Mendulang Cahaya Iman [1]

“Apakang Anda berkata bahwa tidak ada yang dapat menggantikan agama? Namun tidakkah Anda meyakini bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dapat mengambil peran agama dan menyediakan manusia sebuah hidup yang menyenangkan?” Kataku penuh selidik.

“Tidak, anakku. Bahkan jika manusia menggantikan agama dengan sains dan mencari kebahagiaan di dalamnya, ia tidak akan mampu memberikan apresiasi terhadap makna kebahagiaan yang sebenarnya. Kemajuan sains dan teknologi boleh jadi menyediakan manusia dengan kesenangan material. Manusia dapat melakukan perjalanan ke tempat yang jauh dalam hitungan jam, mendengarkan siaran-siaran luar negeri, melihat permukaan bulan melalui TV selagi ia duduk di kamar tidurnya. Namun manusia tidak dapat sebenar-benarnya menjalani kebahagiaan, lantaran ia tidak dapat mengakhiri ketidakadilan, opresi dan tirani, yang dibenci oleh tabiat manusia.

“Ia tidak dapat menumbangkan insting batinnya yang membenci kemunafikan, agresi, eksploitasi orang lemah oleh orang kuat. Ia tidak berdaya mengakhiri perlombaan dunia yang gila demi mencapai kekayaan dan kekuasaan. Segala yang ditawarkan sains kepada manusia dikendalikan oleh dua faktor: baik dan buruk. Manusia dapat mengarahkan laju-gerak sains berdasarkan keinginannya, misalnya, sebuah alat untuk perjalanannya menyenangkan, namun ia juga dapat menjadi alat untuk pengrusakan. TV merupakan media informasi yang sangat bermanfaat, namun ia juga menyebarkan kerusakan dan ketidaksenonohan dalam masyarakat.

Segera setelah kami memutuskan untuk menikah, kami mendapatkan seorang ustadz untuk membantu Sarah untuk menjadi seorang Muslimah. Suatu petang, kami berangkat ke rumahnya dan di tengah perjalanan, saya membayangkan bahwa ustadz tersebut merupakan seorang tua dengan rambut putih dengan wajah keriput. Kami berdua berpikir bahwa kami tidak akan memahami ceramahnya. Sarah berkata kepadaku, “Kau harus memahami apa yang ia katakan kepada kita!”

“Mengapa?” Tanyaku

“Karena kau adalah seorang Muslim juga,” Jawabnya.

 Aku menjawab dengan kering, “Oh Iya, Aku seorang Muslim.”

Tatkala kami tiba di rumahnya, Sarah meyakinkan aku, “Aku takut!”

Saya sendiri sedikit takut dari langkah penting yang ingin kami ambil. Untuk pertama kalinya saya berbicara dengan seorang ustadz. Saya takut ia akan menyebutku sebagai seorang pemuda yang menyimpang. Teman-temanku sering mengingatkan bahwa ustadz ini adalah seorang yang menentang segalanya, anak muda, keindahan, pendidikan dan kekayaan.

Karena ustadz ini tidak memiliki keistimewaan tersebut, teman-temanku berkata bawah ia bersikap aneh. Kepalaku dicecoki dengan pikiran-pikiran pesimistik, namun aku berkata kepada Sarah, “Siapa takut?”

Hal ini merupakan sebuah urusan biasa; dalam tempo beberapa menit engkau akan menjadi seorang Muslimah, sebagaimana aku.”

“Bagaimana engkau menjadi seorang Muslim?” Tanya Sarah.

“Saya adalah seorang Muslim karena keturunan.”

Saya tersenyum, melanjutkan: “Yang saya maksud adalah bahwa saya lahir dalam sebuah keluarga Muslim, kemudian saya menjadi seorang Muslim.”

Dengan penuh pikir, Sarah berkata: “Nampaknya engkau tidak benar-benar tahu mengapa engkau seorang Muslim.”

Saya mengetuk pintu, yang dibuka oleh seorang anak kecil yang menuntun kami ke sebuah ruangan dimana sang ustadz menunggu. Saya sangat terkejut melihat ia adalah seorang muda dan segar-bugar. Ia menyambut kami dengan hormat dan pelan-pelan saya merasa kerasan (at ease). Saya melihat Sarah dan dapat melihat ia tidak lagi gugup atau takut.

