Agama dan Kebebasan

freedomreligionKebebasan merupakan salah satu nilai yang paling asasi bagi umat manusia. Sedemikian sehingga seluruh manusia, siapa pun, dimana pun dan kapan pun memuji apa yang disebut kebebasan. Semenjak tukang sayur hingga insinyur, dari tukang kompor sampai professor, tukang kardus hingga doktorandus semuanya familiar dengan redaksi kebebasan. Hal ini menandaskan bahwa masalah kebebasan ini merupakan masalah universal. Filosof Ilahi dan sosiolog, khususnya pada ranah hukum, politik dan sosiologi juga banyak berbicara ihwal kebebasan.

Kendati pahaman kebebasan merupakan salah satu pahaman yang swa-bukti (badihi) namun untuk sampai kepada kebebasan, kita berhadapan dengan selaksa kepelikan dan kesulitan. Terkait dengan definisi tentang kebebasan, tidak dapat diperoleh definisi yang jelas dan setiap maktab dan filsafat masing-masing memberikan penafsiran berdasarkan pelbagai pra-supposisi mereka sendiri-sendiri; atas dasar ini kesalahpahaman dan perbedaan pendapat dapat kita saksikan dimana-mana.

Muthahhari dalam “Takamul Ijtima’i Insan” berkata: “Kebebasan merupakan salah satu nilai yang paling besar dan transendental manusia; dengan kata lain, kebebasan merupakan bagian dari maknawiyat manusia. Kebebasan bagi manusia  merupakan sebuah nilai yang berada di atas nilai-nilai materi. Manusia yang memiliki niliai kemanusiaan rela hidup menderita lapar dan dahaga, bahkan mengorbankan jiwa dan raganya asalkan ia tidak menjadi tawanan seseorang. Manusia yang sedemikian adalah manusia yang hidup bebas dalam kehidupannya.”

Sejarah Islam dan contoh-contoh melimpah dari para pembesar agama dapat kita jadikan sebagai penegas dari tuturan Muthahhari ini.

Ketika kita berbicara tentang kebebasan segera muncul dalam benak kita tiga pertanyaan: Apa itu kebebasan? Darimana kebebasan itu bersumber? Dan apa batasan kebebasan itu? Jenis-jenis kebebasan dan tiadanya sinkretisasi di antara jenis kebebasan tersebut. Apakah agama dan kebebasan memiliki pertalian erat? Dan nilai kebebasan apa yang berkembang di Barat dan dalam agama Islam?

Pada artikel sebelumnya, terkait masalah ini, kepada Anda telah disuguhkan dua artikel ihwal “Melacak Akar Sejarah dan Manifesto Liberalisme,”  “Epistemologi Kaum Liberalisme.” Pada kesempatan ini, penulis mengajak Anda untuk membahas masalah penting lainnya yaitu tentang Hubungan Agama dan Kebebasan. Dimana pada tulisan ini kita akan melihat sejauh mana agama dan kebebasan bertautan satu dengan yang lain.

 

Apa itu Kebebasan?

Masalah kebebasan merupakan sebuah masalah yang menarik bagi manusia. Umumnya ungkapan kita pada kebebasan adalah kebalikan dari kata terpenjara, tertatawan atau terpasung. Barangkali ungkapan ini sudah dikenal oleh manusia di setiap tempat dan waktu. Pada kesempatan yang lalu, kita sedikit mengulas tentang padanan kata kebebasan dalam bahasa Inggris dan Arab, yaitu freedom, liberty, hurriyah dan ikhtiar. Di sini kita tidak akan mengulanginya lagi.

Terkait dengan makna kebebasan terdapat banyak makna yang diberikan. Bahkan disebutkan bahwa makna kebebasan ini melebihi dua ratus definisi.

