Apakah Saya dapat Melihat Tuhan?

seeing-god.jpgSaya ingin mengajukan pertanyaan simpel ihwal apakah mungkin Tuhan itu dapat diindra? Apakah saya dapat melihat Tuhan? Terus apakah makna ucapan Baginda Ali Ra ketika ia berkata, ‘Aku tidak Menyembah Tuhan yang aku tidak lihat.” Sepintas ucapan ini menyiratkan bahwa menyembah kepada Tuhan adalah menyembah kepada sosok yang dapat diindra. Artinya kalau tidak melihat Tuhan, penyembahan tidak memiliki arti. Apakah memang demikian. Terima kasih atas jawaban Anda… :mrgreen:

Terima kasih telah berbagi pertanyaan. Ucapan Baginda Ali Ra di atas adalah ucapan yang menegaskan makrifat yang unggul dan ulung, sedemikian sehingga kalaulah kita mengamati hadis ini secara selintasan, barangkali akan terjebak pada logika antrhopormisme (anggapan bahwa Tuhan itu berdimensi ragawi). “Melihat” dalam bahasa Baginda Ali Ra tentu tidak sama dengan melihat dalam bahasa konvensional kita. Yang melulu menggunakan indra penglihatan (mata lahir). Melihat di sini maksudnya melihat dengan menggunakan vision (bashira), mata hati.

Lantaran dalil-dalil rasional memberikan kesaksian bahwa Tuhan tidak akan pernah dapat dilihat oleh indra penglihatan. Karena, mata kepala hanya dapat melihat benda-benda atau -lebih tepatnya- sebagian kualitas dari benda-benda tersebut. Dan mata tidak akan pernah dapat melihat sesuatu yang bukan benda atau tidak memiliki kualitas kebendaan. Dengan kata lain, sekiranya sesuatu dapat dilihat dengan mata kepala, niscaya ia memiliki ruang, sisi dan materi. Sementara Dia lebih unggul dari semua ini. Ia adalah wujud Nir-batas. Atas dasar ini, Dia berada di luar alam materi, sebab materi segala sesuatu itu terbatas. Oleh karena itu, redaksi “Aku tidak menyembah Tuhan yang Aku tidak lihat” di sini harus ditakwil dengan “melihat secara batin.”

Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menceritakan –misalnya- Bani Israel dan permintaan mereka untuk melihat (ru’yah) Allah Swt. Dengan tegas, Al-Qur’an menafikan kemungkinan untuk dapat melihat Allah Swt.

Anehnya, mayoritas pemeluk mazhab Ahli Sunnah berkeyakinan bahwa sekiranya Tuhan tidak dapat dilihat di dunia ini, Dia akan dapat dilihat pada Hari Kiamat kelak. Penyusun tafsir Al-Manâr menegaskan, “Ini adalah akidah Ahlusunah dan ulama hadis.”[1]

Lebih aneh lagi, para pemikir kontemporer (baca: para cendekiawan) juga cenderung kepada penafsiran seperti ini, bahkan, dengan getol membela pendapat ini. Sementara kerapuhan pandangan ini sangat jelas sehingga tidak memerlukan pembahasan. Karena, relasi dunia dan akhirat (dengan memperhatikan prinsip Kebangkitan [ma’âd] Jasmani) tidak berbeda dalam masalah ini. Yakni, apakah Allah swt yang memiliki wujud nonmateri pada Hari Kiamat akan berubah menjadi wujud materiel dan dari derajat “Nir-batas” akan merosot ke derajat “terbatas”? Apakah Dia pada Hari Kiamat akan berubah menjadi benda dan subjek sifat-sifat benda? Dan apakah dalil-dalil rasional atas kemustahilan melihat Allah Swt. tidak memberikan perbedaan antara dunia dan akhirat? Sementara dalil rasional dalam ranah pembahasan ini tidak dapat berubah.

Adapun dalih yang dibawakan oleh sebagian mereka, yaitu bahwa boleh jadi di alam lain, manusia dapat melihat dan menangkap dalam pola lain, tidak dapat diterima sepenuhnya. Sebab, sekiranya maksud melihat ini adalah menangkap dengan pola materiel dan fisikal, bukan dengan mata hati dan kekuatan akal yang dapat menyingkap keindahan Tuhan, asumsi ini mustahil berlaku pada Tuhan, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Maka itu, pandangan di atas yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat melihat Tuhan di dunia ini, akan tetapi mukminin dapat melihat-Nya pada Hari Kiamat, adalah sebuah kepercayaan yang irasional.