Saya berkata kepadanya tujuan dari kunjungan kami. Bahwa saya ingin ia mengajar Sarah syahadah (ikrar kesaksian Keesaan Tuhan dan Kenabian Muhammad Saw).

Ia dengan tenang berkata kepadaku, “Tapi itu tidak cukup, anakku.” Saya kaget mendengar ia berkata seperti itu kepadaku, karena ia hanya beberapa tahun lebih dariku.

“Apa lagi yang perlu kami lakukan.” Tanyaku.

Ia diam sejenak. Saya menghargai diamnya, karena saya tidak suka orang-orang yang berusaha mengisi setiap ruang dengan kata-kata, namun saya merasa risau kalau-kalau kami gagal memenuhi tujuan kami, lalu aku berkata, lalu aku berkata: “Baiklah?”

Ia tersenyum dan berkata: “Saya ingin membantumu, namun sebagai seorang ustadz, saya tidak dapat menawarkan Islam hanya dalam bentuk ucapan. Saya memiliki tanggung jawab bagi agama saya.”

Saya berkata kepadanya bahwa hal itu merupakan urusan pribadi dan ia tidak memiliki tanggung jawab terhadap kami. Ia menghela nafas dan berkata: “Saya tidak bertanggung jawab kepada manusia, namun saya memiliki tanggung jawab besar kepada Allah Swt dan Islam. Menurutmu apakah orang-orang beragama bebas berbuat sesuka hatinya?” Sejatinya, seorang ustadz memiliki tugas yang berat. Bukan hal yang mudah untuk dapat memikul beban tersebut.”

Kata-katanya sangat berpengaruh dalam diriku, lalu aku bertanya lagi: “Apa yang Anda harapkan dari kami?”

“Saya tidak mengharapkan apa pun darimu. Kau ingin aku menyaksikan pengulangan beberapa kata, namun saya tidak setuju dengan hal ini kecuali Sarah mengenal Islam dan memahami ajarannya.”

Pada poin ini, saya menyadari betapa serius dan tolerannya ia. Namun, saya berpikir alangkah baiknya kalau saya melakukan yang terbaik, karena saya pikir Sarah tidak akan mampu memahami konsep-konsep Islam. Lantaran saya sendiri tidak mampu. Sarah mengerti maksudku dan berkata: “Jangan memaksa terus. Saya menghargai pengabdiannya terhadap tugas-tugasnya, dan saya pikir saya kita harus mendengarkannya. Jika saya mengerti jalur filsafatku, mengapa saya tidak mengerti Islam?”

Saya berpaling kepada sang ustadz dan, dengan sedikit malu, berkata, “Kami ingin Anda melakukan apa yang baik, dan kami akan membayar Anda atas waktu yang Anda habiskan bersama kami.”

Ia menggelengkan kepalanya dan berkata: “Kami tidak melakukan barter atas agama kami. Seorang ustadz hanya mengharapkan ganjaran dar Allah. Kita harus mempersembahkan ibadah kita tanpa adanya harapan terhadap ganjaran atau kompensasi atas perbuatan tersebut.

Saya menyesali ucapan-ucapanku, dan Sarah menegurku, “Engkau telah berbuat kesalahan yang lain.”

“Saya minta maaf, namun seseorang banyak mendengar rumor.”

Pembimbing agama kami menjawab: “Seseorang harus yakin terhadap kebenaran dan tidak mempercayai setiap apa yang dikatakan.”

“Manusia sangat membutuhkan agama. Ia tidak dapat hidup tanpanya.” Imbuh sang ustadz.

“Mengapa tidak?” Tanyaku.

“Tabiat manusia suka mencari kesenangan dan kenyamanan, dua hal yang tidak dapat diperoleh kecuali melalui kebahagiaan. Dan kebahagiaan tidak dapat dijumpai kecuali meliputi seluruh aspek hidup. Agama merupakan sebuah sistem yang menyuguhkan kebahagiaan dan kepuasan, dan melimpah dengan nilai-nilai ideal dan pendidikan.” Tuturnya.

