Logika [guna] Memahami al-Qur’an

logic-for-quran.jpgMeskipun tema “logika [guna] memahami al-Qur’an” pada batas-batas tertentu memiliki kesamaan dengan istilah (redaksi) yang biasa kita gunakan dalam ilmu-ilmu rasional, namun kemungkinan sebagian orang tidak banyak memahaminya. Menggunakan ilmu-ilmu rasional dan proposisi-proposisi argumentatif (Qadhaya Burhaniyah) memiliki kaitan dengan logika tertentu. Dengan kata lain ia berkaitan dengan asas-asas dan kaidah-kaidah yang merupakan pijakan guna terbentuknya sebuah argumentasi.

Setiap bidang ilmu membutuhkan kaidah-kaidah yang menjadi pijakan untuk mencapai sebuah kesimpulan, berdasarkan hal ini sebagian ulama mengatakan bahwa ilmu “Ushul Fiqih” merupakan Logika (mantiq) bagi “ilmu Fiqih”. Jika ilmu Ushul Fiqih dapat disebut sebagai logika ilmu Fiqih, maka menyebut prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah tertetu sebagai “logika [guna] memahami al-Qur’an” bukanlah suatu yang asing dan mengherankan, terlebih lagi dalam memahami al-qur’an sudah barang tentu memerlukan asas-asas serta kaidah-kaidah tertentu. Jika keharusan adanya logika guna memahami al-Qur’an dapat diterima, secara global kita dapat membagi pembahasan ini menjadi dua bagian.

Pertama;  adalah kaidah-kaidah serta prinsip-prinsip dasar (ushul maudhu’ah) bagi yang menerima validitas penafsiran dan pemahaman al-Qur’an. Dan yang kedua; adalah kaidah-kaidah tertetu yang mengharuskan bersandar pada ayat-ayat al-qur’an saat menfsirkan ayat-ayatnya. Merupakan suatu kejelasan bahwa setiap bidang ilmu memerlukan metodologi tersendiri sehingga dengan metode tersebut tujuan dari bidang ilmu tertentu dapat tercapai. Dari sini sangatlah wajar jika penafsiran al-Qur’an pun memerlukan metode tersendiri. Walaupun demikian sangat disayangkan, sedikit sekali kajian yang dilakukan dalam masalah ini, walau bagaimanapun kajian masalah ini akan selalu dibutuhkan. Mengapa seseorang yang ingin menafsirkan al-Qur’an harus mengetahui kaidah dan asas yang menjadi pijakannya? Dan bagaimana metode menggunakan kaidah-kaidah tersebut? Oleh karenanya, kebutuhan ini terus ada, terlebih lagi dengan munculnya kajian-kajian baru seperti hermeneutik dan lainnya, maka kajian terhadap masalah ini terasa lebih urgen dan diperlukan.

Dari sini jelaslah pentingnya kajian atas tema ini, disamping kebutuhan dalam memahami al-Qur’an, pemikiran-pemikiran teologi baratpun -berkaitan kajian ini- telah masuk ke dalam kajian dan lingkaran keilmuan Islam, yang manambah signifikansi kajian ini.

Kajian yang akan saya sampaikan, terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama mengenai prinsip-prinsip yang kita yakini atas al-Qur’an saat menafsirkannya. Pembahasan kedua, kaidah-kaidah tertentu yang harus kita perhartikan saat menafsirkan al-Qur’an. Dan yang ketiga ialah, kita akan menganalisa beberapa keraguan (syubhah) yang berkaitan dengan masalah ini.

Bagian Pertama

Salah satu prinsip dasar mengenai al-Qur’an yang patut kita perhatikan saat menafsirkannya, adalah keyakinan bahwa kitab suci tersebut merupakan Kalam Ilahi. Sudah barang tentu keyakinan ini kita jadikan sebagai prinsip dasar (ashl maudhuah) dan bukan sebagai prinsip lainnya yang akan dikaji dibawah ini. Tidak menutup kemungkinan bahwa ada orang-orang yang menyakini keberadaan Tuhan, namun mereka mengingkari ucapan atau fiman yang dinisbatkan kepada-Nya. Secara otomatis mereka pun akan meragukan al-Qur’an sebagai firman Allah Swt. Masalah yang saat ini marak menjadi bahan kajian para pemikir ini, sebenarnya bukanlah masalah baru, akan tetapi ia telah dilontarkan semenjak rentang waktu 20 tahun yang lalu. Isu-isu yang dilontarkan salah satunya adalah; Apakah al-Qur’an adalah firman Allah ataukan sabda Nabi Saw? Untuk membuktikan dan menguatkan pandangan mereka, mereka tidak segan-segan membawa ayat-ayat al-Qur’an. Keyakinan ini -yaitu al-Qur’an merupakan firman Allah dan bukan sabda Nabi Saw- kita jadikan sebagai pijakan dasar dalam kajian ini. Kita tidak akan membahas panjang lebar masalah ini karena ia berada diluar kajian kita saat ini.

Prinsip kedua: Tidak diragukan lagi bahwa Allah Swt memiliki tujuan tertentu saat menurunkan al-Qur’an dimana dengan memahami ayat-ayatnya, tujuan tersebut dapat terealisasi, pada dasarnya tema ini memiliki tautan dengan teologi atau fisafat ketuhanan. Kajian ini memiliki bentuk argumen yang beragam namun disini saya akan banyak berpijak kepada prinsip yang menjadi keyakinan bersama yaitu kebijakan (hikmah) Ilahi.

