Lagi tentang Determinasi dan Kehendak Bebas

Pada postingan yang lalu, setelah beberapa lama mengalami moratorium di antaran karena perbaikan performa blog dalam format site yang cukup banyak menyita perhatian dan energi, ada sebuah tanggapan yang cukup kritis ihwal perbuatan Tuhan dan efek-efek yang terjadi di alam semesta yang datang dari Sdr. Akallurus. Terima kasih atas perhatian Sdr dan sekaligus maaf karena Anda harus bersabar menanti jawaban dari kami. Dalam menanggapi komentar bag. Pertama, kami akan menanggapinya secara bertahap, untuk menghindari  volume komentar yang besar, karena menurut hemat dan harapan kami, dialog “intrafaith” ini akan berlangsung cukup lama sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dasar tentang masalah Determinasi dan Kehendak Bebas ini. 

Penisbatan segala sesuatu kepada Tuhan dalam satu artian memang benar bahwa Allah Swt pencipta segala sesuatu, bahwa Allah yang mendatangkan manfaat dan mudharat, merupakan klaim dan bahkan keyakinan hampir seluruh Asy’ariyyun. Apa yang coba diketengahkan oleh Sdr. Akallurus merupakan buah dari keyakinan tersebut. Karena pembahasan kita merupakan pembahasan internal agama, ada common point yang kita sepakati di antaranya al-Qur’an, Sunnah, Akal.

Dalam ranah teologi, pembahasan ini menjadi sebuah titik divergence (iftiraq) antara kaum Asy’ari pada satu polar pemikiran dan keyakinan dan kaum Imamiyah pada polar lainnya.

Asy’ari dengan bersandar pada ayat-ayat yang disebutkan oleh Sdr. Akallurus, menyatakan bahwa seluruh perbuatan manusia merupakan makhluk Tuhan dan manusia tidak memiliki peran sama sekali dalam memproduksi sebuah perbuatan dan pekerjaan.  Tanpa memperhatikan ayat-ayat yang lain, tentu akan bermuara kepada pandangan seperti ini dan menyokong pandangan Asy’ari di atas. Padahal kalau ingin melakukan sebuah pendekatan holistik, tentu saja memerlukan perhatian terhadap ayat-ayat yang lain, karena al-Qur’an menafsirkan dirinya sendiri dengan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya. Ala kulli hal…

Apabila seluruh pekerjaan dan perbuatan yang dilakukan oleh manusia adalah idem ditto dengan perbuatan dan pekerjaan manusia, maka konsekuensinya tiada lagi kebebasan dan ikhtiar yang tersisa bagi manusia. Apa memang demikian? Jawaban dari pertanyaan ini sejatinya berpulang pada penjelasan atas tauhid perbuatan dan kebebasan manusia. Atau kembali pada pembahasan Determinasi (jabariyah) dan Kebebasan Manusia (ikhtiar), dimana pembahasan ini dalam beberapa postingan sebelumnya telah dibahas dan dibeberkan di site www.wisdoms4all.com/Indonesia dan blog www.isyraq.wordpress.com Silahkan Anda lihat kembali pembahasan yang berkenaan dengan masalah Kebebasan Manusia dan Determinasi. Contoh yang paling sederhana adalah dialog antara Abu Hanifah dan Bahlul pada postingan  https://isyraq.wordpress.com/2008/03/24/mizan-keadilan-tuhan-3/   . Karena pembahasan yang diketengahkan di site dan blog tersebut di atas merupakan pembahasan sistematis dan berkelanjutan, memang secara tegas belum sampe pada penukilan ayat-ayat al-Qur’an secara tegas dan tandas. Oleh karena itu, berikut ini secara selintasan kami akan menyebutkan ayat-ayat yang menyokong pandangan kebebasan manusia adalah sebagai berikut: 

ِ إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ ما بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا ما بِأَنْفُسِهِمْ

 “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. Ar-Raad [13] : 11)

وَما كانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَ لٰكِنْ كانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Allah tidak sekali-kali hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ankabut [29] : 40)

مَنْ عَمِلَ صالِحاً فَلِنَفْسِهِ وَ مَنْ أَساءَ فَعَلَيْها وَما رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبيدِ

“Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hamba-(Nya).” (Qs. Fusshilat [41]:46)

إِنَّا هَدَيْناهُ السَّبيلَ إِمَّا شاكِراً وَ إِمَّا كَفُوراً

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS 76 : 3)

Selanjutnya disini kami hanya akan menyebutkan fehrest ayatnya, silahkan Anda refer ke ayat-ayat berikut ini:  Qs. Al-Kahf (18):29), Qs. Rum (30):41, Qs. Syura (42):20, Qs. Al-Isra (17):18-20.

Preambul ini kami buat untuk menjelaskan salah satu persoalan utama dari pembahasan Determinasi dan Kehendak Bebas. Nah kini mari kita beralih pada masalah inti yang disampaikan oleh Sdr. penanggap.

Perlu diingat bahwa masalah determinasi dan Kehendak Bebas ini tidak terbatas hanya pada nasib manusia, celaka atau beruntungnya manusia, tapi juga berkaitan dengan masalah fenomena-fenomena semesta termasuk hubungan kausalitas.

Kalau kita ingin menelisik tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah kausalitas, sebelumnya perlu dijelaskan dengan hipotesa dan pra-supposisi bahwa di alam semesta ini terdapat hukum kausalitas. Sebuah kaidah universal yang menandaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta wujud (baca: akibat) karena ada yang mewujudkannya (baca: sebab). Ada sebuah perbuatan menandakan adanya pelaku dari perbuatan tersebut, ada tulisan ini menyiratkan adanya penulis yang menyuguhkan tulisan, etc. Hipotesa ini merupakan kebalikan interminis dari hipotesa shudfah (spontan, kontan, tiba-tiba) yang menegaskan bahwa setiap fenemona terjadi secara spontan, kontan dan tiba-tiba tanpa ada sebab yang mewujudkannya. Tentu saja kita dalam hal ini sepakat, bahwa hipotesa yang disebut belakangan adalah hipotesa yang absurd.

