Mengapa Kita Harus Menerima Islam?

Agama Islam merupakan agama paling inklusif dan komprehensif di antara agama-agama Ilahi. Agama ini diturunkan oleh Allah Swt sebagai petunjuk kepada manusia supaya manusia mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan abadi.  Apa yang membuat mengapa kita harus menerima Islam disebabkan oleh beberapa dalil sebagaimana berikut ini:  1. Inklusivisme Islam. 2. Tidak  Mencukupinya agama-agama lain selain Islam. 3.  Keharmonisan antara ajaran-ajaran Islam dan akal sehat (Ketidakharmonisan antara ajaran-ajaran Kristen dan akal sehat).  4. Berakhirnya masa berlaku sejarah agama-agama lain dan distorsi yang terjadi pada agama-agama tersebut sepanjang sejarah.

Keempat poin ini merupakan sebagian dalil mengapa kita harus menerima dan memilih Islam sebagai agama.  Lanjutkan membaca…

Iklan

Tuhan Filosof Yunani dan Teolog Kristen

Filosof pertama Yunani Kuno dalam mencari sumber segala sesuatu dan pencipta makhluk mereka sampai pada satu konsep yang bernama Tuhan. Mereka berpandangan bahwa sumber alam semesta terdiri dari empat unsur. Misalnya Thales berpandangan bahwa sumber segala sesuatu berasal dari air. Demokritus mengganggap bahwa sumber alam semesta adalah dari api. Sementara filosof lainnya menilai bahwa sumber segala sesuatu adalah dari udara atau api.”  Pembahasan rinci tentang dewa-dewa dalam pandangan orang-orang Yunani disebutkan dalam karya Homer dan Hesiod. Apabila kita ingin membatasi pada karya Iliad Homer kita menyaksikan bahwa redaksi kalimat “Tuhan” nampak yang disebutkan untuk segala jenis entitas yang aneh. Dalam pemikiran Yunani, gambaran ketuhanan diperoleh dari gambaran tentang tabiat (nature) dan prinsip yang berlaku di dalamnya. Yang dimaksud dengan entitas-entitas aneh adalah kekuatan Ilahi yang membuat orang-orang Yunani mampu menata perbuatan-perbuatan dan pikiran-pikirannya berdasarkan kekuatan tersebut.” Tentu saja Tuhan mereka tidak dapat disamakan dengan Tuhan Tunggal yang kita kenal saat ini.  Pada dasarnya, “Terdapat pandangan dan teori-teori ihwal konsep dan keberadaan Tuhan dalam school of thoughts(aliran-aliran) filsafat, agama-agama dan sejarah, namun tidak satu pun dari pandangan dan teori ini yang memiliki makna dan konsep stabil serta tidak berubah-ubah tentang Tuhan.” Lanjutkan membaca..

 


Mencari Kebenaran ala Matematika Cartesian

Upaya Descartes dalam menghasilkan suatu kerangka dan pondasi yang pasti untuk segenap pengetahuan terkhusus bidang Teologi dan Metafisika merupakan sebuah langkah pertama dan patut mendapatkan pujian. Upaya ini sebenarnya merupakan suatu reaksi atas atmosfer Sophisme yang -menyelimuti pemikiran masyarakat Eropa saat itu. Namun, kritikan-kritikan fundamental yang logis telah menggoyang klaim kepastian, keyakinan, dan tiadanya kesalahan dari metodologi yang dikonstruksi oleh Descartes, begitu juga beragam dalil-dalil yang menegaskan bahwa metode matematis Descartes yang disebut sebagai “Matematika Umum” bertolak belakang dengan klaim-klaimnya sendiri yakni bukan suatu metode yang pasti. Bahkan di zaman hidupnya, begitu banyak ilmuan yang menganggap gamblang kekeliruan metodenya. Argumen-argumen yang akan diutarakan selanjutnya akan membuktikan bahwa metodologi matematis Descartes tidak hanya memungkinkan hadirnya kesalahan, melainkan suatu metodologi yang tidak efektif dan tidak benar berdasarkan kaidah-kaidah logika.  Sebenarnya, Descartes berupaya mencari solusi dari permasalahan-permasalahan tentang keraguan, akan tetapi bukan hanya dia tidak mampu menyelesaikannya secara tuntas, melainkan penelitiannya justru menghasilkan dua kesalahan mendasar, pertama adalah membuka ruang hadirnya Idealisme ekstrim dan kedua adalah walaupun dia dalam usaha mencari keyakinan dan kepastian, akan tetapi metodologinya yang awalnya bertujuan untuk mengantarkan kepada suatu keyakinan dan kebenaran, tanpa ia sadari, justru secara praktis memicu timbulnya sikap skeptis yang berlebihan. Lanjutkan Membaca..

