Apakah Neraka Juga Memiliki Tingkatan-tingkatan Sebagaiman Surga?

Apa yang dapat disimpulkan dari  sebagian ayat al-Qur’an dan sebagian riwayat sehubungan dengan tingkatan-tingkatan dan derajat-derajat neraka adalah bahwa neraka juga sebagaimana surga memiliki tingkatan dan derajat yang berbeda-beda. Para pendosa berdasarkan kejahatan dan dosanya akan mendiami salah satu dari tingkatan neraka ini dan menerima azab.

Dalam sebuah riwayat terkait dengan ayat “Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.”” (Qs. Al-Hijr [15]:44) Neraka jahannam memiliki tujuh pintu dan masing-masing dari ketujuh pintu terdapat sekelompok orang tertentu yang telah dibagi-bagi” Imam Baqir As bersabda, “Telah sampai kabar kepadaku bahwa Allah Swt membuat tujuh tingkatan neraka.”

  1. Tingkatan pertama yang merupakan tingkatan tertinggi dan puncak neraka disebut sebagai Jahim. Penghuni neraka pada tingkatan ini berdiri di atas bebatuan cadas dan tengkorak dan otak mereka mendidih lantaran panas yang amat-sangat.
  2. Tingkatan kedua  bernama Lazhi; panas api pada tingkatan ini, menguliti dan memotong tangan, kaki, dan punggung. Neraka ini akan memanggil orang-orang yang membelakangi titah Tuhan dan orang-orang yang menumpuk harta benda. Lanjutkan membaca.. 
Iklan

Peran Islam dalam Membangun Peradaban

 Peradaban pada setiap bangsa merupakan tanda-tanda kemajuan dan perkembangan bangsa tersebut. Histori terbentuknya peradaban di negara-negara Islam adalah bermakna bahwa mereka memiliki produksi pemikiran, kekayaan, saham dan juga kudrat dan kekuasaan. Karena jika selain ini yang terjadi, maka peradaban tidak akan terbentuk. Peradaban adalah dengan makna penerimaan untuk menempati kota, penerimaan sistem, hukum dan seluruh prinsip-prinsip sosial dan kerjasama satu sama lain pada individu-individu masyarakat.  Untuk membentuk sebuah peradaban terdapat berbagai anasir yang berpengaruh, di antaranya adalah: ilmu, sistem, keamanan, kooperasi, kerjasama, dan sebagainya, yang dalam agama Islam, telah banyak ditegaskan baik dalam al-Quran maupun dalam riwayat-riwayat dan sirah para Imam Maksum As, unsur-unsur yang akan membentuk peradaban, dan pada hakikatnya dapat dikatakan, agama Islam merupakan sebuah agama pembentuk peradaban. Lanjutkan Membaca..

Mengapa Salat Dipandang Sebagai Kunci Surga?

Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah dan mengenal Allah Swt. Manusia hanya dalam rel penghambaan kepada Allah Swt akan mencapai kesempurnaan dan makam qurb Ilahi di sisi-Nya. Salat merupakan sebaik-baik bentuk mengekspresikan penghambaan dan kehambaan kepada Sang Pencipta. Menunaikan salat lima waktu akan mendatangkan kemulian jiwa dan menumbuhkan kekuatan spiritual yang mencegah manusia untuk tidak melakukan perbuatan keji dan mungkar. Dalam kondisi seperti ini dapat dipahami alasan mengapa salat dipandang sebagai kunci gerbang surga. Patut untuk disebutkan bahwa salat merupakan salah satu amalan ritual yang menawarkan sebuah ganjaran seperti kunci surga; karena dalam sebagian riwayat disebutkan beberapa kunci-kunci surga seperti kecintaan kepada para Imam Maksum As, dzikr lailaha illaLlah, sabar dan lain sebagainya. Demikian juga dari riwayat ini dapat disimpulkan bahwa salat dengan iman terhadap tauhid dan keesaan Tuhan serta kecintaan kepada Ahlulbait As memiliki hubungan erat dan saling berkelindan satu sama lain. Lanjutkan membaca… 

Ajaran-ajaran Universal Surah Bani Israel

Sesuai dengan pendapat masyhur para penafsir, surah Bani Israel (Isra) diturunkan di Mekkah dan termasuk salah satu surah dari surah-surah Makki. Secara umum,  fokus ajaran-ajaran utama surah Bani Israel adalah pada masalah-masalah berikut ini: 1. Dalil-dalil kenabian khususnya kemukjizatan al-Qur’an dan mikraj Rasulullah Saw.  2.  Masalah-masalah yang berkaitan dengan hari kiamat (ma’ad), masalah-masalah hukuman, ganjaran, catatan amal dan lain sebagainya.  3.  Sebagian sejarah yang banyak menorehkan peristiwa historis Bani Israel disebutkan pada awal dan akhir surah. 4. Masalah kebebasan berkehendak, ikhtiar dan bahwa segala perbuatan baik dan buruk hasilnya akan berpulang kembali kepada manusia. 5.  Masalah perhitungan kehidupan di dunia ini sebagai sampel bagi kehidupan dunia mendatang.  6.  Mengenal hak-hak orang lain pada seluruh tingkatan, khususnya kerabat keluarga dan lebih khusus lagi tentang ayah dan ibu. Lanjutkan membaca..

