Divine World View [1]

Harapan Manusia

world-view.jpgManusia selalu mengharapkan kehidupan yang sesuai dengan tuntutan alam dan fitrahnya. Dengan semua potensi yang dimiliki dan tersembunyi dalam dirinya serta berbagai insting, manusia dapat menikmati makan, tidur dan syahwat, terhindar dari bahaya dan kehancuran serta bisa menjaga kehidupannya. Kesimpulannya, dengan aturan penciptaan dan sunnah Tuhan yang abadi manusia selalu mencari kenyamanan  dan ketenangan serta menghindar dari ketidaknyamanan dan ketidakbahagiaan. Artinya, selain sebagai penjaga kehidupannya manusia juga sebagai pencari kemudahan dan kebahagiaan. Dengan bertumpu pada kedua tujuan  ini—sesuai   dengan khayalannya—dan berbekal segenap kemampuan ia selalu mencari kenyamanan, idealitas dan khayalan tentang kebahagiaan atau yang terkenal dengan keberuntungan! Akan tetapi…

Manusia telah hidup selama berabad-abad di alam semesta ini. Mereka menikmati tidur, makan dan syahwat. Meskipun semua ini sudah mereka rasakan, manusia masih berusaha membangun peradaban lebih luas serta merintis kehidupan baru, menciptakan industri, teknologi, penemuan-penemuan baru yang canggih dan mengagumkan. Selain itu alam—bukan bentuk aslinya—dibentuk sesuai dengan hasrat dan kehendaknya. Perubahan terus berlangsung mulai dari seorang penghuni gua sampai menjadi penghuni istana, mulai dari mengendara hewan sampai alat-alat transportasi darat dan udara yang cepat bahkan pesawat luar angkasa.

Bukan saja manusia tidak sampai pada kebahagiaan yang diharapkan dan idealitas, bahkan mereka kehilangan kenyamanan dan fasilitas masa lalu leluhur mereka. Dari manusia yang memiliki perasaan berubah menjadi manusia mesin yang terluka, lelah dan mengeluh ditekan oleh waktunya sendiri.

Pengertian Mekanisme

Setiap mesin atau satu unit tertentu, kecil atau besar (yang dibuat untuk sebuah pekerjaan dan digunakan untuk suatu manfaat dan tujuan tertentu), tersusun dari bagian-bagian luar atau dalam, bagian-bagian asli ataupun tambahan, sederhana ataupun rumit, keseluruhannya tetap disebut dengan kesatuan unit. Manusia memiliki bagian dan anggota tubuh yang saling kerja sama, teratur dan tersusun rapi yang memberikan manfaat dan faidah. Aturan kerja dan hukum harmonis dari bagian-bagian tadi disebut dengan mekanisme mesin atau unit tersebut.

Mekanisme yaitu hubungan, keteraturan atau keselarasan sempurna di antara bagian-bagian suatu unit, pekerjaan yang dilakukannya, kerjasama, dan praktek yang seimbang dalam melakukan tugasnya.

Setiap benda yang ada di dunia memiliki mekanisme. Sedangkan setiap bagian dari bagian-bagian yang dimiliki oleh benda memiliki hubungan dan kerja sama dengan bagian-bagian lain yang ada di dunia. Seluruh benda yang ada di dunia secara bersamaan membentuk sebuah mekanisme makro kosmos. Mekanisme besar ini kita sebut sebagai kosmos. Segala sesuatu di dunia mengikuti mekanisme besar ini yang biasa kita sebut sebagai determinisme alam. Akan tetapi manusia yang merupakan salah satu dari anak alam ini yang bisa disebut sebagai mikro kosmos, memiliki dua mekanisme. Mekanisme pertama sesuai dengan dasar penciptaan manusia yaitu wujud yang memiliki kehendak, kekuatan dan ikhtiar. Mekanisme kedua adalah mekanisme umum alam yang dibangun berdasarkan aturan makro alam penciptaan, undang-undang dan kebiasaan umum alam.

Mekanisme besar semua benda di alam ini adalah merupakan tugas-tugas kehidupan dan setiap benda di alam telah diciptakan untuk itu. Tugas kehidupan itu kita sebut sebagai insting benda yang dalam al-Quran disebut sebagai fitrah. Setiap benda, kecuali manusia, bergerak dalam jalur dan alur tertentu sesuai dengan aturan insting atau mekanisme alami yang pada dasarnya adalah turunan dari fitrah (yaitu mekanisme makro penciptaan).[1] Semua aktifitas benda berawal dari fitrah dan alam laksana jalan yang terbentang di atas kaki mereka. Sedangkan wujud mereka diciptakan untuk aktifitas ini. Pada kenyataannya selain manusia tidak ada satu bendapun yang mekanismenya bisa berubah dan tidak teratur. Hanya manusia yang dapat bekerja di luar jalur yang telah ditetapkan  bagi mereka.

