Perbedaan Antara Huwa dan Allah

Pada sebagian riwayat disebutkan bahwa Ya Huwa, Ya man la huwa illahu (Wahai Dia.. Wahai Dia yang tiada tuhan selain-Nya) adalah nama teragung Allah (ism a’zham). Jelas bahwa perbedaan antara lailaha illahu dan lailaha illaLlah yang disebutkan dalam al-Qur’an  kembali pada perbedaan antarahuwa dan Allah.  Yang dimaksud dengan huwa adalah sebuah sifat Allah Swt yang akan senantiasa gaib (dia) dan tidak dapat diperikan dan dicirikan.  Adapun yang dimaksud dengan Allah Swt adalah sebuah zat yang mencakup seluruh sifat jalâl (keagungan) dan jamâl (keindahan) dan tatkala disebutkan lailaha illaLlah artinya tiada tuhan selain Allah yang memiliki seluruh sifat-sifat (jalâl dan jamâl) tanpa kita harus menyebutkan bahwa zat ini berada di luar setiap sifat. Tatkala disebutkan Dia (huwa) adalah Allah (surah al-Ikhlas) artinya sifat Allah Swt dan zat-Nya adalah satu. Lanjutkan Membaca…

Mengapa Tuhan itu Harus Sempurna?

Dalam penalaran dan argumentasi, terdapat sebuah entitas yang diasumsikan memiliki seluruh kesempurnaan kecuali sebagian kesempurnaan yang menjadikannya berbeda dengan asumsi wujud Mesti lainnya. Berdasarkan asumsi penanya, tidak memerlukan kesempurnaan-kesempurnaan yang lain.  Nah sekarang harus disimak apakah asumsi yang terdapat dalam pikiran seperti ini dapat diterapkan pada alam eksistensi dan dapat terealisir pada alam luaran?  Faktanya adalah bahwa segala kesempurnaan penciptaan dan eksistensial berbeda dengan kesempurnaan-kesempurnaan non-hakiki (i’tibâri) dan urf yang tidak dapat mengada tanpa adanya hubungan sama sekali dengan yang lain sehingga dapat terealisir pada alam kenyataan. Pembahasan ini pada tempatnya sendiri dapat dijelaskan dan ditetapkan secara detil. Dengan ungkapan lain, apa yang kita saksikan pada alam luaran (nyata), hubungan di antara kesempurnaan-kesempurnaan ini tidak terpisah dan terkotak-kotak melainkan setiap entitas selaras dan sejalan dengan entitas-entitas alam lainnya. Tiada batasan hitungan detik yang dapat diklaim secara sempurna terpisah dari yang lainnya. Yang ada adalah bahwa, semakin kita menanjak naik pada tingkatan kesempurnaan yang lebih tinggi, maka semakin kita menyaksikan kesatuan, keselarasan dan kesejalanan yang lebih besar diantara kesempurnaan-kesempurnaan yang banyak di alam semesta. Lanjutkan membaca…

Benarkah Tuhan yang Menciptakan Semesta?

Farabi dalam argumen (burhan) yang dikenal dengan nama asad akhshar berargumen sebagai berikut: “Apabila kita berasumsi bahwa pada rangkaian entitas-entitas, masing-masing lingkarannya bergantung pada yang lainnya sedemikian sehingga lingkaran sebelumnya tidak ada, maka lingkaran yang bergantung padanya juga tidak akan ada. Keniscayaan hal ini adalah bahwa seluruh rangkaian ini bergantung pada entitas lainnya; karena asumsinya adalah bahwa seluruh lingkaran ini memiliki tipologi bergantung seperti ini dan mau-tak-mau entitas yang berada di puncak rangkaian ini harus diasumsikan ada dan keberadaannya tidak bergantung pada yang lain. Dan sepanjang entitas puncak tersebut tidak ada maka konsekuensinya lingkaran rangkaian tersebut juga tidak akan pernah ada. Karena itu rangkaian seperti ini semenjak permulaan tidak dapat bersifat nir-batas dan dengan kata lain tasalsul dalam rangkaian sebab-sebab adalah mustahil (absurd).   Mulla Shadra dalam Filsafat Hikmah (Hikmah Mutâ’aliyah) menyuguhkan sebuah argumen (burhan) untuk menetapkan kemustahilan tasalsul dalam rangkaian sebab-sebab. Ulasan burhan tersebut adalah, bahwa sesuai dengan konsep kehakikian wujud  (ashâlat wujud) dan relasionalnya, wujud akibat terkait dengan sebab pengadanya, setiap akibat terhadap sebab pengadanya adalah hubungan (rabth) dan kebergantungan itu sendiri dan sama sekali tidak memiliki kemandirian pada dirinya. Apabila sebab yang diasumsikan adalah akibat bagi sebab yang lebih atas, maka kondisi yang sama seperti ini akan dimilikinya. Karena itu apabila kita mengasumsikan sebuah rangkaian sebab dan akibat bahwa masing-masing dari sebab adalah akibat dari sebab lainnya, maka ia akan memiliki rangkaian kebergantungan dan keterikatan. Jelas bahwa wujud yang bergantung tanpa adanya wujud mandiri yang menjadi tempat bergantung, tidak mungkin akan pernah terwujud. Karena itu, mau-tak-mau di balik rangkaian hubungan dan kebergantungan ini, sudah seharusnya terdapat sebuah wujud mandiri yang menjadi sebab mengadanya seluruh rangkaian sebab-akibat ini. Dengan demikian, rangkaian ini tidak dapat dipandang tidak memiliki permulaan dan tanpa entitas mandiri yang bersifat mutlak. Lanjutkan Membaca