Nah yang menjadi persoalan di sini apakah peristiwa dan perbuatan ini semuanya harus disandarkan kepada Allah, yang menurut kitab suci sebagai Khaliqu Kulli Syai, dan konsekuensinya adalah menolak hukum kausalitas? Kalau memang demikian apa peran manusia dan makhluk lainnya dalam setiap fenomena dan perbuatan? Atau seperti klaim Sdr. Akallurus, selain Allah sama sekali tidak memiliki pengaruh ontologis atas segala tindak penciptaan? Apakah ketika kita membuktikan peran pelaku perbuatan (manusia) konsekuensinya menafikan tauhid perbuatan (dalam hal ini penciptaan) atau tidak? Apakah peran merdeka seorang engineer bangunan yang membangun apartemen harus disandarkan kepada Tuhan? Atau peran mandiri seorang teroris yang merakit dan menaruh bom untuk menghancurkan sebuah kompleks hunian masyarakat juga harus disandarkan kepada Tuhan (may God forbide us)? Nampaknya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini harus didahului dengan mukaddimah-mukaddimah berikut ini:

Sebab ghalibnya pada lisan urf dan bahasa konvensional keseharian bermakna sesuatu yang menjelaskan tujuan dan maksud pelaku dimana sejatinya kalau dalam bahasa teknis filsafat, sebab pada lisan urf ini idem ditto dengan sebab tujuan (illat ghai). Mereka biasanya berkata apa sebab dan alasan Anda melakukan pekerjaan ini? Lalu apa hubungannya masalah ini dengan filsafat? Tentu saja hal ini bertautan dengan filsafat karena kita ingin membahas hubungan kausalitas antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Ketika membahas masalah ini, like or dislike, kita harus meninjaunya dari sudut pandang filsafat.  

Dalam istilah filsafat sebab (cause) memiliki makna yang menjuntai. Dalam kosmos filsafat sendiri sebab digunakan untuk dua terminologi. Relasi antara kedua terminology ini bersifat complete inclusion (umum wa khusus mutlaq). Artinya ia memiliki satu terma bermakna umum dan terma yang lainnya memiliki makna khusus. Sebab yang bermakna umum maksudnya adalah bergantungnya sesuatu kepadanya. Menulis surat, bergantung kepada penulis surat, di sini tangan penulis juga merupakan sebab, tentu saja belum termasuk pikiran dan ruh penulis, dimana penulis memiliki media jasmani lainnya yang harus sehat. System syarafnya juga harus normal dimana hal ini juga merupakan syarat terselesaikannya sebuah tulisan dimana hal ini juga disebut sebagai sebab.

Di samping semua ini, penulis juga memerlukan kertas, pena, tinta dimana hal ini juga disebut sebagai sebab. Lantaran apabila kertas, pena dan tinta tidak tersedia kegiatan menulis dan tulisan tidak dapat terrealisir, karena kegiatan menulis dan tulisan bergantung kepada hal ini.

Dengan demikian masing-masing dari hal yang disebutkan di atas ini merupakan sebab dalam istilah umum. Namun dalam istilah khusus bahkan dalam lisan urf, kesemua ini tidak disebut sebagai sebab. Dalam istilah khusus sebab bermakna pelaku, artinya eksisten yang mewujudkan eksisten lainnya meski ia bergantung kepada sesuatu yang lainnya namun pelaku di sini adalah seorang pribadi (syakhsh). Kendati penulisan bergantung kepada kertas, pena dan tinta namun hal ini dalam istilah khusus tidak disebut sebagai sebab; karena kertas, pena dan tinta tidak menulis. Di sini sebab ekuivalen dengan pelaku. Sebab di sini adalah sebab dalam pengertian khusus.  Sebab dalam pengertian umum di samping pelaku, kertas, pena dan tinta, sehatnya pikiran dan ruh, system syaraf yang berkerja normal, namun dalam pengertian khusus, sebab hanya terhenti pada pelaku perbuatan saja. Atau lebih jelasnya, mari kita tinjau pembagian sebab, dalam satu tinjauan, karena seperti yang disinggung di atas, pembagian sebab terdiri dari beragam pembagian, menurut pandangan Aristoteles. Pembagian sebab Aristotelian dapat disebutkan sebagai berikut: 1. Sebab pelaku. 2. Sebab material. 3. Sebab formal. 4. Sebab tujuan. Dalam contoh di atas, penulis di sini adalah sebab pelaku. Tinta, kertas dan pena merupakan sebab material. Bentuk tulisan, pake kertas A4/A5 dsb merupakan Sebab formal. Dan sajian tulisan merupakan sebab tujuan.

Nah sekarang mari  kita kembali ke pembahasan inti. Dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menjelaskan sebab-sebab yang disebutkan di atas.  Di antara sebab-sebab yang disebutkan dalam al-Qur’an salah satunya adalah sebab material. Sebab material dalam istilah filsafat adalah bahwa setiap fenomena di alam semesta biasanya berasal dari fenomena yang lain. Misalnya tanah, dulunya berupa gunung, karena pengaruh hujan, angin dan sinar matahari ia berubah menjadi tanah, kemudian dari tanah menjadi tumbuh2an, tumbuhan menjadi hewan, hewan yang dikonsumsi oleh manusia menjadi manusia; badan sebelumnya merupakan maujud yang lain. Hal ini menandaskan bahwa  setiap fenomena yang terdapat di alam semesta ini sebelumnya merupakan fenomena yang lain, dan berdasarkan perubahan dan pergantian material, berubah menjadi wujud yang lain.  

