Ghadir Khum dan Orientalis

Pada tanggal 18 Dzul-Hijjah penganut ajaran Syiah seluruh dunia mengadakan acara akbar karena hari itu adalah hari  Idul GhadirKhum, hari ketika Rasulullah Saw menyampaikan ihwal Ali kepada umat: “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya.” Peristiwa ini, karena sedemikian penting bagi orang-orang Syiah sehingga tidak seorang ulama Islam  yang serius yang mengabaikan begitu saja perisitiwa ini. Tujuan tulisan ini adalah mengkaji bagaimana para orientalis mengambil peristiwa Ghadir Khum ini. Dengan menggunakan istilah orientalis, penulis bermaksud ulama Islam barat dan juga mereka yang berasal dari Timur yang menerima pendidikan Islam mereka di bawah pendidikan orang-orang orientalis.

Sebelum melangkah lebih jauh, kami akan menceritakan secara singkat peristiwa Ghadir Khum ini.  Narasi singkat ini –secara khusus– akan membantu mereka yang  belum mengetahui peristiwa ini.

Selepas menunaikan ibadah haji yang terakhir (hajjatul wida’), Nabi Saw menerima perintah dari Allah Swt: “Wahai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu; jika engkau tidak sampaikan, maka engkau tidak menyampaikan pesan-Nya sama sekali. Dan Allah akan melindungimu dari orang-orang yang kafir.” (Qs. Al-Maidah [5]:67). Lalu Nabi Saw berhenti di suatu tempat yang bernama GhadirKhum pada tanggal 18 Dzulhijjah, tahun ke 10 setelah hijrah untuk menyampaikan pesan kepada para peziarah haji ketika itu, sebelum mereka pulang ke tempatnya masing-masing. Pada satu tempat, beliau bertanya kepada mereka yang hadir ketika itu (pengikut beliau), Apakah ia (Muhammad), lebih memiliki otoritas (awla) atas orang-orang mukmin lebih atas diri mereka sendiri, orang-orang yang hadir ketika itu menjawab : ” Benar, memang demikian adanya wahai Rasulullah”. Lalu ia mengangkat tangan Ali dan mengumumkan: ” Man kuntu mawla, fa hadza Aliyyun mawla (Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya). Kemudian Nabi juga mengumumkan akan kepergiannya (wafat) dan meminta orang-orang beriman untuk tetap bersandar kepada al-Qur’an dan Ahlulbait. Demikianlah ringkasan bagian penting dari peristiwa Ghadir Khum.

Bagian utama dari tulisan ini dibagi sebagai berikut: Bagian kedua merupakan survei singkat dari pendekatan yang digunakan oleh kaum Orientalis dalam mengkaji Syiah. Bagian ketiga dari tulisan ini berkaitan dengan pendekatan yang digunakan untuk mengkaji Ghadir Khum secara khusus. Bagian keempatnya adalah pandangan kritis M.A. Syaban yang ia tulis ihwal peristiwa ini dalam Islamic History AD 600–750. Dan akan diakhiri dengan sebuah kesimpulan.

 1.  Kajian Syiah dan Kaum Orientalis

Ketika penulis Mesir, Muhammad Qutb, memberikan judul terhadap buku yang ditulisnya Islam: the Misunderstood Religion (Islam: Agama yang disalahpahami), ia secara santun mengatakan bahwa sikap muslim terhadap kaum Orientalis telah memperlakukan Islam dan Muslim secara umum. Kata “misunderstood” menyiratkan bahwa setidaknya, sebuah usaha asli yang diupayakan untuk memahami Islam. Namun, seorang kritis Orientalis lebih tajam mencermati masalah ini, Orientalis ini bernama Edward Said, katanya: “Hal yang paling sukar dipahami mendapatkan akademisi yang ahli dan pakar tentang Islam adalah menerima bahwa apa yang mereka katakan dan lakukan sebagai seorang ilmuan dan cendikia bermula dari konteks politik. Segala sesuatu yang bertalian dengan kajian keislaman pada masa kontemporer Barat matang dengan peranan penting politik, namun tidak ada seorang pun penulis dari kalangan Islam, apakah ia seorang pakar atau tidak, menerima kenyataan yang dikatakan oleh mereka. Secara objektif dapat diduga bahwa untuk sejalan dengan wacana yang ilmiah tentang masyarakat lain, meskipun sepanjang perjalanan sejarah politik, moral dan perhatian keagamaan jatuh pada segala lapisan masyarakat, Barat atau Islam, tentang orang asing (alien), adalah ganjil dan berbeda. Sebagai contoh, di Eropa, kaum orientalis secara tradisional berafiliasi secara langsung dengan petugas-petugas penjajah.[1]

Alih-alih menganggap bahwa objektifitas adalah menyatu dalam sebuah wacana ilmiah, kaum Orientalis Barat harus menyadari bahwa prakomitmen kepada sebuah tradisi politik atau agama, pada level kesadaran atau di bawah sadar (sub-consious), dapat menuntun kearah penilaian yang bias. Sebagaimana Marshall Hudgson menulis “Bias datang khususnya pada pertanyaan yang dimiliki dan kategori yang ia gunakan, yang memang, bias secara khusus sukar untuk dilacak karena sulitnya menengarai setiap istilah-istilah yang digunakan, yang kelihatannya bersikap netral secara tulus….[2]. Reaksi kaum muslimin terhadap citra yang digambarkan oleh kaum Orientalis mulai mendapatkan perhatian yang layak. Pada tahun 1979, seorang cendekiawan terkemuka Barat, Albert Hourani  berkata: “Suara-suara mereka yang berasal dari Timur Tengah dan Afrika Utara mengatakan kepada kita bahwa mereka tidak mengenali diri mereka sendiri seperti yang dicitrakan oleh kaum Orientalis. Citra ini terlampau banyak dan insistent untuk dijelaskan dalam istilah akademik atau kebanggaan bangsa.”[3] Ini tentang Islam dan kaum muslimin berhadapan dengan kaum Orientalis.

Ketika kita fokuskan kajian kita tentang Syiah oleh kaum Orientalis, kata ” kesalahpahaman ” adalah asumsi yang tidak terlalu kuat; tetapi bahkan sebuah penyepelean. Tidak hanya Syiah yang disalahpahami, tetapi juga telah diabaikan begitu saja, direpresentasikan secara keliru dan dikaji bersandar pada literatur heresiographic  musuh-musuh Syiah.  Nampak seakan-akan Syiah tidak memiliki cendekiawan dan literatur sendiri. Meminjam istilah Marx, “mereka tidak dapat mewakilkan diri mereka sendiri, sehingga mereka perlu untuk diwakilkan” dan juga oleh musuh-musuhnya.!

