Mengapa Manusia Takut Mati?

Takut mati boleh jadi disebabkan oleh pelbagai faktor dan unsur yang beragam. Sebagian faktor tersebut akan disinggung secara ringkas sebagaimana berikut ini:

Pertama, Kebanyakan manusia menafsirkan kematian sebagai kesirnaan, kebinasaan dan ketiadaan. Jelas dan suatu hal yang wajar apabila manusia takut dari kebinasaan dan ketiadaan. Apabila manusia menafsirkan kematian dengan makna seperti ini, tentu saja mereka akan lari dan merasa takut darinya; karena itu, manusia bahkan dalam kondisi-kondisi terbaiknya dalam hidup, berpikir tentang kematian saja telah membuyarkan kesenangan hidup mereka dan senantiasa merasa takut darinya. Kedua, Terdapat manusia yang tidak memandang kematian sebagai akhir dan ujung kehidupan. Namun tatkala ia meyakini hari Kiamat dan karena perbuatan-perbuatan tercela yang dilakukannya membuat ia takut mati dan merasa ngeri dengan kematian; karena ia memandang kematian sebagai permulaan untuk menuai hasil-hasil perbuatan buruknya di dunia. Karena itu, untuk lari dari perhitungan Ilahi dan hukuman perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan, manusia inginsupaya kematian baginya ditunda sampai waktu-waktu berikutnya. Lanjutkan Membaca

 


Iklan

Apakah Alkitab Menetapkan Konsep Tritunggal?

Sejarawan pada umumnya bersepakat bahwa Alkitab sama sekali tidak menyebutkan tentang konsep Tritunggal secara tegas dan lugas. Ensiklopedia Eliade, terkait dengan Tritunggal, menulis, “…masalah ini telah menjadi masalah besar bagi Gereja untuk menemukan sebuah ayat tentang Tritunggal dalam Alkitab.”  Namun demikian sebagian orang Kristen menjelaskan bukti-bukti dari Alkitab yang menurut mereka sebagai penjelas konsep Tritunggal, namun setelah mengkaji dan mencermati paragraf-paragraf yang dimaksud menjadi jelas bahwa bukti-bukti tersebut tidak terlalu lugas dalam mengungkap pesan Tritunggal. Intinya mereka tidak mampu menetapkan konsep Tritunggal bersumber dari Alkitab.  Tiadanya teks suci (nash) ihwal Tritunggal dan terbatas serta globalnya redaksi yang berkaitan dengan ketuhanan Yesus Kristus (Nabi Isa), membuat orang-orang Kristen berupaya meluaskan terminologi putra Allah (Bapa) sehubungan dengan Nabi Isa. Terminologi ini mereka ganti dari makna kiasan menjadi makna hakiki. Namun demikian mereka berselisih paham tentang masalah ketuhanan Yesus Kristus hingga tiga abad lamanya. Lanjutkan membaca…

Tips Mengatasi Idealisme Kawula Muda

Apa yang mengemuka dalam pertanyaan merupakan sebagian indikasi adanya kedewasaan dan permulaan masa muda pada diri Anda. Seseorang yang berada pada angka usia seperti ini kebanyakan berada di bawah pengaruh ucapan dan bahkan pandangan orang lain.   Perilaku seperti ini, hingga pada tataran tertentu, merupakan perilaku yang normal dan ideal; karena manusia dapat dengan menimbang beberapa kriteria positif dan memandang dirinya, dalam pandangan orang-orang saleh, berada pada tingkatan untuk sampai ke jenjang nilai-nilai yang lebih tinggi.  Akan tetapi, hal ini juga dapat mendatangkan bahaya bagi seorang pemuda, tatkala ia berada di antara kumpulan orang-orang dan teman-teman jahat, dan untuk tidak terlihat lemah, ia mempraktikan kriteria-kriteria negatif teman-teman jahat itu dalam dirinya. Dalam kondisi seperti ini, pemuda ini akan segera terjerembab dalam kubangan penyimpangan. Pada sebagian orang, perasaan idealisme ini muncul dikarenakan oleh beragam sebab di antaranya, pendidikan keluarga dan lain sebagainya, yang tumbuh berkembang secara negatif dalam dirinya. Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak akan pernah merasa tenang dan setiap saat merasa bahwa ia hidup di bawah bayang-bayang orang lain, pandangan-pandangan orang lain akan terlihat lebih penting baginya. Ia merasa kerdil dan sempit; karena ia ingin semua orang puas terhadap dirinya. Lanjutkan membaca..