Salah satu kebijakan Ilahi adalah menyempurnakan akal manusia agar ia dapat memahami jalan hidup dan kebahagianya, dan tujuan ini direalisasikan dengan mengutus para nabi As dan menurunkan kitab-kitab suci. Seadainya hal ini tidak dilakukan, dalam artian Dia tidak mengutus para Nabi dan menurunkan kitab suci, maka tindakan ini bertentangan dengan tujuan Ilahi serta hikmat-Nya. Jadi prinsip kedua yang harus kita yakini bersama ialah: Bahwa ayat-ayat al-Qur-an diturunkan oleh Allah Swt dengan tujuan membimbing umat manusia sehingga jalan-jalan menuju kebahagian hakiki yang tidak mampu ditangkap oleh akalnya, dapat diketahuinya melalui jalan wahyu atau al-Qur’an. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan ada perkara-perkara tertentu yang dapat dipahami dan dicerap oleh akal, kemudian al-Qur’an pun menjelaskannya sebagai sebuah penekanan. Sebagai contoh dalam satu ayat al-Qur’an Allah Swt berfirman “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan”[1], seandainya tidak ada ayat yang menyatakan hal ini, akal pun –secara independen- dapat memahami bahwa keadilan dan kebajikan adalah sesuatu yang baik yang menjadi kewajiban setiap orang. Kita dapat katakan bahwa semacam ini selain memiliki argumentasi akal ia pun memiliki dalil al-Qur’an.

Pada dasarnya, faktor inti kebutuhan kita atas al-Qur’an serta wahyu adalah ketidakmampuan akal kita dalam mengidentifikasi secara akurat mana jalan kebahagian dan mana jalan kesengsaraan, oleh karenanya kita membutuhkan wahyu dan al-Qur’an yang akan membantu akal kita untuk menemukan jalan kebahagian yang hakiki.

Prinsip ketiga: Allah adalah Tuhan yang Mahabijaksana, dimana untuk memberi petunjuk kapada manusia Dia menurunkan kita suci al-Qur’an dengan bahasa akal sehat (common-sense) dan berbicara sesuai dengan kaidah-kaidah komunikasi yang rasional. Masalah ini sekarang merupakan masalah yang cukup signifikan. Sepanjang 1400 Th sejarah perjalanan agama Islam, para mufassir, pemikir dan filosof agama tidak pernah membahas secara khusus mengenai bahasa agama. Apakah bahasa agama memiliki makna yang hakiki ataukah ia hanya merupakan simbol atau dongeng yang tidak ada realitanya? Di dalam tubuh umat Islam masalah ini tidak pernah diketengahkan, namun ia dicuatkan oleh pemikir-pemikir barat tepatnya setelah Renaissance. Disaat itu mereka mulai menanyakan kitab Injil (New Testament) dan Taurat (Old Testament), apakah kandungan-kandungan kitab-kitab suci ini adalah penyingkapan akan sebuah hakikat (realitas) ataukah tidak? Berkaitan dengan masalah ini mereka berkeyakinan bahwa setiap bahasa memiliki pengertian yang berbeda-beda, ada bahasa yang menunjukkan kepada suatu yang nyata (hakikat) dan mengabarkan suatu yang realita kepada lawan bicaranya dan ada pula bahasa-bahasa lainya yang tidak memiliki makna yang realistis, seperti bahasa cerita (kisah), dongeng dan sya’ir khususnya syair-syair mistik (irfan atau tasawuf) yang banyak menyebutkan istilah-istilah yang fiktif seperti megumpamakan sesuatu dengan minuman anggur, lantunan genderang dan lain sebagainya, para pelantun sya’ir-sya’ir tersebut pun mengatakan bahwa yang dimaksud dengan anggur disini bukanlah anggur yang biasa dikenal masyarakat namun kata-kata tersebut merupakan istlah dan kiasan untuk menjelaskan sebuah pengertian tertentu.

Secara global pada tingkat pemahaman, kita memiliki bahasa yang beragam. Mereka yang ingin membela agama Nasrani dan Yahudi dari serangan para pemikir dan ilmuan yang mengkritisi kitab suci mereka dan mengatakan bahwa ajaran-ajaran yang terkandung dalam Injil dan Taurat bertentangan baik dengan rasio maupun ilmu pengetahuan (sains). Oleh karenanya kitab tersebut tidaklah valid dan tidak dapat dikatagorikan sebagai kitab langit (samawi).

Untuk menepis dan menjawab kritikan ini, mereka menciptakan sebuah teori yang berisikan bahwa bahasa kitab suci bukanlah bahasa yang biasa digunakan dalam komunikasi yang akal dapat menyingkap realitanya, bahasa kitab suci adalah bahasa yang khusus yang menyampaikan pesan-pesan tertentu seperti kitab-kitab cerita. Berdasarkan teori ini, perkara-perkara yang tapak tidak rasional, seperti meminum araknya para nabi, bergulatnya Tuhan dengan seorang nabi dan kekalahan-Nya di tangan Nabi Ya’kub As dan seterusnya, bukanlah bertujuan menjelaskan makna rillnya, namun ungkapan-ungkapan semacam ini merupakan rumus yang untuk memahaminya membutuhkan penafsiran tersendiri.