Alasan atas munculnya keadaan ini terletak pada langkah-langkah yang ditempuh oleh cendekiawan Barat ketika memasuki wacana  kajian Islam. Hodgson, dalam pandangan gemilangnya tentang cendekiawan Barat, ia menulis “Pertama, mereka yang mengkaji Islam melalui Kesultanan Ottoman, yang banyak memainkan peranan utama dalam Eropa moderen. Mereka biasanya datang dengan perumpamaan pertama dari sudut pandang sejarah diplomatik Eropa. Cendekiawan ini memiliki kecenderungan untuk melihat secara keseluruhan Islam dari perspektif politik Istanbul, ibukota Kesultanan Ottoman. Kedua, mereka yang – biasanya orang Inggris – memasuki kajian-kajian Islam di India hingga menguasai bahasa Persia sebagaiamana masyarakat kebanyakan, atau paling tidak mereka diilhami oleh kepentingan India. 

Bagi mereka, masa transisi penjajahan New Delhi cenderung menjadi puncak dari sejarah yang terislamkan. Ketiga, mereka yang semitis, sering tertarik untuk belajar bahasa Hebrew (Bahasa Agama Yahudi, -AK.), yang kemudian dipancing untuk belajar bahasa Arab. Bagi mereka, cenderung menjadikan Kairo sebagai pusat kajian mereka. Kairo adalah kota yang berbahasa Arab paling penting pada abad ke-19, meskipun beberapa orang dari mereka melirik Syiria atau Marokko sebagai pusat kajian mereka. Mereka secara umum adalah lebih philologian (ahli bahasa) ketimbang sejarawan, dan mereka belajar kebudayaan Islam melalui kaca mata penulis-penulis terkenal di Mesir atau Syiria yang merupakan orang Sunni. Jalan lain, – dari Spanyol dan beberapa orang Perancis yang membidik kaum muslimin abad pertengahan (medieaval) Spanyol, beberapa orang Rusia yang mengamati kaum muslimin yang tinggal di utara – yang secara umum tidak begitu penting. “[4]

Cukup jelas bahwa tidak satu pun dari langkah yang mereka ambil ini menuntun mereka untuk sampai kepada pusat kajian Syiah atau literaturnya.  Kebanyakan apa yang mereka kaji tentang Syiah didapatkan melalui sumber-sumber non-Syiah. Hodgson – yang patut mendapatkan acungan jempol dari kita karena mencermati poin ini –, ia  berkata : ” seluruh jalan yang ditempuh memiliki satu warna saja, dan tidak menaruh perhatian ke arah Fertile Crescent (negara-negara seperti Irak, Libanon dan Suriah dan Iran), yang rata-rata penduduknya bermazhab Syiah, tempat ini jauh dari pengamatan dan penetrasi orang-orang Barat.”[5]

Dan setelah perang dunia pertama, “Jalan orang-orang Kairo kepada kajian-kajian Islam  menjadi jalan Islami yang memiliki keunggulan, sementara jalan lainnya dianggap sebagai lebih bermuatan lokal. “[6]

Dengan demikian, bilamana seorang Orientalis mengkaji Syiah melalui pendekatan Ottoman, orang-orang Kairo atau India, secara alami bagi mereka untuk bersikap bias terhadap Islam Syiah.

“Doktrin sejarawan muslim (yang kebanyakan orang Sunni) selalu mencoba untuk menunjukkan bahwa seluruh mazhab yang ada selain dari apa yang mereka anut adalah sesat, dan jika mungkin, ia bukan seorang muslim sejati. Kerja mereka menjelaskan tentang banyaknya firqah yang siap menyesatkan para cendekiwan kiwari dengan anggapan bahwa mereka merujuk kepada sekte-sekte bid’ah“.[7] Dan kita saksikan hingga kini, para cendekiawan Barat dengan gampang menjelaskan bahwa Sunni adalah Islam asli dan Syiah adalah mazhab bid’ah. Setelah memberikan kategori Syiah sebagai salah satu mazhab bid’ah dalam Islam, mereka menjadi “innocent neutral” bagi para cendekiawan Barat untuk absorb keraguan orang-orang Sunni terhadap literatur Syiah pada masa-masa awal. Bahkan konsep Taqiyyah (sikap mengingkari keimanan ketika nyawa seseorang terancam) telah diberitakan di luar proporsinya dan menganggap bahwa  setiap komentar dari ulama Syiah mengandung sebuah arti yang tersembunyi. Dan akibatnya, bilamana seorang Orientalis mengkaji tentang Syiah, pra-commitmentnya kepada tradisi Judeo-Kristen Barat yang disusun oleh pihak Sunni sebagai sikap biasnya terhadap Syiah.

Dan salah contoh terbaik dari susunan bias ini ditemukan dalam cara kaum Orientalis mempelajari peristiwa Ghadir Khum. Inilah yang kemudian menjadi tujuan utama dari tulisan ini.

 

2. Ghadir Khum: Dari Kelalaian kepada Pengakuan

Perisitiwa Ghadir Khum merupakan contoh teladan untuk melacak sikap bias ahli Sunnah yang dapat ditemukan dalam diri para Orientalis. Mereka yang well-versed dengan tulisan polemik ahli Sunnah mengetahui bahwa bilamana Syiah menyuguhkan sebuah hadis atau sebuah saksi sejarah untuk menopang pendapat mereka, seorang dari ahli Sunnah yang terlibat dalam polemik akan menjawab dengan cara seperti berikut :  Pertama, ia akan secara tegas menolak keberadaan hadis atau peristiwa sejarah tersebut. Kedua, ketika ia berhadapan dengan bukti yang otentik dari kitab-kitab sumber mereka, ia akan meragukan keandalan perawi hadis atau perisitiwa tersebut. Ketiga, ketika ia ditunjukkan bahwa perawi-perawi yang dimaksud itu memenuhi standard dapat dipercaya, ia akan memberikan penafsiran terhadap hadis atau peristiwa tersebut yang berseberangan dengan pandangan orang Syiah.