“Apakang Anda berkata bahwa tidak ada yang dapat menggantikan agama? Namun tidakkah Anda meyakini bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dapat mengambil peran agama dan menyediakan manusia sebuah hidup yang menyenangkan?” Kataku penuh selidik.

“Tidak, anakku. Bahkan jika manusia menggantikan agama dengan sains dan mencari kebahagiaan di dalamnya, ia tidak akan mampu memberikan apresiasi terhadap makna kebahagiaan yang sebenarnya. Kemajuan sains dan teknologi boleh jadi menyediakan manusia dengan kesenangan material. Manusia dapat melakukan perjalanan ke tempat yang jauh dalam hitungan jam, mendengarkan siaran-siaran luar negeri, melihat permukaan bulan melalui TV selagi ia duduk di kamar tidurnya. Namun manusia tidak dapat sebenar-benarnya menjalani kebahagiaan, lantaran ia tidak dapat mengakhiri ketidakadilan, opresi dan tirani, yang dibenci oleh tabiat manusia.

“Ia tidak dapat menumbangkan insting batinnya yang membenci kemunafikan, agresi, eksploitasi orang lemah oleh orang kuat. Ia tidak berdaya mengakhiri perlombaan dunia yang gila demi mencapai kekayaan dan kekuasaan. Segala yang ditawarkan sains kepada manusia dikendalikan oleh dua faktor: baik dan buruk. Manusia dapat mengarahkan laju-gerak sains berdasarkan keinginannya, misalnya, sebuah alat untuk perjalanannya menyenangkan, namun ia juga dapat menjadi alat untuk pengrusakan. TV merupakan media informasi yang sangat bermanfaat, namun ia juga menyebarkan kerusakan dan ketidaksenonohan dalam masyarakat.

“Ledakan-ledakan diadakan untuk membangun jalan, namun ia juga membunuh orang-orang tak berdosa. Oleh itu, manusia secara konstan berjuang antara apa yang ia suka dan benci. Tiada kehidupan dalam kehidupan semacam ini.”

“Tidakkah moralitas yang ideal dapat menggantikan agama?” Protesku. Maksud saya, jika moralitas sedemikian maju dan serba-meliputi, maka keadilan dapat dicapai dalam masyarakat.”

“Idealisme semacam ini tidak memadai bagi seseorang untuk mencapai kebahagiaan. Ia merupakan sebuah hasil dari sebuah situasi darurat, bukan sebuah fondasi yang kuat. Belas-kasih, misalnya, merupakan sebuah fitur dari idealism semacam itu dan sebuah kecendrungan natural dalam diri manusia. Namun ia perlu distimulasi. Seorang yang berbudi luhur tidak dapat menolong orang miskin yang ia jumpai. Hanya sebuah insiden yang dapat memompa belas kasih dalam hatinya. Jika ia tidak berjumpa dengan orang miskin ini, belas-kasih ini tidak akan berguna dan masyarakat tidak akan mengambil manfaat darinya. Belas kasih di sini hanyalah sebuah contoh dari pandangan ideal ini dan simpati sosial. Ia tidak bersumber dari sebuah pijakan yang solid. Oleh itu, ia tidak dapat menjadi penyebab manusia merasa senang dan bahagia; jaraknya sangat terbatas.” Sanggahnya argumentatif.

Selagi saya mendengarkan dengan serius, sebuah pertanyaan lain terlintas dalam benakku.

“Bagaimana pendapat Anda tentang kepentingan timbal-balik? Dapatkah hal ini menggantikan agama dan menciptakan kebahagiaan untuk manusia?” Tanyaku penasaran.

“Tidak, melaksanakan hubungan timbal-balik sendiri tidak membawa kebahagiaan.” Pungkasnya.

“Mengapa tidak?” Tanyaku lagi.

Ia menjawab, “Lantaran terdapat kesenjangan menganga lantaran perbedaan kepentingan setiap orang. Acap kali kepentingan seseorang berbenturan dengan kepentingan orang lain. Seseorang boleh jadi meraup keuntungan sementara yang lain menderita kerugian. Alangkah seringnya istana dibangun di bawah puing-puing penderitaan orang lain! Alangkah seringnya kota-kota bermunculan di atas sisa-sisa nestapa orang lain! Alangkah seringnya seseorang merasa bahagia di atas kesengsaraan orang lain! Penderitaan tidak bisa dibasmi melalui setiap hukum kepentingan timbal-balik. Kebahagiaan tidak dapat dipenuhi dengan cara sedemikian. Manusia masih akan menghadapi apa yang ia tidak senangi dan akan mengejar kesenangannya sendiri dengan segala cara.”