Tuhan Filosof Yunani dan Teolog Kristen

Filosof pertama Yunani Kuno dalam mencari sumber segala sesuatu dan pencipta makhluk mereka sampai pada satu konsep yang bernama Tuhan. Mereka berpandangan bahwa sumber alam semesta terdiri dari empat unsur. Misalnya Thales berpandangan bahwa sumber segala sesuatu berasal dari air. Demokritus mengganggap bahwa sumber alam semesta adalah dari api. Sementara filosof lainnya menilai bahwa sumber segala sesuatu adalah dari udara atau api.”  Pembahasan rinci tentang dewa-dewa dalam pandangan orang-orang Yunani disebutkan dalam karya Homer dan Hesiod. Apabila kita ingin membatasi pada karya Iliad Homer kita menyaksikan bahwa redaksi kalimat “Tuhan” nampak yang disebutkan untuk segala jenis entitas yang aneh. Dalam pemikiran Yunani, gambaran ketuhanan diperoleh dari gambaran tentang tabiat (nature) dan prinsip yang berlaku di dalamnya. Yang dimaksud dengan entitas-entitas aneh adalah kekuatan Ilahi yang membuat orang-orang Yunani mampu menata perbuatan-perbuatan dan pikiran-pikirannya berdasarkan kekuatan tersebut.” Tentu saja Tuhan mereka tidak dapat disamakan dengan Tuhan Tunggal yang kita kenal saat ini.  Pada dasarnya, “Terdapat pandangan dan teori-teori ihwal konsep dan keberadaan Tuhan dalam school of thoughts(aliran-aliran) filsafat, agama-agama dan sejarah, namun tidak satu pun dari pandangan dan teori ini yang memiliki makna dan konsep stabil serta tidak berubah-ubah tentang Tuhan.” Lanjutkan membaca..

 


Apakah Jibril Senantiasa Bersama Rasulullah Saw?

Jibril hanya mendatangi dan mengunjungi Rasulullah tatkala ia turun menyampaikan wahyu; karena dalam banyak hal kita jumpai dalam riwayat misalnya Rasulullah Saw tengah sibuk melakukan sebuah pekerjaan kemudian Jibril turun mendatanginya. Hal ini dapat dijadikan sebagai dalil bahwa Jibril tidak senantiasa bersama Rasulullah Saw pada setiap keadaan, sekiranya Jibril senantiasa bersama Rasulullah Saw maka makna nuzûl (turun) tidak akan berguna; karena nuzûl (turun) bermakna turunnya seseorang dari tingkatan yang lebih tinggi ke tingkatan yang lebih rendah dan apabila Jibril senantiasa bersama Rasulullah Saw maka tentu saja nuzûl ini tidak akan memiliki makna.  Jibril bersama atau tidak bersama Rasulullah Saw tidak berpengaruh pada unsur kemanusiaan Rasulullah Saw. Bukankah Jibril adalah pembawa wahyu bagi Rasulullah Saw? Lantas keniscayaan dan kemestian apa yang terdapat pada penyertaan Jibril dan (karena penyertaan Jibril maka) Rasulullah Saw dipandang sebagai malaikat? Lanjutkan membaca..

 

Mengenal Patologi Kemuliaan Manusia

 

Dalam pandangan al-Qur’an dekadensi moral yang pada hakikatnya menyebabkan dekadensi dan terjerembabnya manusia dari kedudukan dan kemuliaan insaniahnya, bergantung pada beberapa faktor. Dalam al-Qur’an, terdapat beberapa ayat yang menjelaskan bahwa manusia disebabkan oleh kelalaian dan tidak memberdayakan akal dan pikiran, serta tidak mengamalkan tuntutan-tuntutan akal dan pikiran, manusia telah kehilangan kemuliaannya.  Sebagian ayat al-Qur’an memperkenalkan hawa nafsu dan cinta dunia sebagai faktor adanya dekadensi dan terjerembabnya manusia dari kedudukannya yang tinggi. Sesuai dengan ayat-ayat ini, membangkang dan membelakangi titah-titah Ilahi telah menjadi penyebab jatuhnya kemuliaan manusia di hadapan Tuhan. Pada sebagian riwayat juga disebutkan beberapa faktor seperti, kemiskinan, cari muka, menjilat dan sebagainya dipandang berpotensi menciderai kemuliaan dan kepribadian manusia. Lanjutkan membaca..

 

 


Apakah Seluruh Nabi berasal dari Bani Israel?

 

Al-Qur’an menyokong seluruh nabi Ilahi dengan alasan bersama (common) mereka, terlepas dari apakah peristiwa mereka dijelaskan dalam kitab samawi ini dan apakah nama salah seorang nabi dari mereka disebutkan di dalamnya. Tidaklah demikian bahwa seluruh nabi yang disebutkan dalam al-Qur’an, bahkan para penyeru agama Ibrahimi, seluruhnya berasal dari Bani Israel. Nabi-nabi seperti Nabi Luth dan Nabi Syu’aib yang merupakan pendakwah agama Ibrahimi tidak berasal dari golongan mereka. Dari satu sisi, meski Allah Swt, menaruh perhatian lebih terhadap sebuah komunitas dalam masyarakat dan memilih para wali dan nabi dari kalangan mereka, namun tentu saja terdapat dalil-dalil yang berdasarkan hikmah dan kebijaksanaan atas pemilihan ini yang dijelaskan Allah Swt kepada kita. Dan sebagian dalil juga tetap terjaga dan tersembunyi di sisi-Nya. Lanjutkan membaca..