Ketiga poin di atas adalah jawaban klasik ahli Sunnah yang terlibat dalam perdebatan dengan orang Syiah. Sebuah kutipan dari terjemahan Muaqaddimah Ibnu Khaldun yang dilakukan oleh Rosenthal sebagai bukti atas ketiga poin di atas. (Ibnu Khaldun menukilnya dari salah satu bagian al-Mihal wan Nihal, sebuah karya heresiographic ash-Sharastani). Menurut Ibnu Khaldun, Syiah meyakini bahwa

“Ali adalah orang yang ditunjuk oleh Muhammad (untuk menjadi khalifah). Syiah meriwayat hadis ini untuk menopang keyakinannya….ulama-ulama ahli Sunnah dan perawi hadis mereka tidak mengenali hadis ini. [1] Kebanyakan dari hadis ini adalah takhayul, atau [2] Beberapa perawinya diragukan, atau [3] Tafsiran yang benar menurut mereka berbeda dengan apa yang ditafsirkan oleh Syiah.”[8]

Yang menarik, peristiwa Ghadir Khum pun mengalami nasib yang sama di tangan kaum Orientalis. Dengan keterbatasan waktu dan sumber-sumber bagi kami, kami terkejut melihat bahwa sebagian besar pemerhati masalah Islam mengabaikan peristiwa Ghadir Khum ini, menunjuk, dengan segala kealpaannya, kaum Orientalis meyakini bahwa peristiwa ini adalah khurafat dan sebuah bid’ah yang dimunculkan oleh orang Syiah. Margoliouth dalam Muhammad and Rise of Islam (1905), Brockelman dalam History of the Islamic People (1939), Arnold dan Guilaumme dalam Islam (1955), Von Grunebaum dalam Classical Islam (1963), Arnold dalam The Caliphate (1965), dan Cambridge History of Islam (1970) telah melupakan peristiwa Ghadir Khum sama sekali.

Mengapa mereka dan para cendekiawan Barat melupakan peristiwa Ghadir Khum ini? Jawabnya mudah, karena para cendekiawan Barat bersandar pada kitab-kitab yang anti-Syiah, dan ini menyebabkan mereka secara alami melupakan peristiwa Ghadir Khum. L. Veccia Vaglieri, salah seorang kontributor tulisan pada edisi kedua Encylopedia of Islam (1953), menulis :

“Kebanyakan sumber-sumber yang kami miliki tentang kehidupan Nabi, kami dapatkan dari Ibnu Hisyam, at-Tabari, Ibnu Sa’ad dan sebagainya. Kitab-kitab sumber ini tidak menukil berhentinya Nabi Saw di Ghadir Khum, atau jika mereka menukilnya, mereka tidak berkata apa-apa (penulis takut kalau-kalau akan menciptakan rasa permusuhan Ahli Sunnah, yang sedang berkuasa, dengan menyediakan bahan-bahan untuk berpolemik dengan Syiah yang menggunakan kalimat-kalimat ini untuk mendukung argumen tentang hak Ali atas posisi khalifah setelah Rasulullah). Akibatnya, para penulis biograpi Muhammad, yang bekerja berdasarkan sumber-sumber ini, berbuat sama dengan mereka yang tidak membuat rujukan terhadap apa yang terjadi di Ghadir Khum.”[9]

Kita ketahui beberapa cendekiawan Barat lainnya yang menukil hadis dan peristiwa Ghadir Khum ini tetapi menyatakan keraguannya akan keabsahannya – lihat poin kedua yang disebutkan di atas, jawaban klasik ahli Sunnah ketika mereka terlibat adu argumentasi dengan Syiah.

Cendekiawan Barat yang masuk dalam kategori ini, yang pertama adalah Ignaz Goldziher (seorang Orientalis terkemuka dari Jerman abad ke-19). Ia membahas hadis Ghadir Khum dalam karyanya Muhammedanische Studien (1889-1890) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Muslim Studies (1966-1971). Dalam buku terjemahan ini, pada bab yang diberi judul “Hadis dalam hubungannya dengan konflik-konflik antara mazhab-mazhab Islam.” Ketika sampai ke pembahasan tentang Syiah, Goldzhier menulis :

“Dalil  yang kuat dari Syiah….adalah keyakinan mereka bahwa Nabi telah menunjuk dan melantik Ali sebagai khalifahnya sebelum wafat. Oleh karena itu, pengikut-pengikut Ali yang berhubungan dengan bid’ah dan merawikan hadis yang membuktikan pengangkatan Ali dengan petunjuk langsung dari Nabi. Hadis yang paling masyhur (perawinya tidak ditolak bahkan oleh ulama ortodox sekalipun meskipun mereka menafsirkannya dengan cara yang berbeda) adalah hadis Ghadir Khum, yang mewujudkan tujuan ini dan salah satu dalil yang paling kuat Syiah Ali.”[10]

Seseorang boleh berharap kepada seorang cendekiawan terkenal untuk membuktikan bagaimana Syiah “yang ketat dalam memilih hadis” untuk menopang setiap dalilnya, namun Goldzhier tidak dapat membuktikan hal itu.  Setelah mengutip at-Tirmidzi dan an-Nasai pada catatan kaki sebagai rujukannya atas hadis Ghadir Khum, ia berkata , “An-Nasa’i – sudah dikenal – memiliki kecendrungan terhadap Ali, dan juga termasuk at-Tirmidzi dalam kumpulan hadisnya memiliki tendensi mengutamakan Ali, seperti dalam hadis thayr.”[11] Hal ini dapat dijawab dengan menggunakan jawaban klasik oleh para ahli mujadalah Sunnah – meragukan perawi hadisnya atau berketerusan menuding Syiah melakukan perbuatan bid’ah.

Contoh lain dapat kita jumpai dalam edisi pertama Encylopedia (1911-1938) dengan judul singkat “Ghadir Khum” oleh F. Bhul, seorang Orientalis Denmark yang menulis biograpi Nabi. Bhul menulis, “Tempat yang menjadi tempat bersejarah lewat sebuah hadis yang keasliannya diterima oleh Syiah dan juga ditemukan di antara kalangan ahli Sunnah, sesungguhnya, Nabi dalam perjalanan kembali dari Hudaibiyyah (menurut riwayat lain dari Hajjatul Wida’) ia berkata: “Barang siapa yang menjadikan Aku sebagai mawla-nya, maka Ali adalah mawlanya!”[12] Bhul yakin bahwa untuk menekankan bahwa hadis ini memiliki “keasliannya di kalangan Syiah!”