Misalnya pada ayat berikut ini:

ثُمَّ اسْتَوى‏ إِلَى السَّماءِ وَ هِيَ دُخانٌ

Dari sudut pandang al-Qur’an, materi langit ini adalah asap. Terjemahan ayat ini adalah sebagai berikut: “Kemudian Dia menuju langit (atau menguasai langit) dan langit itu masih berupa asap” (Qs . al-Fusshilat [41]:11)

وَ جَعَلْنا مِنَ الْماءِ كُلَّ شَيْ‏ءٍ

Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup” (Qs. Al-Anbiya [21]:30) Dari ayat ini dapat kita katakan bahwa air merupakan sebab hidupnya segala sesuatu. Artinya bagian dari setiap bentuk maujud terdiri dari air.

Adapun yang berkenaan dengan manusia, dalam al-Qur’an disebutkan:

إِنَّا خَلَقْناهُمْ مِنْ طينٍ لازِبٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat. (Qs. Shaffat [37]:11) Sebab material manusia menurut ayat ini adalah tanah liat. Atau tentang penciptaan jin, al-Qur’an menyebutkan:

وَ الْجَانَّ خَلَقْناهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نارِ السَّمُومِ

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.”

Lebih tinggi dari sebab material ini, adalah sebab pelaku. Seperti pada ayat-ayat berikut ini:

مِنْ شَرِّ الْوَسْواسِ الْخَنَّاسِ ٱلَّذي يُوَسْوِسُ في‏ صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

“Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (Qs. An-Nas [114]:4-6) Dalam ayat ini yang menjadi sebab pelaku was-was bagi manusia adalah setan.

قاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْديكُمْ وَ يُخْزِهِمْ

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantara) tangan-tanganmu, dan Allah akan menghinakan mereka.” (Qs. At-Taubah [9]:14) Ayat ini menegaskan manusia sebagai sebab pelaku dalam membunuh orang-orang musyrik.

Pada ayat di bawah ini disebutkan kemitraan pelaku antara kitab dan Allah secara vertical, top-down. Di sini dapat disebutkan bahwa kitab merupakan pemberi hidayah juga Allah dengan perantara kitab memberikan hidayah. Namun siapa yang layak mendapatkan hidayah Kitab dan hidayah Allah? Adalah orang-orang yang hatinya hendak mendapatkan keridhaan Tuhan.

قَدْ جاءَكُمْ مِنَ اللهِ نُورٌ وَ كِتابٌ مُبينٌ يَهْدي بِهِ اللهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوانَهُ سُبُلَ السَّلامِ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan. “ (Qs. Al-Maidah [5]:15-16)

Atau pada ayat berikut ini. Pelaku kerusakan di darat dan di laut adalah manusia, apabila manusia melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

ظَهَرَ الْفَسادُ فِي الْبَرِّ وَ الْبَحْرِ بِما كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (Qs. Ar-Rum [30]:41)

Namun apabila manusia melakukan perbuatan-perbuatan baik, menjadi penyebab berkah dari langit dan bumi.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرى‏ آمَنُوا وَ اتَّقَوْا لَفَتَحْنا عَلَيْهِمْ بَرَكاتٍ مِنَ السَّماءِ وَ الْأَرْضِ

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Qs. Al-A’raf [7]:96)

Pelaku-pelaku perbuatan di atas adalah kitab, setan dan manusia, dimana dalam hal ini peran mereka masing-masaing disebutkan oleh Kitab Suci sendiri.  Masih banyak ayat-ayat yang lain yang dapat ditengarai sebagai ayat yang mendukung hukum kausalitas dalam al-Qur’an, tanpa adanya penafian ikhtiar dari manusia dan makhluk lainnya. Atau mencederai tauhid penciptaan, karena antara kebebasan manusia dan tauhid penciptaan tidak terdapat kontrakdisi atau paradox. Bahwa makhluk-makhluk yang lain juga memiliki pengaruh atas terciptanya sebuah fenomena, tidak sepenuhnya pada Allah, karena meski Tuhan berkuasa atas hukum kausalitas, namun hal ini tidak berarti penafian peran pelaku seperti manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Pada kasus Ibrahim (alannabi wa ‘alahi as-salam) Tuhan menunjukkan demikian. Barangkali hal ini masuk pembahasan tersendiri, “Hubungan Mukjizat dan hukum Kausalitas.” InsyaAllahh.. semoga ada waktu untuk membahas masalah tersebut. Terakhir dari kami nukilan dari puisi Iqbal tentang kemitraan dalam penciptaanKau buat malam aku buat cahaya. Kau ciptakan lempung, aku buat piala. Kau buat belantara, aku olah taman bunga.” Think it over…  😀

Adapun klaim saudara  “tiada hubungan yang hakiki antara panas dan api, mapun antara dingin dan api. Tidak ada hubungan hakiki artinya tidak ada hubungan kausalitas, karena hubungan kausalitas mestilah bersifat hakiki.” Pada kesempatan mendatang.. Trims. Saya harap Anda bersabar dan keep in touch. Bye.. ;(

 

Iklan

2 comments on “Lagi tentang Determinasi dan Kehendak Bebas

  1. Ok, terima kasih atas tanggapan Anda terhadap komentar saya. Saya baru saja membukanya. Saya akan pelajari jawaban Anda sambil menunggu rencana kelanjutan jawaban Anda tentang “klaim” saya, “tiada hubungan yang hakiki antara panas dan api, mapun antara dingin dan api. Tidak ada hubungan hakiki artinya tidak ada hubungan kausalitas, karena hubungan kausalitas mestilah bersifat hakiki.” Kata klaim sengaja saya berita dua tanda kutip karena kalau Anda jeli itu merupakan kesimpulan bukan kesewenang-wenangan klaim. Tapi tidak apa. It’s ok. Saya akan menanggapinya nanti. Supaya diskusi ini tidak melebar kita fokuskan dulu pada dua masalah silang pendapat kita:
    Pertama, ayat-ayat yang seolah paradoks tentang penciptaan.
    Kedua, tentang konsep kausalitas.
    Untuk sementara cukup ini. Setelah saya pelajari jawaban Anda, segera akan saya postingkan tanggapan balik saya.
    Terima kasih
    Akallurus

