Mengenal Epistemologi Kaum Liberal

Epistemologi, sebagaimana yang Anda tahu, derivasinya dari bahasa Yunani yang bermakna teori ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan rangkapan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos, teori. Epistemologi adalah cabang ilmu filsafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan.  Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak antara ‘alim (subjek) dan ma’lum (objek). Atau dengan kata lain, epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak dari sebuah pengetahuan, konsep, dan pandangan dunia.

Dalam pembahasan Liberalisme, setelah meninjau secara global kemunculannya, masalah epistemologi yang digunakan sebagai pijakan dalam maktab ini harus dibahas. Tema pertama yang mengemuka dalam pembahasan epistemologi adalah media epistemologi yang digunakan. Kita mengenal semesta ini berdasarkan media-media epistemologi. Setiap maktab yang memperkenalkan medianya, memperkenalkan jenis epistemologi yang mereka gunakan.

Pada kesempatan ini, kita akan melihat jenis epistomologi yang diterapkan dalam maktab Liberalisme.

 

Karakteristik Epistemologi Liberalisme

Sebagian filosof yang menjadi founding fathter Liberalisme seperti John Locke memperkenalkan indra sebagai media epistemologinya; artinya ia meyakini empirisisme sebagai medianya dalam mencerap pengetahuan dan kebenaran.

Dalam masalah empirisisme mengemuka permasalahan bahwa kita hanya dapat mengenal dan mencerap sesuatu dengan indra kita. Segala sesuatu yang berada di luar ranah persepsi tidak dapat dicerap dan dikenal.

Empirisisme pertama kali diperkenalkan oleh filosof dan negarawan Inggris Francis Bacon dan dikembangkan oleh John Locke, tokoh Empirisisme, sekaligus pendiri Liberalisme, yang mendesain konsep empirisisme ini secara sistemik dalam “Essay Concerning Human Understanding (1690). John Locke memandang bahwa akal manusia pada awal lahirnya adalah ibarat sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis kosong tanpa isi, tanpa pengetahuan apapun. Lingkungan dan pengalamanlah yang menjadikannya padat berisi. Pengalaman inderawi menjadi sumber pengetahuan bagi manusia dan cara mendapatkannya lewat observasi dan pemanfaatan seluruh indera manusia. John Locke adalah orang yang tidak percaya terhadap konsepsi intuisi dan batin. Filosof Empirisisme lainnya adalah Hume. Hume memandang manusia sebagai sekumpulan persepsi (“a bundle or collection of perceptions”). Manusia hanya mampu menangkap kesan-kesan saja lalu menyimpulkan kesan-kesan itu seolah-olah berhubungan. Pada kenyataannya, menurut Hume, manusia tidak mampu menangkap suatu substansi. Apa yang dianggap substansi oleh manusia hanyalah kepercayaan saja. Begitu pula dalam menangkap hubungan sebab-akibat. Manusia cenderung menganggap dua kejadian sebagai sebab dan akibat hanya karena menyangka kejadian-kejadian itu ada kaitannya, padahal kenyataannya tidak demikian. Selain itu, Hume menolak ide bahwa manusia memiliki kedirian (self). Apa yang dianggap sebagai diri oleh manusia merupakan kumpulan persepsi saja. Dalam kaitannya dengan Liberalisme, Hume memproklamirkan Liberalisme sebagai jawaban atas tantangan zaman. Kemunculan Liberalisme merupakan keniscayaan sejarah.(Garandeu, Le Liberalisme)

Sebagian filosof yang lain dari puak Agnotisisme berpandangan bahwa sikap kami di hadapan segala sesuatu selain masalah indrawi dan empirik adalah agnostik. Filosof yang memilih sikap ini tergolong ke dalam maktab Agnotisisme. Artinya mereka tidak menetapkan juga tidak menafikan, lantaran media untuk menetapkan dan menafikan tidak tersedia. Misalnya, berdasarkan pijakan empirisisme, ruh merupakan perkara abstrak itu ada atau tidak, tidak dapat dibuktikan juga tidak dapat dinafikan bahwa ruh itu tidak abstrak.

Sebagian filosof Liberalisme lainnya juga menyokong Rasionalisme; orang-orang yang tergolong dalam maktab filsafat ini memandang akal sebagai media epistemologinya dalam mencerap makrifat dan pengetahuan. Apa yang dicerap oleh akal diterima dan dianggap sebagai pengetahuan dan menafikan apa yang tidak dicerap oleh akal.  Media pengenalan manusia adalah akalnya.

