Mendulang Cahaya Iman [2]

cahayaimanHari-hari kami lalui dengan cemas menanti perjumpaan kembali dengan Sang Ustadz. Kami risau kalau-kalau kami tidak mampu menjalankan rencana-rencana kami sebelum keadaan menjadi lebih genting. Sarah dan saya meluangkan waktu membaca buku-buku agama.

Sehari sebelum skedul pertemuan kami dengan sang ustadz tiba, saya menerima surat ancaman lagi dari sepupu Sarah. Kandungan surat itu nada ancamannya lebih kuat daripada surat pertama, akibatnya saya terjaga semalam suntuk dan tenggelam dalam pikiran. Saya sangat mengkuatirkan bakal muncul sebuah konflik. Tatkala saya melihat Sarah pagi berikutnya, saya tidak mengatakan kepadanya ihwal surat tersebut lantaran tidak ingin membuatnya risau. Ia sangat berhasrat pada pertemuan hari itu dengan sang ustadz. Kondisi batin Sarah sangat baik dan ceria, saya menyadari bahwa kegelisahannya akhir-akhir ini tidak ada hubungannya dengan saudara sepupunya.

Pada waktu yang ditentukan, kami bergegas menjumpai sang alim di kediamannya dan mendapatkannya sedang beristirahat. Ia beristirahat karena terserang flu. Melihat kondisinya yang kurang sehat, kami pamitan, namun ia bersikeras supaya kami tinggal dan bersedia melanjutkan kuliahnya…”

“Pada pertemuan sebelumnya, kita telah menyebutkan koordinasi bagian-bagian semesta dan kesatuannya.” Seorang manusia merasakan kesatuan dan ketika ia mengetahuinya, ia juga termasuk bagian dari sebuah rancangan raksasa ini, ia merasakan berada dalam sebuah harmoni sempurna di segala penjuru yang mengilinginya. Ia kemudian meyakini bahwa ada sebuah Kekuatan Mahakuasa yang siap menolongnya. Kekuatan ini telah menyiapkan segala sesuatunya untuk kemaslahatan manusia. Lalu, ia tidak merasa asing atau kehilangan di semesta raya ini. Ia memahami kebenaran dan mengetahui argumen-argumen atas adanya kesatuan ini di sekelilingnya.”

“Di balik perasaan ini, tatkala seseorang tidak mengerti pelbagai dimensi relatifitas di alam semesta ini, dimana manusia menimbang sebulu pun sebagai perbandingan, ia harus mempelajari bahwa planet besar ini, dan matahari ada untuk berkhidmat kepadanya; bahwa panas matahari dirancang untuk meyakinkan keselamatannya di bumi dan dengan asumsi ini, ia merasa puas dan bangga.”

“Sekiranya matahari sedikit saja lebih dekat ke bumi, segala sesuatunya akan terbakar gosong semenjak dahulu. Sekiranya ia sedikit saja lebih jauh dari bumi, suhu dingin yang mencekam akan menghancurkan segala yang hidup di muka bumi. Tatkala manusia mempelajari fakta-fakta ilmiah ini, maka ia dapat menghargai kenyataan keberadaannya dan perannya di dunia ini.”

“Jika malam sedikit lebih lama dari yang biasanya, dinginnya akan merusak atau menghancurkan kehidupan manusia. Gerakan yang berlaku di bumi ini telah dikalkulasi sepenuhnya dengan perhitungan yang teliti dan akurat digunakan untuk memenuhi keperluan manusia. Bagaimana manusia merasakan manifestasi-manifestasi Kekuatan yang Mahakuasa ini? Samudera hampir menutupi seluruh bumil jika samudera-samudera ini sedikit lebih dalam, maka seluruh Karbondioksida dan Oksigen di planet kita akan menguap lantaran air, yang ujung-ujungnya makhluk hidup di bumi akan kekurangan udara. Kedalaman samudera-samudera ini telah ditentukan sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan manusia, termasuk keamanannya.”

