Mengenal Tuhan itu Fitrah Manusia

fitrah1.jpgBertolak dari kesimpulan-kesimpulan dari kajian yang lalu yang menegaskan bahwa prinsip agama adalah keimanan kepada wujud Tuhan yang menciptakan alam semesta dan perbedaan mendasar antara pandangan dunia Ilahi dan pandangan dunia Materialisme terletak pada ada atau tidaknya keimanan kepada Tuhan pencipta alam ini, maka upaya pertama yang perlu dijalani oleh seorang pencari kebenaran sebelum segala sesuatunya, yaitu bagaimana ia memberikan jawaban terhadap pertanyaan; apakah Tuhan itu ada ataukah tidak?

Untuk menjawab pertanyaan ini, sebagaimana yang telah dijelaskan pada kajian lalu, kita harus menggunakan akal sehingga nanti akan dapat menemukan jawaban, positif ataukah negatif, yang betul-betul meyakinkan. Ketika jawaban itu positif, barulah kita akan membahas masalah-masalah berikutnya, yaitu masalah Tauhid, Keadilan Ilahi dan seluruh sifat-sifat Tuhan Swt. Sedangkan bila jawaban itu negatif yang berarti bukti atas kebenaran pandangan dunia Materialisme, kita tidak perlu lagi membahas semua persoalan-persoalan yang berkaitan dengan agama.

Pengetahuan Hudhuri dan Pengetahuan Hushuli

Dalam rangka mengenal Tuhan, ada dua macam pengetahuan di hadapan kita, yaitu pengetahuan hudhuri (knowledge by presence) dan pengetahuan hushuli (acquired knowledge). Pada pengetahuan hudhuri, seseorang dapat mengetahui dan mengenal Tuhan dengan jalur hati dan batin (syuhudi, qalbi), tanpa media-perantara pemahaman-pemahaman yang berupa gambaran konseptual dalam benak. Jelas bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan hudhuri mengenai Tuhan, sebagaimana yang  diakui oleh para urafa’,  tidak membutuhkan argumentasi rasional.

Tetapi, sebagaimana telah kami jelaskan pada pelajaran yang lalu, pengetahuan hudhuri atau syuhudi tidak dapat dikuasai oleh manusia biasa tanpa terlebih dahulu  membina jiwanya melalui sair suluk islami. Adapun tingkatan-tingkatan yang rendah dari pengetahuan ini, walaupun dapat dicapai oleh orang-orang biasa,  akan tetapi karena biasanya ia tidak dilandasi kesadaran, tidaklah cukup untuk membentuk pandangan dunia yang berlandaskan kesadaran.

Pada pengetahuan hushuli, seseorang mengenal Tuhan melalui konsep-konsep universal seperti Sang Pencipta, Mahakaya, Mahatahu, Mahakuasa dan meyakini keberadaan-Nya. Kemudian, ia menggabungkannya dengan pengetahuan hushuli lainnya hingga ia dapat memperoleh suatu pandangan dunia yang utuh. Semua pengetahuan yang didapatkan manusia dari studi rasional dan argumentasi filosofis, masuk ke dalam pengetahuan hushuli ini. Ketika manusia telah memiliki ilmu semacam ini, ia pun dapat mengenal Tuhan dengan ilmu hudhuri.

Pengetahuan Fitrah 

Dalam hadis para imam atau ucapan kaum urafa’, seringkali kita menjumpai ungkapan seperti “Pengenalan fitriyah tentang Tuhan“ atau “Secara fitriyah, manusia mengenal Tuhannya”. Untuk memahami ungkapan semacam ini, terlebih dahulu kita perlu menjelaskan kata fitrah. Kata ini berasal dari bahasa Arab yang berarti  “sebuah bentuk  penciptaan”. Sesuatu itu fitriyah  (dinisbahkan kepada fitrah) ketika bentuk penciptaan suatu makhluk menuntut sesuatu itu.

