bukan bagian inti darinya. Menurut pandangan Marxis, faktor inti sejarah dan pemikiran manusia serta buah yang dihasilkannya disetiap masa, adalah kondisi ekonomi.

Hasil produksi, kompensasi, pendayagunaan kekayaan, dan hunbungan buruh dengan tuannya, sepanjang sejarah sangat berpengaruh pada dimensi kehidupan manusia lainnya seperti, agama, akhlak, filsafat, ilmu, sastera dan seni.

Relasi perdagangan dan industri akan membentuk bangunan ekonomi masyarakat, dan bangunan ekonomi inilah yang menjadi fondasi inti bagi rancangan hukum dan politik yang dapat merealisasikan beragam kecenderungan masyarakat.

Oleh karenanya faktor inti pergerakan dalam tubuh masyarakat adalah ekonomi, bahkan segala perubahan yang terjadi pada suprastruktur masyarakat tidak lain adalah akibat darinya.

Jika Hegel mengatakan bahwa bentuk pemikiranlah yang membangun peradaban manusia, namun sebaliknya Marxis mengatkan: Fondasi segala sesuatu bahkan ideologi dan pemikiran manusia sekalipun, adalah ekonomi dan perangkat industri.

Menurut idiologi Marksis, faktor yang menggerakkan perubahan sosial tidak dapat ditemukan dalam pemikiran manusia, akan tetapi ia harus dikaji dalam bidang industri dan perdagangan, dan membahasnya dalam kajian ekonomi.

Di saat yang sama ia juga mengatakan: Dengan pemikirannya, masyarakat tidak dapat merubah kondisi kehidupan mereka, akan tetapi kondisi kehidupanlah yang akan membentuk pemikiran dan ideologi mereka, pemikiran agama dan ideologi lainnya hanya merupakan sarana untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan hasil produksi.

Setelah Marxis membagi masa manusia dengan masa berburu, bertani, keterampilan (perdagangan) dan masa industri dan mesin, ia pun membagi masa-masa penting sejarah dan sosial dengan abad komunal pertama, masa perbudakan, fedual, kapitalis, sosialis dan masa komunis. Perbedaan lapisan masyarakat sangat sulit dihindari, kecuali pada abad pertama dimana manusia bekerja dan berindustri secara bersamaan dan penuh kedamaian kemudian hasilnya dibagikan dengan rata. Setelah berakhirnya masa ini -dimana segala sesuatu dinikmati bersama-, muncullah perbedaan dalam lapisan masyarakat, peperangan diantara mereka merupakan fenomena sosial yang paling mencolok, dan perseteruan yang tidak berbau ras atau kasta bukan termaksud peseteruan yang inti, ia hanya didisulut untuk memalingkan perhatian sebagian masyarakat.

Pada kondisi seperti ini, agama dianggap sebagai fenomena yang dimunculkan dalam jiwa dan benak kaum lemah dan miskin sebagai obat penenang bagi jiwa mereka yang tertekan. Dengan mengharapkan janji dan pahala Ilahi, mental mereka akan dilemahkan sehingga mereka tidak akan bangkit melawan para penindas dan kaum elit.

Kaum Materialis menafsirkan muculnya agama dengan asumsi seperti ini, kemudian interpretasi yang keliru ini di untarakan dengan berbagai macam pola dan metode, pada dasarnya mereka hanya mengulang-ngulang ucapan mereka, inti dari pandangan mereka tidak lebih dari apa yang telah di utarakan di atas.

Analisa atas Pandangan di Atas

Sebagaimana yang telah disebutkan, munculnya keyakinan beragama tidak memiliki lebih dari dua faktor, yang pertama dalah naluri atau fitrah dan yang kedua adalah rasio dan akal manusia (yang kemudian menimbulkan rasa ingin tahu dalam dirinya). Dengan terungkapnya dua faktor ini, maka tidak ada lagi celah bagi kita untuk mengkajinya dari sudut pandang sosiologi yang sarat dengan prediksi serta tidak berpijak pada argumen yang kokoh.

Pandangan di atas yang menyatakan bahwa agama merupakan hasil karya penguasa dan kaum elit, sama sekali tidak sesuai dengan fakta, yang terjadi sepanjang sejarah ialah para penzalim telah mengkambinghitamkan ajaran agama dan memanfaatkannya sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi mereka, dengan menyebarkan janji dan kabar gembira Ilahi, mereka berharap dapat meredam segala reaksi yang akan dilakukan masyarakat yang mereka tindas.

Kita harus membedakan antara penyalahgunaan ajaran agama dan penyebab kemunculan agama, justru mengkambinghitamkan ajaran agama yang dilakukan untuk membendung segala reaksi masyarakat merupakan bukti akan keberadaan agama sebelum adanya praktik tersebut. Oleh karenanya pendapat yang menyatakan bahwa agama merupakan hasil rumusan penguasa sama sekali tidak dapat dibenarkan, karena penyalahgunaan agama yang dilakukan para penguasa merupakan efek dan imbas dari keberadaan agama itu sendiri.

Di sini kita tidak akan menelusuri sebatas mana ajaran agama telah disalahgunakan, dan tidak menutup kemungkinan bahwa ajaran-ajaran tersebut telah mengakar dan dianggap benar oleh sebagian umat beragama. namun permasalahan yang akan menjadi kajian kita adalah seputar kemunculan pemikiran dan keyakinan beragama baik yang dimiliki masyarakat elit maupun masyarakat tertindas.

Kelompok Marxisme tidak pernah menyebutkan bukti sejarah atas apa yang mereka utarakan, mereka hanya menyebutkan bahwa kaum feudal dan aristokrat telah memanfaatkan ajaran agama untuk melumpuhkan semangat juang kaum buruh dan petani sehingga mereka tidak akan melakukan perlawanan dan pemberontakan. Akan tetapi mereka tidak mampu mengungkap faktor munculnya sebuah ideologi yang dapat menumbuhkan semangat juang masyarakat untuk melawan segala kezaliman dan penindasan, dan apa yang menyebabkan kenyakinan ini sedemikian merasup dalam hati dan jiwa mereka, sehinggga kelompok lemah sekalipun akan rela mengorbankan kepentingan materi mereka untuk memiliki dan mempertahankan ideologi ini.