“Well, tidakkah pendidikan dan pencerahan dapat dicapai oleh orang tersebut?” Tanyaku.  

“Pendidikan yang baik yang Engkau gambarkan, timbalannya, memerlukan guru yang baik yang mengawasi proses pembelajaran. Mereka, sebagai timbalannya, perlu diawasi dan seterusnya, sebuah mata rantai yang tak berkesudahan. Pendidikan tidak bermula dari titik-nol. Nol tidak dapat menghasilan angka-angka. Oleh itu, seseorang masih membutuhkan agama; sebuah kebutuhan yang dapat menyediakan seluruh aspek kebahagiaan dan kesenangan di atas pijakan yang tak goyah dan berganti.” Jawabnya.  

Sang ustadz berhenti berbicara dan kami tetap diam, memikirkan apa yang ia katakana. Setelah beberapa lama, saya bertanya, “Mengapa Anda berhenti berbicara, ustadz? Apakah kami telah menyusahkan Anda atau telah banyak menyita waktu Anda?”

Ia menjawab: “Tidak, tapi saya ingin kalian beristirahat sejenak dan memikirkan apa yang kalian dengarkan hari ini.”

Saya memandang Sarah, yang berbisik, “Oh, please..minta beliau untuk melanjutkan. Saya cukup puas dan tidak ada objeksi.”

“Silahkan Anda lanjutkan.” Pintaku.

Ia berkata, “Kini kalian sepakat bahwa seorang manusia memerlukan agama, yang bermakna bahwa ia memerlukan para rasul dan para nabi.” Namun kita harus mengetahui tabiat agama ini dan pesan yang dibawanya yang dapat mengantarkan manusia kepada kedamaian sejati.”

“Iya, katakan kepada kami pesan yang dibawa oleh Islam.” Kataku.

“Pertama, ia harus sejalan secara total dengan insting manusia bukan bertentangan dengannya. Kedua, ia harus masuk akal dan dalam skope pemahaman manusia. Ketiga, ia harus menyuguhkan nilai-nilai kebenaran dan moral yang dapat dibangun dalam kehidupan individual seseorang. Ia harus menggunakan teladan yang baik yang akan memperkenalkan kita dengan esensi dan tujuannya sehingga ktia dapat mengikuti ajarannya. Islam dapat melakukan hal ini.” Jawabnya menjelaskan.

Saya bertanya lagi, “Bagaimana kita mengetahui bahwa Islam dapat melakukan hal ini?”

Katanya, “Hal inilah yang ingin saya jelaskan, tapi akan memerlukan waktu. Dapatkan kalian bersabar?”

Kendati merupakan kebiasaanku untuk sesekali melirik jam tanganku, tapi kali ini saya lupa untuk melakukan hal itu. Sudah hampir jam 10 Malam.  Kami sebenarnya dapat pamitan sejam sebelumnya supaya Sarah dapat memasuki asramanya sebelum pintu gerbang ditutup. Kami berdiri untuk pamitan dan menyampaikan harapan bahwa kita segera akan berjumpa lagi. Sangkaan kami sebelumnya kini berubah total, dan kami penasaran untuk datang lagi kepadanya.

Tatkala kami meninggalkan rumahnya, kami perhatikan ada seseorang yang mengikuti kami dari belakang namun kami tidak dapat melihatnya karena kegelapan malam.

Sarah merasa takut kalau-kalau orang itu adalah sepupunya, yang mencintainya dan merasa cemburu, karena Sarah memutuskan untuk menikah denganku. Saya coba menenangkannya tatkala kita bergandengan tangan di sepanjang jalan menunju asrama, dimana kami dapati pintu gerbang asrama telah tertutup.

Aku dan Sarah kebingungan apa yang harus dilakukan. Akhirnya aku berkata, “Kita harus putuskan sekarang. Kita tidak dapat berdiri di sini sepanjang malam. Saya harap tadi kita pulang lebih dahulu.”