Hal ini juga diiyakan oleh Montasqiue yang berkata bahwa “Tiada satu pun pikiran yang tidak tertarik pada kebebasan dan tiada satu pun kalimat yang melebihi perbedaan dalam memaknai kebebasan.”(Montasqiue)

Demikian juga, kebebasan dalam pandangan Kant adalah kemerdekaan dari segala sesuatu kecuali menjaga aturan moral. (Kant) Atau Spinoza yang mendawuhkan kebebasan sebagai hidup yang mengikuti aturan akal.”(Spinoza)

Hobbes dalam mendefinisikan kebebasan berkataKebebasan dalam artian sebenarnya adalah tiadanya hambatan-hambatan pada tataran perbuatan; hambatan-hambatan tersebut yang biasanya muncul adalah kekuatan manusia yang ingin melakukan sebuah perbuatan. Atas dasar ini, manusia bebas adalah manusia yang ketika ia berhasrat untuk melakukan sebuah perbutan, ia memiliki kekuatan dan kekuasaan, dan tidak berhadapan dengan hambatan dan rintangan.(Hobbes)

Isaiah Berlin dalam kaitannya dengan kebebasan mentasbihkan: “Barometer kebebasan saya biasanya adalah tatkala tiada orang yang campur tangan dan intervensi dalam setiap aktifitasku.” (Isaiah Berlin)

Dalam maktab Liberalisme secara umum, kebebasan yang didefinisikan adalah “kebebasan dari” (freedom from) bukan “kebebasan untuk” (freedom for) .

Liberalisme ghalibnya mendefinisikan kebebasan sehingga pada kondisi-kondisi dimana orang tersebut tidak terpaksa (koersif) atau terikat, tiada orang yang interfensi dalam urusannya, tidak berada di bawah pressure.

Ayatullah Misbah Yazdi dalam kitab Jamia wa Tarikh dengan elegan berdasarkan pandangan dunia Ilah, mendefinisikan kebebasan sebagai berikut, “Kebebasan adalah tiada yang menghalangi jalannya, tiada yang merintangi geraknya, tiada yang menahan kemajuannya.” Kemudian berkata lagi, “Setiap maujud yang hidup yang ingin melintasi jalan kesempurnaan salah satu kebutuhannya adalah kebebasan. Oleh itu, kebebasan artinya tiadanya halangan. Manusia yang bebas adalah manusia berjuang menghilangkan segala hambatan dan rintangan untuk kesempurnaannya. Manusia bebas adalah manusia yang tidak menyerah dengan adanya hambatan dan rintangan ini untuk mencapai kesempurnaan hidupnya.”

Dari pelbagai definisi yang diuraikan di atas kita tidak akan meninjau secara kritis definisi-definisi yang diberikan. Di sini penulis ingin mendedah definisi yang disampaikan oleh Ayatullah Misbah Yazdi terkait dengan tema pembahasan kita kali ini.

 

Darimana Sumber Kebebasan itu?

Ketika kita ingin bertanya tentang sumber kebebasan maka kita dapat berkatan bahwa kebebasan bersumber dari tabiat takwini manusia. Tabiat takwini ini adalah kekuatan yang bernama kehendak (iradah) yang bersemayam dalam diri manusia yang menstimulir perbuatan dan mengaktualisasi segala potensi manusia.

Kehendak adalah sebuah kondisi mental dimana apabila kehendak ini tidak berfungsi maka akan bermuara pada disfungsi indra dan pencerapan manusia dan konsekuensi buruknya adalah sirnanya kemanusiaan manusia.

Dalam perspektif pandangan dunia Ilahi, sumber kebebasan manusia – kebebasan takwini atau tasyri’i – adalah kehendak Ilahi. Dan yang dimaksud dengan kebebasan takwini adalah kondisi pikiran dan mental manusia dalam melakukan sebuah perbuatan atau meninggalkannya. Manusia dalam hal ini merasakan adanya kebebasan tersebut. Artinya dalam melakukan atau meninggalkan perbuatan itu manusia bebas. Menjelaskan kebebasan manusia dari angle pandangan dunia Ilahi bahwa kebebasan ini bersemayam pada nurani manusia.  Dan keberadaan manusia serta tipologi takwininya kesemuanya adalah ciptaan Tuhan.

