Menyoroti Wacana Pluralisme Agama

plurlSalah satu faktor yang memperkaya ilmu dan pengetahuan masyarakat adalah luasnya jangkauan dialog dan perbincangan ilmiah. Pertumbuhan kuantitatif dan kualitatif suatu gagasan sebenarnya merupakan hasil benturan pendapat dan pertukaran pikiran. Teologi Islam (Ilmu Kalam) juga tidak terlepas dari hukum di atas. Seiring dengan perjalanan waktu, cakupan disiplin ini menjadi semakin luas. Melalui lontaran pelbagai pendapat dan keyakinan dalam ilmu agama-agama dan teologi, disiplin ini keluar dari keredupan dan kebekuan. Jenis gerakan ilmiah ini menyebabkan pendalaman dalil-dalil dan bukti-bukti mengenai pengetahuan tentang Allah, dan menyebabkan masuknya masalah-masalah baru ke wilayah teologi Islam, seperti masalah wahyu dan keimanan, kriteria kebenaran dalam isu-isu keagamaan, bahasa agama, pluralisme agama dan lain sebagainya.

Makalah ini secara ringkas berusaha menjelaskan dan mengkritik sejumlah pendapat tentang kesatuan dan pluralitas agama-agama, sekalipun upaya untuk menjelaskan secara rinci terhadap hal tersebut dibutuhkan kesempatan lain dan banyak makalah.
Pluralisme adalah aliran dan kecenderungan yang menganggap bahwa dasar dan bangunannya adalah pluralitas, dan memiliki pandangan ke arah kemajemukan. Seorang pluralis mempercayai kemajemukan, dan adanya lebih dari satu kebenaran atau hakikat mutlak. Berbeda dengan seorang pluralis adalah orang yang menyakini kesatuan dan cenderung pada semacam pembatasan agama. Aliran pluralisme terbagi menjadi tiga: pluralisme etika, politik dan agama.

Pluralisme etika menganggap bahwa ada lebih dari satu prinsip dan kriteria baik dan buruk. Hal ini berarti relativitas etika. Sebagai konsekuensinya ialah keharusan adanya toleransi dan fleksibilitas dalam wilayah perbuatan individual dan kolektif. Pluralisme sosial merupakan salah satu kajian filsafat dalam ilmu-ilmu sosial. Pluralisme ini berkeyakinan bahwa masyarakat berpijak pada sejumlah himpunan bangsa atau etnis. Pluralisme politik merupakan salah satu prinsip dasar bagi demokrasi liberal. Pluralisme politik meyakini bahwa pembagian kekuasaan politik di antara beberapa kelompok dan institusi yang bebas dari pemerintah agar terlibat dalam kancah politik.

Di masa-masa lampau, berbagai agama dan aliran kepercayaan tidak saling mengenal. Kalau pun ada aksi atau reaksi di antara mereka, biasanya didasarkan pada semacam konflik dan pertarungan agama. Jarang sekali ada kajian dan dialog di antara mereka untuk mencapai pengetahuan yang mendalam atau saling memahami. Namun, pada abad terakhir ini telah muncul banyak kajian ilmiah dalam rangka mencapai pengetahuan yang lebih dalam mengenai pelbagai agama. Salah satu faktor utama yang mendorong kajian-kajian itu adalah timbulnya klaim-klaim yang saling bertolak-belakang di antara agama-agama yang ada. Akibatnya, masuklah masalah baru dalam filsafat agama.

Kalau ingin lebih konkret, kita akan menghadapi pertanyaan berikut: jika ada hipotesis a priori berupa pembatasan kebenaran (exdurisism) pada agama-agama samawi dan lainnya, bagaimana kita dapat membuka jalan keselamatan bagi agama-agama lain?

Jelas, siapapun yang lahir di negeri manapun akan memilih dan mengikuti agama dan aliran yang dominan di sana. Semua agama berbeda-beda pendapat mengenai tujuan akhir dan kebahagian manusia, serta berbeda pendapat dalam menjelaskan fakta-fakta yang berkaitan dengan Allah dan manusia.

John Hick mengatakan: “Sebagian orang beranggapan bahwa masing-masing agama mengajukan berbagai argumen untuk menegaskan kesahihannya. Dengan begitu, satu agama akan menilai agama lain tidak benar. Akibatnya, masing-masing agama senantiasa memiliki banyak argumen dalam rangka menegaskan ketidakbenaran agama (lain) tersebut.”

Lebih penting lagi, setiap teolog mengetahui fakta bahwa ada banyak agama dan aliran lain selain agama dan alirannya. Karena itu, dia harus menyatakan sudut-pandangnya mengenai tiap-tiap aliran dan agama tersebut. Dia harus mengenali titik-titik kekhasan dan kesamaan yang ada. Dia harus membanding-bandingkan kesahihan dan kekeliruan masing-masing. Dia harus menggunakan cara-cara yang bijak dan dapat diterima dalam melakukan pembelaan rasional terhadap ajaran-ajaran agama yang terdapat dalam teks-teks suci agamanya. Dia harus menjawab secara logis segenap keraguan dan sanggahan yang dilontarkan oleh para pengikut agama dan aliran lain. Dia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini: apakah hanya ada satu cara untuk mencapai keselamatan, kebahagiaan dan kebenaran dalam seluruh agama ataukah tidak? Mungkinkah kita mengasumsikan adanya satu substansi bagi seluruh agama? Apakah mungkin menggabungkan berbagai pendapat yang bertentangan mengenai agama melalui dialog atau relativitas, atau yang serupa dengan itu?

Satu hal yang patut diperhatikan adalah bahwa mereka membagi pluralisme agama menjadi dua: pluralisme di dalam satu agama dan di luar satu agama. Pluralisme di dalam satu agama memandang bahwa seluruh perbedaan tafsir mengenai agama tertentu yang memunculkan berbagai aliran dan sekte merupakan hal yang hakiki dan dapat membawa manusia pada kebahagiaan. Contoh pernyataan ini terdapat pada teori pembenaran (tashwîb) dalam Asy’ariyah dan Muktazilah. Teori ini memunculkan semacam penggabungan antara dua hal yang berkontradiksi.