Dengan kata lain para pekerja dan petani yang mengerahkan segenap kekuatan untuk menghancurkan kekuatan para elit, tuan dan majikan, mengapa tidak terpikir oleh mereka untuk memerangi agama dan keyakinan terhadap Tuhan? Padahal menurut ideologi Marksisme, agamalah yang menjadi penghalang kebangkitan dan perlawanan mereka terhadap para penindas.

Oleh karenanya tidak ada pilihan lain selain kita mengakui bahwa kemunculan agama memiliki faktor lainnya yang sangat mengakar dalam diri manusia,  sehingga baik yang kehidupannya sejahtera maupun yang sengsara, tidak ingin melepaskan agama mereka dari kehidupan kesehariannya.

Seandainya orang-orang Marksis dapat menyuguhkan bukti sejarah yang menceritakan bahwa kaum fedual dan para elitlah yang pertama kali merancang agama sebagai alat untuk membendung aksi masyarakat tertindas, yang kemudian ideologi tersebut disebarkan agar pemikiran mereka teracuni. Dan bila para Marksis mampu membawakan saksi sejarahnya barulah kita akan menerima bahwa keyakinan terhadap Tuhan merupakan perangkat aturan yang dirancang untuk menjaga kepentingan kaum Feudal dan Borjuist.

Atau kita mempersilahkan mereka memaparkan fakta sejarah yang membuktikan ucapan mereka yang mengatakan bahwa “Kesewenangan dan penindasan yang dilakukan kaum fedual dan para majikan, telah mendorong kelompok tertindas untuk menciptakan sebuah pemikiran agama dengan harapan ia dapat menenangkan serta menghibur jiwa dan hati mereka yang selalu merasakan kepedihan dan kepahitan”. Jika mereka mampu membawakan fakta sejarahnya, maka kita pun akan menerima pandangan mereka

Para pengikut aliran Marxisme sama sekali tidak dapat membuktikan ideologi yang mereka yakini dengan membawakan fakta sejarah, dan tidak ada seorang Materialis pun yang membiarkan akalnya untuk menerima sesuatu fiktif dan menganggapnya sebagai sebuah kenyataan dan fakta.

Meskipun orang-orang Marxis telah mengerahkan berbagai upaya, namun hingga sekarang mereka belum dapat menbawakan satu bukti sejarah pun kecuali sebatas yang meriwayatkan bahwa “Pada suatu masa kaum elit sibuk menyebarkan ajaran agama di tengah masyarakat lemah guna mengibur dan mengalihkan hati mereka dari kehidupan materi, dan mereka (para elit) terus meramaikannya dengan berbagai sarana yang mereka miliki”. Fakta sejarah ini sama sekali tidak dapat membuktikan bahwa keyakinan beragama adalah hasil karya para elit yang dirancang untuk menghibur para masyarakat lemah.

Selain fakta sejarah di atas, untuk menguatkan pandangannya biasanya mereka juga membawakan sepenggal sejarah yang menceritakan bahwa “Di saat masyarakat merasa tertindas, mereka selalu memanfaatkan ajaran agama sebagai obat yang dapat menenangkan jiwa mereka.”  Sebagaimana sejarah di atas, lembaran sejarah ini pun tidak dapat membuktikan bahwa masyarakat tertindaslah yang telah menciptakan agama untuk menghibur hati mereka yang pedih.

Terlepas dari semua ini, seandainya pandangan Marxis benar adanya, maka konsekuensinya adalah tidak akan ada seorang kaya dan seorang penguasa pun yang menyakini agama dan Tuhan, padahal kenyataannya di sepanjang sejarah betapa banyak orang yang kaya raya telah menyumbangkan kekayaan demi tujuan dan kepentingan agama, bahkan sebagian besar kekayaannya di sumbangkan demi misi kudus ini. Fenomena semacam ini tidak hanya terjadi pada masa sekarang ini sehingga dapat dikatakan: “Bahwa dengan berlalunya masa, ajaran agama telah dianggap sebagai suatu yang suci dan sakral oleh para penganutnya baik yang kaya maupun yang miskin, oleh karenanya pengorbanan yang dilakukan oleh orang kaya demi kepentingan agama mereka, tidak dapat dijadikan bukti bahwa mereka pun melakukan hal demikian pada masa-masa awal kemunculan agama.”

Sejarah membuktikan bahwa di sekeliling para nabi dan pemimpin agama Ilahi selalu terdapat kelompok yang rela mengorbankan jiwa dan harta mereka guna merealisasikan tujuan suci mereka, bahkan sebagian mereka ada yang mengorbankan seluruh hartanya di dalam misi ini. Jika keyakinan terhadap Tuhan dirancang untuk tujuan menguasai kaum lemah serta merampas hak mereka, maka selayaknya kaum tertindas tidak mengorbankan jiwa mereka dan orang kaya tidak menyumbangkan hartanya demi keyakinan ini di masa  awal kemunculannya.

Kesalahan lain Yang Dialami Marksis

Ideologi Marksis mengatakan bahwa antara kemajuan ekonomi dan ajaran agama selalu terdapat pertentangan dimana keduanya tidak akan dapat tampil bersamaan. Kekeliruan ideologi ini tampak jelas secara kasat mata, karena kita menyaksikan peradaban manusia di masa lalu seperti peradaban Yunani kuno dan peradaban Islam, dimana kemajuan industri dan ekonominya berbarengan dengan tumbuhnya keyakinan beragama di dalam tubuh masyarakatnya.

Adapun berkenaan dengan revolusi industri dan ekonomi yang terjadi di Eropa, yang muncul berbarengan dengan menurunnya dorongan religius mesyarakat serta meningkatnya kecenderungan kepada materi, ia memiliki faktor lainnya yang akan kita bahas secara meluas saat menjawab kritikan Materialis.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada semacam pertentangan antara keyakinan beragama dan penyembahan terhadap materi dan hawa nafsu, namun hal ini tidak berarti keyakinan beragama adalah penyebab dari kemiskinan, yang dimaksud dengan pertentangan di atas ialah dengan mencintai materi secara berlebihan dapat menyebabkan nilai-nilai agama terlupakan, karena dengan memberi perhatian hanya kepada salah satu kecenderungan  secara otomatis akan melemahkan kecenderungan lainnya.