Adapun kebebasan tasyri’i adalah kebebasan yang bertalian dengan harus (must) dan tidak boleh (must not). Kebebasan ini mengedepan pada wilayah kehidupan personal dan sosial. Dan domain kehidupan personal dengan asumsi bahwa perbuatan yang dilakukan oleh seseorang itu terpuji dan legal maka tidak terdapat keterbatasan pada ruang kebebasan tersebut. Namun ketika ia melenggang pada wilayah sosial dan memasuki ruang publik, maka kebebasannya terbatas pada kebebasan orang lain.

Bahwa manusia merupakan mahkluk sosial, maka penciptaan dan tabiatnya yang menggerakkannya untuk hidup secara sosial dan berinteraksi dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial manusia memerlukan orang lain. Untuk menunaikan keperluan ini manusia menetapkan aturan dan tata-nilai sehingga kebebasan yang dimilikinya ini tidak menciderai kebebasan orang lain.

Dengan demikian, tabiat dan penciptaan yang memberikan kebebasan kepada manusia untuk berkehendak dan bertindak, namun pada saat yang sama keduanya juga merupakan pembatas kehendak dan perbuatan manusia.  Lantaran kebebasan yang dimilikinya bergantung dan terbatas pada kebebasan orang lain. Artinya di sini kebebasan yang dimiliki manusia bermakna kebebasan yang terbatas.

Dalam pandangan dunia Ilahi (divine world view) tiada seorang pun yang memiliki kekuasaan atas orang lain kecuali Tuhan. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an sebagai pedoman pandangan dunia Ilahi, “.” (Qs. Al-An’am [6]:57)

Oleh karena itu, berasaskan kaidah agama (baca: Islam), tiada satu pun hukum, aturan, tatanan yang dapat membatasi kebebasan manusia kecuali Tuhan. Namun berlansungnya kehidupan sosial manusia bergantung pada pengalaman kebebasan dan hak-hak mutual sesama manusia dimana manusia dalam keterbatasan ini tidak memiliki alternatif lain. Aturan, hukum, tatanan, norma yang dianugerahkan Tuhan berupa kebebasan ini adalah untuk manusia guna menyempurna.

Salah seorang orientalis yang cukup fair menilai pandangan ini berkata bahwa, “Dalam agama Islam, kebebasan dan kesetaraan manusia merupakan sebuah hak yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Dan pendelegasian hak ini kepada manusia ini tidak berada dalam kekuasaan manusia lainnya sehingga manusia harus berhutang-budi kepadanya. Seluruh manusia harus mentaati dustur Ilahi dan menghormati kebebasan manusia lainnya.”

 

Batasan Kebebasan?

Jelas bahwa bahwa kita tidak mengenal adanya kebebasan mutlak dan tidak terbatas. Lantaran karakter setiap maujud adalah mengikut pada maujud tersebut. Maujud yang terbatas memiliki sifat yang terbatas. Manusia yang merupakan makhluk terbatas, mau-tak-mau sifat-sifat kesempurnaannya seperti bebas, hidup, ilmu, berkuasa dan berkehendak juga terbatas.

Kant dalam memberikan batasan kebebasan manusia perlu melakukan analogi dan berkata, “Setiap pohon apabila ia berbentuk satu pohon yang berkembang di samping cabang-cabangnya dan mendiami sebuah ruang dan batangnya berkembang  secara tidak langsung. Akan tetapi pohon ini di tengah belantara  di antara pepohonan secara langsung tumbuh-berkembang ke atas  dan di samping pepohonan lainnya, ia mendiami sebuah atmosfer yang sesuai dengan kondisi dirinya dan batangnya aman dari lengkungan dan tetap lurus ke atas tidak bengkok.” Yang dapat diadopsi dari analogi Kant ini adalah bahwa kebebasan manusia merupakan sifat esensial  dapat tersedia dan berkembang pada wilayah sosial di antara individu yang beragam. Pelbagai kebutuhan esensial dan natural manusia dapat terpenuhi dalam pola-laku sosial seperti pemenuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, dan pengobatan. Dalam memenuhi kebutuhan ini manusia bebas namun pada saat yang sama ia terbatas dan tergantung pada kebebasan orang lain.

