Menganalisa Konsep Kenabian [2]

concept.jpgPada pembahasan sebelumnya telah diungkapkan beberapa permasalahan yang sangat fundamental ihwal kenabian. Di antaranya pertanyaan-pertanyaan seputar, apa hakikat kenabian? Apakah para nabi itu orang-orang pilihan Tuhan ataukah  orang-orang ârif (para urafa) pembaharu? Apakah mereka itu murni pilihan Tuhan ataukah mereka juga sendiri mempunyai akses dalam kenabiannya? Pertanyaan-pertanyaan ini secara teliti telah kita bedah dan kupas dalam pembahasan sebelumnya dan telah kita utarakan jawaban-jawaban yang berhubungan dengannya. Yang tersisa dari pembahasan ini, membandingkan dua tinjauan tentang motif kenabian, yakni membandingkan unsur-unsur dari teori dan pandangan kenabian yang menyatakan para nabi As orang-orang ârif pembaharu dengan unsur-unsur dari teori dan pandangan yang menyatakan para nabi As orang-orang pilihan Tuhan.

Menurut pandangan kami, unsur-unsur kedua kelompok pandangan tersebut bukanlah hal dan perkara yang saling bertentangan secara mutlak sehingga keduanya tidak mungkin diletakkan secara berdampingan. Akan tetapi perlu diingat bahwa keduanya dapat didekatkan setelah dilakukan penyederhanaan dan penyeimbangan masing-masing sebagian unsur dari keduanya.

Selanjutnya, setelah kita membahas masalah kemandirian dan kecukupan akal dan tinjauan kedua teori tersebut tentang masalah ini, kita simpulkan pilihan yang benar adalah pandangan kelompok kedua (yang memandang para nabi As orang-orang pilihan Tuhan, dan menurutnya, akal tidak mandiri dan cukup dengan sendirinya menggapai seluruh pengetahuan yang dibutuhkan manusia secara benar dan komprehensip), saatnya kita membahas unsur dan poin yang lain yang ada dalam kedua kelompok teori tersebut:

Mengenal Kebutuhan-kebutuhan

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan sebelumnya, dalam bagian ini juga mesti dikatakan kalau akal tidak mampu memecahkan seluruh problema dan dilema yang dihadapi manusia. Penyelesaian semua kebutuhan-kebutuhan kita di tangan akal dan potensi-potensi persepsi lainnya adalah mustahil, sebab sebagaimana telah kita ketahui dari pembahasan sebelumnya, akal manusia tidak dapat mengenal dirinya dan alam sekitarnya sebagaiamana ia adanya (as it is). Oleh karena itu, ia tidak mampu menyelesaikan seluruh problema-problema mendasar yang ia hadapi sebagaimana seharusnya dan sampai batas kemungkinannya.

Untuk memecahkan dan menyelesaikan masalah serta problema penting yang ada di seputar manusia, dibutuhkan informasi luas dan cukup, dan ini tidak terjangkau seluruhnya oleh kemampuan akal dan potensi persepsi lain manusia. Tuhan berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit”.[1]      

Berdasarkan hal ini, hatta kebutuhan-kebutuhan nyata dan hakiki manusia dengan seluruh perkara pengenalannya, juga tidak terkonsepsi oleh akal, sebab pengenalan terhadap kebutuhan-kebutuhan hakiki hanya dapat dilakukan dalam naungan pengenalan yang dalam dan akurat terhadap tujuan akhir dan pengenalan jalan benar untuk mencapainya, dan pengenalan perkara-perkara ini tidak mungkin bagi manusia tanpa dibantu oleh wahyu. Oleh karena itu, di sini juga harus kami utarakan  kesepakatan kami dengan kelompok kedua, yakni manusia tidak hanya tidak dapat memecahkan seluruh problema-problemanya, bahkan mereka tidak dapat mengenal dan mengidentifikasi semua itu secara benar dan akurat.

Mungkin saja untuk membela kelompok pertama dikatakan bahwa kebutuhan dan keperluan tidak mempunyai makna terhadap jenis perkara yang tidak mungkin dikenali; yakni ia (kebutuhan) tidak ada dari kelompok perkara yang tidak mungkin dikenal dan diketahui, dan jika kebutuhan itu ada, niscaya ia mungkin diketahui. Sebagai penjelasan, perkara-perkara alam terdiri atas dua kelompok: pertama, satu kelompok perkara yang bentuk keberadaannya terlepas dari persepsi kita (maksudnya keberadaannya tidak bergantung pada persepsi kita, bahkan pada wujud kita), kedua, kelompok perkara dimana persepsi dan perasaan kita terhadap mereka merupakan bentuk keberadaanya itu sendiri, yakni ia tidak terlepas dari persepsi dan perasaan kita.

Sebuah meja yang ada di hadapan kita, eksistensi dan keberadaannya sama sekali tidak mempunyai ketergantungan dengan kita. Kita ada atau tidak ada, kita mempersepsinya atau tidak mempersepsinya, meja itu tetap memiliki eksistensi. Demikian juga maujud-maujud lainnya yang keberadaannya berada di luar diri kita, seperti bumi, langit, air, udara, api, batu, dan lainnya. Tidak satu pun dari maujud-maujud ini yang eksistensi dan keberadaannya bergantung pada maujud lain yang mempunyai persepsi dan perasa, sehingga apabila tidak ada maujud yang mempunyai persepsi dan perasa yang mempersepsi dan merasakan mereka maka keberadaan mereka akan menjadi ketiadaan.