Sebagai contoh setiap kali dorongan seksual menguasai seseorang maka dengan pasti kecenderungan lainnya seperti kecenderungannya terhadap harta, akan menjadi lemah dan menurun. Seperti yang dikatakan di atas, keyakinan beragama bukan akibat atau penyebab dari kemiskinan, akan tetapi sikap apatis terhadap ajaran agama adalah akibat dari ketamakan akan materi dan kekayaan, dan kebiasaan memenuhi satu kecenderungan dapat melemahkan kecenderungan lainnya. Dapat dibuktikan, seandainya ada seorang miskin yang hanya sibuk memenuhi hawa nafsunya, maka dengan sendirinya kecenderungan pritualnya akan melemah dan secara tidak disadari ia akan dikuasai dengan pola pemikiran materialis. Sebaliknya, jika ada seorang yang kaya raya namun ia tidak terlena dan tidak disibukkan dengan kesenangan duniawi, maka jiwanya akan lebih terdorong untuk memperhatikan masalah dan uruan agama.

Bersenang-senang dengan berlebihan selain dapat melemahkan dorongan religius pada diri sseorang -baik ia adalah orang kaya maupun orang miskin- ia pun dapat mengalihkan perhatian seseorang untuk berfikir seputar asal-usul keberadaannya (rasa keingintahuannya).

Lebih buruk lagi, kelompok Materialis abad dua puluh mepresentasikan kesabaran dan ketabahan sebagai kerelaan dan pangku tangan terhadap kezaliman, padahal sebenarnya nilai akhlak yang mulia ini merupakan simbol keteguhan seseorang untuk meraih cita-citanya, ia telah memberikan kekuatan kepada para pejuang untuk memberantas kebatilan dan menghancurkan kezaliman. Norma semacam ini merupakan modal kemenangan kaum tertindas dalam melawan para penjajah dan penindas.

Selain itu, agama Ilahi dan para Nabi selalu berpihak kepada kelompok yang lemah dan terzalimi dan menjadi pelindung terbaik bagi mereka. Maka dari itu para penzalim selalu mengerahkan segenap kemampuan politik dan ekonomi mereka, guna melenyapkan ajaran yang dibawa oleh para nabi, dan mereka tidak akan merasa tenang sebelum ajaran tersebut lenyap dari muka bumi, dengan demikian, bagaimana mungkin orang-orang beriman yang merupakan musuh para penindas dan penjajah dikatakan sebagai pion yang menjaga dan melindungi kepentingan mereka.

Di akhir pembahasan kita akan menyoroti poin dibawah ini;

Tidak diragukan lagi bahwa produk tekologi dan kondisi ekonomi memiliki pengaruh pada pola pemikiran manusia, namun mengiterpretasikan kemunculan peradaban, kebudayaan, aliran filsafat, akhlak, dan agama-agama dunia sebagi akibat dari kondisi ekonomi, industri dan teknologi tertentu, merupakan interpretasi yang tidak ilmiah dan tidak rasional (kekanak kanakkan). Kerena selain faktor ekonomi, kemunculan berbagai pemikiran dan ideologi memiliki faktor lain yang bersumber dari dalam jiwa manusia, seperti rasa ingin tahu, menghendaki ketenaran, mencintai harta dan jabatan. Jelas faktor-faktor internal akan memiliki pengaruh yang lebih besar dibanding faktor external lainnya.

Anggaplah kita menerima bahwa segala fenomena sosial merupakan akibat perubahan kondisi ekonomi, namun apa yang telah menyebabkan perubahan pada kondisi ekonomi itu sendiri? Menghadapi pertanyaan ini, puak-puak Marksis dan Materialis lebih memilih untuk berdiam diri.

Selain itu, jika seluruh pemikiran filsafat, ilmiah, sosial dan agama diakibatkan kondisi ekonomi, lantas mengapa dua orang atau dua komunitas masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan kondisi ekonomi yang sama, dapat memiliki pola pemikiran dan keyakinan yang berbeda bahkan terkadang bertentangan, dimana keduanya selalu mamandang setiap permasalahan dari  sisi dan sudut yang berbeda.

Dengan mengatkan bahwa “Seluruh fenomena pemikiran diakibatkan dari kondisi hidup manusia”, ini sama saja dengan membongkar fondasi pemikiran meraka sendiri dan menjadikan ideologi aliran ini kehilangan nilai ilmiah dan filsafatnya. Coba perhatikan! Jika ekonomi adalah satu-satunya penyebab kemunculan seluruh bentuk pemikiran, agama, aqidah, peradaban dan kebudayaan, berarti ideologi meraka pun dilahirkan dari kondisi ekonomi pada masa komunal, dikarenakan kondisi ekonomi pada masa ini telah mengalami perubahan, maka ideologi mereka pun juga harus dirubah.

Inilah sebuah pandangan dan hasil analisa yang tidak sempurna akan faktor timbulnya keyakinan beragama, dimana kajiannya hanya menyoroti sisi ekonomi dan pola kehidupan saja, padahal untuk mencapai konklusi yang benar, seharusnya fenomena ini dianalisa dari barbagai sisi. Dalam kasus ini para meterialis dan Marksis mirip seperti kelompok Freudian yang menganalisa jiwa, perasaan, psikologis, dan pemikiran manusia hanya dari sudut biologisnya saja, yang akhirnya mereka menyimpulkan bahwa manusia -yang memiliki kedudukan dan kemulian yang sangat tinggi- tidak lebih hanya merupakan mata-rantai dari permasalahan seksual.

Selain memiliki kemulian yang tinggi, manusia juga merupakan satu keberadaan yang tidak pernah diketahuai hakikatnya, oleh karenanya dalam menganalisa dan mengkaji sesuatu yang berkaitan dengan keberadaannya, jelas membutuhkan keahlian tersendiri. Para penggagas pandangan di atas dengan bermodalkan kesombongan ingin mencoba mengkaji salah satu unsur keberadaan manusia dengan sebelah mata (dari satu sisi saja), akhirnya mereka pun terperosok dalam kekeliruan dan kesalahan yang memalukan.