Contoh yang lebih mengejutkan lagi adalah ketidaktahuan para Orientalis tentang Syiah seperti terlihat dalam A Dictionary of Islam (1965) ditulis oleh Thomas Hughes. Di bawah judul Ghadir, “Pagelaran Syiah pada tanggal 18 Dzulhijjah, ketika tiga tokoh donat diisi dengan madu yang dilambangkan sebagai Abu Bakar, ‘Umar dan Utsman ditikam dengan pisau-pisau, dan madu itu diisap sebagai simbol darah atas merampas khilafah. Pagelaran ini diperuntukkan untuk Ghadir, sebuah kolam, dan pagelaran itu adalah hari peringatan ketika Muhammad menunjuk Ali sebagai penggantinya di Ghadir Khum, sebuah telaga di antara kota Mekah dan Madinah.”[13]

Seseorang yang datang dari sebuah keluarga Syiah yang dapat ditelusuri hingga Nabi Saw sendiri, setelah belajar di Iran selama 10 tahun dan tinggal di antara komunitas Syiah di Afrika dan Amerika Utara, mengklaim adanya donat dan madu dalam acara Ghadir sementara kami belum pernah melihat, mendengar atau membaca adanya donat dan madu dalam acara Ghadir! Kami lebih terkejut lagi melihat  Vagleiri, dalam edisi kedua dari Encyclopedia, telah memasukkan kabar burung ini dalam artikelnya yang memukau ihwal Ghadir Khum. Ia menambahkan di akhir artikelnya, “Hari raya ini juga memiliki peran penting di kalangan kaum Nusayris.” Dan boleh jadi kabar tentang donat dan madu itu diamalkan oleh orang-orang Nusayris; tidak ada hubungannya dengan Syiah sama sekali. Tapi apakah para Orientalis itu mengetahui perbedaan antara Syiah dan Nusayris? Saya meragukan hal ini.

Contoh keempat dari para cendekiawan kontemporer yang mengikuti langkah-langkah orang-orang yang disebut di atas adalah Philip Hitti dalam History of Arabs (1964). Setelah menyebutkan bahwa dinasti Buwahid didirikan untuk “Memperingati hari raya itu ketika Nabi diduga melantik Ali sebagai penggantinya di Ghadir Khum,” ia menjelaskan letak Ghadir Khum pada catatan kakinya sebagai ” sebuah sumur di antara Mekah dan Madinah yang dalam hadis Syiah menegaskan bahwa Nabi mengumumkan “Barang siapa yang menjadikan Aku sebagai mawlanya, maka Ali juga adalah mawlanya.”[14] Meskipun cendekia ini menyebutkan masalah Ghadir secara sambil lalu, ia menggolongkan hadis Ghadir sebagai “hadis Syiah.”

Kepada para cendekiawan yang –sadar atau tidak–  telah tertawan bias Ahli Sunnah terhadap Syiah dan bersikeras ihwal keaslian Syiah dan penemuan hadis Ghadir, saya hanya ingin mengulang apa yang dikatakan oleh Vagleiri dalam Encylopedia of Islam ihwal Ghadir Khum:

Suatu hal yang pasti bahwa Muhammad berbicara di tempat ini dan menyampaikan kalimat yang terkenal, demi menjaga kelestarian peristiwa ini, baik dalam bentuk ringkasan ataupun dalam bentuk detail, tidak hanya al-Ya’qubi, yang pamornya dinilai memiliki rasa simpati terhadap Ali, tetapi juga dalam kumpulan hadis-hadis yang dinilai sebagai hadis resmi khususnya dalam Musnad Ibnu Hanbal; hadis-hadis semacam ini banyak bilangannya dan telah diuji kebenarannya dari berbagai isnads yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya.”[15]

Vagleiri melanjutkan: “Beberapa dari hadis ini dikutip dalam bibliograhpynya, namun tidak dimasukkan hadis yang –meskipun melaporkan kalimatnya– namun menghilangkan kalimat Ghadir Khumnya atau yang disebutkan malah di Hudaibiyyah. Dokumentasi lengkap akan mencukupi ketika Concordance-nya Wensinck telah selesai dicetak. Untuk mendapatkan sebuah gagasan tentang bagaiamana hadis ini – sudah memadai untuk melirik kitab yang telah dikumpulkan oleh Ibnu Katsir dengan isnad yang lebih banyak bilangannya.”

Sudah saatnya para sarjana barat berupaya untuk lebih akrab dengan literatur Syiah sejak masa dulu hingga kiwari. Para cendekiawan Syiah telah menghasilkan karya-karya besar yang menyoroti masalah Ghadir Khum. Saya hanya akan menyebut beberapa di antara karya-karya itu di sini :

Pertama adalah kitab ‘Abaqâtul ‘Anwâr dalam sebelas jilidume besar yang ditulis dalam bahasa Persia oleh Mir Hamid Husain al-Musawi (wafat 1306) dari India. ‘

Allamah Mir Hamid Husain telah mempersembahkan tiga jilid besar (yang terdiri dari 1080 halaman) tentang isnad, tawatur dan makna hadis Ghadir Khum. Versi ringkasannya dari kitab ini ditulis dalam terjemahan bahasa Arabnya diberi judul Nafahatul Azhar fi Khulasati ‘Abaqatil Anwar oleh Sayyid Ali Milani yang telah diterbitkan dalam 12 jilidume; dan empat jilidume (dengan ketikan dan cetakan modern) mengurai masalah hadis Ghadir Khum.

Kedua, adalah Kitab al-Ghadir dalam sebelas jilidume dalam bahasa Arab disusun oleh Abdul Husain Ahmad al-Amini (wafat 1970) di Iraq. ‘Allamah Amini telah memberikan dengan rujukan penuh dari nama-nama 110 sahabat Nabi dan juga nama-nama 84 tabi’in (murid-murid para sahabat) yang menceritakan hadis al-Ghadir. Ia juga memberikan secara kronologis nama-nama sejarawan, ahli hadis, mufassir dan pujangga yang telah menukil hadit al-Ghadir tersebut sejak awal hingga abad keempat belas.

Almarhum Sayyid ‘Abdul ‘Aziz at-Thabathaba’i yang menyebutkan adanya kemungkinan tidak hanya satu hadis yang telah dinukil dari sedemikian banyak jumlah sahabat sebagaimana yang dapat kita lihat (120) dari hadis al-Ghadir tersbut. Namun, membandingkan jumlah itu dengan total jumlah yang hadir ketika peristiwa Ghadir Khum terjadi, ia mengatakan jumlah 120 penukil hadis tersebut hanyalah sepuluh persen dari jumlah sahabat yang hadir ketika itu. Dan ia memberikan judul pada tulisannya ” Hadis Ghadir: Ruwatuhu Kathiruna lil-Ghayah ….Qaliluna lil-Ghaya (Perawinya sangat banyak…..beberapa).”[16]

 

4.  Syaban dan Penafsiran Barunya

M.A. Syaban dalam Islamic History AD 600-750 adalah salah satu karya mutakhir yang dilakukan oleh sarjana Barat ihwal sejarah Islam. Dalam salah satu sub-judulnya, bertajuk “A New Interpretation” (Sebuah Penafsiran Baru), yang  di dalamnya penulis mengklaim tidak hanya menggunakan bahan-bahan yang baru ditemukan, tetapi juga menguji kembali dan menafsirkan kembali bahan-bahan yang telah digunakan untuk mengkaji Islam selama berabad-abad. Syaban adalah seorang dosen bahasa Arab di SOAS University of London, ia tidak dibekali pengetahuan yang memadai untuk memperhatikan peristiwa Ghadir Khum. Ia menulis: “Hadis terkenal dari mazhab Syiah bahwa ia (Nabi) menunjuk Ali sebagai penggantinya di Ghadir Khum seharusnya tidak perlu dianggap sesuatu yang serius.”