Akan tetapi kelompok lain dari obyek dan perkara yang terjadi di alam, seperti sakit, sedih, riang, lapar, kenyang, haus, cinta, suka, benci, dendam, dan lainnya, merupakan obyek dan perkara yang bergantung kepada maujud yang mempersepsi dan merasakannya, dan jika tidak ada maujud yang mempersepsinya maka mereka akan tiada (atau sama sekali tidak pernah akan mengada). Sebab kebutuhan terhadap sesuatu, merupakan  kebutuhan suatu maujud yang memiliki perasaan dan persepsi, seperti manusia, yakni manusialah (sebagai maujud yang memiliki perasaan dan persepsi) yang merasakan kebutuhan kepada sesuatu atau yang dinisbahkan terhadap sesuatu tidak merasa butuh kepadanya. Sebagai contoh, seseorang yang merasakan lapar dan mengiringi perasaan itu, ia merasakan kebutuhan kepada makanan. Jika perasaan ini tidak ada, ia tidak merasakan kebutuhan kepada makanan.

Akan tetapi klaim ini tidaklah benar dan terdapat di dalamnya mugâlatah (fallacy). Antara kebutuhan dan perasaan butuh telah dicampur adukkan. Perasaan butuh merupakan perkara kejiwaan, dimana keberadaannya merupakan persepsi terhadapnya itu sendiri. Tetapi kebutuhan itu sendiri, dari dimensi ia adalah kebutuhan, tidaklah demikian. Kebutuhan-kebutuhan terdiri atas dua bagian: Satu bagian dari kebutuhan-kebutuhan adalah perkara nyata dan obyektif, seperti kebutuhan kepada makanan, pakaian, tempat tinggal dan lainnya, dan satu bagian lagi dari kebutuhan-kebutuhan merupakan perkara kejiwaan dan subyektif, seperti kebutuhan akan kasih sayang, cinta, dan lainnya. Makna kejiwaan kelompok kebutuhan ini tidak dari aspek kebutuhan terhadap mereka, akan tetapi dari aspek keterkaitan kejiwaan pada mereka.

Oleh karena itu, kebutuhan dari dimensi ia adalah kebutuhan, bukanlah faktor kejiwaan, akan tetapi adalah kenyataan dan obyektifitas. Manusia butuh kepada makanan, apakah ia merasakannya atau tidak merasakannya. Mungkin saja sistem pencernaan seseorang mengalami gangguan penyakit dan tidak mengirimkan pesan-pesan secara benar yang berhubungan dengan perasaan lapar dan ia sama sekali tidak merasakan kondisi lapar, padahal badannya sudah melemah dan bahan makanan yang menjadi kebutuhannya tidak sampai padanya. Dalam kondisi ini ia tidak merasakan lapar dan tidak merasa butuh pada makanan, namun kenyataan yang ada pada tubuhnya adalah keperluan pada makanan.

Dengan demikian, ada kemungkinan terdapat kebutuhan-kebutuhan yang dalam kondisi biasa tidak terasakan oleh kita, dan untuk mendapatkan perasaan butuh, kita mamerlukan pemberitahuan dan pengajaran. Kita membutuhkan sangat banyak terhadap sesuatu bagi keselamatan akhir kita, yang apabila kita bebaskan mereka dalam kondisi mereka sendiri, maka mereka itu tidak akan kita kenali. Di sinilah peran para nabi As (yakni memberi hidayah dan petunjuk) menjadi jelas. Mereka, dengan bantuan Ilahi dan melalui jalan wahyu, mengenal kebutuhan-kebutuhan fundamental manusia dan juga mengetahui cara memecahkan dan menyelasaikannya, serta apa yang mereka ketahui tentangnya mereka ajarkan kepada manusia lainnya. Tanpa bantuan wahyu dan pertolongan Ilahi, kita tidak akan mengenal kebutuhan-kebutuhan kita dan tidak mengetahui cara menjaminnya: “… dan mengajarkan kamu apa yang tidak kamu ketahui”, (Qs. al-Baqarah [2]: 151).

Dorongan Beragama

Apakah dorongan beragama berasaskan kebutuhan ataukah berdasarkan instink pencarian kebenaran? Menurut pandangan kami masalah ini tidak dapat diputuskan dan dihukumkan sama bagi semua orang. Akan tetapi jika kita ingin meninjau  dengan pendekatan mayoritas orang, yakni orang-orang secara umum, harus kami katakan kelompok pertamalah yang benar. Orang-orang pada umumnya cenderung kepada sesuatu berasaskan kebutuhan. Dalam masalah agama juga kondisinya seperti  ini. Jika agama dapat memberi jalan pemecahan terhadap sebagian kebutuhan-kebutuhan manusia (yang tidak terselesaikan oleh kemampuan manusia) maka manusia akan mengacu serta merujuk kepadanya, jika tidak maka mereka akan berpaling darinya. Namun demikian, terdapat juga orang-orang khusus, yang tanpa perhatian terhadap kegunaan agama dan keperluannya kepadanya, murni berasaskan pencarian kebenaran, mereka mengkaji, menelaah, dan mengikuti jalan agama secara konsisten, akan tetapi jumlah mereka ini adalah sedikit. 

