Apakah Imam Shadiq As Pernah Berguru Pada Seorang Sunni?

Apa yang Anda kabarkan tidaklah demikian adanya; karena para Imam Maksum As memiliki seluruh ilmu dan tidak perlu belajar ilmu-ilmu seperti ilmu hadis dari orang lain. Sebaliknya sebagian tokoh besar Ahlusunnah, baik secara langsung atau tidak langsung adalah murid-murid mereka seperti Abu Hanifah dan Malik bin Anas.  Apa yang disebutkan dalam riwayat-riwayat Ahlusunah semata-mata nukilan hadis, bukan belajar ilmu hadis, fikih dan ushul pada mereka. Karena para Imam Maksum As apabila mereka ingin menukil sebuah hadis dari Rasulullah Saw, mengingat sebagian orang menerima hadis hanya dengan perantara salah seorang thabi’in dan sahabat yang sampai kepada Rasulullah Saw. Padahal sejatinya para Imam Maksum As tidak membutuhkan menyebut silsilah sanad. Para Imam Maksum melakukan hal ini lantaran kemaslahatan. Nukilan hadis para Imama Maksum dari para thabi’in dan sahabat bukan karena mereka merupakan guru para Imam Maksum As; misalnya Imam Shadiq As dalam sebuah riwayat menukil sebuah peristiwa tentang ayahnya, Imam Baqir As yang menukil sebuah hadis dari Rasulullah Saw melalui Jabir bin Abdullah yang menyatakan, “Imam Baqir As duduk mengajar dan berkata-kata hadis bagi masyarakat dari sisi Allah Swt. Orang-orang Madinah berkata, “Kami tidak melihat yang lebih berani dari orang ini.”  (Mengajarkan hadis langsung dari Allah Swt).. Lanjutkan membaca..

 

Arti Ummu Abiha dan Batul bagi Fatimah Zahra

Ummu Abihâ artinya ibu ayahnya. Batul adalah julukan yang dilekatkan kepada wanita yang sama sekali tidak memiliki kecondongan dan ketertarikan kepada kaum pria. Rasulullah Saw bersabda: Batul adalah wanita yang tidak mengalami haidh; karena haidh bukan merupakan sesuatu yang baik bagi putri-putri para nabi. Kendati secara natural dan umum setiap wanita pada usia-usia tertentu maka seharusnya mereka menyaksikan darah haidh keluar dari badan mereka. Namun Allah Swt menghendaki sebagian dari wanita terkecualikan dari kebiasaan ini. Tiadanya haidh bagi mereka merupakan sebuah keutamaan. Di samping Hadhrat Zahra, Hadhrat Maryam dan putri-putri para nabi juga tidak mengalami haidh. Karena itu, berseberangan dengan kebiasaan umum merupakan sebuah perkara yang tidak bertentangan dengan nilai dan keutamaan, sebagaimana tuturan Nabi Isa dalam buaian. Tuturan Nabi Isa tersebut bukan merupakan hal yang berseberangan dengan kebiasaan melainkan sebuah mukjizat besar yang merupakan bukti kenabian Nabi Isa dan dalil kesucian bundanya Hadhrat Maryam As. Lanjutkan Membaca..

Sebagimana Isa, Ali bin Abi Thalib Mampu Menghidupkan Orang Mati

Ketika seseorang dapat melakukan hal seperti ini secara mandiri tanpa membutuhkan bantuan dari Tuhan, maka hal ini bertentangan dengan tauhid perbuatan (tauhid dalam penciptaan) Tuhan, karena mati dan hidup hanya berada di tangan-Nya.  Akan tetapi, jika seseorang melakukannya dengan izin Tuhan, maka hal yang seperti ini sangat mungkin bisa terjadi dan sama sekali tidak bertentangan dengan akal. Dalam al-Qur’an, melalui lisan Nabi Isa As, Allah Swt berfirman, “Aku dapat menyembuhkan buta bawaan dan menghidupkan orang-orang mati dengan kehendak-Nya”, mengenai hal ini tidak ada seorang Muslim pun yang ragu dalam membuktikan kejadiannya.  Mengingat bahwa kedudukan Rasulullah Saw lebih tinggi dari kedudukan para nabi lainnya termasuk Nabi Isa As, dan sesuai dengan nash Al-Qur’an, Imam Ali As merupakan jiwa Rasul Saw, maka merupakan hal yang wajar jika Rasulullah Saw dan Imam Ali As pun memiliki kemampuan untuk melakukan apa yang dilakukan oleh Nabi Isa As. Lanjutkan Membaca…