Sekarang! Apa pandangan kita umat Islam terhadapa al-Qur’an? Apakah kita memandang bahwa al-Qur’an juga merupakan kitab cerita dan bahasa yang dikandungnya adalah merupakan simbol dan formula? Atau kita menyakini bahwa bahasa yang terkandung di dalamnya adalah sebagai peyingkap sebuah realita, sebagaimana komunikasi yang kita gunakan untuk menyampaikan maksud-maksud hati kita? Kita sebagai umat Islam menyakini bahwa bahasa al-Qur’an merupakan penyingkap realitas (hakikat), dan hal ini yang menjadi prinsip ketiga dari kajian kita ini. Namun patut diingat yang dimaksud dengan prinsip di atas, bukanlah kita menganggap bahwa didalam ayat-ayat al-Qur’an tidak terdapat Kinayah dan Majaz (kiasan atau metafora), apakah dalam komunikasi keseharian yang kita gunakan tidak terdapat kata-kata istilah atau kiasan? Jawabannya tidaklah demikian, kita sadari bersama bahwa saat ingin menyampaikan sesuatu, kita sering kali mengunakan astilah-astilah atau kiasan-kiasan. Dalam komunikasi antar manusia juga banyak menggunakan istilah sastra terentu, karena hal ini selain dapat memudahkan seseorang saat berbicara, ia pun dapat mempermudah seseorang untuk meyampaikan maksud dan tujuannya. Jelas bahasa semacam ini tidak dapat kita katagorikan sebagai dongeng yang tidak memiliki makna yang real. Saat kita menggunakan kata-kata kiasan atau istilah tertentu dalam komunikasi kita, dari konteks pembicaraan kita, lawan bicara dapat memahami bahwa apa yang kita ucapkan adalah sebagai kiasan yang mengandung arti tertentu. Dengan demikian, walaupun kita kita menyakini bahwa bahasa yang dikandung al-Qur’an adalah bahasa yang memiliki makna yang hakiki, kita pun tidak mengingkari adanya kiasan, majaz atau istilah-istilah tertentu yang digunakan dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Prinsip keempat:[2] Ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan guna menyampaikan pesan-pesan Ilahi juga menggunakan metode yang biasa digunakan oleh manusia dalam komunikasi antar mereka, dengan kata lain Allah Swt tidak menggunakan metode penyampaian yang berlainan dengan metode yang digunakan manusia. Meskipun pada ayat-ayat tertentu terdapat gaya bahasa yang sangat mengagumkan dimana kebanyakan orang tidak mudah memahaminya. Namun hal ini bukan berarti metode penyampaian al-Qur’an sama sekali tidak dapat dipahami, sehingga untuk memahaminya harus kita kembalikan kepada para Imam Maksum As dan kita harus tanyakan kepada mereka, bagaimanakah metode untuk memahami al-Qur’an, asas-asas serta kaidah-kaidahnya? Sudah tentu hal ini berbeda dengan metode rasional yang yang disebutkan di atas. Namun sebagaimana tingkat pemahaman manusia -yang berakal sehat- akan sebuah masalah memiliki tingkatan dan bergradasi, oleh karenanya semakin mendalam pemahaman seorang penafsir atas kaidah, bahasa serta ilmu al-Qur’an, maka dapat dipastikan bahwa ia akan mampu menggali makna yang lebih luas dan mendalam dari ayat-ayat al-Qur’an. Dan hal ini tidak mengindikasikan bahwa metode komunikasi al-Qur’an berlainan dengan metode komunikasi orang-orang yang berakal.

Prinsip kelima: Dari apa yang dijelaskan diatas dapat menghasilkan prinsip yang kelima, yaitu dengan menggunakan berbagai metode ini, Allah Swt menghendaki agar manusia dapat mengambil manfaat dari apa yang disampaikan-Nya (difirmankan), paling tidak orang-orang yang mengetahui kaidah-kaidah komunikasi dan menggunakan metode akal sehat dapat menangkap maksud-maksud tertentu dari firman-firman Allah Swt. Prinsip ini (kelima) diingkari kelompok Ahlu al-Hadis dari Ahlusunnah dan juga kelompok Akhbari dari Syi’ah, dimana kelompok ini menyakini bahwa penafsiran al-Qur’an harus bersandarkan kepada riwayat-riwayat yang ada.

Dimasa lalu terdapat kelompok Syi’ah yang beranggapan bahwa pemahaman al-Qur’an serta penafsirannya hanya khusus bagi para Imam Maksum As, dan tidak seorang pun yang berhak menafsirkannya, sekiranya ada seseorang yang menafsirkan al-Qur’an, maka penafsirannya tidak dianggap absah (hujjah). Untuk membuktikan kebenaran pandangan ini, mereka bersandar kapada salah satu riwayat yang terkenal yang menyebutkan “Sesungguhnya yang hanya memahami al-Qur’an ialah yang diturunkan kepadanya al-Qur’an”. Sudah barang tentu memahami sebuah riwayat dari sisi lahirnya saja dan tanpa membandingkan kepada teks lainnya kemudian menelannya secara mentah-mentah,  bukanlah metode yang benar. Ditambah lagi para mufassir (ahli tafsir) serta ulama besar kita semenjak zaman Imam-imam suci hingga saat ini, seperti Syaikh Thusi, Syaikh Thabarsi, ‘Alamah Thaba-thaba’i dan mufassir besar lainnya, mereka bukan hanya membolehkan untuk menafsirkan al-Qur’an bahkan mereka menganggapnya hal itu sebagai ibadah dan terkadang merupakan suatu kewajiban.

Dengan demikian, berbeda dengan apa yang mereka anggap (kelompok Ahlu al-Hadits dan Akhbari), -bahwa kita dengan sendirinya tidak berhak memahami sesuatu dari al-Qur’an dan apa yang kita fahami tidak bisa kita nisbatkan kepada Allah, akan tetapi penafsiran yang ada haruslah bersandarkan kepada riwayat-riwayat para Imam Maksum As- maksud dan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an pada batas tertentu dapat ditangkap oleh setiap orang yang benar-benar menjaga kaidah-kaidah rasional komunikasi, walaupun ini bukan berarti bahwa ia dapat memahami seluruh hakikat yang terkandung di dalamnya.

Sebenarnya masalah ini membutuhkan segenap argumen dan kajian yang lebih mendalam, namun dikarenakan masalah hanya menjadi prinsip dasar kajian kita saat ini, maka kajian mendalam mengenai prinsip kelima ini memerlukan ruang dan waktu lainnya, namun yang perlu diketahui disini bahwa bukti dan dalil yang paling kokoh yang mendukung prinsip kelima ini adalah riwayat yang memerintahkan untuk membandingkan hadis-hadis yang ada kepada al-Qur’an guna mengindentifikasi apakah hadis tersebut benar atau palsu., yaitu jika sesuai dengan al-Qur’an maka ia dapat dikatagorikan sebagai hadis yang benar (shahih, valid) jika tidak maka ia tergolong hadis yang palsu.

