Naa Lho.. Hadis Palsu dan Lemah dalam Shahih Bukhari

200px-Sbukhari

”Telitilah kembali setiap hadis yang dinisbatkan pada Rasulullah SAW. Jangan asal riwayat Bukhari, lalu dikatakan sahih.”

Sebagian besar umat Islam di seluruh dunia, yakin dan percaya bahwa kitab hadis Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari adalah sebuah kitab yang berisi kumpulan hadis-hadis paling sahih. Karena keyakinan itu pula, sebagian besar ulama pun turut meyakini dan menempatkannya pada urutan pertama kitab hadis sahih.

Benarkah demikian? ”Tidak semua hadis yang terdapat dalam kitab Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari itu benar-benar sahih. Terdapat beberapa hadis yang termasuk kategori lemah dan palsu,” kata Prof Dr H Muhibbin MAg, guru besar dan pembantu Rektor I IAIN Walisongo, Semarang.

Menurutnya, berdasarkan penelitian yang dilakukannya (hasilnya penelitian Muhibbin ini sudah dibukukan–Red), terdapat hadis yang bertentangan dengan Alquran maupun antarhadis di dalam kitab tersebut.

”Hadis palsunya bermacam-macam. Ada yang karena tidak sesuai atau bertentangan dengan Alquran, namun ada pula yang tidak sesuai dengan kondisi kekinian,” terang mantan dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo ini.

Kepada Syahruddin El-Fikri, wartawan Republika, Muhibbin mengungkapkan berbagai kelemahan hadis yang terdapat dalam kitab Jami’ al-Shahih tersebut. Berikut petikannya.

Benarkah hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari itu semuanya masuk kategori hadis sahih?
Tidak. Tidak semua hadis yang terdapat dalam kitab itu masuk dalam kategori sahih. Terdapat beberapa hadis palsu dan lemah (dlaif). Saya sudah mengungkapkan hal ini dalam disertasi doktoral saya yang sekarang sudah dibukukan.
Perlu diketahui, sebelumnya pengungkapan hadis palsu dan lemah dalam karya Imam Bukhari itu juga sudah pernah diungkapkan para pemikir dan peneliti hadis lainnya. Misalnya, Fazlurrahman (1919-1988 M), Abu Hasan al-Daruquthni (306-385 H), al-Sarkhasi (w 493 H/1098 M), Muhammad Abduh (1849-1905 M), Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935 M), Ahmad Amin (w 1373 H/1945 M), dan Muhammad Ghazali (w 1416 H/1996 M).

Bisa dicontohkan, beberapa hadis palsu yang Anda temukan dalam kitab tersebut?
Misalnya, hadis palsu yang terdapat dalam kitab itu, setelah diteliti, ternyata ada yang tidak sesuai dengan fakta sejarah. Misalnya, tentang Isra Mi’raj. Di dalam kitab itu, disebutkan bahwa terjadinya Isra Mi’raj itu sebelum jadi Nabi. Faktanya, Isra Mi’raj itu setelah Rasulullah diutus menjadi Nabi.
Kemudian, ada pula hadis Nabi yang bertentangan dengan ayat Alquran. Contohnya, tentang seseorang yang meninggal dunia akan disiksa bila si mayit ditangisi oleh ahli warisnya. (Lihat Kitab Jenazah, bab ke-32, hadis ke 648/I–Red).
Ini kan bertentangan dengan ayat Alquran, bahwa seseorang itu tidak akan memikul dosa orang lain. (Lihat ayat Alquran surah al-Fathir ayat 18, Al-An’am ayat 164, Az-Zumar ayat 7, Al-Isra ayat 15, dan An-najm ayat 38–Red).
Dan, masih banyak lagi hadis yang bertentangan atau tidak sesuai dengan ayat Alquran maupun hadis Nabi SAW.

