Antara Qadha’, Qadar dan Kehendak Bebas Manusia [19]

Definisi

Kata qadar berarti ukuran (miqdar), dan taqdir (takdir) yaitu ukuran sesuatu dan menjadikannya pada ukuran tertentu, atau menciptakan sesuatu dengan ukurannya yang ditentukan. Sedangkan kata qadha  berarti menuntaskan dan memutuskan sesuatu, yang di dalamnya menyiratkan semacam unsur konvensi.  Terkadang dua kata ini digunakan secara sinonim yang berarti nasib.

Maksud dari takdir Ilahi yaitu bahwa Allah Swt. telah  menciptakan segala sesuatu serta telah menetapkan kadar dan ukurannya masing-masing dari segi kuantitas, kualitas, ruang dan waktu. Dan hal ini dapat teralisasi di dalam rangkaian sebab-sebab.

Sedangkan yang dimaksud qadha Ilahi adalah menyam-paikan sesuatu kepada tahap kepastian wujudnya, setelah terpenuhinya sebab-sebab dan syarat-syarat sesuatu itu. Berdasarkan maksud ini, tahap takdir itu lebih dahulu dari tahap qadha’, karena di dalam takdir terdapat beberapa tahap gradual dan syarat-syarat yang jauh, tengah dan dekat. Dan takdir ini dapat mengalami perubahan dengan berubahnya sebagian sebab dan syaratnya.

Misalnya, perjalanan janin yang berangsur-angsur dari sperma, segumpal darah, segumpal daging sampai mem-bentuk janin yang sempurna. Janin ini melewati tahap-tahap yang beragam untuk sampai kepada takdir tersebut, dan di antara tahap-tahap itu adalah ruang dan waktu. Keluar atau gugurnya janin pada salah satu tahap-tahap tersebut adalah perubahan pada takdir itu.

Adapun tahap qadha’ bersifat seketika dan serentak (daf’i). Qadha’ ini berhubungan dengan tahap terpenuhinya segenap sebab-sebab dan syarat-syarat. Maka itu, ia bersifat pasti serta tidak akan mengalami perubahan. Allah Swt. berfirman:

“Apabila Allah menetapkan suatu  perkara,  Ia akan mengatakan: “Jadilah” maka terjadilah.” (Qs. Alimran: 47)[1]

Akan tetapi, sebagaimana telah kami jelaskan, qadha’ dan qadar ini juga bisa digunakan sebagai dua kata yang sinonim. Dari sinilah qadha’ dan qadar dapat dibagi menjadi dua bagian: qadha’ dan qadar yang pasti (hatmi) dan qadha dan qadar yang tidak pasti (ghairi hatmi). Berdasarkan pembagian ini, sebagian riwayat, hadis, dan doa-doa menyinggung perubahan tersebut. Di antaranya, bahwa bersedekah, patuh  kepada kedua orang tua, silaturahim dan doa termasuk faktor-faktor yang bisa mengubah qadha’.

 

Qadha’ Qadar Ilmi dan Aini

Terkadang taqdir dan qadha’ Ilahi pun digunakan dengan arti ilmu Allah, yakni  ketika sebab-sebab serta syarat-syaratnya telah terpenuhi. Atau ketika telah terpenuhinya sebab-sebab dan syarat-syarat yang mempunyai pengaruh dalam mewujudkan fenomena-fenomena. Qadha’ qodar juga digunakan untuk ilmu Tuhan terhadap kejadian fenomena-fenomena yang bersifat pasti. Arti qadha’ qadar ini dinamakan sebagai qadha qadar ilmi.

Kerapkali kedua kata ini digunakan pula untuk penis-bahan proses penciptaan yang bertahap kepada makhluk-makhluk di alam ini. Sebagaimana pula terjadinya hal itu dalam wujud luar dinisbahkan kepada Allah Swt. Hal itu dinamakan qadha’ qadar ‘aini.

Sesuai dengan ayat dan riwayat yang menyinggung hal ini, ilmu Allah dipercayakan kepada pada lauh mahfuz, yaitu makhluk Ilahi yang tinggi dan mulia ang darinya terefleksi seluruh fenomena objektif (tahaqquq) di dunia luar (khariji). Dan setiap orang dapat bersentuhan dengan mencapai lauh mahfuz itu dengan ijin Allah swt. 