Pendapat Ketiga

Kemunculan agama adalah akibat kebodohan manusia akan faktor terjadinya fenomena alam.

Sebagian materialis mengatakan: Keyakinan terhadap Tuhan merupakan akibat dari kebodohan dan kejahilan manusia akan sebab terjadinya fenomena alam. Masyarakat terdahulu selain mereka tidak dapat mengetahui sebab terjadinya fenomena alam seperti gempa bumi, angin topan, gerhana matahari dan bulan, mereka pun meyakini hukum akal yang menyatakan “bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa adanya sebab,” akhirnya mereka terpaksa mencari penyebab bagi setiap fenomena yang terjadi, namun lantaran mereka tidak dapat menemukan faktor yang sesungguhnya, maka tidak ada pilihan bagi mereka kecuali menganggap Tuhanlah sebagai sebab dari masing-masing fenomena yang terjadi dan Dialah sumber reaksi dan perubahan yang terjadi dialam ini. Di zaman modern ini berbagai sebab dari fenomena alam telah berhasil di ungkap dan masyarakat dewasa ini sedang terus mengkaji dan menyingkap sejumlah kejadian yang masih menjadi teka-teki mereka, oleh karena itu tidak ada lagi alasan bagi kita untuk menyakini khayalan seperti ini.

Sebagian dari mereka mengatakan:.

Di masa manusia belum menguasai ilmu pengetahuan dan segala faktor terjadinya fenomena alam belum terungkap, manusia selalu menghadapi kejadian yang besar yang tidak diketahui sebab dan rahasia di baliknya, di saat itu mereka dipengaruhi daya khayalan dan mengangap bahwa sebab dari segala fenomena yang terjadi adalah Tuhan atau sesuatu yang metafisik. Contohnya, saat mereka menyaksikan turunnya hujan atau salju dari langit yang bersamaan dengan suara gemuruh sambaran halilintar yang mengerikan, mereka tidak mengetahui bahwa faktor turunnya hujan dan salju disebabkan menguapnya air laut lantaran hempasan sinar matahari yang kemudian berubah menjadi tetesan hujan atau jika cuaca dingin ia akan turun dengan membentuk butiran salju. Begitu pula dengan halilintar yang merupakan akibat dari bertemunya aliran listerik yang positif dan negatif diantara dua gumpalan awan. Dikarenakan kebodohan mereka akan segal perkara ini, akhirnya mereka menggambarkan berbagai penyebab yang metafisik dibalik fenomena tersebut.

Namun dengan berlalunya masa, satu-persatu faktor terjadinya fenomena alam ini telah berhasil di ungkap, dengan sendirinya keyakinan akan Tuhan-Tuhan khayalan pun telah tersingkirkan dan kaidah-kaidah ilmulah yang berperan mengkaji rahasia dibalik fenomena ini .[35]

Sanggahan Terhadap Pandangan di Atas

Sebelum menjawab pandangan di atas, kita tanyakan kepada mereka, mengapa upaya untuk mencari satu-persatu faktor terjadinya fenomena alam Anda anggap sebagai penyebab munculnya keyakinan beragama, sedangkan kajian akan penyebab keberadaan dan keberaturan alam semesta secara keseluruhan tidak Anda anggap demikian. Padahal jika ingin menilai secara obyektif maka kita akan katakan bahwa bentuk kajian yang kedua (kajian akan faktor keberadaan alam secara keseluruhan) lebih layak untuk dianggap sebagai faktor munculnya keyakinan beragama. 

Masyarakat primitif dengan pemikiran dan logika yang dimiliki, mereka dapat melihat bahwa alam semesta diciptakan berdasarkan aturan tersendiri serta dipenuhi dengan segala perhitungan dan rancangan yang selaras. Maka dari itu bagaimana mungkin pengetahuan mereka akan keberadaan dan aturan alam ini tidak mendorong mereka untuk menyakini Sang Pencipta sebagai faktor keberadaannya, namun hanya dengan menyaksikan sebagian fenomena yang terjadi -dikatakan- telah mendorong mereka untuk meyakini keberadaan Tuhan.

Pandangan diatas jelas tidak ada bukti faktanya, tidak ada seorang pun yang menyakini Tuhan akibat kebodohan seperti yang mereka sebutkan. Keimanan kepada Tuhan bukan berarti mengingkari adanya sebab-sebab materi yang mengakibatkan terjadinya sebagian fenomena alam, karena menurut pandangan orang-orang beriman sesuatu yang menjadi penyebab terjadinya sebagian fenomena alam (bukan penyebab keberadaan alam secara keseluruhan) atau penyebab yang memiliki posisi setara dengan unsur materi, maka mereka bukanlah Tuhan, akan tetapi penyebab-penyebab tersebut tidak lebih adalah makhluk sama seperti makhluk lainnya.

Yang dimaksud dengan Tuhan menurut agama para nabi adalah Kausa Prima keberadaan alam semesta ini, dimana mata rantai segala sebab materi dari seluruh kejadian di jagad raya akan berhujung kepada-Nya, Dialah penyebab diatas segala sebab yang ada.

Dengan kata lain, umat agama Ilahi selain meyakini akan adanya penyebab materi di balik segala fenomena yang terjadi dimana alam ini berjalan sesuai hukum kausalitas, dan merekajuga tidak memposisikan sebab-sebab materi tersebut sebagai Tuhan, melainkan semua itu adalah makhluk seperti halnya makhluk Tuhan lainnya, mereka pun menyakini bahwa dibalik alam materi beserta keserasiannya ini, dan di atas hukum kausalitas yang mengatur alam materi, terdapat Kausa Prima yang metafisik yang telah menciptakan alam yang menakjubkan berdasarkan ilmu, rancangan serta perhitungan yang matang.

