Hadiah Natal Kaum Muslimin untuk Kaum Kristian

Phadiahnatal1ada sebuah perjamuan malam saya berjumpa dengan seorang yang mengundangku untuk memberikan ceramah di beberapa Islamic Center ihwal apa yang harus ditawarkan kaum Muslimin kepada kaum Kristian. Peristiwa itu berlangsung persis beberapa hari sebelum hari-hari libur kaum Kristian, dan ia berharap saya dapat berusaha menemukan landasan yang sama. Tatkala saya berpikir tentang bermegah-megahan yang terdapat pada kaum Kristian, saya mulai tersenyum. Saya kira saya telah melakukan pemisahan diriku dari sebuah praktik yang sama sekali saya tidak bisa hindari! Pada saat yang sama saya teringat sebuah ayat dalam al-Qur’an yang pada permulaan dan akhirnya menggunakan dua kata kunci ini, berlebih-lebihan dan nikmat. Saya pikir bahwa jika ada sesuatu yang bisa dirujukkan dalam al-Qur’an terkait dengan hari Natal, maka hal itu adalah surah Takatsur, 102. 

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (dari mengingat Allah), sampai kamu mendatangi kuburan (seraya menghitung orang-orang yang telah mati dari kalangan kaummu dan kamu berbangga-bangga dengan itu). Tidaklah seperti yang kamu sangka. Kelak kamu akan mengetahui. Dan juga tidaklah seperti yang kamu sangka. Kelak kamu akan mengetahui. Tidaklah seperti yang kamu sangka. Seandainya kamu mengetahui (tentang hari kiamat) dengan pengetahuan yang yakin, (niscaya bermegah-megahan itu tidak akan melupakanmu dari mengingat Allah). Sungguh kamu benar-benar akan melihat neraka Jahîm. Dan dengan memasuki neraka itu), sungguh kamu benar-benar akan melihatnya dengan ainul yakin. . Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanyai tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (Qs. Al-Takatsur [102]:1-5)

Mengingat bahwa bahkan kaum Kristian sendiri menyandari bahwa Yesus As, tidak lahir pada 25 Desember, lalu mengapa kaum Muslimin harus menunjukkan penghormatan pada hari tersebut? Jawabannya adalah seharusnya mereka tidak melakukan hal itu. Mereka boleh jadi, menghormati tentangganya yang bergembira pada hari itu. Pada banyak kesempatan, tatkala banyak orang Kristen memandang terorisme sebagai fitur fundamental bagi Islam, hari Natal menyediakan sebuah kesempatan bagi kaum Muslimin untuk menunjukkan kepada tetangganya kaum Kristian bahwa Islam, dalam artian sebenarnya, merupakan agama cinta damai, dan bahwa hal tersebut tidak terbatas pada suatu hari tertentu. Nilai itulah yang dibagikan antara kaum Muslimin dan Kristian secara merata.

Pada saat yang sama, kaum Muslimin sangat terkenal atas keramah-tamahannya. Tanpa memandang betapa malangnya, seorang Muslim akan berupaya semaksimal mungkin untuk meladeni tamunya. Tamu yang bertandang ke salah satu rumah kaum Muslim, tidak boleh meninggalkan rumah, tanpa merasakan minum dan makanan yang disuguhkan oleh tuan rumah. Terlebih, seorang Muslim akan tersinggung jika segala yang ia berikan kembali, seolah-olah dengan keramah-tamahannya ia telah menaruh sebuah hutang kepada tamunya. Mengingat semangat ramah-tamah yang disuguhkan oleh seorang Muslim, apa lagi yang ia dapat berikan sebagai kado Natal kepada kaum Kristian?

Dari ayat yang kita baca pada surah al-Takatsur yang menyatakan bahwa pada hari Kiamat kita akan ditanya ihwal nikmat. Nikmat apa yang dimaksud dari ayat ini sehingga kita akan ditanya tentangnnya.

Dinukil bahwa Imam Kedelapan, Imam ‘Ali bin Musa ar-Ridha As bersabda bahwa “Seseorang yang tidak suka membebani seseorang dengan hutang atas apa yang ia berikan kepadanya. Bagaimana mungkin Tuhan menanyai segala sesuatu yang Dia anugerahkan? Namun apa yang kelak akan ditanyakan kepada manusia adalah iman kepada-Nya dan iman terhadap kebenaran Nabi Saw dan Ahlulbaitnya.” (The Holy Qur’an trans. Dengan catatan oleh S. V. Mir Ahmed Ali, Tahrike Tarsile, Elmhurst, New York, hal. 1900)

Dalam sebuah hadis yang lebih panjang Imam Ja’far Shadiq As memiliki beberapa pertanyaan kepada Abu Hanifa dimana ia berkisah tentang poin yang sama. Kita tidak dilahirkan untuk perkara makan dan minum, tapi untuk perkara yang lebih serius seperti tentang Tauhid, Kenabian dan Imamah.