Ketika seseorang dapat mencapai peringkat tersebut, ia akan menjadi alim dan mengetahui segala peristiwa yang telah lalu dan akan datang. Ada lauh-lauh yang lainnya juga yang peringkat  dan derajatnya lebih rendah dibanding lauh mahfuz, yang padanya tercatat fenomena-fenomena dan makhluk-makhluk dalam bentuk yang bersyarat, tidak sempurna. Dan setiap orang yang dapat mengenal lauh tersebut akan mempunyai pengetahuan yang terbatas dan tidak sempurna, bersyarat dan dapat berubah. Barangkali ayat Al-Qur’an ini menjelaskan ihwal kedua lauh tersebut:

Sesungguhnya Allah Swt akan menghapus  apa-apa  yang Ia kehendaki dan juga akan menetapkannya. Di sinilah terdapat ummul kitab (kitab induk)” (Qs. Ar-Ra’ad: 39).

Adanya perubahan pada takdir yang bersyarat dan tak pasti semacam ini diistilahkan dengan bada’. Dengan ini, iman kepada qadh’a dan qadar ilmi tidak melazimkan kesulitan-kesulitan logis yang lebih banyak sebagaimana kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan ilmu Ilahi yang azali, seperti yang telah kata pelajari keraguan Jabariyah di dalam masalah ilmu Ilahi. Dan telah jelas bagi kita bagaimana kelemahan pandangan tersebut.

Akan tetapi, yang lebih sulit lagi terdapat dalam hal  keyakinan terhadap qadha’ dan qadar ‘aini, khususnya dalam hal keimanan terhadap nasib yang pasti. Dan kita akan berusaha untuk mengatasi dan menjawab masalah ini dengan baik, meskipun jawaban dari masalah tersebut yang secara global telah diungkapkan dalam persoalan Tauhid dengan pengertian pengaruh yang mandiri.

 

Antara Qadha’, Qadar dan Kehendak Bebas Manusia

Telah kita pelajari pada pelajaran yang telah lalu bahwa keyakinan terhadap qadha’ dan qadar ‘aini Ilahi itu menuntut adanya keyakinan bahwa keberadaan setiap makhluk dari awal keberadaannya lalu tahap-tahap  pertumbuhannya sam-pai akhir usianya, bahkan sejak terpenuhinya syarat-syarat  yang jauh, seluruhnya tunduk kepada takdir dan pengaturan Ilahi yang mahabijak. Begitu pula, terpenuhinya syarat-syarat bagi kemunculan dan  proses mereka hingga tahap akhir dari keberadaan mereka sungguh bersandar kepada kehendak Allah swt.

Dengan kata lain, sebagaimana wujud setiap fenomena itu bersandar kepada ijin dan kehendak cipta (takwiniyah) Allah Swt., dan tanpa izin dan kehendak-Nya, maka seluruhnya tidak akan mungkin mencapai pelataran eksistensi. Demikian pula wujud dan terbentuknya segala sesuatu bersandarkan kepada qadha’ dan takdir Ilahi; yang tanpa keduanya segala realitas tidak akan sampai kepada bentuk dan batasan-batasannya yang khas serta ketentuan ajalnya. Penjelasan atas penyandaran dan penisbahan ini pada dasarnya lebih merupakan pengajaran secara bertahap tentang Tauhid dalam arti Pengaruh Mandiri; sebuah derajat tauhid  yang paling tinggi, yang memiliki peranan besar dalam membentuk kepribadian seseorang, sebagaimana telah kami jelaskan.

Adapun disandarkannya seluruh makhluk kepada izin Allah, atau bahkan kepada kehendak-Nya itu lebih mudah dan lebih dekat kepada pemahaman. Dibandingkan dengan menyandarkan tahap terakhir dan kepastian wujud mereka kepada qadha’ Ilahi adalah sulit dan lebih banyak menjadi topik  perdebatan, karena sulitnya mengkompromikan antara keimanan terhadap qadha’ Ilahi ini dan keimanan terhadap kehendak bebas yang ada pada manusia dalam menentukan jalan dan nasib hidupnya.