Satu-satunya alasan yang menyebabkan mereka membela kepercayaan ini adalah hadis yang disebutkan di dalam kitab-kitab induk hadis mereka yang menyebutkan bahwa Tuhan bisa dilihat pada Hari Kiamat. Akan tetapi, tidakkah kerapuhan pandangan ini –berdasarkan hukum akal- merupakan dalil atas adanya intervensi terhadap hadis itu dan invaliditas kitab-kitab yang memuat hadis-hadis seperti ini? Jika kita tidak tafsirkan hadis ini sebagai penyaksian mata hati atau sesuai dengan hukum akal, selayaknya kita tinggalkan saja hadis-hadis semacam ini.

Atau, jika dalam sebagian ayat-ayat Al-Qur’an terdapat redaksi -yang secara lahir- menyiratkan bahwa Tuhan dapat dilihat, seperti ayat: “Wajah-wajah ketika itu berseri-seri, sembari melihat kepada Tuhannya” (QS. al-Qiyamah [75]: 23-24) dan ayat: “Tangan Tuhan berada di atas tangan mereka” (QS. al-Fath [48]: 10), semua itu mengandung arti figuratif (majâzi), lantaran tidak satu pun ayat Al-Qur’an yang bertentangan dengan hukum akal.

Menariknya, hadis-hadis Ahlulbait menafikan dengan tegas kepercayaan keliru seperti ini, dan dengan redaksi yang telak mengkritisi orang-orang yang memegangnya. Misalnya, salah seorang sahabat Imam Ash-Shadiq As., Hisyam berkata, “Aku berada di sisi Imam Ash-Shadiq As ketika Muawiyah bin Wahab (salah seorang sahabat Imam) datang dan berkata, ‘Wahai putra Rasulullah! Apa pendapat Anda tentang riwayat yang datang dari Nabi Saw. yang menyebutkan bahwa beliau melihat Allah Swt.? Bagaiamana Nabi saw. dapat melihat-Nya? Demikian pula dalam riwayat lain yang dinukil dari beliau Saw., bahwa orang-orang mukmin dapat melihat Allah Swt. di Surga. Bagaimana mereka akan melihat-Nya?’

Imam Ash-Shadiq As tersenyum dan berkata, “Wahai Mu’awiyah bin Wahab! Alangkah buruknya manusia yang telah berusia tujuh puluh -(atau delapan puluh)- tinggal dan hidup di kerajaan Tuhan dan menikmati karunia-Nya, tetapi belum juga mengenal-Nya dengan baik.

“Wahai Muawiyah bin Wahab! Nabi saw. sekali-kali tidak pernah melihat Allah Swt. dengan indra penglihatan ini. Ada dua macam penyaksikan; penyaksian dengan mata hati (batin) dan penyaksian dengan mata kepala. Setiap orang yang berkata bahwa Nabi Saw. menyaksikan Tuhan dengan mata hati, ia telah berkata benar. Namun, bila ia mengatakan bahwa Nabi saw. menyaksikan-Nya dengan mata kepala, ia telah berdusta dan ia telah mengingkari Tuhan dan ayat-ayat Al-Qur’an. Karena, Nabi saw. bersabda, ‘Barangsiapa menyerupakan Allah dengan hamba-Nya, sungguh ia telah kafir.’”[2]

Dalam riwayat yang lain sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Tauhid Ash-Shaduq yang dinukil dari Ismail bin Fadhl yang berkata, “Aku bertanya kepada Imam Ash-Shadiq As., ‘Apakah Allah dapat dilihat pada Hari Kiamat?’ Beliau menjawab, ‘Allah Swt. suci dari semua ini …. Mata tidak dapat melihat selain segala sesuatu yang memiliki warna dan kualitas, sementara Allah adalah pencipta warna-warna dan kualitas-kualitas.’”[3]

Menariknya, dalam hadis ini khususnya disebutkan kalimat warna. Dewasa ini, terbukti bahwa benda (an sich) itu sendiri tidak dapat dilihat; ia akan terlihat beserta warnanya. Maka, jika suatu benda tidak memiliki warna, ia tidak akan pernah terlihat.[4]  [www.wisdoms4all.com]


 


[1] Tafsir al-Manâr, jilid 7 hal. 653.