 

 


Akal dan Iman Wanita dalam Pandangan Ali bin Abi Thalib

 

Berdasarkan beberapa timbangan dan barometer yang dikemukakan oleh para Imam Maksum As, jika terdapat riwayat-riwayat yang meragukan maka ia harus disandingkan dan dibandingkan dengan al-Qur’an. Apabila bertentangan dengan al-Qur’an maka tuntutan lahir dari riwayat tersebut tidak boleh diamalkan.  Dari sisi lain, kita tidak menemukan satu pun ayat dalam al-Qur’an yang menengarai tentang hukum universal terkait dengan kekurangan akal dan iman kaum wanita. Karena itu, dengan memperhatikan kriteria-kriteria dan barometer-barometer ilmu hadis, kita juga tidak dapat menerima riwayat di atas berdasarkan makna lahirnya. Namun demikian, kita juga tidak dapat secara definitif dan seratus per seratus menyatakan bahwa riwayat di atas adalah riwayat bodong (palsu) dan tidak pernah disampaikan oleh Imam Ali As.  Karena itu, riwayat tersebut harus dicari sisi benarnya (taujih) atau menyerahkan penafsiran riwayat ini kepada Imam Ali As sendiri. Dari sisi lain, karena dalam ucapan dan tindakan para nabi dan wali Allah, kita menyaksikan mereka menyampaikan tuturan tentang kaum wanita atau melakukan sebuah perbuatan yang secara lahir menunjukkan sebuah perbuatan yang tidak pantas dilakukan, namun pada kenyataannya, mereka memiliki maksud yang lain. Terdapat kemungkinan riwayat yang disandarkan kepada Imam Ali As ini juga demikian adanya. Dengan demikian, terdapat kemungkinan bagi kita untuk mencari sisi benar (taujih) dan mencari makna lain atas riwayat ini. Lanjutkan membaca…


Argumen Filosofis ihwal Keberadaan Tuhan dalam al-Qur’an

Salah satu masalah asasi yang mendapat concern dan perhatian manusia demikian juga salah satu tema fundamental dan poros agama-agama adalah masalah keberadaan Tuhan. Dalam masalah penetapan dan tiadanya penetepan keberadaan Tuhan, terdapat banyak pendapat yang akan kita singgung di sini sebagian darinya.  Sebagian filosof dan teolog berpandangan bahwa keberadaan Tuhan adalah bersifat swa-bukti dan tidak memerlukan dalil atau secara terminogis disebut sebagai fitri. Atas dasar itu, mereka bersandar pada al-Qur’an dan riwayat para maksum dalam masalah ini.  Al-Qur’an dalam hal ini menyatakan, “Dan Kami pasti akan menempatkanmu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang yang takut kepada kedudukan (keadilan)-Ku dan kepada ancaman-Ku.” (Qs. Ibrahim [14]:10)  Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda, “Tuhanku! Engkaulah yang merajut hati-hati dengan kehendak dan kecintaan pada-Mu serta akal dengan makrifat tentang-Mu” dan ayat-ayat serta riwayat-riwayat lainnya dalam masalah ini.  Karena itu, para pemikir Islam, menyimpulkan dari ayat-ayat dan riwayat-riwayat ini bahwa keberadaan Tuhan adalah bersifat swa-bukti (badihi) dan gamblang.   Pada belahan dunia Barat juga pemikir seperti Platinga berpandangan bahwa (keberadaan) Tuhan adalah suatu hal yang gamblang dan swa-bukti sebagaimana hal-hal gamblang lainnya. Lanjutkan Membaca..

Kajian Sekte Syiah Ismailiyah

 

 

Imam Shadiq As tidak mengeluarkan nash sehubungan dengan imâmah (kepemimpinan) dua putranya, Ismail dan Abdullah. Namun mengingat kondisi yang berkembang pada masa itu sedemikian peliknya sehingga Imam Shadiq As tidak dapat memperkenalkan Imam Musa Kazhim As di hadapan khalayak sebagai penggantinya. Karena setiap detik terdapat kemungkinan terbunuhnya Imam Kazhim As pada awal-awal pengangkatannya sebagai imam oleh penguasa pada masa itu.  Masalah ini telah membuat sebagian orang-orang Syiah, dengan memperhatikan indikasi-indikasi dan bukti-bukti, pertama-tama menyangka Ismail dan kemudian Abdullah sebagai imam selanjutnya yang seiring dengan perjalanan waktu kekeliruan sangkaan ini terbukti dengan sendirinya.  Dengan demikian, Ismail meninggal sebelum wafatnya Imam Keenam As dan Abdullah juga tidak mampu menjawab pelbagai pertanyaan agama orang-orang Syiah dan dalam pada itu, dalam masa yang sangat singkat, ia juga berpulang ke rahmat Tuhan tidak lama pasca wafatnya ayahnya Imam Ja’far Shadiq As dan dengan demikian imâmah (kepemimpinan) Imam Musa Kazhim As tertetapkan untuk orang-orang Syiah.  Lanjutkan membaca…