Arti Fatimah bagi Putri Rasulullah

Tentu saja tidak mesti setiap nama dibuat untuk melambangkan satu makna khusus dan mencerminkan pelbagai dimensi kepribadian pemilik nama, melainkan cukup bahwa nama tersebut tidak memuat nama yang mengandung arti kemusyrikan dan antinilai.  Akan tetapi, terkait dengan para wali Allah, seperti Hadhrat Fatimah Zahra Salamullah ‘alaiha, dimana nama-nama mereka diilhamkan dari alam gaib, tentu saja nama ini memiliki beberapa poin penting yang selaras dan senada dengan tipologi pemilik nama tersebut.  Nama Fatimah yang akar katanya dari kata “fa-tha-ma” bermakna terpisahnya atau tercerabutnya sesuatu; sesuai dengan lisan riwayat; terpisahnya atau tercerabutnya puan besar ini dari segala jenis keburukan dan ketercelaan dan juga bermakna bahwa beliau akan menyelamatkan para pecinta sejatinya dari api neraka. Lanjutkan membaca..

Mengapa Kubah Emas?

Pertanyaan ini dapat dijawab dari beberapa sisi: Masalah seperti ini memiliki fondasi rasional, di seluruh dunia dan di antara peradaban agama-agama dunia penghormatan kepada para pembesar dan menghidupkan karya-karya mereka adalah suatu hal yang lumrah dan tidak ada halangannya sama sekali secara rasional. Para Imam Maksum menampik dunia sementara pada saat yang sama mereka mendermakan seluruh harta dan kepemilikiannya untuk masyarakat. Mereka rela mengorbankan jiwa untuk agama dan keselamatan masayarakat. Karena itu sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi masyarakat kepada orang-orang suci ini, mereka membangunkan pusara-pusara suci untuk mereka.  Haramain Syarifain (Mekah dan Madinah) dan haram-haram para Imam Ahlulbait As dan sebagainya merupakan bangunan, peninggalan bersejarah dan simbol peradaban Islam yang terpenting. Karena itu, sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu, haram-haram tersebut memiliki seni arsitektur,  keunikan tersendiri dan mengikut pada budaya agama dan bangsanya.  Lanjutkan membaca..

Mengenang Imam Baqir As; Sang Penyingkap Tirai Ilmu

Imam Muhammad al-Baqir adalah Imam Kelima. Panggilannya adalah Abu Ja’far dan ia terkenal dengan gelar “al-Bâqir“. Ibunya adalah putri Imam Hasan. Oleh karena itu, ia merupakan satu-satunya Imam yang berhubungan dengan Hadrat Fatimah az-Zahra dari pihak ayah dan pihak ibu.  Imam Muhammad al-Baqir dibesarkan dalam pangkuan datuknya Imam Husain, selama tiga tahun. Selama tiga puluh tiga tahun di bawah pengawasan kasih ayahandanya Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin.

Imam Suci ini turut serta dalam tragedi Karbala, saat tragis pembunuhan berdarah datuknya Imam Husain dan para sahabatnya. Dia juga menderita dengan ayahandanya dan wanita-wanita Ahlulbait Nabi As yang mendapatkan perlakuan kejam dan penawanan di tangan kekuatan lasykar setan di bawah komando Yazid bin Mu’awiyah. Setelah tragedi Karbala, Imam melalui masa hidupnya dengan damai di Madinah, beribadah kepada Allah dan menuntun orang-orang ke jalan yang benar. Baca lebih lanjut