Manusia memiliki kehendak yang menjadikannya lebih unggul dibanding makhluk lainnya. Karena tali kendali-diri berada ditangannya, manusia selalu berada dalam ancaman kesesatan, penyimpangan dari jalur fitrah dan alamiah, kesengsaraan, ketidaknyamanan dan ketidaktenangan yang bagi makhluk lain bukanlah merupakan ancaman. Karena ketika manusia menggunakan kehendak yang bertentangan dengan hukum-hukum alam yang memberikan ketenangan, maka mekanisme alami yang dimilikinya akan rusak. Rusaknya mekanisme setiap unit rusak, akan berakibat pada kehancuran dan hilangnya fungsi dari unit tersebut. (Dengan kata lain, penyimpangan manusia dari hukum-hukum paten dan azali ibu pertiwi) akan berakibat pada ketidakbahagiaan, kesedihan, kehampaan serta kehancuran dirinya.

Selama manusia berjalan di atas platform hukum alam dan menjalankan kewajiban-kewajiban fitrahnya, ia akan hidup bahagia. Dan kebahagiaan ini akan tetap menyertainya selama ia berbuat sesuai dengan flatform hukum alam itu.

Makna Kebahagiaan    

Makhluk penghuni air seperti ikan menemukan kehidupan dan kenyamanannya  di dalam air, karena sesuai hukum alam (mekanismenya) ia harus hidup di dalam air. Seeekor burung sama sekali ia tidak akan bisa melangsungkan kehidupannya kecuali di tempat yang memang diciptakan untuknya dan kenyamanannya berada di tempat itu, karena akan bertentangan dengan mekanisme penciptaan dan hukum fitrahnya. Dan manusia akan merasakan kenyamanan dan ketenangan serta keberuntungan ketika berada dalam mekanismenya, yaitu ketika dia berjalan di jalur fitrah.

 Keberuntungan adalah ketenangan, ketenangan jasmani, jiwa dan pikiran. Bahkan benda-benda matipun memiliki ketenangan dan kesulitan. Kesulitan itu muncul ketika ketidaknyamanan menguasai mereka serta membawa mereka keluar dari jalur penciptaan dan alaminya.

Kereta api yang keluar dari relnya, mobil yang keluar dari jalurnya atau pesawat yang digunakan menjadi perahu di atas air, seekor ikan yang dikeluarkan dari air dan seekor burung yang dipaksa hidup di darat.

Maka dari itu, setiap yang jauh dari rumah, sarang dan tempatnya, akan kehilangan ketenangan juga kenyamanan dan berubah menjadi makhluk yang gagal.

Dan manusia yang berjalan jauh dari jalur fitrah dan alam, ia telah menyimpang dari posisi alaminya dan terpaksa kehilangan keberuntungannya. Karena keberuntungan adalah, terwujudnya segala sesuatu yang diharapkan manusia dan  makhluk lainnya.

Telah banyak definisi tentang kebahagiaan yang telah diutarakan, sebagian beranggapan bahwa kebahagiaan terletak pada harta, sebagian lain beranggapan terletak pada popularitas dan jabatan, yang lain beranggapan terletak pada kekuasaan, sebagian lain beranggapan terletak pada sebuah keluarga yang hangat dan harmonis dan lain-lain. Dan yang cukup menakjubkan adalah kebanyakan masyarakat yang mengeluhkan kesusahan dan mengharapkan keberuntungan adalah mereka yang sudah memiliki semua hal-hal yang disebutkan tadi atau yang banyak memilikinya.

Setiap manusia dan makhluk lainnya selalu mengharapkan kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan yang menyeluruh. Ketenangan dan kenyamanan ini akan tercipta ketika manusia sudah menemukan posisi hakikinya, persis sebuah marmer yang dipasang di tempatnya, dan menemukan stabilitasnya. Ketenangan dan kenyamanan ini akan tercipta ketika manusia tidak jauh dan lalai dari mekanisme penciptaan dirinya, mengenal hukum-hukum  ibu pertiwi, hukum-hukum fitrah dan alam sekitarnya (yang sarat dengan keuntungan dan ketenangan). Ia harus menghormati dan mengamalkan hukum-hukum tersebut serta tidak melangkah keluar jalur hukum-hukum alam.