  2. Isyraq: Pada postingan yang lalu, setelah beberapa lama mengalami moratorium di antaran karena perbaikan performa blog dalam format site yang cukup banyak menyita perhatian dan energi, ada sebuah tanggapan yang cukup kritis ihwal perbuatan Tuhan dan efek-efek yang terjadi di alam semesta yang datang dari Sdr. Akallurus. Terima kasih atas perhatian Sdr dan sekaligus maaf karena Anda harus bersabar menanti jawaban dari kami. Dalam menanggapi komentar bag. Pertama, kami akan menanggapinya secara bertahap, untuk menghindari volume komentar yang besar, karena menurut hemat dan harapan kami, dialog “intrafaith” ini akan berlangsung cukup lama sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dasar tentang masalah Determinasi dan Kehendak Bebas ini.

    Akallurus: Oleh karena itu, bisa jadi komentar bag. dua dan seterusnya dari saya tidak akan keluar dalam waktu dekat. Karena saya akan coba fokus dulu pada jawaban Anda terhadap komentar saya bag. pertama.

    Isyraq: Penisbatan segala sesuatu kepada Tuhan dalam satu artian memang benar bahwa Allah Swt pencipta segala sesuatu, bahwa Allah yang mendatangkan manfaat dan mudharat, merupakan klaim dan bahkan keyakinan hampir seluruh Asy’ariyyun. Apa yang coba diketengahkan oleh Sdr. Akallurus merupakan buah dari keyakinan tersebut.

    Akallurus: Bukan klaim, atau bahkan klaim seluruh Asy’ariyyun, melainkan firman Allah swt. Ayat tentang itu jelas seperti saya sebutkan dalam komentar bag. pertama saya. Saya pikir begini, kita sepakat tentang maksud pasti dari ayat, “Allahu khaliqu kulli sya’e” bahwa pencipta dari segala yang ada adalah Allah. Anda pun memahami ini, sampai-sampai Anda harus menepis anggapan paradok antara ayat ini dan ayat-ayat lain yang “menegaskan” bahwa manusia pun punya “peran kepelakuan” (sebab dengan makna khusus) terhadap segala tindakannya. Yang rupanya tidak ada kesamaan pandangan antara saya dan Anda adalah penafsiran terhadap ayat-ayat kelompok kedua yang seolah-olah menetapkan peran kepelakuan kepada manusia. Saya akan jelaskan duduk perkaranya pada ayat-ayat kelompok kedua itu paragraf-paragraf berikutnya.

    Isyraq: Karena pembahasan kita merupakan pembahasan internal agama, ada common point yang kita sepakati di antaranya al-Qur’an, Sunnah, Akal kendati boleh jadi Sdr. Akallurus tidak memandang akal sebagai salah satu wasilah dalam beragama.

    Akallurus: Dalam hal ini Anda keliru, tapi saya tidak ingin mendiskusikannya karena saya tetap akan fokus pada dua masalah yang menjadi silang pendapat kita, yaitu:
    Pertama, ayat-ayat yang seolah paradoks tentang penciptaan.
    Kedua, tentang konsep kausalitas.

    Isyraq: Lantaran secara umum, dari tanggapan yang diberikan, nampaknya Sdr. Akallurus dalam masalah teologi mengikut kepada teologi Asy’ari yang tidak menjadikan akal sebagai salah satu media dalam beragama. Melainkan bersandar pada Qiyas dan Ijma.
    Dalam ranah teologi, pembahasan ini menjadi sebuah titik divergence (iftiraq) antara kaum Asy’ari pada satu polar pemikiran dan keyakinan dan kaum Imamiyah pada polar lainnya.

    Akallurus: Anda benar bahwa inilah perbedaan antara kaum Asy’ari kaum Imamiyah. Dan saya sedang mengusulkan sebuah rekonstruksi teologis kepada kaum Imamiyah dalam menyikapi persoalan tindakan Tuhan dan tindakan manusia. Saya sudah sampai pada kesimpulan bahwa kaum Imamiyah dalam hal ini masih menyimpan banyak celah kelemahan yang harus segera dibenahi.

    Isyraq: Asy’ari dengan bersandar pada ayat-ayat yang disebutkan oleh Sdr. Akallurus, menyatakan bahwa seluruh perbuatan manusia merupakan makhluk Tuhan dan manusia tidak memiliki peran sama sekali dalam memproduksi sebuah perbuatan dan pekerjaan.

    Akallurus: Betul. Segala campur tangan manusia dalam segala proses ontologis penciptaan tindakannya atau produksi pekerjaan dalam istilah Anda harus dinafikan.

    Isyraq: Tanpa memperhatikan ayat-ayat yang lain, tentu akan bermuara kepada pandangan seperti ini dan menyokong pandangan Asy’ari di atas. Padahal kalau ingin melakukan sebuah pendekatan holistik, tentu saja memerlukan perhatian terhadap ayat-ayat yang lain, karena al-Qur’an menafsirkan dirinya sendiri dengan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya. Ala kulli hal…

    Akallurus: Saya pikir ayatnya sangat jelas menyatakan bahwa segala sesuatu apa pun itu, entah diri manusia, sifatnya maupun tindakannya tidak dikecualikan dari sesuatu yang diciptakan oleh Allah swt. Masalahnya adalah Anda terlalu keburu memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat kelompok kedua. Insya Allah saya akan bahas dalam tanggapan-tangapan saya terhadap paragraf-paragraf selanjutnya dari tulisan Anda.

    Isyraq: Apabila seluruh pekerjaan dan perbuatan yang dilakukan oleh manusia adalah idem ditto dengan perbuatan dan pekerjaan manusia, maka konsekuensinya tiada lagi kebebasan dan ikhtiar yang tersisa bagi manusia. Apa memang demikian?