Apa Jasa Syiah untuk Islam?

Supaya jawaban yang diberikan selaras dengan pertanyaan yang diajukan,  sang penanya memperkenalkan dua orang dalam pertanyaannya, yang pertama salah seorang salaf (terdahulu) bernama Umar bin Khattab dan yang lain khalaf (terkemudian) bernama Shalahuddin Ayyubi.  Sebagai bandingannya, kami akan menyebutkan peran dan jihad Syiah pada masa salaf (terdahulu) dan khalaf (terkemudian). Pada masa salaf, cukup kami menyebutkan jihad pada masa Rasulullah Saw yang diemban oleh Baginda Ali As, dan hadis “laa fata illa ‘Ali wala saif illa Dzulfiqar,” adalah hadis yang ditujukan berkenaan dengan beliau. Pada perang Khandaq, dan hari tatkala Rasulullah Saw bersabda: “Seluruh Islam atau Iman berhadap-hadapan dengan seluruh kemusyrikan.” Ali bin Abi Thalib dalam membela Islam dan membunuh Amru bin Abduwud, jawara dan tokoh Arab yang masyhur,  beliau menunjukkan keberanian dan keikhlasan sehingga Rasulullah Saw bersabda tentangnya, “Limubârazati ‘Ali li Amru bin Abduwud (Yaum al-Khandaq) Afdhal min ‘Ibâdati al-Tsaqalain, aw afdhal min a’mal ummati ilaa yaum al-Qiyâmah.” Sebagaimana yang Anda saksikan, hanya satu perbuatan Ali bin Abi Thalib As dalam membela Islam, lebih baik dari seluruh amalan dan perbuatan umat Rasulullah hingga hari Kiamat; pelbagai penaklukan (futuhât) para khalifah dan pengikutnya masing-masing memiliki perhitungan tersendiri. Begitu juga pada perang Khaibar, Rasulullah Saw bersabda kepada Baginda Ali As: “Karrar ghaira Farrar.” Ia senantiasa menerjang dan menyerang dan tidak akan pernah kabur. Sabda Rasulullah Saw ini sebagai bandingan dari dua orang yang sebelumnya diutus ke medan laga namun keduanya kabur dari medan tersebut. Lanjutkan membaca…

Kemurtadan Para Sahabat menurut Ahlusunnah

Kemurtadan para sahabat dalam riwayat-riwayat Ahlusunnah lebih banyak dan riwayat-riwayat yang banyak dan mutawatir, sementara pada literatur-literatur Syiah riwayat-riwayat sahih yang menjelaskan kemurtadan para sahabat tidak lebih dari dua riwayat dan meminjam istilah ilmu hadis, tidak melewati batasan kabar wahid. Karena itu, saudara-saudara Ahlusnnah harus memberikan jawaban terkait dengan kemurtadan para sahabat dalam riwayat-riwayat mutawatir ini apa maksudnya? Adapun ulama Syiah meyakini bahwa kemurtadan yang disebutkan pada sebagian riwayat disandarkan pada sebagian sahabat dan tidak bermakna kafir dan kembali menyembah berhala, melainkan bermakna melanggar janji wilayah dan membangkang Nabi Saw dalam masalah khilafah. Oleh itu, mereka yang turut serta dalam pelbagai penaklukan Islam seluruhnya adalah muslim dan berupaya dalam menyebarkan Islam. Kendati boleh jadi mereka melakukan dosa dan kesalahan dalam kehidupan mereka. Lanjutkan membaca…