Alhasil, ia harus berada di jalur yang semestinya dari perjalanan dan hukum-hukum alam. Bukan suatu kebetulan, apa yang dalam agama disebut dengan  haram dan telah diperkenalkan kepada kita, adalah ketidakserasian, penentangan undang-undang abadi alam dan fitrah. Dan apa yang disebut dengan wajib dalam agama adalah kesamaan dan keserasian dengan alam yang berarti kenyamanan dan kesenangan manusia. Dan bukan tanpa alasan mengapa Islam disebut sebagai agama fitrah, karena dengan sederhana dan sedikit meneliti kita bisa mengetahui bahwa hukum-hukum dan aturan-aturan Islam serasi dengan mekanisme penciptaan manusia yaitu hukum-hukum dan aturan-aturan alam dan keserasian tabiat jagat raya yang indah ini.

Agama

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya—yakni dikarenakan adanya keserasian yang sangat antara hukum-hukum langit (agama) dengan tabiat manusia serta adanya relasi positif dengan ilmu-ilmu experimen manusia—keserasian  antara agama dan fitrah (alam) ini, dengan mudah kita bisa mengetahui bahwa setiap agama dan syariat (keduanya diartikan sebagai jalur dan jalan) yang diwahyukan kepada para nabi dan sampai kepada manusia, adalah hukum-hukum dan aturan-aturan yang diperlukan untuk menciptakan keserasian antara manusia dan makro kosmos. Dan (agama) diturunkan sesuai dengan dasar mekanisme dan fitrah manusia, bahkan tidak sedikitpun bagian dari fitrah yang disingkirkannya. Dengan alasan ini, tunduknya manusia dalam agama, akan menjamin kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan manusia di dalam lindungan ibu pertiwi. Artinya agama akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan. Dan bukanlah suatu kebetulan jika agama yang merupakan jalan Tuhan ini dinamakan sebagai Islam.

Apakah Manusia Membutuhkan Agama?

Pertanyaan ini lebih sering diutarakan oleh para pemuda dan para cendekiawan yang tidak fanatik. Sebagian orang, dengan fanatik memvonis agama terlebih dahulu dan menolaknya tanpa tanpa pengkajian yang mendalam tentang esensi dan makna hakiki agama. Sementara sebagian yang lain malah menerima agama begitu saja. Tanpa melihat penilaian-penilaian yang tercemar dengan puritanisme, kita akan kembali menelusuri jalan yang lalu dan melihat agama dengan sudut pandang lain dengan menyuguhkan beberapa premis berikut ini:

Pertama: Manusia adalah salah satu dari fenomena alam, anak dari alam yang indah dan keturunan alam.

Kedua: Jagad raya memiliki segenap aturan-aturan besar dan rumit serta fenomena-fenomena yang belum diketahui, namun keselarasannya ada pada sesuatu yang saling bersambung dan berhubungan.

Maka konklusinya adalah ketenangan, keselamatan dan kesenangan manusia, tidak diragukan lagi, terletak pada keserasiannya dengan alam dan berlindung di pangkuan ibu yang pengasih ini serta mengikuti aturan-aturan alam yang memberikan keselamatan—dengan kata lain mengikuti agama. Makhluk alam “terpaksa mengikuti aturan alam untuk meraih kebahagiaan (baca: agama).

Harus juga dikatakan bahwa seremonial agama, adat dan kebiasaan mazhab yang tidak mampu menjawab kebutuhan-kebutuhan alami manusia serta menjamin kebahagiaannya, tidak bisa dianggap sebagai bagian agama.  Manusia tidak membutuhkan agama seperti ini karena agama yang demikian hanya akan menjadi belenggu bagi pengikutnya serta menjadi pendukung bagi musuhnya.

Jika ketenangan dan kebahagiaan terletak dalam perjalanan di jalan alami dan menyelami sirkulasi makro fitrah, maka diperlukan metodologi dan pandangan dunia. Selama kita tidak memiliki pengetahuan yang benar dan jelas tentang alam serta sirkulasi makro alam, maka perjalanan tidak akan menguntungkan bahkan akan gagal. Di sinilah terbukti pentingnya sebuah pandangan dunia.

