Mengenal Beberapa Tingkatan Perjalanan Spiritual

Salah satu penjelasan yang paling terkenal terkait dengan tingkatan-tingkatan sair dan suluk adalah penjelasan yang diungkapkan dalam buku Manthiq al-Thair karya Fariduddin al-Atthar yang menerangkan tingkatan-tingkatan sair dan suluk dalam tujuh tingkatan. Tingkatan-tingkatan dan stasiun-stasiun itu adalah:  Thalab (menuntut). Isyq (Cinta) Makrifat (Pengetahuan) Istighna (Merasa kaya) Tauhid Hairat (Takjub) Fana.

Klasifikasi tingkatan-tingkatan dan stasiun-stasiun ini lebih banyak menyoroti masalah perjalanan batin seorang sâlik (pejalan). Adapun simbol-simbol lahir suluk dan amalan-amalan yang harus dilakukan kurang begitu ditonjolkan. Meski pada sebagian penjelasan lainnya tingkatan-tingkatan amali dan praktis sair-suluk juga tetap menjadi obyek perhatian. Lanjutkan membaca 

Iklan

From Heaven with Love

words-of-god

Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu sebagai hidup. Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang mencoreng dan memalukan dihadapan-Nya.

Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.

Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan. Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”

Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan: “Bukankah Aku ini Rabbmu ?”

Rumi

 

Menutup Gerbang Kata

Ada kecupan yang sungguh kami rindui
di sepanjang hidup kami,
sentuhan sang Jiwa pada tubuh kami.

Air laut memohon mutiara
agar memecahkan cengkerangnya.

Dan bunga Lili, sepenuh nafsu
menunggu Kekasih yang liar!

Ketika malam, kubuka jendela
kupohon  bulan datang bertandang
dan membenamkan wajahnya pada wajahku.
bernafas ke dalam diriku.

Menutup gerbang-kata
Membuka jendela-cinta.

Bulan tak butuh pintu
ia hanya rindu jendela yang terbuka.

Mawlana Rumi

 

 

Masa untuk Berkhalwat

mudik2.jpg

Katanya, “Siapa di pintuku?”
Jawabku,”hamba-Mu yang lata,”
Katanya, “urusan apa yang kamu punya?”
Jawabku, ”‘tuk mencumbu-Mu ya Rabb,”

Katanya,”berapa lama bakal kau kembara?”
Jawabku,”sampai Kau cegat daku,”
Katanya,”berapa lama kau didihkan di api?”
Jawabku, “sampai diriku murni,”

“Inilah sumpah cintaku
Demi Cinta semata
Kutinggalkan harta dan kuasa.”

Katanya, “kamu buktikan kasusmu
Tapi, kamu takpunya saksi,”
Kataku,”Tangisku, saksiku
wajah pasiku, saksiku,”
Katanya, saksimu takpunya sahsiah
matamu membasah ‘tuk dilihat.”
Jawabku,”atas kerahiman, adil-Mu
Mataku cerah dan tanpa salah,”

Katanya,”Apa yang kaucari?”
Jawabku, “Kamu! ‘tuk jadi rekan dampinganku,”
Katanya, “apa yang kamu mau dariku,”
Jawabku,”Kemuliaan, kemesraanmu,”

Katanya,”Siapa teman sekembaramu?”
Jawabku,”Ingatan kepada-Mu, O Sang Raja,”
Katanya, “Apa yang membuatmu ke mari?”
Jawabku,”Kelezatan anggur-Mu,”

Katanya, “Apa yang membuatmu puas?”
Jawabku, “Dampingan-Mu Sang Maharaja”
Katanya,”Apa yang kamu temui di sini?”
Jawabku, “Seratus keajaiban,”
 

Katanya,”Mengapa istana ditinggal porakperanda?”
Jawabku,”Mereka takutkan perampok,”
Katanya, “Siapa perampok itu?”
jawabku,” Seseorang yang lari dari-Mu,”

Katanya,”Tidak adakah keselamatan di situ?”
Jawabku,”Dengan hadirnya Cinta-Mu,”
Katanya,” Apa faedah yang kamu terima dari kehidupan?”
Jawabku,”Dengan jujur kepada diriku,”

Kini masa untuk berkhalwat (berdua-duaan dengannNya).
 