Bagian Kedua

Kajian pada bagian ini berkaitan dengan dengan kaidah-kaidah yang kita dapat aplikasikan saat ingin memahami al-Qur’an, tentunya setelah kita menerima prinsip-prinsip diatas yang kita jadikan sebagai metode yang harus digunakan saat kita ingin merujuk dan memahami al-Qur’an sehingga apa yang kita fahami -secara global- dapat dijadikan sandaran (hujjah). Apa yang harus kita lakukan agar kita dapat memahami atau menafsirkan al-qur’an dengan benar? Kemudian disaat kita berhak merujuk dan memahami al-Qur’an, prinsip-prinsip dasar (Ushul) atau kaidah-kaidah apakah yang tetap harus kita perhatikan? Bagaimanapun prinsip-prinsip ini kembali kepada kaidah-kaidah yang digunakan dalam komunikasi yang rasional (muhawarah uqalaiyah), dalam artian penerapan prinsip-prinsip yang ada bukan berdasarkan tidak taklid buta namun akal kita pun secara independen dapat menangkapnya (kecuali pada satu kasus yang akan kami sebutkan).

Dengan memandang bahwa al-Qur’an termaktub dengan bahasa Arab yang fasih (lisanun arabiyun mubin), maka menurut kaidah rasional barang siapa yang hendak memahami kandungan ayat-ayat al-Qur’an, ia harus menguasai kaidah-kaidah atau gramar bahasa Arab dengan baik. Oleh karenanya ia harus menguasai kaidah-kaidah Sharaf, Nahwu, Bayan, Ma’ani, Tasybih, Isti’arah, Kinayah dan segenap pembagiannya (ilmu Balaghah).  Jika berbagai disiplin ilmu tersebut tidak dikuasai, maka seseorang tidak akan dapat menafsirkan al-Qur’an dengan baik dan benar. Terkadang dikarenakan sebuah kata memiliki arti yang sangat jeli, maka tatkala akar kata tersebut tidak diketahui dengan baik tentu akan terjadi kesalahan yang fatal dalam mengartikannya.

Atas dasar ini, syarat pertama untuk memahami al-Qur’an dengan benar ialah, pengusaan terhadap kaidah-kaidah bahasa Arab seperti Nahwu, Sharaf, Balagha dan seterusnya. Syarat ini jelas bersifat rasional, jika ada seorang yang berbahasa Inggris dan ia ingin membaca dan memahami naskah bahasa Persia, maka -selama ia tidak memahami dan menjaga kaidah-kaidah bahasa Persia- secara rasional ia tidak akan memahami isi naskah tersebut dan –seandainya secara global ia dapat memahaminya- iapun tidak berhak menisbatkan pemahamannya itu kepada penulis naskah ternebut, kaidah seperti inipun berlaku saat kita ingin memahami al-Qur’an.

Syarat kedua: Setiap bahasa memiliki pola komunikasi yang berbeda, dimana terkadang masalah ini dapat menimbulkan kesalahpahaman. Terkadang satu kata memiliki beberapa makna dan kita tidak mengetahui makna manakah yang dimaksud dalam kalimat tersebut apakah makna sebenarnya atau ia hanya sebuah kiasan. Untuk mengidentifikasikannya kita harus melihat seluruh bagian dari kalimat yang ada, misalnya jika kita menemukan sebuah ayat yang memiliki kriteria demikian, maka untuk mengetahui maksud sebenarnya dari ayat tersebut kita harus memperhatikan seluruh bagian dari ayat yang ada (dari awal hingga akhir) dan juga harus kita perhatikan ayat sebelum dan sesudahnya, hal ini biasa disebut dengan Siyâqu al-Kalâm (konteks pembicaraan).

Dengan metode seperti ini kita dapat memahami maksud dari kata yang terkandung dalam sebuah ayat, seandainya kita hanya menukil potongan sebuah ayat tanpa kita memperhatikan awal dan akhir ayat tersebut serta ayat sebelum dan setelahnya, maka kita tidak akan dapat memahami dengan baik maksud dari ayat itu. Kesalahan seperti ini sering terjadi dimana seseorang hanya berpijak pada sepotong ayat tanpa memperhatikan konteks pembicaraannya dan hal ini tentu akan menyesatkan pemahamannya.

Syarat ketiga: Melihat Qarinah Lafdziyah (pertalian lafazh) yang berkaitan dengan ayat yang ingin ditafsirkan. Mengingat bahwa ayat-ayat al-Qur’an berasal dari Dzat yang Mahabijaksana yang tidak akan pernah mengalami lupa dan melakukan hal yang sia-sia, maka dapat dipastikan bahwa ayat satu dengan lainnya merupakan pertalian (qarinah) yang dapat  menjadi sandaran untuk memahami sebuah ayat. Dengan artian untuk memastikan bahwa makna inilah dimaksud ayat tertentu, kita harus merujuk kepada ayat-ayat lainnya yang memiliki muatan yang serupa atau yang menjelaskan dan menafsirkan maksud dari ayat tersebut. Dengan kata lain kita harus memperhatikan seluruh ayat-ayat al-Qur-an guna memahami sebuah ayat. Namun bukan berarti untuk memahami setiap ayat al-Qur’an kita harus merujuk satu-persatu seluruh ayat yang ada, akan tetapi kita harus perhatikan muatan al-Qur’an secara keseluruhan atau paling tidak kita harus perhatikan ayat-ayat yang memiliki kandungan yang serupa dengan ayat tersebut yang dapat membantu menyingkap maksud yang diinginkannya. Ini merupakan metode yang disabdakan Imam Ali As “ayat-ayat al-Qur’an saling menafsirkan satu dengan lainnya” dan metode semacam ini merupakan metode rasional. Karena merupakan kesepakatan bahwa bersandar kepada seluruh kata-kata pembicara untuk menjelaskan dan memahami ibarat tertentu merupakan metode rasional dan bukan besumber dari ketaatan. Demikian pula halnya dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an terlebih dengan mengingat bahwa sumber Pembicaranya tidak pernah mengalami lupa dan kesalahan sehingga tidak akan terjadi kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Pembicara lain bisa jadi mengalami lupa dan merubah serta merevisi apa yang telah diucapkannya, namun fenomena seperti ini tidak akan didapati dalam al-qur’an –Nasakh  (penghapusan) adalah masalah yang berbeda dimana ia berkaitan dengan hukuh-hukum tertentu dan pada kondisi tertentu pula-.