Pluralisme di luar satu agama adalah pandangan bahwa semua agama yang berbeda-beda itu mengandung kebenaran dan dapat membawa pada kebahagiaan.

Pembagian lain pluralisme adalah keyakinan sebagian orang bahwa tujuan dan kebenaran itu bermacam-macam. Sebagian lain meyakini bahwa adanya satu tujuan dan kebenaran, tetapi jalan menuju tujuan dan kebenaran itu bermacam-macam.
Setelah membeberkan dan menjelaskan inti masalah, kami akan mulai menjelaskan pelbagai pandangan dan kesimpulan yang diajukan oleh para filosof agama dan teolog berkenaan dengan masalah ini. Profesor Richards Gyln—Direktur Pusat Kajian Agama di Universitas Sterling—membahas hampir semua interpretasi ini dalam bukunya “Towards a Theology of Religions.”
Salah satu guru besar Hawzah dan Universitas telah membedah buku ini dalam edisi pertama jurnal triwulanan al-Hawzah wa al-Jâmi’ah. Paparan kami di sini akan difokuskan pada makalah tersebut, sekalipun juga menyinggung pendapat sebagian sejumlah pemikir Iran lain.

 

Pandangan Pertama

Pandangan ini bermuara pada dialog antar-agama. Di antara pendukung pandangan ini adalah John Hick, Ninian Smart, Wilford Cantwell Smith, Raimund dan Panikkar. Kelompok ini berkeyakinan bahwa tidak boleh ada klaim exdurisisme bagi agama tertentu. Harus disadari bahwa keterlibatan intuitif dalam dialog bukan saja tidak akan menghilangkan ketulusan akidah para penganut agama, melainkan jutsru akan menambah kekayaan dan pendalaman budaya keagamaan mereka.

Tampak bahwa pandangan ini lebih menggambarkan toleransi dan kelonggaran daripada kajian filsafat dan teologi. Dengan kata lain, pandangan ini sebenarnya merupakan semacam kecenderungan etis dan psikologis, bukan hasil kajian filosofis dan teologis.
Permasalahan kita adalah apakah semua orang beriman dan beragama akan mendapatkan kebahagiaan hakiki? Ataukah kebahagiaan hakiki itu hanya monopoli satu agama atau aliran tertentu? Kecenderungan untuk dialog antar-agama sama sekali tidak bakal menghapuskan segenap perbedaan yang ada di medan pengetahuan keagamaan. Yang mungkin terjadi adalah sebagian orang beragama dapat menambah dan memperkaya pengetahuan keagamaan, mendekatkan antar agama dan aliran, menciptakan semacam interaksi dan sikap lapang dada di kalangan peneliti, menghilangkan ketegangan sosial di kalangan pemeluk agama, dan pada akhirnya pertanyaan tersebut tetap tidak mendapatkan jawaban.

Patut disebutkan bahwa para pemimpin Islam—khususnya kalangan Imam Syiah—telah memberikan perhatian khusus terhadap tukar pikiran. Mereka berdialog dan berdebat dengan lawan-lawannya secara lapang dada. Mereka melarang para pengikutnya untuk menghadapi lawan-lawannya dengan sikap kasar. Atas dasar ini, muncul ilmu dialog dalam sejarah teologi Syiah. Dalam ilmu ini terdapat tuntunan etika dan logika dalam berdialog dan berdebat.

Ringkasnya, pluralisme tidak semestinya dicampuradukkan dengan toleransi agama. Toleransi merupakan cara penyelesaian praktis demi hidup berdampingan secara bersama-sama, dan demi ketenangan sosial. Dengan kata lain, toleransi sebenarnya sejenis kebebasan dan penghormatan terhadap hak-hak para pengikut agama lain. Solusi ini berbeda dengan pluralisme. Memang benar bahwa seorang pluralis pada tataran praksis cenderung bersikap toleran. Hal itu karena adanya kaitan psikologis antara keyakinan dengan tindakan.

 

Pandangan Kedua

Pandangan ini melontarkan solusi melalui relativisme. Kelompok ini tidak mengakui kemutlakan dan eksklusivitas di satu pihak, dan di pihak lain —sebagai akibat pengetahuannya mengenai perubahan-perubahan sejarah— menyakini bahwa segala sesuatu dapat mengalami perubahan sejarah. Termasuk dalam hal ini gejala-gejala kebudayaan, pendapat-pendapat keagamaan dan moral. Dengan kata lain, semua agama dengan berbagai bentuknya menjamin keselamatan dan kesejahteraan bagi manusia. Atas dasar itu, manusia tidak boleh mencari-cari perbedaan, tapi memperhatikan aspek-aspek kesamaan dan menjauhi semua yang memecah-belah mereka.

Jawaban yang dilontarkan oleh, antara lain, Ernst Troeltsch, sarjana teologi dan filosof Jerman (1865-1923) dan Arnold Toynbee, sejarawan dan filosof sejarah Inggris (1889-1975), menghadapi sejumlah keberatan ilmiah—epistemologis dan teologis:

Keberatan pertama: jika kelompok ini mengakui perubahan sejarah untuk setiap gejala, dan mengikuti relativisme objektif, maka tidak ada keharusan memegang klaim keselamatan dan kesejahteraan. Padahal, konsep-konsep ini merupakan tujuan akhir semua umat beragama. Ada konsep tetap mengenai tujuan final, yang tidak sejalan dengan perubahan komprehensif sebagaimana dituturkan oleh para penganjur relativisme.

Keberatan kedua: hal itu meniscayakan tiadanya hubungan antara perubahan komprehensif dan sikap menerima aspek-aspek yang sama di antara agama-agama. Andaikata semua fenomena berubah dan tidak tetap, bagaimana mungkin kita membuat satu atau beberapa hal yang disepakati dan tetap di antara semua agama, lalu kita menganjurkan umat beragama untuk memegangnya dan memberikan perhatian padanya.

