Tuhan Mencipta karena Membutuhkan?

Pada postingan sebelumnya, tepatnya pada artikel yang bertajuk “Hidup yang tidak Dikaji, bukanlah Hidup” disebutkan beberapa alasan penciptaan manusia dan semesta. Namun masih ada sesuatu hal yang mengganjal dan menggelitik kuriositas saya tetap pada poin mengapa Tuhan menciptakan alam beserta isinya ini. Namun stressing pada titik bukankah Allah Swt tidak memerlukan sesuatu? Kalau memang ia bebas dan tidak membutuhkan sesuatu mengapa Dia harus menciptakan dunia? Kalau Anda mengatakan bahwa Allah Swt itu Maha Segala-galanya, persoalan ini pun akan kembali muncul ke permukaan yaitu bahwa Allah Swt itu harus menciptakan dunia beserta isinya supaya keagungan-Nya bisa terlihat. Apakah ini bukan sebuah bentuk kebutuhan-Nya? 

 

 

Terima kasih karena Anda telah membaca tulisan sebelumnya dan tidak berhenti di situ, Anda tidak lupa mengomentari bahkan mengajukan sebuah pertanyaan yang menurut hemat kami, “kritis.” Dalam menjawab pertanyaan Anda ini, sebagai pengantar akan kami jelaskan permasalahan-permasalahan berikut ini:

Pertama, tujuan manusia dalam menjalankan segala aktivitasnya adalah untuk mencapai kesempurnaan atau untuk menghilangkan kekurangannya. Sebagai contoh, manusia mengkonsumsi makanan sehingga ia tidak akan lagi kelaparan dan memenuhi segala kebutuhan nutrisi yang diperlukan oleh badan. Manusia mengenakan baju supaya ia terlindungi dari teriknya panas sinar matahari atau untuk menjaga badannya supaya tidak kedinginan. Manusia melaksanakan pernikahan untuk memenuhi kebutuhan seksualnya. Manusia menyembah Allah Swt supaya ia sampai kepada puncak kesempurnaan,  mendekatkan diri kepada-Nya dan berkhidmat kepada ciptaan-Nya sehingga dengan aktivitas yang ia kerjakan ini akan mengantarkannya kepada kesempurnaan secara maksimal. Namun, Allah Swt tidak mempunyai kekurangan sedikit pun sehingga dengan perbuatan yang Dia laksanakan berpotensi menghilangkan kekurangan yang ada pada-Nya dan tidak perlu berupaya untuk menuju kepada kesempurnaan-Nya.

Kedua, mempunyai tujuan, tidak selamanya selalu dibarengi dengan kebutuhan, namun keberadaannya yang sempurna, tidak akan memerlukan pertolongan orang lain, merupakan ciri-ciri dan sifat-sifat dari wujud yang sempurna dan penuh kasih sayang. Allah Swt yang Maha Penyayang juga tidak mencari keuntungan bagi diri-Nya, tetapi tujuan paling penting dan paling utama yang dipunyai-Nya adalah pencapaian kebaikan bagi hamba-hamba-Nya dan menciptakan kesempatan dan peluang bagi hamba-hamba-Nya di muka bumi ini guna menuju kepada kesempurnaan maknawinya. 

Oleh karena itu, tujuan penciptaan ini adalah pemanduan setiap mumkinul wujud untuk menuju kepada kesempurnaan yang bisa dicapainya dan yang layak baginya; dimana dalam penciptaan ini tiada menyisakan hasil bagi Dzat Kudus-Nya. Setiap perkara yang bersifat kontingen (mumkin) di dunia ini, dapat dicapai oleh manusia, Manusia dalam hal ini  memiliki kelayakan dan kepatutan untuk menerima kesempurnaan eksistensial yang dapat ia raup dengan usaha dan ikhtiar yang dimilikinya. Maksud dari penciptaan semesta ini adalah tercapainya kesempurnaan manusia. Dengan kata lain, penciptaan merupakan suatu kebaikan dan emanasi yang memancar dari Allah Swt yang dianugerahkan kepada wujud-wujud yang bersifat kontingen (mumkin). Penciptaan semacam ini secara esensial adalah kebaikan. Tuhan dengan penciptaan manusia dan semesta memancarkan emanasi dan menganugerahkan media kepada manusia untuk meraup kesempurnaan yang lebih baik. Menghindarkan diri dari emanasi dan penganugerahan semacam ini adalah bentuk kepelitan dan bakhil yang keduanya merupakan sifat yang tercela; oleh karena itu pantas kiranya Tuhan Yang Mahabijak dan Kesempurnaan Absolut menciptakan dunia ini dengan kebijaksanaan yang ideal dan sublimitas yang tinggi. Oleh karena itu, penciptaan Ilahi merupakan perbuatan yang sarat dengan hikmah dan kebijaksanaan; meski pada derajat penciptaan, Tuhan tidak membutuhkan dan membutuhkan bukan merupakan sifatnya.

Tuhan sama sekali tidak memiliki cela dalam kesempurnaan-Nya; melainkan ia adalah kesempurnaan itu sendiri, dan emanasinya bersifat absolut. Artinya emanasi-Nya tercurah deras kepada segala sesuatu dan curahan tersebut sama sekali tidak berkurang, karena kekurangan tiada pada-Nya; melainkan lantaran memiliki emanasi sempurna, Dia menciptakan semesta dan manusia. Bertitik tolak dari sini disebutkan bahwa penciptaan semesta merupakan keniscayaan emanatif dan manisfestasi (tajalli) Tuhan; bukan menjadi pendahuluan dan sebab adanya emanasi. Oleh karena itu, keniscayaan emanatif absolute Ilahi dan penciptaan semesta ini bukan bermakna bahwa Tuhan menciptakan semesta supaya Dia disebut mahapencurah emanasi (fayyadh)! Redaksi semacam ini meniscayakan adanya semacam kebutuhan. Dengan memperhatikan secara seksama premis-premis pendahuluan dapat kita simpulkan bahwa Tuhan adalah Mahapencurah Emanasi dan hasil dari sifat kudus ini adalah penciptaan semesta. Wallahu ‘Alim [www.wisdoms4all.com/ind]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s