Kita sangat beruntung mendapatkan ulasan para imam dalam masalah ini. Kalau tidak demikian redaksi ayat al-Qur’an tidak begitu terang bagi kita. Saya kuatir banyak di antara kita terjerembab dalam jebakan yang sama sebagaimana Abu Hanifa dalam pembahasannya dengan Imam Ja’far Shadiq, dan memandang bahwa segala nikmat Ilahi yang diberikan kepada para makhluk akan ditanyai kelak di hari Kiamat. Nikmat Ilahi seperti makan dan minum, kesehatan, kekayaan dan kesejahteraan. Namun, para Imam mengajarkan kita bahwa redaksi “kenikmatan” dalam ayat tersebut adalah pengetahuan tentang Keesaan Tuhan, para Nabi-Nya, dan bimbingan Ilahi. Hadiah apa yang paling baik yang dapat diberikan oleh seorang Muslim kepada seorang Kristian melebihi kenikmatan Ilahi yang telah Dia anugerahkan kepada umat manusia. Hadiah ini merupakan hadiah yang sangat berharga. Hadiah berupa kenikmatan yang kelak kita akan ditanya tentangnya?

Dalam mempersembahkan kenikmatan ini, hadiah Ilahi yang paling penting, kepada tetangga Kristian kita, kita mempersembahkan sebaik-baik hadiah. Terlebih, kita mempersembahkan tidak hanya karunia Ilahi, lebih baik dari apa yang kita dapat persiapkan sendiri, namun kita hanya mempersembahkan kepada kaum Kristian sesuatu yang menjadi miliknya. Baik kaum Kristian dan Muslimin boleh jadi akan terkejut dengan stetment semacam ini. Namun kenyataannya bahwa ketiga kenikmatan ini merupakan tema yang paling sering dibincangkan dan paling jeluk dikemukakan dalam Naskah Suci agama Kristen. Meski, banyak kaum Krisitian yang boleh jadi tidak menyadari kenyataan yang menakjubkan ini.

Beberapa tahun lalu saya memangku jabatan sebagai pastor sementara di sebuah gereja Erie, Pennsylvania. Pada sebuah acara ibadah, secara tidak sengaja saya mendengar seorang wanita yang berdoa untuk sebuah mobil Cadillac warna merah-jambu. Setelah menimbang lebih jauh, saya mulai menyadari bahwa barangkali permohonannya lebih tulus ketimbang doaku untuk sebuah anugerah spiritual. Saya tidak dapat meragukan bahwa doanya bersumber dari hati, dan sekiranya ia menerima sebuah Cadillac warna merah-jambu, tentu ia akan bersorak kegirangan. Ketulusan dan kegembiraanku dalam proses belajar mencintai musuhku sesuai dengan tugasku sebagai seorang Kristian, misalnya, boleh jadi akan ditanya. Setiap orang harus bersuka-cita dengan kenikmatan yang telah diberikan Allah.

Kenikmatan yang pernah dimiliki oleh kaum Kristian, yang kini telah hilang semenjak beberapa abad yang lalu. Kegembiraan apa melebihi kembalinya kenikmatan yang sejak lama telah hilang kini kembali ke dalam genggaman.

Jadi terdapat beberapa alasan mengapa hadiah-hadiah ini harus diserahkan oleh kaum Muslimin kepada kaum Kristian.

Alasan pertama adalah bahwa kenikmatan ini adalah milik kaum Kristian beberapa abad lampau yang telah hilang. Kaum Muslimin mengemban tanggung jawab untuk mengembalikan harta yang hilang ini. Alasan kedua adalah bahwa kita akan ditanya atas tiga kenikmatan ini di Hari Kiamat, bukan ditanya soal makan dan minum. Kaum Muslimin sangat santun dengan masalah makan dan minum, lantaran mereka tidak akan ditanya tentang hal ini di Hari Kiamat. Mereka tentu lebih memperdulikan tentang hal-hal yang lebih penting yang kelak akan ditanya. Ketiga, kenikmatan ini merupakan hadiah yang lebih baik daripada sebuah Cadilllac merah-jambu.