Dari sinilah kita dapat memperhatikan tiga karakteristik pada perkara-perkara fitriyah:

1.       Perkara-perkara fitri adalah titik kesamaan bagi makhluk-makhluk satu spesis, kendati keberadaannya itu berbeda dari sisi kualitas; lemah dan kuatnya.

2.       Perkara-perkara fitri selalu ada sepanjang hidup manusia. Dan tidak mungkin setiap makhluk mempunyai fitrah yang mengalami perubahan dan perbedaan dari satu masa ke masa.

“Itulah fitrah Tuhan yang telah Dia ciptakan manusia atas dasar fitrah itu dan tidak mungkin mengalami perubahan bagi Tuhan” (Qs. ar-Rum [21]: 30).

3.       Karena perkara-perkara fitri itu sebuah kemestian dari penciptaan makhluk, ia tidak diusahakan melalui proses pembelajaran, walaupun untuk memperkuat dan mengem-bangkannya membutuhkan bimbingan dan arahan.

Perkara-perkara fitri yang ada pada manusia dapat dibagi kepada dua macam:

Pertama, pengetahuan-pengetahuan fitri yang dimiliki oleh setiap orang tanpa memerlukan proses belajar.

Kedua, kecenderungan-kecenderungan fitri. Maka,  jika pada seseorang terbukti adanya semacam pengetahuan tentang Tuhan (ma’rifatullah) yang tidak perlu proses belajar, pengetahuan itu dapat dinamakan pengenalan fitri terhadap Tuhan (ma’rifatullah ‘alal fitrah). Dan apabila terbukti adanya kecenderungan kepada Tuhan dan kecondongan untuk menghamba kepada-Nya pada setiap manusia, hal itu dapat dinamakan penghambaan fitriyah kepada Tuhan.

Kami telah memaparkan pada pelajaran kedua, bahwa kebanyakan pemikir memandang  agama dan kecenderungan kepada Tuhan termasuk keistimewaan yang ada pada setiap manusia, sebagai perasaan atau kesadaran beragama. Dan kami akan menambahkan di sini bahwa mengenal Tuhan dapat pula dikategorikan sebagai kelaziman fitrah setiap manusia.

Akan tetapi, sebagaimana dorongan fitrah dalam  peng-hambaan diri kepada Tuhan itu bukan termasuk dorongan yang berkesadaran (syu’uri), begitu pula dorongan fitri dalam mengenal Tuhan itu bukanlah pengetahuan yang berkesadaran, yaitu pengetahuan yang didasari oleh kesadaran di mana orang-orang biasa tidak lagi membutuhkan telaah rasional dalam rangka mengenal Tuhan.

Di samping itu, patut diperhatikan catatan berikut ini, bahwa pada setiap individu terdapat derajat pengenalan kepada Tuhan yang bersifat hudhuri (knowledge by presence) atau fitri, walaupun derajat ini itu sangatlah rendah. Oleh karena itu, mungkin setiap orang akan meyakini adanya Tuhan hanya dengan merenung sejenak atau dengan bernalar secara sederhana. Kemudian ia akan  berusaha berangsur-angsur untuk meningkatkan dan memperkokoh pengenalannya kepada Tuhan sampai mata batinnya terbuka, atau bahkan ia akan sampai kepada derajat syu’uriyah, yaitu pengetahuan yang penuh kesadaran.

Kesimpulannya, mengenal Tuhan secara fitri yaitu bahwa hati seseorang dapat mengenal Tuhan, dan  di dalam jiwanya terdapat potensi pengenalan ini secara sadar, yang kemudian  dapat menjadi kuat. Akan tetapi, potensi-potensi fitri ini pada orang biasa tidak sebegitu kuat disadari. Maka itu, mereka memerlukan argumentasi rasional. Artinya, selain melalui fitrah, mereka tetap membutuhkan pembahasan rasional untuk dapat mengenal Tuhan secara sadar.[www.wisdoms4all.com]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s