Apa kriterianya sehingga ungkapan itu dikatakan benar-benar hadis Nabi, padahal menurut Anda, itu bukan hadis sahih?
Dalam penelitian yang kami lakukan, ada beberapa kriteria dalam menilai sebuah hadis itu dikatakan sahih atau tidak, mutawatir atau tidak, ahad, atau lainnya.
Dalam kitab Bukhari, beliau sendiri tidak memberikan keterangan perinci mengenai kriteria kesahihan hadis. Bukhari hanya mengatakan bahwa semua hadis yang ditulisnya dalam al-Jami’ al-Shahih itu sebagai hadis, dari seleksi sekitar 300 ribu hadis. Dan, satu-satunya yang dapat ditemukan dari Al-Bukhari adalah kriteria keharusan adanya pertemuan (al-Liqa`) antara satu perawi dengan perawi terdekatnya.
Menurut beberapa ahli hadis, seperti al-Naysaburi (w 405 H/1014 M), al-Maqdisi (w 507 H), al-Hazimi (w 584 H), dan lainnya, kriteria hadis sahih yang dipakai Bukhari adalah kesahihah yang disepakati, diriwayatkan oleh orang yang masyhur sebagai perawi hadis dan minimal dua orang perawi di kalangan sahabat yang tsiqah (adil dan kuat hafalan), serta lainnya.
Padahal, para ulama hadis lainnya menyusun sejumlah kriteria dalam menilai hadis sebuah dapat dikatakan sahih dan tidak, mulai dari segi sanad (tersambungnya para perawi hadis), matan (isi hadis), serta kualitas dan kuantitas para perawi hadis. Bagaimana tingkat hafalannya, keadilannya, suka berbohong atau tidak, dan lain sebagainya.
Karena itu, kami menilai, kriteria yang dirumuskan oleh al-Bukhari mengandung beberapa kelemahan, terutama bila diverifikasi terhadap kitab al-Jami’ al-Shahih itu sendiri.

Apa saja kelemahannya?
Kelemahan itu, antara lain, tentang minimal jumlah perawi hadis yang harus meriwayatkan hadis. Di dalam kitab tersebut, ditemukan cukup banyak hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi.
Begitu juga, dalam hal persambungan sanad hadis juga terdapat kelemahan. Di antaranya, seperti diakui sendiri oleh al-Bukhari, di dalamnya ada hadis yang muallaq, mursal, bahkan munqathi` (terputus).
Juga, ada perawi hadis yang tidak tsiqah, bahkan dituduh majhul (tidak diketahui identitasnya), dianggap kadzab (berbohong), dan lainnya.

Bisa disebutkan beberapa contoh perawi hadis yang diketahui tidak tsiqah atau lemah dalam Shahih Bukhari itu?
Misalnya, Asbath Abu al-Yasa` al-Bashri. Ia tidak diketahui identitasnya atau majhul, dan menyalahi riwayat orang-orang tsiqah.
Lalu, ada Ismal bin Mujalad, seorang perawi yang dlaif (lemah) dan tidak termasuk orang yang kuat hafalannya.
Kemudian, ada Hisyam bin Hajir, Ahmad bin Yazid bin Ibrahim Abu al-Hasan al-Harani, dan Salamah bin Raja’ sebagai perawi dlaif. Begitu juga, dengan Ubay bin Abbas, dikenal sebagai perawi yang tidak kuat hafalannya dan munkir al-Hadits.

Selain kedua contoh hadis yang ditengarai palsu tadi, apalagi contoh hadis yang diduga palsu dalam kitab al-Jami’ al-Shahih tersebut?
Selain ada hadis yang bertentangan dengan Alquran maupun hadis Nabi sendiri dan tidak sesuai dengan fakta sejarah, juga diragukan hadis yang banyak mengungkapkan tentang masa depan. Misalnya, tentang ungkapan, ‘Alaikum Bi sunnati wa sunnati khulafa`ur rasyidin (Ikutlah kalian akan sunahku dan sunah khulafa`ur rasyidin). Bagaimana mungkin Rasulullah SAW mengucapkan hadis ini, padahal saat itu belum ada khulafa`ur rasyidin. Khalifah yang empat itu baru ada setelah Rasulullah SAW wafat.
Fathurrahman, seorang peneliti hadis mengungkapkan, dirinya tidak mau sama sekali menerima hadis-hadis Nabi Saw yang menyatakan tentang peristiwa masa depan. Istilahnya seperti ramalan.
Saya pribadi, masalah ini masa bisa diterima. Sebab, memang ada yang sesuai dan ada pula yang tidak.