Pengertian Pandangan Dunia

Dunia atau alam adalah semua benda yang ada di sekeliling, di bawah dan di atas kita. Yaitu bumi beserta makhluk hidup dan benda mati yang ada di dalamnya, seperti matahari, planet-planet, bulan, lautan yang tak terbatas, angkasa, bintang-bintang, galaksi-galaksinya dan segala sesuatu yang berada di atas mereka semua, baik yang bisa dilihat mata dengan teropong bintang, dengan mikroskop atau hanya bisa terbukti dengan bantuan angka dan perhitungan. Pokoknya dunia adalah semua yang berada di sekitar kita dan di alam makro ini.

Dengan memperhatikan sekitar, kita bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang alam. Kumpulan pandangan dan informasi kita tentang manusia, makro kosmos dan mikro, jagad cilik dan gede, semua makhluk serta analisa hubungan di antara mereka dan penafsiran global dari semua pengetahuan, disebut dengan pandangan dunia.

Manusia memiliki pandangan dunia yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Mereka menyukai atau membenci satu hal dengan ukuran yang berbeda. Sebagian dari mereka menilai sesuatu itu baik dan menyenanginya. Sementara yang lainnya menilai jelek dan tidak menyukainya. Perbedaan-perbedaan akidah antara manusia menunjukan perbedaan pandangan dunia di antara mereka. Namun, karena dunia tidak memiliki hakikat lebih dari satu, maka hanya ada satu kelompok saja yang benar sementara yang lainnya salah karena tidak mengenal dunia sebagaimana mestinya. Hanya ada satu pandangan dunia yang benar sementara yang lainnya salah dan batil. Sekarang kita coba analisa apakah dampak dari pandangan dunia yang salah, apakah ia memiliki pengaruh positif ataukah negatif dalam kehidupan manusia.

Pengetahuan yang salah selalu menjadi penghalang dalam penggunaan dan pemanfaatan autentik dari sesuatu. Sebagai contoh, ketika seseorang menganggap bahwa mobil adalah sebuah benda yang tidak bisa bergerak (seperti sebuah ruang besi), maka selamanya ia tidak akan berpikir untuk menggunakan kekuatan yang tersimpan di dalam mobil atau menggunakan kecepatan dan berbagai manfaat lainnya,  apalagi sampai harus sibuk merawat dan menjaganya. Begitu juga jika manusia tidak mengetahui jika suatu makanan, buah serta makanan lain yang bermanfaat bagi kehidupan, selama ia tidak mengetahuinya maka ia tidak akan pernah menggunakan dan memanfaatkannya.

Pengetahuan yang salah juga akan mengakibatkan manusia menganggap sesuatu yang berbahaya itu berguna bagi dirinya  sehingga ia mendekatinya. Sebagaimana pengetahuan anak yang salah mengakibatkan anak terbakar api atau tenggelam di air atau mengalami kecelakaan lainnya yang semuanya bersumber dari ketidaktahuan.

Di sepanjang umurnya, manusia hendaklah mengenal pandangan dunia yang benar dengan menggunakan pikiran dan akal yang terus berkembang dan matang. Hendaklah ia berusaha agar pandangan dunianya tidak salah  sehingga ia terhindar dari dampak negatif dari kesalahan itu.

Setiap Orang Memiliki Pandangan Dunia

Tidak ada seorangpun yang tidak memiliki pandangan dunia, karena mau tidak mau di sepanjang hidupnya (dari lahir hingga meninggal), informasi dan pengetahuan manusia tentang diri dan alam sekitarnya akan menjadi dasar bagi pandangan dunianya. Kumpulan pengetahuan manusia ini, yang merupakan penafsiran manusiawi adalah pandangan dunia. Yang terpenting adalah bahwa pandangan dunia hendaklah sesuai dengan realitas, benar dan kita harus mengenal semua yang ada di alam sebagaimana adanya. Walau kita mungkin hanya bisa sedikit mencapai harapan itu. Lewat  eksperimen dan pertolongan ilmu kita bisa gunung dengan cepat dan baik, mengetahui batu-batuan, pohon-pohonan dan tanah. Akan tetapi untuk mengetahui dunia tidak semudah mengetahui fenomena-fenomena di atas. Ada banyak hal yang tidak bisa diketahui dengan mudah walaupun dengan bantuan eksperimen dan ilmu pengetahuan. Kebanyakan masalah manusia dan filsafat berada  pada ruang lingkup  hal-hal yang tidak diketahui dari dunia, seperti masalah pencipta, kiamat, filsafat penciptaan, nasib dan yang serupa dengannya. Untunglah   pandangan dunia Islam  telah memberikan jawaban yang tepat dan jelas terhadap masalah-masalah ini.