Kebebasan yang dimiliki manusia ini berkembang pada pola-laku sosial. Kebebasan dalam artian ini merupakan sebuah masalah sosial. Manusia ketika terjun dan berinteraksi langsung dengan makhluk sosial lainnya, di samping ia bebas juga pada saat yang sama terbatas. Ia harus memperhatikan kebebasan orang lain. Lantaran tidak ada kebebasan yang tanpa batasan. Kebebasan tanpa batasan ini bukan saja mustahil tapi juga tidak memiliki makna.

Sebuah perumpamaan sederhana misalnya saya ingin membangun sebuah rumah (papan). Dalam menentukan corak, lebar, tinggi dan warna saya memiliki kebebasan. Namun pada saat yang sama kebebasan saya ini bergantung pada kebebasan orang lain. Membangun rumah asalkan tidak mengganggu kebebasan, ketenangan dan kenyamanan tetangga sebagai makhluk sosial lainnya boleh-boleh saja. Dan saya tidak memiliki kuasa untuk memaksakan, corak, lebar, tinggi dan warna rumah yang saya pilih secara bebas, kepada orang lain.  

 

Apa itu Agama?

Mengingat globalisasi dan generalisasi sebuah definisi dapat menyebabkan munculnya kesalahpahaman terhadap definisi agama yang dimaksud. Oleh itu mengikut pada runutan pembahasan, agama di sini perlu kita definisikan. Ketika ingin mendefinisikan agama kita harus berkata bahwa agama yang dimaksud di sini adalah bukan agama yang dipeluk oleh kebanyakan orang di Eropa yang nota-bene memang telah mengalami disfungsi dan pergerseran makna.

Ihwal agama banyak definisi yang diberikan. Sebagian orang berkata bahwa agama bahkan iman kepada Tuhan sebagai sesuatu yang tidak perlu.

Apa yang kami maksud dari agama adalah bahwa adalah definisi yang selaras dengan Islam. Yaitu sebuah sekumpulan realitas, nilai dan tindakan yang mengantarkan manusia kepada kesempurnaan. Sekumpulan keyakinan, nilai dan tindakan yang menggiring manusia kepada Tuhan dan kesempurnaan pamungkas serta kebahagiaan hakiki manusia ini yang disebut sebagai agama.

Dalam agama Islam, kebebasan yang dibangun adalah berasas pada tauhid dan setelah itu pada akhlak fadhilah. Dengan demikian, kedua asas ini menjelaskan segala aturan dan tata-nilai yang berhubungan dengan perbuatan pribadi manusia dan sosialnya, semenjak urusan partikular hingga urusan yang paling penting, dari pelbagai dimensi.  

 

Kebebasan Filosofis

Di sini kiranya kita perlu terlebih dahulu membahas masalah kebebasan takwini atau filsafat, lantaran kebebasan ini, pada hakikatnya merupakan struktur lain bagi bagian kebebasan lainnya. Dalam pandangan dunia Islam, kebebasan takwini memiliki pijakan agama di bawahnya. Kebebasan takwini, yang juga disebut sebagai kebebasan filsafat, adalah sifat ekistensial dalam spirit  dan jiwa seorang manusia dimana manusia dengan sifat ini ia dapat memilih melakukan sebuah pekerjaan atau tidak. Tanpa adanya kebebasan sedemikian, tugas-tugas keagamaan, amaran dan larangan Ilahi, ganjaran dan hajaran ukhrawi akan bertentangan dengan hikmat kebijaksanaan dan keadilan Ilahi.  Imam ‘Ali As dalam menjawab sebuah pertanyaan berkenaan dengan qadha dan qadar Ilahi bermakna deterministiknya manusia bersabda: “Apabila demikian adanya, maka gugurlah seluruh amaran dan larangan Ilahi, ganjaran dan hajaran.” (Nahjul Balaghah, Hikmat 87)