“Kita tidak membuang waktu kita secara percuma! Kita perlu mendengarkan ceramah itu. Saya kira ceramah yang disampaikan oleh ustadz itu sangat berharga untuk kita dengarkan. Kekuatiran saya kalau-kalau orang yang mengikuti kita adalah sepupuku. Saya yakin ia akan menjadi penghalang jalan kita.” Katanya.

Saya setuju dan memiliki kerisauan yang sama. Akhirnya, saya mengusulkan ia untuk melewati malam ini di rumahku yang kecil dan saya akan tidur di sofa di ruangan tamu. Ia setuju, tatkala kami sampai di depan pintu rumah, saya merasa ada seseorang yang mengawasi kami.

Hari selanjutnya, tatkala saya sedang menuju ruang kuliah, seorang pelajar semester pertama menyerahkan sebuah surat bersampul. Saya membuka dan membacanya:

“Kamu kira saya membiarkanmu bersenang-senang selagi hatiku terluka? Saya akan melakukan segalanya hingga kamu meninggalkan sepupuku. Saya akan katakan kepada keluarganya tentang rencanmu dan bagaimana ia menghabiskan malam-malamnya di rumah-rumah orang asing dan mengunjungi peramal Muslim.”

Surat itu sangat membuat aku kesal. Saya melihat ke setiap sudut yang kosong dan duduk berpikir. “Saya tidak dapat menyerahkan tunanganku. Ia telah menjadi bagian hidupku.” Kataku bergumam, “Namun saya boleh jadi membahayakan hidupnya. Sesuatu yang sangat aku pedulikan. Saya harus temukan jalan untuk mengeluarkannya dari kesulitan. Hal ini tidak dapat dicapai kecuali dengan pernikahan.”

Saya putuskan untuk tidak mengatakan kepada Sarah ihwal surat tersebut dan meminta kepada sang ustadz untuk menjalankan tugasnya segera. Saya berdalih bahwa ketika kami menjadi pasangan suami-istri, keluarganya tidak akan turut campur. Jadi saya tidak pernah mengatakan kepada Sarah tentang surat itu namun saya menjumpainya sedikit terganggu hari itu. Saya mencoba menghiburnya dan menyampaikan rencanaku untuk menyelesaikan masalah yang kami hadapi secepatnya. Ia berkata dengan ragu, “Saya kira masalahnya tidak akan segera tuntas.”

“Saya akan melakukan segalanya untuk membuatnya menyelesaikan masalah ini.” Kataku meyakinkan.

“No. please. Jangan lupa ia memiliki tanggung jawab bagi agamanya dan akan menjalankan tugasnya dengan baik.” Katanya mengingatkan.

“Kau benar Sarah. Anyway, kita lihat nanti. Pukul lima petang ini saya siap menemanimu ke rumah ustadz.”

Tepat pukul lima, saya menjumpai Sarah menunggu di depan pintu gerbang asrama. Ia terlihat pucat dan kuatir. Saya bertanya kepadanya ada masalah apa namun ia tersenyum dan berkata, “Tidak ada masalah.” Meski saya telah mencoba untuk mencari tahu mengapa ia sedemikian risau, ia tidak mengatakannya kepadaku dan memintaku bersegera untuk sampai ke rumah sang ustadz. Saya kuatir jangan-jangan ia telah menerima surat ancaman yang sama. Saya mencoba membicarakan hal lain untuk menarik perhatiannya.

Kami tiba di kediaman ustadz dan segera hadir di hadapannya. Saya memintanya untuk memulai dan cepat mengakhirinya supaya terhindar dari kesulitan seperti yang kami hadapi pada waktu itu. Ia meminta maaf dan menyesali atas apa yang terjadi namun saya berkata, “Oh..Anda tidak perlu meminta maaf, kami benar-benar tertarik dengan kuliah Anda, namun kami lupa memperhatikan waktu.”

“Tanpa kesusahan, ketenangan tidak dapat dihargai. Apakah kalian sepakat?” Tuturnya.  

“Boleh jadi.” Kataku.

“Engkau tidak yakin. Namun tidakkah engkau pernah meminum air setelah beberapa saat dahaga dan melakukan hal yang sama pada waktu biasa? Pernahkah engkau memperhatikan perbedaannya? Kadang-kadang engkau berjalan untuk beberapa lama di tengah terik panas matahari dan mencari tempat teduh supaya terhindar dari teriknya. Dapatkah tempat berteduh itu sama dengan rumahmu?”