 

 


Mengapa Manusia Takut Mati?

Takut mati boleh jadi disebabkan oleh pelbagai faktor dan unsur yang beragam. Sebagian faktor tersebut akan disinggung secara ringkas sebagaimana berikut ini:

Pertama, Kebanyakan manusia menafsirkan kematian sebagai kesirnaan, kebinasaan dan ketiadaan. Jelas dan suatu hal yang wajar apabila manusia takut dari kebinasaan dan ketiadaan. Apabila manusia menafsirkan kematian dengan makna seperti ini, tentu saja mereka akan lari dan merasa takut darinya; karena itu, manusia bahkan dalam kondisi-kondisi terbaiknya dalam hidup, berpikir tentang kematian saja telah membuyarkan kesenangan hidup mereka dan senantiasa merasa takut darinya. Kedua, Terdapat manusia yang tidak memandang kematian sebagai akhir dan ujung kehidupan. Namun tatkala ia meyakini hari Kiamat dan karena perbuatan-perbuatan tercela yang dilakukannya membuat ia takut mati dan merasa ngeri dengan kematian; karena ia memandang kematian sebagai permulaan untuk menuai hasil-hasil perbuatan buruknya di dunia. Karena itu, untuk lari dari perhitungan Ilahi dan hukuman perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan, manusia inginsupaya kematian baginya ditunda sampai waktu-waktu berikutnya. Lanjutkan Membaca

 


Tips Mengatasi Idealisme Kawula Muda

Apa yang mengemuka dalam pertanyaan merupakan sebagian indikasi adanya kedewasaan dan permulaan masa muda pada diri Anda. Seseorang yang berada pada angka usia seperti ini kebanyakan berada di bawah pengaruh ucapan dan bahkan pandangan orang lain.   Perilaku seperti ini, hingga pada tataran tertentu, merupakan perilaku yang normal dan ideal; karena manusia dapat dengan menimbang beberapa kriteria positif dan memandang dirinya, dalam pandangan orang-orang saleh, berada pada tingkatan untuk sampai ke jenjang nilai-nilai yang lebih tinggi.  Akan tetapi, hal ini juga dapat mendatangkan bahaya bagi seorang pemuda, tatkala ia berada di antara kumpulan orang-orang dan teman-teman jahat, dan untuk tidak terlihat lemah, ia mempraktikan kriteria-kriteria negatif teman-teman jahat itu dalam dirinya. Dalam kondisi seperti ini, pemuda ini akan segera terjerembab dalam kubangan penyimpangan. Pada sebagian orang, perasaan idealisme ini muncul dikarenakan oleh beragam sebab di antaranya, pendidikan keluarga dan lain sebagainya, yang tumbuh berkembang secara negatif dalam dirinya. Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak akan pernah merasa tenang dan setiap saat merasa bahwa ia hidup di bawah bayang-bayang orang lain, pandangan-pandangan orang lain akan terlihat lebih penting baginya. Ia merasa kerdil dan sempit; karena ia ingin semua orang puas terhadap dirinya. Lanjutkan membaca..

Apakah Jibril Senantiasa Bersama Rasulullah Saw?

Jibril hanya mendatangi dan mengunjungi Rasulullah tatkala ia turun menyampaikan wahyu; karena dalam banyak hal kita jumpai dalam riwayat misalnya Rasulullah Saw tengah sibuk melakukan sebuah pekerjaan kemudian Jibril turun mendatanginya. Hal ini dapat dijadikan sebagai dalil bahwa Jibril tidak senantiasa bersama Rasulullah Saw pada setiap keadaan, sekiranya Jibril senantiasa bersama Rasulullah Saw maka makna nuzûl (turun) tidak akan berguna; karena nuzûl (turun) bermakna turunnya seseorang dari tingkatan yang lebih tinggi ke tingkatan yang lebih rendah dan apabila Jibril senantiasa bersama Rasulullah Saw maka tentu saja nuzûl ini tidak akan memiliki makna.  Jibril bersama atau tidak bersama Rasulullah Saw tidak berpengaruh pada unsur kemanusiaan Rasulullah Saw. Bukankah Jibril adalah pembawa wahyu bagi Rasulullah Saw? Lantas keniscayaan dan kemestian apa yang terdapat pada penyertaan Jibril dan (karena penyertaan Jibril maka) Rasulullah Saw dipandang sebagai malaikat? Lanjutkan membaca..

