Dialog Muslim-Kristen; Nabi Muhammad [12]

                   prophet-muhammad.jpg                  Cendekia Kristen: Sejarah kehidupan Nabi Muhammad mewartakan kepada kita bahwa pada usia keempat puluh, selagi ia beribadah di gua Hira, cahaya Tuhan bersinar ke atasnya dan ia mendengar suara kebenaran. Pada saat itulah penugasannya sebagai seorang Nabi Allah kepada manusia dimulai. Pesan apa yang disampaikan kepada Muhammad di gua Hira?

Ruhani Muslim: Risalah atau pesan Hira yang diwahyukan kepada nabi baru adalah realitas-realitas yang bersumber dari konsep kebenaran dari Tuhan yang Haq. Kekuasaan mencipta, kekuasaan mentransformasi lempung menjadi manusia, dan kekuasaan membuat sesuatu menyadari dirinya sendiri dan dunianya. Kekuasaan yang menjadikan sesuatu menyadari dirinya sendiri adalah secara jelas dibuktikan oleh ilmu pengetahuan manusia dan kemampuan manusia menulis, yang merupakan fondasi dari peradaban dunia. Dari al-Qur’an kita membaca, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (dengan perantaraan tulis baca). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Qs. al-Alaq [96]:1-5)

Cendekia Kristen: Bagaimana kedudukan Muhammad di antara para nabi?

Ruhani Muslim: Kedudukannya tercatat sebagai nabi-nabi utama dengan perbedaan-perbedaan yang jelas:

1. Ia merupakan bagian dari sejarah dunia dan agama. Risalahnya merupakan faktor penting dalam mengubah sejarah dunia, dan tiada sejarawan yang meragukan keberadaannya dan perannya dalam peristiwa-peristiwa dunia.

2. Ia adalah satu-satunya nabi yang menyaksikan dengan mata-kepala sendiri perkembangan agamanya hingga agama tersebut dianut oleh seluruh bangsa selama masa hidupnya.

3. Ia merupakan nabi semesta yang diutus, tidak hanya kepada umat tertentu, seperti Arab atau Yahudi, tapi kepada seluruh manusia. Dari al-Qur’an kita membaca: “Katakanlah: “Hai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi” (Qs. al-A’raf [7]:158)

4. Risalahnya secara jelas menentang segala jenis diskriminasi sosial. Menghapus seluruh rintangan sosial merupakan bagian penting dari risalahnya. Hitam, putih, merah dan kuning adalah sama dan sederajat.

Tiada ras lebih unggul dan superior atas ras lainnya, dan tiada bangsa lebih rendah atau inferior atas bangsa lainnya. Manusia dipuji atau dicela atas apa yang ia pilih secara bebas. Menjadi bagian dari satu bangsa atau ras tertentu bukan pilihan kita, juga tidak terjadi atas perbuatan kita sendiri. Perbedaan kita hanya dapat ditelusuri melalui perbuatan baik dan amal shaleh kita.

Dari al-Qur’an kita membaca:

“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling takwa.” (Qs. al-Hujurat [49]:13)

5. Ia membangun dan mendirikan, selama masa hidupnya, sebuah negara yang berkuasa, berdasarkan kepada cita-cita tinggi. Negara Muslim lahir pada saat dan masa dimana pemerintah diterima sebagai sebuah ruling body (anggota yang berkuasa), lebih unggul dari masyarakat dan memaksakan kehendak-kehendaknya tanpa masyarakat dapat memilih. Masyarakat sendiri tidak pernah menerima kesederajatan mereka di hadapan para penguasa, juga tidak meyakini persamaan mereka dari yang lain. Dalam ajaran Islam kenyataan ini berbanding terbalik. Pemerintah merupakan buah dari keyakinan masyarakat dalam sebuah prinsip-prinsip yang menuntun. Pemerintah merupakan halal jadah dari spontanitas kebersamaan mereka dalam mendeklarasikan prinsip-prinsip tersebut. Lalu, para pendeklarasi prinsip-prinsip tersebut berhubungan satu dengan yang lain dan mereka dirangkum dalam satu persaudaraan.

6. Ia menaklukkan seluruh penentang dan musuhnya, dan tidak ada satu kelompok pun yang mampu menaklukkannya.

7. Ia merupakan nabi yang mendeklarasikan kebebasan beragama ketika ia berkuasa, dimana sebelumnya banyak orang tercampakkan dari kebebasan seperti itu . Ia dan para pengikutnya disiksa selama tiga belas tahun karena pilihan agamanya. Sebelumnya, penguasa-penguasa tidak pernah berbicara tentang kebebasan beragama dan mereka melakukan penyiksaan terhadap orang-orang yang meninggalkan agama berhalanya dan memeluk agama Muhammad. Namun, ia (Muhammad) tatkala menaklukkan seluruh penentangnya dan mampu untuk menghukum para penindas, ia mengumumkan deklarasi berikut ini: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Qs. al-Baqarah [2]:256)

8. Ia merupakan satu-satunya nabi yang mendeklarasikan dirinya sebagai Nabi Pamungkas yang dengan wafatnya mengakhiri sejarah panjang kenabian. Adapun kenabian-kenabian yang diklaim oleh banyak orang setelah Muhammad, tidak satupun dari mereka yang mampu menopang klaimnya. Dan kini, setelah berapa abad semenjak wafatnya, ia masih duduk pada altar sejarah sebagai penutup para nabi.