Kenikmatan pertama adalah proklamasi atas Tauhid atau Keesaan Tuhan. Proklamasi ini merupakan tema sentral dalam al-Qur’an misalnya dalam surah: Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).” (Qs. Ali Imran [3]:2) Pada ayat selanjutnya disebutkan bahwa Tuhan Yang Esa yang menurunkan Taurat dan Injil, yang menjadi Kitab Suci agama Kristen. Kendati pada kenyataannya kaum Kristian telah kehilangan banyak dari kenikmatan ini sebelum kedatangan al-Qur’an. Kenikmatan ini masih dapat dijumpai dalam Kitab Suci mereka.

“Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20:1-3)

“Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.” (Bilangan 4:35)

“Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku.” (Bilangan 32:39)* (tanda bintang ini bermakna bahwa ayat ini diklaim sebagai firman Tuhan)

“Hanya Engkau adalah TUHAN! Engkau telah menjadikan langit, ya langit segala langit dengan segala bala tentaranya, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya, dan laut dengan segala yang ada di dalamnya. Engkau memberi hidup kepada semuanya itu dan bala tentara langit sujud menyembah kepada-Mu.” (Nehemiah 9: 6) 

“Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah.” (Mazmur 86:10)

Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. Siapakah seperti Aku? Biarlah ia menyerukannya, biarlah ia memberitahukannya dan  membentangkannya kepada-Ku! Siapakah yang mengabarkan dari dahulu kala hal-hal yang akan datang? Apa yang akan tiba, biarlah mereka memberitahukannya kepada kami! Janganlah gentar dan janganlah takut, sebab memang dari dahulu telah Kukabarkan dan Kuberitahukan hal itu kepadamu. Kamulah saksi-saksi-Ku! Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!” (Yesaya 44:6-8)*

Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!  Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. (Yesaya 45:21-22)*

“Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1 Korintus 8:6)

Nikmat yang kedua adalah kenabian. Al-Qur’an An-Nisa 4:170. Hai manusia, sesungguhnya telah datang rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhan-mu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, maka (kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Kenabian secara umum dikenal oleh kaum Kristian. Bahkan Isa (Yesus) disebut sebagai seorang nabi dalam Lukas 24:19, “Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.”

“Aku berbicara kepada para nabi dan banyak kali memberi penglihatan dan memberi perumpamaan dengan perantaraan para nabi.” (Hosea 12:10)*

“Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi.” (Amos 3:7) 

“Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu. Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu. Dan akan terjadi, bahwa semua orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibasmi dari umat kita.” (Kisah Para Rasul 3:21-23) 

Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.”  (Jakobus 5:10)

Namun kenabian Muhamamd Saw juga secara jelas diumumkan pada naskah-naskah terdahulu. Naskah-naskah ini dapat menjadi asas dan dasar untuk memberikan rahmat dan anugerah kepada kaum Kristian dan juga kaum Yahudi. Yang terkenal dari naskah ini adalah pada kitab Ulangan 18:18 “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.” 

“Sesungguhnya mereka meninggalkan tanah Muhammad (Hamda dalam bahasa Ibrani), mereka tidak mempercayai ucapannya.” (Mazmur 106:24)

“Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera (Islam), demikianlah firman TUHAN semesta alam.” (Haggai 2:7 & 9)

“Kata-katanya manis semata-mata, segala sesuatu padanya menarik. Demikianlah kekasihku (Ibrani: Mahamadim), demikianlah temanku, hai puteri-puteri Yerusalem.” (Kidung Agung 5:16)

Teks-teks yang lain, selusin atau lebih, sedikit pelik untuk dipersembahkan, karena teks-teks tersebut memerlukan penjelasan. Teks yang sama merupakan referensi pada Paraclete (Penghibur) dalam Injil Yohanes.

Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur (Paraclete, redaksi Yunani yang dipandang sebagai Suriani) itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.  Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. (Yohanes 16:7-14)

Nikmat yang ketiga adalah imamah. Juga diumbar secara jelas dalam naskah-naskah agama Kristen. “Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: “Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?” Jawabnya: Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.” (Kisah-kisah Para Rasul 8:30,31)

Dalam teks ini disebutkan seorang manusia sedang membaca kitab seorang nabi, dan Filipus bertanya kepadanya apakah ia mengerti apa yang dibacanya. Ia berkata: “Bagaimana mungkin aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Teks ini menunjukkan secara jelas bahwa setiap umat manusia secara faktual memahami kebutuhannya terhadap imamah dalam pengalaman kesehariannya. Hal ini merupakan sebuah kebutuhan yang terkondisi dengan karakter psikologis manusia. Ia hanya dapat diingkari oleh mereka yang memiliki motif-motif tersembunyi.