“Seseorang dapat berpikir bahwa planet ini dibuat dari bahan bebatuan dan kotoran. Namun jika ia mempelajarai dimensi-dimensin dan geograpinya, ia akan takjub terhadap keagungan terkait dengan pegunungan yang menjulang ini, bukit-bukit dan samudera-samudera yang menjuntai serta sungai-sungai yang panjang. Ia dapat benar-benar merasakan kebesaran Pencipta kita dengan merenungi dan memikirkan penciptaan ini. Bumi ini telah dirancang dan diperuntukkan bagi kehidupan manusia. Manusia memerlukan sejumah besar oksigen. Tatkala ia melihat gas yang mengilingi bumi ini, ia akan terpesona oleh warna biru langit di siang hari dan bintang bersiran di malam hari. Jika lapisan yang mengitarinya ini sedikit lebih tipis, meteor-meteor dan bintang-bintang yang jatuh akan membakar lapisan-lapisan gas-gas ini dan akan jatuh ke bumi. Meteor-meteor seperti ini, yang tingkat kecepatannya mencapai 40 Mil per detik tentu saja akan dapat menghancurkan segala yang ada dalam lintasannya.”

“Bahkan purnama akan bergeser di sebuah jarak tertentu yang mempengaruhi kehidupan di atas planet ini, lantaran bulan menyebabkan pasang dan surutnya gelombang samudera dan laut. Jika jaraknya berkurang, air akan segera memenuhi seantero bumi. Udara kita, demikian juga, membantu penetrasi sinar matahari di seluruh semesta. Hikmah Sang Pencipta telah mengatur sinar matahari ini dengan tataran tertentu untuk sesuai dengan kehidupan makhluk di muka bumi. Manusia, pada hakikatnya, merupakan bagian vital dalam semesta.”

Sang ustadz berhenti menjelaskan. Ia tampak lelah. Meski kami tahu ihwal masalah-masalah ilmiah ini, kami mendengarkannya secara seksama lantaran ia mengemukakan fakta-fakta ini dalam hubunganyna dengan Tuhan dan tujuah Ilahiah.

Ia melanjutkan, “Kini, kalian dapat menyadari bahwa manusia hidup dalam sebuah harmoni dengan tabiat. Beriman kepada sesuatu yang ghaib bukan sekedar insting tanpa sebuah tujuan khusus. Pada kenyataannya, penting bagi manusia untuk mempelajari dan melakukan pengkajian guna mencapai kebenaran. Beriman kepada yang ghaib menuntut manusia untuk belajar rahasia-rahasia tentang alam ghaib dan mengkaji metafisika. Insting ini,yang membantu manusia memahami kesatuan ini, juga mengajarkannya tentang kaitannya dengan semesta raya. Tatkala ia memahami bahwa segala sesuatunya dirancang untuk kebahagiannya, tidakkah seharusnya berterima kasih? Pengetahuan sedemikian akan menunjukkan kepadanya bahwa segala sesuatu diciptakan dengan akurasi yang menakjubkan. Seseorang boleh jadi bertanya-tanya: Lantaran segala sesuatu dirancang dalam tatanan pada semesta raya ini, apakah ia atom yang terkecil atau planet yang terbesar, dan seluruhnya tertata dan teratur, dapatkah manusia, makhluk yang paling berharga dan terbaik ditinggalkan begitu saja tanpa sebuah rencana besar bagi kehidupannya? Bahkan seekor semut pun atau seekor lebah memiliki sebuah hidup yang teratur. Tatkala manusia mengingat kenyataan-kenyataan ini, ia bertanya: “Apa aturan terbaik bagi kehidupan manusia?”

Lalu sang ustadz bertanya, “Apakah kalian telah membaca buku-buku yang saya berikan?”

Kami berdua menjawab: “Iya.” Kemudian ia memberikan kepada kami dua buku lainnya dan berkata, “Saya telah menjelaskan aspek permasalahan ini kepada kalian. Saya sebutkan sebelumnya bahwa bahwa agama harus selaras dan harmoni dengan tabiat dan pikiran manusia; namun, sains juga dapat menolong manusia untuk maju. Agama Islam sepakat dengan kemajuan mental sekaligu spiritual. Banyak fakta yang membuktikan hal ini.” Ia mulai batuk-batuk dan saya merasa sangat kasihan padanya. “Silahkan Anda istirahat dulu. Anda kelihat lelah. Kami dapat menunggu beberapa hari hingga Anda sembuh.” Kataku menyarankan.

Ia tersenyum dan berkata, “Namun kalian buru-buru.”