Dalam penelitian Anda, ada berapa banyak hadis yang tidak sahih dalam jumlahnya?
Secara spesifik, saya tidak menyebutkan berapa jumlah hadis palsu atau lemah di dalam kitab tersebut. Namun, al-Daruquthni menyatakan, terdapat sekitar 110 hadis palsu di dalam kitab tersebut dari sejumlah 6.000-an hadis. Muhammad al-Ghazali menyebutkan lebih banyak lagi.
Beberapa di antara hadis yang kami nilai lemah dan palsu, yakni tentang hadis masalah poligami, tentang kehidupan dalam rumah tangga, tentang pernikahan. Misalnya, di dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan, Rasulullah SAW menikahi Maimunah pada saat berihram.
Ini bertentangan dengan hadis Nabi sendiri yang melarang melakukan pernikahan selama masa haji atau berihram. Kemudian, pernyataan Rasulullah menikahi Maimunah pada waktu ihram itu juga bertentangan dengan hadis yang ditulis al-Bukhari di dalamnya kitabnya itu, yang menyatakan Rasulullah menikahi Maimunah ketika usai bertahalul.

Dari hasil penelitian Anda, bisa ditarik kesimpulan bahwa tidak semua hadis dalam Shahih Bukhari benar-benar sahih?
Ya. Tidak semuanya bisa dikatakan sahih. Sebab, Bukhari sendiri ada yang disebutkannya hadis mursal, hasan, dan lain sebagainya.
Ketidaklayakan disebut sebagai hadis sahih itu meliputi adanya pertentangan atau ketidaksesuaian dengan nas Alquran dan Sunnah Mutawatirah. Materi hadis bertentangan dengan keadaan dan Sirah Nabawiyah (sejarah hidup Nabi), bertentangan dengan fakta sejarah, adanya materi hadis yang mengandung prediksi atau ramalan dan bersifat politis, serta mengandung fanatisme kesukuan.

Lalu, bagaimana sikap umat untuk menggunakan hadis-hadis yang terdapat dalam Shahih Bukhari itu?
Saran saya, umat Islam hendaknya berhati-hati setiap akan menggunakan atau mengamalkan sebuah hadis Nabi. Sebab, sahih menurut perawi hadis A, belum tentu sahih menurut perawi hadis B. Demikian pula yang lainnya. Telitilah kembali sebelum menggunakan dan mengamalkannya.
Bagi para mubalig, kami menyarankan, hendaknya tidak asal mengutip hadis. Jangan selalu mengatakan bahwa itu hadis Nabi. Padahal, sesungguhnya bukan. Rasul menyatakan, barang siapa yang berbohong atas namaku maka tempatnya di neraka. Man Kadzdzaba alayya muta’ammidan fal yatabawwa’ maq’adahu minan nar.
Telitilah kembali hadis-hadis yang ada sebelum diamalkan. Sudah benarkah itu hadis Nabi SAW. Jangan asal termuat dalam Shahih Bukhari, lalu diklaim sahih. Tanyakan pada yang lebih paham tentang hadis. [sumber Republika]

Iklan

9 comments on “Naa Lho.. Hadis Palsu dan Lemah dalam Shahih Bukhari

  1. Hadis ini sahih, ‘Alaikum Bi sunnati wa sunnati khulafa`ur rasyidin (Ikutlah kalian akan sunahku dan sunah khulafa`ur rasyidin). Rasulullah SAW mengucapkan hadis ini,

    TETAPI bukan Khalifah yang empat itu setelah Rasulullah SAW wafat.

    Hadis di atas bersambung dengan Hadis 12 khalifah dari Quraish dlm Sahih.