Oleh karena itu, apa yang maksud Tuhan oleh kaum Materialis yang keyakinan akan keberadaan-Nya di katakan sebagai akibat dari kebodohan manusia, sama sekali tidak memiliki kriteria Tuhan yang menjadi keyakinan para pengikut agama Ilahi. Sungguh sangat memalukan jika seseorang menghakimi dan mendakwa seseorang namun ia tidak memiliki sedikit pun informasi tentang perkara dan kasus yang dilakukan oleh orang yang dihakiminya.

Jika keyakinan akan Tuhan dan agama dianggap sebagai sabuah gagasan atau teori, maka teori ini harus kita jelaskan demikian: Menurut keyakinan umat beragama fenomena yang terjadi di alam semesta dilahirkan dari sebab dan akibat yang berunsur materi yang juga merupakan bagian dari alam materi dan -masing-masing darinya- memiliki posisi yang setara. Namun di atas sebab-sebab tersebut terdapat Kausa Prima yang telah menciptakan alam materi dari ketiadaan, dimana berdasarkan gradasi wujud Ia menempati tinggkatan yang jauh di atas alam materi dan memiliki eksistensi yang jauh berbeda.

Dengan menerima teori ini tidak akan mencegah kita untuk mnyakini adanya sebab-sebab materi. Selain itu, keteraturan dan keselarasan yang menghiasi seluruh alam raya ini mengafirmasikan akan keberadaan Kausa Prima yang menempati tingkatan wujud yang tertinggi dan memiliki hakikat yang berbeda. Jika tidak demikian (tidak ada Kausa Prima di balik sebab-sebab materi), maka materi yang tidak memiliki perasaan dan penalaran tidak akan dapat mewujudkan keteraturan dan keserasian yang sangat menakjubkan.

Maka dari itu, apa yang dituduhkan kelompok materialis sama sekali tidak sesuai dan tidak ada kaitannya dengan Kausa Prima yang diyakini umat beragama. Selain tuduhan di atas ada sejumlah tuduhan lain yang mereka lontarkan terhadap umat beragama, semua ini disebabkan kedangkalan pemahaman mereka akan ideologi umat beragama, dimana tanpa merujuk kembali kepada buku teologi dan filsafat agama dan konfirmasi kepada para agamawan, mereka melukiskan gambaran yang keliru dan menisbatkannya kepada para penganut ajaran Ilahi, kemudian mereka pun mulai melontarkan keritikan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan apa yang dimaksud dan diyakini umat beragama, ini menandakan ketidak fahaman mereka akan kandungan dan ajaran agama Ilahi.

Sebagai contoh, mereka mengatakan: Dengan segenap observasi dan riset yang dilakukan, tidak ada seorang ilmuan pun yang menemukan tanda-tanda akan keberadaan Tuhan, dan tidak akan ada sebuah penelitian pun yang dapat membuktikan keberadaan yang metafisik semacam ini.

Disaat menolak keberadaan ruh yang abstrak mereka mengatakan: Tidak ada satu pun praktek oprasi dan pembedahan atas tubuh manusia yang membuktikan keberadaan semacam ini.

Ucapan semacam ini sangatlah menggelikan, ini menunjukkan kedangkalan pemahaman mereka akan ideologi umat beragama, karena segala sesuatu yang dapat dibuktikan melalui eksperimen, jelas ia bukanlah Tuhan. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa segala macam eksperimen hanya terbatas pada penelitian sesuatu yang materi, dan hanya dapat menafikan dan membuktikan sesuatu yang jasmani? Sampai kapan pun dengan jalan eksperiman kita tidak akan dapat membuktikan atau menafikan sesuatu yang abstrak dan metafisik yang telah menciptakan alam materi, seluruh ilmuan yang melakukan uji coba, segala sarana dan obyek yang digunakannya bahkan yang telah menciptakan eksperiman itu sendiri.

Begitu juga dengan keberadaan ruh kita yang mujarrad yang biasa kita ungkapkan dengan ucapan “saya”, ia tidak mungkin dapat dibuktikan melalui oprasi dan pembedahan tubuh, karena perlengkapan medis yang materi tidak akan dapat menalar suatu yang abstrak.

Jawaban atas pandangan di atas akan tampak jelas jika kita menganalisa lebih mendalam pandangan kedua kelompok (yang beriman dan yang materialis), sehingga kita dapat membandingkan titik persamaan dan perbedaan kedua pandangan tersebut.

 Titik Persamaan Antara Dua Pandangan

Baik umat beragama maupun kelompok Materialis keduanya menyakini kaidah sebab akibat (kausalitas), mereka meyakini dan mengakui bahwa tidak ada satu kejadian pun yang muncul tanpa sebab dan segala fenomena yang terjadi di alam ini merupakan akibat dari serentetan sebab yang juga merupakan bagian dari alam materi itu sendiri. Contohnya, kedua kelompok tersebut mengakui bahwa sakit yang dialami seseorang merupakan sebab masuknya mikroba dan virus ke aliran darah dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan Jin, Malaikat, Peri dan Tuhan secara langsung, demikian pula dengan turunnya hujan dan salju yang diakui sebagai akibat dari menguapnya air laut dan kemudian membentuk menjadi gumpalan awan, dan dikarenakan sebab tertentu ia akan turun ke dataran bumi dengan membentuk tetesan air atau butiran salju.

Kedua kelompok ini pun mengakui bahwa dengan berputarnya bumi mengelilingi matahari dan pergerakan pada poros bumi telah mengakibatkan datangnya siang dan malam serta empat musim (dingin, semi, panas dan gugur). Mereka juga meyakini bahwa kekuatan magnet telah menyebabkan bumi dan planet lainnya menetap dan terus berputar di udara, dimana tanpa kekuatan magnet ini, maka tidak akan ada lagi keteraturan dan keserasian di jagat raya ini.

Mereka bersepakat bahwa keberadaan manusia disebabkan bertemunya dua sel yang berbeda (sel pria dan sel wanita) dimana pada kondisi tertentu sel tersebut akan tumbuh dan membetuk seorang manusia.

Pepohonan dan tumbuhan pada kondisi tertentu akan tumbuh subur, selain menyerap bahan makanan dan air yang berada di dalam tanah ia pun akan menghirup oksigen guna pertumbuhannya.