[2] Ma’âni al-Akhbâr sesuai dengan nukilan dari tafsir al-Mizân, jilid 8, hal. 268.

[3] Nûr ats-Tsaqalaîn, jilid 1, hal. 753.

[4] Tafsir Nemûneh, jilid 5, hal. 381.

Iklan

3 comments on “Apakah Saya dapat Melihat Tuhan?

  1. Assalamualaikum…..

    Saya sangat tertarik dengan topik ini. Mohon dijelaskan bagaimana dan apa yang dimaksud dengan melihat dengan mata hati dan apa saja yang dapat dilihat dengan mata hati itu ?

    Sekaligus saya mohon penjabaran mengenai peristiwa Isra’ dan mi’raj nya Nabi MUHAMMAD SAW

    Wassalam….

  2. Berdasarkan satu Qa’idah tersebut dapat dijelaskan bahwa semua apa yang bersifat maujud (ada) sesungguhnya masih dapat dan sah untuk dilihat, sedangkan Allah sendiri adalah Wajibul Maujud (wajib ada), maka sudah barang tentu masih membuka kemungkinan untuk bisa dilihat. Wallahu a’lam!

  3. Ass.wr,wb,

    Sebelum saya menceritakan pengalaman saya yang berikut ini, saya memohon agar kita sebagai muslim agak sedikit melapangkan dada untuk menerima atau tidak menerima cerita saya berikut ini.Apakah ini suatu kenyataan ataukah tidak terserahlah kepada yg mendengarnya, kalau seandainya bapak keberatan untuk menerimanya dan menghapusnnya, untuk pribadi saya, juga saya tidak ada masalah,karena menurut hakikat saya,mendengar atau melihat cerita ini akan menimbulkan kebencian, penghasutan, pencacian dll,jadi saya serahkan saja kepada akal manusia yg sehat untuk menimbang baik atau buruknya.

    Beginilah ceritanya:
    Pada tanggal 3 bulan juli th 2008 masuk bulan rajab malam jumaat lalu setelah maghrib muncul makhluk bersayap yg sayapnya seperti mutiara-mutiara yg bertebaran di muka bumi ,begitu besarnya beliau dari pandangan saya,yg berjarak kira-kira 5 meter dari hadapan saya,keindahaan beliau tidak terlukiskan.
    Perkataan beliau yg pertama adalah: Tuliskan!lantas sekali lagi Tuliskan!
    Saya cepat mengambil kertas dan pena kemudian duduk kira-kira satu meter dari hadapan beliau.
    Perkataan beliau yg kedua:Assalamualaikum.
    Saya jawab wallaikumsalam.
    Perkataan beliau yg ketiga:saya Jibril,Tuliskan!
    Saya akan datang bersama Isa almasih kedunia bersama sembilan wali-wali dan bersama 200 lebih malaikat-malaikat.
    Waktu sudah sangat singkat, mulai tahun 2010 banyak kejadian yg akan merampas jiwa manusia.
    Perkataan beliau yg keempat:apa yg engkau inginkan? menyebarkan firman-firman Allah S.W.T, jawab saya.
    Perkataan beliau yg kelima:ada lagi?InsyaAllah, Allah S.W.T akan memberikan petunjuk kepada kami,jawab saya.
    Perkataan beliau yg keenam:baiklah! lantas beliau mengambil kedua belah tangan saya,beliau menyuruh saya berzikir.
    -Allahhuakhbar33x
    -Subhanallah33x
    -Alhamdulillah33x
    -Allah S.W.T33x
    -Laillahhailallah33x
    -Laillahhailallahmuhammadarasulallah33x
    Perkataan beliau yg kesepuluh:ingat!
    1.jangan engkau sombong
    2.bersabarlah
    3.sayang kepada kedua orang tua
    4.jangan engkau membuat kesalahan
    Beliau tunduk sejenak, lantas beliau berkata,saya musti kembali dan menyapa saya assalamualaikum, saya jawab wallaikumsalam Jibril a.s, dia membuka sayapnya lantas terbang begitu cepatnya.

    Saya beranggapan bahwa ini hanyalah sebagai amanah.
    Marilah kita menyimak cerita ini bersama dengan akal yg sehat menurut Alquran dan hadits-hadits rasulallah Muhammad S.A.W.

    Apakah kita sudah bersiap untuk kedatangan tanda-tanda akhir zaman?

    Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s