Di samping hal tersebut di atas, juga harus diingatkan bahwa memang benar kalau kebanyakan manusia mengacu kepada sesuatu berasaskan manfaat dan kegunaannya (termasuk dalam hal ini agama), akan tetapi tidaklah demikian bahwa mereka menerima sesuatu itu murni hanya berasaskan paedah dan kegunaan dunia saja. Dengan kata lain, penerimaan masyarakat terhadap agama dan pesan para nabi As, tidak hanya murni dikarenakan agama membawa serentetan kebutuhan materi dan maknawi mereka di dunia ini. Tetapi, mungkin saja para nabi As, dengan pesan-pesannya mampu mengantarkan orang-orang kepada suatu rentetan wujud kebutuhan nyata terhadap alam lain (alam gaib) yang sebelumnya tidak terasakan oleh mereka, dan berasaskan hal itu para nabi menarik manusia kepada agama. Dalam berbagai peristiwa dan di sepanjang sejarah kenabian, kondisi seperti ini banyak tercipta. Kebebasan abadi dari penderitaan dan nestapa, kemenangan dan kebahagiaan abadi, kenikmatan-kenikmatan surga, mengharapkan keamanan dari bahaya siksaan alam akhirat, khususnya api neraka, dan kondisi-kondisi lainnya, merupakan perkara-perkara yang menjadi bagian penting dari kebutuhan-kebutuhan manusia. Kebanyakan manusia mengacu dan berpegang kepada agama untuk mendapatkan semua itu. Pada saat yang sama, kebutuhan-kebutuhan itu tidaklah terhitung sebagai kebutuhan di dunia ini.

Oleh karena itu, dapat dikatakan dalam dimensi ini, pada batasan tertentu kebenaran ada pada kelompok pertama. Jika tidak ada kebutuhan, dan jika tidak datang perasaan butuh pada diri manusia, tentulah tidak akan muncul kecenderungan terhadap agama dan para nabi As dalam diri mereka. Tetapi, tidak ada kemestian kecenderungan ini murni dikarenakan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan di dunia ini. Pemenuhan kesejahteraan dan ketenangan ruh serta jiwa di dunia ini, juga dapat menjadi bagian dari paedah dan manfaat agama, tetapi tidak semuanya. Benar apa yang difirmankan Tuhan:        

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan kebaikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan begi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa….” [2]

Ini hanya salah satu dari janji-janji Tuhan. Kebanyakan janji-janji kepada kaum beriman, janji-janji ukhrawi. Ratusan ayat al-Qur’an memuat janji Ilahi kepada kaum beriman dan beramal saleh dan ancaman-Nya kepada kaum kafir dan pendosa, dan ini semua berupa janji dan ancaman ukhrawi. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya orang yang bertakwa itu berada dalam surga-surga (taman-taman), dan (di dekat) mata air (yang mengalir)”[3], “Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman”[4], “…sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya….”[5], “…Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahannam”[6].      

Dan sebagian dari ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan irama ruh mencari manfaat dan keuntungan manusia, mengungkapkan: “Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat  tinggal yang baik  di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.” [7]

Akan tetapi ada satu poin yang tidak boleh luput dari perhatian, dalam kebudayaan Yahudi dan Kristen masalah janji-janji duniawi sangat lebih menonjol dibandingkan dengan kebudayaan Islam. Terutama dalam Perjanjian Lama dan kebudayaan kaum Yahudi, tidak  akan terlalu banyak disaksikan pembicaraan  tentang janji-janji ukhrawi. Diketengahkan bahwa dalam Perjanjian Lama hanya dua kali saja masalah eskatologi (ukhrawi) disebutkan.

Dalam Kristen Protestan, juga akan terlihat ruh dan kebudayaan kecenderungan terhadap dunia  dan janji-janji Tuhan yang bernuansa keduniaan. Dengan alasan ini, kaum Yahudi dan kaum Kristen Protestan lebih banyak memandang agama sebagai media yang menjamin kebutuhan-kebutuhan duniawi, baik itu kebutuhan materi maupun kebutuhan maknawi.[8]  Oleh karena itu, orang-orang yang terdidik dari kedua maktab (ideologi) ini juga, apakah ia orang Iran, Mesir, Arab, Indonesia, atau Muslim, sadar atau tidak sadar telah di bawah pengaruh pemikiran-pemikiran mereka yang berkecenderungan duniawi serta Kapitalis, dan mereka akan mendapatkan motif keberagamaan mereka berasaskan kebutuhan-kebutuhan duniawi.

Inisiatif Perbuatan

Tentang apakah inisiatif  perbuatan berada di tangan manusia ataukah di tangan Tuhan, kedua motif pendekatan tersebut dapat diterima. Dalam masalah kenabian; gerak, pencarian, dan sifat reformis seorang nabi, dan juga ia sebagai manusia pilihan Tuhan, merupakan faktor-faktor yang berpengaruh dalam kenabiannya, kendatipun mungkin saja dapat dikatakan bahwa faktor pilihan Tuhanlah yang merupakan pengaruh asli dan prinsipil. Jika tidak ada kemestian iradah dan hikmah Tuhan maka seseorang tidak akan menjadi nabi, hatta ia sebagai paling baiknya manusia dan lebih baik dari nabi-nabi[9], dan bahkan mempunyai klaim pembaharu dan juga telah berhasil melakukan pembaharuan dalam masyarakat.