    Akallurus: Mungkin tulisan Anda yang benar, “….idem ditto dengan perbuatan dan pekerjaan Allah, …”. Betul begitu? Ok, lalu Anda bertanya, “Apa memang demikian?”. Jawab saya tegas: tidak. Tidak ada korelasi sama sekali antara tindakan manusia diciptakan oleh Allah dengan hilangnya kebebasan dari manusia. Anda tidak perlu kaget dengan hipotesa ini. Sebab kalau Asy’ariyyun dianggap sebagai penganut paham jabariah, anggap saja hipotesa ini sebagai modifiksai dan jalan keluar dari kebingungan mereka dari seolah konsep “tindakan manusia ciptaan Allah” meniscayakan jabariah karena dalam hipotesa ini saya menawarkan konsep kebebasan kehendak manusia yang benar-benar berbeda. Atau, anggap saja ini sebagai modifikasi keyakinan kaum Imamiyah yang kelabakan mencari sebuah makna yang pas untuk kehendak bebas manusia yang sejalan dengan konsep tauhid. Saya tidak mengharapkan akhirnya mereka secara serampangan menafsirkan ayat-ayat kelompok kedua untuk tunduk pada cara mereka memaknai kebebasan manusia. Toh, kaum Imamiyah kan bukan para Nabi sehingga tidak dapat tersentuh kesalahan dan perbaikan.

    Isyraq: Jawaban dari pertanyaan ini sejatinya berpulang pada penjelasan atas tauhid perbuatan dan kebebasan manusia. Atau kembali pada pembahasan Determinasi (jabariyah) dan Kebebasan Manusia (ikhtiar), dimana pembahasan ini dalam beberapa postingan sebelumnya telah dibahas dan dibeberkan di site http://www.wisdoms4all.com/Indonesia dan blog http://www.isyraq.wordpress.com Silahkan Anda lihat kembali pembahasan yang berkenaan dengan masalah Kebebasan Manusia dan Determinasi.

    Akallurus: Berkaitan dengan tulisan tentang Tauhid Perbuatan dan Kebebasan Manusia (https://isyraq.wordpress.com/2008/03/18/perbuatan-tuhan-dan-kebebasan-manusia) sudah saya telaah. Tulisannya perlu mendapatkan tanggapan tersendiri. Tapi secara umum menurut saya Anda telah membuka dan menutup tulisan dan argumentasi Anda atas konsep Tauhid Perbuatan dengan sangat baik. Hanya saja, sayang Anda menyisipkan di tengah-tengahnya sebuah konsep yang merusak alur irama yang sudah mengalir dengan baik tentang penjelasan dan argumentasi Anda atas konsep Tauhid Perbuatan. Sisipan yang saya maksud adalah, maaf, konsep akal-akalan Anda, yaitu konsep kepenciptaan vertikal. Sisipan ini pun mungkin lebih pantas disebut saja sebagai susupan. Inilah yang pernah saya katakan pada komentar saya bag. pertama bahwa jangan sampai muncul pemahaman bahwa segala yang selain Allah swt. bisa “memberikan” efek tindakan, hanya saja selalu dengan izin Allah swt. Karena menurut hemat saya, pemahaman semacam ini adalah paradoks. Saya lalu khawatir Anda menafsirkan maksud “dengan izin Allah” dengan “kepenciptaan vertikal”. Di sini saya kutipkan definisi Anda atas kepenciptaan vertikal, “Kepenciptaan vertikal: kepenciptaan ini terjadi bagi beberapa obyek yang dalam melakukan suatu pekerjaan mempunyai efek, tetapi efek sebagian dari mereka bergantung pada efek sebagian yang lain. Dalam hal ini pelaku langsung dapat dikatakan sebagai pelaku “bi at-tasbiib” (kepenyebaban): pelaku langsung, adalah secara langsung berpengaruh dalam perealisasian pekerjaan, tetapi kepenciptaannya dapat saja merupakan akibat dan disebabkan pelaku yang lain, karena itu disebut dengan pelaku bi at-tasbiib. Jumlah kata: “…berpengaruh dalam perealisasian pekerjaan”, seolah memberikan penekanan bahwa ada tindak realisasi dan penciptaan dari si pelaku selain Tuhan, meski dengan penyebaban Allah. Saya ingin tegaskan kepada Anda bahwa penegasan: “Ada, tapi …” adalah syirik atau penyukutuan Allah. Tapi, jangan cepat menuduh saya sebagai orang yang suka menyebut kelompok lain sebagai musyrik. Tidak semudah itu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa Anda telah musyrik dalam cara Anda berpikir, bukan dalam realitas sebenarnya (hukum fikih). Saya juga mau katakan bahwa kalau Anda ingin memaknai konsep “dengan izin Allah” (bi idznillah) dengan “Ada, tapi …”, saya berpendapat bahwa itu bukan pilihan yang pas. Tauhid sejati adalah konsep “Ada tanpa tapi”. Saran saya Anda tidak perlu otak-atik konsep tauhid. Yang perlu Anda lakukan adalah otak-atik pada konsep kehendak bebas manusia sehingga bisa berdampingan dengan konsep tauhid tanpa harus mencederainya. Ok, sekarang kenapa saya sebut konsep kepenciptaan vertikal sebagai akal-akalan saja? Karena sama sekali tidak sinkron dengan konsep Tauhid yang Anda jelaskan dengan tangguh. Anda menulis: “Dengan demikian, konklusi makna tauhid perbuatan adalah bahwa setiap apa yang terjadi di alam semesta merupakan perbuatan Tuhan dan ini makna dari kalimat ma’ruf: ” Lâ haula walâ quwwata illâ billahi al-’aliyyi al-’azîm” yang menegaskan hal tersebut.”