Tidak ada seorang ilmuan pun baik yang beragama atau yang mulhid (atheis), yang mengingkari bahwa pembiakan pepohonan dikarenakan proses penyerbukan yang terjadi akibat bertemunya serbuk sari dan putik yang dengan sebab tertentu ia akan terus tumbuh membentuk sebuah pohon atau tumbuhan.

Hembusan angin, terjadinya badai, gempa bumi, tambang minyak dan logam, gelombang ombak di lautan, cuaca panas dan dingin, dan seluruh fenomena alam dari atom yang terkecil hingga galaxi yang terbesar, seluruhnya memiliki sebab materi yang juga merupakan bagian dari alam ini.

Kebohongan paling besar yang dilontarkan kepada umat beragama ialah tuduhan yang mengatakan bahwa para penyembah Tuhan menganggap segala kejadian di alam ini merupakan setuhan langsung dari Tuhan, dan mereka sama sekali tidak menyakini sebab materi yang berpengaruh dalam terjadinya fenomena alam. Sungguh ucapan yang didasari kebodohan dan tipu muslihat ini merupakan tuduhan yang keji terhadap sebuah ideologi yang banyak dianut oleh para penggagas ilmu fisika dan biologi yang tersebar di belahan timur dan barat.

Silahkan anda menelaah buku-buku ilmuan Yunani kuno dan kitab-kitab Filsuf Islam, niscaya anda akan menemukan bahwa mereka selalu menggandengkan kajian filsafat ketuhanan dengan kajian ilmu fisika, atau terkadang sebagian buku-buku tersebut mereka isi dengan kajian filsafat ketuhanan dan bagian lainnya mereka khususkan untuk pembahasan ilmu fisika.

Kitab-kitab filsafat dan fisika Ibnu Sina, Farabi, khwajah dan ilmuan muslim lainnya hingga saat ini diajarkan pada Hauzah-hauzah Ilmiah, dan mayoritas pembahasan yang ada dinukil dari buku-buku Yunani kuno khususnya tulisan Aristoteles dan Plato, dan patut diketahui, seluruh kitab ini memiliki dua bagian, bagian pertama membahas tentang ilmu alam yang mencakup beberapa bidang ilmu fisika dan bagian lainnya mengenai metafisika yang mengkaji tentang keberadaan Pencipta dan sifat-sifat-Nya. Dan guna memperkuat pemikiran para murid, tahap pertama mereka diajarkan ilmu-ilmu Fisika dan Matematika sebelum menyentuh kajian ketuhanan.

Sisi Perbedaan

Setelah menganalisa sisi persamaan antara kelompok beragama dan kelompok Materialis, kita  akan membahas sisi perbendaan pendangan kedua kelompok ini.

Orang-orang Materialis mengatakan: Setelah dilakukannya berbagai uji coba kita dapat menyimpulkan bahwa alam yang ada ini merupakan akibat dari ledakan yang dahsyat (big bang) yang pada akhirnya terbentuklah alam semesta ini, setelah terjadinya ledakan, alam ini dipenuhi atom-atom kecil yang bergerak dan bertebaran di udara, setelah melalui serangkaian pergerakan, reaksi dan perubahan, secara alami terbentuklah tata surya yang kita saksikan ini.

Penganut agama Ilahi mengatakan: Memang benar bahwa alam semesta berasal dari molekul-molekul yang tersebar di penjuru alam, namun segala pergerakan, reaksi dan ledakan, dengan sendirinya dan tanpa campur tangan kekuatan besar yang memiliki daya nalar (persepsi), selamanya tidak akan mampu mewujudkan jagad raya ini beserta keberaturan dan keselarasannya yang sangat mengagumkan.

Menyakini bahwa alam semesta beserta keserasiannya merupakan akibat dari ledakan, tidak berbeda dengan kita menyakini bahwa di dalam tambang logam dengan sendirinya terjadi ledakan, dan akibat dari ledakan tersebut, tidak hanya memunculkan mesin-mesin dan huruf-huruf yang rapi dan apik bahkan huruf-huruf tersebut secara alami tersusun di atas lembaran kertas secara teratur sehingga terbentuklah seratus jilid kitab atau bait-bait syair Firdausi dan kamus Dekhoda, dan tanpa ada seoerang pekerja pun dengan sendirinya kitab-kitab tersebut akan terjilid dan tercetak.

Terjadinya ledakan di pertambangan memang akan mengakibatkan potongan-potongan logam berserakan ke berbagai arah, namun ia tidak akan menimbulkan keberaturan pada potongan-potongan logam tersebut, demikian pula halnya dengan ledakan yang terjadi di alam ini.

Kelompok Materialis mengatakan: Semulanya bumi dan planet lainnya yang kita saksikan ini, menyatu membentuk satu sentral galaksi yang memancarkan api, kemudian satu-persatu terpisah dan membentuk planet-planet tertentu, dengan berlalunya masa, pancaran api yang keluar dari planet-planet tersebut pun berkurang, akhirnya terbentuklah tata surya ini yang sebagian darinya memiliki bintang atau bulan.

Umat agama Ilahi mengatakan: Kami tidak mengingkari teori di atas, namun tanpa adanya campur tangan Dzat yang Maha kuasa dan Maha Mengetahui, segala proses terbentuknya alam ini selamanya tidak pernah akan terealisasi, planet-planet tidak akan berpisah satu dengan lainnya, masing-masing darinya tidak akan memiliki daya tolak dan daya tarik yang dapat menjaga keserasian dan kestabilanya, kekuatan magnet yang ada pun tidak akan memiliki reaksi sedemikan rupa sehingga planet-planet tersebut tetap terjaga pada posisinya dan terus berputar sesuai jalurnya serta tidak bertabrakan dengan planet lainnya, sungguh rancangan dan keteraturan alam yang sangat mengagumkan ini tidak akan terjadi begitu saja dengan sendirinya.