Menolak Tawassul=Menolak Islam

Di dalam sebagian literatur Ahlusunnah, misalnya di dalam kitab “Wafâ al-Wafâ” karya Samhudi dapat kita baca bahwa: “Meminta pertolongan dan memohon syafâ’at dari Rasulullah Saw dan dari maqam dan kepribadiannya dibolehkan. Bahkan kebolehan itu sebelum penciptaannya dan juga setelah kelahirannya, baik sebelum atau sesudah wafatnya, baik di alam barzakh ataupun di alam Kiamat. Setelah kalimat-kalimat ini, Samhudi menukil dari Umar bin Khattab sebuah riwayat ihwal tawassul nabi Adam As kepada Rasulullah Saw: “Adam berdasarkan pengetahuannya tentang penciptaan Nabi Islam di masa mendatang, berkata kepada Tuhan: “Ya Rabb! Aku bermohon kepada-Mu, demi Muhammad, ampunilah aku.” Demikian juga sebuah hadis yang lain dari sekelompok perawi Ahlusunnah di antaranya adalah Nasai dan Tirmidzi yang menukil: Seorang buta minta didoakan kesembuhan atas sakitnya oleh Rasulullah Saw. Rasulullah Saw memerintahkan kepadanya untuk berdoa: “Tuhanku! Aku bermohon kepadamu dan dengan perantara Muhammad, Nabi yang penuh kasih, aku menghadap kepada-Mu. Wahai Muhammad! Dengan perantaramu aku menghadap kepada Tuhan kiranya engkau memenuhi hajatku! Tuhanku! Jadikanlah dia sebagai penyembuhku.”
Dan dinukil dari Baihaqi bahwa pada masa pemerintahan khalifah kedua, musim kemarau berlangsung selama dua tahun. Bilal beserta beberapa orang sahabat datang ke pusara Rasulullah Saw dan berkata demikian: “Wahai Rasulullah! Pintalah hujan untuk umatmu karena (tiadanya air) mereka kini dalam kondisi sekarat..”
Karena itu, khalifah kedua Umar bin Khattab meyakini bahwa tawassul kepada Rasulullah Saw dapat dilakukan pada masa hidupnya atau setelah wafatnya. Umar bin Khattab sendiri mengamalkan tawassul ini, lantas mengapa hari ini para pengikut Muhammad bin Abdulwahab menyatakan bahwa kaum Muslimin yang bertawassul di samping pusara suci Rasulullah sebagai perbuatan syirik? jika memang demikian, maka sesuai dengan keyakinan mereka, Umar bin Khattab juga adalah musyrik? Lanjutkan membaca…

Klaim Syiah atas Murtadnya Para Sahabat

Munculnya penyimpangan, seperti bid’ah dan kemurtadan, di kalangan sebagian sahabat setelah wafatnya Rasulullah, pertama; dalam perspektif sumber-sumber pertama umat Islam, merupakan perkara yang disepakati secara umum (musallam) dan tidak diragukan lagi serta tidak terkhusus pada sumber-sumber mazhab Syiah saja.  Riwayat-riwayat mutawatir yang datang dari Rasulullah Saw di dalam Shihah Sittah Ahlusunnah, dan sumber-sumber lain pada mazhab Ahlusunnah, dengan bilangan sanad sahih yang banyak, merupakan penjelas bahwa sebagian besar sahabat, pasca wafatnya Rasulullah Saw, telah meninggalkan jalan dan sunnah Rasulullah Saw dan kembali kepada model kehidupan jahiliyah.  Dan penyimpangan seperti ini menjadi penyebab sehingga pada hari Kiamat nanti mereka tidak mendapatkan izin untuk meminum air dari telaga Kautsar, terusir dari telaga Kautsar, dan para malaikat azab menggiring mereka ke arah neraka jahannam.   Kedua, kemurtadan yang mengemuka pada riwayat-riwayat seperti ini, tidak bermakna kemurtadan secara teknis teologis yang menyebabkan kekufuran melainkan bermakna kembalinya mereka kepada model kehidupan, nilai-nilai jahiliyyah dan berpaling dari jalan dan sunnah Rasulullah Saw.  Lanjutkan membaca…