Oleh karena itu, untuk mengenal hakikat yang sulit atau tidak mungkin untuk dicapai, hendaklah kita menempuh salah satu dari tiga jalan yang ada. Ada tiga pandangan dunia di hadapan kita. Jalan pertama, ilmu pengetahuan dan eksperimen seperti ilmu fisika, kimia, perbintangan, biologi dan cabang-cabangnya, kedokteran, psikologi dan lain-lain. Setiap cabang ilmu ini berusaha mengetahui satu sudut dari dunia dan memperkenalkannya kepada kita dan sampai batas tertentu ilmu-ilmu ini telah berhasil. Karena ilmu pengetahuan dan eksperimen bersandar  pada pemahaman dan indra manusia, sedang keduanya tidak terlepas dari kesalahan-kesalahan maka ilmu pengetahuan juga cukup memiliki kesalahan. Dari hari ke hari selalu terungkap kesenjangan dan kesalahan darinya. Oleh karena itu, setiap saat ilmu pengetahuan dan teori-teori semakin lama semakin sempurna dan selalu berubah.

Jalan kedua, filsafat. Filsafat merupakan jalan manusia yang paling sempurna untuk mengetahui  kosmologi. Berbeda dengan ilmu pengetahuan yang hanya memiliki ruang lingkup terbatas, filsafat melingkupi seluruh fenomena, dan masalah-masalah dunia dan manusia. Akan tetapi jalan ini pun tidak bisa menyuguhkan kepada manusia pandangan dunia yang hakiki, bermanfaat dan mampu menyelesaikan permasalahan manusia dalam mencapai kesempurnaannya. Karena secara praktek kita menyaksikan bahwa kelompok-kelompok filsafat yang saling bertentangan, baik yang lama atau yang baru, bukan hanya tidak mampu memberikan pandangan dunia yang bermanfaat kepada manusia, tapi setiap  kelompok terbelenggu dan tersesat dengan pandangan-pandangan khayalnya bahkan terhalang dari kosmologi hakiki.  Ini adalah bukti dari minusnya manfaat mereka. Kita juga menyaksikan ideologi-ideologi besar seperti Komunisme, Existensialisme, Materialisme—dengan semua klaimnya—tidak  mampu menjamin kebahagiaan material dan spiritual manusia dan dengan paksa mempropagandakan idenya serta  mempertahankan pengikutnya (walaupun dari satu sisi ia mampu memberikan kenyamanan).

Jalan ketiga, agama. Pandangan dunia yang sampai kepada manusia melalui perantaraan agama adalah berdasarkan kepada wahyu, bukan sekedar perasaan dan pengetahuan manusia. Wahyu yang sampai ke dalam hati manusia-manusia terpilih dengan bahasa alam. Karena sumbernya adalah ruh alam, maka ia bukanlah ruangan-ruangan yang tertutup, akdemi-akademi atau universitas-universitas. Wahyu memperkenalkan dunia kepada kita[2] serta menunjukkan aturan-aturan atau hukum-hukum alam yang belum diketahui.

Manusia dan Fitrah

Sesuai dengan tuntutan fitrah dan tabiatnya, manusia sesalu mencari pengetahuan tentang dunia, permulaan dan mekanismenya. Akan tetapi aktifitas akal dan ruh manusia menjelma dengan lebih baik dan kuat ketika ia mencapai kedewasaan jasmani. Sejak itu, sadar atau tidak, manusia selalu mencari pengetahuan hakiki yang lebih luas tentang kenyataan dan masalah-masalah logis yang lebih penting.

Pada tahapan ini yang sulit, mendaki dan gelap ini, meskipun sang pemimpin arif dan super namun tidak mengetahui aturan-aturan alam, maka ia pasti akan tersesat dan berpandangan negatif dan akan berpaling apa yang selam ini dicarinya.

Tahap kedewasaan jasmani adalah pembawa pesan tentang kedewasaan berfikir dan pemberi kabar gembira akan pertumbuhan kekuatan ruh dan otaknya. Ketika manusia sampai di usia dewasa, maka ini adalah pertanda bahwa kekuatan jasamani dan ruhaninya telah cukup berkembang untuk kemandirian, penentuan tujuan dan mengenal alam sekitarnya. Oleh karena itu, masa ini berbeda  dengan masa kanak-kanak atau dengan makhluk hidup lain.