Keberatan ketiga: berkenaan dengan dasar pemikiran ini sendiri, yaitu bahwa perubahan menyeluruh dalam semua fenomena. Semua pemikir yang realistis tidak menerima pandangan demikian. Karena, korban pertama dari perubahan menyeluruh adalah teori relativisme itu sendiri, sehingga pada akhirnya perubahan menyeluruh itu akan berganti menjadi sesuatu yang tetap.
Keberatan keempat: hingga kini belum dibuktikan ada perkara yang disepakati oleh semua agama, meskipun ada aspek-aspek kesamaan di antara mereka, seperti, pada batas-batas tertentu, keyakinan terhadap keesaan Allah yang disepakati oleh agama Yahudi dan Islam. Akan tetapi, pemahaman terhadap keesaan ini tidak sejalan dengan pemikiran Kristiani. Interpretasi kaum Kristiani terhadap keesaan Allah sejalan dengan ide trinitas.

 

Pandangan Ketiga

Di antara penganut pandangan ini adalah Schleiermacher dan Carl Gustav Jung. Pandangan ini memberikan jawaban yang substansial. Mereka menerima bahwa harus ada substansi agama.

Schleiermacher mengatakan: “Keragaman agama merupakan sesuatu yang niscaya untuk menunjukkan kekomprehensifan dan kesempurnaan kesatuan transendental agama-agama, sebab setiap agama menampilkan satu bagian dari substansi agama yang azali dan abadi.”

Sementara itu, sebagian lain seperti W.E. Hocking meyakini bahwa substansi agama merupakan elemen pemersatu semua agama, tanpa menekankan ciri-ciri khas setiap agama.

Berbeda dengan Freud, Jung memiliki sikap positip terhadap agama. Dia menganggap bahwa substansi agama merupakan kesehatan mental manusia, dan menganggapnya sebagai salah satu unsur alamiah kehidupan manusia.
Pandangan ini juga menuai sejumlah keberatan. Pertama, apa bukti yang menunjukkan adanya satu substansi dalam semua agama? Dengan cara apa satu substansi untuk semua agama itu dapat ditemukan?

Kedua, jika forma (lawan dari substansi) tidak niscaya bagi agama, maka substansi agama juga tidak mungkin dipertahankan. Dengan kata lain, bila kita menerima adanya pembedaan antara forma dan substansi agama, maka kita tidak dapat menolak adanya aspek formal ini. Setiap manusia beragama yang ingin meraih substansi agamanya, tidak ada jalan lain baginya kecuali melalui aspek formalnya. Selain itu, pandangan ini tidak sejalan dengan tujuan pluralisme. Sebab, setiap agama menyatakan eksklusivitas kebenaran agamanya melalui aspek-aspek formalnya.

Sebagian lain beranggapan bahwa yang dimaksud dengan “penafian keniscayaan aspek-aspek formal” adalah bahwa tiap aspek formal agama mengantarkan insan beragama mencapai substansi bersama. Sebagai contoh, dengan melakukan ekaristi, shalat, berperilaku cara Buddha dan ritus-ritus agama lainnya, manusia akan sampai pada substansi agama. Oleh karena itu, penekanan pada aspek formal merupakan sesuatu yang salah, bahkan sia-sia dan tidak ada manfaatnya.

Akan tetapi, pendapat di atas bukan saja menyimpang dari konsep keberakhiran (khatamiyyah) agama yang merupakan salah satu keniscayaan dalam Islam, melainkan juga tidak sejalan dengan konsep naskh (pembatalan) sebagian syariat yang diakui oleh sebagian besar agama. Karena, salah satu makna pembatalan syariat adalah pembatalan aspek formal, dan bukan pembatalan substansi. Pembatalan aspek formal muncul dari serangkaian tuntutan zaman. Oleh karena itu, sekalipun berpendapat bahwa keselamatan juga terdapat pada agama-agama selain Kristiani, para tokoh agama Katolik memandang bahwa karunia yang luas dan keselamatan yang sempurna hanya dicapai dengan menganut ajaran Kristiani.

Keberatan lain adalah bahwa interpretasi sebagian penganut pandangan yang berpijak pada asumsi adanya kesatuan substansi agama-agama ini didasarkan pada landasan epistemologi. Yaitu, pembedaan antara realitas subjektif dan realitas fenomenologis, dalam pengertian bahwa realitas subjektif bersifat tunggal, namun realitas yang muncul dalam benak bersifat majemuk. Oleh karena itu, substansi agama dapat dianggap sebagai tunggal dan milik bersama, sekalipun cara mencapai substansi itu beragam lantaran perbedaan tradisi, budaya dan wilayah pengetahuan yang bermacam-macam.

Berdasarkan landasan epistemologis ini, pluralisme—yang berpegang pada asumsi adanya kesatuan substansi agama-agama—mengambil kecenderungan idealis dan relatif, sebab aliran realisme didasarkan pada dua asas: perbedaan antara benak dan realitas konkret, serta korespondensi umum antara benak dan realitas konkret. Kesimpulannya, ketidaksesuaian total antara realitas subjektif dan realitas fenomenologis hanya akan berbuntut pada relativisme.

 

Pandangan Keempat

Pandangan pengalaman inspiratif dan religius. Interpretasi terhadap pandangan ini dilontarkan oleh Paul Tillich, filosof dan teolog Protestan Jerman (1886-1956). Pandangan ini didasarkan pada pengalaman-pengalaman religius secara umum yang tidak terbatas hanya pada orang tertentu atau agama tertentu. Dia berpandangan bahwa ada tiga elemen dasar dalam pengalaman religius manusia, yaitu, elemen kerahasiaan, ketersembunyian dan kegaiban, elemen gnostik (irfani) dan elemen kenabian. Artinya, apabila ketiga elemen tersebut berpadu dan menyatu, maka ketiganya akan melahirkan apa yang disebut dengan agama spiritualitas objektif. Inilah yang dituntut oleh semua agama, sekalipun tidak tampak pada setiap agama historis. Jadi, argumentasi ini bersifat mutlak, dan tidak terbatas pada satu individu atau agama tertentu.

