Logika [untuk] Memahami Agama

Mukaddimah

logika-memahami-agama.jpgApakah agama itu dapat diketahui? Apakah seluruh tirai hakikat agama itu dapat disingkap? Apabila agama itu dapat disingkap, apakah yang menjadi sumber-sumber makrifat agama? Apakah dalam menyingkap tirai kebenaran agama mengikut kepada logika yang telah ditentukan? Apabila menyingkap kebenaran, hakikat agama dan agama hakiki merupakan sesuatu yang mungkin dan logis, apakah yang menjadi sebab keragaman dan kemajuan makrifat agama? Apakah keragaman dan kemajuan pelbagai makrifat merupakan produk yang bersifat keseluruhan atau sebagian? Apakah perubahan makrifat agama bersifat horizontal dan kontradiktif atau bercorak vertikal dan saling melengkapi? Apakah makrifat-makrifat agama dapat dibagi menjadi makrifat yang benar dan tidak benar? Apabila demikian adanya apa yang menjadi criteria dalam menimbang makrifat-makrifat agama? Dan apakah jawaban dari beragama soalan yang diutarakan di atas harus ditelusuri pada teks agama atau dijelajahi di luar agama? Atau pada keduanya?

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan selaksa pertanyaan lainnya, meniscayakan penyusunan disiplin ilmu yang mandiri dimana ilmu ini dapat disebut sebagai “Logika [untuk] Memahami Agama.” 

Untuk memberikan jawaban secara global dari kebanyakan pertanyaan yang disebutkan di atas, poin-poin di bawah ini harus menjadi fokus pembahasan:

  1. Mendefinisikan terminologi kunci.
  2. Metodologi logika memahami agama.
  3. Prediksi ketersingkapan agama (bahwa agama adalah sesuatu yang dapat dipahami).
  4. Syarat dan pra-syarat pemahaman agama.
  5. Metodologi penyingkapan agama.
  6. Kritik pandangan Ketersingkapan Pemahaman Agama.”
  7. Kriteria penilaian pemahaman agama

 

Definisi beberapa Terminologi

Terminologi-terminologi seperti agama, teks agama (divine), pemahaman agama, penafsiran, takwil, hermenetik, bacaan, makrifat agama, bahasa agama, logika [untuk] memahami agama, pelbagai metodelogi dan pendekatan penafsiran teks-teks agama (khususnya al-Qur’an) dan sebagainya, harus menjadi fokus pembahasan, namun di sini hanya terminologi seperti “agama”, “pemahaman agama”, “ketersingkapan atau komprehensibel” dan “hermenetik” yang akan dijelaskan secara global.

1. Agama adalah sekumpulan proposisi dan ajaran yang bersumber dari Sang Pemula keberadaan, yang diilhamkan kepada manusia yang dimaksudkan untuk menciptakan relasi dan kesesuaian antara manusia dan dirinya, Tuhan, semesta dan manusia lainnya dalam rangka untuk memperoleh “kesempurnaan” dan “kebahagiaan”nya.

2. Pemahaman agama adalah penyingkapan secara logis proposisi dan ajaran agama yang berasal dari sumber-sumbernya, sebagaimana adanya. Relasi antara pemahaman agama dan agama ekuivalen dengan relasi antara ilmu dan maklum (yang dicerap dan dipahami dari ilmu itu). Berangkat dari sini, betapapun boleh jadi pada sebagian masalah terjadi kesalahan yang dilakukan oleh para agamawan dalam memahami agama dan terdapat kesimpulan yang beragam dari redaksi-redaksi agama. Akan tetapi masalah ini, dalam membandingkan kesimpulan yang seragam dan sesuai, bersifat minoritas, terwujudnya pemahaman bercorak minoritas, bukan menjadi kriteria kebenaran pemahaman tersebut. Pemahaman yang benar dan salah dapat dibedakan. 