Oleh karena itu, penerimaan yang benar tentang kenabian, tidak boleh mengabaikan faktor pilihan Tuhan atau mengurangi pengaruhnya. Dalam pandangan keberagamaan sejati,  nabi adalah manusia pilihan Tuhan, dan jika tidak karena perbuatan pemilihan (ishthafâ dan ijtabâ) dari sisi Tuhan maka seseorang tidak akan mendapatkan kenabian: “…Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, tetapi  Allah memilih siapa yang Dia kehendaki di antara rasul-rasul-Nya…”[10]          

Dalam surah Shad, sesudah disebutkan tentang Nabi Daud, Sulaiman, Ayyub, Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub, dalam penyifatan tentang mereka, al-Qur’an menyatakan: “Dan sungguh, di sisi Kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.”[11]

Dengan demikian, tidak diragukan bahwa faktor pilihan Tuhan tersebut, tidaklah tanpa dalil. Tuhan yang Mahabijaksana tidak akan memilih sembarang orang untuk merealisasikan perkara urgen (memberi petunjuk dan hidayah kepada manusia). Para nabi As itu adalah orang-orang yang dipilih di antara orang-orang benar, orang-orang jujur, orang-orang bersih, orang-orang berbuat baik, orang-orang berakhlak baik, dan orang-orang mulia: “Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan sebelum itu telah Kami memberi petunjuk kepada Nuh, dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakariya, Yahya, Isa, dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang saleh. Dan Ismail, Alyasa’, Yunus, dan Lut, masing-masing Kami lebihkan (derajatnya) di atas umat lain (pada masanya).”[12]

Nabi Yahya bin Zakariya, dipuji sebagai panutan, suci dan orang saleh: “…Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.”[13]

Nabi Ibrahim adalah seorang nabi yang mencintai kebenaran lagi berbuat baik: “Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (al-Qur’an), sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran, dan seorang nabi”[14], “Selamat sejahtera atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”.[15]

Nabi Musa disifati dengan sifat khâlish dan sempurna kesuciannya: “Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Musa di dalam Kitab (al-Qur’an). Dia benar-benar orang yang terpilih, seorang rasul dan nabi.”[16]   

Dari semua yang disebutkan di atas, Nabi Muhammad Saw merupakan yang paling utama, dan beliau dipandang yang paling memiliki akhlak agung: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti agung”[17]

Singkatnya, seluruh nabi As mempunyai keutamaan dan kemuliaan, akan tetapi sebagian juga mempunyai  kelebihan atas sebagian yang lain: “Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain)….”[18]

Para urafa Muslim, seperti Ibnu Arabi dan para komentator kitab-kitabnya seperti, Jindi, Qaisari, Ibnu Turkah, Kasyani, dan lainnya, memandang bahwa kenabian itu dari sisi Tuhan. Tantang hal ini Ibnu Arabi menuliskan: Oleh karena itu, kenabian para nabi merupakan perkara pemberian (mauhûbi); karena itu kenabian bukanlah perkara usaha manusia (kasbi). Jadi seluruh syariat-syariat dari sudut pandang kaum muslimin, merupakan perkara mauhûbi.[19]

Gerak dari Bawah atau dari Atas ?

Berdasarkan apa yang telah kita ungkapkan dalam bagian sebelumnya, jawaban pertanyaan ini juga akan menjadi jelas. Menurut pandangan kami tidak terjadi kontradiksi di antara kedua gerakan ini. Dalam masalah kenabian, Tuhan di alam atas juga menurunkan wahyu dan manusia juga dari alam bawah melakukan pencarian serta perenungan akan hakikat kebenaran dan pengetahuan. Peristiwa pencarian hakikat kebenaran Nabi Ibrahim As merupakan contoh yang tepat untuk menunjukkan ruh pengembaraan pengetahuan para nabi As: “Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata: “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata: “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini lebih besar”. Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata: “Wahai kaumku! Sungguh aka berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”[20] 

Tidak diragukan, para nabi As sebelumnya adalah orang-orang yang mempunyai gerakan ruhani menaik (shu’ûdi). Mereka, dari kehidupan kebanyakan manusia bergerak kepada kehidupan yang lebih utama dan berusaha di balik lahiriah alam fisika, menemukan hakikat-hakikat. Akan tetapi tidaklah demikian bahwa seluruh permasalahan kenabian berakhir berkat upaya dan aktivitas mereka sendiri. Akan tetapi ini merupakan awal dari perjalanan, dari sinilah kemudian tangan hidayah Tuhan serta penurunan wahyu-Nya bermula dan menghembuskan kenabian.

Para nabi itu sendiri mengaku bahwa mereka mendapatkan pertolongan dari alam atas tentang pancarian serta kemunculan kenabiannya. Dalam ayat-ayat sebelumnya kita menemukan ungkapan Nabi Ibrahim As, jika Tuhanku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku tergolong orng-orang yang sesat, dimana dalam konteks ini Nabi Ibrahim As sendiri memandang jika dirinya telah diberi petunjuk oleh Allah Swt. Dalam keberagamaan puritan, gambaran ini diterima dan dipandang sebagai suatu realitas, dengan makna bahwa matlab ini bukanlah hanya suatu persangkaan yang tidak berasas. Kesaksian-kesaksian sejarah dan juga akal menegaskan keberadaan hidayah dan petunjuk Tuhan ini.[21] Sebagian cendekiawan, tentang topik wahyu Nabi Muhammad Saw, mengatakan seperti berikut: Aspek transendental dan keilahian wahyu (nabi Muhammad Saw), dari sisi bahwa; kita menyaksikan kenyataannya setelah melewati abad-abad yang panjang atas akal pemikiran manusia, dan dalam rentang zaman yang panjang serta tempat yang luas, ia semakin menunjukkan kebenaran dan kehakikian.[22]

Keridaan Individu atau Hidayah Sosial

Di sini juga seperti dua poin sebelumnya, kedua motif pandangan ini dapat digabung secara bersama. Sebagaimana yang lalu tidak ada pertentangan di antara dua gerak (gerak dari bawah dan gerak dari atas) dan dalam masalah kenabian  kedua gerak tersebut masing-masing mempunyai kenyataan, karena itu, di sini  kedua tujuan juga dapat dipertemukan. Manusia, bergerak melakukan pencarian dalam rangka untuk mendapatkan hakikat, dan dalam jalan ini ia juga memperoleh penyingkapan dan penyaksian. Ia tidak bergerak tanpa tujuan, ia bergerak untuk meraih pengetahuan. Dari sisi lain, Tuhan yang Maha Agung memilih seseorang dan mengirim wahyu kepadanya, juga dalam tindakan-Nya ini tidaklah tanpa tujuan. Tujuan Tuhan adalah memberi hidayah kepada manusia dan tujuan para nabi As (sebelum kenabian mereka) adalah menemukan hakikat, dan kedua tujuan ini satu sama lain tidaklah bertentangan.         