Syaban memberikan dua alasan baru untuk tidak menganggap peristiwa Ghadir Khum sebagai sesuatu yang serius :

Persitiwa tersebut secara inheren memiliki kemungkinan menganggap tradisional Arab dengan segan mempercayakan kaum muda dan belia yang belum berpengalaman untuk memikul tanggung jawab yang besar. Lebih dari itu, sudah pasti sumber-sumber kita menunjukkan penduduk Madinah berlaku seakan-akan mereka mendengarkan penunjukan ini.”[17]

Mari kita amati setiap alasan yang diberikan oleh tuan Syaban ini dengan kritis.

1.   Keengganan tradisi Arab untuk mempercayakan kepada kaum mudanya mengemban tanggung jawab yang besar.

 Pertama-tama, apakah Nabi Saw tidak memperkenalkan banyak hal yang membuat bangsa Arab secara tradisi segan? Apakah penduduk Mekah menerima Islam dengan perasaan segan? Tidakkah masalah menikahi janda anak angkat adalah suatu hal yang tabu dalam masyarakat Arab? Tradisi segan ini, jangankan  sebagai sebuah argumen yang menolak pengangakatan Ali, sebaliknya dalil ini secara nyata telah menjadi dalil yang digunakan oleh Syiah. Mereka setuju bahwa bangsa Arab (khususnya suku Quraisy) merasa segan menerima Ali sebagai pengganti Nabi tidak hanya karena usianya yang masih belia tetapi juga lantaran dia telah membunuh banyak pemimpin mereka di medan peperangan. Menurut Syiah, Allah juga mengetahui perihal kesegananan ini dan alasan mengapa setelah memerintahkan Nabi Saw untuk mengumumkan “Ali sebagai pengganti (“Wahai Rasul! Sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu…..”), Allah Swt meyakinkan Nabi-Nya dengan berfirman: “Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia..” (Qs. al-Maaidah [5]:67). Nabi ditugaskan untuk menyampaikan pesan dari Allah Swt, tidak menjadi urusan apakah bangsa Arab suka atau tidak.

Terlebih, keengganan tradisi ini bukan merupakan kebiasaan yang tidak bisa dibalikkan dari bangsa Arab sebagaiamana Syaban menghendaki kita untuk meyakininya. Jafri dalam The Origin and Early Development of Shia Islam, mengatakan “Kitab-kitab sumber kami mampu menunjukkan bahwa – meskipun senate (Nadwa) penduduk Makkah sebelum Islam secara umum merupakan dewan para sesepuh suku saja, anak-anak para kepala suku yang memiliki keistimewaan tidak terikat dengan tingkat usia ini dan diperbolehkan untuk menjadi anggota dewan meskipun mereka masih muda. Pada waktu-waktu setelah itu bahkan dewan-dewan yang lebih bebas aturannya semakin banyak. Abu Jahal diperbolehkan menjadi anggota dewan meskipun ia masih berusia muda dan termasuk Hakim bin Hazm yang ketika itu ia masih berusia lima belas atau dua puluh empat tahun.” Kemudian Jafri mengutip Ibnu ‘Abd Rabbih, “Tidak ada raja monarkis yang menguasai penduduk Makkah di masa jahiliyah. Sehingga ketika meletus perang, mereka mengambil surat suara (ballot) di antara para kepala suku dan memilihnya menjadi “Raja”, tanpa melihat apakah ia tergolong muda atau sudah tua. Sehingga pada hari Fijar, giliran Bani Hasyim dan sebagai hasilnya surat suara (ballot) al-Abbas, yang ketika itu masih belia, dipilih dan didudukkan di atas perisai.”[18]

Ketiga, kita punya contoh dalam keputusan-keputusan Nabi sendiri selama akhir hayatnya ketika ia mempercayakan pimpinan pasukan kepada Usamah bin Zaid, seorang pemuda yang belum lagi berusia 22 tahun.”[19] Usamah dipilih di antara para tetua Muhajirin (berasal dari suku Quraisy) dan Ansar; dan memang banyak tokoh-tokoh tersebut mengeluhkan keputusan Nabi ini.”[20] Jika Nabi Saw dapat memilih pemuda dan Usamah yang tidak berpengalaman di atas para tokoh-tokoh Muhajirin dan Ansar, lalu mengapa ” inhrently probable ” memikirkan bahwa Nabi telah menunjuk Ali sebagai penggantinya?

 

2.  Keengganan tradisi mempercayakan orang yang masih “ingusan” sebuah tanggung jawab yang besar.

 Terlepas dari usia muda Ali, Syaban juga merujuk kepada keengganan bangsa Arab dalam mempercayakan ” orang yang belum berpengalaman dengan sebuah tanggung jawab besar.” Ini menandakan bahwa bangsa Arab memilih Abu Bakar karena ia telah berpengalaman dengan beberapa tanggung-jawab yang besar.” Saya meragukan apakah Tuan Syaban akan dapat subtantiate implikasi atas klaim  tersebut dari sejarah Islam. Anda akan mendapatkan lebih banyak contoh Ali dipercayakan oleh Nabi dengan tanggung-jawab yang besar ketimbang Abu Bakar. Ali ditinggalkan di Makkah ketika Nabi hijrah di malam hari. Tugas Ali adalah untuk mengelabui pihak musuh dan mengembalikan amanah yang dititipkan oleh sebagian besar penduduk Makkah kepada Nabi. Ali telah diberi tanggung-jawab yang lebih besar selama masa-masa awal Islam dan senantiasa berhasil menunaikan tugasnya. Ketika ayat barâ’at  diturunkan, yakni ayat yang berisikan ultimatum  terhadap musyrikin Makkah. Tugas ini pertama kali dipercayakan kepada Abu Bakar untuk menyampaikannya kepada penduduk Makkah, tapi kemudian tugas besar ini diambil alih oleh Nabi dan diberikan kepada Ali. Ali dipercayakan untuk mengemban tugas menjaga kota Madinah dan penduduknya, sementara Nabi bertolak menuju Tabuk. Ali ditugaskan sebagai kepala rombongan dalam tugas ke Yaman. Ini adalah beberapa contoh yang sempat terlintas secara sekilas dibenak kami. Dengan demikian, sebagai perbandingan, Ali bin Abi Talib adalah orang yang telah diuji dan dipercaya mengemban beberapa tugas, lebih besar daripada Abu Bakar.