“Benar, namun hal itu tidak berarti bahwa harus mempengaruhi kesehatan Anda.” Tukasku.

“Namun saya tidak tahu berapa lama aku akan sembuh.” Katanya

Saya berkata kepadanya, “Dalam dua atau tiga hari lagi deh, tapi saya akan menelpon Anda terlebih dahulu untuk memastikan apakah Anda sudah sembuh.”

“Kalau begitu, kita putuskan ketika kalian mengunjungiku pada kesempatan mendatang. Saya harap kalian menyelesaikan buku ini pada saat itu.” Katanya kemudian memberikan buku lain tentang Islam kepada kami.

Pada hari berikutnya saya pulang cepat ke rumah dan Sarah mengunjungiku dengan beberapa orang teman perempuan. Saya mulai membaca buku-buku agama itu setelah menyelesaikan pelajaran di kampus.  Buku itu merupakan sebuah buku yang menarik dan saya merekam beberapa fakta-fakta pada tip rekorderku. Pukul 10 malam, bell rumah bordering. Saya tidak menantikan siapa-siapa untuk mengunjungiku malam-malam begini, gumamku. Saya jadi penasaran siapa gerangan yang membunyikan bel rumah tersebut. Saya jadi jengkel, tapi boleh jadi ia adalah seorang teman lam. Sambil membawa buku dan tip rekorderku saya beranjak membuka pintu. Saya ingin menunjukkan kepada tamu itu bahwa saya sedang sibuk. Tatkala saya membukanya, saya melihat seorang gadis muda berdiri kaget melihatku dan berkata, “Oh. Maaf.. Saya buat salah lagi.” Saya bertanya kepadanya, “Siapa yang Anda cari?”

Ia menjawab, “Oh.. Saya adalah seorang asing di kota ini dan saya diberikan alamat ini, namun saya telah mengetuk seluruh pintu di sini dan pintu rumah Anda yang terakhir. Saya kira saya telah diberikan alamat yang salah.. Oh..apa yang harus saya lakukan?” Saya berkata, “Boleh saya lihat alamatnya.”

“Alamatnya benar dan rumahnya dekat,” katanya mulai menangis dan bertanya, “Kemana saya harus pergi? Apakah saya harus terlantar di jalan malam ini?”

Saya lihat ia adalah seorang gadis muda dan cantik. Saya takut kalau-kalau ia jatuh dalam cengkeraman orang-orang jahat, namun pelik juga untuk mengajaknya masuk ke rumahku. Saya ragu-ragu beberapa lama lalu berkata, “Begini, saya tinggal seorang diri di rumah ini. Saya tidak dapat membiarkanmu terlantar di luar malam ini. Saya akan tidur di tempat lain.”

Ia menjadi tenang dan berkata, “Kemana Anda akan pergi?”

Saya berkata, “Tidak masalah, saya dapat mengaturnya.”

“Oh..Tidak…Please, saya tidak ingin menyusahkan Anda.” Katanya.

Saya melangkah ke luar dan memintanya untuk masuk. Saya katakan kepadanya bahwa saya akan tinggalkan rumah dan ia dapat tinggal di rumah itu hingga pagi. Pada saat itu saya melihat sebuah kilatan cahaya, namun tidak tahu dari mana asalnya. Saya melihat di sekeliling dan bertanya kepadanya, “Apakah Anda tidak melihat kilatan cahaya itu?”

“Iya..Barangkali dari lampu mobil.” Jawabnya. Lalu ia berkata, “Tapi saya takut tidak sendiri di rumah ini.”

Saya berkata, “Bagaimana menurut Anda? Meminta usulan kepadanya. Lalu ia berkata, “Saya usulkan Anda tidur di kamar tidur dan saya tidur di ruang tamu.”

Saya berkata, “Tidak, Anda dapat menggunakan kamar tidurku dan saya akan tidur di ruang tamu.”

“Terima kasih banyak.” Katanya.

Ia masuk ke kamar dan saya pergi tidur di ruang tamu malam itu. Kemudian saya menyadari bahwa tip rekorderku masih tetap menyala. Kasetnya sudah habis dan saya tinggalkan di tempatnya karena cepat mengantuk. Saya merisaukan telpon di kamarku. Bagaimana jika seseorang menelpon? Lalu saya melupakan kerisauan itu, karena waktu sudah lewat larut malam.