Siapakah Tuhan Itu? Apakah Dia dapat Dibuktikan?

Tuhan Maha Kuasa adalah Wujud mutlak dan Kesempurnaan mutlak yang sama sekali tidak memiliki aib dan cela. Wujud-Nya tiada duanya. Dia memiliki kemampuan untuk melakukan setiap perbuatan dan mengetahui segala sesuatu kapan pun dan apa pun kondisinya, Maha Mendengar dan Maha Melihat, memiliki kehendak dan ikhtiar, Hidup dan Pencipta segala sesuatu, Sumber segala kebaikan, Mencintai dan Pengasih kepada seluruh makhluk.   Konsep Tuhan merupakan konsep yang paling umum dan sederhana. Demikian sedernahanya sehingga dapat dipahami oleh seluruh manusia, bahkan oleh mereka  yang menafikan wujud Tuhan. Kendati pengenalan esensi dan hakikat Zat Tuhan mustahil bagi manusia namun masih banyak jalan untuk memperoleh keyakinan terhadap wujud Tuhan.  Jalan-jalan untuk mengenal Tuhan dalam sebuah klasifikasi umum dapat dibagi menjadi beberapa bagian:  1. Jalan rasional (Burhan Imkan dan Wujub). 2.    Jalan empirik (Argumen Keteraturan) 3.     Jalan hati (Argumen Fitrah). Jalan terbaik dan termudah adalah melalui argumen fitrah (mengenal Tuhan melalui hati). Melalui argumen fitrah ini, manusia kembali kepada dirinya, ia tidak lagi memerlukan argumentasi rasional atau observasi empirik untuk dapat menemukan Tuhannya dan dengan melalui jalan hati ini ia sampai kepada Tuhan.  Baca Kelanjutannya…

Antara Tuhan yang Dicintai dan Ditakuti

Mencintai dan keterjalinan antara takut dan harapan, serta tentang cinta dalam kaitannya terhadap Tuhan, bukan merupakan suatu hal yang mengejutkan. Karena masalah ini adalah sesuatu yang lumrah dan memenuhi kehidupan kita. Namun karena saking jelasnya masalah ini terkadang membuat kita lalai darinya.  Harus diketahui bahwa tatkala kita berjalan di suatu tempat adalah hasil dari gabungan perasaan takut, harapan dan cinta. Karena ketika tiada harapan maka kita tidak akan berjalan menganyunkan langkah kaki. Dan apabila kita tidak berjalan mengayungkan langkah kaki maka kita tidak akan sampai pada tujuan. Sepanjang kita tidak merasa takut, maka di sepanjang perjalanan kita tidak akan berlaku hati-hati yang dapat membuat kita cedera dan tetap kita tidak akan sampai tujuan. Masalah ini dapat kita jumpai ketika kita memanfaatkan alat transportasi, media listrik atau alat yang dapat membakar dan sebagainya. Kita berhasrat untuk memanfaatkan media-media tersebut, namun apabila pemanfaatan media tersebut tidak disertai dengan takut dan sikap hati-hati, mendekati media-media tersebut akan menjadi sebab kecelakaan dan kematian kita. Lanjutkan membaca…

Mencari Pencipta Tuhan?

basithKaum agamawan, baik mereka yang konsisten menjalankan agamanya ataupun tidak, meyakini eksistensi Tuhan Pencipta alam raya ini. Sehubungan dengan persoalan Tuhan Pencipta, dan karena sulitnya meyakini suatu maujud tanpa pencipta, seringkali muncul sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang awam dari kalangan mereka, yaitu: “Jika Tuhan telah menciptakan alam raya ini dan semua isinya, lalu siapakah yang menciptakan Tuhan itu sendiri?” Baca lebih lanjut