    Isyraq: Contoh yang paling sederhana adalah dialog antara Abu Hanifah dan Bahlul pada postingan https://isyraq.wordpress.com/2008/03/24/mizan-keadilan-tuhan-3/. Karena pembahasan yang diketengahkan di site dan blog tersebut di atas merupakan pembahasan sistematis dan berkelanjutan, memang secara tegas belum sampe pada penukilan ayat-ayat al-Qur’an secara tegas dan tandas. Oleh karena itu, berikut ini secara selintasan kami akan menyebutkan ayat-ayat yang menyokong pandangan kebebasan manusia adalah sebagai berikut:
    ِ إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ ما بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا ما بِأَنْفُسِهِمْ
    “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. Ar-Raad [13] : 11)
    وَما كانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَ لٰكِنْ كانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
    “Allah tidak sekali-kali hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ankabut [29] : 40)
    مَنْ عَمِلَ صالِحاً فَلِنَفْسِهِ وَ مَنْ أَساءَ فَعَلَيْها وَما رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبيدِ
    “Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hamba-(Nya).” (Qs. Fusshilat [41]:46)
    إِنَّا هَدَيْناهُ السَّبيلَ إِمَّا شاكِراً وَ إِمَّا كَفُوراً
    “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS 76 : 3)
    Selanjutnya disini kami hanya akan menyebutkan fehrest ayatnya, silahkan Anda refer ke ayat-ayat berikut ini: Qs. Al-Kahf (18):29), Qs. Rum (30):41, Qs. Syura (42):20, Qs. Al-Isra (17):18-20.

    Akallurus: Saya sepakat dengan Anda ayat-ayat ini tegas tanpa ragu membuktikan kehendak bebas manusia. Sayang persoalan saya bukan di sini. Saya justru mempersoalan cara Anda memahami ayat-ayat ini. Saya tidak setuju menjadikan ayat-ayat ini sebagai referensi konsep akal-akalan Anda itu bahwa manusia dengan kehendak bebasnya merupakan pelaku langsung dari segala efek-efeknya. Karena interpretasi ini bertentangan dengan konsep murni tauhid, maka saya sarankan Anda untuk menemukan alternatif penafsiran, yang lebih bisa mendukung hipotesa saya bahwa tindakan manusia diciptakan Allah sekaligus dengan tegas dinyatakan bahwa proses penciptaan Ilahi ini masih dalam suasana di mana manusia berkehendak bebas atas segala tindakannya.

    Isyraq: Preambul ini kami buat untuk menjelaskan salah satu persoalan utama dari pembahasan Determinasi dan Kehendak Bebas. Nah kini mari kita beralih pada masalah inti yang disampaikan oleh Sdr. penanggap.
    Perlu diingat bahwa masalah determinasi dan Kehendak Bebas ini tidak terbatas hanya pada nasib manusia, celaka atau beruntungnya manusia, tapi juga berkaitan dengan masalah fenomena-fenomena semesta termasuk hubungan kausalitas.
    Kalau kita ingin menelisik tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah kausalitas, sebelumnya perlu dijelaskan dengan hipotesa dan pra-supposisi bahwa di alam semesta ini terdapat hukum kausalitas. Sebuah kaidah universal yang menandaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta wujud (baca: akibat) karena ada yang mewujudkannya (baca: sebab). Ada sebuah perbuatan menandakan adanya pelaku dari perbuatan tersebut, ada tulisan ini menyiratkan adanya penulis yang menyuguhkan tulisan, etc. Hipotesa ini merupakan kebalikan interminis dari hipotesa shudfah (spontan, kontan, tiba-tiba) yang menegaskan bahwa setiap fenemona terjadi secara spontan, kontan dan tiba-tiba tanpa ada sebab yang mewujudkannya. Tentu saja kita dalam hal ini sepakat, bahwa hipotesa yang disebut belakangan adalah hipotesa yang absurd.

    Akallurus: Betul kita sepakat.

    Isyraq: Nah yang menjadi persoalan di sini apakah peristiwa dan perbuatan ini semuanya harus disandarkan kepada Allah, yang menurut kitab suci sebagai Khaliqu Kulli Syai, dan konsekuensinya adalah menolak hukum kausalitas?

    Akallurus: Menolak hukum kausalitas????? Saya tidak pernah mengatakan itu. Yang saya katakan bahwa hukum kausalitas adalah benar dan hanya berlaku pada hubungan antara Allah dan tindakan-Nya saja. Sementara itu, hubungan antara sesama tindakan Allah sama sekali tidak ada yang bersifat kausal. Coba Anda baca lagi komentar bag. pertama saya.

    Isyraq: Kalau memang demikian apa peran manusia dan makhluk lainnya dalam setiap fenomena dan perbuatan?

    Akallurus: Manusia tidak mempunyai peran dalam penciptaan sama sekali. Lantas apa perannya? Jawabannya adalah bahwa manusia hanya berperan sebagai wadah (meminjam istilah Anda dalam tulisan Tauhid Penciptaan dan Kebebasan Manusia) dari segala tindakan Allah.

    Isyraq: Atau seperti klaim Sdr. Akallurus, selain Allah sama sekali tidak memiliki pengaruh ontologis atas segala tindak penciptaan?

    Akallurus: Betul sekali. Dan sudah saya buktikan baik secara akli maupun nakli.

    Isyraq: Apakah ketika kita membuktikan peran pelaku perbuatan (manusia) konsekuensinya menafikan tauhid perbuatan (dalam hal ini penciptaan) atau tidak?

    Akallurus: Betul sekali bahwa peran pelaku bagi manusia mencederai dan menafikan konsep Tauhid Perbuatan.

    Isyraq: Apakah peran merdeka seorang engineer bangunan yang membangun apartemen harus disandarkan kepada Tuhan?

    Akallurus: Why not? “Wa ma romaeta idz romaeta walakinnallaha roma”.