3. Ketersingkapan (komprehensibel)  juga bermakna bahwa lantaran relatifnya pemahaman manusia yang disebabkan oleh struktur mentalnya, pengaruh signifikan mentalitas dan pribadi penafsir dalam pemahamannya dari satu sisi, dan lantaran diam (shamit)-nya teks atau bercorak historisnya teks, dan sebagainya, dari sisi lain, menjadikan teks-teks (seperti teks-teks suci) memiliki makna yang beragam. Sepanjang bersumber dari satu teks, pemahaman boleh jadi beragam corak dan bentuknya dan terkadang bertolak belakang dan pemahaman-pemahaman tersebut juga memiliki nilai signifikan dan hujjiyat.

4. Hermenetik memiliki latar belakang sejarah yang panjang dan kini memiliki corak yang beragam. Salah satu cabang dari hermenetik tersebut adalah hermenetik teks. Sebagian pandangan-pandangan yang terdapat pada bab hermenetik teks bersandar pada konsep dan paradigma ketersingkapan (komprehensibel) agama. Hermeneutik teks terklasifikasi menjadi tiga bagian:

A. Penyusun atau penulis sentris yang berpandangan bahwa risalah-risalah penafsir dalah bermaksud menjelajah dan menyingkap maksud si penyusun dan pembicara.

B. Teks sentris yang beranggapan bahwa penafsiran disebut sebagai yang pelontaran makna dan percaya bahwa teks merupakan sesuatu yang diam, tidak jelas dan merupakan sebuah karya terlepas dari maksud penyusun, mengandung beragam dan beraneka makna di dalamnya.

C. Penafsir sentris yang meyakini bahwa mentalitas dan kepribadian komunikator (mukhatab) dan penafsir yang memainkan peran pertama dalam mengambil sebuah kesimpulan dari teks. Dan hal ini bertalian dengan selera dan hobi penafsir dalam menafsirkan teks. Sedemikian sehingga seakan-akan apa saja yang dikatakan oleh penafsir, ia berkata-kata tentang dirinya. Pada hakikatnya teks dan penafsir bertukar tempat dan mufassir (penafsir) berganti menjadi mufassar (yang ditafsirkan).

Poin yang perlu diperhatikan di sini adalah harus dibedakan antara tiga kategori di sini antara murad (maksud), makna (yang digunakan) dan mafhum (makna atau makna-makna yang tergambar) dari sebuah redaksi atau kalimat. Klaim ini memerlukan uraian dan rincian, dimana hal tersebut akan dibahas pada tempatnya masing-masing.

Metodelogi Logika [untuk] Memahami Agama

Pembahasan ini “Apakah pembahasan metodelogi memahami agama harus ditemukan pada teks agama atau ia merupakan masalah eksternal agama (yaitu ia harus ditelusuri di luar teks-teks agama)? Merupakan tantangan utama ilmu untuk memahami agama dan menuntut waktu dan kesempatan lain untuk membahasnya dimana nampaknya, metode sintetis (internal dan eksternal agama) senantiasa, pada tingkatan vertikal dalam bentuk turun-naik antara pemahaman global dan detil, lebih produktif ketimbang metode tunggal dalam memahami agama, dan kemungkinan besarnya metode sintetis ini merupakan metode yang valid dan benar.

Pra-supposisi Makrifat Agama

Bahwa agama dapat dipahami dan disingkap berdiri di atas dua asas:

Pertama, penyingkapan dan pemahaman agama adalah bersifat mesti dan mungkin (kaidah dapat dipahaminya teks-teks agama)

  1. Disebutkan: “Agama merupakan sekumpulan proposisi dan ajaran yang diturunkan Tuhan Mahabijaksana untuk memandu manusia ke arah kebahagiaan dan kesempurnaan. Apabila teks-teks agama tidak dapat dipahami maka konsekuensinya adalah kesia-siaan dari perbuatan Tuhan. Dari sisi lain, perbuatan sia-sia dan tak-bertujuan merupakan sesuatu yang keji dan perbuatan keji mustahil bagi Tuhan.

