Etika tanpa Agama, Mungkinkah?

Pembahasan ini mengemuka secara luas pada masyarakat Barat dan latar belakang sejarahnya dapat ditelusuri hingga pada masa gejolak yang terjadi pada masa Renaissance. Sebelum Renaissance,agama yang berkembang pada masa itu adalah agama Kristen yang mendominasi seluruh dimensi kehidupan masyarakat ketika itu seperti dimensi pengetahuan, kebudayaan, sosial, etika dan dimensi-dimensi lainnya.  Seiring dengan kekalahan gereja dalam pelbagai panggung kehidupan, masyarakat juga mulai merasa muak terhadap agama dan kecendrungan beragama.  Alih-alih condong kepada Tuhan, mereka malah lebih cenderung kepada manusia (baca: humanisme). Pelan tapi pasti, pemikiran ini semakin menguat dan merajalela dengan mentasbihkan sebuah tekad bahwa kita dapat memunculkan wacana etika tanpa agama.  Sebagai kebalikannya, sebagian lain menekankan bahwa etika tidak dapat dilepaskan dari agama dan meyakini bahwa etika tidak akan dapat terealisir tanpa agama. Lanjutkan membaca..

Iklan

One comment on “Etika tanpa Agama, Mungkinkah?

  1. atika tanpa agama ea ngak mungkin,karna agama sebagai petunjuk hidup bagi manusia,bayangkan saja bagaimana kehidupan manusia tanpa adax patunjuk pasti akan berantakan,contoh:apbila qt pergi ke luar negeri yang qt ngk tw tanpa adax petunjuk qt pasti akan bingung langkah ap yng akan qt ambil kmna qt akan pergi jln ap yng harus qt tempuh………!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s