Oleh karena itu, kita melihat sebagian kaum mutakalim, yaitu para teolog Asy’ariyah, tatkala mereka menerima kemutlakan qadha’ Ilahi pada perbuatan-perbuatan manusia, tampak kecondongan mereka kepada pemikiran Jabariyah (determinisme). Lain halnya ketika kita melihat teolog lainnya, yaitu kaum Mu’tazilah. Madzhab teologi ini tidak menerima pandangan Jabariyah. Kaum Mu’tazilah mengingkari qadha’ Ilahi pada seluruh perbuatan manusia yang bersifat sengaja dan berkehendak bebas.

Masing-masing kelompok menakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang saling berlawanan satu dengan yang lainnya, sebagaimana hal ini tercatat di dalam ilmu Kalam dan dalam risalah-risalah yang membahas secara khusus masalah jabr dan tafwidh, keterpaksaan dan kebebasan (mutlak).

Titik inti persoalan yang mengemuka di sini adalah bahwa  perbuatan manusia itu, apabila ia bersungguh-sungguh dengan sifat kebebasan kehendaknya, dan bahwa per-buatannya itu bersandar kepada kehendaknya sendiri, maka bagaimana mungkin hal itu dapat disandarkan kepada kehendak dan qadha’ Allah swt. Sebaliknya, apabila perbuatan manusia itu disandarkan kepada qadha’ Ilahi, bagaimana mungkin hal itu tunduk kepada kehendak bebas manusia itu sendiri.

Untuk menjawab persoalan semacam ini dan meng-kompromikan perbuatan manusia dan kehendak bebasnya, serta penyandaran dan penisbahannya kepada qadha’ Ilahi, kita mesti membahas berbagai macam penyandaran satu akibat kepada sebab yang beraneka ragam. Sehingga akan menjadi jelaslah jenis penyandaran suatu perbuatan sengaja manusia kepada dirinya dan kepada Allah Swt.

 

Macam Pengaruh Sebab yang Berbeda-beda

Dapat kita gambarkan adanya pengaruh berbagai sebab yang berbeda-beda terhadap kejadian suatu makhluk melalui beberapa keadaan:

Pertama, beberapa sebab secara serempak dan bersama-sama memberikan pengaruh atas sesuatu. Misalnya, ber-kumpulnya biji dan air, panas dan lainnya yang menyebabkan terbelahnya biji tersebut dan keluarnya tumbuhan.

Kedua, beberapa sebab saling bergantian pengaruhnya. Setiap sebab ini memberikan pengaruh ke atas sesuatu sedemikian rupa sehingga panjang usianya terbagi sesuai jumlah sebab-sebab itu, dan setiap bagiannya merupakan akibat dari sebab-sebab yang pada gilirannya memberi pengaruh juga. Misalnya, beberapa mesin yang hidup secara bergiliran dan menjadi sebab bergeraknya sebuah pesawat.

Ketiga, masing-masing sebab mempengaruhi sebab yang lain secara beruntun seperti benturan bola-bola, dimana setiap bola itu membentur yang lainnya sehingga sebuah bola menjadi sebab pada gerak yang lain, dan bola itulah yang menimbulkan gerakan berantai, satu sama lainnya saling mempengaruhi dan menggerakkan yang lain, secara beruntun. Atau misalnya, kalau kita lihat perhatikan pengaruh kehen-dak manusia dalam menggerakkan tangannya dan pengaruh tangan dalam menggerakkan sebuah pena dan pengaruh pena dalam kejadian tindakan menulis.

Keempat, pengaruh yang muncul dari beberapa sebab  vertikal, dimana wujud setiap sebab itu bergantung kepada wujud sebab lainnya. Ini  berbeda dengan keadaan tiga di atas tadi, dimana wujud pena tidak mempunyai hubungan dengan wujud tangan dan wujud tangan juga tidak berhubungan dengan kehendak manusia.

Pada seluruh keadaan ini, bisa terjadi berkumpulnya (pengaruh) beberapa sebab pada satu akibat. Tidak sekedar bisa (baca: mungkin) terjadi perkumpulan ini, akan tetapi mesti terjadi. Dan pengaruh kehendak Allah dan kehendak manusia dalam perbuatan yang bersifat sengaja dan ber-kehendak bebas itu termasuk ke dalam keadaan terakhir, yaitu keadaan keempat. Karena sesungguhnya wujud manusia dengan kehendaknya itu berhubungan erat dengan kehendak Allah swt.

