Sang Imam Pilihan

imamahasanDi salah satu sudut kota Madinah, ketika lembaran penanggalan menunjukkan tahun ke-3 dan telah melewati hari ke-15 pada bulan perjamuan Ilahi, Ramadhan telah lahir seorang bayi molek sehingga membuat kota Madinah dipenuhi rasa suka dan bahagia tiada tara. Kelahiran belahan hati Ali As dan Fatimah As, Imam ke-2 syiah, dan insan suci yang ke-5 disambut dengan tabuhan melodi-melodi cinta dan dikirimkan ke haribaan Rasulullah Saw. Ia adalah awal dari buah pernikahan suci  imamah dan nubuwah dan sosok yang dihiasi oleh karakter dan pesona Muhammad Saw, mewarisi keluasan keutamaan samudra Ali yang tak bertepi dan mewarisi keagungan dan kemuliaan  ibundanya, Fatimah al-Batul. Ia mempunyai wajah yang sangat rupawan, berlaku santun dan  mempunyai suara yang elok dan sangat merdu. Salam dan salawat tak terhingga Tuhan kepada ruh sucinya, kepada hatinya yang suci dan kelahirannya yang cahayanya bisa dirasakan oleh semua orang. Selamat atas kelahirannya kepada pecinta sejatinya.

 

Kecintaan Nabi Saw kepada Imam Hasan As

Imam Hasan Mujtaba As sangat disayang dan dicintai oleh datuknya, baginda Muhammad Saw. Telah lama kaum muslimin melihat Nabi saw. berulangkali membawa Imam Hasan As di pundaknya dan beliau bersabda, “Semoga Allah Swt mendamaikan dua kelompok dari kaum muslimin melaluinya”, kemudian beliau berdoa, “Ya Allah,  sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia dan cintailah orang-orang yang mencintainya”[1].

 Dalam kesempatan yang lainnya, beliau mengatakan, “Hasan bin Ali adalah putraku”. Pada waktu  yang lain beliau menyatakan, “Hasan adalah permata hatiku di dunia”.

Zaid bin Arqam yang merupakan salah seorang perawi hadis, mengisahkan   cerita lain tentang rasa sayang nabi kepada Imam Hasan Mujtaba As. Pada suatu waktu Nabi Saw sedang berceramah dan ketika itu, Hasan bin Ali As yang masih kanak-kanak memasuki masjid dengan memakai pakaian yang panjang sehingga menyebabkan ia jatuh  di hadapan nabi. Kemudian orang-orang disekitarnya membangunkannya dan memberikan Imam Hasan kepada Nabi As. Nabi Saw kemudian meletakkannya digendongannya sendiri dan kemudian belaiu kembali ke mimbar dan melanjutkan ceramahnya.

 

Ketakwaan Imam Hasan Mujtaba As

Dalam kitab Manaqib ibn Syahr Asyub dan Raudhatul Wazhin dinukil bahwa bahwa  ketika Imam Hasan As hendak berwudhu dan shalat, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya bergetar karena takut kepada Allah Swt. Ketika ditanya, beliau menjawab, “Suatu keharusan bagi siapa saja yang berdiri di depan Tuhannya akan merasa takut, pucat wajahnya, dan gemetar seluruh tubuhnya.”[2]

Apabila telah mendekati pintu masjid, beliau menengadahkan wajahnya ke langit dan berkata dengan penuh khusyuk, “Wahai Tuhanku! inilah tamu-Mu berdiri di ambang pintu rumah-Mu. Duhai Zat Yang Maha Pemurah, telah datang orang yang banyak melakukan keburukan kepada-Mu. Maka hapuskanlah seluruh keburukan yang ada pada diriku dengan kebaikan yang ada di sisi-Mu. Duhai Yang Mahamulia.” 

 

Salat Imam Hasan Mujtaba As

Setiap kali akan melakukan salat ia memakai pakaian terindah yang dimilikinya. Seseorang bertanya atas perbuatan ini, “Hai putra Rasul! Mengapa kau memakai pakaian yang paling indah manakala hendak menunaikan solat.” Imam As menjawab, “Allah itu adalah Maha Indah dan Ia menyukai keindahan. Oleh karena itu aku mengenakan baju yang paling indah ketika hendak menyampaikan keluh kesahku kepada Tuhanku.” Ia berfirman, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid(Qs al A’raf: 31). “Oleh karena inilah aku suka memakai pakaian yang paling indah ketika hendak melaksanakan salat.”[3]

 

Kemurahan Imam Hasan As

Pada suatu hari, seseorang telah datang kepada Imam Hasan As dan setelah bersumpah atas kedudukan beliau meminta beliau untuk memberinya sejumlah  uang.  Atas permintaan orang itu, Imam Hasan As memberinya lima puluh ribu dirham dan lima ratus dinar.

Ketika seorang Arab Badui datang memohon pertolongan, Imam Hasan As berkata kepada pembantunya, “Berikan apa yang ada dalam laci itu padanya!” Di dalamnya didapati dua puluh ribu dinar, dan segera diberikan kepada orang Badui itu.

Pada suatu hari, Imam Hasan As melakukan tawaf di Kabah. Tiba-tiba beliau mendengar seseorang berdoa kepada Allah Swt agar memberinya rezeki sebanyak sepuluh ribu dirham. Imam As pun bergegas pulang ke rumahnya dan membawa dua puluh ribu dirham untuknya.

Diriwayatkan, seseorang menjumpai Imam Hasan AS dan berkata, “Aku telah membeli seorang budak dan ia melarikan diri dariku.” Mendengar hal itu, beliau memberinya delapan budak sebagai ganti budaknya yang hilang itu.

 

Yang Menyaksikan dan yang disaksikan (Syahid dan Masyhud)

Kebersamaan Imam Hasan Mujtaba As dengan datuknya, Nabi Muhammad Saw selama tujuh tahun[4] membuatnya semenjak kecil sudah mempunyai pengetahuan yang dalam tentang Al Qur’an. Suatu waktu, datanglah seseorang ke masjid dan bertanya tentang 2 kalimat yang ada dalam Al Qur’an yaitu tentang kata-kata syahid dan masyhud. Salah satu dari mereka menjawab, syahid adalah hari Jum’at dan masyhud adalah hari Arafah. Orang yang lainnya menjawab, syahid hari Jum’at dan masyhud adalah hari raya Idul Kurban. Orang ke-tiga yang tak lain adalah seorang anak kecil yang sedang duduk di salah satu pojok masjid berkata bahwa syahid adalah Nabi Muhammad Saw dan masyhud adalah hari kiamat. Ia menambahkan bahwa alasan atas jawaban itu adalah firman-Nya, Hai nabi, sesungguhnya kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan.” (Qs Al Ahzab: 45). Kemudian beliau juga bersandar kepada firman Allah yang lainnya, Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk)” (Qs. Hud: 103). Sang penanya, setelah mendengar jawaban yang meyakinkan dari bocah kecil itu, kemudian bertanya kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya tentang anak kecil itu. Kemudian mereka menjawab, “Ia adalah Hasan bin Ali bin Abi Thalib As. [kiriman dari Umaliyan]

 


[1] . Tarikh Khulafa, hal. 188

[2] . Muntaha Amal, Jil. 1, Hal. 161

[3] . Tafsir ‘ayasyi, Jil. 2, Hal. 14

[4] . Dalail Imamah, Muhammad bin Jarir Tabari, Hal. 60

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s