  2. IAIN sarangnya JIL. terlalu banyak pendangkalan aqidah di kampus2 IAIN saat ini tapi alhadulillah Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan untuk terus melawan pemikiran2 sesat antek2 JIL.

    sebagai bukti org ini sesat silahkan baca tanggapan yang bertentangan dengan Alqur’an dan Assunnah dr prof sinting ini (semoga Allah swt menghinakannya}: http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/31/kot15.htm

    mengenai wawancara diatas silahkan liat tulisan “tentang ungkapan, ‘Alaikum Bi sunnati wa sunnati khulafa`ur rasyidin (Ikutlah kalian akan sunahku dan sunah khulafa`ur rasyidin)” . Hadits ini tidak dan tidak pernah dikeluarkan oleh Imam Bukhari tapi oleh Imam Abu Dawud. tantangannya ada di hadits nomor berapa kalo memang hadits ini dikeluarkan oleh imam bukhari???

    belum lagi mengenai masa akan datang yang banyak dikatakan oleh Rasulullah saw. jaminan surga bagi para sahabat spt. abu bakar, umar, ustman, ali, bilal, abdurrahman bin auf, dan masih banyak lagi. apakah hal ini bukan suatu penolakan dari prof. sinting ini??
    ?
    hanya dengan dalil tidak logis dan tidak sesuai sikon maka si sinting ini seenaknya merendahkan imam bukhari yang sudah diakui oleh para ulama di seluruh dunia kecuali golongan antek2 iblis ini.

    siapa org ini dibandingkan dgn seorang imam bukhari yang sudah hafidz qur’an pada usia 7 tahun dan bisa menghafal hanya dengan sekali baca saja. belum lagi hadits2 yang beliau ditulis ini dilakukan di raudah dan dengan keadaan berwudhu setiap sekali menulis hadits.

    semoga Allah SWT menghinakan dunia akhirat orang yang menghinakan para imam2 besar islam.

    wallahu a’lam

  3. ‘Audzubiilaahi minassyaitaanirrajiim
    Bismillaahirrahmaanirahiim.
    Ya Allah sudah terlalu lama ummat Rasul-Mu Muhammad SAW saling kecam dan berselisih paham. Selamatkanlah kami semua ya Allah dari perselisihan yang bisa menimbulkan kebencian diantara kami dan memunculkan murka-Mu.
    Saudara-saudaraku dimanapun berada, insyaAllah kita semua bertujuan mencari kebenaran menurut Ilahi. Dalam pencarian kebenaran itu kita mengerahkan seluruh kemampuan kita. Namun sayangnya kemampuan kita sangat terbatas untuk memahami ilmu-Nya. Yang lebih parah lagi kita belum bisa bertanya langsung kepada Allah sebagai pemilik kebenaran itu kecuali hamba-hambanya yang diijinkan-Nya.
    Seringkali saya menemui perselisihan paham yang jarang sekali happy ending . Pihak-pihak yang berselisih umumnya semakin berjauhan (kecuali yang Allah kecualikan).
    Saya memiliki sebuah pemikiran, untuk mengetes kebenaran ada pada pihak yang mana, mengapa tidak dilakukan saja adu permohonan saja kepada yang Maha Kuasa oleh pihak-pihak yang berselisih (adu mantra he he..). Suruh aja mereka (pihak yang berselisih) berdoa bergantian memohon petunjuk kebenaran yang instan/segera dapat dilihat hasilnya saat itu juga, misalnya ” Ya Allah jika aku yang benar dan dia belum dalam kebenaran maka jadikanlah dia kucing saat ini juga “tapi jangan lama-lama ya Allah” satu menit aja , hanya untuk pembuktian kok. dan jadikanlah nikmat bagi kami untuk tunduk terhadap kebenaran yang telah engkau buktikan itu”. Misalkan setelah dilakukan doa tersebut ada salah satu pihak yang berubah jadi kucing “selama satu menit”” maka ketahuanlah bahwa pendapat/pernyataan pihak yang jadi kucing itulah yang belum bener. Gampang kan. Dan terakhir, kalau sekiranya ga ada yang jadi kucing maka bisa disimpulkan bahwa pendapat pihak-pihak yang berselisih sama-sama dibenarkan oleh Allah, sehingga kiranya mereka ga perlu berselisih lagi karena sama-sama benar. Tapi ada satu kesimpulan lagi yang perlu dipertimbangkan jika ternyata dari kedua pihak tidak ada yang menjadi kucing yaitu “apakah kiranya kedua belah pihak telah merasa dirinya cukup bersih dari kesalahan hingga doanya sangat dimakbulkan Allah”. Bisa jadi keduanya belum pantas didengar doanya oleh Allah karena masih sama-sama belum benar. Kalau ternyata sama-sama belum benar gak usah saling benci doong.
    Ya Allah, aku lupa mau berdoa apa tapi intinya tolonglag kami agar selalu dapat nikmat-Mu bukan murka-Mu. Amiin
    Salam