    Isyraq: Atau peran mandiri seorang teroris yang merakit dan menaruh bom untuk menghancurkan sebuah kompleks hunian masyarakat juga harus disandarkan kepada Tuhan (may God forbide us)?

    Akallurus: Why not? Tidaklah seorang itu dapat menaruh bom dan mencelakakan manusia kecuali atas izin Allah. Eiggggttt……, tapi tidak pake penafsiran Anda dengan konsep akal-akalan itu.

    Isyraq: Nampaknya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini harus didahului dengan mukaddimah-mukaddimah berikut ini:
    Sebab ghalibnya pada lisan urf dan bahasa konvensional keseharian bermakna sesuatu yang menjelaskan tujuan dan maksud pelaku dimana sejatinya kalau dalam bahasa teknis filsafat, sebab pada lisan urf ini idem ditto dengan sebab tujuan (illat ghai). Mereka biasanya berkata apa sebab dan alasan Anda melakukan pekerjaan ini? Lalu apa hubungannya masalah ini dengan filsafat? Tentu saja hal ini bertautan dengan filsafat karena kita ingin membahas hubungan kausalitas antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Ketika membahas masalah ini, like or dislike, kita harus meninjaunya dari sudut pandang filsafat.
    Dalam istilah filsafat sebab (cause) memiliki makna yang menjuntai. Dalam kosmos filsafat sendiri sebab digunakan untuk dua terminologi. Relasi antara kedua terminology ini bersifat complete inclusion (umum wa khusus mutlaq). Artinya ia memiliki satu terma bermakna umum dan terma yang lainnya memiliki makna khusus. Sebab yang bermakna umum maksudnya adalah bergantungnya sesuatu kepadanya. Menulis surat, bergantung kepada penulis surat, di sini tangan penulis juga merupakan sebab, tentu saja belum termasuk pikiran dan ruh penulis, dimana penulis memiliki media jasmani lainnya yang harus sehat. System syarafnya juga harus normal dimana hal ini juga merupakan syarat terselesaikannya sebuah tulisan dimana hal ini juga disebut sebagai sebab.
    Di samping semua ini, penulis juga memerlukan kertas, pena, tinta dimana hal ini juga disebut sebagai sebab. Lantaran apabila kertas, pena dan tinta tidak tersedia kegiatan menulis dan tulisan tidak dapat terrealisir, karena kegiatan menulis dan tulisan bergantung kepada hal ini.
    Dengan demikian masing-masing dari hal yang disebutkan di atas ini merupakan sebab dalam istilah umum. Namun dalam istilah khusus bahkan dalam lisan urf, kesemua ini tidak disebut sebagai sebab. Dalam istilah khusus sebab bermakna pelaku, artinya eksisten yang mewujudkan eksisten lainnya meski ia bergantung kepada sesuatu yang lainnya namun pelaku di sini adalah seorang pribadi (syakhsh). Kendati penulisan bergantung kepada kertas, pena dan tinta namun hal ini dalam istilah khusus tidak disebut sebagai sebab; karena kertas, pena dan tinta tidak menulis. Di sini sebab ekuivalen dengan pelaku. Sebab di sini adalah sebab dalam pengertian khusus. Sebab dalam pengertian umum di samping pelaku, kertas, pena dan tinta, sehatnya pikiran dan ruh, system syaraf yang berkerja normal, namun dalam pengertian khusus, sebab hanya terhenti pada pelaku perbuatan saja. Atau lebih jelasnya, mari kita tinjau pembagian sebab, dalam satu tinjauan, karena seperti yang disinggung di atas, pembagian sebab terdiri dari beragam pembagian, menurut pandangan Aristoteles. Pembagian sebab Aristotelian dapat disebutkan sebagai berikut: 1. Sebab pelaku. 2. Sebab material. 3. Sebab formal. 4. Sebab tujuan. Dalam contoh di atas, penulis di sini adalah sebab pelaku. Tinta, kertas dan pena merupakan sebab material. Bentuk tulisan, pake kertas A4/A5 dsb merupakan Sebab formal. Dan sajian tulisan merupakan sebab tujuan.
    Nah sekarang mari kita kembali ke pembahasan inti. Dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menjelaskan sebab-sebab yang disebutkan di atas. Di antara sebab-sebab yang disebutkan dalam al-Qur’an salah satunya adalah sebab material. Sebab material dalam istilah filsafat adalah bahwa setiap fenomena di alam semesta biasanya berasal dari fenomena yang lain. Misalnya tanah, dulunya berupa gunung, karena pengaruh hujan, angin dan sinar matahari ia berubah menjadi tanah, kemudian dari tanah menjadi tumbuh2an, tumbuhan menjadi hewan, hewan yang dikonsumsi oleh manusia menjadi manusia; badan sebelumnya merupakan maujud yang lain. Hal ini menandaskan bahwa setiap fenomena yang terdapat di alam semesta ini sebelumnya merupakan fenomena yang lain, dan berdasarkan perubahan dan pergantian material, berubah menjadi wujud yang lain.
    Misalnya pada ayat berikut ini:
    ثُمَّ اسْتَوى‏ إِلَى السَّماءِ وَ هِيَ دُخانٌ
    Dari sudut pandang al-Qur’an, materi langit ini adalah asap. Terjemahan ayat ini adalah sebagai berikut: “Kemudian Dia menuju langit (atau menguasai langit) dan langit itu masih berupa asap” (Qs . al-Fusshilat [41]:11)
    وَ جَعَلْنا مِنَ الْماءِ كُلَّ شَيْ‏ءٍ
    “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup” (Qs. Al-Anbiya [21]:30) Dari ayat ini dapat kita katakan bahwa air merupakan sebab hidupnya segala sesuatu. Artinya bagian dari setiap bentuk maujud terdiri dari air.
    Adapun yang berkenaan dengan manusia, dalam al-Qur’an disebutkan:
    إِنَّا خَلَقْناهُمْ مِنْ طينٍ لازِبٍ
    Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat. (Qs. Shaffat [37]:11) Sebab material manusia menurut ayat ini adalah tanah liat. Atau tentang penciptaan jin, al-Qur’an menyebutkan:
    وَ الْجَانَّ خَلَقْناهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نارِ السَّمُومِ
    “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.”
    Lebih tinggi dari sebab material ini, adalah sebab pelaku. Seperti pada ayat-ayat berikut ini:
    مِنْ شَرِّ الْوَسْواسِ الْخَنَّاسِ ٱلَّذي يُوَسْوِسُ في‏ صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ
    “Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (Qs. An-Nas [114]:4-6) Dalam ayat ini yang menjadi sebab pelaku was-was bagi manusia adalah setan.
    قاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْديكُمْ وَ يُخْزِهِمْ
    “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantara) tangan-tanganmu, dan Allah akan menghinakan mereka.” (Qs. At-Taubah [9]:14) Ayat ini menegaskan manusia sebagai sebab pelaku dalam membunuh orang-orang musyrik.
    Pada ayat di bawah ini disebutkan kemitraan pelaku antara kitab dan Allah secara vertical, top-down. Di sini dapat disebutkan bahwa kitab merupakan pemberi hidayah juga Allah dengan perantara kitab memberikan hidayah. Namun siapa yang layak mendapatkan hidayah Kitab dan hidayah Allah? Adalah orang-orang yang hatinya hendak mendapatkan keridhaan Tuhan.
    قَدْ جاءَكُمْ مِنَ اللهِ نُورٌ وَ كِتابٌ مُبينٌ يَهْدي بِهِ اللهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوانَهُ سُبُلَ السَّلامِ
    “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan. “ (Qs. Al-Maidah [5]:15-16)
    Atau pada ayat berikut ini. Pelaku kerusakan di darat dan di laut adalah manusia, apabila manusia melakukan perbuatan-perbuatan buruk.
    ظَهَرَ الْفَسادُ فِي الْبَرِّ وَ الْبَحْرِ بِما كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
    Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (Qs. Ar-Rum [30]:41)
    Namun apabila manusia melakukan perbuatan-perbuatan baik, menjadi penyebab berkah dari langit dan bumi.
    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرى‏ آمَنُوا وَ اتَّقَوْا لَفَتَحْنا عَلَيْهِمْ بَرَكاتٍ مِنَ السَّماءِ وَ الْأَرْضِ
    “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Qs. Al-A’raf [7]:96)