Penjelasannya, pengalaman religius berarti keterkaitan manusia dengan Allah. Dalam pengertian yang lebih umum, pengalaman itu berarti manusia menghadapi sesuatu yang kudus. Jenis pengalaman ini sangat mirip dengan pengalaman indrawi yang memiliki tiga unsur: subjek yang mengalami, objek yang dialami dan analisis subjek terhadap objek yang dialaminya.
Sebelum memberikan evaluasi terhadap pandangan ini, kami akan mengetengahkan perbedaan antara pengalaman religius dan pengalaman indrawi.

Pertama, pengalaman religius berjangkauan luas. Pengalaman ini sangat jarang pada manusia. Dengan kata yang lebih tepat, hanya sedikit orang yang bisa menangkapnya. Sementara itu, pengalaman indrawi mudah dijangkau oleh kebanyakan orang.

Kedua, interpretasi terhadap pelbagai pengalaman serupa ini berbeda-beda dalam satu dan lain situasi. Di samping itu, tidak ada sarana bersama yang disepakati oleh semua agama untuk menjelaskan sahih-tidaknya interpretasi-interpretasi tersebut. Pasalnya, orang yang menganalisis pengalaman-pengalaman religius itu hidup dalam bingkai budaya dan tradisi tertentu yang khas dengan lingkungan mereka sendiri. Faktor-faktor sosial dan lingkungan sangat mempengaruhi setiap analisis. Inilah yang menyebabkan timbulnya perbedaan analisis-analisis tersebut.

Ketiga, pengalaman-pengalaman indrawi sebenarnya sejenis ilmu olahan. Menurut sebagian teori yang diterima dalam epistemologi, ilmu-ilmu empiris atau terapan hanya menghasilkan dugaan atau asumsi. Sebaliknya, pengalaman religius merupakan pengetahuan yang bersifat syuhûdiyyah (penyaksian langsung). Dalam kaitan ini, subjek yang mengetahui berhubungan secara langsung dengan objek-objeknya, dan memberikan keyakinan hakiki pada subjek yang bersangkutan.
Sementara analisis dan penjelasan terhadap kedua jenis pengalaman ini sama-sama masuk dalam kategori ilmu yang bisa diperoleh. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan dalam analisis kedua jenis pengalaman tersebut.

Keempat, kebanyakan pengalaman keagamaan menghadapi persoalan ketidakmampuan untuk digambarkan. Jelasnya, pengalaman itu tidak dibingkai dalam kerangka ungkapan yang lazim. Inilah mengapa ada syathah (ungkapan ektatis) dalam tasawuf. Pengalaman indrawi tidak mengalami masalah semacam ini.

Kelima, ketenangan, kebahagiaan, kejernihan dan berbagai sifat spiritual yang positip merupakan hasil pengalaman religius yang diperoleh oleh subjek yang bersangkutan. Sementara itu, subjek pengalaman indrawi sama sekali tidak mendapatkan ciri seperti ini.

Keenam, sebagian dari pengalaman religius terlepas dari hal-hal rasional. Artinya, akal tidak mampu memahami dan menganalisisnya. Jika akal masuk dalam wilayah ini, maka yang terjadi seperti yang dilukiskan oleh ahli tasawuf dengan “abu al-fudhûl” (ikut-ikutan). Sebaliknya, pengalaman indrawi pada umumnya merupakan kesimpulan rasional atau konsep rasional.
Dengan mempertimbangkan adanya aspek-aspek persamaan dan perbedaan antara pengalaman religius dan pengalaman indrawi, mungkinkah realisasi satu pengalaman yang sama untuk semua agama? Mungkinkah kita menerima semacam pluralisme agama, atau kesatuan substansi agama? Tampak bahwa cara ini tidak menelorkan hasil yang diinginkan. Sebagaimana berbagai analisis terhadap pengalaman religius dipengaruhi oleh budaya, tradisi, situasi sosial dan keadaan spiritual masing-masing individu, demikian pula hakikat pengalaman religius juga akan dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas. Kesimpulannya, pengalaman religius berbeda-beda sebagaimana analisis terhadap pengalaman religius itu juga berbeda-beda.

Jika benar yang dikatakan oleh Paul Tillich bahwa “setiap agama mengambil bagian dari spiritualitas objektif”, maka bagaimana dan dengan cara apa hakikat itu dapat diisbatkan? Mungkin akan dijawab, semua agama memiliki bagian dari hakikat itu? Pada kenyataannya, barangkali semua agama mendapatkan realitas sendiri yang berbeda dengan agama-agama lain. Jadi, klaim bahwa semua agama mencapai bagian-bagian terpisah dari satu hakikat merupakan klaim yang tidak berdasar.

 

Pandangan Kelima

Pandangan ini disebut dengan “antroposentris” atau “mesiah-sentris. Pendapat ini dikemukakan oleh M.M. Thomas, Stanley J. Samartha dan Paul Oevanadan. Pandangan ini memberikan perhatian pada aspek-aspek kesamaan di antara semua agama dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan alam nâsût (alam perikemanusiaan), dan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan humanisasi sisi-sisi kehidupan alam sekarang. Dengan kata lain, kita harus mencari aspek-aspek kesamaan antar berbagai agama dalam masalah-masalah duniawi, tanpa memerhatikan kajian-kajian ilmu lâhût (ketuhanan) dan kehidupan di alam akhirat.

Yang menarik di sini bahwa, pertama, sebagian besar agama, khususnya agama-agama samawi, memberikan perhatian besar pada kehidupan setelah mati dan alam ketuhanan. Bahkan, sebagian agama menganggapnya sebagai substansi agama. Oleh sebab itu, bagaimana mungkin prinsip ini diabaikan, dan bagaimana mungkin agama-agama itu menerimanya?