“Ketika seseorang jatuh sakit, tidak dapat bergerak dan tidak mampu menikmati hidup, dan pada akhirnya sehat kemabli, tidakkah ia merasa lebih bersyukur atas kesehatan yang ia miliki sebelumnya?” Dalam masa sakit, ia menghargai besarnya nikmat kesehatan.”

Kami mendengarkan dengan serius dan saya berkata, “Tepat seperti yang Anda katakan.”

“Atas alasan itu mengapa terkadang kesusahan dan masalah dapat benar-benar menjadi keuntungan kita. Syukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya yang melimpah. Tanpa merasakan sakit dan derita, seseorang tidak dapat menjalani kebahagiaan yang sesungguhnya.”

“Syukur kepada Tuhan.” Tuturku mengulangi.

Ia melanjutkan, “Kita sepakat bahwa manusia membutuhkan agama yang sejalan dengan seluruh aspek kehidupan dan harus selaras dengan insting dan wisdom manusia. Sebuah agama yang memberikan teladan dan contoh-contoh baik. Islam dapat melakukan hal ini. Konsep Islam diturunkan kepada manusia melalui kenabian. Konsep ini mengandung segala yang diperlukan umat manusia.

Al-Qur’an menegaskan: (yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada apa (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Qs. Al-Baqarah [2]:3-5)

“Iman kepada yang ghaib adalah sejalan dengan tabiat manusia. Meski memiliki perbedaan sikap dan pendapat, manusia secara umum merasakan bahwa terdapat kekuatan di luar batasan panca indranya. Ia berlindung kepadanya ketika kesusahan mendera. Ia bak seseorang yang terbang di atas sebuah pesawat, ketika pilot tiba-tiba mengumumkan bahwa beberapa kerusakan terjadi dan dapat menyebabkan jatuhnya pesawat. Ia mengingatkan setiap penumpang untuk bersiap-siap dan menggunakan sabuk pengaman atau pintu darurat. Setiap orang melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing. Seorang yang pincang tidak dapat bergerak, meski ia mendapatkan dirinya mendekati kematian, ia tidak putus harapan. Ia berpikir bahwa terdapat sebuah kekuatan yang Mahapengasih yang kapan saja dapat menolongnya. Ia beriman pada kekuataan ghaib yang melebihi kekuatan teknologi dan sains. Hingga akhir saat, orang ini berharap pada belas kasihan.”  

“Contoh lain adalah seorang ibu yang putranya jatuh sakit secara serius. Para dokter angkat-tangan dan putus asa mengobatinya, namun sang ibu masih berharap kesembuhannya. Ia merasa ada kekuatan yang mahakuat yang dapat melakukan hal ini. Inilah yang dimaksud beriman kepada yang Ghaib, sebuah keyakinan yang sejalan dengan kebutuhan umat manusia.

Contoh lain adalah seorang kapten sebuah kapal yang hilang di tengah samudera yang luas. Apa yang dirasakannya ketika itu? Ia memohon kepada yang ghaib, kekuataan yang tertinggi yang berada di luar kekuatan materialnya. Faktor riil yang dibutuhkan orang itu adalah meyakini yang ghaib. Agama merupakan sebuah insting yang terdapat diri setiap umat manusia, bahkan yang paling primitif sekalipun. Kajian metafisika dan paranormal, merupakan sebuah kecendrungan internal manusia. Insting sedemikian dijumpai bahkan di kalangan anak-anak yang senantiasa menanyakan hal tersebut. Pertanyaan anak kecil tanpa sengaja mengekspresikan perasaan atas kekuatan ghaib ini yang ingin ia pahami.”

“Keyakinan kepada yang ghaib ini merupakan sebuah yang esensi dalam agama, karena secara natural membimbing setiap orang kepada keyakinan kepada Allah. Keyakian semacam ini terkadang begitu jelas dan terkadang kabur, tergantung pada penjelasan yang disampaikan. Aspek yang lain keharmonian keyakinan ini dengan insting manusia adalah kesatuan alam semesta ini dan koordinasi akurat di dalamnya.” Tuturnya panjang lebar.

