Berhala sebagai Media Taqarrub

Lima kelompok penentang Islam datang ke Madinah untuk berjumpa dengan Nabi Saw. Lima kelompok itu terdiri dari lima orang dan keseluruhannya adalah 25 orang, sepakat dan seia-sekata menghadap Nabi Saw untuk berdiskusi dan berdialog. Kelima kelompok ini adalah: Yahudi, Kristen, Materialis, Manikaenism dan Penyembah berhala.

Mereka mengitari Nabi Saw dan Nabi dengan gembira menyambut kedatangan mereka. Nabi Saw mempersilahkan mereka memulai dialog tersebut.

Kelompok penyembah berhala berkata: “Kami meyakini bahwa patung-patung kami adalah tuhan-tuhan kami. Kami datang kepada Anda untuk membahas masalah ini. Sekiranya kami dalam dialog ini, kebenaran bersama kami, dan Anda ikut bersama kami meyakininya. Dan apabila Anda tidak setuju bersama kami, kami terpaksa bermusuhan dan menentang Anda.”  

Nabi Saw bertanya: “Mengapa kalian berpaling dari menyembah Tuhan dan menyembah patung-patung ini?”

Para penyembah berhala itu berkata: “Kami menjadikan patung-patung ini sebagai media untuk mendekatkan diri kepada tuhan.”

Nabi Saw bersabda: “Apakah patung-patung ini dapat mendengar? Dan apakah patung-patung ini menjalankan perintah Tuhan dan menghabiskan waktunya untuk ibadah dan taat kepada-Nya? Sehingga Anda dengan menghormatinya dapat mendekatkan Anda kepada Tuhan?

“Tidak, patung-patung ini tidak mendengar dan juga tidak menjalankan perintah dan beribadah kepada Tuhan!” Jawab para penyembah berhala itu.

“Bukankah Anda yang mengukir dan membuat patung itu dengan tangan Anda sendiri?” Tanya Nabi Saw.

“Iya, kami yang mengukir dan membuat patung itu dengan tangan kami sendiri.” Tutur para penyembah berhala itu mengakui.

“Dengan demikian pembuat dan pengukir patung-patung  tersebut adalah Anda. Kalau begitu,  merekalah yang lebih patut menyembah Anda bukan sebaliknya.” Terlebih, Tuhan Yang Mahatahu terhadap segala kebaikan dan akibat dari perbuatan serta tugas dan tanggung jawab Anda, seharusnya menitahkan kalian untuk menyembah berhala padahal Tuhan tidak menitahkan demikian.” Imbuh Nabi Saw berargumen.   

Tatkala mereka mendengar ucapan Nabi Saw, sesama para penyembah berhala bersilang pendapat.

Sebagian mereka berkata, “Tuhan menitis pada bentuk dan cetakan patung ini. Dan mengapa kami menyembah dan memberi perhatian kepada patung-patung ini adalah untuk menghormati bentuk dan cetakan ini.”

Sebagian lainnya berdalil: “Kami membuat patung-patung ini serupa dengan wajah-wajah ahli ibadah dan orang-orang yang taat kepada Tuhan, kami menyembahnya karena takzim dan penghormatan kepada Tuhan!”

Sebagian lainnya berkata: “Tatkala Tuhan menciptakan Adam dan berfirman kepada para malaikat untuk bersujud kepadanya, kita (manusia) lebih layak untuk bersujud kepada Adam dan lantaran kita belum ada pada waktu itu sehingga kita tidak dapat melakukan perintah Tuhan tersebut. Kini kami membuat patung serupa dengan Adam dan sujud kepadanya sebagai upaya taqarrub kepada Tuhan sehingga kami dapat menebus apa yang kami tidak lakukan sebelumnya, sebagaimana para malaikat dengan melakukan sujud kepada Adam sebagai upaya untuk taqarrub kepada Tuhan.”

Sebagaimana Anda membuat mihrab dengan tangan Anda sendiri dan di dalamnya Anda, dengan niat menghadap Ka’bah, melakukan sujud. Dan juga di hadapan Ka’bah,  dengan maksud takzim, Anda melakukan sujud dan ibadah. Kami pun demikian adanya, di hadapan patung-patung tersebut, pada hakikatnya kami melakukan takzim dan penghormatan kepada Tuhan.” 

Nabi Saw bersabda kepada tiga kelompok penyembah berhala ini: “Kalian semua melalui jalan yang salah dan menyimpang serta jauh dari hakikat.”

Nabi Saw menyanggah masing-masing dari jawaban mereka.

Nabi Saw bersabda pada kelompok pertama: “Adapun Anda yang berkata bahwa Tuhan menitis pada bentuk-bentuk pria yang terukir dalam patung-patung ini, dengan demikian, kita membuat patung ini serupa dengan bentuk pria tersebut dan menyembahnya. Anda dengan penjelasan ini, telah mendefinisikan Tuhan sebagaimana para makhluk dan memandangnya terbatas dan hadits (tercipta). Apakah Tuhan semesta menitis pada sesuatu dan apakah sesuatu (yang terbatas) itu dapat menampung Tuhan dalam keterbatasannya?” Lalu apa bedanya antara Tuhan dan hal-hal yang lain yang menitis pada benda seperti warna, bau, lembut, tebal, berat dan ringan. Atas dasar ini bagaimana Anda mengatakan bahwa benda tesebut menjadi tempat menitis bersifat hadits (tercipta) dan terbatas namun Tuhan yang termuat pada tempat itu, qadim dan tak-terbatas. Sementara seharusnya hal ini berlaku sebaliknya. Artinya yang menguasai adalah qadim (tiada tercipta) dan yang dikuasai hadits (tercipta).

Terlebih, bagaimana mungkin Tuhan yang senantiasa mandiri dan kaya sebelum adanya maujud-maujud semesta dan sebelum tempat, memerlukan ruang, dan menempatkan diri-Nya pada ruang tersebut.

Dalam mengomentari keyakinan Anda yang menegaskan bahwa penitisan Tuhan pada eksisten, Anda telah beranggapan bahwa Tuhan sebagaimana sifat-sifat maujud bersifat hadits dan terbatas. Konsekuensi dari anggapan ini adalah bahwa wujud Tuhan berganti dan sirna, lantaran segala sesuatu yang hadits dan terbatas, ia bersifat berubah-ubah dan sirna.

Dan apabila Anda meyakini bahwa menitis tidak menyebabkan perubahan dan kesirnaan, maka perkara-perkara seperti gerakan, diam, aneka warna, putih, hitam, merah dan sebagainya juga tidak mengalami perubahan dan dapat binasa. Lalu Anda berkata hal ini dapat diterima bahwa segala kondisi dan keadaan berlaku atas wujud Tuhan. Konsekuensi dari ucapan Anda ini adalah mencirikan Tuhan sebagaimana maujud-maujud yang lain terbatas dan hadits.

Tatkala keyakinan menitisnya Tuhan di antara patung-patung, batil dan absurd, menyembah berhala yang menjadi sandaran atas keyakinan ini tentu saja menjadi absurd dan tak-berdasar.

Para penyembah berhala diam seribu bahasa di hadapan penjelasan argumentative dan logis Nabi Saw dan meminta waktu untuk memikirkan masalah ini.[1] [www.wisdoms4all.com/ind]

 

.

 

 


[1]. Ihtijâj Thabarsi, hal. 27,  hal. 39-44, terbitan Uswah.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s