Kedua, agama-agama itu sendiri berselisih secara mendasar dalam masalah-masalah alam nâsût dan perikemanusiaan, sedemikian sehingga jarang ada aspek yang disepakati oleh agama-agama itu dalam konteks ini. Dengan kata lain, setiap agama memiliki pandangan-dunia yang unik dan berbeda total dengan pandangan-dunia agama-agama lain. Yang lebih penting lagi, hasil-hasil analisis para peneliti terhadap satu agama dari aspek sejarah dan pengetahuan agama tidaklah seragam. Sebagian menganggap bahwa kehidupan akhirat merupakan tujuan dan substansi agama dan tidak membiarkan agama menjadi bersifat duniawi. Maksudnya, mereka tidak ingin mensekulerisasikan agama. Tentu saja, para peneliti lain menentang kelompok peneliti pertama dalam kaitan dengan pandangan-pandangan ini. Akibatnya, pandangan ini dan premis-premisnya tidak akan menjadikan agama-agama itu berdekatan apalagi bersatu-padu.

 

Pandangan Keenam

W.A. Christain dalam bukunya Meaning and Truth in Religion, setelah membedakan antara keimanan dan pengetahuan, mengatakan: “Kepercayaan-kepercayaan religius seperti ‘Yesus adalah penyelamat’, ‘Allah Maha Pengampun’, dan ‘semua Budhis adalah satu”, sekalipun berbeda-beda, tapi tidak ada alasan untuk tidak dapat disatukan. Tentu saja, ada perbedaan keagamaan secara jelas antar-agama dalam beberapa pemberitaan dan permasalahan. Agama Kristen mengatakan bahwa Yesus adalah penyelamat, sementara Yahudi menyatakan hal yang berbeda. Akan tetapi, apabila kita mencermati apa yang dikehendaki oleh kedua pihak, jelas bagi kita bahwa keduanya tidak saling menggugurkan pernyataan pihak lain. Karena, yang dimaksud oleh Yahudi dengan Yesus adalah entitas non-Ilahi, dan yang dimaksud oleh kaum Kristen dengan Yesus (al-Masih) adalah penyelamat umat yang berdosa.

Dengan demikian, kita memiliki dua konsep berbeda mengenai Yesus. Dan dua konsep berbeda ini tentu menegaskan dua hukum berbeda.

Meminjam bahasa Wittgenstein, kita dapat mengatakan: “Setiap agama memiliki semacam konsep vital dan permainan bahasa yang unik. Orang Kristen dan Budha adalah dua kelompok yang berbeda. Keduanya mengikuti dua masyarakat, dan tradisi keagamaan yang berbeda. Keduanya berbicara dengan bahasa agama yang berbeda. Masing-masing bahasa memiliki maknanya sendiri dalam bingkai konsep vital keagamaannya yang unik. Dengan teori ini, persoalan yang mengerikan seputar adanya perbedaan di antara agama-agama dapat dipecahkan.

Hanya saja, W. A. Christain menganggap bahwa pemecahan ini bersifat dangkal, mengingat antara Yahudi dan Kristen ada ketidaksesuaian tajam seputar hakikat Isa. Sebagian mengatakan bahwa hakikat itulah yang akan membebaskan Bani Israel, sementara lainnya menolak anggapan ini. Secara umum, pokok masalah inilah yang menjadi sebab utama pecahnya Kristen dari Yahudi. Lebih tepatnya, Christain melihat bahwa perbedaan-perbedaan keagamaan terbagi menjadi dua kelompok perbedaan:
Kelompok pertama perbedaan-perbedaan antar-agama adalah perbedaan predikat yang diberikan pada satu subjek.
Kelompok kedua perbedaan-perbedaan antar-agama adalah perbedaan subjek yang terkait dengan satu predikat, seperti perbedaan dua pernyataan “Allah adalah dasar wujud segala sesuatu” dan “Alam adalah dasar wujud segala sesuatu”. Perbedaan inilah yang menyebabkan mereka yang percaya dengan dua pernyataan itu terbagi menjadi dua: kalangan yang bertauhid dan tidak bertauhid. Kesimpulan dan keberatan atas teori Christain adalah bahwa pandangan ini tidak menyelesaikan masalah.

 

Pandangan Ketujuh

Pandangan ini merupakan kritik terhadap ide agama tunggal yang dilontarkan oleh W.C. Well Smith dalam bukunya Makna dan Tujuan Agama. Pandangan ini secara cermat menolak gagasan agama tunggal. Adalah penyimpangan baru kalau ada orang yang beranggapan bahwa agama Kristen benar atau Islam benar. Hal itu karena Kristen, Budha, Hindu, Islam dan agama-agama lainnya merupakan rekaan dan ciptaan manusia. Oleh karena itu, daripada berpikir tentang agama-agama atas dasar bahwa agama-agama itu merupakan sistem-sistem yang tidak dapat disatukan, lebih baik kita menganggap kehidupan religius manusia sebagai mata rantai yang kuat di mana di dalamnya terdapat perbedaan-perbedaan luar biasa dan unsur-unsur baru pembentuk kekuatan yang dimunculkan oleh kekuatan yang lebih besar atau lebih kecil. Agama Kristen telah berubah dan menyempurna melalui proses aksi dan reaksi yang rumit terhadap faktor-faktor religius dan non-religius. Pemikiran-pemikiran Kristiani terbentuk dalam miliu budaya yang dilahirkan oleh filsafat Yunani. Gereja sebagai institusi keagamaan dipengaruhi oleh kekaisaran dan sistem perundang-undangan Romawi. Demikian pula dengan mentalitas Protestan yang merefleksikan karakter etnis Jerman Utara. Artinya, tidaklah mungkin berbicara tentang kebenaran dan kesalahan satu agama manapun. Sebab, semua agama tidak lebih dari gerakan religio-kultural yang terbatas dan unik dalam sejarah manusia, serta merupakan gema perbedaan etnis, watak dan gagasan pemikiran manusia.