Dalam domain Filsafat dan Teologi, tatkala kita berkata bahwa manusia itu bebas; artinya ia merdeka dan tidak terpaksa. Kendati makna kebebasan ini memiliki makna ekstrem bahwa segala sesuatunya berada dalam kekuasaan manusia.

Dewasa ini, dalam Eksistensialisme, makna kebebasan secara ekstrem ini mengemuka. Salah seorang proponen unggul maktab ini, Jean Paul Sartre, tatkala meletus perang US-Vietnam, berkata: “Apabila aku berkehendak perang Vietnam ini dapat diakhiri.” Ungkapan Sartre ini menunjukkan bahwa adanya siklus kehendak manusia dan mendemonstrasikan bahwa manusia sedemikian bebas berkehendak.

Sebagai kebalikannya, adanya kecendrungan-kecendrungan, baik dalam Islam atau pun sebelum Islam, juga pasca Islam yang mengemuka di antara maktab-maktab filsafat.

Keduanya termasuk dalam domain filsafat; artinya bahwa manusia secara takwini (penciptaan) memiliki kekuasaan untuk memilih dalam perbuatan dan pemikiran. Manusia dalam pengertian ini dapat secara bebas memilih untuk beriman dan berakidah; atau sebaliknya, pemikiran dan perbuatan dan imannya mengikut kepada faktor-faktor herederitas (warisan) atau pengaruh lingkungan. Dengan kata lain, apakah manusia pada tataran perbuatan dapat memilih sesuatu dengan kehendak bebas dan merdeka yang dimilikinya? Atau terpaksa dan berangan-angan bahwa ia bebas serta faktor-faktor lainnya yang mendikte dirinya dan sama-sekali tidak memiliki kebebasan?

Dalam masalah ini, dialektika antara freewill dan determinisme mengemuka. Masalah ini tentu saja tidak terkait dengan masalah politik, sosial, hukum dan budaya. Sebagian orang beranggapan bahkan mensopistikasi (fallacy) masalah ini dengan menggunakan terminologi kebebasan dalam filsafat ini pada domain politik dan hukum.

Salah satu makna kebebasan di sini adalah kebebasan takwini manusia. Artinya manusia secara takwini bebas dan merdeka diciptakan. Tentu saja hal ini hanya berlaku pada mereka yang meyakini bahwa manusia adalah makhluk dan beriman kepada Tuhan sebagai Penciptanya. Namun mereka yang tidak beriman kepada Tuhan berkata bahwa manusia merupakan sebuah fenomena yang bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dan tidak satu pun faktor yang dapat memaksanya. Sebagai titik-balik dari pandangan ini adalah pandangan yang berkata bahwa tidak, gambaran kebebasan ini adalah sekedar ilusi belaka dan manusia secara takwini adalah makhluk deterministik.

 

Kebebasan Moral

Beberapa jenis kebebasan yang lain mengedepan dimana dalam bagian ini masalah harus dan tidak boleh (must not) atau bahasa taklifnya adalah wajib dan haram yang memiliki nilai.