Mereka berpandangan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah  logika deduktif  yang bersandarkan kepada prinsip-prinsip swabukti (badihi) atau axioma-axioma.  Hal ini tentu saja bersebarangan dengan aliran Empirisisme yang berkeyakinan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah bersandar kepada logika induktif, pengalaman,  persepsi dan inderawi.

Aktifitas manusia harus berdasarkan pada akal dan rasionya. Artinya pengenalan akal adalah standar penerimaan harus (must) dan tidak bolehnya (must not) manusia.

Dalam kamus kaum liberal, segala sesuatu harus diuji validitasnya. Seluruhnya tidak serta merta langsung diterima. Segala sesuatu dapat diurai dan dianalisa.

Setiap gagasan dan pandangan dapat diterima melalui ujian. Setiap ujian juga tidak dapat menunjukkan pada kita realitas yang sesungguhnya. Apa  yang dikatakan oleh Kant bahwa segala sesuatunya harus dikritisi, maksudnya adalah bahwa agama juga tidak terkecuali harus dikritisi. Sebagaimana yang dilakukannya dimana ia menggiring agama dari domain akal teoritis kepada akal praktis dan menutup pintu gerbang penalaran dan argumentasi atas agama. Dan pada akhirnya mencerabut rasionalitas dari agama.

 

Media-media Epistemologi

Islam, sebagai sebuah agama dan school of thougth, menjelaskan bahwa untuk mengenal alam semesta dan hakikat benda terdapat tiga cara, ketiga cara tersebut adalah: Indera: Yang paling penting di antara mereka adalah pendengaran dan penglihatan;  Akal serta pemikiran: Dalam ruang lingkup yang terbatas dan sesuai dengan landasan-landasan serta dasar-dasarnya yang khusus, akal dapat menyingkap hakikat dengan pasti dan yakin;  Wahyu: Dengan perantara manusia pilihan  dan memiliki kedudukan yang tinggi dapat menjembatani hubungan manusia dengan alam gaib.

Dua cara yang pertama merupakan hal yang umum yang mana semua manusia dapat mengenal alam semesta melalui keduanya, begitu juga dua cara tersebut dapat membantu manusia dalam memahami syariat. Adapun cara yang ketiga hanya orang-orang khusus yang mendapatkan inayah Ilahi, dan orang-orang tersebut adalah para nabi Allah Swt.

Adapun penggunaan indera hanya untuk hal-hal yang dapat di persepsi dan nampak saja, begitu juga akal dapat kita aplikasikan pada permasalahan yang sifatnya terbatas dan memiliki landasan untuk itu, akan tetapi aplikasi wahyu lebih luas dan mencakup seluruh permasalahan, lebih umum dan luas dari permasalahan akidah dan hukum.

Persoalan yang mengedepan dalam pembahasan epistemologi Liberalisme adalah bahwa maktab ini menolak media epistemologi yang paling penting yaitu wahyu. Sementara di samping media akal dan empiris, kita (minimal bagi kaum Muslimin) meyakini wahyu sebagai media yang lainnya dalam menguak realitas.

Manusia dengan “piranti lunak” akalnya tidak dapat mencerap satu sistematika realitas. Pertama manusia tidak dapat mencerap tujuan pamungkas penciptaan dan kedua jalan untuk mencapai tujuan ini. Kendati sebagian filosof berdasarkan akalnya dapat mencerap tujuan pamungkas penciptaan, namun masyarakat secara umum tidak dapat memahami realitas ini. Terlepas dari semua ini, di antara para filosof terdapat perbedaan pendapat tentang ihwal tujuan akhir penciptaan dimana sekiranya masyarakat umum mengikut kepada filosof, tidak jelas filosof yang mana yang harus diikuti. Sebagian dari filosof ini juga memandang bahwa kehidupan ini tidak memiliki tujuan dan mengklaim bahwa kehidupan ini tidak lain sekedar nihilisme belaka. Masalah ini terkait dengan masalah manusia datang dari mana? Menuju ke mana? Apa yang harus ia lakukan? Dan sebagainya.

