Mengenal Beberapa Tingkatan Perjalanan Spiritual

Salah satu penjelasan yang paling terkenal terkait dengan tingkatan-tingkatan sair dan suluk adalah penjelasan yang diungkapkan dalam buku Manthiq al-Thair karya Fariduddin al-Atthar yang menerangkan tingkatan-tingkatan sair dan suluk dalam tujuh tingkatan. Tingkatan-tingkatan dan stasiun-stasiun itu adalah:  Thalab (menuntut). Isyq (Cinta) Makrifat (Pengetahuan) Istighna (Merasa kaya) Tauhid Hairat (Takjub) Fana.

Klasifikasi tingkatan-tingkatan dan stasiun-stasiun ini lebih banyak menyoroti masalah perjalanan batin seorang sâlik (pejalan). Adapun simbol-simbol lahir suluk dan amalan-amalan yang harus dilakukan kurang begitu ditonjolkan. Meski pada sebagian penjelasan lainnya tingkatan-tingkatan amali dan praktis sair-suluk juga tetap menjadi obyek perhatian. Lanjutkan membaca 

Argumen Filosofis ihwal Keberadaan Tuhan dalam al-Qur’an

Salah satu masalah asasi yang mendapat concern dan perhatian manusia demikian juga salah satu tema fundamental dan poros agama-agama adalah masalah keberadaan Tuhan. Dalam masalah penetapan dan tiadanya penetepan keberadaan Tuhan, terdapat banyak pendapat yang akan kita singgung di sini sebagian darinya.  Sebagian filosof dan teolog berpandangan bahwa keberadaan Tuhan adalah bersifat swa-bukti dan tidak memerlukan dalil atau secara terminogis disebut sebagai fitri. Atas dasar itu, mereka bersandar pada al-Qur’an dan riwayat para maksum dalam masalah ini.  Al-Qur’an dalam hal ini menyatakan, “Dan Kami pasti akan menempatkanmu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang yang takut kepada kedudukan (keadilan)-Ku dan kepada ancaman-Ku.” (Qs. Ibrahim [14]:10)  Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda, “Tuhanku! Engkaulah yang merajut hati-hati dengan kehendak dan kecintaan pada-Mu serta akal dengan makrifat tentang-Mu” dan ayat-ayat serta riwayat-riwayat lainnya dalam masalah ini.  Karena itu, para pemikir Islam, menyimpulkan dari ayat-ayat dan riwayat-riwayat ini bahwa keberadaan Tuhan adalah bersifat swa-bukti (badihi) dan gamblang.   Pada belahan dunia Barat juga pemikir seperti Platinga berpandangan bahwa (keberadaan) Tuhan adalah suatu hal yang gamblang dan swa-bukti sebagaimana hal-hal gamblang lainnya. Lanjutkan Membaca..