 

Mengenal Patologi Kemuliaan Manusia

 

Dalam pandangan al-Qur’an dekadensi moral yang pada hakikatnya menyebabkan dekadensi dan terjerembabnya manusia dari kedudukan dan kemuliaan insaniahnya, bergantung pada beberapa faktor. Dalam al-Qur’an, terdapat beberapa ayat yang menjelaskan bahwa manusia disebabkan oleh kelalaian dan tidak memberdayakan akal dan pikiran, serta tidak mengamalkan tuntutan-tuntutan akal dan pikiran, manusia telah kehilangan kemuliaannya.  Sebagian ayat al-Qur’an memperkenalkan hawa nafsu dan cinta dunia sebagai faktor adanya dekadensi dan terjerembabnya manusia dari kedudukannya yang tinggi. Sesuai dengan ayat-ayat ini, membangkang dan membelakangi titah-titah Ilahi telah menjadi penyebab jatuhnya kemuliaan manusia di hadapan Tuhan. Pada sebagian riwayat juga disebutkan beberapa faktor seperti, kemiskinan, cari muka, menjilat dan sebagainya dipandang berpotensi menciderai kemuliaan dan kepribadian manusia. Lanjutkan membaca..

 

 


Apakah Seluruh Nabi berasal dari Bani Israel?

 

Al-Qur’an menyokong seluruh nabi Ilahi dengan alasan bersama (common) mereka, terlepas dari apakah peristiwa mereka dijelaskan dalam kitab samawi ini dan apakah nama salah seorang nabi dari mereka disebutkan di dalamnya. Tidaklah demikian bahwa seluruh nabi yang disebutkan dalam al-Qur’an, bahkan para penyeru agama Ibrahimi, seluruhnya berasal dari Bani Israel. Nabi-nabi seperti Nabi Luth dan Nabi Syu’aib yang merupakan pendakwah agama Ibrahimi tidak berasal dari golongan mereka. Dari satu sisi, meski Allah Swt, menaruh perhatian lebih terhadap sebuah komunitas dalam masyarakat dan memilih para wali dan nabi dari kalangan mereka, namun tentu saja terdapat dalil-dalil yang berdasarkan hikmah dan kebijaksanaan atas pemilihan ini yang dijelaskan Allah Swt kepada kita. Dan sebagian dalil juga tetap terjaga dan tersembunyi di sisi-Nya. Lanjutkan membaca..

 

 


Akal dan Iman Wanita dalam Pandangan Ali bin Abi Thalib

 

Berdasarkan beberapa timbangan dan barometer yang dikemukakan oleh para Imam Maksum As, jika terdapat riwayat-riwayat yang meragukan maka ia harus disandingkan dan dibandingkan dengan al-Qur’an. Apabila bertentangan dengan al-Qur’an maka tuntutan lahir dari riwayat tersebut tidak boleh diamalkan.  Dari sisi lain, kita tidak menemukan satu pun ayat dalam al-Qur’an yang menengarai tentang hukum universal terkait dengan kekurangan akal dan iman kaum wanita. Karena itu, dengan memperhatikan kriteria-kriteria dan barometer-barometer ilmu hadis, kita juga tidak dapat menerima riwayat di atas berdasarkan makna lahirnya. Namun demikian, kita juga tidak dapat secara definitif dan seratus per seratus menyatakan bahwa riwayat di atas adalah riwayat bodong (palsu) dan tidak pernah disampaikan oleh Imam Ali As.  Karena itu, riwayat tersebut harus dicari sisi benarnya (taujih) atau menyerahkan penafsiran riwayat ini kepada Imam Ali As sendiri. Dari sisi lain, karena dalam ucapan dan tindakan para nabi dan wali Allah, kita menyaksikan mereka menyampaikan tuturan tentang kaum wanita atau melakukan sebuah perbuatan yang secara lahir menunjukkan sebuah perbuatan yang tidak pantas dilakukan, namun pada kenyataannya, mereka memiliki maksud yang lain. Terdapat kemungkinan riwayat yang disandarkan kepada Imam Ali As ini juga demikian adanya. Dengan demikian, terdapat kemungkinan bagi kita untuk mencari sisi benar (taujih) dan mencari makna lain atas riwayat ini. Lanjutkan membaca…