Meraih Kesempurnaan Melalui Islam

Kendati terdapat sebagian hakikat yang dapat disaksikan pada agama-agama yang ada di dunia dewasa ini akan tetapi bentuk sempurna hakikat yaitu tauhid hakiki hanya dapat ditemukan dalam Islam. Dalil utama yang dapat digunakan untuk menetapkan klaim ini adalah tiadanya dasar standar dan adanya distorsi serta pelbagai kontradiksi rasional pada teks-teks agama-agama ini dan sebagai bandingannya tiadanya distorsi al-Qur’an,  adanya dasar standar dan historis, universalitas agama Islam dan keselarasan ajaran-ajarannya dengan akal sehat manusia. Lanjutkan membacanya…

Asas danTipologi Pemikiran Syiah

Asas pemikiran Syiah dan sumber seluruh maarif (plural pengetahuan) Syiah adalah al-Qur’an. Syiah memandang seluruh ayat-ayat dzahir Al-Qur’an, demikian juga perilaku dan perbuatan, bahkan diamnya Nabi Saw sebagai hujjah (argumen). Dan selanjutnya juga memandang ucapan, perilaku dan diamnya para Imam Maksum juga sebagai hujjah. Di samping al-Qur’an menjelaskan hujjiyah (argumentatifnya) lewat penalaran akal, al-Qur’an juga menyokong jalan mukasyafah (penyingkapan) dan syuhud (penyaksian) untuk meraup berbagai pengetahuan dan makrifat. Lanjutkan membacanya

 

Berideologi….Berfilsafat

ideology2Sebuah ideologi dan pandangan dunia yang valid harus ditata dan dikerangka melalui penalaran logis dan rasional. Lantaran tanpa melalui kedua jalan ini, sebuah ideologi dan pandangan dunia tidak memiliki jaminan untuk bertahan menghadapi pelbagai ancaman dan gempuran ideologis yang dijaja di bursa ideologi dunia. Banyak contoh ideologi yang tidak bertengger di atas rasionalitas berguguran dan satu-demi-satu hanya dapat dikenal di perpustakaan-perpustakaan dunia. Imam Khomeini salah seorang ideolog terkemuka pernah bernubuat ihwal nasib ajaran Komunisme bahwa ajaran ini tidak akan lama bertahan dan hanya akan dikenal pada perpustakaan dunia. Bagaimana mengerangka sebuah ideologi dan pandangan dunia sehingga ia bisa bertahan langgeng dan mampu berdialektika dengan pelbagai ideologi adalah tugas yang diemban oleh filsafat. Jalan penalaran logis dan rasional yang dikembangkan dalam filsafat merupakan jalan yang bersifat universal dan menyeluruh. Pengenalan terhadap realitas-realitas hanya dapat dilakukan dengan inferensi logis, deduksi, menjelajah di antara gugusan silogisme yang tidak dapat menghasilkan kesimpulan keliru namun sebuah konklusi komprehensif dan universal. Terkait dengan ideologi, seseorang harus menggunakan media universal ini sehingga ia dapat mengenal dan mengukuhkan ideologinya sebagai ideologi yang benar dan valid. Sedemikian orang tidak dapat menghindar dari filsafat, sehingga, menyitir Aristoteles, seseorang tidak dapat mengkritisi filsafat kecuali harus berfilsafat.    Baca lebih lanjut