Al-hasil memperhatikan dan merujuk kepada seluruh muatan al-Qur’an untuk memamahi sebuah ayat, atau bersandar kepada qarinah-qarinah Lafzi yang yang berkaitan dengan ayat bersangkutan merupakan satu kaidah yang harus dijaga dan diperhatikan saat menafsirkan al-Qur’an.

Syarat yang kempat ialah merujuk kepada pertalian sejarah (Qarinah Târikhiah), ini juga merupakan metode rasional dimana disaat pembicara ingin mengucapkan sesuatu kepada lawan bicaranya ada sesuatu yang selalu diperhatikannya, -selain itu- ada kesepakatan antara keduanya bahwa lafaz A misalkan adalah memiliki arti ini, dan keduanya pun menyadari pembicaraan yang mereka utarakan berkaitan dengan masalah apa dan apa yang menjadi pertimbangan pembicara saat ingin mengutarakan permasalahan tersebut? Sebuah pembicaraan saat diucapkan pada kondisi tertentu maka makna dan maksud yang dikandungnya dapat dimengerti

Sebagai contoh dalam kisah Nabi Sulaiman As dengan Ratu Bilqis jika kita ingin melihat kondisi kerajaan Ratu Bilqis dengan apa yang disebutkan dalam ayat, maka kita sekilas akan menemukan bahwa Ratu Bilqis dikaruniakan segala sesuatu “Wa Utiya min Kulli Syai’” jika kita hanya melihat kata Syai’ (sesuatu) ini maka ia memiliki pengertian yang sangat luas yang mencakup sesuatu yang materi dan maknawi karena seluruhnya termasuk dalam makna Syai’. Namun apakah pada kenyataannya Ratu Bilqis benar-benar dikaruniakan segala kenikmatan tersebut? Banyak sekali sesuatu yang di dunia ini yang tidak pernah didengar atau dilihat oleh ratu Bilqis apalagi dimilikinya. Akan tetapi saat kita meperhatikan obyek pembicaraan, maka kita dapat memahami bahwa yang dimaksud dengan Syai’ disini adalah yang berkaitan dengan kerajaan. Kondisi pembicaraan mengindikasikan bahwa yang dimaksud dengan syai’ bukanlah maknanya yang umum yang sekilas terlintas di benak kita. Lantas dari mana kita dapat menangkap hal ini, sedangkan pada ayat sebelum dan sesudahnya tidak menyebutkan sidikitpun kriteria mengenai makna Syai’ tersebut, di sini kita memahaminya dari kondisi atau obyek pembicaraan, saat suatu pembicaraan berkaitan dengan kekuasaan dan dikatakan bahwa kerajaan seorang raja tertentu tidak memiliki kekurangan, maka bukan berarti raja tersebut memiliki seluruh apa yang ada di dunia ini, namun maksudnya adalah bahwa raja tersebut telah memiiki segala yang menjadi kebutuhan kerajaannya.

Memperhatikan situasi dan kondisi masa tertentu dan Sya’nu Nuzul (sejarah turunnya) sebuah ayat juga sama seperti ini. Jika seseorang dapat nenangkap perkara yang difahami oleh akal sehat ini, maka hal ini akan banyak berpengaruh atas kejelian pemahamannya terhadap sebuah ayat. Patut diingat bukan berarti hal ini menjamin seseorang untuk tidak mengalami kesalahan sama sekali, bisa jadi seseorang mengalami kesalahan saat menghubungkan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan ayat bersangkutan atau ia lupa saat mengaplikasikan kaidah-kaidah yang ada. Namun bukan juga berarti kaidah-kaidah tersebut tidak memiliki arti sama sekali. Ilmu Logika (Mantiq) bertujuan menjaga kita agar tidak mengalami kesalahan saat berargumen secara rasional, namun bukan berarti seluruh yang menguasai ilmu mantiq, ia tidak akan mengalami kesalahan saat berargumen (segala argumennya adalah benar). Tidaklah demikian, bisa jadi ia mengalami kesalahan dan tidak menerapkan kaidah-kaidah rasional secara benar, dan hal ini tidak menjadikan ilmu Logika tersebut tidak bermanfaat.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa memperhatikan kondisi dan obyek sebuah pembicaraan serta Sya’nu Nuzul dan sejarah diturunkannya sebuah ayat sangat membantu seseorang untuk memahami ayat bersangkutan dengan lebih jeli dan teliti.

Oleh karenanya subyek pembicaraan dapat difahami akal dengan jelas, dimana orang-orang berakal sehat pada kondisi normal dapat memahaminya tanpa sedikitpun keraguan, dan kita dapat mempraktekan hal tersebut. Namun sudah barang tentu sesuatu yang kita anggap sebagai suatu swa-bukti (Badihi, jelas dengan sendirinya), di sepanjang perjalanan sejarah ada saja yang meragukannya. Sehingga pada saat ini telah sampai pada batasan mereka menganggap bahwa tidak ada sesuatu yang jelas secara mutlak segala sesuatunya adalah relatif, namun keraguan semacam ini merupakan suatu penyimpangan. Tidak ada seorang berakal sehat pun yang pada awalnya menyakini hal semacam ini, keraguan ini muncul dikarenakan adanya sebuah kerancuan, setiap orang berakal sehat -yang belum terkontaminasi segala kerancuan dan tidak memiliki tujuan dan kepentingan tertentu- ia akan menangkap sebuah realitas saat berhadapan dengan permasalahan tertentu. Contoh, saat saya berbicara dengan Anda dan saya mengatakan “saat ini lampu ruangan saya dalam keadaan menyala” Anda tidak akan meragukan hal tersebut, namun para Sophist akan meragukannya, sebagaiman ucapan Descartes yang terkenal “Dari mana saya tahu kalau saya tidak dalam keadaan mimpi, bisa jadi segala yang saya saksikan ini adalah mimpi”. Keraguan semacam ini akan selalu ada, namun orang-orang yang berakal sehat tidak akan memperhatikan keraguan yang berlebihan semacam ini. Orang-orang yang memiliki fitrah yang sehat, akalnya akan menerima proposisi-proposisi rasional, jika ada seseorang yang memahami sebuah ucapan atau sebuah teks dengan pemahaman yang bertentangan dengan rasio, maka pemahaman ini tidak akan diterimanya.