Pertama kebebasan yang bermakna bahwa tidak satu pun kekuatan secara moral memaksa manusia untuk melakukan sebuah perbuatan? Atau memilih akhlak yang baik dan buruk atau sistem-sistem nilai merupakan sebuah pilihan? Dengan ungkapan lain, satu perbuatan, terlepas dari permasalahan pemerintahan, konstitusi, secara moral terpuji atau tercela? Apakah manusia secara moral terkondisi atau harus meyakini bahwa berkata jujur itu merupakan sebuah perbuatan baik dan berkata dusta itu merupakan sebuah perbuatan buruk? Atau moralitas tidak memiliki asas dan kita dapat memilih bahwa berkata jujur itu baik atau buruk. Dan pemilihannya terpulang pada kita? Artinya manusia dapat memilih sebuah tata-nilai dimana ia dapat menerima sebuah sistematika nilai dan atau sistem yang menafkan nilai-nilai tersebut?

Kebebasan moral juga memiliki makna yang lain yang telah dikenal dalam kebudayaan kita. Mayorita ulama akhlak tatkala membahasa tentagn ketuamaan akhlak berkata bahwa akar seluruh keutamaan moral adalah kebebasan. Yang dimaksud oleh para ulama ini dari kebebasan ini adalah bahwa manusia harus bebas dari belenggu syahwat dan pasungan kekuatan hewan dan syaitan. Terkadang juga kebebasan moral misalnya pada sebuah sistem moral  kita memandang beberapa perbuatan sebagai belenggu misalnya menyembah perut, jabatan, harta, wanita dan tahta. Dan sebagai kebalikannya adalah kemuliaan, iffah, kesucian dan altruis dan ekstrovert dipandang sebagai kebebasan dan kebebasan ini adalah kebebasan moral.

Dari dua ilustrasi kebebasan yang diutarakan di atas yaitu kebebasan filosofis dan kebebasan moral keduanya tidak dibahas dalam pembahasan politik dan sosial.

 

Kebebasan Hukum

Pembahasan lainya dalam masalah ini adalah bahwa sejauh mana manusia bebas dari sudut pandang hukum? Antara masalah hukum dan masalah moral terdapat perbedaan; di antaranya bahwa masalah moral dapat melulu berkutat pada masalah-masalah invidivual saja. Misalnya manusia sendiri di rumahnya mau menjadi penyembah harta atau tidak; teratur atau tidak. Dalam masalah ini yang mengemuka adalah aturan moral dan norma. Tidak berurusan dengan masalah hukum. Pemerintah tidak berkata bahwa kalian tidak boleh menjadi penyembah harta. Atau ada yang berbuat demikian, pemerintah tidak memiliki wewengan untuk interfensi apatah lagi menghukumnya. Masalah ini tidak ada urusannya dengan pemerintah.

Masalah hukum adalah sebuah masalah yang terkait dengan hubungan sosial antara sesama warga dan ditetapkan untuk menata hubungan sosial ini dimana pemerintah yang menjamin terlaksananya tatanan dan aturan ini.

Dalam masalah hukum ini beberapa persoalan mengedepan bahwa apakah manusia bebas atau tidak? Pertama dari sudut pandang hukum, dalam bidang apa manusia itu bebas? Dari sudut pandang kepemilikan? Dari perspektif masalah keluarga? Dari angle pemilihan warna politik? Campur tangan dalam urusan politik? Bla..blaa..

Apa yang kini semarak dan ramai menjadi bahan diskusi di kafe, seminar, dan majelis taklim adalah kebebasan berekspresi dan kebebasan pers. Pembahasan ini tentu tidak terkait dengan kebebasan filsafat begitu juga dengan kebebasan moral. Di sini yang mengemuka adalah kebebasan dalam perspektif hukum. Misalnya, seberapa jauh seorang warga memiliki kebebasan berekspresi sehingga tidak menjadi persoalan hukum baginya seperti diajukan ke pengadilan, dinyatakan bersalah lalu dijebloskan ke penjara. Apakah kebebasan berekspresi ini juga memiliki aturan main sehingga setiap orang tidak salah-kaprah memaknai kebebasan ini. Sebagai contoh dewasa ini yang berkembang di Barat, seseorang berkata bahwa saya ingin berjalan telanjang di jalan! Tiada satu pun yang memiliki hak bertanya mengapa saya melakukan hal ini; hanya saya yang dapat memutuskan berpakaian atau telanjang ke luar rumah. Sudah barang tentu orang ini tidak dapat dibiarkan melenggang di jalan umum sesuai dengan keinginannya mengingat perilaku asusila yang dibuatnya dapat berimbas pada kerusakan moral masyarakat secara keseluruhan.  