Saya melongok ke jamku. Melihat kami masih punya waktu, “Apa yang Anda maksud dengan koordinasi di alam semesta?” Tanyaku penasaran.

Ia berkata, “Pembahasan ini akan memakan waktu.” Saya perhatikan kalian tergesa-gesa, jadi kita dapat mendiskusikan masalah ini di lain waktu.”

Saya berpaling kepada Sarah, yang sepakat, berkata, “Kita sebaiknya menghindari masalah yang terjadi kemarin, khususnya semenjak…”

“Khususnya semenjak apa? “Tanyaku.

“Oh. Tidak,” katanya padaku, “Tolong agendakan pertemuan kita selanjutnya setelah hari Rabu karena saya punya ujian pada hari itu.”

Saya bertanya kepada ustadz untuk menetapkan hari pertemuan kami selanjutnya dan ia berkata bahwa ia tidak ada waktu hingga petang Sabtu depan. Saya kira hari-hari akan berlalu tanpa meraih tujuan kami. Saya memohon kepadanya, “Please, tidakkah Anda dapat membagi waktu dua jam sebelum Sabtu?”

Ia berkata, “Saya cukup sibuk dengan pengajaran, telaah dan pekerjaan atas beragam pertanyaan yang diajukan orang lain.”

“Tidakkah Anda dapat menunda beberapa pelajaran Anda?” Ujarku menawar. Ia sambil tersenyum berkata, “Tidakkah engkau berpikir bahwa saya memerlukan perhatian penuh atas pelajaranku?”

Saya merasa malu dan terdiam beberapa saat, lalu berkata, “Sesungguhnya, saya tidak mengira Anda sibuk dengan pelajaran-pelajaran.”

“Pengetahuan adalah ibarat samudera. Seseorang tidak dapat mencapai dasarnya kecuali setelah beberapa lama berusaha berkelanjutan. Ia boleh jadi mengambil seluruh waktu manusia. Tatkala seseorang memperoleh sebagian pengetahuan seseorang yang lain menyelam lebih dalam untuk mendapatkan lebih.”

Saya bertanya, “Oh. Apakah Anda melakukan hal yang sama?”

Ia tersenyum dan berkata, ” Apakah kita ini adalah kelompok khusus, berbeda dari yang lain? Kita adalah sama sebagaimana peneliti yang lain. Kita belajar ilmu-ilmu agama dan hal-hal yang berkenaan yang boleh jadi mempengaruhi agama. Seseorang belajar terus mencari gagasan-gagasan konstruktif atau ide yang lebih baik selama hayat dikandung badang.”

Saya berkata, “Jadi Anda tidak hanya terbatas mempelajari masalah halal dan haram saja?”

Ia berkata, “Keduanya merupakan inti dari studi kami, namun pengetahuan ini memiliki dimensi tertentu yang memerlukan pengkajian disipilin ilmu lain.”

“Apa dimensi-dimensinya? “

Ia berkata, “Perlu baginya mengetahui logika, linguistik, hadis, usul dan alasan-asalan di balik aturan-aturan Islam. Orang yang membimbing seseorang pertama-tama harus mengenal bahwa Allah Swt, merupakan sumber segala bimbingan. Ia memerlukan usaha keras dan riset yang rigoris.”

“Saya tidak pernah memikirkan hal itu,” kataku mengakui. “Saya dulu berpikir bahwa seorang alim lebih kurang masalah yang dihadapinya, kurang tanggung-jawab yang diembannya dan orang yang paling mudah hidupnya.” “Sayang sekali. Perasaan seperti itu cukup untuk menciptakan gap antara ulama dan kaum intelektual. Namun masing-masing perlu saling mengerti dan menyebarkan pesan hidup secara utuh. Barangkali engkau akan mengerti di masa mendatang apa yang engkau tidak ketahui hingga kini.” Imbuhnya berharap.

Saya berkata, “Tentu saja.”

Ia berkata, “sampai ketemu lagi, saya ingin kalian membaca dua buku tentang agama ini.”

Saya menerima buku itu, dan pamitan dengan janji untuk berjumpa pada minggu berikutnya. [www.wisdoms4all.com/ind]

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s