Pada pukul 7 pagi, saya bangun dan melihat gadis itu menungguku di depan pintu kamar. “Terima kasih banyak atas keramahan Anda, namun tolong jangan bilang siapa-siapa bahwa saya menginap di sini semalam.” Katanya.

“Bagaimana mungkin saya dapat katakan kepada orang lain? Bahkan nama Anda saja saya tidak tahu.”

“Oya…Nama saya Maryam,” Katanya. Saya menjawab acuh tak acuh, “Senang ketemu dengan Anda.”

Ia pergi dan saya kembali ke kamar tidurku. Saya lihat puntung rokok tergeletak di atas meja dan memperhatikan foto Sarah sudah tidak lagi di tempatnya semula. Saya bergumam pada diriku, “Tentu gadis ini tahu bahwa saya sama sekali tidak menaruh perhatian kepadanya.” Saya jadi heran bagaimana bebasnya gadis tersebut berbuat di rumah seorang yang ia tidak kenal!” Saya ganti baju dan bergegas menuju kampus. Di sana, saya melihat Sarah berjalan dengan beberapa teman kelas, lalu saya menghampirinya langsung dan menyapanya dengan sebuah ucapan selamat pagi sebagaimana biasanya. Ia menjawab ucapan selamat pagiku dengan dingin dan melanjutkan obrolannya dengan yang lain, seolah-olah saya tidak berada di tempat itu. “Ada apa?” Tanyaku penasaran. “Tidak ada apa-apa.” Jawabnya datar.

“Apakah engkau telah menyelesaikan bacaan semalam? Kau kelihatan lelah.” Tanyaku.

Ia menatapku lamah dengan pandangan sedih lalu berkata, “Bagaimana denganmu, Apakah engkau telah selesai membacanya?”

Saya nyaris lupa ihwal kejadian semalam. Saya berkata, “Oh..tidak..saya tidur pulas.”

Ia tersenyum kecut dan berkata, “Tentu merupakan malam yang menyenangkan bagimu semalam.”

Saya hampir saja memberitahukan tentang tamu asing itu, namun saya ingat janjiku kepada gadis itu untuk tidak berkata kepada siapa pun tentangnya. Saya ragu, lalu berkata, “Ah..Tidak…Tidak sama sekali.”

Ia menatapku sedih dan berkata, “Saya harap kau akan nikmati tidurmu lain waktu.” Lalu ia berpaling dan meninggalkanku berdiri sendiri di tempat itu. Saya mencoba menjumpai Sarah sore itu, namun ia menghindar dariku.

Esok harinya saya mencari Sarah di kampus namun saya tidak dapat menemukannya. Saya menelpon ke asramanya, namun mereka menjawab bahwa ia sedang sibuk. Saya ingin menemui Sarah di rumahnya, namun ia tidak ingin keluar menjumpaiku. Saya pulang ke rumah dengan perasaan suntuk. Saya tidak dapat tidur malam itu. Hari berikutnya, saya bergegas ke kampus untuk menjumpai Sarah, namun ketika ia melihatku ia berpaling dan berlalu pergi. Saya bertanya kepadanya, “Sarah kamu sedang marah?”

“Iya!” Jawabnya marah. Terkejut dan kaget, saya duduk di atas bangku sementara ia berjalan menjauh tanpa menantiku untuk bertanya atas alasan apa ia marah. Saya ingin menangis dan harus kembali ke rumah karena saya tidak dapat konsentrasi pada pelajaran-pelajaran yang diberikan hari itu. Saya tidak tahu mengapa ia marah. Peristiwa Maryam tiba-tiba mengusik pikiranku, namun segera saya tampik, karena tidak seorang pun yang tahu. Saya putuskan untuk mengatakan kepada Sarah tentang gadis itu.