Misal yang lain kembali kepada masalah bangunan. Seseorang membangun rumahnya namun di atas tanah orang lain. Tentu dalam masalah ini pemerintah dengan hukum yang ditetapkannya harus mengamankan orang ini karena telah mengambil hak orang lain. Kedua masalah ini di samping bertautan dengan masalah hukum dan moral, juga bertalian dengan agama.

 

Hubungan antara Agama dan Kebebasan

Dengan memperhatikan pembagian kebebasan yang diutarakan di atas dan yang menjadi sorotan utama pembahasan kita kali ini adalah apa hubungan antara agama dan kebebasan? Apakah keduanya saling bentrokan satu dengan yang lain? Apabila bentrokan satu dengan yang lain, kemudian mana yang harus dikedepankan?

Dengan memperhatikan dengan pembahasan yang dijelaskan bahwa kebebasan ini bertautan dengan masalah harus dan tidak harus (must not); bukan masalah ada dan tiada (baca filsafat). Kebebasan takwini manusia bukan pembahasan dalam masalah ini. Yang menjadi pembahasan kita di sini adalah masalah kebebasan yang berkenaan dengan masalah harus dan tidak harus; masalah kebebasan moral dan kebebasan hukum.

Agama Islam termasuk dalam kategori moral juga kategori hukum. Tatkala disebutkan bahwa apakah perbuatan itu bebas atau tidak? Kita harus berkata bahwa yang dimaksud bebas di sini adalah bebas secara moral atau secara hukum? Dari sudut pandang moral ini domain kebebasan sangat menjuntai.

Dalam perspektif moralitas agama, skop kebebasan sangat terbatas; artinya setiap perkara, setidaknya ada larangan dan perintahnya. Kita meyakini bahwa tiada satu pun gerakan, diam dan tindakan mandiri manusia yang tidak mendapat perhatian agama; apabila perbuatan tersebut berhubungan dengan bahagia atau sengsaranya manusia, maka hal ini pasti mendapat sorotan agama.

Agama menyangkut segala hal. Segala yang berpengaruh dan memiliki andil dalam membahagiakan dan menyengsarakan manusia dimana halal dan haram sebagai konklusinya dibahas dalam agama. Namun berkaitan dengan bagaimananya (kualitas, bentuk dan corak) tiada hubungannya dengan agama. Dalam hal bagaimana bentuk bangunan, dibangun pakai kayu atau batu-bata tiada kaitannya dengan agama; namun ketika bangunan ini mengganggu tetangga, tanahnya adalah tanah rampasan maka masalah ini bertautan dengan agama. Segala yang bertautan dengan halal dan haram, Tuhan ridha atau tidak adalah berkenaan dengan agama. Bahwa model bangunan, berapa luasnya, tingginya dan sebagainya, kita tidak dapat berharap banyak dari agama.

Dari sini dapat kita katakan bahwa agama dan kebebasan satu dengan yang lain terkait secara berkelindan. Titik tolak agama adalah kebebasan. Dan campur tangan agama pada masalah urusan sosial dan mondial setiap pemeluknya. Tentu kebebasan dalam perkara ini bertautan dengan kebebasan moral dan kebebasan hukum dimana agama, karena berkaitan dengan masalah sengsara dan bahagianya manusia, tetap tersangkut di dalamnya.  

 

Nilai Kebebasan Barat dan Islam

Kebebasan merupakan salah satu konsep yang paling mengemuka dan prinsip maktab Liberalisme. Sejauh yang didefinisikan oleh puak Liberalisme. Sementara menurut pemikir yang lain, kebebasan juga harus diberikan signifikansi dengan pahaman-pahaman lainnya seperti kebahagiaan, kesetaran, keadilan sosial, demokrasi, menjaga sistem dan stabilitas dalam sebuah masyarakat. 