    Akallurus: saya bisa paham bahwa ayat-ayat di atas menisbatkan tindakan kepada selain Allah. Tapi, jangan lantas disimpulkan bahwa penisbatan itu bersifat kausal-penciptaan. Penisbatan dalam ayat-ayat di atas harus dipahami lain yang lebih selaras dengan konsep Tauhid, yang jelas bukan dengan hukum kausalitas (kausalitas antara sesama ciptaan Allah) yang sudah pasti mencederai dan menafikan keesaan Allah.

    Isyraq: Pelaku-pelaku perbuatan di atas adalah kitab, setan dan manusia, dimana dalam hal ini peran mereka masing-masaing disebutkan oleh Kitab Suci sendiri. Masih banyak ayat-ayat yang lain yang dapat ditengarai sebagai ayat yang mendukung hukum kausalitas dalam al-Qur’an, tanpa adanya penafian ikhtiar dari manusia dan makhluk lainnya.

    Akallurus: Penafsiran Anda bahwa penisbatan itu adalah hukum kausalitas tidak relevan karena pertama, penisbatan bisa saja bukan dalam bentuk kausalitas (Anda perlu menafikan kemungkinan ini sehingga pilihan penafsiran hanya pada kausalitas). Kedua, hukum kausalitas antara sesama ciptaan Allah bertantangan dengan keesaan-Nya.

    Isyraq: Atau mencederai tauhid penciptaan, karena antara kebebasan manusia dan tauhid penciptaan tidak terdapat kontrakdisi atau paradox.

    Akallurus: Benar tidak ada kontradiksi atau paradoks antara kebebasan manusia dan tauhid penciptaan. Paradoks hanya ada antara kausalitas sesama ciptaan Allah dan tauhid penciptaan seperti yang Anda yakini.

    Isyraq: Bahwa makhluk-makhluk yang lain juga memiliki pengaruh atas terciptanya sebuah fenomena, tidak sepenuhnya pada Allah, karena meski Tuhan berkuasa atas hukum kausalitas, namun hal ini tidak berarti penafian peran pelaku seperti manusia dan makhluk-makhluk lainnya.

    Akallurus: Anda dengan pendapat Anda, “… tidak sepenuhnya pada Allah, karena meski Tuhan berkuasa atas hukum kausalitas, namun. ….” sedang menkerdilkan kekuasan Allah.

    Isyraq: Pada kasus Ibrahim (alannabi wa ‘alahi as-salam) Tuhan menunjukkan demikian. Barangkali hal ini masuk pembahasan tersendiri, “Hubungan Mukjizat dan hukum Kausalitas.” InsyaAllahh.. semoga ada waktu untuk membahas masalah tersebut. Terakhir dari kami nukilan dari puisi Iqbal tentang kemitraan dalam penciptaan “Kau buat malam aku buat cahaya. Kau ciptakan lempung, aku buat piala. Kau buat belantara, aku olah taman bunga.” Think it over…
    Adapun klaim saudara “tiada hubungan yang hakiki antara panas dan api, mapun antara dingin dan api. Tidak ada hubungan hakiki artinya tidak ada hubungan kausalitas, karena hubungan kausalitas mestilah bersifat hakiki.” Pada kesempatan mendatang.. Trims. Saya harap Anda bersabar dan keep in touch. Bye.. ;(

    Akallurus: Ok, saya menanti nantikan jawaban tentang hubungan hakiki antara panas dan api.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s