Tujuan Manusia dan Tujuan Tuhan

Dengan demikian, tujuan dapat berbentuk tujuan manusia dan juga tujuan Tuhan. Dengan menimbang keberadaan dua tujuan maka tidak ada problem dan isykal salah satu di antaranya disandarkan kepada manusia dan yang lainnya kepada Tuhan. Bahkan jika terdapat hanya satu tujuan, maka tidak ada problem penyandarannya kepada Tuhan dan kepada manusia. Sebab dua person dapat saja melakukan dua pekerjaan dan memiliki satu tujuan.

Tujuan Duniawi atau Ukhrawi

Dalam agama asli dan murni, tujuan dari kenabian secara prinsipil adalah ukhrawi. Adapun masalah duniawi, ia hanyalah merupakan tujuan kedua dan far’i (ramifikasi). Akan tetapi berdasarkan sebuah penafsiran dapat dikatakan bahwa dunia dan akhirat satu sama lain tidaklah terpisah. Akhirat adalah batin dari dunia.[23]

Oleh karena itu, keduanya masing-masing kita tinjau sebagai tujuan dari agama dan kenabian, serta kedua-duanya berpengaruh dalam membangun keberagamaan manusia. Namun perlu dicamkan, dalam tafsiran ini juga, yang asli dan hakikat adalah batin (akhirat) dan yang lahir (dunia) ibaratnya seperti busa air di atas air yang segera akan lenyap, dan yang hakiki serta lestari adalah batin, yang akan tampak di akhirat kelak. Dengan kata lain, apa yang akan kita saksikan di alam lain nantinya, pada dasarnya tidak lain dari penampakan batin dari dunia ini juga. Sekarang ini juga alam akhirat sudah ada, tapi   kita lalai akan  keberadaannya. Di akhirat mata kita akan terbuka dan apa yang telah kita siapkan di dunia ini akan kita saksikan di sana: “Pada hari itu mereka semuanya dibangkitkan Allah, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal perbuatan itu), meskipun mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”[24] Oleh karena itu, tujuan asli daripada agama dan kenabian adalah menjamin kebahagiaan abadi manusia, sementara perkara ini tidak akan merealitas kecuali dengan dilandasi pandangan terhadap akhirat.

Motif awal yang memandang kenabian menjamin kebutuhan-kebutuhan dunia, kendatipun bersifat maknawi, dalam hal ini mengambil jarak dari agama murni. Benar bahwa dalam agama terdapat paedah dan manfaat dunia yang banyak, di antaranya pengaruh-pengaruh maknawi seperti hilangnya perasaan teralienasi dan kesedihan keterasingan, mendapatkan perasaan aman dan ketenangan jiwa, serta lainnya, namun antara tujuan asli sesuatu dengan faidahnya terdapat suatu perbedaan prinsipil.

Beberapa hal telah disebutkan tentang faidah dan pengaruh dari agama dan keberagamaan, akan tetapi pada hakikatnya agama adalah sesuatu yang lebih tinggi dari itu, karena agama substansinya adalah menjamin kebahagiaan abadi dan mencapai kedekatan kepada Tuhan.       

Hidayah Individu dan Sosial

Tidak diragukan bahwa Tuhan yang Maha Agung telah meletakkan hidayah takwini (petunjuk penciptaan)  dalam karakter setiap manusia, dimana karakter ini dalam pandangan teologis disebut sebagai fitrah. Mereka yang mengatakan ‘panggilan nurani, adalah panggilan Tuhan’, berasaskan hal ini, telah mengungkapkan pernyataan yang benar. Akan tetapi harus dicamkan bahwa panggilan nurani tidak selamanya dengan jelas  dapat sampai di telinga audio kita. Terkadang begitu banyak hambatan yang ada dalam perjalanannya sehingga ia sampai pada kita dalam bentuk samar-samar ataukah bahkan sama sekali tidak terdengar oleh kita. Maka di sinilah dibutuhkan penyeru dan pengingat dari luar.

Terkadang manusia –bahkan dalam hal yang akalnya cukup untuk mempersepsi secara benar terhadapnya- dikarenakan pengaruh faktor-faktor tertentu ia menjadi lalai; sebagai contoh akal manusia cukup untuk membuktikan keberadaan Tuhan dan Tauhid, namun terkadang dikarenakan kondisi-kondisi sosial dan kemasyarakatan yang ada, telah menjadikan ia kehilangan kesempatan melakukan pekerjaan tersebut; yakni atmosfir sosial yang muncul melalaikan manusia dari hakikat ini dan membuat mereka tidak menggunakan akal di jalan perenungan dan pemikiran berkenaan dengan kebenaran tauhid dan kekeliruan selainnya. Ini adalah suatu kenyataan yang kurang lebih dapat diterima.[25]