Dengan menerima logika kelompok materialis diatas, sama saja kita menerima logika yang mengatakan bahwa munculnya kilang minyak yang luas dan besar yang berada di Abadan serta pabrik pelebur besi yang berada di Amerika diakibatkan oleh gemba bumi yang terjadi di kawasan tambang logam , kemudian dengan sendirinya dari tambang tersebut keluarlah potongan-potongan besi, pipa, tiang-tiang, baut-baut, skrup-skrup dan secara otomatis, terbentuklah wadah-wadah besar, mesin-mesin dan berbagai alat lainnya, sehingga berdirilah kilang minyal dan pabrik yang sangat besar tersebut. Jika ucapan ini dapat dipercaya maka logika diatas pun juga dapat diterima.

Para materialis meyakini bahwa keberagaman yang ada pada tumbuhan dan hewan merupakan suatu yang baru, pada mulanya hewan dan tumbuhan hanya memiliki satu jenis, kemudian masing-masing dari hewan dan tumbuhan mengalami pergerakan dan perubahan sehingga melahirkan jenis pohon dan hewan yang berbeda, jenis yang baru pun akan melahirkan jenis yang berbeda pula, pada akhirnya keberagaman pun mewarnai tumbuhan dan hewan dimana pada awalnya tidak ada di alam ini kecuali hanya satu jenis pohon dan satu jenis hewan.

Pengikut ajaran Ilahi mengatakan: Proses penyempurnaan pada hewan dan pepohonan yang disampaikan di atas adalah salah satu teori ilmiah -yang dirumuskan oleh para ahli fisika- yang tidak didasari dengan bukti-bukti yang kuat, hingga saat ini teori tersebut hanya berupa wacana dan para penggagasnya pun mengakui bahwa teori ini memiliki banyak kekurangan dan keraguan. Dan seandainya pun teori ini dapat dibuktikan kebenarannya, ia tidak akan menguatkan pandangan kedua belah pihak, karena baik kelompok materealis maupun kelompok beragama kedua-duanya tidak mengingkari teori ini, bahkan para penggagas teori ini adalah orang-orang yang beragama Ilahi. Sungguh sangatlah eneh, mereka menukil teori ini dari ucapan orang-orang yang beragama kemudian mengkritik dan menuduh mereka sebagai sebagai kelompok bodoh yang menolak bukti-bukti ilmiah.

Menurut kami (umat beragama) segala keberagaman, pergerakan dan penyempurnaan harus ada di bawah pangawasan dan pengaturan Dzat yang maha kuasa, karena perputaran dan perubahan yang terjadi selama berabad-abad menandakan adanya keserasian antara yang melahirkan dan yang dilahirkan, baik dari jenis hewan maupun tumbuhan. Mata rantai perubahan yang ada ini, satu dengan lainnya memiliki ikatan sebab akibat, keterkaitan ini sangatlah kokoh dan teratur sehingga satu jenis tertentu dapat melahirkan jenis yang lebih sempurna darinya. Oleh karenanya menurut Furughy teori ini (proses penyempurnaan hewan dan tubuhan) bukan saja tidak bertentangan dengan ideologi dan keyakinan umat beragama, bahkan ia merupkan bukti bahwa segala fenomena di alam ini tidak akan terjadi kecuali berdasarkan aturan dan ketentuan yang telah digariskan, dan ini merupakan argumen yang kokoh bahwa alam semerta ini tidak terjadi secara kebetulan, dengan kata lain dunia ini ada yang menciptakannya.

Pandangan Keempat

Keyakinan beragama berakar dari dorongan seksual.

Menurut Freud awal munculnya agama berasal dari Oedipus (dorongan seksual anak laki-laki kepada ibunya (oedipus complex) dan rasa cemburu kepada ayahnya), ia mengatakan: Dalam masyarakat primitif yang dipimpin oleh kepala suku, terdapat putra-putra kepala suku yang mencintai ibunya sejak kecil, hari-demi hari raca cinta ini semangkin menguat sehingga mereka pun berniat untuk membunuh sang ayah dengan harapan mereka dapat leluasa menguasai sang ibu untuk memuaskan dorongan seksual mereka, namun setelah membunuh ayah, mereka merasa menyesal.

Perasaan dosa dan penyesalan yang mendalam, menjadikan mereka gelisah dan selalu mengingat jasa-jasa sang ayah serta kebaikan yang telah dicurahkan kepada mereka semasa hidupnya. Berupaya menenangkan hati mereka, mereka mulai memuliakan segala perintah dan ajaran sang ayah saat masa hidupnya,  kemudian mereka pun mengagungkan kedudukan sang ayah dan memposisikannya seakan-akan ia adalah Tuhan dan Sang Pencipta, lama-kelamaan mereka pun mulai menyembahnya serta mengagungkannya sampai pada batas ketuhanan.

Berdasarkan asumsi ini Freud menyimpulkan bahwa keyakinan agama merupakan dampak dari penyesalan dan rasa bersalah yang dialami oleh anak-anak yang membunuh ayahnya.

Dengan kata lain Freud menyakini bahwa rasa bersalah dan berdosa merupakan faktor munculnya agama-agama.[36]

Teori Khayalan

Kerancuan yang dialami Freud dalam teorinya disebabkan penelitian sepihak yang dilakukannya, Freud hanya menganalisa satu sisi psikologis manusia tanpa menoleh pada sisi dan aspek lainya, inilah yang menyebabkannya selalu keliru dalam teori dan kesimpulan yang dicapainya.

Walaupun demikian, Freud dan orang-orang yang sepemikiran dengannya selalu berusaha megemas teori-teori semacam ini dengan corak ilmu pengetahuan, dan mengatakan “teori ini suatu yang ilmiah” sehingga berhasil memperdaya dan mempengaruhi pemikiran masyarakat saat itu, namun tanpa mereka sadari dengan terus berkembangnya ilmu pengetahuan dan penelitian yang mencerahkan pemikiran, tampaklah kebohongan dan kekeliruan teori ini.

Pandangan di atas merupakan pandangan yang paling lemah dan paling keji dari sekian pandangan lainnya yang menafsirkan akan foktor kemunculan agama, meskipun penafsiran ini ditampilkan dengan kemasan dan istilah psikologis namun pada dasarnya ia  tidak didasari kecuali oleh rasa sentimen dan kebencian Freud atas agama Yahudi yang dianutnya.[37]

Dengan teorinya, Freud telah menghempaskan manusia yang setelah berabad-abad mampu mencapai tingkatan psikologis yang tinggi, pada posisi dan derajat binatang.