Manusia yang memiliki kekuatan jasmani dan ruhani yang matang (baligh) juga memiliki kebijaksanaan (‘âqil), maka ia wajib menentukan tujuan untuk masa depan kehidupannya. Untuk memiliki tujuan, pertama hendaklah manusia mengenal alam di sekitarnya artinya ia harus mempunyai pandangan dunia yang benar. Dengan mengenal diri dan dunia, otomatis tujuan keberadaan dan penciptaan manusia pun akan jelas. Berdasarkan pengetahuan tentang dunia dan tujuan yang benar, manusia dapat mengatur dan melaksanakan program praktis masa depannya. Program praktis yang telah dibangun ini dinamakan dengan ideologi atau akidah dan mengandung dasar-dasar yang diperlukan dalam kehidupan di dunia dan berlandaskan pengenalan diri dan pandangan dunia.

Pandangan Dunia Islam

Dalam bahasa Arab, Islam bermakna menyerahkan diri. Dan dalam terminologi al-Quran adalah tunduk terhadap aturan-aturan alam dan tanpa perlawanan mengikuti aturan fitrah serta tidak berjalan hanya dengan mengikuti kehendaknya sendiri. 

Islam adalah tunduk tanpa embel-embel dan syarat di hadapan Tuhan yang termanifestasi dalam aturan-aturan alam, dengan sempurna mengikuti fitrah yang sehat dan aturan-aturan agama. Islam yaitu penyerahan murni terhadap aktifitas makro kosmos, berjalan berbarengan dengan seluruh makhluk di jalur wujud dan berjalan menuju kesempurnaan.

Seluruh makhluk di alam ini mau tak mau, tunduk di hadapan aturan-aturan alam. Dan dari sini, makna agama menjadi jelas kembali yaitu aturan alam dan sunnah kosmos yang paten. Al-Quran membandingkan manusia yang tidak tunduk di jalan Tuhan dengan makhluk-makhluk lain yang berjalan dalam agama Allah yakni aturan alam. 

Ciri khas agama yang hakiki adalah mengantarkan manusia kepada kebahagian dan keselamatan, sebagaimana yang telah kita sebutkan bahwa agama adalah aturan fitrah sedang fitrah dan alam adalah pemberi keselamatan bagi manusia, maka dengan mudah kita bisa mengenali benar atau tidaknya hukum-hukum agama dengan standar ini dan memahami kemurnian dan kepalsuan setiap agama dan mazhab.

Ketika sebuah aturan yang benar, agama, jalan hakiki atau jalan pembebas bertentangan dengan aturan alam, maka dapat duisimpulkan bahwa semua agama, jalan dan mazhab yang mengklaim dapat membebaskan manusia ini, adalah salah dan tidak benar. Karena kita tidak dapat menyaksikan bahwa semua aturan dan perintahnya sesuai dengan fitrah manusia dan alam, meskipun sebagian dari aturan mereka memberikan keuntungan bagi manusia.

Harus diketahui bahwa agama-agama langit yang dibawa oleh para nabi yang jujur untuk manusia lewat perantaraan wahyu, pada awalnya memiliki karakter khusus agama hakiki, karena berasal dari satu sumber dan satu pesan untuk manusia. Akan tetapi akibat intervensi-intervensi pribadi serta campur tangan para pemuka agama dan para rohaniawan, perlahan-lahan semua hukum-hukum hakiki langit menjadi hilang. Sebagai gantinya muncullah adat-istiadat, pendapat-pendapat dan fikiran-fikiran dangkal yang disuguhkan kepada masyarakat. Sebagai ganti dari mengamalkan aturan-aturan yang bisa membahagiakan dari satu madzhab, mereka malah menyibukkan masyarakat untuk melakukan seremonial-seremonial  yang kering dan tidak bermanfaat. Mereka menimpakan bencana sedemikian rupa kepada masyarakat. Bencana adalah musuh bebuyutan yang tidak bisa dihindari.

Pandangan dunia manusia dapat diringkaskan dalam tiga kalimat, ilmu tentang wujud (manusia dan dunia) sebagaimana adanya—ilmu tentang sumber dan permulaan penciptaan—dan ilmu tentang akhir kehidupan manusia dan dunia.