Terkadang juga akal manusia terpendam di bawah hijab keragu-raguan dan atmosfir sosial, sehingga tidak lagi memiliki kemampuan kerja. Keberadaan dan ketiadaan akal bagi manusia dalam kondisi ini hampir tidak ada bedanya.[26]         

Dari sisi lain, kapasitas semua manusia tidak berada dalam batasan dimana mereka mampu secara langsung menyingkap kandungan hakikat-hakikat yang ada di balik alam empirik. Hal ini memestikan ditemukannya kapasitas pengetahuan transenden dalam beberapa individu tertentu, sebab tidak ada kemungkinan pengiriman wahyu pada seluruh qalbu manusia dalam bentuk satu persatu. Dengan kata lain, untuk terjalinnya hubungan antara alam Ilahi dengan alam ciptaan mesti terjadi gerak dari alam atas dan alam bawah (terjadi pergerakan dari dua arah). Ungkapan ini sendiri bermakna bahwa; dari alam bawah terdapat orang-orang yang berupaya untuk meningkatkan kapasitas eksistensi dan pengetahuannya sehingga melintasi puncak alam ciptaan dan mendapatkan kemampuan berkomunikasi dengan alam-alam lain, khususnya alam Ilahi. Di sisi lain, dari alam atas juga terjadi tanazzul  (proses penurunan) hakikat-hakikat ketuhanan, dan hakikat-hakikat ini mendapatkan domain penurunannya sampai batas dimana dapat terjangkau oleh manusia yang telah mengalami perjalanan transendental. Dalam kondisi inilah memungkinkan terjadi hubungan pewahyuan dan penerimaan wahyu, dan dengan dalil ini maka hakikatnya para nabi As disatu pihak melakukan mikraj dan di pihak lain Tuhan menurunkan wahyu-Nya. 

Oleh karena itu, jelaslah bahwa satu persatu manusia tidak mampu untuk menanggung beban berat ini. Beratnya tajalli Ilahi dan tekanan yang timbul darinya, telah membuat Nabi Musa As jatuh pingsan tidak sadarkan diri: “Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Allah berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha suci Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”[27]

Tuhan menyifatkan wahyu dengan beban berat, dimana untuk menanggungnya Nabi Saw harus meninggalkan tidur malamnya dan beribadah yang berat untuk mempersiapkan dirinya menanggung beban berat tersebut: “Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah al-Qur’an itu dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang  berat kepadamu.”[28] 

Oleh karena itu, orang-orang yang terpilih (menjadi nabi) di antara manusia adalah orang-orang yang memiliki kesiapan untuk menerima wahyu dan makrifat-makrifat ketuhanan, kemudian berasaskan itu mereka memimpin dan memberi petunjuk kepada manusia; sebab: Tuhan yang menciptakan manusia untuk kebahagiaan akhirat  -kebahagiaan yang berada dalam pusaran keimanan kepada Allah dan hari akhirat-  Dan Allah tahu bahwa bagi manusia akan datang situasi dan kondisi dimana mereka lalai terhadap masalah-masalah universal ini, Hikmah Dia meniscayakan bahwa dalam situasi dan kondisi demikian ini, mengirimkan orang-orang pembaharu, pengajar, dan pengingat yang mengarahkan manusia untuk perhatian terhadap suatu matlab yang fitrahnya memberi kesaksian terhadapnya dan akalnya paham tentang matlab tersebut, kendatipun pada awalnya mereka dalam keadaan lupa dan lalai. Ungkapan Amirul Mukminin Ali As: “Memberi peringatan pada mereka akan nikmt-Nya yang telupakan serta membangunkan akal-akal mereka yang tertimbun”, mungkin mengarah kepada matlab ini.[29]

Maka dari itu dalam masalah kenabian, tidak dapat diterima pandangan kelompok pertama yang hanya bertumpu pada hidayah individu. Hidayah masyarakat adalah mesti dan apabila tidak ada hidyah ini kepada manusia maka mereka tidak dapat sampai pada kebahagiaan abadi.

Keselarasan Para nabi Dan Para Arif

Tidak diragukan antara para arif dan para nabi terdapat keserupaan yang banyak. Antara pengalaman batin para nabi As dengan para arif juga terdapat banyak kesamaan. Kedua kelompok memperoleh mukasyafah (penyingkapan) dimana orang biasa tidak mendapatkan itu. Para cendekiawan Muslim menghitung penyaksian realitas dalam kondisi tidur (mimpi yang benar, shâdiq) dan mukasyafah para arif (urafa) sebagai tingkatan-tingkatan rendah dari kenabian.  Para nabi As memiliki apa yang dimiliki oleh para arif dan juga memliki sesuatu yang lebih dari itu. Dengan ungkapan lain dapat dikatakan setiap nabi adalah arif, akan tetapi setiap arif belum tentu adalah nabi, karena itu di antara mereka nisbahnya adalah umum dan khusus mutlak.

Oleh karena itu, tidak boleh dipandang perolehan-perolehan irfani itu asing dari kondisi-kondisi kenabian, jika terdapat perbedaan, bentuknya tidaklah sampai membuat asing satu sama lain. Adapun poin penting dari masalah ini, mengungkapkan bentuk yang jelas dari perbedaan kedua kelompok tersebut. Apa yang membuat para nabi As berbeda dengan para arif ? Apakah hanya karena para nabi As merasakan adanya tugas sedangkan para arif tidak memiliki hal itu, adalah dimensi yang membedakan kedua kelompok ini ?