Penjelasan dari matlab di atas:

A.       Karena seluruh manusia menjadi objek firman Tuhan, bahasa yang digunakan agama merupakan bahasa urf. Maksud dari urf dan komunikatifnya bahasa agama adalah umumnya dan non-spesifiknya (bukan filosofis, ilmiah, irfan dan simbolik), tidak mengikuti satu masa dan wilayah tertentu; karena keterikatan dan ketergantungan bahasa agama pada masa dan wilayah tertentu sedemikian sehingga untuk memahaminya pada masa dan wilayah yang lain – selain masa dan wilayah pewahyuannya  – akan menjadi pelik dan mustahil, dimana hal ini berseberangan secara interminis dengan tujuan keabadian dan universalitas agama (Islam) dan hal ini meniscayakan kesia-siaan.

B.        Komprehensibelnya agama dan probabilitas keragaman pemahaman, menjadi penyebab kebingungan manusia dan hal ini adalah indikasi tidak terpenuhinya tujuan (naqdh garadh) dan meniscayakan sia-sianya keberadaan agama.

C.       Seluruh pemahaman (makrifat) tidak melulu bercorak filsafat, irfan, sains, kendati boleh jadi temuan-temuan yang digapai melalui jalan ini, secara universal atau partikular, sesuai dengan jalan-jalan agama.

2. Redaksi teks-teks agama yang menjadi maksud Tuhan adalah nash, zahir,  atau mutasyabih (kurang jelas). Akal dan nurani menunjukkan terhadap ketersingkapan dan hujjiyat nash, demikian juga kebiasaan orang-orang berakal yang senantiasa bersandar pada hujjiyat.  Dan yang memiliki konsideran adalah “yang lahir” (sepanjang belum terbukti sesuatu yang berbeda dengannya). Seluruh yang mutasyabih juga biasanya dengan bantuan nash-nash dan zhawahir (muhkamat) dapat dipahami dan ditafsirkan.

3. Nash-nash agama juga menjelaskan secara tegas tentang komprehensibelnya agama seperti:

A.       Alif Lâm Râ, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.” (Qs. Hud [11]:1)

B.        Barang siapa yang mengira bahwa kandungan kitab (al-Qur’an) ini adalah sesuatu yang kabur (mubham) maka sesungguhnya ia telah binasa dan membinasakan. (Biharul al-Anwar hal. 90.)

C.       Ia adalah sebuah kitab yang di dalamnya terdapat rincian (tafsil), penjelasan (bayan) dan uraian (tahshil). Ia adalah al-fashl dan bukan al-hazhl. Dan padanya terdapat hal-hal yang lahir dan batin. Dan yang lahirnya adalah hukum dan batinnya adalah ilmu, lahirnya indah (aniq) dan batinnya  dalam (‘amiq). Dan padanya terdapat pelita-pelita petunjuk dan cahaya-cahaya hikmah… Sesungguhnya al-Qur’an ini adalah cahaya yang benderang. (al-Hadis)

4. Qur’an (yang merupakan matan pertama dan utama Islam) mencirikan dirinya sebagai teks yang “nyata” dan “jelas” di antaranya:

A.       Kitab yang nyata: Tilka Âyatul Kitâbil Mubin. (Ini adalah ayat-ayat kitab (Al-Qur’an) yang nyata). (Qs. Yusuf [12]:1)

B.        Tibyan (penjelas): Nazzalnâ ‘alaika al-Kitab Tibyanan likulli Syai. (Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur’an) ini untuk menjelaskan segala sesuatu.” (Qs. An-Nahl [16]:89)

C.       Kitab cahaya: Yâ Ahlal Kitab…Qad Jâ’akum minAllâhi Nurun wa Kitabun Mubin. (Wahai Ahlikitab….telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan). (Qs. Al-Maidah [05]:15)

D.       Mudah: “Wa laqad Yassarna al-Qur’an lildzikr fa hal min Mudzakkir.” (Sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan. Adakah orang yang mau ingat?) (Qs. Al-Qamar [54]:17,22,33) 

5. Konsekuensi nasihat yang diulang dan ditegaskan para pemimpin langit untuk bersandar kepada teks-teks agama (al-Qur’an dan riwayat), adalah bukti bahwa dapatnya dipahami teks-teks agama dan hujjiyatnya nash serta pemahamannya:

A.       Hadits tsaqalain; Inni Tarikun fiikum ats-Tsaqalain Kitaballah wa Itrahti. (Sesungguhnya kutinggalkan kepada kalian dua perkara besar, Kitabullah dan Itrahku [Ahlulbaitku])

B.        Idza iltabasat ilaikum al-fitan fa’alaikum bil Qur’an. Jika fitnah telah menyerang, hendaklah kalian bersandar kepada al-Qur’an. (Ushul Kafi, jil. 1, hal. 88)

  1. Penerapan metodelogi dan kaidah yang dipraktikkan para pemimpin agama sebagai media untuk menyimpulkan teks-teks suci merupakan dalil komprehensibelnmya teks-teks agama dan hujjiyahnya.
  2. Kebiasaan para pemimpin agama juga bersandar pada ijtihad dari teks-teks dan adu-argumen (ihtijâj) dengan menggunakan teks-teks agama.
  3. Kebiasaan umum dan olah-pikir kaum Muslimin dan non-Muslim, atas proses tafahhum (saling memahami) dan tafhim (memahamkan) kandungan teks-teks agama dan hal ini menunjukkan atas keyakinan mereka terhadap adanya kemungkinan memahami ajaran-ajaran agama.
  4. Kejelasan fitrawi atas komprehensibelnya teks-teks agama (artinya secara fitri kita jumpai bahwa bukan hanya kita, tetapi orang lain juga yang memahami secara seragam juga memahami apa yang kita pahami terhadap ribuan ayat dan riwayat), adalah dalil yang lain komprehensibel dan hujjiyatnya teks-teks agama.

Kedua: Memahami agama memiliki metode (kaidah mengikuti pemahaman agama melalui logika khusus):

  1. Agama merupakan satu realitas yang diturunkan (oleh Tuhan) dan terlepas dari akidah dan hubungan kita, ia memiliki eksistensi dan untuk memahaminya tidak dapat dilakukan secara kebetulan; lantaran kemungkinan “kesesuaian” pemahaman yang kebetulan dengan realitas agama, merupakan pemahaman yang nyaris mendekati nol; sebagaimana hasil dari penafsiran juga bersandar pada selera kita, oleh karena itu bukan realitas agama.
  2. Teks-teks agama secara jelas menegaskan adanya metode terhadap penafsiran al-Qur’an.
  3. Beragam metode dan kaidah untuk memahami agama telah ditentukan dan diajarkan oleh Nabi Saw dan para Imam Maksum As:
    1. Metode “tafsir al-Qur’an bil Qur’an (menafsirkan al-Qur’an dengan menggunakan al-Qur’an).
    2. Kaidah “Irja’ al-Mutasyabihat ilaa al-Muhkamat” (Ketika berhadapan dengan ayat-ayat mutasyabih, harus dirujukkan kepada ayat-ayat muhkam).
    3. Kaidah “Ta’adil wa Tarâjih”.
  4. Kebiasaan para pemimpin agama adalah menelaah metodelogi teks-teks agama.
  5. Kebiasaan ilmiah dan olah-pikir kaum Muslimin juga merupakan indikasi perlunya metodelogi dalam memahami teks-teks agama.

 

Pra-syarat-pra-syarat untuk Memahami Teks Agama

Untuk memahami agama, seseorang harus menunjukkan karakter batin, kecakapan lahir dan memperoleh kapabilitas keilmuan yang luas sehingga ia mampu mencerap dan memahami agama dengan baik dan benar. Di antara kecapakan-kecapakan itu adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki visi yang jelas tentang karakteristik revelasional dan rasionalnya agama dan teks agama.
  2. Kesucian jiwa.
  3. Kesiapan pikiran.
  4. Memikili kedalaman ilmu (rasikhun fil ilm).
  5. Menguasai ilmu-ilmu inspirasional.
  6. Cakap dalam aplikasi logika untuk memahami agama.
  7. Memahami dengan jelas seluruh teks-teks suci.
  8. Mengetahui maqâsidh (tujuan-tujuan) syariat.
  9. Mengetahui struktur dan corak bahasa agama.
  10. Mengetahui bahasa masa pewahyuan dan shudur riwayat.
  11. Mengenal dengan baik sastra Arab dan ilmu bahasa.
  12. Mengenal dengan baik ilmu-ilmu naqli.
  13. Mengenal dengan baik ilmu-ilmu aqli.
  14. Mengenal dengan baik zaman dan ilmu-ilmu yang lain yang diperlukan.