 

  1. 3.                  Perilaku penduduk Madinah ihwal deklarasi Ghadir Khum

          Pertama-tama, jika sebuah peristiwa dapat dibuktikan secara benar oleh standar kritis hadis (standar Ahli Sunnah tentunya), kemudian  reaksi orang-orang atas kredibilitas hadis tersebut menjadi tidak berguna.

          Kedua, keengganan tradisi yang sama yang digunakan oleh Syaban untuk menolak deklarasi al-Ghadir dapat digunakan di sini terhadap sikap ragu-ragunya terhadap peristiwa Ghadir Khum. Keengganan tradisi ini, di samping faktor-faktor lain yang tidak dapat dibahas dalam buku ini.[21] dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku penduduk Madinah.

          Ketiga, meskipun penduduk Madinah berdiam diri selama peristiwa yang menahan Ali dari kekhalifahan, masih banyak yang menyaksikan peristiwa ini. Dalam beberapa kesempatan, Imam Ali memohon kepada para sahabat Nabi untuk bersaksi atas deklarasi al-Ghadir ini. Di sini saya akan menyebutkan satu contoh perisitiwa yang terjadi di Kufah selama masa kekhalifaan Ali, sekitar dua puluh lima tahun setelah Nabi Saw wafat.

Imam Ali mendengar bahwa beberapa orang meragukan klaimnya atas keutamaan khalifah-khalifah sebelumnya, oleh karena itu, ia datang pada sebuah perhelatan yang berlangsung di masjid dan memohon para saksi yang hadir dalam acara Ghadir Khum untuk membenarkan apa yang disampaikan oleh Nabi ihwal Nabi sebagai mawla mereka dan seluruh kaum mukmin. Beberapa orang sahabat berdiri dan membenarkan klaim Ali ini. Kami akan menyebutkan dua puluh empat nama sahabat yang membuat kesaksian atas klaim Imam Ali, meskipun sumber-sumber yang lain seperti Musnad Ahmad dan Majma’ az-Zawaid milik Hafidh al-Haytami malah menyebutkan sebanyak tiga puluh orang. Perlu untuk diingat bahwa kejadian ini berlangsung 25 tahun setelah peristiwa GhadirKhum, dan selama masa ini, ratusan saksi telah wafat atau gugur di medang perang selama masa dua khalifah yang pertama. Sebagai tambahan atas kenyataan ini bahwa kejadian ini berlangsung di Kufah yang jauh dari pusat tempat sahabat bermukim, Madinah. Kejadian ini beralngsung di Kufah pada tahun 35 H yang riwayatnya sendiri dinukil oleh 4 orang sahabat dan 14 tabii’in dan telah tercatat dalam sebagian besar kitab-kitab sejarah dan hadis.[22]

Sebagai kesimpulannya, perilaku penduduk Madinah selepas wafatnya Rasulullah tidak secara langsung menghapus kisah al-Ghadir. Saya pikir bahwa ini akan memadai untuk Tuan Syaban menyadari bahwa tafsirannya tidaklah termasuk sebuah penafsiran baru, melainkan penyederhanaan, dalam pandangan penulis, mimbar pertama, dari jawaban klasik Ahli Sunnah – sebuah pengingkaran telanjang akan keberadaan sebuah peristiwa atau sebuah hadis yang menopang pandangan Syiah – yang telah digunakan oleh sebagian besar para sarjana Barat dalam mengkaji Islam.

 

  1. 3.                  Arti istilah ” Mawla

Dalil terakhir yang digunakan sebagai trik oleh Ahli Sunnah dalam jawaban mereka atas sebuah peristiwa atau sebuah hadis yang disodorkan oleh Syiah adalah memberikan sebuah penafsiran yang menjaga keyakinan mereka. Mereka memutar balik fakta dengan berkata bahwa kata “mawla” memiliki arti yang beragam: tuan, junjungan, hamba, pemelihara, keuntungan, pelindung, penjaga, mitra, sahabat, tetangga, tamu, anak, paman, kerabat, kemenakan, menantu, pemimpin, pengikut. Ahli Sunnah berkata bahwa arti “mawla” yang digunakan oleh Nabi Saw pada hari Ghadir Khum tidak bermakna “tuan atau junjungan”, tetapi berarti ” sahabat “.

Dalam masalah hadis al-Ghadir, inilah tingkat yang dicapai oleh para sarjana Barat pemerhati Islam (Orientalis). Ketika  menjelaskan konteks sabda Nabi Saw di Ghadir Khum, L. Veccia Vaglieri mengikuti penafsiran yang dibuat oleh Ahli Sunnah. Ia menulis :

Dalam masalah ini, Ibnu Katsir masih menunjukkan dirinya sebagai sejarawan utama: ia menghubungkan masalah Ghadir Khum dengan episode-episode yang terjadi selama expedisi ke Yaman yang dikomandani oleh Ali pada 10/631-2 H, dan kembali ke Mekkah tepat waktu untuk bertemu dengan Nabi Saw selama Hajjatul Wida’ (Haji Perpisahan). Ali sangat ketat dalam membagikan harta rampasan perang dan sikapnya ini mengundang protes dari beberapa sahabat. Orang-orang meragukan sikap dan moralitasnya, ia diperingati dengan ketamakan dan dituduh menyalahgunakan wewenang. Lalu mungkin saja, Muhammad ingin menunjukkan di depan publik penghormatannya dan kecintaannya kepada Ali. Ibnu Katsir harus sampai kepada sebuah kesimpulan yang sama, karena ia tidak melupakan untuk menambahkan  perkataan-perkataan Nabi meminta untuk menghentikan cemoohan yang ditujukan terhadap Ali.”[23]

 Ketika sebuah kata memiliki arti yang beragam, sudah merupakan sebuah praktik umum yang berlaku dalam melihat konteks dari perkataan dan kejadian untuk dapat memahami maksud dari si pembicara. Ibnu Katsir dan penulis Sunni lainnya telah menghubungkan peristiwa Ghadir Khum  dengan ekspedisi ke Yaman.  Namun mengapa beranjak terlalu jauh untuk sekedar memahami arti kata “mawla“, mengapa tidak melihat secara utuh dan menyeluruh sabda Nabi yang disampaikan di Ghadir Khum (an-sich)? Tidakkah sebuah praktik yang berlaku secara umum adalah mencermati teks (matn) dari sabda Nabi tersebut, bukannya melihat sebuah kejadian dari jauh, melintasi ruang dan waktu?