Manusia berhadapan dengan pelbagai problema hidup. Di antara problema tersebut adalah pertama, akal cenderung, untuk tidak mengatakan acap kali, berbuat kesalahan dan kekeliruan. Kalau kita membuka lembaran sejarah, para filosof banyak silang pendapat tentang banyak masalah. Silang pendapat ini disebabkan oleh kesalahan akal. Sebagai contoh, sekiranya kita bertanya kepada Plato tentang media apa yang ia gunakan dalam menjelaskan konsep alam imaginasi (mundus imaginalis)? Ia akan menjawab dengan media akal.  Apabila kita bertanya kepada Aristoteles ihwal media apa yang ia gunakan untuk menolak gagasan alam khayal Plato di atas? Juga ia akan menjawab dengan media akal. Misalnya lagi, kita bertanya kepada Farabi terkait dengan media apa yang ia gunakan dalam mengintegrasikan kedua pendapat ini? Ia akan menjawab dengan media akal. Benar bahwa akal sendiri akan menjumpai kesalahannya, namun terkadang untuk mengenal kesalahan ini memerlukan waktu yang panjang dan tentang filsafat penciptaan manusia ia akan berkonfrontasi dengan selaksa kesulitan. Karena tidak dapat dikatakan kepada manusia bahwa Anda tidak perlu melakukan sesuatu apa pun hingga para filosof bersepakat tentang hal ini dan memberikan resep mujarab kepada kita sehingga dengan mengenal filsafat penciptaan ini kita dapat meraup kesempurnaan.

Manusia yang hidup hingga tujuh puluh atau delapan puluh tahun, ia harus menyampaikan dirinya kepada puncak piramida kesempurnaan dan apabila ia tidak mengenal jalan untuk meraup kesempurnaan maka sudah barang tentu ia tidak akan mencapai kesempurnaan. Kita berkata bahwa Tuhan berdasarkan lutfh-Nya, dengan perantara wahyu, menganugerahkan kepada manusia jalan-jalan untuk mencapai kesempurnaan sehingga manusia dengan berpegang teguh kepadanya ia melesak mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu, karena acapkali kita menemukan kesalahan akal membuat kita “berpindah ke lain hati” untuk menjadikan wahyu sebagai media untuk mengenal realitas-realitas dan bahkan Sang Ultimat Realitas; bukan hanya karena akal kerap terjerembab dalam kubangan kesalahan namun juga keterbatasan akal menjelaskan akan adanya media wahyu ini.

Setelah kita membuktikan bahwa kehidupan manusia terus berlanjut pasca kematian dan manusia pada alam akhirat akan terus melanjutkan perjalanan hidupnya dan apa yang dilakukan manusia di dunia ini, hasilnya akan ia tuai di alam sana; masalah ini mengemuka bahwa manusia di ladang dunia ini sedemikian ia beramal sehingga ia dapat memperoleh ganjaran kebaikan di akhirat kelak.

Manusia dengan akalnya dapat membuktikan kehidupan ukhrawi, namun manusia tidak dapat mencerap bagaimana dan teknisnya seperti apa alam akhirat kelak? Apatah lagi mengetahui amalan apa yang harus dikerjakan supaya kehidupan bahagia di akhirat kelak dapat diperoleh? Dari sini saya ingin berkata bahwa Tuhan dengan media wahyu memberikan aturan praktis di tangan manusia sehingga ketika manusia berpegang teguh dengan wahyu tersebut, manusia dapat memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamatan akhirat.  

Tiadanya penerimaan wahyu dan konsekuensi keharusan berpegang teguh kepadanya dari para pemikir liberal merupakan salah satu objeksi penting maktab ini. Di samping itu, maktab yang ideal adalah maktab yang mampu sedemikian menariknya sehingga manusia dapat beramal berdasarkan pemahamannya. Boleh jadi manusia dengan akalnya dapat mengenal realitas-realitas namun ia tidak memiliki keharusan beramal dengannya. Pada maktab Liberalisme tidak terdapat garansi pelaksanaan sehingga manusia dengan apa yang dicerap dan dipahaminya ia amalkan.

Lantaran Liberalisme telah meminggirkan wahyu sebagia media epistemologinya, maktab ini berhadapan dengan pelbagai kesulitan dimana salah satu dari kesulitan tersebut adalah terlalu memuja ilmu. Francis Bacon berkata, “Ilmu setingkat dengan kemampuan dan kekuasaan.” August Comte berkata, “Mazhab yang akan diterima oleh manusia pada masa datang adalah mazhab ilmu.”