Dalam Liberalisme tidak satu pun dari pahaman yang disebut belakangan memiliki keterikatan. Menurut Liberalisme, kebebasan bukan merupakan media untuk mencapai satu tujuan politik, namun pada hakikatnya liberalisme itu sendiri merupakan tujuan politik tertinggi. Kebebasan dalam Islam juga sangat mengemuka dan bahkan merupakan sebuah anugerah yang dengannya ia dapat meniti jalan untuk meraup kebahagiaannya.

Kebebasan di Barat bertitik-tolak dari hasrat dan keinginan manusiawi. Filsafat kebebasan mereka adalah humanisme. Dalam Islam kebebasan bertitik tolak dari pandangan dunia Ilahi. Islam tidak hanya berpijak pada humanisme tetapi juga pada makrifat tauhid. Islam memandang tidak satu pun manusia harus menjadi budak manusia lainnya kecuali Tuhan. Sesiapa yang menerima Islam dan asasnya maka ia akan memandang bahwa manusia itu bebas. Dalam Islam nilai kehidupan pada religiusitas, ibadah dan ketaatan kepada Tuhan. Lantaran kebebasannnya bersumber dari Tuhan maka ia tidak layak menjadi hamba bagi manusia lainnya. Kebebasan dalam agama adalah kebebasn yang berporos pada taklif dan tugas-tugas syar’i.

Menurut Ayatullah Ja’far Subhani, di dunia Barat kebebasan memiliki satu syarat dan syarat tersebut adalah sepanjang tidak mengganggu kebebasan orang lain. Sementara dalam Islam memiliki dua syarat. Pertama selaras dengan kebebasan yang berkembang di Barat, namun dengan tambahan bahwa kebebasan itu mampu menjamin kebahagiaan manusia. Kebebasan di Barat adalah memenuhi keinginan natural manusia. Apa saja yang menjadi keinginan manusai terjangkau dan ujung-ujungnya adalah penafian taklif. Sementara dalam Islam kebebasan merupakan pijakan taklif. Kebebasan di Barat pelampiasan keinginan sementara dalam Islam menghidupkan nilai-nilai. Kebebasan di Barat adalah berada dalam lingkaran materi sementara dalam Islam berada dalam batasan hak-hak Ilahi. (Ayatullah Ja’far Subhani:2004)

Kalau ingin dibahasakan secara teknis kebebasan yang berkembang di Barat adalah kebebasan dari (freedom from) dan yang diterima oleh Islam adalah kebebasan untuk (freedom for). Lantaran kebebasan yang belakangan adalah kebebasan untuk kesempurnaan manusia itu sendiri. Kebebasan yang berpijak di atas pandangan dunia Tauhid.  

Mendatang pembahasan yang akan kita kaji bersama adalah kaitan-kaitan kebebasan dengan masalah-masalah agama seperti kebebasan dan ketaatan pada aturan, kebebasan dan keadilan, agama dan kebebasan berakidah, agama dan kebebasan berpikir, agama dan kebebasan berekspresi. Serta terakhir redaksi-redaksi dan kandungan makna kebebasan yang disinggung dalam al-Qur’an.. Insya Allah.. [www.wisdoms4all.com/ind]  

 

Sumber bacaan:

1.    Takamuli Ijtimai Insan, Ayatullah Syahid Muthahhari

2.    The Rise and Decline of Western Liberalism, Anthony Arblaster

3.    Din wa Azadi, Ayatullah Misbah Yazdi  

4.    Jamia wa Tarikh, Ayatullah Misbah Yazdi

5.    Humanism in Islam, Marcell Boisard

6.    Azadi wa Din Salari, Ayatullah Ja’far Subhani

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s