Belajar di Sekolah Tauhid [selesai]

asemane1Lebih dari seminggu lamanya semenjak berakhirnya disksui antara sang ayah dan anak. Masa jeda ini sengaja diatur supaya sang anak memiliki waktu untuk meraup pelajaran-pelajaran tauhid dan meninjau ulang konsep-konsep yang telah didiskusikan bersama serta melakukan beberapa eksperimen atas konsep-konsep tersebut. Sang anak terlihat sangat khusyuk sepanjang hari… Segala sesuatu dulunya tidak terlalu penting kini menjadi obyek perhatian dan pandangannya. Ia beranjak ke luar ke taman, melihat sisi-sisi khusus dari setiap tanaman dan memegang buah-buah tanpa memotongnnya. Ia perhatikan secara seksama dan merenungi buah ini ketika ia masih merupakan sebuah biji kuculuk dilempar dan ditabur ke bumi kemudian ditutupi tanah…Alangkah menariknya dan kini ia telah tumbuh besar! Sebuah pohon yang kuat berbau yang kurang enak, namun memberikan buah yang manis dan lezat Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Qs. Al-An’am [6]:95) Baca lebih lanjut

Mengapa Ada Paradoks? [14]

paradoxJadi yang sedemikian merupakan peperangan antithesis untuk menyingkap ketidaksempurnaan dari kesempurnaan dan kejelekan dari keindahan… Manusia merasa bahagia dengan proses penyingkapan ini. Dengan proses ini, mereka merasa bangga jika mereka berharga untuk kesuksesan sejati, bukan sebuah kesuksesan palsu.   
Aturan yang sama ini dapat diterapkan pada segala ketidaksempurnaan dan penderitaan.. sejam bersabar dapat menuai hasil kebahagiaan dan kesenangan selama bertahun-tahun. Segala sesuatu dapat ditahan jika dibandingkan dengan hal-hal lain yang memiliki nilai yang lebih tinggi. Jadi penyakit merupakan sebuah jalan untuk mendapatkan kesehatan yang lebih baik;  bahaya merupakan sebuah jalan untuk lebih menghargai keamanan; mengenal keniscayaan hidup berupa penyakit untuk mempekerjakan dokter, ahli kimia dan perawat dan keharusan membeli pakaian untuk memberdayakan pabrik-pabrik tekstil; tanam-tanaman yang segera membusuk dan penyerapan nutrisi yang membuat industry tanaman hidup dan berkembang, menghasilkan buah dan sebagainya. Baca lebih lanjut

Pada Segala Sesuatu terdapat Tujuan [13]

imagescaha4gurPada bagian “Kemustahilan Tasalsul” sang ayah membeberkan pengalamannya bagaimana ia menggugurkan dan mematahkan klaim bahwa segala sesuatu yang tidak terlihat adalah tidak ada dan bahwa segala yang terlihat ini patut disangsikan. Dengan pendekatan sederhana, sesuai dengan tuntutan situasi, ia dapat menjungkalkan pandangan materialis dan skeptis ini. Kali ini, sang ayah melanjutkan program pencerahannya kepada sang anak berupa pelajaran “argumen kebertujuan” yang menegaskan bahwa pada segala sesuatu terdapat tujuan dan perbedaannya dengan argumen keteraturan. Bagaimana kelanjutannya, kami persilahkan Anda mengikut obrolan mencerahkan berikut ini…   Baca lebih lanjut

Kemustahilan Tasalsul [12]

tasalsulDi tempat itu, saya bertemu dengan ateis tersebut dan berdiskusi dengannya. Ia menantang…ia melakukan manuver ke sana ke mari dalam sebuah jalan praktis namun sesungguhnya jalan pikirannya tidak mencerminkan rasionalitas. Ia bersikeras bahwa segala sesuatu yang tidak terlihat bukan sebuah kenyataan dan realitas. Pada saat itu, saya melihat perlu menggunakan metode yang lain untuk memanipulasi diskusi. Jadi saya dengan cerdik bertanya kepadanya: “Sudikah Anda mengatakan siapa ayah anda?” Ia menjawab “Ayahku” Namaku ayahku adalah…” Lalu saya memotong: “Bagaimana engkau dapat membuktikan bahwa ia adalah ayahmu? Apakah engkau melihatnya dengan matamu sendiri?”
Demikianlah penggalan kisah dari tuturan pengalaman sang ayah kepada anaknya. Sebuah kisah yang berisikan pergulatan meraup kebenaran dengan dialog dan dialektika. Dalam perbincangan ini, sang ayah menuturkan kisah menarik tentang kemustahilan tasalsul, sebuah kemustahilan yang telah terbukti secara rasional dan filosofis, namun oleh sang ayah dituturkan dengan bahasa sederhana. Mari kita ikuti tuturannya. Baca lebih lanjut