Yang dimaksud di sini ialah bahwa pertalian rasional memiliki pengaruh dalam memahami sebuah pembicaraan. Sudah barang tentu disaat sebuah perkataan memiliki dua makna, makna yang satu bertentangan dengan hukum akal dan yang satunya sesuai dengannya, maka yand sesuai dengan akallah yang patut kita terima. Jika sebuah perkataan bersumber dari Dzat yang Mahabijaksana, namun kita memahaminya dengan makna yang bertentangan dengan akal, maka dapat dipastikan bahwa pemahaman kitalah yang salah. Oleh karenanya kesaksian akal, lafaz, kondisi, dan sejarah sangat berpengaruh dalam mamahami ayat-ayat al-Qur’an. Demikian pula, apabila kita memahami sesuatu dari ayat al-Quran dan kita menganggapnya sebagai suatu yang jelas, namun ternyata pemahaman tersebut bertentangan dengan argumen rasional, maka argumen rasional dapat menjadi bukti bahwa pemahaman tersebut adalah salah. Misalnya dalam ayat-ayat yang secara lahir menujukkan makna jasmaniah terhadap Allah Swt seperti makna ayat “Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.[3] dan Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy” [4] tatakal al-Quran sendiri menyatakan “tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat”[5]. Maka jika ayat mengatakan “Datang Tuhanmu” dan yang terlintas dibenak kita adalah makna yang berunsur materi, maka secepatnya kita harus menolak pemahan tersebut karena akal menolaknya. Dengan demikian sebagaimana bukti sejarah dan lafadh dapat membatu kita untuk memahami ayat secara benar, demikian pula dengan bukti rasional. Sebelumnya kita harus mamahami apa yang dimaksud dengan bukti rasional atau kesaksian akal. Salah satu kriteria bukti rasional adalah bahwa seluruh orang berakal dapat menerimanya, namun jika seseorang mengatakan bahwa menurut pemikiran saya adalah demikian, lantas seorang lainnya memiliki pemikiran yang berbeda, maka hal ini tidak dapat dikatakan sebagai suatu yang rasional. Sesuatu yang menjadi perselisihan tidak dapat disandarkan kepada rasio. Saat sebuah permasalahan benar-benar bersumber dari rasio, maka setiap orang berakal sehat akan menagkapnya, kecuali jika pokok permasalahan tidak difahami dengan baik.

Seandainya terdapat pertalian rasional yang pasti, maka kita dapat menggunakannya untuk memahami makna sebuah teks, orang-orang yang berakal sehat mengunakan kaidah tersebut dalam komikasi dan percakapan mereka. Al-Quran menjelaskan tugas-tugas Rasulullah saww dalam sebuah ayat   membacakan ayat-ayat al-Qur’an (tilawah), mengajarkannya kepada umat (ta’lim) dan membersihkan jiwa mereka (tazkiah) sebagaimana firman Allah “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah”[6], dari ayat ini kita memahami bahwa mengajarkan ayat-ayat al-Qur’an merupakan salah satu tugas Nabi Saw dimana ada poin-poin tertentu di dalam al-Qur’an yang harus dijelaskan oleh beliau. Seandainya kita hanya bersandar kepada kepada pemahaman kita maka sudah barang tentu saat kita berhadapan dengan poin-poin tersebut (yang harus dijelakan oleh Nabi Saw) kita tidak akan dapat menafsirkannya dengan sebenarnya, oleh karenanya kita tidak hanya membutuhkan bacaan ayat yang disampaikan oleh Rasul Saww, namun kita juga butuh pengajaran beliau. Jika tugas Rasulullah Saw hanya membacakan ayat-ayat al-Qur’an  kepada umat, maka ayat diatas cukup menyebutkan Yatlu ‘Alalihim Aayatihi (membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya) titik. Selain itu dalam ayat yang lain terdapat penjelasan yang lebih tegas, firman Allah Swt  “Wa anzalna ilaika az-Dzikra li tubayyina linnasi Ma Nuzzila Ilaihim” dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka [7]Ma Nuzzila Ilaihim artinya adalah sesuatu yang diturunkan kepada mereka, mereka adalah umat manusia jadi pada dasarnya ayat-ayat al-Qur’an diturunkan untuk umat manusia. Dengan kata lain pada akhirnya ayat-ayat al-Qur’an harus sampai kepada mereka. Adapun makna “Li Tubayyina linnasi Ma Nuzzila Ilaihim” adalah; bahwa kamu harus menjelaskan apa-apa yang diturunkan untuk umat manusia. Hal ini selain menyatakan bahwa Rasulullah Saww adalah mufassir al-Qur’an ini pun merupakan bukti yang solid bahwa al-Qur’an membutuhkan penafsiran. Sebuah penfsiran yang menjadi tanggung jawab Rasulullah Saw.

Dari sini kita dapat memahami bahwa untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an kita pun harus merujuk kepada ucapan Rasulullah Saw, paling tidak pada bagian-bagian atau ayat-ayat tertentu.