9. Ia merupakan satu-satunya nabi yang memperkenalkan kepada dunia sebuah kitab yang tidak memuat satu pun ucapan manusia. Al-Qur’an bukan merupakan dialog antara Tuhan dan manusia, sebagaimana kitab-kitab suci lainnya; al-Qur’an merupakan firman-firman Tuhan yang Dia letakkan pada lisan Muhammad untuk diteruskan kepada manusia.

Cendekia Kristen: Cukup membingungkan bahwa nabi-nabi sebelum Muhammad seperti Musa dan Isa telah dibekali dengan kekuasaan untuk mempertunjukkan pekerjaan luar biasa dan supra-natural, sementara Muhammad tidak menunjukkan hal tersebut, atau bahkan ia tidak bersandar kepada perbuatan-perbuatan mukjizat. Ia hanya bersandar, dalam membuktikan kenabiannya, pada al-Qur’an. Mengapa ia tidak mempertontonkan mukjizat-mukjizat sebagaimana yang dilakukan oleh Musa dan Isa?

Ruhani Muslim: Adua dua alasan atas perbedaan gaya mukjizat Muhammad dan gaya mukjizat nabi-nabi sebelumnya:

1. Mukjizat-mukjizat Isa dan Musa, benar sangat luar biasa; namun, kenyataannya, kendatipun mukjizat itu luar biasa, tapi tidak mengajak manusia pada masanya untuk beriman kepada mereka atau memeluk ajarannya. Sejarah mengatakan kepada kita bahwa Bani Israil tidak mengikut Musa setelah ia mempertontonkan seluruh mukjizatnya. Setelah melintasi laut dengan kaki mereka, mereka tidak menjadi pengikut setia kepada ajaran Musa. Setelah ia pergi ke gunung untuk menerima firman-firman (commandments), setelah turun gunung, ia mendapati mereka tersesat dari jalan Tuhan. Isa banyak diikuti oleh orang-orang, namun tatkala krisis melanda, ia ditinggalkan bahkan oleh murid-muridnya sendiri. Masyarakat, secara umum, tidak pernah diyakinkan oleh mukjizat-mukjizat tersebut untuk memeluk ajaran-ajaran samawi. Ketika mereka menyaksikan pertunjukan supranatural, mayoritas dari masyarakat ketika itu menyebut Isa dan Musa sebagai tukang sihir dan penipu. Jika mukjizat yang sama diulang pada masa Muhammad, hal itu tidak akan membuahkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Atas alasan ini, gaya mukjizat harus diganti.

2. Anggaplah mukjizat-mukjizat Musa dan Isa sangat produktif, membuat mereka meyakini kebenaran atas apa yang mereka saksikan. Kenyataannya adalah mukjizat-mukjizat tersebut tidak bersifat permanen dan hanya berlangsung sementara. Tiada satu perbuatan yang dapat disaksikan  dua kali. Tiada perbuatan yang akan berlangsung lama. Membuat orang buta melihat atau mengembalikan orang mati menjadi hidup merupakan perbuatan yang sangat luar biasa, namun perbuatan tersebut lenyap segera setelah dilakukan. Segera setelah perbuatan itu berakhir, ia menjadi sejarah. Mereka yang tidak melihat perbuatan ini secara langsung harus bersandar kepada bukti-bukti dari mereka yang melihatnya.

Seorang nabi yang akan diikuti oleh nabi yang lain boleh jadi bersandar kepada sebuah pertunjukan yang luar biasa dalam meyakinkan orang-orang yang hidup semasanya. Ia tidak perlu kuatir akan generasi mendatang yang tidak akan melihat mukjizatnya, lantaran ia dapat bersandar kepada nabi yang datang selepasnya pada masa yang lain. Nabi yang datang selepasnya akan mempertunjukkan mukjizatnya sendiri, dan ia akan memperkenalkan nabi yang akan datang setelahnya.

Adapun dalam kasus Muhammad, kasusnya berbeda. Ia merupakan Nabi Terakhir. Ia tidak dapat bersandar kepada setiap perbuatan mukjizat, lantaran perbuatannya tersebut tidak akan berlangsung lama untuk dilihat oleh generasi selanjutnya. Ia juga tidak bersandar kepada pendelegasian seorang nabi yang akan datang setelahnya, lantaran ia merupakan Nabi Pamungkas. Ia harus bersandar kepada beberapa mukjizat, namun mukjizatnya harus dalam bentuk yang lain. Mukjizatnya harus merupakan mukjizat abadi yang akan disaksikan dan diuji oleh generasi-generasi mendatang sebagaimana yang disaksikan oleh orang-orang semasanya.

Pada masa dimana tidak ada kamera atau film yang dapat membuat satu perbuatan dapat disaksikan oleh manusia pada masa yang beragam, kita tidak dapat menerima mukjizat abadi jenis apapun kecuali dalam bentuk ucapan. Tatkala sebuah ucapan tinggi dan agung tercatat dalam sebuah buku atau kitab, keunggulannya dapat disaksikan dan diuji oleh setiap manusia pada setiap generasi. Jika ia tiada tertandingi, ia akan bertahan selamanya, dan keunggulannya dapat dinilai oleh setiap generasi. Mukjizat jenis ini adalah jenis mukjizat yang cocok dan tepat bagi seorang nabi terakhir, dan atas alasan inilah mengapa Muhammad dibekali dengan Kitab Suci al-Qur’an sebagai bukti atas kebenarannya.[www.wisdoms4all.com]

Iklan

One comment on “Dialog Muslim-Kristen; Nabi Muhammad [12]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s