Kalau kukatakan padamu tentang intisari sebenarnya
Kau bakal terbang, dirimu akan sirna
Dan tiada pintu, tiada bumbung dapat menarikmu kembali.

Rumi

Mudik kepada Tuhan

mudik1.jpg

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.

Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya!

Wahai pengembara!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayohlah datang, dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu,
karena Akulah jalan itu.”

Apologi kepada Tuhan

apologi.jpg

 

Tuhanku..

Aku mohon ampun kepada-Mu

Di hadapanku ada orang yang dizhalimi

Aku tidak menolongnya

Kepadaku ada orang berbuat baik

Aku tidak berterima kasih kepadanya

Orang bersalah meminta maaf kepadaku

Aku tidak memafkannya

Orang susah memohon bantuan kepadaku

Aku tidak menghiraukannya

Ada hak orang Mukmin dalam diriku

Aku tidak memenuhinya

Tampak di depanku cela seorang Mukmin

Aku tidak menutupinya

Dihadapkan kepadaku dosa

Aku tidak menghindarinya

Tuhanku…

Aku mohon ampun dari semua kejelakan itu

Dan yang sejenis dengan itu

Aku sungguh menyesal

Biarlah itu menjadi peringatan

Agar aku tidak berbuat yang sama sesudahnya

Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan Keluarganya

Penyesalanku atas segala kemaksiatan

Tekadku untuk meninggalkan kedurhakaan

Jadikan itu semua tobat yang menarik kecintaan-Mu

Duhai Dzat yang mencintai

Orang-orang yang bertobat…

Dikutip dari Renungan-renungan Sufistik, Kang Jalal yang menukil dari

Fi Rihab ashShahifah Sajjadiyah, Sayid Abbas al-Musawi, Sekjen pertama Hizbullah.

Slow but Sure

pelantapipasti.jpg 

“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu dapat dikerjakan dengan baik dengan kesabaran, pertimbangan dan berfikir.

Setiap orang yang tergesa-gesa pasti akan terjungkal.

Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri di padang pasir, bagaimana orang yang berjalan perlahan-lahan,

 lambat dan berhati-hati akan tiba terlebih dahulu.

Sementara kuda yang berlari kencang jatuh tersungkur.

Lihatlah bagaimana unta dapat menyelesaikan perjalanannya yang jauh dengan hati-hati dan perlahan-lahan.”

 

Sa’di

Setengah Malaikat, Setengah Keledai

donkey-n-angel.jpg

 

Dinukil dalam sebuah riwayat bahwa Tuhan menciptakan tiga golongan makhluk:

Golongan pertama adalah  malaikat, yang punya akal, pengetahuan, dan kebebasan suci, dan hanya mengenal sujud.

Mereka tak punya unsur serakah dan nafsu.

Semata-mata cahaya, hidup dengan cinta Tuhan

Golongan kedua sama sekali tanpa pengetahuan

Digemukkan bak hewan di padang

Mereka tak melihat kecuali padang dan kandang

Tak mengenal kekejian maupun kemuliaan

Kelompok ketiga adalah manusia,

Yang setengah malaikat dan setengah keledai

Paruhan keledai cenderung kepada yang rendah

Paruhan yang lain cenderung kepada yang luhur

Orang harus melihat paruhan mana yang ditaklukkan, mana yang menaklukkan

Maulawi

Kembara Usia

kembara.jpg

Seseorang hanyalah pengembara

Berkelana mengikuti pundak usianya

Mengarungi hari dan bulannya

Ia lalui siang dan malam

Semakin jauh dari kehidupan

Semakin dekat kepada kematian

Iqbal

 

Memahami Diri Sendiri

i-wonder.jpg

Kenalilah makna sejati dalam dirimu sendiri dan engkau tidak akan binasa.

Akal budi adalah cakrawala dan mercusuar kebenaranmu.

Akal budi adalah sumber kehidupan

Tuhan sudah memberimu pengetahuan maka dengan cahaya itu,

 engkau tidak akan hanya menyembahnya,

tetapi engkau juga akan dapat mengenal dirimu sendiri

dalam segala kelemahan dan kekuatan yang engkau miliki.

Kahlil Gibran