Nama Ali juga demikian disebutkan dalam ALKITAB. Keluaran 8:9, Kata Musa kepada Firaun, Mulialah Ali: “Silakanlah tuanku katakan kepadaku, bila aku akan berdoa untukmu, untuk pegawaimu dan rakyatmu, supaya katak-katak itu dilenyapkan dari padamu dan dari rumah-rumahmu, dan hanya tinggal di sungai Nil saja.”

“Pada waktu itu orang Israel menyanyikan nyanyian ini, Ali adalah sebuah sumur (air).” (Bilangan 21:17)

“Ali adalah ibarat lembah yang membentang semuanya; sebagai taman di tepi sungai; sebagai pohon gaharu yang ditanam TUHAN; sebagai pohon aras di tepi air. (Bilangan 24:6)

Mari kita perhatikan proses dimana kaum Muslimin secara umum mempresentasikan masalah Imamah. Terdapat dua sumber dalam masalah ini, Al-Qur’an dan Hadis. Keduanya disuguhkan secara logis, menyeru kepada penalaran sebagai dasar argumen. Namun secara umum argumen-argumen seperti ini tidak kuat. Mudah dikatakan bahwa Tuhan membimbing siapapun yang dikehendaki-Nya. Namun, hal itu tidak meringankan salah satu tanggung jawab dalam mempersembahkan kasus seseorang dalam cara yang sebaik mungkin.

At-Tauhid dan an-Nubuwwah dapat dengan mudah ditetapkan melalui al-Qur’an dan Sunnah hanya dengan menyuguhkan ayat-ayat atau riwayat. Sebuah pendekatan rasional nampaknya memadai dengan masalah-masalah ini tanpa secara mendalam merujuk kepada konteks. Masalah imamah merupakan masalah yang berbeda. Ia kurang disuguhkan dengan cara proof teks. Kiranya perlu untuk menggali konteks dari ayat-ayat ini. Hal ini bukan karena imama kurang begitu jelas dalam teks-teks suci, namun lantaran karakter imamah itu sendiri.  Masalah imamah merupakan masalah wahyu, lebih dari kata-kata. Karakteristik ini  membuatnya kurang rentan terhadap pembuktian verbal. Konteks diperlukan.

Proses presentasi imamah menuntun pada sebuah penilaian kembali dari presentasinya secara keseluruhan.  Ketaatan para tetangga Kristen kita akan segera menunjukkan kepada kita bahwa presentasi ini sepenuhnya tergantung pada kemasan. Sebuah hadiah sesungguhnya bukan sebuah hadiah natal kecuali ia dikemas dengan baik. Masalah imamah acapkali disuguhkan kepada para kaum kafir tanpa kemasan. Cukup menarik, masalah imamah dialami oleh orang-orang beriman dalam kemasan yang rapi. Mereka yang meyakini para imam telah mengalami keyakinan tersebut dalam istilah pengalaman emosional yang kuat.  Orang-orang beriman lebih sering fokus pada kasih dan cintanya untuk para imam melebihi apa yang mereka lakukan pada argumen-argumen rasional dalam menerima otoritas mereka. Hal ini boleh jadi menuntun seseorang untuk bertanya-tanya sekiranya dilakukan sebuah pendekatan yang lebih emosional, menambah kemasan itu sebagaimana adanya, barangkali akan lebih efektif.

Riset akhir-akhir ini pada masalah muallaf (orang yang baru memeluk suatu agama) menunjukkan peran penting kasih ini.

Teori kecintaan ini menganjurkan bahwa pengubahan agama terjadi hampir pada setiap orang yang belum terbentuk kecintaannya secara proporsional pada usia-usia belia, atau telah menderita trauma oleh kejadian-kejadian setelahnya. Orang-orang seperti ini memiliki kebutuhan psikologis untuk membangun kembali kecintaan insaniahnya secara normal. Kesadaran ini telah mengatur pendekatan-pendekatan modern Kristian pada penyebaran agama Kristen (evangelism). Ada upaya untuk mencari orang-orang yang cukup rentan atau rawan terhadap rekonstruksi kecintaan tersebut, dan mengambil keuntungan dari kondisi seperti ini dengan menciptakan kecintaan antara orang-orang yang menjadi target dan orang-orang beragama yang memilki otoritas.  Orang ini kemudian ditarik ke dalam sebuah komunitas gereja dan menjaga mereka melalui kecintaan-kecintaan psikologis dan emosional.