Selain tidak memiliki kebenaran, teori ini pun memiliki dampak yang sangat buruk dan berbahaya. Banyak para pemikir yang menyatakan bahwa teori ini dapat melunturkan norma-norma mulia yang dimiliki manusia dan lebih bahaya lagi ia dapat membendung naluri manusia untuk menerima segala prilaku dan etika yang terpuji. Teori ini bukan hanya tidak mampu mengatasi problema yang ada, namun ia akan lebih memperkeruh dan menumpuk problematika kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pada dasarnya pandangan ini tidak layak disebut dengan teori apa lagi dinyatakan sebagai sebuah kajian yang ilmiah.

Bagaimana mungkin Freud sebagai seorang yang disebut ilmuan dapat memiliki pemikiran yang sangat naif dan tidak berdasar ini dan mengatakan bahwa dorongan seksuallah yang menyebabkan seseorang mencari Tuhannya, padahal para ilmuan dan pemikir besar, serta tumpukan buku-buku sejarah dan sosial menyatakan bahwa pengetahuan dan informasi yang kita dapati mengenai pola kehidupan masyarakat primitif sangatlah minim dan transparan.

Dalam buku “Sejarah Ilmu pengetahuan” -yang ditulis oleh puluhan ilmuan dan pakar sejarah-, ketika membahas tentang kehidupan kabilah-kabilah dan masyarakat primitif,  disebutkan: “Saat ini kita telah mengakhiri pambahasan mengenai sejarah ekonomi manusia yang sandaran dan buktinya adalah hasil penemuan fosil-fosil dan sedimen-sedimen di dalam tanah. Yang patut diperhatikan ialah adanya kekosongan dan celah besar dan luas dalam informasi yang kita dapatkan mengenai kehidupan manusia terdahulu, dan apa yang telah kami jelaskan sebelumnya, tidak lebih dari beberapa lembar kertas yang teracak dari satu kitab yang telah hilang”.

Maka dari itu, teori sosiologis dan psikologis manakah yang dapat berdiri kokoh dengan berpijak pada asumsi dan prediksi seperti ini, terlebih lagi teori psikologis Freud”.

Freud selalu berusaha menganalisa dan mengkaji psikologis seseorang melalui beberapa fenomena yang sederhana, bahkan menurut sebagian sosiolog dan ahli sejarah, gagasan ini tidak lain hanya ungkapan dari kondiri psikologis Freud sendiri.

Meskipun Freud bersikeras mengatakan bahwa ideologi agama ditimbulkan dari rasa takut dan penyesalan, namun saat ia berhadapan dengan orang-orang yang beriman dan mendengar argumen mereka yang membuktikan bahwa naluri dan rasa bergantungan kepada Dzat yang Maha Kayalah yang telah menimbulkan keyakinan beragama pada hati para ilmuan dan pemimpin agama, ia membungkam dan tidak dapat menyanggahnya.

Ketika ia (Freud) mengenal kepribadian Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad As, para Urafa’ yang tersebar di belahan timur dan barat serta para penggagas ilmu dan peradaban yang beriman kepada Tuhan, saat itu dengan menundukkan kepala niscaya ia akan merubah teori khayalannya itu.

Seorang psikolog, Edcaries mengatakan: Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian orang dapat merasakan sebuah perasaan khusus yang tidak dapat mereka jelaskan dengan baik, mereka berbicara dari perasaan yang bersambung dengan keabadian, mereka mengeluhkan atas keterpisahan mereka dan menginginkan di satu masa dapat tersambung kembali.

Agama merupakan bentuk pemikiran yang dihasilkan dari perasaan yang abadi (fitrah), dan pengaruh perasaan ini dengan sangat jelas dapat dilihat pada seluruh pemikiran agama. Namun Freud meragukan keberadaannya dan menyatakan bahwa dari analisa psikologis yang dilakukannya, ia sama sekali tidak dapat menemukan perasaan semacam ini dalam dirinya, akan tetapi ia mengakui bahwa hal ini tidak dapat dijadikan sandaran baginya untuk mengingkari keberadaan perasaan tersebut pada diri orang lain.[38]

Seandainya Freud ingin menganalisa secara obyektif, maka ia tidak akan melontarkan gagasan semacam ini. Namun pengingkarannya akan naluri religius yang ada dalam batin manusia, telah mengkibatkan pandangannya menjadi sempit, dan kajian psikologinya yang hanya terfokus pada orang-orang yang memiliki problem kejiwaan tanpa melihat fenomena psikologis yang terjadi secara alami, telah menjadikannya lengah akan filsafat ketuhanan dan basis pemikiran umat agama Tauhid.[http://www.wisdoms4all.com]

  


[26] Tarikh Will Durant , jilid 1, hal 89-90.

 [27] Socrates hidup pada tahun 469-396 SM.

[28] Dairatul Ma’arif, Farid Wajdi, hal 499.

[29] Ibid, hal 459. al-Quran pun telah menyebutkan argumen ini dalam surat ar-Ra’d: 4.

[30] At-thur: 35

[31] Ibrahim: 10

[32] Ar-Ra’d: 4

[33] Materialisme Tarikhi, hal 61

[34] Ibid, hal 99

[35] Dinukil dari buku Usul Muqaddimati Falsafe Negaresy, tulisan George Paulstre dan Irfan wa Ushule Maadi, karangan Doktor Taqi Araani.

[36] Rawankawie pisik analiz, hal 194.

[37] Freud adalah seorang yang berketurunan Yahudi dimana pada masa hidupnya, bangsa Yahudi sangat dibenci dan dihinakan oleh penduduk Eropa, hal ini menimbulkan kebenciannya terhadap agama Yahudi yang dianggap sebagai penyebab kehinaan dirinya, akhirnya ia pun menggagas teori ini sebagai pembalasan atas dendamnya terhadap agama.

[38] Hunare Isyq Warzidan, hal  69.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s