Sebagian orang menganggap bahwa hanya perasaan diberi tugas yang membedakan antara para nabi As dengan para arif.[30] Mereka melihat perbedaan para nabi As dengan para arif dalam hal ini (mendapatkan tugas), dan menurut pandangan mereka terkadang dari sisi alam atas (alam Ilahi) terlontarkan perintah dan tugas untuk menyampaikan satu rangkaian pesan-pesan dan aturan-aturan amal (dastûrul ‘amal) . Para nabi As sedemikian yakinnya terhadap perintah dan tugas itu dan sedemikian mereka rasakan kepercayaan serta kepastian, sehingga mereka siap menghadapi segala kepahitan, kesempitan, serangan, dan permusuhan, dan mereka teguh menjalankan tugasnya.[31]

Metode pendekatan ini, jika dihubungkan dengan pandangan  pertama tentang kenabian adalah seirama, dan berhadapan dengan problem serta isykal. Problem yang paling urgen dihadapinya, tidak memandang peran Tuhan dalam memilih dan mengangkat seorang nabi.  Dalam bentuk pendekatan ini, pengalaman kenabian tersifati sedemikian hingga cocok juga dengan keimajinasian manusia; sebab mereka mengatakan: Tonggak kepribadian dan kenabian para nabi dan satu-satunya modalitas mereka, hanyalah wahyu atau dengan peristilahan kontemporer ‘pengalaman keagamaan’. Dalam pengalaman ini, nabi melihat demikian ini bahwa terkadang seseorang datang di sisinya dan membisikkan pada qalbunya pesan-pesan dan perintah-perintah dan….[32]

Penggunaan dari ungkapan, terkadang memahamkan matlab seperti ini, bahwa pengalaman kenabian dapat dimisalkan dengan lukisan di atas air atau goresan kanpas di udara, dan tidak ada ia kecuali imajinasi dan khayalan pribadi yang tidak mengandung kenyataan.

Problem lain dari ungkapan ini, bahwasanya wahyu dipandangnya sebagai pengalaman agama dan tidak lebih dari itu, sehingga ia tidak membedakan antara wahyu dengan pengalaman-pengalaman keagamaan para arif. Padahal, terdapat kekhususan-kekhususan dalam wahyu yang tidak ada dalam pengalaman-pengalaman lain.[33]

Para nabi As, semuanya mendapatkan saham kenabiannya dari sisi Tuhan, sedangkan asset para arif bisa dipandang dalam batas tertentu merupakan faktor iktisâbi. Adapun yang merupakan faktor iktisâbi pada diri nabi-nabi adalah kadar yang sama mereka dengan para arif, sedangkan yang membedakan mereka dengan para arif lainnya adalah hibah dan pemberian Ilahi. Ibnu Arabi, di dalam berbagai kitabnya menjelaskan tentang matlab ini, khususnya dalam kitab magnum opus-nya ‘Fushsus al-Hikam’. Di awal pembahasan mutiara hikmah Nabi Dawud As dalam kitab ini, Ibnu Arabi menuliskan seperti in: “Ketahuilah, karena kenabian dan risalah terkhususkan pada Tuhan maka pada keduanya tidak ada sama sekali iktisâbi. Yakni pemberian kenabian tasyrî’i kepada para nabi As, sebagaimana pemberian-pemberian Tuhan yang lainnya atas mereka (yakni mauhûbi, bukan ganjaran dan dari para nabi dinisbahkan kepadanya tidak dituntut ganjaran), itu juga berupa kenikmatan dan pengutamaan.”[34] Dalam kitab ‘al-Futuhât al-Makkiyyah’, ia menyandarkan kepada seluruh kaum Muslimin berkenaan masalah ini, dan berkata: “Menurut akidah kaum Muslimin, seluruh syari’at-syari’at merupakan ilmu-ilmu mauhûbi (pemberian).”[35] Para komentator kitab Fushus Ibnu Arabi seperti Qaishari dan Kâsyâni, juga menguatkan dan menegaskan matlab ini.”[36]

Abdurrazzâk Lâhîji juga tentang masalah ini dalam kitab ‘Sarmâyeh Iman’ berkata: “Dakwah kenabian, kekhususannya adalah mauhûbi, bukan iktisâbi.”[37]

Sebagian cendekiawan tercerahkan juga mengomentari matlab ini dan berkata: “Nabi Saw tidak membuat al-Qur’an dengan akal dan istidlalnya, tapi terlontar dari luar dan dari sisi Tuhan baginya.”[38]

Wujud, Hikmah, dan Kehendak Baik

Mereka yang memandang antara para arif dan para nabi As perbedaannya hanya pada tataran perasaan adanya tugas dan tanggung jawab dan bermaksud membumikan seluruh identitas kenabian serta menafikan dimensi alam Ilahinya, dan mereka berpandangan bahwa rancangan asli bahkan seluruh rancangan yang ada berada di tangan manusia, mereka pada dasarnya tidak butuh membawa nama Tuhan apatah lagi eksistensi-Nya dalam pembahasan masalah kenabian. Dan analisa kenabian seperti ini, tidak hanya menyalahi ruh Islam murni bahkan juga selaras dan sejalan dengan ateisme dan ketiadaan keimanan pada Tuhan.

Adapun penjelasan prinsip kenabian berdasarkan atas hikmah dan kehendak baik Tuhan, dalam uraian ini, sebagaimana yang telah lalu, inisiatif perbuatan tidak keluar dari kekuasaan Tuhan dan Tuhan tetap merupakan perancang asli dan utama dalam peristiwa kenabian. Identitas nabi, kendatipun kadarnya besar dan tinggi, namun baginya kenabian bukanlah suatu pemberian. Di sini, eksistensi Tuhan sudah menjadi postulat[39]; dengan pengertian sudah diterima dan diaplikasikan dalam menjelaskan masalah kenabian.