Pengamatan terhadap orang-orang yang memeluk Islam menganjurkan proses serupa untuk dilaksanakan. Seseorang yang memiliki problem kasih-sayang boleh jadi memeluk Islam melalui terbentuknya cinta kasih yang bersifat emosional. Cinta kasih ini boleh jadi dicurahkan pada seorang figur otoritatif dalam Islam atau dalam sebuah hubungan cinta kasih. Tatkala hubungan dengan komunitas Muslim berdasar pada cinta kasih seperti ini, dan orang tersebut memiliki harapan-harapan terhadap komunitas Muslim. Tatkala harapan-harapan emosional dan ketergantungan ini tidak terpenuhi, orang tersebut boleh jadi merasa kecewa dan bahkan menarik diri dari komunitas ini. Oleh karena itu, bahkan dari sudut pandang praktis, tanpa menimbang aspek moral dan jurisprudensial masalah ini, cinta kasih semacam ini patut dipertanyakan.

Mari kita kembali kepada pembahasan imamah dan memandang potensi yang dikandungnya untuk mengembangkan gagasan cinta kasih ini. Terdapat dua jenis cinta kasih dalam agama Kristen yang membentuk sebuah dasar kontemplasi. Pertama jenis cinta kasih yang muncul dari psikologis. Kedua, jenis ketergantungan cinta kasih yang terjalin antara kaum Kristian dan institusi gereja dan otoritasnya. Kedua jenis merupakan wilayah yang subur dimana bounties dapat dikemas sebagai hadiah bagi kaum Kristen. Jika kedua kecendrungan ini dapat difokuskan pada imamah, mereka membentuk sebuah fondasi kokoh yang mampu bertahan bahkan tatkala menghadapi kekecewaan atau patah hati. Ia harus pada saat yang sama ditegaskan bahwa bahkan orang-orang sekuler sekali pun acap kali memiliki salah satu atau kedua kondisi psikologis ini. Hadiah kaum Muslimin harus mendapatkan jalan untuk mengalihkan perasaan ini terhadap masalah imamah.

Terlebih, kaum Kristian mencintai Nabi Isa dan terkadang kepada Mariam Ra dan figure-figure lainnya sedemikian sehingga mirip-mirip dengan kecintaan kaum Muslimin kepada para Imam Suci dan Fatimah Ra. Cinta kasih emosional ini secara sempurna selaras dalam konteks Islam. Islam tidak ingin merusak pengalaman emosional kaum Kristian, tapi ingin meluaskannya. Dalam wilayah ini, mazhab Syiah banyak mendapatkan keuntungan terkait hubungan mereka dengan kaum Kristian.

Pada poin ini, kita telah melihat bahwa terdapat sebuah perbedaan berkelanjutan antara masalah tauhid dan imamah. Masalah tauhid sangat rentan dengan pembuktian tekstual, analisis logis dan argumen rasional.  Di sisi lain, masalah imamah rentan terhadap cinta kasih emosional. Keduanya harus dikemas dengan cara yang berkebalikan. Saya yakin bahwa ada bukti dimana kaum Kristian tidak mampu membuka nikmat tauhid, lantaran presentasi, yang bermula pada pengujian tekstual dan logis, gagal melanjutkan pada tanggapan emosional yaitu pengejewantahan tauhid yang tercipta dalam jiwa manusia. Di sisi lain, kaum Kristian tidak mampu membua nikmat imamah, lantaran cinta kasih emosional, loyalitas, dan kecintaan kaum mukmin kepada para imam tidak dipersembahkan pertama kali. Orang yang menyerahkan hadiah terlalu cepat terjun pada wilayah pembuktian dan logika. Dengan demikian, dalam mempersembahkan masalah tauhid, kita harus memulai dengan argumen-argumen skriptural dan logikal kemudian pada proses kecintaan dan cinta kasih. Sebaliknya, dengan imamah, kita harus mulai dengan loyalitas, kecintaan kepada para imam dan lalu berproses pada argumen-argumen skriptural dan logikal.

Kesimpulan-kesimpulan ini dicapai melalui sebuah proses observasi antropologis dan wawancara terbuka di satu sisi, dan sebuah analisa deduktif di sisi lain. Berpulang pada pembaca untuk mengevaluasi konsep-konsep dan mencobanya pada tataran praktik. Saya berharap bahwa kogitasi ini dapat menyuguhkan hadiah-hadiah yang dapat dipersembahkan kaum Muslimin kepada tetangga Kristian mereka tidak hanya pada hari Natal namun sepanjang tahun. Selamat Hari Natal.. [AK, www.wisdoms4all.com/ind]

 

 

 

 

Iklan

One comment on “Hadiah Natal Kaum Muslimin untuk Kaum Kristian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s