Tatkala wahyu termarginalkan maka manusia terpaksa mencari alternatif pengganti. Para pendukung Liberalisme meletakkan ilmu sebagai pengganti wahyu bagi manusia. Di Barat, orang-orang seperti Freud mengklaim bahwa ilmu harus menggantikan kedudukan Tuhan dan agama. Menurutnya, keyakinan agama merupakan rangkaian nasihat dan khayalan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Rangkaian ini harus disingkirkan dan alih-alih menjadi penyembah Tuhan, manusia harus menjadi penyembah ilmu.”

Bertrand Russel yang merupakan salah seorang filosof liberal dalam “Science World View” mengemukakan penyembahan pada ilmu dan “madinah fadhilah” (masyarakat berperadaban)  ia sebut sebagai “masyarakat ilmu.”

 

Slogan Savere Aude

Boleh jadi slogan penting yang diusung Liberalisme dalam tataran pemikiran adalah slogan yang dihembuskan oleh Kant. Kant dalam artikel ringannya berjudul “What is Enlightenment?” mengklaim bahwa slogan yang terpenting masa Renaissance adalah “Savere aude.” (berani berpikir sendiri)

Dalam beberapa tulisan, seorang proponen Liberalisme di tanah Air, acap kali menyitir slogan yang diusung oleh Immanuel Kant ini. Dari sudut pandang epistemologi yang dapat dipahami dari Liberalisme dapat diinferensi dari slogan ini. Sejatinya apa yang menyebab Liberalisme dijuluki sebagai ekstrem lantaran memarginalkan afeksi dan fokus pada akal (sesuatu yang ditolak oleh Romantisme) dan juga memarginalkan revelasi (wahyu), petunjuk agama, otoritas para pembesar gereja, penafian sacred things (hal-hal yang suci), hak-hak Ilahi, dapat dipahami dari slogan “Savere Aude,” ini. (Abdulkarim Soroush, Râzdâni wa Rausyanfikri-e Dini)

Liberalisme artinya tiada satu atau seorang pun yang suci. Bebaskan kami dari keburukan segala sesuatu yang suci ini. Demikian kurang lebih pekik seorang liberal. Jangan Anda kemukakan seseorang atau suatu ideologi sehingga menjadi tugas kami untuk memuliakan dan mensucikan mereka. Kami kaum liberal adalah kaum analis bukan kaum pemuja. Kaum kritis bukan kaum nrimo. Beginilah pahaman asli Liberalisme.

Rasionalisme, yang mengutamakan akal, dan boleh disebut sebagai seangkatan dengan Liberalisme bertitik-tolak dari titik ini. Titik yang menegaskan bahwa pekerjaan akal adalah menganalisa bukan memuliakan dan mensucikan. Pekerjaan afeksilah yang mengglorifikasi. Atas alasan inilah tanpa diminta, Liberalisme sangat memandang rendah afeksi. Glorifikasi dan pemuliaan pada seseorang atau sesuatu merupakan bentuk dari afeksi.   

Liberalisme semenjak permulaan berupaya melepaskan diri dari segala yang berbau suci. Namun pelepasan diri ini tidak terbatas pada wilayah gereja saja, wilayah para raja juga termasuk wilayah suci, wilayah para pemikir sebelumnya termasuk wilayah suci.

Kalimat yang terkenal pada abad pertengahan adalah “Guru (Plato dan Aristoteles) berkata demikian.” Dengan menukil ucapan-ucapan pemikir terdahulu dapat menutup mulut dan membuat orang-orang menjadi tunduk.

Fenomena menukil ucapan guru, yang dikultuskan secara ekstrem, untuk mendiamkan dan membuat orang-orang tunduk acapkali kita temukan dalam kehidupan keseharian kita. Tentu dengan menjadi seorang liberal, Anda didoktrin untuk tidak tunduk terhadap nukilan semacam ini.  