Salah satu kasus yang dihadapi, dimana seseorang dituntut untuk merujuk kepada ucapan Nabi Saw adalah saat menafsirkan secara rinci kandungan ayat yang bersifat global (mujmal) dan umum (‘am). Dalam al-Qur’an terdapat permasalah-permasalahan yang diisyaratkan secara global dan umum, ayat-ayat semacam ini tidak menjelaskan maksud pembicara dengan mendetail, oleh karenanya ia membutuhkan penjelasan rinci dan mendalam. Contohnya tentang masalah shalat, walaupun terdapat beberapa ayat yang menyebutkan masalah tersebut, namun tidak satupun dari ayat-ayat tersebut yang menjelaskan bagaimana caranya shalat, berapa rakaat yang harus dilakukan, bagaimana cara mengulang (qhada) shalat dan lain sebagainya. Sama halnya dengan masalah kepemimpinan setelah Rasulullah Saww mungkin Anda pernah mendengar hadis di bawah ini, dimana seorang sahabat Imam Shadiq As bertanya kepada beliau: Mengapa di dalam al-Qur’an tidak disebutkan nama-nama 12 Imam Suci, mengapa tidak disebutkan setelah Rasulullah Saww merujuklah kepada Ali As dan taatilah ia? Imam menjawab: Allah Swt di dalam al-Qur’an berfirman “dirikanlah shalat” apakah Dia menjelaskan jumlah rakaat shalat Subuh? Orang tersebut menjawab: Tidak! Imam As kembali bertanya: Lantas dari mana umat Islam dapat mengetahui tatacara shalat? (ketahuilah) mereka mengetahuinya dengan bertanya kepada Rasulullah Saww. Kemudian Imam As melanjutkan: Di dalam al-Qur’an Allah swt berfirman “bayarlah zakat”, apakah Dia menjelaskan apa saja yang harus dizakati dan berapa ukurannya (nishab)? Sahabat tersebut menjawab: Tidak. Imam As kembali bertanya: Lantas dari mana umat Islam mengetahui apa-apa saja yang harus dizakati dan berapa saja nishabnya? Kemudian Imam membaca ayat “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu”[8] maksud dari Uli al-Amri seperti lafaz Aqiimu as-Shalah (dirikanlah shalat), dimana umat harus menanyakannya kepada Rasulullah Saw, dan merekapun telah menanyakannya kepada Rasul Saw dan beliau telah menyampaikan bahwa maksudnya adalah dua belas Imam Suci dari keturunan beliau.

Salah satu dari mereka yang bertanya adalah Jabir bin Abdullah al-Anshari dimana ia menanyakan siapa yang dimaksud dengan Ulil Amri dalam ayat tersebut yang kita diwajibkan untuk mentaati mereka? Rasulullah Saw pun menjawab bahwa mereka adalah dua belas Imam Suci. Dari sini dapat ditangkap bahwa guna memahami sebagian ayat kita dituntut untuk merujuk kepada Rasulullah saww dan juga Ahlul Bait beliau, khususnya ayat-ayat yang mengandung makna global atau yang pengertiannya memerlukan penjelasan lebih mendalam.

Oleh karena itu dalam ilmu Ushul dibahas mengenai Takhshisul ‘Aam (pengkhususan sesuatu yang bersifat umum) dan Taqyidul Muthlaq (pembatasan sesuatu yang mutlak). Apakah Sunnah (ucapan, tindakan dan diamnya seorang Maksum) dapat menjadi speksifikasi (takshish) bagi ayat-ayat yang bersifat umum dan pembatasan bagi ayat-ayat yang mutlak? Saya pribadi pada beberapa kesempatan biasa membawakan contoh, dan saya berpikir contoh tersebut dapat memuaskan lawan bicara saya. Puluhan tahun lalu saya sempat berdialog dengan seseorang dari kelompok yang memiliki pemikiran yang menyimpang, ia berkata kepada saya: Apa yang ingin Anda katakan harus bersandar kepada ayat al-Qur’an, jika tidak maka saya tidak akan menerima ucapan Anda. Saya menjawab: Saya akan melakukan yang Anda inginkan namun terlebih dahulu jawablah satu pertanyaan dari saya. Menurut ajaran Islam memakan daging anjing hukumnya halal atau haram? Orang tersebut menjawab: Haram. Kembali saya berkata: Coba bawakan dalilnya dari al-Qur’an! Orang itu tidak bisa menjawab lantas berkata: Hal ini merupakan sesuatu yang jelas dan seluruh umat Islam mengetahuinya. Kemudia saya katakan: Sekarang saya akan membuktikan bahwa menurut al-Qur’an daging anjing halal dimakan. Ia bertanya: Dengan dalil apa? Saya katakan Allah swt berfirman “Katakanlah: Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – Karena Sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha penyayang”[9] ayat ini menjelaskan bahwa selain empat jenis makanan, maka selebihnya adalah halal. Empat jenis makanan tersebut adalah bangkai, darah, daging babi dan hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Dalam ayat ini daging anjing tidak termkasud yang diharamkan, oleh karena itu dengan bersandar kepada ayat ini memakan daging anjing hukumnya adalah halal. 

Duduk permasalahan yang sebenarnya adalah bahwa Rasulullah Saw bertugas untuk menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an yang bermakna global atau masih samar, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa ayat di atas. Dimana semua ini merupakan bukti bahwa ucapan Rasulullah Saw adalah hujjah (bukti) yang dapat kita jadikan sandaran dan rujukan. Dari sini dapat diketahui bahwa salah satu kaidah dan metode untuk memahami al-Qur’an adalah bersandar kepada Sabda Rasulullah Saw dan -menurut akidah Syi’ah- ucapan para Imam Maksum As, dan apa yang mereka sabdakan adalah hujjah untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an yang bermakna global dan masih samar. Oleh karena itu segala pemahaman dan penafsiran sebuah ayat yang tidak berpijak kepada ucapan mereka, tidak dapat kita nisbatkan kepada al-Qur’an atau kepada Allah Swt, karena tidak ada yang menjamin apakah pemahaman tersebut sempurna atau tidak dan sangat dimungkinkan terjadi kesalahan di dalamnya.