Ketika kita mencermati konteks langsung dari sabda yang disampaikan oleh Nabi di Ghadir Khum, kita mendapat beberap hal berikut ini :

  1. Pertanyaan bahwa Nabi bertanya sebelum menyampaikan deklarasi itu. Beliau bertanya, “Apakah aku lebih memiliki wewenang atas diri kalin melebihi wewenang kalian atas diri kalian sendiri?” Ketika orang-orang menjawab, ” Iya, benar,” lalu Nabi menyampaikan : “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya.” Tentu saja kata “mawla“, dalam teks (matn) hadis ini, memiliki makna yang sama dengan kata “awla : lebih memeliki wewenang.”[24]
  2. Setelah penyampaian sabda ini, Nabi Saw melantunkan doa ini: “Ya Allah. Cintailah orang yang mencintai Ali, dan musuhilah orang yang memusuhinya; tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakan orang yang menghinanya.” Doa ini sendiri menunjukkan bahwa Ali, pada hari itu, telah dipercayakan dengan sebuah posisi yang membuat beberapa orang memusuhinya dan ia memerlukan penolong untuk menunaikan tugasnya. Hal ini tidak lain kecuali kedudukan mawla dalam arti penguasa, tuan dan junjungan. Apakah penolong diperlukan untuk mewujudkan sebuah “persahabatan”?
  3. Sabda Nabi Saw di Ghadir menegaskan bahwa: “Dapat diduga bahwa aku akan dipanggil menghadap Allah Swt dan aku akan menjawab panggilan itu.” Jelas bahwa Nabi Saw menyusun sebuah agenda kepemimpinan bagi umat setelah wafatnya.
  4. Para sahabat Nabi memberikan ucapan selamat kepada Ali dengan mengatakan “Amirul Mukminin (Pemimpin Orang Beriman) kepadanya “. Sehingga tidak ada ruang lagi untuk ragu berkenaan dengan arti kata “mawla “.
  5. Peristiwa, waktu dan tempat. Bayangkan Nabi menghentikan perjalanannya pada waktu siang hari dan juga meminta sekitar seratus ribu musafir untuk berhenti di bawah terik matahari yang membakar dan di tengah padang sahara, dan mereka diminta untuk duduk di atas padang pasir yang menusuk dengan panasnya, dan membuat mimbar buatan dari pelana-pelana unta, dan kemudian bayangkan beliau menyampaikan khutbah yang panjang dengan sebuah pengumuman bahwa “Barang siapa yang menganggap aku sebagai temannya, maka Ali juga adalah temannya!” Mengapa? Karena beberapa (tidak semua dari seratus ribu orang yang hadir di tempat itu) menaruh benci terhadap cara Ali membagikan harta rampasan di antara para sahabat pada ekspedisi ke Yaman! Tidakkah ini sebuah pemikiran yang konyol?

 

Jalan lain untuk menemukan makna kata yang digunakan oleh Nabi “mawla” untuk Ali adalah dengan melihat bagaimana orang-orang yang hadir di Ghadir Khum mengerti perkataan ini. Apakah mereka mengartikan kata “mawla” dalam arti “teman ” atau dalam arti “tuan atau pemimpin”?

Hassan bin Tsabit, pujangga masyhur Nabi, menggubah sebuah syair berkenaan dengan peristiwa al-Ghadir pada hari itu. Ia bersenandung: “Lalu ia bersabda kepadanya: “Berdirilah, Wahai Ali, karena aku rela menjadikanmu sebagai Imam dan Penunjuk Jalan selepasku.”

Dalam bait syairnya ini, Hassan bin Tsabit telah memahami istilah “mawla” sebagai arti dari “Imam dan Penunjuk Jalan” yang secara jelas membuktikan bahwa Nabi Saw berbicara tentang penggantinya, dan ia sama sekali tidak memperkenalkan Ali sebagai “temannya” melainkan sebagai seorang “pemimpin.”

Bahkan kata-kata Umar Ibnu al-Khattab lebih menarik. Ia memberi ucapan selamat kepada Imam Ali dengan berkata “Selamat, Wahai putra Abu Talib, pagi ini anda telah menjadi mawla bagi setiap mukminin dan mukminat.”[25]

Jika “mawla” bermakna “teman” lalu mengapa ada ucapan selamat? Apakah Ali adalah seorang musuh bagi seluruh kaum mukmin dan mukminat sebelum hari al-Ghadir?

Teks langsung (matan)nya ini membuatnya lebih jelas bahwa Nabi Saw berbicara tentang sebuah wewenang menyeluruh bahwa Ali bagi seluruh kaum muslimin sebanding dengan wewenang Nabi atas mereka. Mereka membuktikan bahwa makna istilah “mawla” dalam hadis al-Ghadir adalah tuan, pelindung, junjungan, atau pemimpin, bukan “teman”.[26]

Akhirnya, bahkan jika kita menerima bahwa Nabi bersabda dengan kata: “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya dalam kaitannya dengan peristiwa ekspedisi ke Yaman, bahkan kemudian, “mawla” tetap tidak akan bermakna “teman”. Laporan-laporan dari ekspedisi, dalam kitab-kitab Ahli Sunnah, disebutkan bahwa Ali telah mencadangkan dirinya bagian yang terbaik dari harta rampasan yang telah didapatkan di bawah kendali kaum muslimin. Sikapnya ini telah menyebabkan kejengkelan di antara mereka yang berada dibawah perintahnya. Dalam pertemuan dengan Nabi Saw, salah seorang dari mereka mengeluhkan sikap tersebut, karena harta pampasan itu adalah harta kaum muslimin, Ali tidak memiliki hak untuk menyimpan harta tersebut untuk dirinya. Nabi mendengarkan keluhan itu dengan diam; lalu orang kedua datang menghadap beliau dengan keluhan yang sama. Nabi tetap tidak menjawab. Lalu orang ketiga datang kepada beliau juga dengan keluhan yang sama. Adalah ketika Nabi marah dan berkata: “Apa yang kalian inginkan dari Ali? Ia adalah wali setelahku.”[27]

Apa yang dapat dibuktikan dari sabda ini? Dikatakan bahwa sebagaimana Nabi – sesuai dengan firman Allah Swt: “Nabi itu (hendaknya) lebih utama dari mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang memiliki hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah) dari pada orang-orang Mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).” (Qs. al-Ahzab [33]:6) – adalah awla (lebih berhak) atas kepemilikan harta dan hidup kaum mukminin, sama halnya dengan, Ali sebagai waliy, lebih memiliki hak atas harta dan kehidupan kaum mukminin. Nabi Saw secara terang mendudukkan Ali pada tingkatan wilâyah yang tertinggi setelah diri Nabi sendiri. Atas alasan ini penulis kitab al-Jami’us Shagir berkomentar: “Sesungguhnya perkataan ini adalah pujian tertinggi untuk Ali.”