 

Apabila diperhatikan masing-masing dari empat belas poin di atas diperlukan rincian dan argumen-argumen yang menyokong poin-poin tersebut, namun pada kesempatan ini kami hanya menyebutkannya sebagai entry point saja.

 

Metodelogi untuk Memahami Agama

Masa untuk memahami agama dengan benar dapat diwujudkan ketika tiga syarat penting seperti di bawah ini:

A. Menerapkan dengan baik dan seksama tiga sumber:

Mengingat Akal, al-Qur’an dan Sunnah merupakan hujjah-hujjah Tuhan oleh karena itu dalam memahami dan menjelaskan agama, sesuai dengan hajat dan tuntutan disesuaikan secara seksama dengan ketiga sumber ini. Hasilnya,  kesesuaian dengan tiga nara sumber ini yang menjadi penjamin benar dan hujjiyahnya pemahaman agama.

Poin yang harus diperhatikan di sini adalah:

1. Kumpulan kaidah ushul fiqih, dalam menerapkan akal dan bersandar pada naql (tsaqalain) dalam memahamkan agama harus dijalankan sehingga kesimpulan yang diambil dapat dijamin validitasnya. Seperti perhatian terhadap itlâqat dan muqayadât, segala yang umum (umumat) dan segala yang khusus (mukhasishat), nasikh dan mansukh, ta’adul dan tarajih, syarat-syarat sanad, pengeluarannya (shudur), dalalat (petunjuk) dan lain sebagainya, ketika bersandar pada ayat dan riwayat.

2. Lantaran ketiga jalan yang disebutkan di atas adalah hujjah, apabila terjadi bentrokan (ta’arudh), petunjuk dan hukum yang bersifat definitif (qath’i) harus diprioritaskan atas hukum yang bersifat asumtif.

3. Apabila terjadi bentrokan di antara ketiganya, benar-benar ada dan diterima dengan syarat sentral bentrokannya adalah satu, dan apabila tidak demikian tidak dapat dipandang sebagai ta’arudh. Dalam kaidah tanâqudh atau taarudh (kontradiksi) terdapat delapan kesatuan yang menjadi syarat, kesatuan subjek (ma’udhu), predikat (mahmul), ruang (makan), kondisi (syarth),  relasi (idhafa), bagian (juz) dan keseluruhan (kull), potensial (quwwah) dan aktual (fi’ili) dan yang terakhir adalah waktu (zaman).

B. Memandang secara rasional terhadap sisi segitiga wacana agama:

Agama sebagai sebuah penjelasan dan penyampaian pesan (address, khitab), memiliki tiga dimensi: “Pemberi perintah yang bijaksana”, “Lembaran abadi”, “komunikator yang mengemban tugas.” Dengan menghindari sikap ekstrim dalam menentukan saham dan kedudukan masing-masing dari sisi segitiga ini serta menghindari sikap ekstrem dalam melihat peran masing-masing ketiga faktor dalam membentuk makna-makna teks-teks suci, demikian juga menghindar dari menggantikan peran masing-masing pesan dari ketiga nara sumber ini. Di samping itu, harus diperhatikan bahwa pemberi perintah agama, adalah bijaksana, teks agama adalah abadi, dan komunikator (mukhatab) agama “mukallaf” (mengemban tugas). Dan kesemua ini memiliki media-media rasional dimana dengan memperhatikan hal ini pemahaman agama menjadi mungkin dan argumentatif.