Adapun gambaran yang tidak mungkin terjadi, yaitu berkumpulnya beberapa sebab pada satu akibat, ialah berkumpulnya dua sebab pengada (dengan pengertian yang telah lalu), atau berkumpulnya dua sebab dalam memberikan pengaruh yang sama secara sejajar atau bergantian, pada satu  akibat. Seperti dalam asumsi satu kehendak yang muncul dari dua subjek (pelaku) yang sama-sama berkehendak, atau satu fenomena yang bersandar kepada dua kelompok sebab yang kedua-duanya merupakan sebab lengkap (illah tammah).

 

Jawaban atas keraguan

Berdasarkan penjelasan di atas, jelas bahwa penyandaran kejadian perbuatan-perbuatan sengaja manusia itu kepada Allah swt. tidak bertentangan dengan penyandarannya kepa-da manusia itu sendiri, karena dua penyandaran ini berada pada kepanjangan yang lainnya, dan tidak ada benturan di antara keduanya.

Dengan kata lain, penyandaran suatu perbuatan kepada manusia sebagai pelaku berada pada satu tahap. Sedangkan penyandaran perbuatan yang sama kepada Allah Swt. berada pada tahap yang lebih tinggi. Pada tahap kedua inilah  keberadaan manusia sendiri, keberadaan materi yang terlibat dalam kejadian perbuatannya dan juga keberadaan sarana-sarana yang digunakan untuk menuntaskan perbuatan tersebut, semua itu bersandar kepada Allah Swt.

Dengan demikian, pengaruh kehendak manusia yang merupakan bagian akhir dari sebab sempurna terhadap perbuatannya itu tidaklah menegasikan penyandaran seluruh bagian-bagian sebab sempurna kepada Allah Swt. Karena Dialah dzat yang memiliki seluruh kekuatan. Pada-Nyalah kekuatan untuk mewujudkan alam, manusia dan berbagai macam kondisi wujudnya. Dialah dzat yang menganugrahkan wujud kepada manusia secara terus-menerus, dan seluruh makhluk itu tidak terlepas dari-Nya sekejap pun, dalam keadaan dan kondisi apapun. Karena, makhluk-makhluk ciptaannya itu tidaklah mandiri.

Atas dasar ini, perbuatan-perbuatan sengaja manusia itu senantiasa membutuhkan dan bergantung kepada Allah swt., dan tidak mungkin keluar dari kehendak Ilahi. Seluruh sifat-sifat makhluk, ciri-ciri khusus dan berbagai kelebihannya serta batasan-batasannya selalu berhubungan dan bergantung kepada takdir dan qadha’ Allah Swt.

Tidaklah seperti apa yang telah disebutkan di atas, bahwa seluruh perbuatan ini ada kalanya hanya bersandar kepada kehendak manusia, ada kalanya pula ia hanya bersandar kepada kehendak Allah saja. Sebab, dua kehendak ini tidak berada pada satu tahap, sehingga yang tidak mungkin lagi bertemu kedua-keduanya. Dua kehendak ini pun tidak mempunyai pengaruh dalam mewujudkan berbagai per-buatan secara bergantian.

Sesungguhnya kehendak manusia, sebagaimana asal keberadaan wujud dirinya sendiri,  senantiasa berhubung  dan bergantung kepada  kehendak Allah,  dan sesungguhnya kehendak Allah Swt.  itu niscaya untuk terwujudnya kehendak manusia tersebut.

Allah swt. berfirman:

“Dan kalian tidak berkehendak melainkan Allah, pengatur alam semesta inilah yang berkehendak.” (Qs. At-Takwir: 29).

 

Manfaat Keyakinan  pada Qadha’ dan Qadar

Keyakinan pada qadha’ dan qadar, di samping merupakan peringkat yang tinggi ma’rifatullah  dalam dimensi penalaran dan mendorong manusia menuju kesempurnaan insaninya,  secara praktikal menyimpan manfaat yang melimpah. Sebagian  manfaat ini telah kami kemukakan, dan berikut ini akan  kami jelaskan sebagian lainnya.

Kaum mukmin yang meyakini bahwa setiap kejadian tidak bisa lepas dari kehendak Allah Yang Bijak, dan semua kejadian itu bersumber dari takdir dan qadha’ Ilahi, ia tidak akan merasa takut menghadapi peristiwa yang menyakitkan. Ia tidak akan pernah berputus asa. Ketika ia merasa yakin bahwa kejadian-kejadian itu merupakan bagian dari tatanan alam Ilahi Yang Bijak, pasti akan terwujud sesuai dengan kemaslahatan dan kebijaksanaan, maka ia akan menerimanya dengan lapang dada. Karena dengan jalan ini seorang mukmin akan sampai kepada sifat-sifat yang terpuji seperti: sabar, tawakal, ridha, dan sebagainya.