Dalam sebuah pandangan global nilai-nilai Liberalisme pada tataran epistemologi dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.    Segala jenis pengetahuan adalah meragukan. Tiada satu pengetahuan yang memberikan keyakinan. Isaiah Berlin menulis: “Apa yang menjadi tuntutan zaman kita, bukan iman yang kuat. Melainkan sebaliknya suburnya skeptisisme yang tercerahkan, antusias iman terhadap Kristen semakin kurang.” (Anthony Arblaster, The Rise and Decline of Western Liberalism)

2.    Karena tidak ada pengetahuan yang bersifat defintif dan meyakinkan, maka wujud Tuhan tidak dapat dibuktikan.

3.    Ketika berpandangan bahwa wujud Tuhan tidak dapat dibuktikan, maka keharusan adanya nabi untuk memandu dan memberikan petunjuk kepada manusia tidak dapat diterima.

4.    Dengan supposisi kenabian diterima, satu agama khusus tidak dapat dipandang benar, misalnya Islam, dan agama-agama yang lain dipandang salah dan batil. Oleh itu, lantaran mustahil bagi manusia untuk sampai pada pengetahuan (kognisi) yang definitif, maka klaim kebenaran atas suatu agama harus dicerabut dari akarnya dan konsekuensinya adalah menerima kebenaran seluruh agama.

5.    Dalam tubuh sebuah agama khusus juga kebenaran sebuah mazhab tertentu tidak dapat dibuktikan dan firqah yang lainnya tidak mengandung kebenaran. Misalnya, lantaran pengetahuan definitif tidak mungkin dicapai, maka pemeluk mazhab Syiah tidak dapat mengklaim bahwa mazhabnyalah yang benar dan mazhab-mazhab lainnya dalam kesesatan.

6.    Keniscayaan lainnya klaim epistemologis Liberalisme adalah bahwa bahkan dengan menerima satu mazhab tertentu, bacaan dan pemahaman tertentu tentang mazhab itu tidak dapat diterima, bacaan dan pahaman mazhab lain dipandang batil.

7.    Mengingat bahwa makrifat definitif mustahil bagi manusia, maka harus diterima bahwa setiap bacaan dan pemahaman dalam perkara sosial, agama dan mazhab tertentu memiliki kebenaran.

8.    Keniscaan lainnya klaim epistemologis Liberalisme ini lantaran tidak ada satu pun pengetahuan definitif, tidak satu pun dari klaim dan makrifat yang dapat dijadikan sandaran. Dan karena tidak satu pun klaim yang dapat diandalkan maka ia dapat dikuliti dan diletakkan pada altar kritik.

 

Banyak aliran pemikiran yang terkait berkelindan dengan Liberalisme ini seperti Humanisme, Individualisme, Agnotisisme, Skeptisme, Utilitarianisme, Rasionalisme, Empirisisme, anti-Tradisionalisme, Modernisme, Pluralisme. Pijakan epistemologi Liberalisme yang dapat kita pahami dari Arblaster adalah Skeptisme yang bersumber dari Rasionalisme. Meragukan segala sesuatu terkait dengan makrifat dan pengetahuan. Dengan menerima fondasi Liberalisme seperti ini, orang-orang diajak untuk menafikan eksistensi Tuhan, agama, sacred things, dan menyeru pada Pluralisme. Liberalisme sangat menentang adanya pemahaman pembatasan pada satu sumber makrifat.  Liberalisme mengajak pada keragaman sumber makrifat. Sebuah ajakan yang belakangan melahirkan ajaran Pluralisme. Bahkan menurut Legenhausen, aliran Pluralisme ini lahir dari rahim dan tumbuh-berkembang dalam pangkuan Liberalisme. (Legenhausen, Islam and Religious Pluralism)

Dari tulisan ringan ini dapat kita katakan bahwa pijakan epistemologi yang dikembangkan oleh kaum liberal adalah epistemologi sinkret antara Empirisisme (indra-persepsi) dan Rasionalisme (akal). Aliran-aliran yang terkait erat dengan Liberalisme ini, meski beragam dan variatif namun bermuara pada salah satu dari kedua media epistemologi ini, indra dan akal. Tentu saja kaum Liberal tidak menggunakan media wahyu sebagai sumber pengenalan dan epistemologi. Alternatif pengganti wahyu yang ditawarkan kaum Liberal sebagai media epistemologi, bahkan media bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan, adalah sains. Sains yang berpangkal dari olah persepsi dan kerja rasio. Bagi Anda yang tertarik untuk mengkaji masalah epistemologi lebih jeluk, saya persilahkan Anda untuk membaca artikel-artikel tentang epistemologi pada site ini. Terima kasih. [www.wisdoms4all.com/ind]  

 

 

 

  

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s