Bagian ketiga

Ada beberapa persoalan yang mencuat berkaitan dengan masalah ini, dan di sini kita akan menganalisa serta menjawabnya secara global. Persoalan tersebut sebagai berikut: Seperti yang kita ketahui bahwa sepanjang sejarah, diantara para penafsir al-Qur’an terdapat banyak perselisihan bahkan terkadang pandangan satu dengan lainnya saling bertentangan. Seorang penafsir menyakini bahwa penafsiran ayat ini adalah A dan penafsir lainnya dengan tegas menolak penafsiran tersebut. Yang menjadi persoalan di sini yaitu saat kita merujuk kapada al-Qur’an atau kitab-kitab tafsir yang ada, lantas kita menemukan pendapat-pendapat yang saling berselisih ini, apakah yang harus kita lakukan? Penafsiran yang bagaimanakah yang dapat atau harus kita terima? Secara ringkas jawabnya adalah; Pemahaman atau sebuah penafsiran ayat al-Qur’an yang berpijak pada kaidah-kaidah yang ada, baik yang telah disebutkan di atas maupun kaidah-kaidah pasti lainnya, yang tolok ukurnya adalah saat kita menejelaskannya kepada seorang yang berakal sehat -dan tidak memiliki kepentingan tertentu- maka iapun akan menyimpulkan yang serupa. Pada kondisi seperti ini maka pemahaman kita akan ayat bersangkutan adalah hujjah dan dapat dijadikan pedoman. Namun dalam masalah-masalah yang masih samar yang masih diperselisihan, maka apa sikap kita adalah sebagimana saat kita mengahdapi permasalahan yang belum jelas dalam bidang ilmu lainnya.

Seluruh pengetahuan manusia ada yang bersifat pasti (yaqini, definitif) dan ada yang bersifat asumsi. Pengetahuan yang bersifat pasti dapat dijadikan sandaran bagi setiap orang, namun pada pengetahuan yang tidak pasti, maka para ahli di bidang ilmu itulah yang berhak melontarkan pandangan atas permasalah tersebut. Bagi yang lainnya cukup merujuk kepada yang lebih menguasai permasalahan atau bidang ilmu tersebut dan mengambil pemahan darinya, dimana hal inipun (merujuk kepada yang lebih tahu) merupakan sebuah prinsip rasional. Jika permasalahan yang diperselisihkan merupakan aturan yang menuntut adanya praktek, maka sudah barang tentu kita harus menerima salah satu dari beberapa pandangan yang ada. Namun jika permasalahan yang diperselisihkan itu berkaitan dengan keyakinan yang tidak membutuhkan praktek nyata, maka seseorang tidak diharuskan untuk menyakini bahwa pendapat ini adalah benar dan pendapat yang satunya salah. Di sini ia dapat mengatakan: bahwa dugaan saya bahwa pandangan inilah yang benar, dan ia pun tidak dapat menisbatkan dugaan tersebut kepada al-Qur’an. Sebagai contoh bentuk kehidupan di alam kubur (Bazakh) , bentuk pertanyaan yang akan dilontarkan di kubur dan lainnya sebagaimana yang disebutkan oleh para pakar teologi muslim. Pada kondisi seperti ini harus diperhatikan terlebih dahulu apakah kita harus memilih pandangan tertentu ataukah tidak? Disini cukup bagi kita mempraktekan sabda Imam Shadiq As “segala yang diucapkan oleh para Imam Maksum As adalah kebenaran”. Jika ada seseorang yang mengkaji dalil-dalil baik rasional maupun tekstual guna memilih salah satu dari pendapat yang ada, maka hal ini diperbolehkan dalam Islam, selama ia tidak menisbatkannya kepada al-Qur’an dengan mengatakan “pasti yang dimaksudkan al-Qur’an adalah pendapat ini”.

Dalam kondisi seperti ini yang harus dikatakannya adalah “Saya menduga bahwa pendapat inilah yang benar, namun dikarenakan tidak ada dalil pasti yang menguatkannya, maka apa yang diucapkan para imam As itulah yang benar”.

Dengan demikian saat kita menghadapi sebuah permasalahan yang masih diperselisikan, kita akan tetap menghormati pendapat lainnya dan tidak menuduhnya sebagai seorang kafir, zindiq, musrik dan tuduhan keji lainnya. Namun pada masalah-masalah yang pasti kita dapat menerapkan kaidah-kaidah yang ada, dan menurut pandangan rasional simpulan yang dicapai merupakan hujjah bagi kita, karena ha yang demikian akan menolak perbedaan persepsi dan pandangan. Sesuatu yang merupakan kejelasan akan difahami secara merata dan sama, kecuali bagi orang-orang yang memiliki tujuan dan kepentingan tertentu. Adapun yang berkaitan dengan permasalahan yang tidak pasti yang masih menjadi perselisihan, maka para pakar yang memiliki pengetauan luas atas permasalahan tersebutlah yang berhak memberi pandangan mengenainya. Namun dengan kemungkinan adanya kesalahan dalam pandangan mereka, maka kita tidak dapat menisbatkannya kepada Allah Swt, karena tidak menutup kemungkinan ada maksud lainnya di balik makna yang mereka fahami dari ayat bersangkutan. Bagaimanapun juga, apa yang kita yakini adalah apa yang disabdakan oleh para Imam Maksum As, dan itu merupakan hujjah bagi kita. [www.wisdoms4all.com]


 


[1] An-Nahl: 90

[2] Merupakan bagian dari prinsip ketiga.

[3] Al-Fajr: 22

[4] Thaaha: 5

[5] As-Syura: 11

[6] Al-Jum’ah: 2

[7] An-Nahl: 44

[8] An-Nisaa’: 59

[9] Al-An’am: 145

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s