Demikian pula hati seorang mukmin tidak akan terkait dan tidak akan tertipu oleh dunia, dan tidak akan bangga dengan kesenangannya. Ia tidak akan tertimpa penyakit sombong. Dan ia tidak akan menjadikan nikmat Ilahi sebagai sarana untuk mencapai status sosial.

Allah swt. menyinggung  manfaat-manfaat besar ini melalui ayat-Nya:

“Tidak ada suatu bencana apa pun yang menimpa di muka bumi ini dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam  kitab lauh mahfuz, sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu agar kalian tidak berduka cita dari apa yang lepas dari diri kalian dan supaya kalian jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya terhadap kalian dan Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Qs. Al-Hadid: 22-23).

Hendaknya kita berusaha menghindari pengaruh-pengaruh yang berlipat ganda dari penafsiran yang menyimpang terhadap masalah qadha’, qadar dan tauhid dalam kemandirian pengaruh Allah. Karena penafsiran yang keliru atas masalah-masalah tersebut akan mengaki-batkan kejemuan, kemalasan, kepasrahan di hadapan tin-dak kezaliman dan kejahatan penguasa zalim, serta lari dari  tanggung jawab. Kiranya perlu kita ketahui bahwa sesungguhnya kebahagiaan dan kesengsaraan abadi manusia hanyalah dapat diusahakan melalui perbuatan bebas dan sengaja manusia sendiri. Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya ia akan mendapat pahala dari perbuatan baik yang ia lakukan dan ia akan mendapat siksa dari perbuatan buruk yang ia kerjakan pula.” (Qs. Al Baqarah:286)

Dan manusia tidak akan mendapat balasan apa-apa melainkan apa yang telah ia usahakan sendiri.” (Qs. An-Najm :39). [www.wisdoms4all.com/ind]

 

 


 


[1]. Lihat  Qs. Al-Baqarah: 117, Maryam: 35,  Gafir:  68.

 

Iklan

6 comments on “Antara Qadha’, Qadar dan Kehendak Bebas Manusia [19]

  1. Salam ‘alaykum.
    Berkaitan dgn surat Al-Najm ayat 39 yg ditulis pada akhir tulisan di atas, saya ingin membahasnya dgn menghadapkannya dgn hadis2 dan faham yg membenarkan suatu amal baik dilakukan oleh seseorang dgn diniatkan pahalanya bagi orang lain yg bukan pelaku amal tsb.

    Saya berpikir bhw Al-Najm:39 menetapkan bhw seseorang mendapat balasan (pahala) hanya dari amal baik yg dia sendiri SUDAH lakukan. Lalu bagaimana kita bisa menerima hadis2 & faham bhw seseorang mendapatkan pahala dari amal yg dilakukan oleh orang lain?
    Mohon penjelasannya. Terima kasih, & Salam ‘alaykum.

  2. ass.alaikum….
    kutipan……
    ……”Pada seluruh keadaan ini, bisa terjadi berkumpulnya (pengaruh) beberapa sebab pada satu akibat. Tidak sekedar bisa (baca: mungkin) terjadi perkumpulan ini, akan tetapi mesti terjadi. Dan pengaruh kehendak Allah dan kehendak manusia dalam perbuatan yang bersifat sengaja dan ber-kehendak bebas itu termasuk ke dalam keadaan terakhir, yaitu keadaan keempat. Karena sesungguhnya wujud manusia dengan kehendaknya itu berhubungan erat dengan kehendak Allah swt. …….”

    pertanyaan yang muncul dibenak saya setelah membaca tulisan anda khususnya bagian yang saya kutip diatas adalah :