Kita melihat bahwa ilmu alam dan fisika, yang terbatas hanya pada alam materi, telah melakukan berbagai loncatan pemikiran dalam area terbatas. Ilmu ini telah berhasil memuaskan kecendrungan dan rasa ingin-tahu manusia sampai pada taraf tertentu. Tapi yang sulit adalah masalah yang berkaitan dengan awal penciptaan dan pengetahuan batas akhir dari dunia dan semua makhluk yang ada di dalamnya.  

Pandangan dunia Islam dibangun diatas tiga pondasi: tauhid (keesaan Tuhan), nubuwwat (kenabian) dan ma’âd (hari kiamat). Tauhid memperkenalkan Pemula Yang Esa, yang keesaannya menyebabkan keseragaman wujud bagi semua ciptaan. Nubuwwat adalah rangkaian evolusi kesempurnaan untuk manusia dimana merupakan inti alam, yang akan kita bahas lebih jauh—dan kiamat  yang merupakan akhir semua kegiatan alam materi (tapi tidak secara fisikal).[3]

Pandangan dunia Islam disebut juga ushuluddin. Setiap muslim baligh dan berakal hendaklah  berusaha dan meneliti (tidak taqlid) ushuluddin Islam ini sebelum ia menerima bentuk akidah apa pun atau melakukan amal apa pun. Hendaknya ushuluddin Islam selalu menjadi perhatiannya dan menjadi fondasi bagi semua pikiran dan perbuatannya.

Ushuluddin adalah akar dan fondasi agama. Sementara furu’uddin (seperti, shalat, puasa, zakat dan sebagainya) adalah cabang-cabang agama. Agama diumpamakan sebagai pohon yang memiliki akar, batang, cabang dan buah. Jelas, tanpa memiliki akar yang kuat, furu’ yaitu cabang-cabangnya pun akan terancam punah dan hancur. Artinya jika pandangan dunia dan ideologi seorang muslim tidak benar dan sesat, semua amal dan ibadah serta praktek-praktek keagamaannya pun akan rusak, batil dan tidak berfaedah.

Bagian pertama dalam  Islam adalah keyakinan – yang dalam al-Quran diistilahkan dengan kata iman – dan bagian lain adalah amal. Iman dan amal adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, keduanya selalu disebut al-Qur’an secara bergandengan dan berdampingan.  Setiap amal dan ibadah yang tidak didasari oleh akidah, tujuan dan niat tidak akan diterima. Keyakinan kepada Tuhan (yang Esa), kenabian (risalah dari Tuhan) dan kiamat (kembali kepada Tuhan) yang jika dianalisa secara ringkas, ketiganya akan kembali kepada satu hal yaitu keimanan kepada Tuhan.

Pandangan dunia Islam yaitu tauhid, keadilan Tuhan, kenabian dan hari kiamat.

Sebelum menerima segala sesuatu, setiap muslim hendaknya meminta bantuan nurani, akal dan fikirannya agar ia memiliki cakrawala berfikir yang tidak fanatik dan tidak cepat menvonis. Manusia hendaknya mengenal Tuhan—yang esa, pencipta alam dan manusia—dengan bantuan nurani yang sehat, fikiran yang tidak terpolusi, akal sehat dan dengan menyaksikan fenomena-fenomena dalam diri dan alam sekitarnya. Setelah meyakini keberadaan Tuhan yang memiliki semua sifat kesempurnaan dimana berbeda dengan makhluk-makhluk-Nya, maka akan meyakini dasar-dasar agama yang lain.

Ketika manusia memiliki akal, nurani yang sehat dan tidak fanatik maka ia akan mengenal Tuhan hanya dengan menyaksikan alam semesta. Islam mencela taqlid dalam masalah-masalah ketuhanan dan menghargai usaha dan pemikiran manusia yang sistimatis dan logis.

Pandangan dunia Islam memperkenalkan semua wujud di alam ini, baik yang kecil maupun besar, yang terdapat di seluruh penjuru alam sebagai wujud yang aktual dan hakiki. Namun dengan kondisi “kejamakan”  wujud itu, mereka dianggap sebagai sebuah unit dan kesatuan yang memiliki berbagai perbedaan, namun berasal dari satu sumber wujud. Alam yang luas ini hanyalah sebuah sistem  yang tertutup dimana sumbernya adalah sebuah kehendak (irâdah) Allah. Irâdah itu adalah irâdah yang memiliki permulaan tetapi tidak memiliki akhir. Seluruh dunia dan alam semesta adalah irâdah Allah dan jika irâdah Allah tidak ada maka tidak akan ada wujud sesuatu selain Allah. Dan jika Allah membatalkan irâdah-nya, maka semua wujud itu akan hancur berantakan.