  4. Jangan suka memotong hadits atau ayat karena itu perilaku orang kafir. Lengkapnya dari hadits yang disebutkan PALSU di atas adalah : (coba lihat kesesuaian dengan paragraf diatas, saya bertanya disebelah mana tidak sesuainya)

    Abdullah bin Ubaidillah bin Abu Mulaikah berkata, “Putri Utsman bin Affan meninggal dunia di Mekah dan kami datang hendak menghadirinya. Di sini datang pula Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas. Aku sendiri duduk di antara kedua orang itu atau aku duduk mendekati salah seorang dari keduanya. Kemudian ada orang lain yang baru datang dan langsung duduk di dekatku. Abdullah bin Umar berkata kepada Amr bin Utsman, ‘Mengapa engkau tidak melarang menangis? Sebab, Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya mayat itu disiksa karena tangisan keluarganya atasnya.’ Ibnu Abbas r.a. berkata, ‘Umar memang pernah mengatakan sebagian dari hadits itu.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Aku pernah keluar untuk bepergian bersama Umar dari Mekah. Setelah kami berada di Baida’ tampaklah di situ sebuah kafilah dengan beberapa ekor unta yang sedang bepergian dan jumlahnya lebih dari sepuluh ekor. Mereka sedang beristirahat di bawah pohon berduri. Umar berkata, ‘Pergilah, perhatikanlah siapa rombongan itu.’ Kemudian aku perhatikan, ternyata Shuhaib sebagai pemimpin mereka. Lalu saya memberitahukan kepada Umar, lalu dia berkata, ‘Panggillah dia supaya datang kepadaku.’ Kemudian aku kembali kepada Shuhaib dan aku berkata kepadanya, ‘Pergilah menemui Amirul Mu’minin.’ Ketika Umar terkena musibah (tusukan pisau yang menyebabkan kematiannya), Shuhaib datang sambil menangis dan berkata, ‘Aduhai saudaraku, aduhai sahabatku!’ Mendengar tangis Shuhaib itu, Umar berkata, ‘Wahai Shuhaib, apakah engkau menangisiku, sedangkan Rasulullah telah bersabda, ‘Sesungguhnya mayat itu disiksa karena sebagian tangisan keluarganya (dan dalam satu riwayat: tangisan orang yang hidup 2/82) atasnya (dan dalam riwayat lain: di dalam kuburnya, karena diratapi).’ Ibnu Abbas berkata, ‘Pada waktu Umar sudah wafat, aku menyebutkan hal itu kepada Aisyah r.a., lalu ia berkata, ‘Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Umar. Demi Allah, Rasulullah tidak mensabdakan bahwa Allah menyiksa orang-orang mukmin karena ditangisi keluarganya. Akan tetapi, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya orang kafir itu semakin bertambah siksanya karena ditangisi keluarganya.’ Cukup bagimu Al-Qur’an (surah al-Fathiir ayat 18) yang mengatakan, ‘Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.’” Ketika terjadi hal tersebut, maka Ibnu Abbas berkata, “Allah itulah yang membuat orang tertawa dan menangis.” Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Demi Allah, Abdullah bin Umar tidak mengatakan sesuatu pun.”