Perbedaan-perbedaan antara mentalitas Timur dan Barat yang terlihat jelas dalam bentuk yang berbeda-beda, baik secara intelektual, kebahasaan, sosial, politik dan seni tampak dalam perbedaaan agama-agama Timur dan Barat. Perbedaan antar-agama dapat dibagi menjadi tiga tipe:

1.     Perbedaan dalam tipe pengalaman hakikat ketuhanan

2.     Perbedaan dalam tipe pandangan filosofis dan teologis mengenai hakikat ketuhanan di atas, atau hasil-hasil pengalaman religius tersebut.

3.     Perbedaan dalam tipe pengalaman-pengalaman religius utama.

Dalam perbedaan tipe pertama, prinsip atau tujuan akhir adalah kebaikan dalam bentuk yang tertentu dan jelas. Tujuan ini dikenal dengan berbagai nama, dengan Yahweh, Tuhan, Allah, Krishna dan Shiwa. Barangkali berbagai pengalaman atas realitas yang terbatas maupun tidak terbatas dari tujuan umum itu saling melengkapi dan bisa digabungkan.

Perbedaan tipe kedua merupakan bagian dari sejarah pemikiran manusia yang terus menyempurna. Perbedaan-perbedaan itu akan menghilang seiring dengan berlalunya zaman, lantaran semua perbedaan itu terkait dengan aspek historis dan kultural suatu agama yang senantiasa berubah.

Perbedaan tipe ketiga antar-agama bisa dianggap sebagai penghalang terbesar menuju penyatuan agama-agama. Sebab, masing-masing agama memiliki ajaran dan kitab suci yang di dalamnya hakikat ketuhanan menjelma dan dianggap sakral. Para pengikut suatu agama dituntut untuk mengimani dan menyembahnya tanpa keraguan dan keberatan sedikitpun.

Pandangan ini menimbulkan banyak diskusi dan perdebatan. Kami hanya akan menyinggung sebagiannya berikut ini:

Pertama, Smith telah mengacaukan antara agama dan pengetahuan keagamaan. Sebab, hal yang dapat berubah dan terpengaruh oleh faktor-faktor keagamaan eksternal adalah pengetahuan agama, dan bukan agama itu sendiri. Sebaliknya, agama sebagai teks dan hakikat keagamaan bersifat tetap, tidak berubah, kecuali apabila kita menganggap bahwa teks agama itu sendiri telah mengalami distorsi (tahrîf).

Kedua, tipe perbedaan ketiga antar-agama di atas tidak dapat diselesaikan. Smith sendiri menganggap perbedaan tipe pertama dan kedua tidak dapat diselesaikan. Penyelesaian perbedaan tipe pertama tidak mungkin terjadi karena tiadanya bukti bahwa pengalaman-pengalaman agama terhadap hakikat ketuhanan bisa saling melengkapi. Pasalnya, ada dua kemungkinan dalam menganalisis semua pengalaman tersebut: kemungkinan pertama adalah bahwa setiap agama telah mengalami sebagian dari hakikat-hakikat ketuhanan. Bila memang demikian, maka berbagai pengalaman agama itu dapat dianggap saling melengkapi dan menyempurnakan.

Kemungkinan kedua adalah bahwa setiap agama telah mengalami hakikat ketuhanan yang mandiri. Bila demikian, maka berbagai pengalaman itu tidak dapat dipadukan.

Adanya dua kemungkinan itu menunjukkan bahwa menerima salah satunya tanpa bukti penguat hanya akan berujung pada klaim yang tidak berdasar. Penyelesaian perbedaan tipe kedua juga tidak berguna. Karena, sejarah juga menunjukkan penyempurnaan pemikiran, bukan hanya hilangnya perbedaan-perbedaan. Sebaliknya, sejarah menunjukkan adanya banyak perbedaan, perkembangan kuantitatif dalam pertentangan berbagai pemikiran dan munculnya sejumlah kecenderungan dalam berbagai ilmu. Semua itu dapat dijadikan dalil yang membenarkan klaim kita.

Akhirnya, penyelesaian yang diketengahkan oleh Kongres Vatikan II yang menyatakan “bahwa orang yang tidak mengetahui kabar gembira tentang Yesus tanpa sengaja tapi ia memohon kepada Allah dengan tulus, orang seperti itu juga mungkin mendapatkan kebahagiaan abadi.” Solusi ini hanya bisa mengentaskan problem sosial. Artinya, solusi itu tidak menyelesaikan persoalan adanya pertentangan antar-agama dari sisi epistemologis dan teologis. Karena, sekalipun bisa diduga bahwa solusi itu berusaha memecahkan masalah kebahagiaan bagi sebagian orang yang menolak agama Kristen, tapi persoalan tentang kebenaran tetap tidak terpecahkan melaluinya. Apalagi, menurut Kongres ini, sebagian orang yang menentang agama Kristen lantaran lebih memilih agama lain tidak akan mendapatkan kebahagiaan abadi.

 

Pandangan Kedelapan

Pandangan ini lebih menekankan pada keimanan daripada (pelaksanaan) syariat.
Muhammad Mujtahid al-Syabastary dalam menjelaskan pandangan ini mengatakan: “Syariat adalah sekumpulan dogma, tatacara, ritus dan hukum. Manakala lembaga-lembaga dan pusat-pusat religius muncul dalam masyarakat tertentu, sistem kepercayaan dan tingkah laku akan membentuk berbagai aturan, upacara dan tatacara kaku, dan melahirkan masyarakat tertutup dan tidak fleksibel. Siapa saja yang hidup tidak atas dasar sistem keyakinan itu akan disingkirkan.”