Ternyata pandangan manusia tidak sempurna dimana manusia terdahulu menganggap semua wujud di dunia sebagai sesuatu yang mandiri dan terpisah satu sama lainnya. Tapi lambat laun, ketika pikiran dan ilmu manusia tentang dunia mulai sempurna, ia sampai pada hakikat bahwa “yang banyak” haruslah bersumber dari “yang satu”. Meskipun secara lahiriah realitas tersebut “banyak” namun pada saat yang sama ia merupakan satu unit tunggal. Pakar ilmu alam—bertolak belakang dengan orang-orang sebelumnya—menganggap bahwa  berbagai jenis makhluk berasal dari satu jenis dan para ahli sosial menganggap bahwa alur kesempurnaan penyembahan Tuhan yang dimiliki manusia secara spontan, berawal dari anggapan adanya beberapa Tuhan sampai akhirnya sampai pada satu Tuhan. Dengan kecenderungan semakin dekatnya berbagai pendapat para ilmuwan tentang “yang satu”, wajah fisika berubah seratus persen. Maxwel telah menemukan bahwa gelombang elektronik dan magnetis yang selama ini dianggap sebagai dua hal yang berbeda, pada hakikatnya adalah satu. Hubungan umum yang meliputi waktu, tempat dan materi—yang telah dinisbatkan terpisah satu sama lain—telah diyakini sebagai sebuah “medan yang satu”. Pendapat tentang gelombang dan partikel cahaya—yang teah menjadi lahan pertarungan pendapat dalam fisika—telah berubah menjadi sebuah realitas dan digambarkan sebagai sebuah kaidah bernama “kecenderungan tak terbatas” (dinisbahkan pada Heisenburg). Semua wujud elektromagnetik, gravitasi, waktu dan tempat telah diganti dengan pendapat “medan penciptaan”  yang memayungi semua wujud (dinisbatkan kepada Howel).

Ringkasnya,  manusia telah menyingkirkan semua pendapat dan anggapan yang berdasarkan pada variasi dan kuantitas besar dalam pandangan dunianya, sebagaimana yang telah kami sebutkan sedikit tentangnya. Dan lambat laun mereka menjadi pengikut akidah ini, bahwa dunia hanyalah sebuah realitas yang muncul dari satu sumber materi sederhana dan memang dapat berubah menjadi satu realitas tunggal. Semua bentuk yang bervariasi semisal materi, atom dan bagian-bagiannya hanyalah merupakan salah satu bentuk dari energi. Pada dasarnya, hal ini merupakan sebuah langkah menuju tauhid hakiki sebagaimana yang telah diperkenalkan oleh Islam.

Islam telah melangkahkan kaki lebih jauh dari penemuan ilmiah tentang naturalitas dunia dan semesta ini—kumpulan yang secara zahir terlihat terpisah—dengan memperkenalkannya sebagai makhluk dan akibat dari sebuah wujud yang menguasai dunia ini. Islam menyebutkan bahwa anggapan tentang adanya wujud  selain dari-Nya sebagai sebuah prasangka dan khayalan belaka. Sang pemilik dunia ini sangat dekat dengan manusia. Dan memang seharusnya demikian, karena keselarasan dunia yang sangat luar biasa—yang telah diketahui atau tidak diketahui—serta aturan-aturan magisnya, telah menarik para ilmuwan dan pemikir kepada hakikat bahwa kita tidaklah berhadapan dengan “dunia” tapi berhadapan dengan sebuah iradah dan pemikiran yang telah terwujud secara kongkrit dari sang pemilik iradah. Pemilik iradah yang tidak bisa dan bisa terlihat. Seperti ucapan Jims Gine, fisikawan Inggris, “Dunia lebih mirip sebuah pemikiran luar biasa daripada sebuah mesin luar biasa.” [www.wisdoms4all.com]

 


[1] Berbagai hukum dalam ilmu alam menunjukkan jalan dan aturan tersebut.

[2] Untuk informasi yang lebih jauh tentang pandangan dunia dan hubungannya dengan ideologi, silahkan merujuk buku Mukaddimah Karakteristik Ideologi Islam, karya pengarang ini.

[3] Dunia fisik adalah kumpulan dari materi dan energi. Dengan terjadinya kiamat tidak ada jejak materi lagi tetapi keberadaan energi tetap bertahan menuju kiamat. Wallahu’alam.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s