Hikmah Tuhan juga menjadi postulat. Yakni jika kita tidak memandang Tuhan sebagai Maha Hakîm, tidak akan didapatkan konsep keniscayaan pengutusan nabi. Hikmah Tuhanlah yang meniscayakan Dia tidak melepaskan manusia dalam kondisinya sendiri (kondisi ketiadaan pembimbing) dan untuk menyampaikan manusia pada kesempurnaan yang dicarinya, Tuhan membuka pengetahuan jalan benar menuju kepadanya.

Demikian pula kehendak baik Tuhan merupakan postulat; sebab jika kita asumsikan ada Tuhan Yang Maha Hakîm dan Dia mengetahui bahwa diri-Nya telah menciptakan manusia dalam bentuk kekurangan dan Dia telah memberikan kebebasan memilih kepada mereka untuk menempuh perjalanan kesempurnaannya, dan tanpa petunjuk Ilahi mereka tidak akan mampu menempuh jalan kesempurnaan itu (atau minimal kebanyakan mereka tidak mampu), dalam kondisi ini mungkin saja Tuhan ini tidak mau berbuat baik kepada manusia dan tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhan daruri mereka. Oleh karena itu, tidak terjadi sama sekali pengutusan nabi. Akan tetapi jika kita memandang Tuhan berkehendak baik, maka saat itu kita mengetahui bahwa dengan keinginan baik-Nya, Dia tidak membolehkan adanya asumsi yang seperti di atas muncul bagi-Nya. Tuhan Yang  Maha Hakîm dan Maha Berkehendak Baik memilih para nabi untuk menyampaikan berita gembira dan memberi ancaman serta menginformasikan kepada manusia seluruh apa yang berpengaruh dalam kesempurnaan (kebahagiaan) dan kekurangan (kemalangan) mereka.[www.wisdoms4all.com]       


 


[1] . Q.S: al-Isra: 85.

[2] . Q.S. an-Nur [24]: 55.

[3] . Qs. al-Hijr [15]: 45.

[4] . Qs. ad-Dukhan [44]: 51.

[5] . Qs. al-Baqarah [2]: 221.

[6] . Qs. an-Nisa [4]: 140.

[7] . Qs. as-Shaff [61]: 10-12.

[8] . Untuk penelaahan dalam topik ini, merujuk kepada sumber-sumber berikut: 1) Kitab Perjanjian Lama, 2) Max Weber, Akhlak Protestan dan Ruh Kapitalisme.

[9] . Sebagaimana dalam keyakinan mazhab Syi’ah, Ali bin Abi Thalib As (kecuali nabi Muhammad Saw) lebih baik dari para nabi As.

[10] . Qs. Ali Imran [3]: 179.

[11] . Qs. Shâd [38]: 47.

[12] . Qs. al-An’am. [6]: 84-86.

[13] . Qs. Ali Imran [3]: 39.

[14] . Qs. Maryam [19]: 41.

[15] . Qs. as-Saffât [37]: 109-110.

[16] . Qs. Maryam [19]: 51.

[17] . Qs. al-Qalam: [68]: 4.

[18] . Qs. al-Isra’ [17]: 55.

[19] . Ibnu Arabi, Futuhat al-Makkiyyah, Dâru Shâdr, Beirut, Jld. 1, Hal. 254.

[20] . Qs. al-An’am [6]: 76-79.

[21] . Kesaksian-kesaksian ini biasanya dikumpulkan dan dijelaskan dalam kitab-kitab teologi dalam pembahasan pembuktian kenabian jalan khusus. Salah satu dari kesaksian ini adalah mukjizat, yang membuktikan kebenaran dan kehakikian klaim para nabi As. Kesaksian-kesaksian historis juga terkadang mengiringi penjelasan pembuktian tersebut.

[22] . Syenâkht-e wahyu, Hal. 112.

[23] . Al-marhum Allamah Thaba-thabai dalam kitab Risâlatul Wilâyah memperkenalkan jika akhirat itu adalah batin dari dunia.

[24] . Qs. al-Mujâdilah [58]: 6.

[25] . Ma’ârif al-Qur’an: Râh Syenosi, Hal. 41.

[26] . Ibid, Hal. 43.

[27] . Qs. al-A’raf [7]: 143.

[28] . Qs. al-Muzzammil [73]: 1-5.

[29] . Ma’ârif al-Qur’an: Râh Syenâsi, Hal. 43.

[30] . Abdul Karim Sorusy, Basth Tajrebeh Nabawi, Hal. 5.

[31] . Ibid, Hal. 3.

[32] . Ibid.

[33] . Penjelasan masalah ini terdapat dalam pasal: Wahyu dan Pengalaman Keagamaan.

[34] . Ibnu Arabi, Fushus al-Hikam, Hal. 160.

[35] . Ibnu Arabi, Al-Futuhât al-Makkiyyah, Hal. 254.

[36] . Merujuk kepada Syarh Bar Fushus al-Hikam Qaishari dan Kâsyâni, Fassun Dâwudi.

[37] . Mulla Abdurrazzâk Lâhîji, Sarmâyeh Iman, Hal. 96.

[38] . Syenokht-e Wahyu, Hal. 110.

[39] . Postulat di sini tidaklah bermakna asumsi tanpa penerimaan, tapi maksudnya sesuatu yang sudah diterima, apakah dari jalan argumentasi ataukah dari jalan lain.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s