Sebaliknya, keimanan religius adalah pengalaman dinamis yang tidak berpijak pada pengingkaran pihak lain. Dalam pluralisme religius, kita berbicara tentang kemungkinan adanya kebenaran dalam berbagai agama, bukan kepastian adanya kebenaran dalam seluruh agama. Jadi, pluralisme religius bermakna adanya kebenaran puncak yang menjelma dalam berbagai bentuk. Pluralisme religius sama sekali tidak berarti menerima semua kebenaran yang ada dalam semua agama.
Kesimpulannya, harus ada kritik terus-menerus yang menyertai pluralisme religius. Karena, kebenaran bersifat laten, dan manusia beragama mesti senantiasa hidup bersama kritik.

Lebih lugasnya, syariat yang telah menjadi pranata, ritus, sistem dogmatis dan sosial adalah syariat yang perlu ditolak. Sebaliknya, syariat yang mengiringi dinamika gejala kesejarahan, kemasyarakatan, material dan kebahasaan dari pengalaman religius yang membara merupakan syariat yang perlu diterima. Karena, jenis syariat ini akan tetap hidup dan sejalan dengan pengalaman keimanan.

Masalah lainnya, pengertian hukum dan sistem sosial di masa permulaan Islam tidak berarti sebuah ilmu sosial dan filsafat hukum. Ungkapan hukum Allah, atau halal dan haram Allah, tidak berarti sistem domestik atau sistem sosial, melainkan penetapan hubungan antara Allah dan manusia. Maksudnya, jika manusia di bidang apapun ingin melakukan perbuatan yang diridhai oleh Allah seperti interaksi dengan istri dan anak, maka dia harus melakukannya menurut bentuk-bentuk tertentu. Sebenarnya, pelaksanaan perbuatan-perbuatan seperti itu akan memperkuat keimanan seseorang dan demikian pula sebaliknya. Sistem hukum harus ada untuk menata hubungan-hubungan duniawi antara satu individu dengan individu lainnya dan dengan pemerintah. Akan tetapi, mengikuti sistem hukum tersebut bukan merupakan agama. Inti agama adalah penjelasan perbuatan-perbuatan semacam itu, yang pada gilirannya memperkuat atau memperlemah pengalaman religius. Perbedaan antara Protestan dan Katolik berpijak pada masalah ini pula. Kelompok Protestan lebih memperhatikan pengalaman religius, sementara Katolik lebih memperhatikan legalitas agama.

Intinya, syariat harus keluar dari kondisi kebekuan agar bisa menjadi sistem hukum, sosial, etiket dan tradisi. Dengan demikian, pengalaman keagamaan-keimanan akan menjelma secara praktis. Setelah itu, syariat akan menjadi norma bagi perilaku manusia yang bersumber dari pengalaman keagamaan, dan mencakup semua aspek kehidupan. “Pada saat itu, syariat tidak berhadap-hadapan dengan keimanan, tetapi melengkapinya.”

Sekalipun tampak menarik dan indah, solusi Mujtahid al-Syabastary ini menimbulkan sejumlah keberatan:
Pertama, teori ini tidak menuntaskan pertentangan antara berbagai pandangan dan keyakinan. Andaikata kita menerima bahwa syariat harus tidak dipaparkan sebagai sehimpunan tatacara dan aturan suatu sistem kepercayaan dan kemasyarakatan, dan harus dinamis dan sejalan dengan pengalaman keimanan dan religius, dan bahwa dinamika agama diperoleh melalui kesesuaiannya dengan masyarakat dan budaya yang dominan di suatu temapt atau zaman, maka niscaya agama itu akan sejalan dengan dan dipengaruhi oleh masyarakat dan budaya tersebut. Agama itupun akan seirama dengan pengalaman religius yang lahir dalam masyarakat itu. Mengingat masyarakat dan budaya itu berbeda-beda, maka mau tidak mau akan muncul perbedaan agama dan pengalaman-pengalaman religius. Pada saat itu, kita akan kembali lagi pada inti permasalahan mengenai kebahagiaan dan kebenaran. Yakni, melalui pengalaman religius dan agama mana kebahagiaan dan kebenaran itu dapat dicapai?

Kedua, dalam hipotesisnya, al-Syabastary mengatakan: “Dalam pluralisme, kita berbicara tentang kemungkinan adanya kebenaran dalam berbagai agama, dan bukan kepastian adanya kebenaran dalam semua agama.” Jelas bahwa perkataan ini tidak memecahkan persoalan pertentangan antar-agama, sebab yang dimaksud dengan “kemungkinan” di sini adalah kementakan dalam peristilahan umum atau kemungkinan dalam istilah logika. Kemungkinan dalam istilah ini berarti mungkin-ada dan mungkin-tiada. Selain itu, ada banyak pernyataan berita dalam teks-teks agama yang tampak kontradiktif. Kemungkinan adanya kebenaran di semua pernyataan itu berarti menyatunya dua hal yang kontradiktif. Orang-orang Kristen, umpamanya, menganggap bahwa Yesus yang dijanjikan adalah juru selamat manusia, sementara Yahudi dan Muslim menolak hal itu. Apakah mungkin menggambarkan kemungkinan adanya kebenaran dalam agama-agama ini sekalipun dua pernyataan itu berkontradiksi?
Rupa-rupanya al-Syabastary menduga adanya pertentangan antara hubungan manusia dan Allah dan hubungan antar-manusia dengan sistem kepercayaan dan hukum yang dapat menumbuhkan pengalaman religius. Padahal, pertentangan semacam itu tidak ada. Bahkan, halal dan haram dalam urusan domestik yang terwujud dalam sistem keluarga tidak menghalangi terciptanya interaksi yang diridhai oleh Allah dan pengembangan pengalaman religius.

 

Pandangan Kesembilan

Pandangan ini diprakarsai oleh John Hick untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana mungkin semua konsepsi dan afirmasi agama tentang hakikat ketuhanan itu benar adanya? Ia menjawab: Ada perbedaan antara apa yang nyata dengan sendirinya dan apa yang nyata menurut kita. Penyebab perbedaan itu terdapat dalam fakta bahwa hakikat tertinggi dan Ilahi itu tidak terbatas, sehingga terlalu luas untuk dijangkau oleh kognisi pikiran dan ekspresi manusia.