 

 

  1. 4.                  Kesimpulan

Dalam tinjauan singkat ini, kami telah menunjukkan bahwa peristiwa Ghadir Khum adalah sebuah fakta sejarah yang tidak dapat ditolak keberadaannya; dalam mengkaji Syiah, precommitment kepada tradisi Judeo-Nasrani yang dikumpulkan oleh kaum Orientalis dengan merujuk kepada bias Ahli Sunnah terhadap Syiah. Akibatnya, peristiwa Ghadir Khum diabaikan oleh kebanyakan sarjana Barat dan hal ini muncul dari kelalaian yang dikuasai oleh sikap ragu-ragu (skeptisisme) dan penafsiran baru (re-intepretasi).

Kami berharap dengan satu misal ini dapat meyakinkan setidaknya para sarjana Barat untuk menguji kembali metodelogi mereka dalam mengkaji Syiah; alih-alih menggunakan pendekatan menyeluruh melalaui karya-karya heresiographers seperti ash-Sharastani, Ibnu Hazm, al-Maqrizi dan al-Baghdadi yang menyuguhkan informasi bahwa Syiah sebagai sekte bid’ah dalam Islam, mereka seyogyanya lebih objektif dalam kerja-kerja antar Syiah dan juga Ahli Sunnah.

Orang-orang Syiah telah lelah, dan memang demikian adanya, digambarkan sebagai sebuah sekte bid’ah yang muncul karena keadaan politik pada masa-masa permulaan Islam. Mereka menuntut untuk digambarkan sesuai dengan keadaan asli mereka sendiri tidak digambarkan sebaliknya.

 

Salam atasmu,

Wahai Junjunganku, Amirul Mukminin

Wahai duta Tuhan di semesta buana ini

Khalifatullah di antara ciptaan-Nya

Dan Hujjat nyata bagi abdi-Nya

Salam atasmu, Wahai Dinillahi Qayyim dan Siratal Mustaqim

Salam atasmu, Wahai Kabar Agung yang atasnya diutus dan tentangnya kelak mereka akan ditanya 

Aku bersaksi, Wahai Amirul Mukminin

Orang yang tidak meragukanmu

Tidak beriman kepada Rasul al-Amin

Dan mereka yang menyamakan kedudukanmu setara dengan yang lain

Telah menyimpang dari Din Qayyim yang atasnya Tuhan semesta Alam telah memilih untuk kita dan atasnya Dia telah menyempurnakannya melalui Wilâyahmu pada hari Raya Ghadir

 (Dikutip dari Ziyarat Hari al-Ghadir)

* Tulisan ini adalah Karya Sayid Muhammad Rizvi, dengan judul Ghadir Khum and Orientalis, diterjemahkan oleh A. Kamil.

 

 


[1] . Said, E.W., Covering Islam (New York: Pantheon Books, 1981) hal. xvii.

[2] . Hodgson, M.G.S., The Venture of Islam, jilid. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1974) hal. 27.

[3]. Hourani, A., “Islamic History, Middle Eastern History, Modern History,” in Kerr, M. H. (ed) Islamic Studies: A Tradition and Its Problems (California: Undena Publications, 1979) hal. 10.

[4]. Hodgson, op. cit., hal. 39-40.

[5] . Ibid.

[6] . Ibid.

[7]. Hodgson, op. cit., hal. 66-67.

[8] .  Ibn Khaldun, The Muqaddimah, terjemahan, Franz Rosenthal, jilid. 1 (New York: Pantheon Books, 1958) hal. 403. Dalam edisi aslinya, lihat jilid. 1 (Beirut: Maktabul Madrasah, 1961) hal. 348..

[9]. El², hal. 993 dengan judul “Ghadir Khum.”

[10]. Goldziher, Muslim Studies, terjemahan, Barber dan Stern, jilid. 2 (Chicago: Aldine Inc., hal. 1971) hal-hal. 112-113.  

[11]. Ibid.,  

[12] . El¹, hal. 134-135 dengan judul “Ghadir Khum.”

[13] . Hughes, Thomas P., A Dictionary of Islam (New Jersey: Reference Book Publishers, 1965) hal. 138.

[14] . Hitti, P.K., History of the Arabs (London: Macmillan & Co., 1964) hal. 471.

[15] . El², hal. 993 dengan judul “Ghadir Khum.” 

[16]. At-Thathaba’i, ‘Abdul ‘Aziz, al-Ghadir fit Turatsil Islami, (Qum: Nasyr al-Hadi, 1415) hal. 7-8

[17] . Syaban, Islamic History AD 600-750 (Cambridge: University of Press, 1971) hal. 16.

[18] . Jafri, S.H.M., The Origin and Early Developments of Shi’a Islam, hal. 22.

[19] . Haikal, M.H., Hayât Muhammad, (2nd edition) hal. 478; lihat juga terjemahannya, The Life of Muhammad, terjemahan al-Faruqi (American Trust Publication, 1976) hal. 492.

[20] . Lihat, Ibn Saad dalam at-Tabaqât dan karya-karya besar dalam Sirah.

[21] . Untuk lebih detilnya, lihat Rizvi, S.S.A., Imamate, hal. 120-121.

[22] . Untuk referensi lebih lengkap, lihat al-Amini, al-Ghadir, jilid. 1 (Tehran: Muassasatul Muwahhidi, 1976) hal. 166-168.

[23] . El², hal. 993-994 dengan judul “Ghadir Khum.”

[24] . Al-Amini membeberkan nama-nama muhaddits (ahli hadis) Sunni yang telah menukil pertanyaan di atas, termasuk di antara mereka adalah Ahmad bin Hanbal, Ibn Majah, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi. Lihat al-Ghadir, jilid 1, hal. 370-371

[25] . Lihat al-Amini, al-Ghadir, jilid 1, hal-hal. 270-283 untuk referensi dari sumber-sumber Sunni.

[26]. Konteks-konteks ini adalah bersumber dari kitab al-Ghadir karya Allamah Amini yang diringkas oleh Rizvi dalam Imamate: The Vicegerency of the Prophet.  

[27]. An-Nasai, Al-Khasâis, Ali bin Abi Thalib, hal.  92-93; at-Tirmidzi, Shahih,   jilid 5, hal. 632 (hadis #3712), dan Jamiush Shagir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s