    Kitab Shahih Imam Bukhari sudah disetujui dan dikaji ratusan ribu ulama selama ribuan tahun. Sekarang ada orang Indonesia yang tiba2 ngomong dia palsu, ini itu.
    TAPI, saya setuju kalau make hadits itu diteliti dulu. Kalo ada pendapat juga diteliti dulu, yang kritis. Jangan ada pendapat lama atau baru (”ternyata ada hadits palsu di bukhari”) langsung wae ditanggepi. Dan umat islam di indo itu, begitu denger hadits juga gak dari bukhari pun langsong hooh2… Itu juga gak bener.

    Bidah nya rakyat saja banyak belum terurus, mau ngusut buku hadits yang terkenal paling shahih…
    Naudzubillah..

  5. JIL lagi JIL lagi!
    Dasar JIL anjing,sukanya mengkritik.
    bilang aja klo ga sesuai sama hawa nafsu!
    Ulama besar saja yang ilmu mereka diatas rata2 ga memperdebatkannya!
    E…,ini orang indonesia yang cetek ilmunya,bisanya cuma mengkritik!
    na’udzubillah min dzalik.

  6. TOLONGlah kawan, kita ini orang berpendidikan. kita tidak setuju dengan penelitian yang dilakukan pak muhibbin. ia juga mlakukan penelitian dengan metodologi dan segenap perangkat penelitian serta operasionalitas penelitian yang memadai dan sistematis. KITA juga harusnya malu kalo cuma membantah hasil oenelitian dengan omongan-omongan kotor yang memalukan. BAGAIMANA MUNGKIN ANDA DAPAT MEYAKINKAN ORANG DENGAN OMONGAN SEPERTI ITU. ga ilmiah itu namanya. SAYA AJA GA SIMPATIK JADINYA DENGAN OMONGAN SEPERTI ITU, meskipun SAYA BERADA DI PIHAK YANG KONTRA DENGAN PAK MUHIBBIN. ETIKA tetap harus dijaga dalam kondisi apapun. RASUL saw sama sekali tiodak pernah berbuat kasar sedikitpun terhadap orang kafir, BAhkan TERHADAP SAHABAT YANG berulangkali melakukan kesalahan sekalipun…… KALO MEMANG KITA INI SEBAGAI PECINTA RASULULLAH, tolong ikuti segenap perilaku rasul dalam kondisi apapun. jangan main klaim JIL, SESAT, KAFIR, ga ada adabnya itu……. na’udzubillah. PAra ulama salaf juga tidak pernah melakukan yang demikian. KLAIM harus disertai dengan argumen yang rasional dan benar….. titik

  7. Terus teang saya tidak tetaik dngan kajian-kajian sepeti ini. Masih banyak yang harus kita prioritaskan, misalnya apakah kita sudah betul-betul mengamalkan perintah Allah SWT, menjauhi segala larangannya, menjalankan sunah Rasul-Nya. Apakah shalat kita ini sudah bener, apakah keluarga kita sudah bener. Apakah masyarakat di sekeliling kita sudah pernah kita ajak menjalankan amal shaleh, misalnya yang tidak shalat kita ajak shalat, yang sudah shalat kita ajak agar shalat di masjid. Jangan-jangan kita sendiri belum shalat di masjid. Yang namanya ulama adalah yang mengamalkan ilmuny. Kalau ada ulama yang tidak mengamalkan ilmunya, itu sama saja dengan maklumat. Ilmu yang tidak diamalkan tidak akan dapat membuat kefahaman dalam agama. Ilmu harus diamalkan, tidak cuma dikaji saja. Ibda’ bi nafsik. Wallahu a’lam, wal afwu minkum.

  8. @Ibnu Abdillah:
    Bagaimana kita kita dapat mengamalkan perintah Allah SWT dan menjalankan sunah Rasul-Nya ? bukankah kita harus belajar untuk tau cara yang benar ? bukankah untuk mengetahui mana yang benar harus dilakukan kajian-kajian ?? apakah cukup bagi anda menerima pelajaran tanpa mengerti itu benar atau salah ?

    salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s