Pandangan ini menjadi jelas dan lengkap dalam kerangka filsafat Kant yang membedakan antara fenomena dan noumena.
John Hick bertolak dari anekdot mengenai sekelompok orang buta dan gajah. Dalam anekdot itu dikisahkan bahwa masing-masing orang menggambarkan gajah dengan satu ciri tertentu. Hick mengatakan bahwa orang-orang beragama itu mirip dengan sekelompok orang buta tersebut. Ia menyimpulkan bahwa tak satupun agama yang berhak memonopoli keberagamaan atau mengklaim ekslusivitas kebenarannya, lantaran tiap agama mendapatkan sebagian hakikat dalam sisi formalnya.

Keberatan pertama untuk John Hick adalah relativitas teorinya. Sebab, menerima perbedaan antara “hakikat sebagaimana adanya” dan “hakikat sebagaimana yang tampak”, dan menolak korespondensi benak dengan realitas eksternal atau antara fenomena dengan noumena sama dengan mengajukan relativitas pengetahuan yang paling menonjol.
Keberatan kedua, mengapa kita harus mengasumsikan bahwa semua orang beragama laksana sekelompok orang buta yang kebetulan menemukan fakta yang disebut dengan “gajah”. Boleh jadi setiap orang dari kaum yang beragama mendapatkan fakta khas yang berdiri sendiri.

Keberatan ketiga, jika semua kecenderungan pluralisme meyakini pluralitas kebenaran, maka kecenderungan semacam ini bakal mengarah pada relativitas kebenaran. Hal itu karena sebagian dari berbagai kebenaran itu saling berlawanan. Kecenderungan ini akan berujung pada penerimaan dua hal yang kontradiktif.

Jika kebenaran itu tunggal tapi jalan menuju kepadanya beragam dan bahwa jalan-jalan itu memuat berbagai asumsi epistemologis yang saling bertentangan, maka penerimaan asumsi-asumsi itu akan menyeret manusia kepada relativitas pengetahuan. Anggapan bahwa kebenaran itu tunggal tapi jalan manapun bisa menyampaikan orang pada sebagian sisi keberanan yang tidak sempurna, sehingga tidak meniscayakan penerimaan asumsi-asumsi yang kontradiktif, tidak akan membawa orang pada relativisme.

 

Pandangan Kesepuluh

Pandangan ini berlandaskan eskatologi yang berpijak pada kriteria kebenaran dan ketepatan yang membedakan antara agama yang benar dan agama yang salah. Tentunya, ada perbedaan dalam menentukan kriteria kebenaran. Sebagian menjadikan etika sebagai kriteria kebenaran, sementara yang lain menjadikan pelbagai pengalaman dan keadaan religius sebagai kriteria kebenaran. Sebagian lain beranggapan bahwa jaminan kebutuhan-kebutuhan dasar sebagai kriteria kebenaran. Kelompok keempat menganggap bahwa kriteria keberana adalah korespondensi atau kesesuaian dengan fakta.
Agaknya, pandangan ini merupakan jawaban paling bagus terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan di awal makalah ini. Kita tidak perlu bersikukuh mengatakan bahwa semua agama membawa manusia menuju kebahagiaan dan kebenaran. Sebaliknya, kita harus berusaha menemukan agama paling benar berdasarkan kriteria-kriteria logika. Jika hal itu telah terbukti bagi kita, maka kita percaya bahwa kebahagiaan dan kebenaran terdapat dalam kepatuhan kepadanya. Dengan kata lain, setelah keniscayaan agama dan kenabian dalam artian umum itu telah diisbatkan kebenarannya, barulah kita mencari mana kenabian dan kerasulan yang paling benar.

Sebagain cara untuk mengisbatkan kebenaran klaim kenabian seseorang adalah sebagai berikut:

1.     Ucapan-ucapannya sesuai dengan akal.

2.     Tidak ada pertentangan dan kontradiksi di antara ucapan-ucapannya.

3.     Dapat membawa manusia—sesuai dengan keadaannya—pada tujuan luhur, dan menyediakan segenap kebutuhan yang didambakannya.

4.     Membuktikan hubungannya dengan alam gaib melalui cara tertentu seperti mukjizat.

Ihwal apa metode untuk mengetahui agama yang paling benar tentunya merupakan kajian yang serius dan tidak cukup untuk dipaparkan dalam makalah ini.
Pada sisi lain, saya melihat bahwa masalah pluralitas atau kesatuan agama masih berupa embrio. Kami hanya berharap dapat membantu perkembangannya melalui kajian-kajian yang berbeda. [ sumber ICAS Jakarta/ www.wisdoms4all.com/ind ]

Iklan

One comment on “Menyoroti Wacana Pluralisme Agama

  1. Sekedar sedikit koreksi: berkaitan dengan pandangan pertama, saya merasakan ada semacam reduksi pengertian pluralisme. Toleransi kalau dipahami dengan cara Anda, mungkin benar bahwa itu menjadi murni persoalan saling menghormati keyakinan dalam perbedaan. Tapi, kita harus melihat apa yang sebenarnya mau ditunjukkan oleh permasalahan etis tersebut . Permasalahan etis itu: toleransi beragama, lantas jangan dipahami sebagai saling hormat dalam berkeyakinan, melainkan inti terdalam dari toleransi itu adalah tidak mengklaim keyakinan berbeda sebagai kafir, sesat, menyimpang. Toleransi berarti membiarkan oleh lain dengan kebenaran keyakinan dirinya, bukan menghormati kesesatan keyakinan yang berbeda, meskipun sesat. Saya kira dalam agama Islam juga tidak ada ajaran yang memperbolehkan hormat terhadap kesesatan, paling tidak dalam hati, kalau tidak mampu menindaknya. Dan saya yakin Anda meski mencoba untuk senyum dalam bertemu dengan kelompok selain Anda, tapi Anda sebenarnya memastikannya sebagai sesat dan menyesatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s