    Apa makna dari penamaan “kehendak dan kebebasan” yang di nisbahkan kepada manusia dalam pengertian diatas jika di katakan bahwa hubungan kehendak manusia dengan kehendak Tuhan adalah “hubungan keberadaan(peng-ada-an)” atau “kebergantungan Wujud”,apakah hal ini tidak berarti bahwa sesungguhnya kehendak dan kebebasan manusia adalah “ciptaan” Tuhan itu sendiri yang bermakna “Tiadanya hakikat Kehendak dan kebebasan manusia ” dan hal ini bisa di pahami bahwa di alam realitas (hakikat) kehendak dan kebebasan manusia itu sebenarnya “tidak ada” dan hanya merupakan penisbahan majazi. sebab jika kehendak dan kebebasan itu di akui sebagai sesuatu yang ril dan memiliki “hakikat luar” maka hakikat tersebut akan bertentangan dengan Tauhid Dzati dan perbuatan atau dengan kata lain kita masih menyisakan “ruang” kesyirikan….!!!!!..?????
    wallahu a`lam

  3. Pemahaman tentang qadha, qodar, dengan kehendak manusia yang bebas sebagaimana di paparkan di atas memang tidak mudah dipahami bagi yg masih awam. Perlu langkah pemahaman secara gradual, step by step tetapi harus tuntas. Jika sepotong-potong justru berakibat pemahaman yang dangkal dan salah tafsir. Berat memang, tetapi harus dipahami setiap umat muslim secara tepat. Oleh karena itu perlu adanya pemaparan secara simple, garisbesar, tetapi tidak mengubah makna sejatinya. Pemahaman yang tidak tepat pasti tergelincir ke dalam dua kutub ekstrim yang kontradiktif. Pemahaman qadha dan qodar secara mutlak akan mengakibatkan hilangnya ihtiar, inisiatif dan kemauan dalam diri manusia. Sebaliknya, pemahaman akan kebebasan kehendak manusia menimbulkan perilaku sekuler yang ekstrim.
    Berikut saya mencoba memaparkan garis besar kaitan antara qadha, qodar, dan kehendak manusia yang bebas.

    Dari berbagai pembahasan yang pernah saya baca dan ikuti, serta penelaahan melalui penelusuran lojik (logika) bahwa Tuhan berkehendak atas seluruh mahlukNya tanpa kecuali. Akan tetapi kehendak Tuhan bukan tanpa batas misalnya seseorang yang garuk-garuk kepala karena digigit kutu pada jam 09.17 merupakan kehendak Tuhan yang sudah digariskan menjadi takdir. Pemahaman demikian adalah sangat dangkal, kiranya jauh dari nilai kebijaksanaan Tuhan. Tuhan menciptakan kutu, yang dapat menghisap darah di kepala manusia sebagai makanannya. Apa maknanya? Dengan adanya kutu, manusiajadi lebih menjaga kebersihan, dan tahi dari kutu menjadi pupuk alami untuk rambut dan kulit kepala. Buktinya, setiap kepala yang didapati banyak kutu justru rambutnya tebal, subur dan sehat. Bahkan tradisi Jawa zaman dulu, untuk menyuburkan rambut (termasuk yag rontok) dengan menaburi/memelihara kutu di kepalanya dalam jangka waktu tertentu. Lantas di mana letak kehendak Tuhan?

    Qadha, qodar atau takdir, lebih mudah dipahami sebagai rumus Tuhan. Tuhan menciptakan milyaran rumus di dunia alam semesta tempat hidup seluruh mahluk Tuhan. Tuhan menghendaki supaya seluruh mahlukNya mengikuti rumus yang telah ditetapkan oleh Tuhan, agar supaya selamat di dunia dan mendapatkan hasilnya (pahala), yang dapat diunduh dan dirasakan baik di dunia (berupa anugrah, rahmat, nikmat, karunia) maupun kelak di ahirat (syurgawi). Rumus Tuhan sebagai Kehendak (Qadha & Qadar) Tuhan. Rumus tersebut dapat dicontohkan sbb;
    Barang siapa yang giat belajar, akan pandai, barang siapa yang pandai akan mendapatkan derajat hidup yang lebih tinggi.
    Barang siapa berbuat jahat kepada orang lain akan mendapatkan dosa.
    Barang siapa yang membuahi sel telur akan menjadi janin.
    Telur yang dipanasi secara merata dengan suhu 37 derajat selama 21 hari akan menetas menjadi anak ayam.
    Barang siapa tidak hati-hati akan celaka.
    Bahkan jika dicermati, bahwa rumus ilmu pengetahuan, seperti fisika, kimia, matematika, sosiologi, psikologi, eknomi dll semuanya merupakan hasil penjabaran dari rumus-rumus yang diciptakan Tuhan. Dengan kata lain teori-teori ilmu pengetahuan sudah merupakan Qadha dan qadar Ilahi.