Hari berikutnya, saya pergi lebih awal ke kampus, namun Sarah tidak datang. Saya benar-benar bingung apa yang saya harus lakukan. Berjalan tanpa tujuan di sepanjang jalan, saya teringat sang ustadz dan memutuskan untuk mengunjunginya menanyakan kesehatannya. Saya membutuhkan pertolongannya. Seorang bocah kecil menjawab ketukan pintuku. Ia berkata bahwa sang ustadz baik-baik saja dan siap menerima kedatanganku. Saya merasa seakan-akan tenggelam, tanpa harapan akan mendapat pertolongan, dan tiba-tiba sebuah cahaya terang bersinar, memberikanku harapan. Bocah itu melihatku dan bertanya, “Mengapa kalian tidak datang bareng? Sarah hari ini datang lebih cepat. “

Saya kaget mendengar bahwa ia datang mengunjungi sang ustadz. “Ia tidak masuk, ia hanya menanyakan kesehatan ayahku dan pergi.” Kata bocah itu menjelaskan.

Saya melihat sang ustadz kelihatannya lebih sehat. Kami membicarakan tentang banyak hal yang beragam. Saya merasa kerasan dan berharap dapat menyampaikan persoalanku kepadanya namun saya merasa malu. Saya mengira ia akan berbicara tentang Sarah, namun tidak. Saya bertanya kepadanya ihwal kapan pertemuan kami berikutnya, dan ia kelihatan kaget, lalu berkata, “Besok jam 4 petang.”

Saya berterima kasih kepadanya dan langsung pergi menelpon Sarah untuk mengatakan kepadanya tentang jadwal pertemuan dengan sang ustadz, namun tiada jawaban. Saya merasa putus asa hingga saya mengingat kekautan ucapan sang ustadz dan kekuatan iman. Saya kira, saya memiliki Tuhan untuk disembah dan tempat berpaling tatkala terbelit masalah. Kemudian saya ingat bahwa saya belum menyelesaikan membaca buku tentang agama itu. Saya sudah mencoba untuk membaca, namun Sarah mendominasi pikiranku, dan saya tidak mengerti sepatah kata pun dari buku itu.  Saya menutup buku itu dan menulis beberapa kata sebagai surat dengan harapan saya dapat memberikannya kepada Sarah esok harinya. “Sarah sayang! Kata surat itu, “Bagaimana saya dapat bertahan menghadapi seluruh dunia namun aku tiada berdaya menghadapimu! Setelah menulis surat itu, saya merasa lebih baik. Saya kira bahwa segalanya akan berjalan baik tatkala kita memutuskan untuk berkomunikasi. Saya banging cepat pagi berikutnya dan memberikan surat itu kepada salah seorang teman Sarah untuk diserahkan kepadanya, namun ia menolak untuk menerimanya. Saya kira pasti ia memiliki alasan bagus untuk sikapnya seperti itu, oleh karena itu saya tidak marah kepadanya.

Saya luangkan waktu saya seharian di kampus dan pada waktu yang ditentukan, saya pergi ke rumah sang ustadz dan melihat Sarah sudah berada di depan pintu. Saya berjalan maju dan menyapanya, namun ia menjawabnya acuh-tak-acuh. Saya perhatikan wajahnya terlihat pias; seolah-olah ia tidak tidur semalaman.

Saya bertanya kepadanya, “Apakah engkau benar-benar Sarah?”

Ia tidak menjawab dan saya melanjutkan, “Ada baiknya bahwa kita sama-sama tertarik kepada sang ustadz. Hal itu berarti bahwa kita benar-benar bersatu.”

Ia berkata, “Meski kita berdua ingin melanjutkan kajian kita, hal itu tidak berarti bahwa kita bersatu.”

Saya berkata, “Sarah..tolong berbudilah kepadaku! Kau tahu bahwa saya tidak dapat hidupmu tanpamu. Engkau adalah seluruh hidupku. Mengapa engkau perlakukan aku seperti ini? Engkau tahu perasaanmu sendiri.”

“Apapun yang saya tahu tidak akan membuat perbedaan!” Tangkasnya.

“Tapi mengapa Sarah sayang? Saya tidak dapat memahami kemarahanmu.” Kataku.

Ia diam saja kemudian angkat suara, “Kau tidak ingin mengerti.”

“Oh tidak..saya benar-benar ingin. Saya siap mendengar apa pun yang ingin engkau katakana.”

“Bagaimanapun, sekarang saatnya pertemuan kita, jawabnya. Ia mengetuk pinta dan kami berdua masuk.[ www.wisdoms4all.com/ind ]

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s