Ayat Mut’ah

Yang dimaksud dengan istimtâ’ pada ayat, “famastamta’tum bihi minhunna fa’tuhunna ujurahunna faridhatun” (Maka istri-istri yang telah kamu nikahi secara mut‘ah di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna) sebagai suatu kewajiban) adalah bahwa bahwa kapan saja engkau mendapatkan kenikmatan dari istri-istri maka hendaklah engkau menyerahkan mahar kepada mereka.  Ulama Imamiyah, sebagian sahabat dan thabi’in berkata bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah nikah mut’ah.  Muslim bin Hajjaj dalam riwayat sahih bahwa Atha berkata, “Jabir bin Abdullah kembali dari umrah dan kami datang mengunjunginya. Orang-orang bertanya tentang beberapa hal dan di antaranya adalah mut’ah. Jabir berkata, “Benar, kami pada masa Rasulullah Saw, Abu Bakar, Umar, kami melakukan mut’ah.”  Kemudian kami melihat para sahabat besar dan thabi’in serta sekelompok besar ahli tafsir (mufassir) Ahlusunnah dan seluruh mufassir Syiah, seluruhnya memahami ayat di atas sebagai hukum tentang nikah mut’ah. Ayat ini berada pada tataran menghitung para wanita yang dapat dinikahi dan tidak pada tataran memerintahkan misalnya seseorang harus menikah, temporal atau permanen, pada prinsipnya pernikahan, baik temporal atau permanen, merupakan hal yang dianjurkan bukan hal yang diwajibkan.. Lanjutkan membaca…

Iklan

Benarkah Hukum Nikah Mut’ah itu Telah Dianulir?

Suatu hal yang pasti bahwa jenis pernikahan ini termasuk pernikahan legal pada masa Rasulullah Saw dan kita tidak memiliki dalil yang dapat diandalkan terkait dengan nasakh dan anulir hukum pernikahan ini pada masa Rasulullah Saw. Karena itu, sesuai dengan hukum pasti yang digunakan dalam disiplin ilmu Ushul Fikih pernikahan tersebut masih tetap sah berlaku.  Poin yang patut mendapat perhatian di sini adalah bahwa tiada seorang pun selain Rasulullah Saw yang memiliki hak untuk menganulir dan me-nasakh hukum-hukum.  Hanya Rasulullah Saw yang dapat menganulir hukum-hukum sesuai dengan perintah Allah Swt. Pasca wafatnya Rasulullah Saw persoalan nasakh dan anulir telah tertutup sama sekali dan kalau tidak demikian maka siapa saja dapat melakukan ijtihad dan menganulir hukum-hukum Ilahi. Sedemikian sehingga tiada lagi yang bernama syariat abadi dan lestari yang akan tersisa. Pada dasarnya, ijtihad di hadapan sabda Rasulullah Saw adalah ijtihad di hadapan nash (ijtihâd fî muqâbil al-nash) yang sama sekali tidak memiliki nilai. Lanjutkan membaca..