 

C. Menegaskan Kesesuaian Ketiga Dimensi Pengetahuan Agama:

Agama merupakan sekumpulan sistematika dan antologi pengetahuan, dan menyuguhkan proposisi-proposisi, aturan-aturan (hukum-hukum), nilai-nilai (akhlak). Hasil dari pemahaman kita pada ranah agama, harus bersifat sistemik, dan pemahaman kita pada setiap bagian tidak dapat menjadi penghalang bagian yang lain. Poin-poin yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: “Mengimplementasikan poin-poin yang telah disebutkan pada bab segitiga nara sumber agama dan segitiga makrifat-makrifat, dalam kerangka proses yang akurat dimana melengkapi pengetahuan untuk memahami agama (dengan memperhatikan tersisanya kemungkinan kesalahan, pemahaman-pemahaman terbagi menjadi tiga: 1. Laik benar. 2. Laik Hujjat. 3. Non-laik dan non hujjat.)

Menilai Pemahaman Agama (Positif dan Negatif)

Untuk menentukan pemahaman benar dan tidak benar serta menyingkap keburukan dan efek negatifnya metodelogi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

A.      Memiliki sifat dan kelayakan yang disebutkan sebelumnya

1.       Sifat dan keadaan batin seperti memiliki visi (bashirat) terhadap identitas agama dan teks-teks agama, kesucian ruh, kesiapan pikiran, memiliki kedalam ilmu, menguasai ilmu-ilmu inspirasional.

2.       Kelayakan-kelayakan keilmuan seperti cakap dalam mengaplikasikan logika untuk memahami agama, menguasai seluruh teks, familiar dengan maqashid syariat, mengenal kaidah dan struktur bahasa agama, mengenal bahasa masa penurunan wahyu, mahir dalam ilmu-ilmu bahasa dan sastra Arab, mengenal ilmu-ilmu rasional, mengenal ilmu-ilmu naqli, mengenal zaman dan sebagian dispilin ilmu lainnya (berdasarkan subjek yang menjadi fokus telaah).

B.       Meriset dan menelaah kembali metodelogi pemahaman melalui jalan:

1.       Menawarkan ilmu logika untuk berpikir yang sehat dan benar.

2.       Mengevaluasi validitas aplikasi logika dan kaidah-kaidah pemahaman agama.

C.      Perbandingan pendekatan yang determinan dari pemahaman agama dan eksposisi logika yang sistemik merupakan suatu hal yang sangat penting, dimana hal ini akan kita bincangkan pada kesempatan yang lain. Pelbagai pendekatan yang beragam terhadap teks yang benar dari agama dan agama yang benar dan menelaah validitas pemahaman agama. Delapan dari pendekatan tersebut antara lain:

1.       Perbandingan dari sudut pandang pengambilan kesimpulan dan penerimaan dengan fitrah dan tiadanya kontradiksi hal tersebut dengan watak yang sehat.

2.       Tiadanya pertentangan kesimpulan-kesimpulan dan penerimaan-penerimaan dengan hukum-hukum definitif akal.

3.       Perbandingan kesimpulan-kesimpulan dan penerimaan-penerimaan dengan kebiasaan orang-orang berakal.

4.       Perbandingan pelbagai kesimpulan dan penerimaan dengan kaidah ideologis dan humanis keagamaan.

5.       Perbandingan pelbagai kesimpulan dan penerimaan dengan kepastian-kepastian dan muhkamat-muhkamat wahyu.

6.       Perbandingan pelbagai kesimpulan dan penerimaan dengan maqasid syariat.

7.       Perbandingan pelbagai kesimpulan dan penerimaan dengan irtikaz praktik kaum Muslimin.

8.       Perbandingan pelbagai kesimpulan dan penerimaan dari titik produktifitasnya.

 

Sekali lagi kami meminta maaf kepada para pembaca yang budiman, dan kembali kami tegaskan terhadap keharusan penjelasan yang memadai dalam seluruh bidang fokus pembahasan tulisan ini. Pada kesempatan mendatang kami akan membahas fokus-fokus yang disebutkan di atas dengan lebih terurai dan rinci. Semoga. [AK]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s