    Kesimpulan (teori rumus Tuhan);
    Qadha dan qadar adalah rumus-rumus yang diciptakan Tuhan sebagai pedoman atau juklak bagi mahlukNya dalam menjalankan kehidupan di dunia. Setiap mahluk harus mengikuti rumus Tuhan. Mengikuti rumus sebagai bentuk ihtiar; yakni menempuh prosedur dan tatacara yang diridhoi Tuhan. Kelalaian atau kesengajaan mengabaikan rumus Tuhan, masuk dalam kategori penyimpangan rumus. Penyimpangan rumus disebut kesalahan atau kejahatan, akibatnya adalah kegagalan, hukuman atau dosa.
    Nah, rumus Tuhan sendiri dimensinya dapat dibagi paling tidak ada dua yakni dimensi individu dan dimensi publik (hablumminannas). Rumus Tuhan yang berdimensi individu misalnya ; barang siapa giat belajar akan banyak ilmu. Barang siapa makan makanan yang tidak bersih akan sakit. Konsekuensi atas penyimpangan rumusNya berupa kegagalan dan menderita sakit. Rumus Tuhan dalam dimensi hablumminannas, misalnya setiap orang harus saling menghormati, menghargai dan membantu. Setiap orang harus berkata jujur. Akibat pelanggaran atau penyimpangan rumus akan menyebabkan orang lain celaka, maka konsekuensi atas penyimpangan atau pelanggaran rumus ini lebih berat berupa hukuman atau dosa.
    Allah adalah Maha Bijaksana artinya Allah menetapkan rumus atas segala sesuatu dengan kebijaksanaanNya. Tetapi Allah juga Al Hakim, artinya Allah Maha Mengadili atas segala pelanggaran atas rumus-rumus tersebut.
    Manusia bertugas secara wajub untuk menjalankan rumus-rumus
    Nya. Manusia bebas menentukan apakah akan tunduk pada rumus Tuhan atau mengabaikannya. Bagi yang mengabaikan maka kegagalan, dan atau hukuman atau dosa lah konsekuensinya. Sedangkan bagi yang telah mengikuti prosedur dan rumus Tuhan, maka hasil akhir tetap menurut kehendak atau ketentuan Tuhan. Sebab otoritas kemutlakan Tuhan ada pada titik finalnya, yakni dalam menentukan kuantitas dan kualitas atas segala yang telah kita ikhtiarkan sesuai ketetapan atau rumus Tuhan. Sebab Tuhan Yang Maha Menimbang tentunya Maha Tahu atas segala sesuatu yang baik dan yang buruk bagi seluruh mahlukNya. Sebagai contoh;
    Si A menderita sakit jantung koroner, ini akibat dari penyimpangan atau kelalaian atas rumus Tuhan ”bahwa setiap orang harus makan makanan yang sehat, tidak kotor, dan berlemak jenuh”. Tetapi Si A berihtiar mengikuti rumus Tuhan yang lainnya yakni ”barang siapa berobat akan diberi kesembuhan”. Nah, hasil akhirnya tetap ada ditangan Yang Maha Mengetahui. Allah juga Maha Penyayang. Kadar kesembuhan bermacam-macam tergantung Kebijaksanaan Tuhan. Jika si A masih kurang amalnya mungkin Tuhan akan melimpahkan dalam bentuk kadar kesembuhan hanya 50% supaya si A dapat melakukan koreksi diri sekaligus menjadi ladang amal jika tabah menderita. Tetapi kesembuhan tidak selalu berarti secara fisik. Tuhan Maha Penyayang, mungkin bentuk kasih sayang Tuhan berupa kematian, si A dipanggil untuk menghadap ke haribaan Allah.
    Kita manusia seyogyanya selalu berusaha mempertajam kemampuan kita untuk memahami atas segala kehendakNya. Supaya lebih bijaksana, tidak salah paham, suudhon, dan tidak salah langkah. Dalam tradisi Jawa dikenal dengan ilmu ‘nggayuh kawicaksananing Gusti’ (memahami kebijaksanaan Tuhan) dengan cara ”manunggaling kawula Gusti” yakni selevel ilmu tasawuf dalam menemukan sejatinya Tuhan Yang Maha Agung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s